Another You

Shingeki No Kyojin (c) Hajime Isayama

Rate T+ / M (Biar aman)

Warnings: OOC, Gaje, Typo (mungkin), Yuri, YumiKuri

.

.

.

.

Ymir tersadar, ia memicingkan mata kemudian melihat-lihat sekitar. Matanya terbelalak ketika melihat Krista dan Ibunya terduduk lemas di sampingnya. Kedua tangannya terikat di belakang kursi, dan kedua kakinya terikat di kaki kursi. Ia berusaha bergerak, namun tali yang terikat di pergelangan tangannya membuat tubuhnya terasa kaku. Ia menoleh sekitar lagi, dan ia yakin mengenal tempat ini.

Ini adalah garasi rumahnya. Mobil yang terparkir diam di depan membuatnya semakin yakin bahwa ia sama sekali tidak jauh dari rumah. Ia memanggil Krista dan ibunya, tapi mereka terlihat seperti tidak berjiwa. Kedua kepala mereka tertunduk lemas, membuat Ymir heran apa yang sedang terjadi di sini.

Tak peduli apapun, ia harus cepat-cepat bebas dari ikatan tali ini, kemudian mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Selang beberapa detik berlalu, seorang pria berpakaian gelap memasuki ruangan sambil membawa ember kecil dan botol berisi cairan bening di tangan satunya. Ymir tak dapat melihat wajahnya, hanya matanya yang terlihat karena pria itu memakai masker hingga menutupi seluruh batang hidungnya.

Pria tersebut kemudian menuangkan cairan dari botol ke dalam ember. Semua nya dilakukan bahkan tanpa izin pemilik rumah, seolah-olah tempat itu adalah miliknya. Ymir tak bisa berkata-kata karena tenggorokannya terasa kering dan tubuhnya begitu lemah, ia hanya semakin keheranan namun pantang menyerah melepaskan ikatan kuat di pergelangan tangannya.

Seiring pria itu berdiri, Ymir merasakan dirinya memasang raut wajah ketakutan. Bukan takut terhadap pria asing itu, ia takut karena pria itu mendekat ke depan Krista. Menjambak rambutnya hingga gadis itu menengadahkan wajahnya ke atas. Bibirnya tersegel lakban hitam, namun matanya masih terpejam. Menandakan bahwa gadis pirang itu belum sadar dari pingsannya dan ia tak tahu apa yang sedang terjadi di sekitar.

"Jangan sentuh dia! Apa yang kau lakukan?!" Ymir memaksakan dirinya berteriak walaupun itu menyakiti tenggorokannya.

Pria itu tidak bersuara, walaupun menoleh tajam kepada Ymir. Pria itu justru merapikan rambut pirang Krista yang berantakan, menghirup aroma rambutnya yang wangi bagaikan sekelopak bunga mawar. Apapun yang dilakukan pria itu di depannya, semakin membuat Ymir geram dan jijik. Siapa dia? Dan darimana asalnya? Mengapa ia mengenakan pakaian bagaikan kriminal? Ymir yakin benar pasti dialah yang berulah disini.

Ketika pria itu menatap wajah Krista tanpa berkata apa-apa, akhirnya gadis itu tersadar juga. Kepalanya bergerak-gerak ke samping kanan dan kiri. Sadar bahwa ia dalam situasi bahaya, dengan cepat Krista menoleh ke arah Ymir. Ymir tak dapat membaca ekspresinya dengan jelas, namun terlihat dari mata birunya, ia sangat ketakutan. Gadis itu berteriak, namun suaranya tak bisa keluar karena lakban yang menutupi seluruh mulutnya.

Saat pria itu mendekatkan lagi wajahnya kepada Krista, Ymir meronta-ronta semakin hebat, bersiap menerjang pria itu seperti beruang yang marah. Krista hanya bisa menggeleng dan menjauhkan dirinya dari pria tak dikenal itu. Nafasnya tersengal-sengal, dan sebulir keringat turun dari keningnya dan membasahi alisnya.

"Menjauhlah dari dia, bajingan!"Ymir berteriak sekali lagi dengan sekuat tenaga sambil berusaha melepaskan ikatan sialan itu dari tangannya.

Semua geraman Ymir tak berefek pada pria asing itu, ia hanya membalasnya dengan tawa pahit yang tak enak di dengar.

"Krista, lihat aku. Jangan takut, jangan takut." Ymir mencondongkan badannya mendekat meskipun jarak di antara mereka tidak terlalu jauh.

Entah bagaimana, Ymir merasa apa yang baru saja dikatakannya membuat Krista semakin panik. Mereka berhadap-hadapan sesaat ketika pria asing itu dengan cepat mengguyurkan air yang berasal dari ember ke wajah Krista. Saat itu pun juga, Krista menjerit-jerit kesakitan. Lakban yang tertempel di bibirnya membuat suaranya terpendam.

