"Jadi ini wujudmu?"
Monster serigala itu bicara sambil melangkah ke arah Otoya. Pemuda itu tidak bisa lagi menghindari sosok monster yang mendekatinya. Ia hanya berharap kalau monster itu tidak berbuat hal yang mengerikan padanya, walau hal itu amat mustahil terjadi.
Monster itu meraih lengan Otoya untuk memaksanya berdiri. Walau kedua kakinya masih lemas, Otoya mencoba menopang tubuhnya agar tidak terjatuh. Ia menatap monster yang mencengkram tangannya. Monster itu pasti akan membunuhnya.
Di luar dugaan, sang monster justru menarik tali yang mengikat kedua tangan Otoya, melepaskannya begitu saja seperti seseorang yang tengah menarik benang. Otoya tertegun melihat sang monster justru melepaskannya.
"Kubilang peran utamanya adalah kau!" Monster itu berujar sambil menatap sosok monster serigala lain.
Inoran mendorong Otoya, membiarkan Otoya menghadapi lebih dekat wujud monster dari Sugizo. Sugizo tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya memperhatikan Otoya. Pemuda itu sepertinya masih ketakutan menghadapi wujud monsternya.
"Percaya atau tidak. Dia yang selama ini tinggal bersamamu ternyata memiliki wujud mengerikan seperti ini," Monster serigala di belakang Otoya mencoba memprovokasinya. Otoya menoleh sedikit, melihat sang monster tengah melipat tangannya.
"Bahkan, kau lihat sendiri bukan, ia yang memangsa manusia,"
Otoya kembali menatap Sugizo dalam wujud monster. Sedikit banyak, ia mulai bisa menghadapi wujud mengerikan yang ada di hadapannya. Sugizo tidak berkata apapun untuk membantah perkataan Inoran. Sang monster di hadapannya hanya diam membisu. Sebuah sorot mata kelam terlukis di tengah wajah mengerikannya. Otoya bisa merasakannya. Ia yakin itu semua dilakukan Sugizo hanya untuk menyelamatkannya. Namun, Otoya tetap belum bisa menerima hal itu. Mata Otoya seolah terbuka melihat semua yang terjadi barusan. Ia seperti menyadari kalau ia tengah menganggap remeh sebuah kenyataan. Ia tinggal bersama monster pemangsa manusia. Mungkin saat ini sang monster menyelamatkan hidupnya. Lalu bagaimana suatu hari nanti? Monster itu pasti akan memangsanya.
Kepala Otoya terasa pusing. Gejolak emosi yang saling bertentangan dalam hatinya seperti mencekiknya. Nafas Otoya mulai memburu. Berulang kali ia menggelengkan kepalanya, menolak semua kenyataan yang harus ia terima.
"Cukup…" Ungkap Otoya, berbisik dengan nada menusuk. "Aku…. Aku…" Ia berbisik dengan bibir bergetar, memberanikan diri menatap mata Sugizo yang berwujud monster itu.
"Aku tidak ingin ikut campur lagi…" Sebaris kalimat itu mungkin bisa menjadi ungkapan yang tepat bagi Otoya untuk melukiskan perasaannya. "Sekarang ini pertarungan kalian, bukan? Aku tidak ingin ikut campur lagi…."
Otoya mundur perlahan. Ia berbalik dan hendak lari. Namun, monster serigala ungu itu mencegatnya. Ia mencengkram dagu Otoya, memaksa pemuda yang tengah kalut itu untuk menatap matanya.
"Permainan belum selesai. Kau mau lari?" Otoya terdiam dengan bibir bergetar. Matanya berkaca-kaca.
"Kumohon… lepaskan aku…." Otoya memelas. Ia hampir menangis. "Jangan libatkan aku lagi…"
Monster serigala itu tertawa lepas. Ia mengangkat tubuh Otoya tinggi-tinggi. Otoya berteriak ketakutan. Monster serigala itu menunjukkan sang korban yang akan ia eksekusi pada wujud monster Sugizo. Ia ingin tahu apa reaksi Sugizo melihat sosok yang sudah mengkhianatinya itu kini berada dalam bahaya.
"Lihat. Kau mau membunuhnya? Atau aku yang membunuhnya?" Inoran mengempaskan sosok Otoya, membiarkan tubuh pemuda itu kembali bermandikan debu. Otoya tersungkur, menatap dua monster yang tengah menghadapinya. wajahnya nampak ketakutan.
"Kau jangan mempermainkanku," Sugizo berucap. Ia menunjukkan kuku panjangnya pada Otoya. Nafas Otoya tercekat. Ia memejamkan matanya sambil berteriak-teriak.
Otoya tidak merasakan sesuatu yang menikamnya. Hanya ada semilir angin dan keheningan yang menyeruak. Ia memberanikan diri untuk membuka matanya. Pemuda itu melirik ke atas, melihat arah tangan monster Sugizo terhunus pada sosok monster serigala ungu. Lawannya itu berusaha menahan serangan Sugizo.
Otoya tercenung. Ia menatap mata Sugizo. Sugizo balas menatap pemuda lugu itu sejenak.
