[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

.

DARKNESS'S LOVE

어둠의 사랑

Baekhyun X Chanyeol (GS)

.

Remake story by Santhy Agatha

.

.

제 07 화

"Jealous... Again?"

.

.

BackSong :

'Fine - Jang Jae In, Cho Hyung Woo'

.

.

Sebuah buku...

Sehun menatap dengan tertarik sekaligus ingin tahu. Dia melirik lagi ke arah kotak paketnya dan membaca ulang nama pengirimnya. Ditatapnya nomor ponsel yang tertera di sana dengan penuh ingin tahu. Kemudian setelah berpikir sejenak, Sehun mengambil ponselnya dan menelepon. Ada nada sambungnya... Deringan ke satu, deringan kedua, dan pada deringan ketiga. Sebuah suara yang berat menyahutdi sana.

"Akhirnya anda menelepon." Suara itu tenang, seakan sudah menunggu lama Sehun meneleponnya.

"Siapa kau?" Sehun bertanya, mengerutkan keningnya.

"Saya adalah pelayan setia Tuan Sooman. Kalau anda benar-benar ingin tahu. Temui saya." Orang itu menyebut alamat sebuah cafe di pinggiran kota, "Dan jangan lupa, bawa buku yang sekarang ada di tangan anda."

.

.

.

Mereka berdiri berhadapan, Baekhyun dan Mrs. Kim. Yang ada di benak Baekhyun adalah kata-kata teman-temannya kemarin yang tidak sengaja didengarnya, bahwa Mrs. Kim adalah orang yang menyebarkan rumor jelek tentang dia dan Chanyeol. Memang Mrs. Kim sangat ketus ketika Baekhyun berpamitan untuk pindah ruangan kemarin, tetapi Baekhyun sungguh tidak menyangka bahwa Mrs. Kim akan menuduhnya seperti itu.

"Pagi bu." Baekhyun menganggukkan kepalanya mencoba bersikap sopan dan ingin segera pergi dari situ.

"Pagi Baekhyun, apakah ada waktu? Saya ingin bicara sebentar..."

Bicara? Tiba-tiba Baekhyun merasa enggan dan menahankan dorongan untuk segera melarikan diri dari situ. Tetapi pada akhirnya dia terpaksa menganggukkan kepalanya,

"Baik bu."

"Ayo masuk dulu ke dalam." Mrs. Kim membuka pintu ruangan accointing dan mengisyaratkan Baekhyun untuk mengikutinya ke dalam.

Baekhyun masuk ke sana dan langsung berhadapan dengan teman-temannya. Seperti biasa di pagi hari, sebelum jam kerja, suasana kantor adalah suasana santai, beberapa sibuk sarapan dan membuat kopi sambil mengobrol di meja khusus dekat dispenser di ruangan itu, beberapa berkumpul di meja yang lain sedang mengomentari artikel yang terpampang di komputer.

Semua yang ada di sana langsung mendongakkan kepala dan terpaku ketika melihat Baekhyun muncul di belakang Mrs. Kim.

Baekhyun sendiri berdiri salah tingkah ketika menerima tatapan-tatapan penuh spekulasi dari seluruh mantan rekan kerjanya di sana, beberapa bahkan memberikan tatapan mencemooh terang-terangan kepadanya.

Tiba-tiba Baekhyun berdebar, pikiran buruk terlintas di benaknya, apakah Mrs. Kim memintanya kemari untuk mempermalukannya di depan semua orang?

"Saya mengajak Baekhyun kemari untuk meminta maaf." Kalimat Mrs. Kim yang pertama itu membuat Baekhyun terkejut. Begitupun wajah-wajah rekannya di sana.

Tetapi Mrs. Kim tampaknya tak peduli, dia terus melanjutkan.

"Saya tahu Baekhyun menjadi asisten Tuan Park karena kemampuannya, bahkan saya sendiri yang merekomendasikannya." Mrs. Kim tersenyum lebar dan kata-katanya makin membuat Baekhyun terkejut, jadi Mrs. Kim lah yang merekomendasikannya menjadi asisten Chanyeol?

