Sasuke melangkahkan kakinya kearah Naruto. Setelah diperbolehkan Tsunade untuk menemani Naruto, ia memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin. Tak satu detikpun matanya terhindar dari wajah tan Naruto. Meskipun masih terlihat pucat akibat turunya tekanan darah, Naruto sekarang terlihat lebih baik. Wajah tidurnya terlihat tenang tidak seperti beberapa jam lalu. Ya setelah menjalani pengobatang yang tidak diketahui Sasuke, selama ia berada diluar ketiga orang itu bersama asisten mereka melakukan semua cara yang mereka tahu. Sasuke sih sebenarnya ingin menanyakan apa yang mereka lakukan tapi meskipun dijelaskan sepertinya sama saja ia tak mengerti. Tapi satuhal jika yang mereka lakukan seperti menyakiti Naruto ia tak akan segan-segan memarahi mereka. Mungkin itu juga yang dilakukan mereka agar terhindar dari kemarahan si Uchiha bungsu satu ini. Tapi kelihatannya itu tak penting lagi yang terpenting Naruto sudah sembuh dan akan segera membuka matanya di esok hari. Jadi disini lah Sasuke akan terus menemani Naruto di waktu istirahatnya. Kata mereka keadaan Naruto akan lebih baik desok dan akan melihatkan kemajuan pesat.
"Naruto…. Sayang beristirahatlah aku akan selalu berada di sebelah mu hingga besok ketika kau membuka mata." Sasuke lalu mencium pipi chibi Naruto dengan satu kecupan. Sebagai ucapan selamat tidur.
"Tidurlah dengan tenang, agar besok kau kembali ceria." Seketika itu air mata Naruto mengalir dari kelopak matanya yang masih tertutup. Sasuke sangat senang dengan hal itu setidaknya Naruto masih mempercayai dan mencintainya meskipun dalam surat Naruto mencoba untuk mengikarinya. Dikecupnya lagi pipi lalu dahi Naruto. Walaupun kepala Naruto masih dililit perban tapi Sasuke tahu kalau dia sangat menyukainya. Dilihat dari nafas dan raut wajah yang tenang.
Sasuke memegang tangan Naruto dengan sangat kuat, ia tak ingin kehilangan atau menjauhi Naruto. Naruto adalah segalanya dalam hidupnya sekarang. Seharusnya kemarin dia tidak mengatakan hal yang tak baik mengenai Naruto. Dia juga seharusnya tak mencoba menghindari Naruto, seharusnya ia menemani Naruto didetik-detik terpuruknya. Untung saja Naruto tak tahu apa yang ia pikirkan selama ini tentang dirinya jika saja Naruto mengetahuinya pasti dia tak akan bertahan dan akan terus terpuruk dan akhirnya pergi jauh darinya.
"Ma-maaf…. Aku memikirkan hal buruk tentang mu. Terima kasih sudah mau bertahan demi suami mu yang Teme ini. Cepatlah sadar aku sudah tak sabar melihat mu." Ucap Sasuke sambil terus memegang erat tangan Naruto hingga pagi menjelang. Ia berharap Naruto akan semakin tenang dan memaafkannya.
.
Just a Dream
.
.
.
Disclaimer: Naruto cuma milik Mashashi
Kishimoto. haki cuma minjem.
summary: Gimana rasanya di fitnah dan
diasingkan? SasuNaru forever masih sakit hati
sama Mk yang ngasih ending SS n' NH.
Pairing: SasuNaru sedikit SasuSaku.
.
Silakan dibaca bagi yang tak SUKA jangan dibaca.
.
.
.
.
Naruto tak tahu ia berada dimana sekarang. Semuanya terlihat putih dimatanya. Ia mencoba berlari namun tak tahu jalan keluarnya, semuanya putih tak ada cela satu pun diantara putihnya ruangaan itu. Ia terus berlari hingga menemukan sebuah pintu tegap dihadapannya. Entah mengapa tangannya bergerak sendiri kearah gagang pintu. Namaun hampir ujung tangannya menyentuh gagang tiba-tiba pintu itu terbuka.
Kreeeekkkk….