"Apa yang dilakukannya?" Ymir menggoyangkan tubuhnya semakin hebat ketika Krista tak henti-hentinya berteriak menderita. Ikatan itu sungguh merekat bagaikan lem, dan pria itu hanya berdiri diam, terlihat puas dengan apa yang baru saja dilakukannya.

"Keparat!"

Pria itu lalu berjalan mendekat Ymir. Dengan saat yang tak diduga, tubuh pria itu terlempar ke belakang dengan dorongan angin misterius. Ymir menoleh dan mendapati kedua kawan Youkai nya datang bersamaan. Teriakan Krista kini berubah menjadi rintihan menyedihkan, kemudian Bertholdt menyentuh pipi Krista perlahan. Hal itu membuat Krista tak sadarkan diri lagi, namun setidaknya ia tidak merasakan sakit.

Reiner, di sisi lain, langsung menyerang pria berpakaian gelap itu dengan kedua tinjunya. Membiarkan makhluk tak kasat matanya itu menghajar pria jahat hingga babak belur. Menghujaninya dengan serangan tanpa ampun, kemudian melempar tubuh pria itu ke tembok hingga terdengar geraman kesakitan. Ketika Reiner mengambil ancang-ancang untuk menyerang pria itu lagi, Bertholdt membentak dari belakang Ymir yang sedang berusaha melepaskan ikatan tali di tangannya. "Cukup, Reiner!"

Reiner terlihat sedikit kecewa, kemudian menendang wajah pria itu dengan keras hingga membuatnya telungkup dan terdiam.

"Kenapa kau tidak membiarkannya saja?" Ymir menoleh ke belakang dengan senyuman miring di wajahnya.

Bertholdt balas menoleh kemudian fokus kembali pada tali "Aku benci kekerasan." Dengan usainya usaha melepas ikatan di kedua tangan dan kaki Ymir, ia langsung berpindah kepada ibunda Ymir.

"Cepat tolong Krista, aku akan membantu ibumu."

Ymir dengan buru-buru melepaskan lakban hitam dari bibirnya, dan melepaskan seluruh ikatan yang menghalanginya bergerak. Ketika Krista terbebas dari tali, tubuhnya ambruk ke depan, ke dalam dekapan Ymir. Dengan mudah Ymir mengangkat Krista yang berbobot ringan, hingga terasa seperti menggendong bayi.

"Ymir? Ada apa? Apa yang terjadi dengan Krista?" ibunya terlihat begitu panik tepat setelah Bertholdt berhasil melepas seluruh ikatan dari tangan dan kakinya.

"Aku tidak tahu, tapi kita harus membawa dia ke rumah sakit, sekarang!"

Ibunya melirik ke bawah dimana ada seorang manusia berpakaian gelap diam tak sadarkan diri. "Kau yang menghajar dia?"

"Tidak- bukan, akan aku jelaskan nanti." Ymir menarik tangan ibunya, meminta untuk segera pergi membawa Krista ke rumah sakit.

Tanpa membalas, ibunya segera mengambil kunci mobil dari salah satu meja yang terletak di meja garasi.

"Kami berdua akan mengurus pria ini. Tenang, kami tidak bodoh dan kami tidak akan memanggil ambulans kemari serta menginformasikan peristiwa ini kepada orang-orang sekitar." Reiner dan Ymir baru saja bertemu tidak terlalu lama, namun keduanya sudah cukup akrab, dan Ymir mengakui bahwa Reiner adalah salah satu teman yang dapat ia percaya.

Ketika Ymir memasuki mobil di kursi penumpang, Bertholdt melambaikan tangannya perlahan dan melihat mereka yang pergi menjauh.

"Ymir, kau tidak terluka, kan?" Ibunya bertanya setelah mengemudikan mobilnya menjauh dari rumah beberapa meter. Tepat setelah ibunya bertanya, Ymir meringis kesakitan akibat nyeri yang berasal dari kepalanya. Ia merasa pening, dan sebuah benang-benang ingatan menyatu membentuk sebuah memori. Kepalanya baru saja terpukul oleh sesuatu yang keras. Ketika ia berusaha mengingat benda apa yang menghantam kepalanya, ia merasa semakin tertekan, namun ia ingat benar benda seperti tongkat baseball memukulnya di kepala bagian belakang. Tidak fatal, namun dengan terpukulnya bagian belakang kepala, ia pasti kehilangan keseimbangan dan pingsan selama beberapa jam.

"Ah benar, bajingan itu sepertinya memukulku dengan tongkat."

Ibunya yang menoleh ke belakang melihat Ymir memijat-mijat kening, membuatnya cemas. "Ymir? Kau baik-baik saja?" ia bertanya sekali lagi.

"Ya. Aku hanya merasa sedikit pusing. Bagaimana dengan ibu?"

"Sepertinya ibu masih terpengaruh obat bius, tapi ibu baik-baik saja."