Mrs. Kim lalu berbalik menghadap Baekhyun menatap penuh permintaan maaf,

"Tetapi kemudian saya iri kepadamu Baekhyun jadi saya menyebarkan rumor tak sedap antara kau dan Tuan Park dan itu hal yang sangat salah, lama-lama saya menyadarinya. Saya sungguh yakin bahwa hubunganmu dengan Tuan Park adalah hubungan yang profesional, semua gosip dan rumor yang beredar itu adalah kesalahan saya, jadi sekarang, di hadapan semua orang, saya ingin meminta maaf kepadamu, Baekhyun." Mrs. Kim mengulurkan tangannya, tampak sungguh-sungguh serius.

Sementara itu Baekhyun masih ternganga bingung. Wajah-wajah di ruangan itu juga sama terkejutnya.

Dan Baekhyun menatap ke arah tangan Mrs. Kim yang terulur, lalu ke wajah Mrs. Kim yang tampak menyesal.

Tak ada yang bisa dilakukan Baekhyun selain membalas uluran tangan perempuan itu.

.

.

Pagi yang sangat mengejutkan.

Baekhyun keluar dari ruangan accounting itu dengan langkah ringan, setidaknya hatinya tenang. Setelah menerima permintaan maaf dari Mrs. Kim tadi, teman-temannya ikut menyalaminya dan meminta maaf, lalu suasana menjadi cair, beberapa bersikap baik penuh canda seperti biasa. Beberapa masih sedikit kaku, mungkin karena masih merasa menyesal telah menuduh Baekhyun yang tidak-tidak.

Dengan hati-hati Baekhyun masuk ke ruang besar, diliriknya jam tangannya, masih jam delapan pagi. Kemarin-kemarin jam sepuluh siang Chanyeol baru datang.

Tetapi rupanya hari ini Chanyeol datang di pagi hari, lelaki itu sudah duduk dikursi besar di belakang mejanya, sedang mempelajari berkas-berkas. Dengan gerakan tak kentara, Chanyeol mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun yang masih berdiri canggung di pintu,

"Selamat pagi, masuklah Baekhyun kalau kau sudah siap ada beberapa hal tentang berkas ini yang perlu kudiskusikan." Chanyeol menyapa santai lalu sibuk menekuri berkas-berkas di tangannya.

Baekhyun membalas ucapan selamat pagi Chanyeol dengan canggung, lalu berjalan menuju mejanya, meletakkan tas dan jaketnya. Tiba-tiba dia teringat betapa tidak sopannya dirinya kemarin, melepaskan cekalan Chanyeol dari tangannya, tidak menjawab pertanyaan Chanyeol dan meninggalkan bosnya begitu saja. Apakah Chanyeol mengingat itu dan akan memarahinya?

"Kau tampak senang pagi ini, ada yang menyenangkan?" Tentu saja Chanyeol tahu akan kejadian tadi, dimana Mrs. Kim dan seluruh mantan rekan sekerja Baekhyun meminta maaf, dia sendiri tersenyum puas di dalam hatinya.

Baekhyun tergeragap dari lamunannya dan langsung menjawab gugup,

"Ah iya... Tadi saya berkunjung ke bekas ruangan saya di bagian accounting. "

"Reuni eh? Sepertinya berjalan bagus karena kau tidak bisa menahan senyummu." Chanyeol tersenyum tipis, "Bagaimana calon suamimu? Sudah di rumah dengan sehat?"

"Ya, dia sudah sehat. Dan kondisinya baik. " Baekhyun tersenyum membayangkan Sehun.

Chanyeol menatap ekspresi Baekhyun dan matanya berubah serius,

"Hati-hati Baekhyun, lelaki yang sehat biasanya mempunyai banyak penggemar." Gumamnya penuh arti, membuat Baekhyun mengangkat alisnya bingung.

Apa maksud Chanyeol dengan kata-katanya?

.

.

.

Sehun memarkir mobilnya dan berjalan di sepanjang trotoar yang ramai dan melirik ke arah papan nama cafe itu. Cafe yang dibangun dengan gaya ala Italia, dengan dinding putih yang tebal dan khas, Sehun memasuki cafe itu dan terpaku di depan pintu, matanya mencari ditengah keramaian pengunjung cafe yang sedang menikmati makan siangnya. Lalu dia melihatnya, seorang lelaki yang duduk sendirian di sudut terlindung dan sedikit gelap, dan entah kenapa Sehun langsung tahu.

"Kau yang mengirimkan paket ini?" Sehun berdiri di dekat lelaki itu, meletakkan buku kuno itu di meja.