"Larilah,"
Otoya terdiam. Tubuhnya terlalu bergetar untuk lari.
"Larilah! Bukan saatnya kau ketakutan!" ia mendorong serigala lawannya agar menjauh dari Otoya. Dengan nafas yang memburu karena ketakutan, Otoya berdiri. Ia melawan rasa takutnya lalu lari sejauh mungkin.
"Aku akan membunuhmu sesudah ini! jadi larilah sejauh mungkin!" Ia mendengar seruan ancaman sang monster serigala ungu itu. Otoya menoleh sebentar, lalu mempercepat larinya untuk menemukan persembunyian yang aman sementara ini.
*
Suara derap langkah terseok-seok diselingi oleh engahan nafas menciptakan ritme tersendiri dalam pelariannya malam itu. Suasana sekitar tempatya disandera ternyata merupakan daerah yang amat terpecil sehingga seberapa jauh ia berlari, ia tetap tak bisa menemukan seorangpun. Saat ini, tenaganya sudah terkuras habis. Langkah yang diciptakan juga semakin memelan. Tak butuh waktu lama, Otoya terjembab jatuh begitu saja di jalanan. Nafasnya masih terengah-engah. ia tersungkur di sana, berusaha mengistirahatkan tubuhnya sekaligus menenangkan dirinya. Saat ini banyak hal yang sudah ia saksikan. Hal yang amat mengerikan sehingga ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Otoya terlentang di jalanan yang sepi. Sekitarnya hanya ada padang semak belukar yang gelap. Dendang jangkrik menjadi satu-satunya melodi pengiring dalam merelaksasikan pikiraannya. Nafas Otoya kini mulai kembali teratur. Ia merentangkan kedua tangannya sambil menatap sang bulan. Seolah terhipnotis, kedua mata Otoya tetap terpaku pada benda bulat terang itu. Matanya sedikit sayu. Ingatannya mulai kembali pada peristiwa tiga tahun lalu ketika ia masih berusia enam belas tahun. Ada sebuah kejadian yang akan tetap ia ingat. Kejadian menyakitkan yang membuatnya merasa menjadi orang yang tidak berguna.
Nafas Otoya terembus pelan saat ia memutar kejadian itu dalam ingatannya.
*
Malam itu ia kembali menginap di rumah neneknya. Otoya yang tengah tertidur lelap di kamar tamu langsung terbangun ketika mendengar suara berisik yang bersumber dari lantai bawah. Otoya tercenung mendengar suara itu. Dalam sekejap ketakutannya muncul. Ia mendengar suara-suara ancaman disertai dengan pecahan beberapa barang. Ada suara memelas neneknya di sela-sela suara ancaman itu. Sesuatu yang buruk pasti tengah terjadi saat ini.
Otoya langsung mengendap-endap keluar dari kamarnya. Ia melangkah amat pelan, sesekali bersembunyi saat mencapai tangga. Ia melongok ke bawah dengan hati-hati, menemukan beberapa orang berpakaian turtle neck hitam dengan topeng yang menutupi wajahnya tengah meringkus neneknya di ruang tamu. Mereka semua berbadan kekar dan memegang senjata tajam.
"Apa yang kau punya di sini?"
"Ambil saja tuan. Di dalam kamarku di sana…" Tangan renta sang nenek menunjuk ke kamarnya di sisi lain. Otoya tecenung. Sepertinya sang nenek sengaja menghindari arah tangga.
Seorang perampok melangkah ke arah yang nenek itu tunjukkan. Perampok lainnya menodongkan pistol pada makhluk tua renta itu. otoya masih tidak bisa bergerak dari persembunyiannya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia ingin menyelamatkan neneknya, namun pastinya amat mustahil menghadapi tiga orang perampok bersenjata tajam. Ia ingin lari mencari bantuan, namun satu-satunya pintu keluar berada di lantai dasar.
Sang perampok kembali dengan membawa beberapa barang berharga di tangannya. ia mengempaskan barang-barang itu di hadapan sang nenek.
"Hanya ini yang kau punya? Rumahmu besar, pasti kau punya banyak harta lainnya,"
"Hanya itu tuan-tuan," Suara serak sang nenek memelas. "Aku hanya seorang tua yang tinggal sendirian. Aku tidak memiliki banyak harta,"
"Pembohong," Perampok yang menodongkan pistol semakin menenggelamkan mulut pistol itu pada leher sang nenek. Nenek itu menangis karena ketakutan.
"Kita cari di lantai atas," perampok itu menunjuk ke lantai atas. Sang nenek langsung terkesiap.
"Di sana tidak ada apapun. Hanya gudang rongsokan," Nenek itu mencoba mengurungkan niat sang perampok. Namun sang perampok menendang tubuh renta itu.
"Jangan berbohong, wanita tua! Kau bisa kami bunuh dengan mudah,"
"Kumohon. Di sana tak ada apapun," Wanita tua semakin memelas, memegang salah satu kaki perampok itu.