Ibunya mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Ymir menikmati pemandangan sekitar sambil sesekali mengecek kondisi Krista yang kepalanya ia pangku di atas paha. Krista masih tidak sadarkan diri. Sebagian dari dirinya yakin ia terpengaruh sihir Bertholdt ketika Youkai itu mengelus pipi Krista dengan perlahan.

Ia masih penasaran tentang apa yang baru saja dilakukan pria tak dikenal itu. Dirinya telah menyakiti Krista, dan kemungkinan ibunya juga. Ia bersumpah akan membunuh mereka yang telah menyakiti orang yang Ymir kasihi. Setiap teriakan kesakitan dan rintihan penuh kesedihan Krista merupakan ribuan pedang yang siap menghancurkan Ymir.

Apa yang baru saja pria itu lakukan kepada Krista? Cairan apa yang ada di dalam ember itu? Mungkin ia akan tahu setelah dokter memeriksanya. Ymir juga menunggu laporan lengkap dari kedua teman Youkai nya. Semoga mereka mempunyai berita yang menarik.

Setelah sampai di rumah sakit terdekat - Stohess, Krista dikirimkan lewat jalur UGD. Perawat yang bertugas langsung membawa Krista menuju ruang dalam, dimana sang pasien akan diperiksa oleh dokter, dan tak boleh ada pengunjung yang ikut masuk.

Ymir dan ibunya menunggu dengan sabar di ruang tunggu. Rumah sakit nya sedikit ramai seperti biasa, namun hal itu tidak membuatnya jengkel. Biasanya rumah sakit akan sepi di hari menjelang malam, dan ia sungguh tak keberatan jika harus menunggu hingga esok hari.

Ymir tahu hal ini akan menjadi masalah serius jika kedua orang tua Krista mengetahui bagaimana kondisi putrinya sekarang. Ymir sungguh menimbang-nimbang akankah ia memberitahu mereka tentang Krista? Atau tetap simpan ini sebagai rahasia? Ia yakin pilihan kedua pasti tidak akan berakhir baik, dan ia tidak suka berbohong - dia juga kurang baik dalam membuat alasan. Apalagi berhadapan dengan Nyonya Lenz - bila wanita itu sampai tahu kalau Ymir berbohong, Ymir bahkan tidak bisa membayangkannya lebih jauh lagi. Terlebih, Nyonya Lenz baru saja menikah, dengan begitu otomatis Ymir juga akan berhadapan langsung dengan suami barunya.

Ymir terdiam dengan wajahnya yang ia benamkan ke kedua telapak tangan. Ibunya yang di samping berusaha membuatnya tenang dan mengelus punggungnya pelan. Sentuhan lembut ibunya nyaris membuat gadis jangkung bertampang garang itu menangis. Elusan pelan di punggungnya entah mengapa mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

Tidak tahu sudah berapa lama Ymir menunggu, namun semuanya tak penting lagi ketika ia melihat seorang dokter perempuan berjalan mendekati mereka berdua. Cukup meyakinkan bahwa dokter itu bermaksud berbicara dengannya karena terlihat dari raut wajahnya. Ketika dokter itu menyapa Ymir, ia berdiri dari duduknya, menyambut dokter, dan langsung bertanya mengenai kondisi Krista.

"Bila saya boleh bertanya, siapakah pasien yang Anda bawa kemari?" Dokter itu bertanya sambil mengeluarkan pulpen kecil dari saku jas putihnya, dan tangan satunya memeluk papan jalan.

"...Krista. Krista Lenz." Ymir menjawab seiring matanya menatap dokter itu menuliskan sesuatu di atas kertas yang terjepit di papan. Menunggu dokter itu selesai menulis, Ymir mengobservasi pakaiannya. Semuanya putih, kecuali warna rambutnya dan name tag yang tertera di dada kirinya. 'Mikasa A.'

"Nona Lenz sekarang masih dalam keadaan koma, kemungkinan besar dikarenakan kepalanya terpukul sesuatu yang keras, dan hal itu membuat ingatannya sedikit terganggu. Namun tenang, itu bukan cedera yang fatal. Dia tidak akan menderita amnesia yang serius." Dokter Mikasa menjelaskan. Suaranya terdengar begitu lembut namun tetap tegas.

"Dia gadis yang malang," lanjut dokter itu. "Kedua matanya tersiram cairan basa kuat yang kami periksa adalah cairan Accu mobil tercampur dengan sedikit minyak tanah. Dan sayangnya kedua mata Nona Lenz tidak akan berfungsi normal lagi."

Ymir merasakan perutnya bergejolak akan apa yang baru saja dikatakan dokter Mikasa.

"Tidak akan berfungsi normal...?" Kata-kata itu bergema di telinganya.

"Kami sungguh berduka cita atas apa yang telah kalian alami. Tapi, pihak rumah sakit harus mengetahui siapa yang melakukan ini pada Krista. Karena kekerasan pada anak terutama perempuan harus ditindaklanjuti," Dokter Mikasa memegang bahu kanan Ymir. Sedangkan Ymir di sisi lain hanya membisu.