Lelaki tua itu mendongakkan kepalanya dan tersenyum,

"Anda datang." Gumamnya puas.

"Tentu saja." Tanpa permisi Sehun duduk di depan lelaki itu, "Sekarang jelaskan karena aku bingung. Siapa Sooman itu? Kenapa mengirimkan aku buku ini? Untuk apa?"

Lelaki tua itu menatap Sehun penuh arti, dan tersenyum.

"Sabar, ceritanya sangat panjang dan membutuhkan waktu cukup lama, anda harus menahan kesabaran anda supaya anda mengerti."

.

.

.

Chanyeol menatap Baekhyun yang serius mengerjakan tugasnya di meja, dia lalu melirik jam tangannya,

"Kau tidak istirahat makan, Baekhyun?" Baekhyun mendongak dan tampak terkejut,

"Ah ya, sudah jam duabelas." Baekhyun tersenyum, "Hampir saja saya lupa waktu."

Chanyeol menganggukkan kepalanya, "Istirahatlah."

"Baik Tuan." Baekhyun menganggukkan kepalanya, merapikan kertas-kertas di mejanya dan berdiri sambil membawa kotak bekalnya.

"Kau tidak beli makan di luar?" Chanyeol mengerutkan kening. Matanya melirik ke arah kotak bekal yang dibawa Baekhyun.

Pipi Baekhyun memerah, "Eh tidak, saya memasak bekal sendiri Tuan. Selain bisa menghemat, kesehataannya juga lebih menjamin." Tiba-tiba Baekhyun merasa malu, Chanyeol pasti tidak butuh penjelasan sepanjang itu.

Ekspresi Chanyeol tidak terbaca, "Boleh aku melihatnya?"

"Apa?" Baekhyun masih tidak yakin akan apa yang didengarnya.

"Aku ingin melihat bekalmu, bolehkah?" Chanyeol membeli isyarat Baekhyun untuk mendekat.

Sementara itu Baekhyun masih berdiri bingung, terpaku di tempatnya. Untuk apa Chanyeol melihat bekalnya?

"Baekhyun." Chanyeol mengangkat alisnya, "Kau dengar aku?"

"Oh lya Tuan." Baekhyun melangkah mendekat ke meja Chanyeol, meletakkan kotak bekalnya di meja, "Anda ingin melihat ini?"

"Ya bukalah kalau kau tidak keberatan."

Baekhyun menatap wajah Chanyeol dan sadar kalau lelaki ini serius dengan perkataannya. Dengan gugup, Baekhyun membuka kotak makanan itu, dan tiba-tiba merasa malu karena menu makanannya yang sederhana.

Di dalamnya ada nasi, dengan ayam goreng yang dibuatnya tadi pagi, dan wortel serta buncis yang ditumis dengan bawang. Hanya itu.

Baekhyun mengamati Chanyeol yang terpaku menatap lelaki itu. Tetapi Chanyeol malah mendongakkan kepalanya dan menatap Baekhyun dengan serius,

"Maukah kau memberikan makanan ini untukku? Aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya."

Kali ini Baekhyun benar-benar shock. Apakah dia sedang berhalusinasi? Benarkah bosnya yang sangat kaya dan elegan ini baru saja meminta bekal makanannya yang sederhana itu?

"Kau bisa membeli sendiri makan siangmu. Aku akan memberimu uang untuk menggantikan makan siangmu." Chanyeol bergumam ketika Baekhyun tidak menjawab, dan kemudian mengeluarkan dompetnya hendak mengeluarkan uang.

Seketika itu juga Baekhyun tersadar dan melangkah mundur dengan gugup,

"Tidak...tidak perlu diganti, makanan itu untuk anda saja. Saya akan membeli makanan sendiri untuk saya." Baekhyun menganggukkan kepalanya sopan, lalu tergesa dia melangkah keluar dari ruangan besar itu sebelum Chanyeol sempat memanggilnya.

Ketika menutup pintu di belakangnya, Baekhyun tertegun di sana, benaknya dipenuhi pertanyaan dan kebingungan. Kenapa Chanyeol meminta makanannya? Apakah lelaki itu kebetulan hanya iseng. Atau memang benar-benar ingin tahu tentang masakannya?

.

.

"Pemegang kekuatan?"

Sehun menatap tidak percaya seolah lelaki yang memperkenalkan namanya sebagai Jinwoo ini gila.

