dangerouSHIRO proudly present…
"Lonely Prince"
All chara own by themselves & SMent
WARNING!
This fanfic had a content of BOYS LOVE!
So, if you don't like that thing…
Make it SIMPLE for us!
DON'T READ THIS FANFIC!
I don't need FLAMER or BASHER here.
If you don't like the pair that used in this fic,
Better YOU GO AWAY!
XXX
Leeteuk termenung sendirian di dalam ruang kerjanya setelah Kangin pergi. Kata-kata dari pemuda bertubuh tinggi tegap it uterus terngiang ditelinga Leeteuk. Apakah benar selama ini kebenciannya terhadap Kyuhyun hanyalah sebuah kebencian tak berdasar? Apakah semua yang telah ia lakukan terhadap Kyuhyun adalah sebuah kesalahan? Semua pertanyaan itu kini terus mengisi kepala Leeteuk, membuatnya merasa pusing. "Hanya dengan memikirkan anak itu, kepalaku menjadi sakit. Kau benar-benar pembawa masalah, Kyuhyun!" ujar Leeteuk sambil berjalan keluar dari ruang kerjanya, menuju kearah kamarnya sendiri. Suara langkah kakiknya terdengar begitu nyaring di dalam rumahnya yang sepi, menggema menembus dinding-dinding koridor yang berdiri kokoh namun dingin.
Suara pintu utama yang tebuka menghentikan langkah kaki Leeteuk. "Darimana saja kau, Choi Donghae?"
Donghae yang barusan membuka pintu langsung terkejut begitu mendapati sosok kakak tertuanya yang masih terjaga. "Oh, Leeteuk-hyung! Aku piker kau sudah tidur." Donghae mencoba berbasa-basi dengan kakaknya itu. Namun ucapannya itu hanya dibalas dengan tatapan dingin dari Leeteuk. "Jawab pertanyaanku dan jangan mengalihkan pembicaraan dengan ucapan basa-basimu itu. Sejak kapan kau peduli kalau aku sudah tidur atau belum, huh?"
Donghae semakin salah tingkah. Ucapan Leeteuk memang benar, selama 15 tahun ia hidup bersama kakak tertuanya itu, dirinya sama sekali tidak pernah peduli dengan jam tidur Leeteuk. Maka tidak aneh jika Leeteuk membalas ucapan Donghae dengan begitu….sarkatik?
"Aku… baru saja pulang dari taman bermain bersama Eunhyuk."
"Ah! Sudah kuduga."
Keheningan mulai mengisi diantara dua bersaudara itu. Donghae merasa bingung harus berkata apa lagi pada kakaknya itu, sementara Leeteuk terlihat tidak punya niat untuk bertanya lebih lanjut. Akhirnya Donghae memutuskan untuk pergi dari hadapan Leetuk setelah ia mengucapkan selamat malam. "Ah," Donghae menghentikan langkah kakinya dan berbalik kearah Leeteuk. "Saat aku ke taman bermain tadi, aku bertemu lagi dengan Kyuhyun."
Tubuh Leeteuk langsung menegang begitu ia mendengar nama Kyuhyun. Namun, ekspresi diwajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan. Tetap datar seolah tak ada emosi yang terlukis disana.
"Lalu? Untuk apa kau memberitahukan hal itu padaku?"
Donghae menghela nafas panjang, "Kondisi Kyuhyun sangat menyedihkan hyung."
"…"
"Aku tak pernah menyangka diumurnya yang lima belas tahun itu, sikapnya justru lebih mencerminkan perilaku anak usia lima tahun." Ujar Donghae dengan nada yang menyiratkan keprihatinan. "Sejak awal aku bertemu dengannya, aku memang merasa kalau Kyuhyun itu berbeda. Namun aku tidak tahu kalau―"
"Bisakah kau berhenti membicarakan anak sial itu, Choi Donghae?!" Bentakan Leeteuk padanya membuat Donghae terdiam. Pemuda bersurai cokelat itu menundukkan kepalanya, tak berani melihat kearah Leeteuk yang tampaknya tengah dikuasai amarah. Harusnya ia tahu, Leeteuk tak pernah suka dengan topic pembicaraan yang melibatkan satu nama, yaitu Choi Kyuhyun, adik mereka sendiri.