Ymir dan ibunya tidak menjawab apa-apa.

"Baiklah, aku akan memberi kalian waktu sebentar. Jika ingin menjenguk Krista, ia berada di ruang nomor 291. Suster akan memberi waktu 15 menit."

Ibunda Ymir mengangguk sambil tersenyum, "Terima kasih, dokter." kemudian menatapnya berjalan menjauh.

Ymir meremas rambutnya frustasi. Ia ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya, tak peduli ini tempat umum atau bukan. Namun sosok ibunda di sampingnya entah mengapa membuatnya begitu tenang. Krista tidak akan bisa melihat dunia lagi, Ymir merasa sangat bersalah, sehingga ia tidak akan mungkin memaafkan dirinya sendiri.

Meskipun demikian, balas dendam tidak ada gunanya. Bertholdt mengajarkan hal itu kepadanya. "Balas dendam tidak akan menghidupkan kedua orang tuaku." dan balas dendam tidak akan membuat Krista kembali melihat dengan kedua matanya.

Dengan kondisi seperti ini, Ymir semakin bimbang untuk menginformasikan segala hal kepada kedua orang tua Krista. Akankah ia diusir dari kehidupan keluarga mereka, dan Ymir tak diizinkan lagi bertemu dengan Krista selama sisa hidupnya? Akankah mereka bersedia membiayai operasi mata?

"Operasi," Ymir berkata dalam hati "Operasi. Donor. Donor mata." Ymir menyentuh kedua bola matanya yang masih terletak di tempat yang semestinya.

"Haruskah...?" Ymir secara tak sadar mengucapkannya dengan suara yang bisa di dengar ibunya.

"Ymir? Ada apa? Ayo kita jenguk Krista. Sungguh gadis yang malang," sang Ibu menggandeng lengan putrinya dan membawanya jalan. Ymir hanya bisa mengikut, menggeleng atau mengangguk dengan semua pertanyaan ibunya yang bahkan tidak ia dengarkan. Jelas mereka berdua penasaran dengan pria yang melakukan kejahatan tanpa alasan yang jelas ini. Ymir hanya menjawab bahwa ada dua orang temannya yang akan mengurus masalah pria misterius itu. Terdengar tidak terlalu meyakinkan, tapi Ymir lebih memikirkan soal kedua orang tua Krista.

.

.

.

.

.

Disana, Krista terbaring diam. Di lengannya terdapat selang mungil yang mengalirkan cairan bening ke dalam tubuhnya. Sebuah benda yang berada di depan hidugnya membantu Krista bernafas. Di samping ranjang, ada monitor denyut nadi yang membunyikan suara 'Pip... Pip...' berulang-ulang dengan perlahan. Menandakan bahwa Krista ada di dalam kondisi tenang dan normal. Rambutnya terurai rapi di atas bantal, tidak berantakan seperti terakhir kali Ymir melihatnya. Bahkan dalam kondisi koma sekalipun, Krista tetap terlihat indah.

Ymir berjalan mendekat, menatap setiap inci wajah kekasihnya. Bajunya telah diganti dengan baju khusus pasien yang diberi dari rumah sakit. Ymir tak dapat berkata-kata, hingga akhirnya ia merasakan tetesan air hangat berjalan menelusuri pipinya, lalu jatuh tertarik gravitasi.

"Kenapa orang itu tega sekali melakukan ini pada Krista?" Ibunya berkata, suaranya lirih dan parau. Bibirnya tertutupi dengan tangannya, dan ia mengelus pelan lengan Krista yang terasa dingin.

"Ymir, tenanglah. Ini semua bisa diatasi. Namun, pertama kita harus memberitahu kedua orang tua Krista tentang ini."

Ymir merasa ada sesuatu yang keras menghantam kepala belakangnya lagi, sepertinya hal itu akan membuat kepalanya trauma akibat pukulan keras di kepala beberapa saat yang lalu. Dan Ymir mengalami kesulitan untuk tetap memasang wajah tenang di depan ibunya. "I-ibu... tunggu disini sebentar, aku harus ke toilet." Ymir berpura-pura kesakitan di bagian perut, dan memeluk perutnya hingga punggungnya melengkung ke belakang, kemudian berjalan pelan keluar dari kamar.

"Ymir, ayo keluar. Ada informasi penting yang harus kita sampaikan!" Reiner tiba-tiba muncul dari samping tepat setelah Ymir meninggalkan ruangan. Reiner berbisik-bisik walaupun ia tahu tak ada manusia yang akan mendengarnya kecuali Ymir.

Tanpa menjawab, Ymir segera mengikuti Reiner yang mulai berlari dan keluar dari gedung ke tempat parkir basement.

"Haruskah kita berada disini?" Ymir bertanya sambil berputar 360 derajat, menggemakan suaranya hampir kemana-mana.