Jinwoo sendiri sudah menduga akan ditatap seperti itu, dia membalas tatapan Sehun dengan pandangan tajam dan menantang,

"Anda seharusnya sudah merasakannya, kekuatan yang sangat besar tersimpan di tubuh anda, kekuatan dari Sooman, tuan saya yang sebelumnya."

Sehun tahu dia tidak bisa membantahnya. Lelaki tua itu. Lelaki tua misterius yang mengajaknya berbicara di rumah sakit, di saat-saat sekaratnya... Ternyata bernama Sooman, dan menurut keterangan Jinwoo, dia adalah pemegang kekuatan kebaikan yang berkuasa, kekuatan yang tersimpan di dalam tubuh Sehun, menunggu untuk digunakan.

"Kenapa Sooman memberikan kekuatan itu padaku? Untuk apa?" Sehun tetap bertanya biarpun sebenarnya Sehun masih belum bisa percaya seratus persen dengan apa yang dikatakan oleh Jinwoo.

Jinwoo sendiri menghela napas panjang, matanya tampak sedih.

"Tuan Lee punya alasan sendiri memberikan kekuatan ini kepada anda, dia tentu saja menganggap anda yang terbaik... Sayangnya Tuan Lee sekarang sudah tiada..."

"Sudah tiada?" Apakah maksud Jinwoo, Ielaki tua itu sudah meninggal?

"Ya." Kepedihan yang pekat tampak di mata Jinwoo, "Saya sudah begitu lama mengabdi untuk Tuan Lee, anda tahu kami yang ditakdirkan menjadi pelayan sang pemegang kekuatan akan berumur panjang, tetapi sebagai gantinya kami tidak bisa melepaskan diri dari tuan kami, harus tetap setia. Tuan Lee adalah tuan saya yang terbaik, sayangnya, pada akhirnya beliau dibunuh oleh Chanyeol, lelaki jahat yang sama sekali tidak menghormati aturan semesta..."

"Chanyeol?" Sehun menyela, nama itu membuat wajah Jinwoo memucat, ada ketakutan di sana meskipun hanya dengan menyebut nama 'Chanyeol'.

"Ya. Chanyeol adalah pemegang kekuatan kegelapan. Berseberangan dengan kekuatan kebaikan, dia adalah penyeimbang semesta."

Sehun tampak mulai bisa memahami, "Baik dan buruk, terang dan gelap, hitam dan putih...?" Gumamnya sinis.

Jinwoo mengangguk, "Betul Tuan Oh, di dunia ini, dalam ajaran apapun, anda pasti akan mendengar tentang keseimbangan. Ada Yin dan Yang dalam budha, dilambangkan dengan lingkaran yang terbelah hitam dan putih dengan seimbang. Ada dewa wisnu sang pencipta, dan dewa siwa sang perusak dalam hindu. Dan banyak lainnya yang menunjukkan hal yang sama, Tuhan menciptakan terang untuk keseimbangan berpadu dengan gelap, Tuhan menciptakan siang dan malam." Jinwoo menatap serius, "Dan pemegang kekuatan gelap dan terang ini, diciptakan untuk keseimbangan."

Sehun mundur dari duduknya, menatap Jinwoo dengan serius,

"Kalau memang beban ini begitu besar, kenapa Sooman melimpahkannya ke pundakku? Dan kalau memang dunia ini harus seimbang, kenapa kita mengkhawatirkan pemegang kekuatan gelap bernama Chanyeol ini?"

"Karena Chanyeol berbahaya. Amat sangat berbahaya." Mata Jinwoo tampak serius, ada ketakutan di sana. "Lelaki itu tidak seperti ibunya, pemegang kekuatan terdahulu yang dengan teguh berusaha mematuhi keseimbangan semesta, Chanyeol ingin menguasai dunia dan menghancurkannya. Dan dia sangat mampu melakukannya." Jinwoo menunjuk buku kuno yang terletak di meja di antara mereka itu.

"Buku ini berisi peraturan semesta. Diwariskan turun temurun kepada pemegang kekuatan. Saya akan menuntun anda untuk mendalami dan memahami setiap kata yang ada di sini, sesuai tugas saya." Jinwoo menatap Sehun tajam, "Karena sekarang tuan Lee sudah tiada, saya akan mengabdi kepada anda. Saya akan menjelaskan kepada anda nanti, betapa berbahayanya Chanyeol... dan anda harus benar-benar bersiap ketika dia memutuskan untuk menyerang anda? "

.