"Sudah kukatakan padamu berulang kali, jangan pernah membahas tentang anak itu lagi! Aku sudah muak dengan tingkahmu akhir-akhir ini, Choi Donghae! Kau membuatku muak dengan semua informasimu tentang Kyuhyun!"
"…"
"Kalau kau memang merasa berempati padanya, silahkan saja kau perlakukan dia selayaknya adik." Donghae tersentak begitu mendengar perkataan Leeteuk. Ia tak menyangka jika kakaknya itu mengizinkannya untuk memperlakukan Kyuhyun sebagai seorang adik, mengingat selama ini Leeteuk begitu keras memperingati dan mendoktrin dirinya bahwa Kyuhyun bukanlah adik mereka. Baru saja Donghae akan membuka mulutnya, namun kata-kata yang keluar dari bibir Leeteuk selanjutnya sangatlah menyakitkan hingga dirinya hanya bisa diam tanpa mengucapkan apa-apa.
"Tapi jangan harap aku akan luluh, dan mengakui atau memperlakukannya sebagai adik. Karena bagiku, Kyuhyun hanyalah seorang anak pembawa sial yang tak pantas mendapatkan kasih sayang." Leeteuk pun pergi meninggalkan Donghae yang berdiri termangu.
"Aku bukan makhluk lemah sepertimu, Donghae."
XOXOX
"Quiche Kyu! Changmin-hyung, balikin!"
Suara teriakan Kyuhyun terdengar diseluruh lorong lantai dua apartemen tempatnya tinggal bersama Changmin. Pemuda manis itu berlarian mengejar Changmin, tak peduli nafasnya kini mulai tersengal-sengal. "Changmin-hyung…"
Sementara Changmin yang berjalan didepan, tampak tak mempedulikan panggilan Kyuhyun. Pemuda bertubuh kelewat tinggi it uterus berjalan menuruni tangga apartemen, menuju kearah tampat parker dimana ia memarkir motornya.
"Changmin-hyung jahat sama Kyu." Ucapan Kyuhyun tersebut sukses membuat Changmin membalikkan tubuh tingginya. "Quiche itu punya Kyu! Balikin hyung!" Sekali lagi Kyuhyun merengek dengan kata-kata yang sama. Meminta pada Changmin untuk memberikan hamster lucu yang ia beri nama Quiche.
Changmin menghela nafas panjang, mencoba untuk menetralkan emosinya yang akhir-akhir ini tak dapat ia kontrol. Pemuda bertubuh kelewat tinggi itu juga tidak mengerti, kenapa emosinya bisa begitu cepat bergolak saat ada sesuatu yang menyangkut tentang Kyuhyun.
Ia hanya tidak terjadi apa-apa pada Kyuhyun, ia ingin selalu melihat Kyuhyun tersenyum meskipun itu jarang, ia hanya... ingin Kyuhyun bahagia. Namun, semenjak hari dimana Kyuhyun bertemu lagi dengan Choi Donghae dan Choi Leeteuk―yang tak lain adalah kakak kandung Kyuhyun― perasaan Changmin semakin tak karuan. Pemuda yang satu bulan lebih tua daripada Kyuhyun itu hanya tidak ingin jika Kyuhyun disakiti. Karena jika ia melihat siapapun menyakiti Kyuhyun, maka... ia pun akan merasakan sakit yang sama.
"Changmin hyung! Balikin!" Kyuhyun kembali berteriak meminta si hamster gendut Quiche. Changmin pun berjalan mendekat kearah Kyuhyun, lalu memberikan akuarium kecil berisi hamster gendut berwarna putih bertotol cokelat muda. "Ini, hyung kembalikan. Jangan merengek dan berteriak lagi. Kau bisa dipukul sama Kang ahjumma lagi nanti."