"Ssst...! Pelankan suaramu. Hanya tempat ini yang sepi." Bertholdt muncul di belakangnya sambil mengangkat satu jari ke depan bibirnya. Ia menoleh ke belakang dengan gugup, seolah-olah paranoid dan takut ada orang lain mengikutinya.

"Jadi, apa kalian mempunyai berita yang menarik?" Ujar Ymir sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Volume suaranya ia kecilkan, namun tetap saja orang manapun akan berpikir bahwa Ymir berbicara kepada angin.

Bertholdt dan Reiner saling berhadapan, kemudian menatap Ymir lagi. "Tentu saja. Yang melakukan semua ini adalah ayahmu." kata Reiner tanpa basa-basi.

Mata Ymir melotot. Namun saat rahangnya terbuka untuk mencurahkan pikirannya, Bertholdt lebih duluan berkata. "Lebih tepatnya - Youkai yang berada di dalam tubuh ayahmu." Ia meneruskan.

"S...siapa?" Ymir berkata pelan. Lengannya turun dari dada, matanya terlihat membara. Ia bisa merasakan api batin yang tumbuh di dalam hatinya.

"Tidak tahu sejak kapan ayahmu menjadi korban, tapi kau pasti mengenal Youkai nya."

Alis Ymir terangkat sedikit ketika melihat di antara Bertholdt dan Reiner terdapat wajah menyebalkan yang sangat dibencinya.

Si Mata Tiga.

Namun berbeda dengan apa yang ia lihat dahulu, kini Si Mata Tiga memasang raut wajah iba dan sedih, tidak seperti dulu yang terlihat begitu sombong dan menjengkelkan. Meskipun hampir 50 persen dari pikirannya yakin bahwa raut wajah itu hanya percobaan Si Mata Tiga untuk memanipulasi pikiran Ymir agar gadis itu tidak membunuhnya di tempat.

"Apa yang kau inginkan dari Krista, bodoh?!" Ymir berjalan mendekat, bahasa tubuhnya menunjukkan sesuatu seperti ancaman, Si Mata Tiga hanya bisa berjalan mundur, dan merendahkan badan layaknya seorang rakyat jelata yang diberi hukuman.

"Tunggu – aku bisa menjelaskan-"

"Penjelasanmu tidak berguna. Krista sekarang buta, dan itu semua karena kau!" Ymir meremas tangannya sendiri, menahan diri untuk tidak memukul angin. Tubuhnya terasa panas oleh amarah, seolah-olah api amarah itu akan menghanguskan apapun yang menyentuhnya.

"Ymir, tenanglah. Berikan dia kesempatan." Bertholdt berbicara. Nadanya monoton, tapi penuh wibawa. Reiner memberikannya raut wajah penuh pengertian, sehingga Ymir kembali dalam kondisi tenang, dan kembali melipat tangan di depan dadanya.

Sambil menghela nafas berat, ia memejamkan mata. "Baiklah. Silahkan." Dengan berat hati Ymir mempersilahkan Si Mata Tiga berbicara.

"Aku mengenal Krista."

"Hm. Lalu?"

"Aku adalah ayah kandungnya."

Mendengar untaian kata-kata yang sama sekali tidak diduganya, Ymir tidak terkejut – melainkan begitu marah. Ia dapat merasakan detak jantungnya meningkat akibat amarahnya yang dipendam semakin meluap. Sedangkan Reiner dan Bertholdt hanya bisa memasang telinga tajam, merekam semua pembicaraan mereka.

"Tch. Jadi dengan bodohnya kau meninggalkan dia di depan rumah orang yang bahkan tak kau kenal, meninggalkannya sendirian, lalu mati. Begitu?"

Si Mata Tiga menghela nafas. "Aku hanya ingin Krista dapat melihatku lagi." Ujarnya seolah-olah tak berdosa.

"Dia sekarang sudah buta, dan ia tidak akan dapat melihat lagi. Tidak mungkin dia akan-" Ymir membuka matanya semakin lebar. Tersadar apa maksud dari perkataannya.

Bertholdt dan Reiner terdiam sambil memasang wajah terkejut.

Ymir kembali ke posisi tegak. Hendak ingin membentak, Youkai itu memohon lagi. "Tolonglah, manusia. Berikan matamu kepadanya, hanya engkau yang dapat memberinya mata istimewa."

Ymir menggeleng tidak percaya. "Aku tak ingin..." Ymir tak mau Krista ada di dalam masalah yang sama dengan dirinya. "Aku tak ingin Krista melihat dunia dengan caraku melihatnya."

"Akankah ia bisa melihat Youkai sepertiku jika aku memberinya sepasang mata ini?" Hanya satu cara yang dapat membuktikannya. Namun jika Ymir memberikan matanya kepada Krista, ia hanya ingin gadis malang itu melihat dunia sekali lagi, bukan karena ingin melihat ayahnya yang menelantarkannya bahkan sejak bayi.

