'Doakan aku agar bisa kembali, Tetsuya,' lirih Akashi dalam hati, sebelum akhirnya melesat terbang tinggi. Meninggalkan Kuroko seorang diri, di tengah hujan petir yang mendera bumi.
. . .
Perlahan tapi pasti, kaki Akashi menapaki istana tempat dia dibesarkan selama ini. Disambut semerbak wangi bunga nan menenangkan hati. Akashi menyadari, ia sudah tak lagi seharum surgawi.
Sejauh mata memandang, yang Akashi lihat hanyalah kekosongan. Tidak ada penyambutan, tidak pula ada penghormatan. Yang ada hanyalah barisan pilar putih tinggi menjulang, berdiri kokoh seakan menantang, makhluk kecil ini tak akan lagi bisa menang.
Melangkahkan kaki, gumpalan awan yang ia pijak tak lagi putih, berangsur menghitam seolah telah ternodai, oleh malaikat yang tak lagi suci.
Mengabaikan lingkungan yang tak bersahabat. Akashi terus melangkah perlahan, pandangan lurus ke depan, hatinya tengah dilanda kegundahan, namun setiap gerakan yang tercipta tetap elegan.
Hembusan angin sejuk membuat surainya bergoyang, bahkan untaian garmen putih yang tersampir di pundaknya sedikit terbang. Dengan gagah sayapnya masih mengembang, meski sesungguhnya ia sudah tak lebih kuat dari seekor kumbang.
Sepenuh hati Akashi menyadari, dia datang bukan hanya sekedar sebagai pangeran kali ini, tapi juga sebagai pendosa yang siap dihukum mati.
Setelah melewati lorong panjang dengan puluhan pilar menyangga, tibalah Akashi di depan sebuah ruang tempat ayahnya bertahta. Dua daun pintu berdiri kokoh menjulang, berderit halus saat tersentuh tangan, memutuskan penghalang yang sebelumnya memisahkan. Hamparan karpet merah membentang dari balik pintu hingga bawah tangga. Di atasnya singgasana raja bertahta.
Langkah kaki terhenti. Anak tangga kecil memisahkan antara dia dan kursi kebesaran penguasa negeri ini. Akashi terdiam, namun iris merah miliknya dapat melihat sang ayah yang berdiri memunggungi, seolah tak sudi melihat wajahnya lagi.
Berlutut dan menundukkan kepala, Akashi memberi hormat pada sang raja. Seolah dia bukanlah apa-apa, jika dibandingkan dengan segala kuasa yang dimiliki ayahnya.
"Hamba menghadap, Yang Mulia," ujarnya memecah keheningan yang melanda. Ia bahkan tidak berani lagi memanggil ayah seperti biasa, sadar sudah tidak pantas menyandang gelar putra mahkota.
Tak berniat berbalik untuk sekedar menerima penghormatan sang putra, Akashi Masaomi hanya berdiam diri seraya menautkan kedua tangan di belakang pinggang. "Apa kau menyadari apa yang telah kau lakukan, Seijuro?"
Berusaha untuk tetap tenang, Seijuro masih mempertahankan posisinya dan menjawab sopan. "Sepenuh hati hamba menyadari apa yang telah hamba lakukan, Yang Mulia. Untuk itu hamba siap menerima hukuman."
Ini adalah sebuah ironi, ayah mana yang tega menghukum mati anak sendiri? Kepala sedikit menengadah, Masaomi mencoba melenyapkan rasa sesak yang melesak dengan memejamkan mata. Ia berusaha menjaga nada bicaranya tetap berwibawa. "Kenapa kau melakukannya, Seijuro?"
Menghela nafas panjang, Seijuro pun berusaha menahan segala rasa yang menyesakkan. "Karna hamba mencintainya, Yang Mulia."
"Karna hamba mencintainya, Yang Mulia."
Akashi Masaomi seketika terbelalak begitu mendengarnya, kilasan masa lalu menyertai setiap untaian kata yang terlontar dari mulut putranya. Seolah apa yang pernah terjadi, kini terulang kembali.
Melepaskan untaian tangan, Masaomi berujar lirih. "Kau adalah calon raja, Seijuro. Tidak seharusnya kau menjalin hubungan dengan seorang manusia."
