Halo~ apa kabar?

Ini epilog, minna… semoga tidak mengecewakan ^^

Disclaimer: Kishimoto Masashi

LOVEiyu is mine

Warning: AU, lil OOC, slice of life, typo?#sorry, alur sedengan lah #?. Jika nggak suka sebaiknya tidak menyakiti hati sendiri ^^

This is my story, minna… enjoy please :D

LOVEiyu

.

.

Epilogue

.

.

Beberapa orang bilang, rata-rata jatuh pada cinta sejati hanya satu kali seumur hidup. Beberapa orang juga berkata, kebanyakan manusia akan berakhir dengan cinta pertamanya. Menggali kembali untuk mengenal lebih dalam pada cinta yang 'pertama' membuat mereka tidak pernah bisa tidur tanpa melihat fotonya barang satu kali dalam sehari.

Kata orang sih begitu, kalau aku berkata berbeda.

Di kisah yang lalu, aku mengatakan bahwa orang yang menampung semua hal pertamaku adalah orang bodoh yang penuh kejutan. Orang bodoh yang dengan mudahnya memberikan rasa nyaman eksklusif hanya padaku. Orang bodoh yang membuat manusia seperti diriku tidak lagi menengok pada orang lain karena di namaku, nama belakang kami, telah disamakan.

"Anata~" aku menghampirinya, meletakkan teh herbal di meja kecil di sampingnya.

Ia tersenyum, menggapai wajahku untuk dikecupnya di kening. Wajahku memerah, sama sekali belum terbiasa dengan degupan gila ini meski hidup kami berdua sudah mencapai tahun ke tiga puluh lebih.

Jantungku berdetak, mataku berbinar, rasa nyamannya merambat, dan aku untuk kesekian kalinya selalu jatuh pada cintanya.

Berulang, selalu, tidak pernah berkurang.

"Shuu-kun akan pulang minggu ini, mungkin dia membawa calon."

Dia memalingkan perhatian pada taman kami yang hijau, menghembuskan nafas sebelum bicara. "Semoga matanya yang minus tidak menyebabkan kekeliruan dalam memilih." Lalu tertawa saat kupukul ringan lengannya. "Chika-chan gimana?"

"Minggu depan kesayangan kita datang, Anata. Sepertinya dia akan punya adik baru."

Di tahun kedua pernikahan kami, seorang anak lelaki sehat lahir. Aku dan Naruto-kun sempat bingung memilih nama, sampai akhirnya kami sepakat menamainya Shuuya. Dia begitu pendiam dan pintar. Wajahnya hampir serupa dengan Naruto-kun kecuali warna kulitnya yang sama denganku dan tiga goresan di pipi yang tidak Shuuya miliki. Rambutnya biru cerah, hampir kehijauan. Ia tampan, dan di tahun-tahun dirinya beranjak remaja, aku menjadi semacam operator telepon yang selalu mengangkat telepon dari penggemarnya.

Shuuya adalah anak kami yang berharga. Dalam diamnya, dia begitu banyak memperhatikan sekitar. Dalam heningnya, dia begitu banyak memikirkan hal-hal luar biasa. Ia lulus dari Todai jurusan elektro. Sangat dekat denganku, tapi selalu berhasil tertawa lebar bersama Naruto-kun.

Matanya yang biru melebar, mengabaikan ketenangan sore hari dengan menatap lekat wajahku. "Yumi-chan hamil lagi?" tanyanya tak sabar. Lengkungan senyumnya melebar, "Yosha! Reiji-kun memang hebat!"

Anak kedua kami adalah seorang gadis yang cantik. Rambutnya pirang lembut dengan mata yang biru jernih bagai cermin. Ia anak yang ceria dan penuh semangat, mungkin karena efek nama yang kami berikan padanya; Yumi. Anak bungsu kami manja sekali, selalu bergelayutan di pundak Naruto-kun sepulangnya bekerja dan menangis bila sedikit saja dilukai. Meskipun begitu, ia gadis yang penyayang dan memiliki rengkuhan rasa nyaman yang sama seperti Naruto-kun. Yumi kami berhenti dari pekerjaannya sebagai guru karena lamaran seorang pemuda yang ia cintai.

Yumi adalah anak kami yang berharga. Dalam manjanya, ada berjuta kubik rasa sayang yang siap ia berikan. Dalam keceriannya, ada rasa rapuh yang menuntut perlindungan karena dia menyadari istimewanya menjadi seorang perempuan. Sangat dekat dengan Naruto-kun, namun selalu memberikan pelukan pertamanya padaku.