.

.

.

.

.

Sudah seminggu lamanya Krista belum juga bangun dari tidurnya. Akhirnya dengan keputusan matang, Ymir memberi tahu kondisi Krista kepada kedua orang tuanya. Mereka sempat memiliki masa sulit untuk menerima kenyataan, bahkan Nyonya Lenz melemparkan semua amarahnya, mengatakan bahwa ini semua adalah salah Ymir. Mungkin memang benar, karena sejauh apapun yang diselidiki, ayah Ymir terbukti positif telah menyakiti Krista. Meskipun dalam proses pengadilan sang ayah menolak semua bukti dan alibi yang telah terkumpulkan.

Ayahnya divonis 5 tahun penjara, akibat tuduhan yang konyol; memukuli orang di jalanan saat mabuk, merusak properti mahal di salah satu bar di kota, dan melakukan kekerasan pada anak perempuan. Namun tak peduli sebanyak apapun ayah Ymir memprotes bahwa ia tidak mengenal Krista, tidak ada bukti kuat dan tidak ada saksi mata yang dapat membuktikan ketidak salahannya.

Dari situ, Ymir tahu bahwa Si Mata Tiga telah merasuki ayahnya sejak ia kembali terlihat seperti 'normal' dan mengajak Krista berbincang di depan teras. Ia sudah merasa ada yang aneh dari tatapan wajahnya, andaikan Ymir mengetahuinya lebih awal.

Walaupun kedua orang tua Krista bersedia menanggung seluruh biaya, mereka berkata padanya bahwa Ymir hanya boleh melihat Krista di rumah sakit. Maka setelah Krista sadar, Ymir tidak diizinkan untuk menemuinya lagi. Sebagian dari dirinya berharap Krista segera bangun dari koma, dan sebagian dari dirinya lagi berharap bahwa ia akan bersama Krista lebih lama lagi.

Bahkan Nyonya Lenz juga menyuruh Ymir segera memberikan matanya, jika ia benar-benar mencintai Krista.

{Just for a moment, I wish that I could breathe without the weight of the world crushing down on me...}


Di tempat kesukaannya saat berjalan menuju kafe Hanji; tembok penuh dengan gambar-gambar unik setiap harinya, Ymir terdiam. Menatap gambar wanita berambut ungu gelap yang sedang memegang pistol, berharap ia akan segera menembak musuh apapun yang ada di depannya. Sekarang musim gugur, dan angin berhembus kencang dari arah timur. Ymir merasakan suhu dinginnya meskipun mengenakan jaket hitam tebal.

Ketika ia masuk ke kafe untuk shift sore nya sepulang sekolah, Hanji menatapnya penuh iba. "Bila kau butuh waktu berlibur, aku mengizinkan," Ujar wanita berkacamata itu. "Jangan paksakan dirimu sendiri, Ymir."

Ymir tidak membalas Hanji, namun memberinya senyuman tidak berarti. Kemudian Ymir segera melepas jaket hitamnya dan memakai apron di sekitar pinggang, bersiap untuk bekerja.

Kafe hari ini cukup ramai, benar saja ketika para musisi datang dengan jumlah yang lengkap, para pelanggan rasanya tertarik dan semakin ramai. Namun itu artinya Ymir harus bekerja lebih keras.

Ketika hendak mengambil pesanan seorang pelanggan, sesuatu bergetar dan berdering di dalam saku celananya. Ia melemparkan tugasnya pada pelayan lain, dan pergi ke dapur untuk mengangkat telepon.

"Ymir? Kau sedang dimana? Apakah kau akan pulang malam hari ini?"

Ymir menutup sebelah telinganya karena dapur penuh dengan suara kerjanya mesin-mesin. Namun ia mendengar jelas apa yang baru saja ibunya tanyakan, dan ia melirik jam tangan. Pukul 6 sore.

"Uh, tunggu sebentar bu. Aku ada... tugas mendadak dari dosen, dan... apakah ibu ingin ikut bersamaku ke rumah sakit untuk menjenguk Krista?"

"...Ibu merasa kurang sehat. Tapi, cepat selesaikan pekerjaanmu dan jangan pulang lebih dari jam 9 malam. Ibu sudah menyiapkan makan malam untukmu kalau kau lapar."

Ymir menghela nafas lega karena ibunya sama sekali tidak protes dengan suara bising di sekitar. "Baik, bu. Jangan lupa kunci semua pintu."

"Oke, jangan paksakan dirimu jika sudah lelah."

Dan sambungan terputus.

.

.

.

.

.

Seusai jam kerjanya, Ymir memesan taksi untuk menuju rumah sakit tempat Krista dirawat. Ia tidak terlalu letih karena tepat setelah ia berbincang dengan ibunya, Hanji membolehkannya pergi.