"Kau adalah calon raja, Masaomi. Tidak seharusnya kau menjalin hubungan dengan seorang manusia."
Meringis dalam hati, Masaomi tak mampu menghentikan semua ini. Apa yang Seijuro ucapkan, persis seperti apa yang dulu Masaomi katakan pada ayahnya. Sedangkan apa yang baru saja Masaomi katakan, persis seperti yang Akashi Seishiro katakan dulu, selaku ayahnya.
Menutup matanya erat, Seijuro menyadari telah melakukan kesalahan berat. Namun, tak ada hal lain yang bisa ia perbuat. "Dia bukan manusia biasa, Yang Mulia. Dia malaikat yang luput dari surga."
"Dia bukan manusia biasa, Yang Mulia. Dia bidadari yang luput dari surga."
"Seijuro!" sedikit menoleh, Masaomi berseru.
"Masaomi!"
Masaomi membentak Seijuro seperti Seishiro membentaknya dulu. Membuat Seijuro sedikit tersentak. Dia tidak marah, hanya merasa terluka melihat Seijuro pura-pura tegar, dan berniat menanggung semuanya sendiri.
"Hamba sangat menyayanginya Yang Mulia, hamba tidak bisa kehilangan dia. Apapun hukumannya, akan hamba terima." Setetes air mata, jatuh tanpa terasa. Apa lagi yang bisa ia lakukan untuk adiknya?
"Hamba sangat menyayanginya Yang Mulia, hamba tidak bisa kehilangan dia. Apapun hukumannya, akan hamba terima."
Masaomi kembali menutup matanya erat, tangannya mengepal kuat. Mati-matian berusaha menahan rasa sesak yang semakin hebat. "Kau akan dieksekusi, Seijuro."
Kali ini kata-kata Seishiro tak menyertai ucapannya lagi, karena Masaomi ingat, sangat ingat. Ayahnya dulu tidak mengatakan ini. Kalimat keji yang harus dia ucapkan pada darah daging sendiri. Dahulu, Akashi Seishiro hanya berkata,"Kau akan dihukum, Masaomi."
"Hamba mengerti, Yang Mu—" ucapan Seijuro terhenti seketika, ia membelalakan mata. Merasakan telapak tangan yang menyentuh kepala, sang ayah telah berdiri di depannya.
"Hentikan, Seijuro. Hentikan," lirih Masaomi, tak mampu lagi menahan diri. Rasa sakit mendera saat melihat sang putra pasrah pada kehendaknya, tanpa ada perlawanan sama sekali. "Aku ayahmu, bukan rajamu."
Seijuro semakin menundukkan kepala, surainya menjuntai menutup sebagian wajah. Satu tetes air mata kembali lolos membasahi pipi, sebelum akhirnya terjatuh pasrah di atas karpet merah.
Menghela nafas panjang, Seijuro masih berusaha bersikap biasa dan tetap tenang. Ia menolak halus segala afeksi yang diberikan. "Tolong jangan nodai wibawa Anda dengan membela seseorang yang jelas-jelas bersalah."
"Hentikan!"
"Sekali kesalahan tetaplah kesalahan, Yang Mulia. Dan itulah yang hamba la—"
"Kubilang hentikan!" bentak Masaomi, nada bicaranya semakin meninggi. Air matanya sudah tak terbendung lagi. Putra yang telah ia besarkan dengan cinta kasih, kini berserah diri untuk dihukum mati. Bagaimana Masaomi tidak bersedih hati? Dapat Masaomi rasakan kepala Seijuro sedikit bergetar, mungkin dia tengah menahan agar isakannya tidak keluar.
"Aku ayahmu, Seijuro. Aku ayahmu." Tubuh Masaomi merosot ke bawah, seolah kehilangan segala kekuatan dan kedikdayaan, sebelum akhirnya bersimpuh di hadapan sang putra.
Menangis sesenggukan, ia menempelkan kepala pada kening putranya. "Kau anakku."
"Ayah," lirih Seijuro. Air matanya pun mengalir deras tanpa bisa dicegah.