Kyuhyun pun bersorak girang ketika Quiche kembali padanya. Pemuda manis berpipi gembil itu pun berjalan meninggalkan Changmin untuk kembali ke apartemen mereka. Terdengar suara Kyuhyun yang kembali menyenandungkan lagu asal, yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.
Changmin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Kyuhyun. Tak dapat ia pungkiri, terkadang memang Changmin merasa kesal dengan tingkah polah Kyuhyun yang tak sesuai dengan umurnya. Namun, disatu sisi pula Changmin menikmati saat-saat bersama Kyuhyun. Karena dengan kondisi Kyuhyun yang berbeda itu, ia mampu belajar untuk mengendalikan emosi, mengerti dan memahami orang lain dengan cara yang unik, bahkan belajar untuk menyayangi seseorang.
Karena setelah kedua orang tuanya meninggal empat tahun lalu, berarti saat umurnya dan umur Kyuhyun menginjak sebelas tahun, praktis Changmin-lah yang bertugas menjaga dan merawat Kyuhyun. Awalnya Changmin merasa hidupnya sangatlah berat. Ia harus meninggalkan sekolahnya, mencari pekerjaan, dan berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan Kyuhyun. Dan setelah beberapa bulan bergelung dengan kehidupan yang sulit, akhirnya Tuhan mengirimkan malaikat dengan wujud seorang manusia bernama Lee Sungmin.
Sungmin-lah yang membantu Changmin selama ini. Ia yang merekomendasikan apartemen ini sebagai tempat tinggalnya dan Kyuhyun, mencarikannya pekerjaan paruh waktu, dan membantunya menjaga Kyuhyun saat ia sedang bekerja. Changmin begitu bersyukur dengan kehadiran Sungmin didalam hidupnya, karena tanpa Sungmin, mungkin dirinya dan Kyuhyun sudah terlunta-lunta dijalanan.
"Changmin?"
Changmin menoleh begitu mendengar suara seseorang yang memanggilnya, "Oh! Sungmin-hyung. Baru pulang dari took buku?"
Sungmin mengangguk singkat. "Kau sedang apa disini? Kyuhyun mana? Aku bawakan buku bergambar dan beberapa kue kering." Ujar Sungmin sambil memperlihatkan beberapa kantong plastic yang ada digenggamannya. "Kue kering? Tapi, hyung tau kan kalau Kyuhyun tidak boleh sembarangan memakan kue."
Sungmin tertawa geli mendengar perkataan pemuda bertubuh tinggi itu. Ia menepuk pundak Changmin pelan, "tenang saja Changmin-ah. Kue ini aman untuk Kyuhyun kok." Sebelum mendengar jawaban dari Changmin, Sungmin sudah lebih dulu meninggalkan pelataran parker apartemen. "Kenapa banyak sekali orang-orang yang meninggalkan aku sebelum aku bicara, sih? Menyebalkan." Sungut Changmin.
XOXOX
Pagi itu Changmkn baru beranjak dari tidurnya ketika matahari sudah tinggi. Pemuda bertubuh tinggi itu melirik jam yang ada diruang tengah apartemennya sekilas, dan mendapati bahwa jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. "Kyu? Kau sudah bangun?" Changmin membuka pintu kamar Kyuhyun, namun tia tak menemukan pemuda manis bersurai cokelat ikal itu disana. Changmin mengernyitkan keningnya, heran. "Kemana perginya anak nakal itu? Tidak biasanya dia bangun pagi." Gumam Changmin pada dirinya sendiri.
Changmin berjalan menuju ruang makan, hendak membuat sereal untuk sarapannya. Namun sosok Kyuhyun yang tengah duduk tenang sambil menyusun puzzle diatas meja makan, sukses mengagetkannya. "Ya Tuhan Choi Kyuhyun! Sejak kapan kau ada disini?!"