Sesampainya disana, Ymir memasuki kamar 291. Krista masih belum juga sadar, dan tampaknya cairan infus baru diganti. Kamar ini begitu sepi, bagian luar rumah sakit juga sepi, hanya monitor denyut nadi yang berbunyi serasi dengan detak jantungnya.

Ymir terduduk diam di samping Krista. Tak mengatakan apapun, dan hanya menatap kekasihnya dengan berbagai macam masalah berlari-larian di dalam kepalanya, bagaikan serangga mengepung cahaya lampu.

Mengorbankan matanya, pulang menjaga ibunya di rumah, atau tetap disini menunggu Krista hingga sadar? Semuanya itu hanya semakin membuat otaknya memanas, lalu ia memilih untuk beristirahat sebentar, dan membenamkan mukanya di seprai kasur yang tersisa. Ymir menyentuh tangan Krista, terasa begitu dingin, namun membantunya melepaskan seluruh masalah.

Perut Ymir berbunyi, dan ia sadar sekarang ia membutuhkan makanan. Dia tidak ingat kapan terakhir kali ia makan tapi tangannya gemetar karena kekurangan nutrisi. Ia terlalu malas untuk bangkit dari duduknya dan berjalan-jalan mencari makan, maka ia memutuskan untuk diam saja dan memejamkan mata.

Ia terduduk disana, matanya terpejam. Angin sepoi-sepoi menghembus pipi kanannya, membuatnya nyaman. Dia senang duduk di padang rumput sendirian. Matahari mengeluarkan hangatnya yang mendamaikan suasana.

Ketika ia merebahkan tubuhnya di atas rerumputan yang halus, dia merasakan rumput menggelitik wajahnya. Ia tersenyum, "Aku menyukai alam,"

Tiba-tiba dia merasakan seseorang mengelus kedua pipinya, kemudian bibirnya merasakan sesuatu yang empuk dan lembut. Ia tidak terkejut, melainkan tersenyum setelah menyadari siapa yang baru saja menciumya.

Dia membuka mata, melihat paras cantik kekasihnya yang tersenyum di atasnya. "Bangun, Ymir. Aku ingin bertanya sesuatu." Ymir yang awalnya terlentang kini merubah posisinya duduk menghadap gadis pirang itu; Krista.

Ymir menoleh sekitar. Mereka dikelilingi banyak rumput, seolah-olah tidak ada apapun selain rumput dan tanah lembab yang sedang mereka duduki. "Ada apa?,"

"Aku bertemu seseorang yang mengenalmu. Apa kau mengenalnya juga?" Krista memiringkan kepalanya ke satu sisi.

"Oh ya, siapa namanya?" Ymir mencabut salah satu rumput yang sedang menari-nari tertiup angin di sampingnya, kemudian melipat-lipatnya asal.

Krista berdecak sambil melirik ke langit, matanya memberikan gambaran bahwa ia sedang berpikir mengenai sesuatu. "Dia tinggi sama sepertimu, dia bilang namanya Bertholdt Hoover. Nama yang bagus kan?"

Ymir yang sedang asik bermain dengan rumput melirik sekilas ke depan, kemudian tertawa tanpa suara. "Mana mungkin kau bisa melihatnya?"

Krista menghempaskan kedua tangannya ke tanah. "Aku bisa melihatnya! Ia sedang di sampingku sekarang."

Ymir mendongak, namun semuanya berubah menjadi hitam.

"Ymir?" Suara yang begitu lembut membangunkan Ymir dari mimpinya barusan. Lengan Krista bergerak ketika Ymir memegangnya. "Mimpi yang aneh."

"Krista!" Ymir berdiri dari duduknya, terkejut ketika melihat Krista siuman. Gadis pirang itu membuka matanya – namun semuanya sungguh berbeda. Dulu matanya yang berwarna biru mengingatkan Ymir akan langit di pagi hari. Kini mereka berubah menjadi warna abu-abu tak bermakna.

"Ymir? Kaukah itu?" Ia bertanya lagi. "Mengapa disini gelap sekali? Bisakah kau menyalakan lampunya? Aku sedang dimana?" Pertanyaan bertubi-tubi muncul dari mulutnya yang bahkan tak bisa Ymir jawab. Jadi ia memilih untuk diam saja. Ymir hanya bisa menatap Krista tanpa kata-kata.

Gadis yang sedang terlentang itu menggerakkan tangan yang tidak disuntik jarum infus ke kanan dan kiri, hingga akhirnya sampai di salah satu pipi Ymir.

"Ymir, aku tahu itu kau. Bisakah kau katakan sesuatu?" Ketika Krista tersenyum, hati Ymir terasa seperti tertusuk pisau. Begitu menyakitkan melihat Krista bahkan tidak sadar bahwa ia tidak akan melihat dunia lagi di akhir kehidupannya.

"Bagaimana aku mengatakannya?" Ymir merasakan dirinya menitikkan air mata, dan bulir bening itu menyentuh telapak tangan Krista.