Didalam pintu itu sangatlah gelap, Naruto langsung membalikan badan ingin menjahui apa yang dilihatnya. Namun tiba-tiba matanya terbelak akibat keadaan yang ia alami. Dia sekarang berada didalam kegelapan yang kelam bukan keputihan yang terang. Pintu yang ia belakangi sekarang ada didepannya, menampakan keputih terangan yang tadi menyelumutinya, lalu pintu itu tertutup dengan sendirinya. Naruto sangat binggung dengan keadannya sekarang. Tiba-tiba ada sebuah cahaya dari lampu seperti lampu dijalan dan lampu itu menyorot pada meja yang tak asing. Naruto yang tahu menjadi ketakutan, badannya di mundurkan seperti mencoba menghindar. Ia mencoba menghindar dan menuju pintu tadi, namun ketika ia memutar tubuhnya. Ia dihadap pada sebuah kenyataan yang sangat pahit. Kenyataan yang ingin ia hindari, neraka abadi dalam hidupnya. Tubuhnya didekap oleh sosok yang tak asing baginya. Lalu dia diseret ketempat itu dan ditidurkan, Naruto tak dapat melawan ia sangat ketakutan lagi pula ini sering terjadi padanya. Selanjutnya mereka mengikat tangan Naruto dan orang yang tak asing itu datang menghampirinya menunjukkan benda yang sudah menjadi kosumsi Naruto jika dibawa kerungangan ini. Wanita itu mendekatkan jarumnya pada lengan tangan Naruto, seketika itu Naruto sudah tak sanggup mempertahankan kesadarannya. Semua yang dilihatnya seperti kabur, hanya suara tawa yang terdengar ditelinganya. Mereka tertawa senang atas apa yang menimpa si pirang, Naruto tak tahu harus apa ia sekarang pasrah atas keadaannya. Jikala hidupnya hanya sebatas tusuk gigi bolekah dia berharap akan satuhal. Berharap atas kedatangan seseorang, jikalau memang tak bisa bisaka ia mendengar suaranya. Kesadaran Naruto sudah habis perlahan lahan matanya menutup. Ia sudah menyerah, jika ini waktunya untuk mati dia sudah menerimanya.
Tuk… tuk... suara langkah kaki mendekat, ia tak tahu suara kaki siapa. Namun tiba-tiba ada perasaan hangat yang mengalir kedalam tubuhnya. Ia merasa mengenali pelukan itu namun karena tubuhnya tak dapat ia kendalikan. Yang hanya ia lakukan adalah menyerah dan semuanya terasa hampa. Naruto merasa takut akan keadannya. Takut jikalau orang itu bermaksud jahat juga padanya.
.
.
.
"Ehng…. Ehang…. Ehng…." Dalam keadaan tertidur Naruto mengerang tak karuan. Butiran-butiran keringat menghiasi wajah tan Naruto, tubuhnya gemetar hebat hingga membuat ranjang tidur naruto bergerak. Mau tak mau Sasuke yang terlelap dalam tidurnya menjadi terbangun akibat erangan. Tangannya tadi yang ia gunakan untuk memegang tangan Naruto menjadi lembab dan licin. Berkali-kali tangan itu hampir terlepas dari cengkraman Sasuke. Dan Sasuke sangat binggung dengan apa yang dilakukannya sekarang. Memanggilkan dokter atau menenangkan Naruto, ia sudah berjanji tidak akan meninggalkan Naruto sedetik pun. Tapi kalau tidak dia juga tak tahu apa perihal yang terjadi padanya. Bisasaja Naruto kesakitan dan membahayakan keadaan Naruto selanjutnya.
"Sas-…suk… ke…"
"Suk-… ke… tolong…."
Entah mengapa pikiran negative itu selalu membayangi Sasuke. Seharusnya ia menjaga Naruto bukan ikut tertidur. Rasa bersalah itu memasukinya, jadi ia mengambil langkah untuk memanggil seorang dokter dan meninggalkan cengkraman tangannya dari Naruto untuk sesaat.
"Naruto…."
"Suke…. Nii-san…." Air mata Naruto mengalir. Membuat Sasuke makin ketakutan.
"Sebentar aku… akan panggilkan Dokter." Ucap Sasuke dan langsung berlari meninggalkan Naruto.
.
.
.
"Bagaimana keadaannya…." Tanya Sasuke setelah dokter itu selesai memeriksa keadaan Naruto.
"Tenangsaja mungkin dia hanya bermimpi buruk jadi keadaannya seperti tadi." Ucapnya, Sasuke masih binggung kalau Naruto bermimpi seharusnya ia sudah sadar dan membuka matanya tapi kenapa matanya masih terpejam.
"Tapi kalu ia hanya bermimpi kenapa tidak bangun."
"Mungkin pengaruh obat biusnya belum hilang." Tegas sang dokter lalu merapikan peralatannya dan melihat keadaan sang pasien sebelum meninggalkannya. Setelah dirasa si pirang mulai membaik dan stabil. Dokter itu segera berpamitan, pergi meninggalkan si raven.
"Saya permisi dahulu…. Uchiha-san…."