"Sayang…" ia memanggil dengan begitu rendah dan dalam. Membuat bulu kudukku merinding namun candu di saat yang sama. Ia berdiri di hadapanku, mendekatkan wajah kami sampai hidungnya nyaris menyentuh hidungku.

Degup jantungku kembali abnormal. Nafasnya yang hangat sama sekali tidak membantu diriku untuk tenang. Pipiku panas, sepertinya rona merahnya sudah mencapai batas telinga.

Lalu kalimatnya keluar. Kalimat bodoh yang sangat tidak berguna.

"Ayo bikin anak lagi."

Yang terjadi kemudian hanya satu tangan kananku yang membekas di pipinya.

"Kau gila, aku sudah menopouse! Nafsumu besar se-"

Yang ia lakukan setelahnya adalah mencium pipi kananku lembut dan hangat.

Ia lalu menjauhkan wajahnya, menatapku dengan sesuatu yang selalu berhasil memikatku ke dalam pandangannya. Tangan kanannya meraih pipiku, membelainya dengan lembut sebelum kembali mengecupnya.

"Bahkan Kau tetap tembem meski sudah banyak keriputnya, Sayang."

Aku mendengus, buyar sudah rona merah yang sedari tadi mewarnai pipiku. "Berniat memuji atau menghina sih?"

Serta merta ia memelukku, membenamkan wajahnya pada perutku yang tidak lagi ramping. "Ampun ampun, aku murni memuji kok, Sayang…"

Mungkin akan terlihat aneh, sudah kepala enam, percakapan kami masih kekanakan begini. Tapi ini rahasia; aku dan Naruto-kun, kombinasi aneh yang hanya bereaksi ketika tidak ada seorangpun di lingkaran kami, tidak terkecuali buah hati kami tercinta. Entah, kami tidak bisa menemukan nama yang pas untuk menyebut keanehan ini. Seharusnya kami menyesap teh kami masing-masing, membicarakan kenangan masa lalu dengan gurat tua bahagia.

Nyatanya, dari dulu, ia selalu penuh kejutan. Dan aku selalu menyukainya.

Sebut saja kami ABG tua, kami tidak peduli. Dengan tangannya yang hangat, dan semua rasa nyaman itu, aku merasa tidak lagi memikirkan tentang dunia. Hanya ada sosoknya di mataku, namanya dihatiku, suaranya di benakku, tiada yang lain.

Aku tertawa, mengelus pelan surai pirangnya yang memucat. Tidak pernah berpikir bahwa aku bisa hidup dalam dunia ini dengan semua kegilaan yang menerpa. Rumah tangga kami tidak bisa dibilang penuh dengan keromantisan yang menggemaskan apalagi mary sue wed. Kami pernah bertengkar, mencerca satu sama lain, memaki, merusak barang-barang, bahkan saling diam beberapa hari.

Pernah terpikir dalam benak, untuk berpisah darinya saat hamil anak kedua karena hal sepele. Kecemburuan seorang perempuan karena Naruto-kun tiba-tiba pulang telat dan yang mengabari rumah adalah sekretarisnya yang cantik. Aku marah hebat, hampir saja jatuh jika kedua tangan Naruto-kun tidak sigap menangkapku.

Kalimat penenangnya selalu sama, namun selamanya memiliki efek yang tidak dapat terlukiskan dalam kata-kata.

"Sayang, I Love You."

Kami pernah tidak bertemu selama beberapa bulan karena pekerjaannya sebagai politikus. Pernah cekcok hanya karena dia tidak makan masakanku, pernah berdebat soal siapa yang bertanggung jawab menjemput Shuuya-kun dan Yumi-chan. Tapi entah dimana, aku tidak lagi bisa menemukan semua kemarahan itu sekarang.

Seolah lenyap, dibawa angin musim dan dibasuh dengan embun pagi.

Beratus kali kami bertengkar, merasa tidak cocok membangun keluarga, namun lebih dari jutaan kali kami bermuara pada emosi yang sama; saling membutuhkan satu sama lain.

Terkadang, tangan kami saling tergenggam saat menjelang tidur. Saling melempar pertanyaan bodoh yang uniknya bisa membuat kami teringat betapa kuat cinta yang kami miliki. Terkadang juga, tiap pagi saat cahaya mentari membangunkanku terlebih dulu, dia mengeluh. Meminta diriku memeluknya selama semenit dan berbisik bahwa ia membenci pagi yang memisahkan mimpinya tentangku.

Aku mencintainya, dan Naruto-kun mencintaiku.

Sesimpel itu.

Sesederhana itu. Tidak ada teori lain, hanya bergantung pada kepercayaan dan kasih sayang yang tak terperi.