Kyuhyun tak memberikan reaksi apa-apa, pemuda manis itu seolah tenggelam dalam dunianya sendiri. Changmin pun hanya bisa menghela nafas, lalu berjalan menuju counter dapur untuk membuat sereal. "Kyu…" Changmin masih berusaha untuk memanggil Kyuhyun, menyadarkan Kyuhyun dari dunianya sendiri. "Kyuhyun…" panggil Changmin lagi.
Merasa tak akan mendapat respon, Changmin pun berinisiatif untuk duduk dihadapan Kyuhyun. Pemuda tinggi itu menarik bangku yang ada, lalu duduk dengan tenang sebelum mencoba memanggil Kyuhyun kembali. "Kyu? Kau sudah sarapan? Mau hyung buatkan sesuatu?" Tanya Changmin pelan sembari mengelus jari-jari Kyuhyun yang tampak lincah memasang potongan-potongan puzzle bergambar angry bird.
Inilah salah satu kesulitan menghadapi anak berkebutuhan khusus seperti Kyuhyun, yang dalam kasus ini adalah pengidap sindrom asperger, yang juga termasuk kedalam kasus autisme. Penderita sindrom asperger seperti Kyuhyun memang terkadang bisa cepat menanggapi sesuatu, namun terkadang juga mereka lambat menanggapi atau merespon ucapan, gerakan, ataupun sentuhan orang lain.
Changmin kembali menghela nafas. Pemuda itu tampaknya tak peduli dengan ungkapan bahwa tiap kali kau menghela nafas, maka satu kebahagiaan dalam hidupmu akan hilang.
"Kyunnie…" Changmin kini mencoba memanggil Kyuhyun disertai dengan elusan lembut dikepala pemuda manis itu. Tak berapa lama, Kyuhyun pun merespon dengan menatap Changmin, namun tanpa mengucapkan sepatah kata. Changmin pun tersenyum ketika Kyuhyun mulai meresponnya, "Kyu sudah makan belum?"
"…" lama Kyuhyun tak merespon, hingga akhirnya pemuda itu menggeleng. "Belum. Perut Kyu bunyi dari tadi hyung."
Changmin tertawa mendengar jawaban polos dari Kyuhyun. Ia mengacak-acak surai ikal cokelat milik Kyuhyun dengan sayang, "Hahaha… kalau perutmu bunyi, kenapa tidak bangunkan hyung dari tadi?"
Kyuhyun menggeleng lagi. "Kyu anak baik. Kalau Changmin hyung bobo, Kyu ga boleh berisik."
"Arra! Arra!" Changmin pun bangkit dari kursinya lalu kembali ke counter dapur untuk membuat dua mangkuk bubur nasi, melupakan bahwa awalnya ia ingin membuat sereal. Mengingat Kyuhyun termasuk kedalam penderita autisme, maka Changmin harus berhati-hati dan selektif terhadap makanan yang dikonsumsi oleh Kyuhyun.
Keheningan perlahan mulai mengisi ruang makan berukuran mungil itu, karena dua manusia yang berada disana tengah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Hingga suara ketukan di pintu apartemen kecil itu membuat Changmin harus rela meninggalkan aktifitasnya, dan berlari menuju pintu untuk membukanya. Namun betapa terkejutnya Changmin, saat mendapati sosok Donghae yang berdiri di depan pintu apartemennya. Pemuda bertubuh kelewat tinggi itu nyaris menutup pintu apartemennya kembali, namun Donghae berhasil menahannya. "Shim Changmin! Kumohon, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Apa yang ingin kau bicarakan, tuan muda Choi?" kata Changmin dengan nada yang cukup sinis. Tersirat sekali dalam suaranya, rasa tidak suka pada sosok Donghae. "Kalau yang ingin kau bicarakan adalah tentang Kyuhyun, maka aku menolak! Lupakan saja, aku tak akan menyerahkan Kyuhyun padamu dan kakakmu itu, meskipun usia Kyuhyun sekarang sudah mencapai lima belas tahun."