"Kenapa kau menangis?" Ymir tak dapat membalas apa-apa, seolah-olah semua yang dikatakan Krista adalah pertanyaan retorikal.

Ymir menyingkirkan tangan Krista dari pipinya secara perlahan. "Krista... Kau berada... di rumah sakit," ia berhenti sejenak. "Tapi semuanya baik-baik saja. Kau baik-baik saja."

Senyuman Krista lenyap dari wajahnya, ujung alisnya turun ke bawah, dan telinganya baru menangkap suara monitor denyut nadi yang tepat berada di sampingnya. "Bagaimana mungkin aku baik-baik saja kalau aku berada di rumah sakit?" ia bertanya dengan sedikit membentak.

"Katakan padaku apa yang terjadi." Lanjutnya.

"Tidak, jangan sekarang." Bertholdt. Suara Youkai itu terdengar jelas di belakang Ymir. Dan hanya Ymir seorang yang dapat mendengarnya.

"Persetan denganmu." Ymir mengatakan semuanya di dalam pikiran, karena ia tahu Bertholdt bisa membacanya.

Bertholdt terdiam. Ia berjalan mendekat ke samping Ymir, ikut menyaksikan Krista yang sedang dilanda kebingungan. Krista menggerakan tangan satunya dengan jarum infus menancap di tangannya, dan ia meringis kesakitan. Tangannya terasa begitu kaku, bahkan seluruh tubuhnya juga.

"Krista, jangan lakukan itu," Ymir menghentikan tangan Krista yang meraba-raba jarum suntiknya, berusaha untuk melepaskan benda itu dari tangannya.

"Berikan aku alasan."

"Kepalamu terbentur sesuatu, dan kau tidak mengingat apapun yang baru saja terjadi. Oleh karena itu, cobalah untuk tidak mengingatnya."

"Tapi... kau menangis. Aku yakin itu. Kau menyembunyikan sesuatu." Krista menatap Ymir dengan mata kosongnya itu.

Tak lama kemudian Krista menyingkirkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, kemudian berusaha bangkit dari tidurnya dengan menopang tubuh dengan sikut kiri. Perlahan, namun pasti. Hingga akhirnya ia terduduk di samping ranjang. "Ymir, kenapa aku tidak bisa melihat apapun?" Krista terus menelusuri Ymir dari ujung rambut hingga dagu. Ia ingat betul tekstur dan bentuknya.

Mendengar Krista yang bertanya tentang itu berkali-kali, Ymir semakin sedih. Ia menyelipkan salah satu tangannya ke bawah dagu Krista, sebuah sentuhan ringan, dan segalanya berubah menjadi campur aduk, berputar di dalam, dalam kepanikan, tetapi bukan sesuatu yang membuat Krista ingin melarikan diri. Seprai kasur yang ia duduki, lengan yang memeluknya, tangan yang ada di dagunya – semua indra menjadi sensitif. Ymir mendekat dan menyentuhkan bibirnya lembut ke bibir Krista. Manis dan lembut.

Krista tahu ada yang salah dibalik ciuman itu.

Seusai itu, Ymir memeluknya, erat. Seerat yang ia bisa, dan berbisik sesuatu pada telinga Krista diselingi isak tangis yang berat. "Maafkan aku, Krista. Maaf."

Bertholdt menatap mereka berdua sambil diam. Ia sungguh tak tahu apa yang harus dilakukan, ia belum pernah melihat Ymir sesedih ini, bahkan tidak ketika ayahnya menampar pipinya dengan keras dan berteriak 'jalang' tepat di depannya. Amarah membuat gadis itu kuat, namun cinta membuatnya terlihat begitu lemah.

"Kau tidak bisa melihat lagi, Krista. Ini salahku. Ini semua salahku." Ymir membenamkan wajahnya di bahu Krista dan menangis begitu kencang.

Krista mengangkat lengannya, mengelus punggung dan rambut Ymir, ia dapat menerima takdir bahwa ia akan menjalani masa mudanya dengan mata tak berfungsi, namun ia menolak untuk melihat Ymir bersedih dan menyalahkan dirinya sendiri.

"Sekarang aku mengerti mengapa semuanya gelap," Krista berkata dalam hati. "Tapi aku yakin Ymir tidak bersalah akan hal ini." Ia menunduk, mengikut arus sedih yang Ymir berikan kepadanya.

"Aku janji. Aku janji akan menembus semua kesalahan ini," Ymir melepaskan pelukannya dan menaruh kedua tangannya di pundak Krista. "Tapi aku tidak..." Ia berhenti sejenak, menatap Krista penuh kehampaan. "Aku tidak bisa memberikan mataku."

Krista menegakkan tubuhnya, sesuatu di wajahnya berkata bahwa ia terkejut. "Tidak ada yang meminta kau memberikan matamu," Krista mengelus pipi Ymir sambil menghapus air mata yang mengalir. "Aku bisa hidup seperti ini."


Thanks for reading! tunggu chapter selanjutnya...