Menarik sang putra dalam peluk hangat seorang ayah. Akashi Masaomi meluapkan segala perasaan yang menyesakkan dada. "Kau berbeda, Seijuro. Ayah tau kau tidak sepenuhnya bersalah."
Seijuro balas memeluk ayahnya. Mencengkram erat garmen putih yang membungkus tubuh Masaomi, dia biarkan air mata meluncur tak terkendali, turut meluapkan segala rasa yang menyesakkan dada selama ini. "Maafkan aku, Ayah. Sebagai putra mahkota aku telah gagal menjaga kehormatan keluarga, dan menodai semuanya. Aku bahkan membuat kalian menangis dan terluka."
Akashi Tetsuna menutup mulut dengan kedua telapak tangan, berusaha sekeras yang dia bisa untuk menahan isakan. Sejak awal dia sudah ada di sana, bersembunyi di balik salah satu pilar penyangga yang dengan sempurna dapat menyembunyikan tubuhnya. Semula, Tetsuna berniat menyambut kedatangan sang putra, namun urung begitu melihat interaksi mereka berdua.
Mengeratkan pelukan, Masaomi mengelus surai merah Seijuro perlahan. "Tidak Nak, tidak. Tidak seharusnya kau yang menanggung semua seorang diri."
Pandangan menerawang jauh, Masaomi teringat kembali akan masa lalu, yang menjadi akar permasalahan atas hal buruk yang menimpa putranya.
Tersebutlah sebuah kisah, tentang makhluk suci yang terbuat dari cahaya. Mereka bukan penghuni surga, namun merupukan bagian dari surga, dan memiliki tempat tersendiri yang disebut nirwana.
Sesungguhnya mereka adalah makhluk yang mulia, selalu taat pada perintah, dan tak pernah berbuat dosa. Namun, apapun bisa terjadi atas kehendak Yang Maha Kuasa.
Pada masa pemerintahan Akashi Seishiro, sebuah sejarah kelam terjadi. Seorang bidadari harus diadili, sebab melanggar batas-batas yang membuatnya tak lagi suci. Ia telah ternoda, kehilangan cahaya, dan tak lagi seharum bunga surga.
Duduk di sisi kiri sang ayah, Akashi Masaomi selaku putra mahkota, dengan kidmat mengikuti jalannya persidangan nirwana. Pertama kali dalam sejarah, seorang bidadari menjadi pendosa.
Dialah, Naomi Shina. Sang Fallen Angel yang telah ternoda.
"Aku, Akashi Seishiro. Sebagai penguasa negeri ini bersumpah, atas nama Yang Maha Kuasa, akan menjatuhkan hukuman seadil-adilnya pada terdakwa bersalah." Ikrar-nya. Suara lantang menggema, memantul memenuhi aula yang tak ubahnya seperti stadion namun luasnya tak terkira, mengawali persidangan nirwana.
Masaomi menatap lekat bidadari yang berdiri seorang diri di tengah aula, dikelilingi empat pilar menjulang tinggi berhias untaian rantai yang membelenggu kaki dan tangannya. Awan putih di sekitar Naomi Shina semakin lama semakin menghitam, menambah suasana semakin kelam. Namun, Naomi Shina tampak biasa saja, seolah tidak menyesali perbuatannya, dan pasrah atas hukuman apa yang akan dijatuhkan padanya.
"Atas perbuatannya menjalin hubungan dengan seorang iblis dan kini tengah mengandung anaknya. Maka, sebagai hukuman, dia harus angkat kaki dari nirwana, dan bukan lagi merupakan bagian dari surga."
Para penghuni nirwana yang turut menyaksikan jalannya persidangan tampak menahan nafas, begitu juga dengan Masaomi. Membayangkan betapa berat hukuman yang akan Naomi Shina jalani. Mereka mencoba tenang, meski sebenarnya tidak sabar menunggu apa lagi yang akan Seishiro katakan.
"Setiap perbuatan akan menerima balasan. Jika anak yang dilahirkan adalah iblis, maka kau akan dijebloskan ke dalam Neraka Jahanam untuk selamanya. Tetapi jika anak yang dilahirkan adalah malaikat, maka kau akan kembali tersucikan."
Dalam hukum nirwana, setiap pendosa yang tersucikan kembali oleh kelahiran anaknya, tidak akan bisa keluar dari nirwana untuk selamanya, guna mencegah terulangnya hal serupa.