"Aku memang ingin membicarakan tentang Kyuhyun, tetapi aku sama sekali tidak ada niat untuk mengambilnya darimu―"
"Oh, benar sekali! Aku lupa kalau kau tidak akan pernah ada niat untuk memintaku menyerahkan Kyuhyun. Kau dan kakakmu itu, memang sama-sama tidak punya hati. Jadi, mustahil untukmu dan kakakmu itu meminta Kyuhyun kembali kepada kalian." Kalimat-kalimat sinis Changmin cukup membuat kesabaran Donghae habis. Ia pun menatap dua bola mata sehitam onyx milik Changmin dengan intens, "Seandainya alasanku mendatangimu karena aku memang ingin mengambil Kyuhyun, kau sama sekali tidak punya hak untuk menghalangiku. Karena aku ini kakak kandungnya, sedangkan dirimu? Kau tidak lebih dari seorang pelayan dan pengasuh untuk Kyuhyun." Kini sebuah seringai terlihat menghiasi bibir Donghae, "Ingat dimana posisimu itu Shim Changmin."
"Kau!"
"Aku akan menjemput Kyuhyun besok."
Changmin mendelikkan matanya mendengar ucapan Donghae. "Tenang saja Changmin-ah. Besok aku hanya akan mengajaknya jalan-jalan keliling gwangju. Aku tidak mungkin menculiknya dan membawanya kerumah saat monster bernama Leeteuk masih sangat membenci Kyuhyun."
"Apa maksud ucapanmu itu, Choi Donghae?!"
Donghae tersenyum tipis. Bukan sebuah senyum yang menampakkan kebahagiaan, namun lebih kepada memperlihatkan sebuah kesedihan, penyesalan, dan kehampaan. "Aku tak pernah membenci Kyuhyun, Shim Changmin."
"…"
"Aku tak pernah membencinya, sejak ia lahir hingga saat ini. Keadaan yang memaksaku untuk menjadi seperti ini. Jika kau tahu bagaimana kehidupanku dan kakakku setelah kematian orang tua kami, kau pasti akan mengerti."
"Tapi perlakuan kalian pada Kyuhyun dulu, tetap saja salah!" Changmin menatap Donghae dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau tidak bisa membuang saudaramu begitu saja, bahkan menganggapnya tidak pernah terlahir kedunia ini. Bisa kau bayangkan rasanya menjadi Kyuhyun?"
"…"
"Bagaimana perasaanmu jika kau menjadi Kyuhyun, Choi Donghae?! Kau dibuang saat kau sendiri tak bisa melakukan apa-apa, demi tuhan, Kyuhyun dibuang oleh kakakmu saat ia baru berumur tiga bulan! Manusia macam apa kalian?!"
Amarah tampak begitu jelas di kedua mata milik Changmin. "Dan tiba-tiba kau datang, lalu mengakui bahwa sebenarnya kau tidak pernah membenci Kyuhyun? Apa kau pikir aku akan percaya?"
"Aku tidak memintamu untuk percaya, Shim Changmin. Tapi setidaknya, izinkan aku untuk membuktikan padamu bahwa aku juga menyayangi Kyuhyun." Changmin menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menolak ucapan Donghae. Namun Donghae tidak peduli, ia ingin membuktikan kesungguhannya pada Changmin. Setelah beberapa kali bertemu dengan Kyuhyun secara tidak sengaja, sampai berusaha memahami bagaimana kehidupan Kyuhyun―meskipun hanya dalam waktu singkat―, Donghae benar-benar ingin mencoba menyayangi Kyuhyun layaknya seorang kakak yang menyayangi adiknya. Setidaknya, ia ingin mencoba untuk mengenal Kyuhyun terlebih dulu. "Aku mohon, Shim Changmin. Aku tidak ingin berubah seperti Leeteuk-hyung yang semakin hari hatinya semakin keras dan dingin. Aku tidak ingin keadaan kembali memaksaku untuk berubah."