"Kau pasti berbohong. Kalau cuma barang rongsokan kau tak akan menahan kami seperti ini,"
"Kumohon,"
Perampok itu kembali menendang tubuh sang nenek. Air mata Otoya mulai mengalir deras menyaksikan sosok yang amat ia sayangi itu disiksa oleh sang perampok. Ditambah lagi, mereka semua akan mendatangi tempat persembunyiannya. Apa yang harus ia lakukan?
Otoya mulai beranjak dari tempat persembunyiannya. Ia mendorong tubuh perampok itu untuk melawan mereka. Ia memang tak tahu apa yang harus ia lakukan sehingga mungkin tindakannya itu bisa dibilang sangat beresiko.
"Otoya!" Sang nenek berteriak melihat sang cucu yang berjuang melawan perampok itu.
"Bocah!" Salah seorang perampok dengan mudah meringkus Otoya. Otoya masih terus melawan, namun tenaganya tak sebanding dengan pria bertubuh tegap itu. Dengan satu pukulan, Otoya seketika langsung tejatuh.
"Otoya…" Neneknya memanggil lemah. Ia ingin menggapai Otoya, namun perampok itu keburu menarik tubuh kecil Otoya lalu menodongkan pistol ke kepalanya.
"Cucumu ini berani melawan," Ucap perampok itu.
"Kumohon, jangan sakiti dia. Ambil saja semua barang yang kalian inginkan lalu pergilah,"Ujar sang nenek.
"Permainan belum selesai. Kalian sudah berurusan dengan kami. Jangan harap bisa selamat," Sang perampok memberikan ancaman.
"Lepaskan aku!" Otoya berteriak dalam cengkraman lengan sang perampok. Ia meronta-ronta untuk melepaskan dirinya.
"Kalau kau bergerak, kau akan mati bocah,"
"Lepas!" Otoya tetap bersikeras melepaskan dirinya. Sang perampok yang mulai gusar langsung menarik pelatuk pistol, namun sang nenek dengan cepat mendorong kuat perampok itu. Otoya tidak tahu apa yang terjadi, namun ia berhasil melepaskan dirinya.
Kini ia melihat neneknya yang tertawan oleh para perampok itu. Otoya semakin ketakutan. Kecerobohannya kini membuat semuanya semakin sulit.
"Pergilah Otoya, larilah!" Sang nenek berbisik di tengah mulut pistol yang sudah mengarah padanya.
Otoya menggeleng cepat untuk memungkiri kenyataan yang ada di hadapannya.
"Cepat lari. Selamatkan dirimu! Otoya!" sang nenek berteriak. Dua orang perampok berusaha menangkap Otoya, namun Otoya bisa dengan cepat menggapai pintu keluar dan meloloskan dirinya.
Baru beberapa langkah ia berlari, Otoya terkejut mendengar suara dentuman yang terdegar dari dalam rumahnya. Air mata Otoya meleleh deras membasahi pipinya. Nafasnya sesak. Hatinya hancur. Di tengah kekalutan, ia terus berlari menembus pekatnya malam. Beruntung saat itu ada sekelompok orang yang melintas. Dengan segera, Otoya langsung meminta bantuan pada mereka.
Dalam sekejap, bantuan pun datang. Polisi serta orang-orang sekitar mendatangi tempat kejadian. Para perampok sudah melarikan diri. Otoya hanya melihat dari kejauhan rumah neneknya yang dibatasi garis kuning polisi. Ia tak berani melangkah lebih mendekat, hanya melihat dari kejauhan para petugas medis yang membopong sesosok tubuh yang sudah tertutup kain putih. Air mata Otoya meleleh deras. Ia menangis sesengukan, terlebih saat melihat tangan penuh keriput yang terkulai menyembul dari kain putih itu.
"Oba-chan…" Otoya menggumam dalam tangisnya. Beberapa tetangga mencoba menghibur Otoya dengan mendekap tubuh pemuda itu.
"Bersabarlah nak. Bersyukur karena kau masih bisa selamat dari kejadian ini," Ujar seorang ibu menghiburnya. Otoya menggeleng pelan. Ia masih sesengukan. Ia tak berani mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya saat itu. ia merasa sangat menyesal.
Semua salahku. Salahku.
*
Kesadaran Otoya kembali. Bola matanya kini merefeksikan bayangan sang bulan. Otoya bangun. Ia tercenung. Ingatan itu telah membuka pikirannya. Mata Otoya yang menerawang langsung melihat ke jalanan yang sudah ia lalui. Sesuatu menariknya untuk kembali. Ia punya firasat kalau Sugizo tengah berada dalam bahaya. Monster serigala ungu itu amat kuat. Pasti Sugizo kesulitan melawannya.
Otoya berdiri. Ia melangkah gontai untuk kembali ke arena pertarungan dua monster itu. Ia harus membantu Sugizo walau itu amat mustahil untuk ia lakukan. Kalaupun ia mati, ia tak akan merasa menyesal.
"Sugizo-san. Tunggu aku…" Otoya berbisik. Langkahnya yang gontai kini mulai mantap. Ia pun berlari menembus kabut malam untuk menyelamatkan rekannya itu.
*