Mendengar kata Neraka Jahanam disebut, membuat Masaomi tanpa sadar menyapukan pandangan, menyisir seluruh sudut aula. Dapat dilihat, semua malaikat tertegun beberapa saat, sebelum akhirnya terdengar bisik-bisik riuh rendah. Neraka Jahanam adalah tempat paling mengerikan bagi seorang malaikat yang biasa disuguhi kenikmatan surga. Mereka merasa iba, sekaligus takut andai kata mengalami hal yang sama. Dilihat dari reaksi mereka, Masaomi yakin, bukan hanya dia yang bertanya-tanya kenapa Naomi Shina bisa sampai melakukannya.
Terbang menyusul sang ayah keluar dari aula begitu persidangan telah berakhir. Masaomi memanggil meminta perhatian. "Ayah."
Akashi Seishiro membalikkan badan begitu mendengar panggilan sang putra. Menjawab lembut penuh wibawa. "Ada apa, Masaomi?"
"Sebelum dia angkat kaki dari negeri ini, bolehkah aku berbicara pada Naomi untuk terakhir kali?" Tak ingin larut dalam rasa penasaran, Masaomi bertekad untuk menanyakan secara langsung pada yang bersangkutan.
Akashi Seishiro sempat berpikir hingga kedua alis bertaut, terselip kekhawatirkan atas apa yang akan putranya lakukan. Namun, sebagai malaikat tentu ia tidak ingin prasangka buruk menguasai pikiran. Mengangguk sekilas, Seishiro memberi ijin. "Baiklah."
Begitu mendapat persetujuan sang ayah, tanpa membuang waktu Masaomi melesat terbang, menghampiri Naomi Shina yang hampir mencapai gerbang nirwana dengan diiring dua pengawal.
"Tunggu!" seru Masaomi.
Tiga orang yang merasa terpanggil menolehkan kepala pada sumber suara, sedikit terkejut mendapati sang putra mahkota terbang menghampiri mereka. Hingga membuat benak diliputi rasa tanya, namun urung bersuara.
Naomi Shina memegang kedua sisi gaun putihnya kemudian diangkat sedikit, seraya membungkuk sopan. Sedangkan dua malaikat pengawal sedikit membungkuk dan menundukkan kepala dengan tangan kanan di depan dada, tangan kiri bersembunyi di belakang pinggang. Mereka semua kompak memberi hormat pada Masaomi. "Hormat kami, Pangeran."
Masaomi mengangguk singkat, sebelum akhirnya memandang Naomi Shina intens, jelas terpancar keingintahuan di wajahnya. "Bolehkah aku berbicara denganmu untuk yang terakhir kali, Naomi?" tanya Masaomi penuh wibawa.
"Apapun yang Anda inginkan, Pangeran." Naomi kembali berdiri dengan anggun dan melepaskan jalinan tangan pada gaun yang dikenakan. Senyum manis menghias wajah, seakan menunjukkan jika vonis yang diterima adalah hal biasa. Tidak ada beban dan penyesalan di mata.
Masaomi tersenyum mendengarnya, tanpa membuang waktu, mengutarakan maksud kedatangannya. "Aku yakin, bukan hanya aku yang mempertanyakan hal ini. Bagaimana semua ini bisa terjadi, Naomi? Kenapa kau sampai berani melakukan ini?"
Naomi Shina mengerjapkan mata beberapa kali, tampak tertegun mendengarnya. Menoleh kanan-kiri guna melihat ekspresi dua pengawal yang mengiringnya menuju gerbang keluar nirwana. Dia tersenyum sekilas mendapati ekspresi wajah mereka yang tampak penasaran menanti jawab darinya. Masaomi benar, sepertinya banyak yang merasa penasaran, hanya tidak berani mengutarakan dan mencari jawaban.
"Ada sebuah rasa yang berbeda, Pangeran," jawab Naomi dengan kepala menunduk. Bibir merah melengkung membentuk senyum kecil. Kedua telapak tangan membelai perut datar yang terdapat kehidupan didalamnya. Darah dagingnya bersama sang tercinta.