"…"
Donghae akhirnya bersimpuh dihadapan Changmin. Pemuda yang terkenal dengan arogansi-nya yang tinggi, kini tampak merendahkan dirinya hanya untuk meminta belas kasih seorang pemuda, yang tak lain adalah anak dari mendiang kepala pelayan keluarganya dulu. "Biarkan aku menebus semua kesalahanku pada Kyuhyun, Shim Changmin. Biarkan Kyuhyun meraskan kasih sayangku, sebagai seorang kakak. Bukan sebagai orang asing yang kebetulan bertemu dengannya. Kumohon…"
Dan dengan satu kalimat permohonan disertai dengan tetesan air mata dari Donghae, hati Changmin yang sedari tadi diliputi oleh amarah, kini mulai luluh. Dengan perlahan, pemuda bertubuh tinggi itu menganggukkan kepalanya pada Donghae. Memberi tanda bahwa ia mengizinkan pemuda bermarga Choi itu untuk masuk kedalam kehidupan seseorang yang paling ia sayangi, Choi Kyuhyun.
XOXOX
"Baiklah, tugasmu hari ini sudah selesai. Kirimkan data-datamu lagi besok." Leeteuk menutup sebuah map berwarna biru tua di depannya dengan wajah tanpa ekspresi. Pria itu memang sudah terbiasa hidup tanpa senyuman, tawa, bahkan kebahagiaan. Yang ada di dalam kehidupannya kesepian, kehampaan, ketakutan, dan luka. Hidupnya sudah terlalu monoton, bahkan tak berwarna. Hatinya pun semakin hari semakin dingin, karena tak pernah ada kehangatan yang berhasil menyusup kedalamnya.
Kangin, menatap bosnya itu dengan tatapan penuh prihatin. Terkadang ada rasa sakit yang dirasakan oleh Kangin setiap kali ia menatap kedalam bola mata tajam namun hampa milik Leeteuk. Kangin sangat mengenal tatapan seperti itu, karena dulu, tatapan itu juga pernah ia miliki. Tatapan saat dirinya terpaksa menyerahkan kakaknya―yang seorang penyandang tunarungu― kepada panti sosial.
Jika saja saat itu Kangin memiliki dua pilihan, ia akan lebih memilih merawat kakaknya dengan tangannya sendiri. Namun apa daya, terlahir sebagai yatim piatu dan dibesarkan dalam lingkungan panti asuhan yang begitu kejam, membuat Kangin memutuskan untuk kabur dari panti asuhan yang selama delapan belas tahun merawatnya―meski dengan kekerasan― bersama sang kakak, Kim Jongwoon. Kangin pikir dengan kabur dari panti asuhan akan merubah hidupnya dan Jongwoon, namun dugaannya salah. Hidup sebagai tunawisma dengan seorang penyandang tunarungu, membuat emosi Kangin yang masih labil pun bergolak. Dengan tega, ia menyerahkan―atau lebih tepatnya membuang― Jongwoon kesebuah panti sosial. Saat itu ia menganggap Jongwoon sebagai sebuah beban. Ia hanya ingin bebas, ingin bisa bekerja, namun dengan Jongwoon disisinya, ia tidak akan bisa mencapai semua itu. Dan keputusannya hanya satu, ia harus membuang kakaknya yang penyandang tuna rungu itu ke panti sosial.
"Kangin!" suara keras Leeteuk membuat Kangin terlonjak. "Y…ya? Ada apa sajangnim?"
Leeteuk berdecih, "Sejak tadi aku berkata ini dan itu ternyata kau malah asyik dengan pikiranmu sendiri? Betapa sopannya dirimu ini."
"Maaf sajangnim, saya tidak bermaksud untuk melamun tadi. Namun saya tidak bisa menahan pikiran saya yang melayang kesebuah masa lalu yang suram, saat saya sorot mata anda yang penuh kehampaan."
"Apa maksudmu, hah?! Tidak usah bertele-tele denganku."
"Lupakan saja, sajangnim. Lagipula saya yakin sajangnim tidak akan tertarik dengan apa yang akan saya ucapkan nanti." Leeteuk menggeram kesal mendengar jawaban Kangin. Ia ingin sekali melempar wajah pemuda bertubuh tinggi tegap itu dengan vas bunga terdekat, namun sayang, ia tak bisa menemukan vas bunga diruang kerjanya, mengingat ia sangat membenci bunga. "Keluar dari ruanganku!" usir Leeteuk.