"Ne, Sayang…" dia mendongak, memeriksa apakah aku masih bisa digoda lagi atau tidak.

"Nan desu ka?" dan tatapanku menantangnya.

"Kalau aku berhenti jadi menteri dan serius hidup hanya denganmu gimana?"

Kedua mataku berbinar, tapi pandangan tantanganku masih belum turun. "Kau akan menghidupi aku dengan apa kemudian?" dia melepas pelukan. Berdiri, dan mengambil pose berpikir. Satu menit dan akhirnya dia mengajukan idenya.

"Bagaimana kalau membuat toko mainan dan roti dalam satu bangunan?"

Ia selalu mengejutkan, gagasan-gagasannya yang menyembul entah darimana pasti berhasil menjeratku dalam pesonanya yang istimewa. Aku mengangguk, gerakan sederhana yang membuat kami berdua berbicara tentang prospek kami yang baru.

"… lalu di cat biru dan kuning, toko roti akan Kau kuasai, silakan mau di cat seperti apa." Ia terus berbicara, dan aku terus memandangnya. Dalam hati mengucap beribu syukur karena akhirnya dia melepas pekerjaannya yang menyebalkan itu dan beralih pada calon pekerjaan bersama kami.

Detik berikutnya, ia terdiam. Hening dan hanya angin sore yang bergemerisik melewati celah pohon-pohon perdu dan rumput yang bergoyang.

Saat tiba-tiba dia mendekat lagi ke arahku, ucapannya lirih dan halus, "Terima kasih."

"Eh?"

"Karena sudah jadi isteri yang baik selama ini, terus begini ya? Selamanya harus begini."

Dia tersenyum, ulang tahun pernikahan kami satu minggu lagi. Mungkin itu yang menyebabkan dirinya menjadi sangat manis seperti ini.

Kecupan singkat di bibirku, degup jantung kembali pada pacuan tak berkekang, sapuan tangan besar pada rambutku, bisikan lembut di telinga kananku.

"I Love you."

Yang terdengar seperti "LOVEiyu."

Aiko Fusui-LOVEiyu

Fin

Arigato Gozaimasu

Saya sungguh bernafas lega saat menyelesaikan chapter terakhir ini. Rasanya saya bisa menjadi tua bersama Naruto dan Hinata ^^

Just Trivia; Poppo, nama anjing Hinata, diambil dari nama boneka panda author. Hihihi

Yumi artinya anak panah yang cantik. Kalo Shuuya, saya tidak tahu. Hehehe

Terima kasih pada:

Amu B: ah, sou ka? Saya nggak nyangka bisa bikin scene sedih. Hahaha. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

Juanda blepotan: ahahaha, epilog maksudnya? Waw, anda cukup cepat membacanya ^^. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

Hinata Hiyua34: ah, benarkah? Hehehe. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

JihanFitrina-chan: okke, saya akhiri dengan epilog ini. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

Guest: maaf nggak bisa cepet ^^. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

Guest: ahaha, saya ikut merasa senang :D. pastinya Naruto-kun di ospek dulu sama Hiashi, hahaha. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

AF Namikaze: wah, sequel ya? Saya tidak bisa janji ^^, hehehe. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

Arip Scarlet: ahaha, asal tidak ketinggalan baca review dari kamu ^^. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

Karizta-chan: hehe, saya pikir Hiashi sudah tua, jadi ya beresiko seperti itu, apalagi disini dia keras kepala sekali. Ahaha, Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

Yui Kazu: ahaha, nanti kalau di private room pasti bakalan 'lebih' deh ciumannya. Hihihi. Kyaaa~ saya belum siap mengubah rate. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

Andypraze: entah kenapa saya selalu suka membaca review dari kamu ^^. Saya belum berencana membuat sequelnya. Hehe, tapi pengen banget buat Naruhina family. Oh ya? Oke deh. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

Hinami-pyon Hyuuzumaki: halo hinami-san, suka kelinci ya? Hehehe. Oh ya? Ahaha, saya ikut senang membaca reviewmu ^^. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

Bala-san dewa hikikomori: terima kasih sudah memahami saya :D. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

Chimunk-NHL: ahaha, tidak apa-apa kok ^^. Terima kasih atas dukungannya ^^ LOVEiyu~

Dan untuk semuanya, para sider, reviewer, pembaca yang baik hati, demi apa, tanpa kalian saya tidak akan bisa menyelesaikan fic ini. Saya benar-benar berterima kasih.

Terakhir, LOVEiyu untuk semuanya

Salam

Aiko Fusui