.

.

Chanyeol termenung di ruangannya, menatap kotak kecil bekal sederhana di mejanya. Dia hanya tercenung menatap makanan di depannya.

Dia sendiri tidak tahu kenapa secara impulsif dia meminta bekal itu dari Baekhyun. Tetapi melihat kotak bekal itu... Mengingatkannya kepada ibunya di masa lalu, ibunya selalu membuatkannya kotak bekal kecil semacam ini ketika Chanyeol berangkat ke sekolah.

Mungkin semua ini hanyalah karena dorongan otaknya untuk mengulang kembali kenangan itu, ke masa-masa hidupnya yang tidak rumit, sebagai bocah kecil yang punya banyak impian... Yang kemudian dihancurkan oleh beban kekuatan kegelapan yang menggerogoti hatinya sedikit demi sedikit.

Jemari Chanyeol bergerak pelan mengambil sendok dan mencicipi makanan buatan Baekhyun. Dia lalu memejamkan matanya, mengenang...

"Anda memakan masakan perempuan itu?"

Chanyeol tersentak, membuka matanya dan menatap tajam ke arah Jongdae yang tiba-tiba saja sudah berdiri di pintu. Chanyeol tidak pernah terkejut sebelumnya karena kedatangan siapapun, tetapi kali ini dia benar-benar terkejut. Pikirannya tenggelam di masa lalu sehingga tidak waspada.

"Seharusnya kau permisi dulu sebelum masuk, Jongdae." Gumam Chanyeol tak kalah tajam.

Jongdae beringsut, sedikit takut. "Saya hanya ingin menyampaikan kabar penting, tuan."

"Kabar apa?"

"Buku itu sudah sampai ke tangan Sehun, dan Jinwoo sudah menemuinya."

Chanyeol langsung tersenyum mendengar kabar itu, senyuman puas yang tampak buas.

"Bagus, berarti waktunya sebentar lagi. Biarkan bocah ingusan itu bermain-main dan berlatih dengan kekuatannya dulu, dan setelah itu dia harus menghadapiku."

.

.

.

"Jadi kau ingin merayakan di mana?" Sehun tersenyum, menarik pinggang Baekhyun supaya mendekat dan mengecup dahinya.

Mata Baekhyun berbinar,

"Aku tidak percaya kita akhirnya merayakan ulang tahunku di luar." Besok adalah hari ulang tahun Baekhyun, selama beberapa tahun terakhir ini ulang tahun mereka, baik Baekhyun maupun Sehun selalu mereka rayakan dengan sederhana di rumah sakit. Baekhyun akan membawa kue sederhana dan mereka akan meniup lilin bersama, perayaan yang sedikit membawa kesedihan karena pada waktu itu hari ulang tahun seperti memperingatkan dengan sinis bahwa masa mereka bersama semakin sedikit.

Tetapi sekarang tidak begitu lagi, Sehun sudah sembuh, sehat dan bahagia dan mereka akan bisa merayakan ulang tahunnya dengan sepenuh hati, merayakan kebersamaan mereka.

"Ya, dan kita akan membuatnya istimewa. Semuanya. Aku akan memesan makan malam romantis dan kita akan menghabiskan waktu bersama."

"Terimakasih Sehun." Mata Baekhyun berkaca-kaca. Membuat Sehun mengecup pipinya dan mengusap air matanya dengan lembut,

"Hei kenapa menangis. Ayo tersenyum, aku berjanji kita akan banyak tertawa nanti."

Sehun mungkin harus mencemaskan bagaimana melatih kekuatannya sebelum sang pemegang kekuatan kegelapan menyerangnya. Tetapi itu bisa dipikirkannya nanti, sekarang waktunya memikirkan untuk membahagiakan Baekhyun.

.

.

Chanyeol termenung di ruangannya, dia mengingat lagi puisi tentang pengorban sang cinta sejati, dan bertanya-tanya. Benarkah nyawa yang diminta untuk menggantikan 5% kekuatan itu? Jadi bagaimanapun Sehun tidak akan mungkin mengorbankan kekasihnya bukan?