Masaomi dan kedua malaikat pengawal tampak mengernyitkan alis heran, tidak mengerti dengan apa yang Naomi Shina maksudkan.
"Apa kau pernah merasa jatuh cinta, Pangeran?" Wajah kembali menengadah menatap sang pangeran. Naomi bertanya lirih, tanpa mengurangi rasa hormat.
"Tentu saja Naomi, bukankah kita makhluk yang penuh cinta?"
Menggelengkan kepala hingga helaian rambutnya bergoyang indah, bukan itu yang dia maksudkan. Sesuai yang diduga, tidak akan ada yang bisa mengerti perasaannya. "Anda akan mengerti, saat merasakannya sendiri."
. . .
Akashi Masaomi terbang meninggalkan nirwana tanpa tentu arah. Bukannya menjawab rasa penasaran, kata-kata terakhir Naomi Shina justru malah semakin mengganggu pikiran. Rasa apa yang sekiranya membuat makhluk suci rela mengorbankan diri, melepaskan apa yang dijanjikan Tuhan berupa kebahagiaan hakiki, dan masih bisa tersenyum saat harus menerima hukuman abadi?
Terlalu sibuk dengan segala hal yang berkecamuk di dalam kepala, tanpa sadar Akashi Masaomi telah berada di dunia manusia. Dan di sanalah dia bertemu dengan seorang wanita yang mampu memberikan jawaban atas segala pertanyaan yang selama ini mengganggu pikiran. Apakah perasaan ini yang Naomi maksudkan?
Hanya sebuah rumah sederhana, yang dihiasi berbagai tanaman bunga. Seorang wanita muda tengah bersenandung ceria, seraya menyiram bunga-bunga yang kelopaknya mulai terbuka.
Akashi Masaomi terpana dengan pemandangan yang ada. Helaian panjang rambut biru muda yang diterpa angin terlihat lebih indah dari hamparan samudra. Kerlingan manik aquamarine lebih cerah dari langit biru yang menaungi Nirwana. Dan yang paling Masaomi sukai adalah, senyum yang tersungging di bibir merah si wanita. Terlihat lebih manis dari kurma yang tumbuh di tanah surga. Hal sederhana namun sanggup membuat Masaomi kehabisan kata, tidak mampu bersuara.
"Jadi, inikah rasanya?" Dalam keterpakuannya, tanpa sadar Akashi Masaomi terbang mendekati si wanita. Berniat menghapus jarak yang terbentang diantara keduanya.
"Eh?" wanita itu membelalakkan mata, seakan tidak percaya. Hati siapa tidak terpana bila melihat sosok tampan dengan cahaya putih melingkupinya, dan sayap indah mengembang gagah.
Akashi Masaomi hanya terdiam. 'Apakah wanita ini menyadari keberadaannya? Bagaimana seorang manusia bisa melihatnya?'
Mencoba menguasai diri, wanita yang bernama Kuroko Tetsuna tersebut tersenyum lembut. "Nikmat Tuhan mana lagi yang aku ingkari, maha besar Tuhan yang telah menciptakan makhluk seindah ini," ujarnya bak sebuah melodi.
"Kau… bisa melihatku?" tanya Masaomi heran. Pandangan mata tidak teralihkan dari si wanita cantik nan menawan.
Tetsuna mengangguk sebagai jawaban, tanpa pernah memudarkan senyuman. Merasa sangat diberkati sebab telah diberi kesempatan untuk berjumpa dengan makhluk suci.
Sejak saat itulah, hubungan mereka terus berkembang. Hingga Masaomi harus dihadapkan pada sebuah pilihan, antara memilih wanita yang dia sayang atau mempertahankan kesucian? Andai bisa memilih, mungkin Masaomi ingin jatuh cinta pada bidadari saja, bukan manusia. Namun hati yang menjatuhkan pilihan atas nama cinta.
. . .
Akashi Masaomi duduk termenung tepat sepuluh meter di depan gerbang nirwana. Di sana, awan putih yang melandasi negeri tersebut terbuka, menganga lebar bagai sebuah lembah, begitu juga dengan langit yang menaungi nirwana di atasnya. Tempat tersebut adalah akses keluar masuk para malaikat yang hendak turun ke bumi, atau naik menuju langit kedua dan seterusnya.