Sebuah seringai muncul diwajah Kangin saat ia mendengar Leeteuk mengusirnya. Pemuda tegap itu pun membungkuk pada Leeteuk sebelum ia pergi dari ruang kerja yang terlihat mewah itu.
'Kau benar-benar pribadi yang menarik, Choi Leeteuk. Kita lihat saja, seberapa keras dinding es yang menyelimuti hatimu itu? Aku bersumpah akan menaklukan hatimu, meskipun itu akan memakan waktu selamanya. Aku hanya tidak ingin kau menjadi seperti diriku, di masa lalu.'
'Aku membenci orang sepertimu, Kim Youngwoon! Aku membencimu karena…. Kau dapat memahami dan mengerti perasaanku.'
T.B.C
Hurraaaaay!
Akhirnya fanfic ini saya lanjutin!
*cipok Jomi (baca: Zhoumi)*
Maaf ya, butuh berabad-abad buat kalian untuk tau lanjutan fanfic ini.
Masih adakah yang mau baca fanfic super abal dan super lelet milikku?
Ga ada?
Yah, pundung deh saya.
Well, disini saya mau kasih penjelasan buat beberapa reviewers yang kayaknya masih bingung sama beberapa scene ataupun story-line di fanfic ini.
Pertama, ada yang nanya: "sebenernya Changmin itu umurnya sama kan kayak Kyuhyun? Kok dia ga sekolah? Dia kerja ya? Apa gimana?"
- udah dijelasan di chapter ini ya kalo Changmin itu putus sekolah. Jadi semenjak orang tuanya meninggal, Changmin langsung berperan sebagai orang tua sekaligus kakak buat Kyuhyun. Makanya dia ga sekolah dan lebih milih kerja.
Kedua, ada yang nanya: "ChangKyu tinggalnya Cuma berdua? Lah, ortu-nya Changmin kemana tuh?"
- sudah saya jawab. Ortu Changmin itu udah meninggal pas ChangKyu umurnya sebelas tahun. Karena ngerawat dan Menuhin kebutuhan penderita autis (Kyuhyun) itu susah bin sulit binti repot buat anak umur sebelas tahun, makanya saya selipin *halah* Sungmin sebagai malaikat penolong sekaligus malaikat pelindungnya ChangKyu
Ketiga, ada yang nanya: "Itu Donghae masih abu-abu deh. Dia sebenernya benci atau ngga sih sama Kyu?"
- disini sudah terjawab. Dongek itu sebenernya ga pernah benci sama Kyu. Dongek yang tipenya saya jadiin macem ABG labil, Cuma bisa ngikutin arus hidupnya yang mau ga mau terbawa sama doktrin dan perkataan Leeteuk. Jadi selama ini dia sendiri juga ga ngerti kenapa harus benci sama Kyu, padahal sebenernya dia ga benci. Kenapa harus ngelupain Kyu, dll. Dan di chapter ini udah ketauan kalo Dongek itu sayang sama Kyu.
Keempat, ada yang nanya: "Kangin pernah ngebuang kakaknya? Wah, siapa tuh kakaknya? Yesung ya?"
- DING DONG! ANDA BENAR! Yang pernah ngebuang kakaknya yang penyandang cacat (tunarungu: alias tuli. Dan gara2 dia tuli, dia ga bisa berkomunikasi dengan baik sama orang, sampai2 bisa dianggap sebagai orang bodoh). Dan ketebak juga siapa yang jadi kakaknya Kangin dan apa alasan Kangin ngebuang abang Ncung. Hohoho
OKEH SISTAH!
Semua sudah saya beberin.
Jadi, saya sudah lelah…
*tewas dipelukan Changmin*OHOK*
MIND TO LEAVE ME SOME REVIEW?
But, PLEASE BE POLITE!