Chanyeol yakin Sehun tidak akan membiarkan Baekhyun kehilangan nyawanya. Tetapi bagaimana kalau di saat mendesak nanti, Baekhyun mengorbankan nyawanya dengan kemauan sendiri tanpa seizin dan tanpa sebisa ditahan oleh Sehun? Hal itu mungkin saja terjadi bukan?

Kalau begitu semuanya tergantung pada Baekhyun, dan Chanyeol harus melakukan sesuatu.

.

.

"Jadi kita akan kemana?" Baekhyun menenggelamkan tubuhnya dalam rangkulan Sehun.

Sehun mengecup pucuk kepala Baekhyun, tersenyum lembut, "Aku akan mengajakmu ke restoran tempat pertama kita berkencan dulu, kau masih ingat?"

Tentu saja Baekhyun ingat. Restoran itu bernama "Spring Season." terletak di pinggiran kota yang sejuk, dulu ketika Sehun masih sehat, dia membawa Baekhyun makan malam di sana di kencan pertama mereka, dan di tempat yang sama itulah, Sehun menyatakan cintanya kepada Baekhyun.

"Aku ingat." Baekhyun tersenyum bahagia. Dia sudah lama sekali tidak ke restoran itu, sejak lama setelah Sehun sakit, otomatis Baekhyun tidak pernah kemana-mana, seluruh waktunya dipakai untuk menjenguk dan menunggui Sehun di rumah sakit, tetapi dia sama sekali tidak menyesali seluruh waktu yang terlewatkan itu, karena dia menghabiskannya bersama Sehun, lelaki yang sangat dia cintai.

"Aku akan menjemputmu, besok malam kita makan malam di sana ya, kenakan gaunmu yang paling bagus, dan berdandanlah secantik mungkin." Sehun menunduk, menatap mata Baekhyun yang bercahaya dan penuh cinta, dia tidak bisa menahan dirinya untuk mengecup bibir ranum kekasihnya itu, memujanya dengan penuh sayang.

.

.

.

"Kau tampak bahagia." Chanyeol menatap Baekhyun dan tersenyum, "Berbinar-binar."

Pipi Baekhyun langsung merah padam. "Benarkah?" jemarinya menyentuh pipinya yang panas dengan gugup, Ya ampun, dia benar-benar tidak sabar menunggu makan malam romantis perayaan ulang tahunnya bersama Sehun nanti malam, dan mungkin hal itulah yang membuat Baekhyun berbinar-binar.

"Ya. Dan aku tahu hari ini hari bahagiamu." Chanyeol benar-benar tersenyum sekarang, "Selamat ulang tahun Baekhyun."

Baekhyun menatap Chanyeol takjub, tidak menyangka bahwa bosnya itu mengetahui hari ulang tahunnya,

"Anda mengetahuinya?" dia mengungkapkan apa yang ada di benaknya.

"Tentu saja." Chanyeol menjawab tenang, "Ada di data karyawan bukan?"

Baekhyun menganggukkan kepalanya, ah iya, betapa bodohnya dia. "Terimakasih, Tuan." Baekhyun bergumam cepat, dan dia sungguh-sungguh berterimakasih atas perhatian bosnya itu kepadanya.

Chanyeol tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Jadi, adakah acara perayaan ulang tahun yang meriah?'

Baekhyun langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak, hanya perayaan sederhana bersama calon suami saya." mata Baekhyun berbinar penuh cinta ketika membayangkan Sehun, "Yah, anda tahu ini adalah saat bersama kami setelah sekian lama, ketika kondisi badan calon suami saya benar-benar sehat."

Ekspresi Chanyeol tidak terbaca setelahnya, "Selamat." gumamnya datar, "Semoga malammu nanti menyenangkan."

.

.

.

Sehun menatap dirinya di cermin dan memasang jasnya. Dia menatap bayangan dirinya yang sehat dan tampak hidup serta penuh vitalitas, berbeda sekali dengan dirinya yang dulu.

Kata-kata Jinwoo terngiang di benaknya, dan mau tak mau, melihat keadaannya sekarang ini, Sehun mempercayai Jinwoo... sesiangan tadi lelaki itu membuatnya mempelajari buku aturan semesta itu, dan besok... Jinwoo akan membimbingnya berlatih menggunakan kekuatannya dengan benar, untuk menghadapi Chanyeol yang sangat berbahaya itu...