Entah sudah berapa lama dia berada di sana, dengan posisi kaki kanan ditekuk hingga lutut menyentuh dada, sedang kaki kiri dibiarakan menggantung ke bawah. Tangan kanan berada di atas lutut, sedang tangan kiri sesekali melempar bola-bola cahaya yang dia buat sendiri guna menghidupkan suasana. Cahaya tersebut akan tampak seperti bintang jatuh bagi manusia yang melihatnya.
Pandangan mata menerawang jauh, Masaomi memikirkan kembali keputusan apa yang akan dia pilih. Dia sangat mencintai Tetsuna dan ingin hidup bersama. Tapi sebagai putra mahkota dia harus menjaga kehormatan keluarga.
Menengok ke bawah, saat ini di bumi malam telah tiba. Entah apa yang tengah Tetsuna lakukan di sana, tapi yang jelas Masaomi sangat merindukannya. Paras menawan telah menjerat Masaomi, membuat dia bimbang setengah mati.
Kilas pembicaraannya dengan Naomi Shina terlintas kembali. Kini dia mengerti, rasa apa yang Naomi katakan terakhir kali. Entah karena malaikat merupakan makhluk suci yang tidak seharusnya berprasangka, atau memang hanya ingin membela diri saja. Masaomi mulai berpikir, apa yang salah dari saling mencinta? Bukankah Tuhan yang sudah menumbuhkan rasa yang ada? Salahkah dia jika ingin menjaga perasaannya?
'Jika Naomi saja berani melakukannya, kenapa kau tidak?' Keraguan menimbulkan celah, kebimbangan yang menghinggapi membuat Masaomi tidak peka. Mengira itu adalah suara hatinya, tanpa Masaomi sadari sesosok iblis tengah menggoda, mencoba membawa bersama dalam lubang kegelapan atas nama cinta.
'Jika anak yang dilahirkan bukan malaikat, maka kau akan mendekam di neraka. Tapi bagaimana jika tidak memiliki anak?' bisikan iblis terdengar lagi. Semakin merayu, menyesatkan hati.
Masaomi tersenyum, benar apa yang terlintas di pikirannya. Melupakan kedudukannya sebagai putra mahkota, Masaomi merasa dia bisa memiliki Tetsuna tanpa harus mendekam di neraka. Tinggal di bumi mungkin bukan pilihan yang buruk, jika itu bersama Tetsuna.
Menoleh ke belakang, menantap pintu gerbang, Masaomi berujar lirih, "Maafkan aku, Ayah."
Merasa telah mendapat jawaban pasti, sedikit melompat, Akashi Masaomi menjatuhkan diri, menukik tajam terbang menuju bumi. Bersiap bertemu orang terkasih, tanpa tahu apa yang dia lakukan akan membawa bencana bagi mereka dan anak yang terlahir nanti.
. . .
Tetsuna duduk berpangku tangan di dekat jendela, menatap langit malam bertabur bintang. Sesekali cahaya terang meluncur jatuh membelah gelap malam, mengingatkannya pada sosok yang sangat ia rindukan. Napas dihembuskan perlahan, baru menyadari jika rindu bisa sebegini menyesakkan.
Berkedip seolah tidak percaya saat mendapati sebuah cahaya terang meluncur mendekat, Tetsuna terperanjat. "Masaomi-san?"
"Boleh aku masuk?" Masaomi bertanya sopan meminta ijin. Terbang rendah di balik jendela, sayapnya mengepak pelan.
Tetsuna mengangguk sebagai jawaban. Hanya perlu memberi ijin tanpa harus membuka jendela, sebab Masaomi bisa melesak masuk dengan menghilang atau menembus tembok.
Tetsuna beranjak berdiri, menyambut Masaomi yang telah berada di hadapannya saat ini.
"Aku sudah memutuskan, Tetsuna." Berniat meraih tangan sang wanita. Namun berhenti di udara, keraguan masih terselip di hati. Memutuskan menarik uluran tangan, menggantung lemah di sisi tubuh.
Tetsuna hanya diam, menatap manik ruby Masaomi dalam. Hanya ada dua kemungkinan, Masaomi akan meninggalkannya atau tetap bersama. Dan kedua pilihan tersebut tidak ada yang diinginkan oleh Tetsuna.