Setelah dokter itu pergi suasana menjadi hening kembali, hanya suara alat pengontrol jantung saja yang terdengar. Pandangan Sasuke mengarah pada si pirang. Naruto terlihat baik kembali, itu membuat hati Sasuke menjadi tenang. Sekarang pikiran Sasuke dipenuhi dengan sebuah pertanyaan. Sebenarnya Naruto sedang memimpikan apa hingga ketakutan seperti itu. Namun satuhal, Sasuke berharap mimpi itu tidak mempengaruhi pesikis Naruto ketika sadar nanti.
.
.
.
Pagi pundatang membawakan sinar sang surya. Kelopak tan itu takdapat menyembunyikan bola safir indahnya. Disela-sela kesadaranya yang masih belum sempurna, peria itu mencoba mengenali tempat singgahnya sekarang. Samar-samar dia melihat ruangan yang cukup dikenalinya. Ruangan berwarnah putih diatap dan dindingnya. Ruangan itu adalah Rumah Sakit, seketika itu pikirannya sudah goyah akan kemungkinan yang ia dapat. Tanpa ba...bi...bu... laki-laki itu segera mengangkat tubuhnya. Tiba-tiba rasa pusing bersarang dikepalanya, mau tak mau laki-laki itu harus berbaring kembali. Pusing itu tak datang sekali namun berkali-kali membuatnya risih jadi ia mencoba untuk memegang kepalanya. Namun aneh kenapa tangannya seperti mati rasa. Tangannya seperti tak dapat digerakkan sama sekali. Tadi tubuhnya sekarang tangannya apa kakinya juga. Astaga sebenarnya apa yang terjadi hingga seperti ini. Entah ada naluri apa ia mencoba menggerakkan tangannya. Ia mengerakkan jari-jari kecilnya, hingga ada sebuah gerakan spontan yang ia rasakan. Tagannya seperti dicengkram sangat kuat. Sontak ia pun meringis kecil dan membuat orang yang memegang tangannya terbangun.
"Engh..." Keluhnya namun cengkraman itu makin kuat dan orang itu pun merasa janggal. Kelopak putihnya terbuka menampakkan lagit malam yang kelam. Matanya masih dipenuhi kunang-kunang, dikedipkan matanya berkali-kali agar menjadi fokus. Sasuke sangat bingung dengan apa dirasakannya. Seingatnya dia tadi memegang tangan Naruto dan ke... ketiduran... oh betapa bodohnya dia kenapa ia bisa ketiduran disaat keadaan Naruto masih tak tentu. Tunggu gerakan kecil astaga apa Naruto sudah sadar.
Sasuke segera mengangkat kepalanya tak perduli pusing yang terjadi sesaat karana posisi tidurnya yang tak betul tadi. Matanya masih mencoba untuk fokus. Ketika kedua mata hitamnya bertemu dengan safir, sebuah senyum terukir dibibirnya. Narutonya sudah sadar mata itu sudah terbuka lagi.
"Naruto..." Satu kata yang dia ucapkan ketika memandang si pirang. Naruto masih mencoba memfokuskan pandangan tapi pusing dikepalanya membuatnya tak dapat mengendalikan keadaan. Matanya masih terlihat menyabit, ingin sekali dia mengetahui siapa yang memanggilnya itu namun tak bisa. Sasuke yang melihat pandangan Naruto yang kosong membuatnya binggung. Jangan bilang kalau Naruto sekarang sudah gila. Pikir Sasuke karena menurut para dokter kemungkinan terburuk Naruto mengalami gangguan mental akibat cedera otak yang dideritanya.
"Apa kau tak apa-apa." Tanya Sasukes, semoga apa yang ditakutkannya tidak terjadi.
Hampir satu menit berlalu dan tak ada jawaban dari Naruto. Ia hanya diam seperti boneka, matanya puntak berkedip. Pandangan kosong Naruto membuat Sasuke binggung, jadi ia memutuskan untuk mencari seorang dokter. Segeralah ia melangkahkan kakinya menjauh dari hadapan Naruto namun sebelum si raven pergi ia tak lupa mengecup kening Naruto.
"Aku akan memanggil seorang dokter kesini tenenglah." Ucap Sasuke dan langsung pergi. Disisilain Naruto yang hanya melihat si raven pergi masih bingung dengan sifat orang didepannya. Seandainya keadaannya tidak seperti ini pasti dia lebih memilih kabur dari pada terlentang tak tahu apa-apa. Naruto takut kalau orang yang ada didepannya membahayakan jiwanya. Jika saja dia tak bisa bergerak bisakah pandangan matanya terfokus dengan sempurna dan pusing ini menghilang.
.
.
.
-tbc-
.
Wah maaf gak bisa balas review lagi.
Semoga senang dgn cerita ini.
Chapter depan mungkun 3hr lagi.
.
5 Februaru 2015