Tapi itu akan dipikirkannya besok. Sehun menatap kotak beludru kecil yang ada di dalam genggamannya, lalu memasukkannya ke saku dengan bersemangat.

Malam ini dia akan melamar Baekhyun.

Sebuah lamaran yang pasti indah di hari ulang tahun kekasihnya itu, di restoran tempat mereka pertama berkencan dan saling menyatakan cinta. Dan mereka akan terikat dalam ikatan suci, hidup bahagia selamanya.

Sehun akan merengkuh Baekhyun dalam pelukannya dulu, memilikinya. Baru setelah itu dia akan berpikir untuk menghadapi Chanyeol yang jahat.

Sambil menahan debaran di dadanya, Sehun memasukkan cincin itu ke dalam saku jas-nya

Dan bersamaan dengan itu, ponselnya berbunyi, Sehun mengangkatnya dan mengerutkan keningnya,

Teleoon dari rumah sakit?

Sehun mengangkatnya, dan suara dokter Jung yang sudah sangat dikenalnya langsung menyahut dengan panik,

"Sehun? Datanglah ke rumah sakit segera! Luham... Luhan kritis, kondisinya parah, dan dia memanggil-manggil namamu!"

.

.

Baekhyun mematut dirinya di depan cermin, dia tersenyum dan pipinya merona. Ah ya, semoga saja Sehun memuji kecantikannya ini, dengan gaun warna peach yang baru dibelinya, khusus untuk acara makan malam bersama Sehun...

Tadi dia pulang cepat dari kantor untunglah sedang tidak banyak pekerjaan dan kemudian langsung pulang, berdandan dan mempercantik diri. Baekhyun ingin tampil sempurna malam ini, khusus untuk Sehun.

Jantungnya berdebar sambil melirik jam di dinding kamarnya, sebentar lagi Sehun pasti akan datang menjemputnya.

Lalu tiba-tiba ponsel di mejanya berbunyi, Baekhyun mengambilnya dan melihat nama Sehun di sana, dia tersenyum lebar dan mengangkatnya,

"Sehun? apakah kau sudah di depan? aku sudah siap..."

"Baekhyun..." Suara Sehun tampak tegang, dari backsound suara di belakangnya, sepertinya lelaki itu sedang di jalan, "Kau... bisakah kau berangkat sendiri ke restoran? aku sudah melakukan reservasi untuk pukul tujuh. Kita bertemu di sana ya?"

Baekhyun mengerutkan keningnya bingung, dia tidak keberatan datang ke restoran sendiri, tetapi kenapa Sehun merubah rencana mereka mendadak, "Tapi... kenapa Sehun? Ada apa?" pikiran buruk menyeruak di benaknya, apakah terjadi sesuatu? apakah Sehun sakit?

"Bukan apa-apa... aku akan mampir ke rumah sakit dulu sebelum ke restoran..."

"Apakah kau sakit Sehun?" Baekhyun setengah berteriak panik.

"Bukan, bukan aku, tapi Luhan." suara Sehun putus-putus karena sedang di jalan, lalu Klik. Percakapan mereka terputus begitu saja.

Baekhyun masih terpaku dengan ponsel di telinganya, jantungnya berdebar kencang, tetapi kali ini dengan perasaan berbeda.

Luhan...?

Rasa cemburu dan cemas yang sama menyeruak di benaknya. Tetapi Baekhyun berusaha menyingkirkannya dengan segera, menyalahkan dirinya karena begitu tega mencemburui Luhan yang sakit keras. Sehun sendiri sudah mengatakan kepadanya bukan bahwa dia mencemaskan Luhan lebih karena empati karena pernah mengidap penyakit yang sama?

Dan Baekhyun percaya kepada Sehun. Lelaki itu hanya mampir ke rumah sakit untuk menengok Luhan, setelah itu dia pasti datang ke restoran dan memenuhi janji makan malam dan merayakan ulang tahun Baekhyun bersama. Baekhyun percaya bahwa Sehun akan menepati janjinya. Karena Sehun mencintainya.

Baekhyun meraih tas tangannya, lalu menelepon taxi untuk menjemputnya ke rumah dan mengantarnya ke restoran tersebut.

.

.

.

[TBC]

.

.

.

Author's Note :

Maaf telat update.. Nanti diusahain gak telat lagi. Maaf kalau ada typo bertebaran.

Jangan lupa REVIEW ya :) See you next Chapter !

-ByunYeol-