Membulatkan tekad, Masaomi kembali mengulurkan tangan, dan meraih tangan kiri Tetsuna. Untuk pertama kali dalam hidupnya sebagai malaikat, dia menyentuh wanita yang sangat dicinta. Dan untuk pertama kalinya juga, Masaomi menyentuh wanita yang bukan muhrimnya. "Maukah kau menjalin hubungan denganku? Menjadi istriku?" tanya Masaomi penuh kesungguhan. Tidak ada lagi keraguan, yang ada hanyalah cinta dan keteguhan.
Dapat Tetsuna rasakan, angin malam semakin berhembus kencang. Meskipun di dalam ruangan, namun dinginnya terasa menusuk tulang, bahkan awan mendung mulai menghalangi cahaya bulan. Malaikat di hadapannya telah melakukan kesalahan.
Menundukkan kepala, Tetsuna tak mampu menatap sosok yang perlahan-lahan tak lagi bercahaya selayaknya manusia biasa. "Tapi Masaomi-san..."
"Aku sangat mencintaimu, Tetsuna. Tidakkah kau merasakan hal yang sama?" meraih tangan yang lain, mencoba meyakinkan Tetsuna atas keputusan yang diambilnya.
Mendongakkan wajah, iris aquamarine Tetsuna tampak berkaca-kaca. Menatap sendu malaikat di depannya, bibir bergetar menyuarakan rasa, "Aku juga mencintaimu, Masaomi-san. Tapi apa yang akan terjadi padamu, jika…"
"Sstt." Meletakkan jari telunjuk di bibir Tetsuna, Masaomi tidak ingin mendengar apa yang akan Tetsuna katakan selanjutnya. "Semua akan baik-baik saja."
Mengangguk singkat, Tetsuna tidak ingin pengorbanan Masaomi sia-sia, mereka akan menghadapinya bersama."Aku mau, Masaomi-san. Aku mau."
Petir menyambar, guntur menggelegar, hujan deras tiba-tiba mengguyur bumi. Mengiringi ikrar yang baru saja terucap. Bahkan alam pun seakan tidak merestui cinta keduanya. Malaikat tidak seharusnya menjalin hubungan dengan seorang manusia.
"Masaomi-san," lirih Tetsuna. Apa yang terjadi disekitarnya membuat dia ketakutan. Belum pernah melihat alam begitu mengerikan.
Masaomi menariknya ke dalam pelukan, mengelus surai dan punggung wanita-nya perlahan, mencoba memberi Tetsuna ketenangan, meski dia sendiri tengah dilanda kegundahan, "Semuanya akan baik-baik saja."
Tidak berselang lama, di belakang Masaomi muncul cahaya terang yang bertransformasi menjadi empat sosok malaikat dengan sayap putih yang mengembang gagah. Tanpa berbalik pun Masaomi mengetahui keberadaan malaikat yang mendatanginya. Berbeda dengan Tetsuna yang tidak bisa melihat wajah mereka sebab cahaya yang menyilaukan mata. Meski demikian, Tetsuna dapat mengenali siapa mereka sebenarnya.
"Masaomi-san." Tetsuna memanggil, mencoba memberi isyarat pada Masaomi akan keberadaan malaikat lain diantara mereka.
Masaomi melepaskan pelukan, kemudian berbalik badan, menatap empat sosok malaikat di belakangnya. Tidak mengerti apakah gerangan yang membuat empat malaikat panglima turun ke bumi.
"Salam hormat, Pangeran," ujar salah seorang dari mereka, tanpa membungkuk seperti seharusnya. "Kami ditugaskan Yang Mulia Raja untuk menjemput Anda."
Menyadari pelanggaran yang baru saja ia lakukan, Masaomi mengangguk sekilas. "Aku mengerti."
Iris ruby kembali memandang Tetsuna, seakan meyakinkan jika semua akan baik-baik saja. "Aku akan kembali," ujarnya seraya mengelus kepala Tetsuna lembut. "Aku pasti kembali." Mengecup kening Tetsuna sekilas, Masaomi kemudian mengikuti empat panglima yang menjemputnya.
.
.
"Kau akan dihukum, Masaomi."
"Hamba mengerti, Yang Mulia."
"Seluruh penghuni nirwana dan para Dewan telah berkumpul di aula."
"Hamba siap menghadapi semuanya, Yang Mulia."
.
.
-TBC-
.
.
Note:
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada yang tidak dimengerti silahkan bertanya. Apabila ada hal yang tidak masuk logika, dimohon untuk memakluminya, jangan terlalu dianggap serius ya ^^
.
.
A/n :
Fic ini lama banget updatenya, maafkan saya. Bukan berarti saya menelantarkannya, fic ini sebenarnya selalu mengganggu pikiran saya. Tapi yah… mohon dimaklumi ya -/\-
Rencananya di chapter ini mau saya jelasin semuanya, tapi terlalu panjang ternyata, jadi saya bagi dua. Yang bertanya perihal bagaimana AkaKuro bisa bersaudara, tunggu chapter depan ya ^_~
.
.
Thanks to:
Daisy-san yang telah membantu mengedit dan melakukan perbaikan
Terima kasih juga bagi yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca :) Tolong sempatkan waktunya untuk mereview ya ^^
.
.
Balasan Review:
Narakura: haha, jarang-jarang kan Akashi mellow. Ini genrenya drama, klw bisa sih ceritanya lebih dramatis wkwk. Bergelimang dosa? /ngakak. Kok endingnya maksa tapi Kuroko gak jahat, Akashi juga baik. Semuanya pasti berakhir baik :) jadi tebakan Nara-san salah ya? xD /ngakaklagi. Ok, makasih banyak atas reviewnya, ini udah dilanjut ya, semoga suka ^^
Shinju Hatsune: iya nih, kok jadi incest ya :( kisah mereka akan berakhir jika Akashi mati. Mohon doanya untuk Akashi /loh? Terima kasih banyak atas reviewnya, ini sudah dilanjut ya, semoga suka ^^
Kirigaya Shiina: yup, mereka pasti akan bertarung :) /Kok sy spoiler/ Terima kasih banyak atas semangat dan reviewnya ^^
Marmaladelicious: panjaaang :D ini yang saya rindukan dari Mikan :3 akhirnya fic saya ada manfaatnya juga, sy seneng dengernya, sama-sama :)
Perihal sifat Kuroko, gimana ya jelasinnya. Sebenarnya dia itu bukan introvert, tapi lebih ke kesepian. Di original story diceritakan dia ingin punya teman, tapi selalu diabaikan. Untuk kehadiran Akashi, selain karna adanya ikatan batin antara Saudara yg membuat mereka 'Nyaman' dalam OS juga diceritakan Kuroko memohon seorang teman, dan tepat setelah itu Akashi datang, terlebih lagi Akashi 'bukan orang' jadi Kuroko menganggap doanya telah dikabulkan.
Untuk distansi antara Kuroko dan GOM, dalam OS memang alurnya kecepetan, tapi sebenernya dalam ff ini ada beberapa point yang saya maksudkan untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi sepertinya saya kurang baik dalam penyampaian, jd sulit dipahami /MaafkanSaya T^T
Saya sendiri tidak menyangka kenapa fic ini jadi penuh teka-teki, untuk penjelasan lengkapnya bisa lewat PM ya.. (readers lain yg mungkin bertanya-tanya juga bisa pm) klw dijelaskan di sini bisa sangat panjaaang xD
Untuk masalah judul, terima kasih banyak atas saran, masukan, dan ide yang disumbangkan. Ini sy ngrasa kok, sejak awal saya udah ngrasa. Tapi karna sudah kepalang basah, dan hampir sampai pada puncak konflik juga, sepertinya tidak akan saya rubah. Maafkan saya -/\-
Terima kasih banyak atas review, saran, dan masukannya ^^
Carolinee: terima kasih :D terima kasih banyak pujiannya, terima kasih banyak sudah menyukai fic saya, dan terima kasih juga sudah mereview :') ini sudah lanjut ya, semoga masih minat untuk membaca. Mau curhat sepanjang dan selebar apapun saya dengerin kok xD
Sekali lagi, terima kasih banyak semuanya ^^
