From The Darkness Side
Original Story by Santhy Agatha
Disclaimer :
Saya hanya me-remake novel ini dengan cast favorit saya;yoonmin (BTS). Sebagian kecil dari cerita ini saya rubah demi terciptanya feel yang tepat.
Caution!
Novel/tulisan ini merupakan rated dewasa (M), jadi diharapkan bagi yang belum mencukupi batas umur minimal dilarang membaca.
Genderswitch for Jimin and Jin. Jadi mohon maaf apabila cast tidak sesuai dengan keinginan kalian.
BTS YOONMIN (Yoongi x Jimin )
Min Yoongi
Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai.
"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain."
-Min Suga-
.
.
.
.
.
.
.
BAB 9
Pagi harinya Suga mendengarkan pesan itu, yang diantarkan langsung oleh Kai, orang kepercayaannya yang sangat setia kepadanya. Kai bertubuh ramping dan pucat, tetapi lelaki itu memiliki keahlian membunuh yang sangat hebat. Suga pernah menyelamatkan nyawanya dalam satu insiden dan lelaki itu mengabdikan kesetiaannya kepada Suga. Kepada Suga, bukan kepada Yoongi. Kalaupun dia melaksanakan perintah Yoongi, itukarena dia tahu Suga ada di dalam diri Yoongi. Kai adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa Min Yoongi memiliki kepribadian ganda.
"Apakah kau sudah tahu di mana wartawan bodoh bernama Taehyung itu tinggal?"
"Saya sudah tahu."
"Bagus. Kau dapat nomor kontaknya?"
Kai mengangguk dan tanpa kata meletakkan sebuah kertas bertuliskan nomor ke meja Suga,
Suga menelepon nomor itu. Suara Taehyung terdengar ragu menjawab di telepon itu.
"Ya?"
"Ini Min Yoongi." Suara Suga dingin dan tenang. "Katakan penawaranmu."
"Sebentar saya keluar dulu." Taehyung tampak keluar dengan hati-hati, membuat Suga langsung tahu, Jimin ada di situ, bersamanya. Senyumnya langsung mengembang.
"Aku menerima tawaranmu untuk wawancara ekslusif itu. Info apa yang kau punya tentang Jimin?"
Taehyung begitu senang hingga tidak menyadari nada kejam dari suara Suga, "Baiklah. Jam berapa saya harus siap ke rumah anda? Oke." Dia mencatat dalam hatinya, besok jam sembilan pagi di rumah Min Yoongi. Dia akan mewawancari lelaki itu secara ekslusif. Dan malam ini dia punya kesempatan mewawancari Jimin. Betapa beruntungnya dirinya.
"Saya tahu di mana Jimin berada."
"Di mana?"
"Maaf tidak bisa saya katakan. Saya harus mewawancarai anda dulu, setelah saya mendapatkan berita baru saya beritahukan informasi itu."
"Dan bagaimana aku tahu kau tidak membohongiku?"
Suara lelaki ini, meskipun lewat telepon begitu mengintimidasi. Pantas Hoseok tampak ketakutan kepadanya, Taehyung mengerutkan keningnya, "Hoseok..." gumamnya, "Anda mengenal kepala pelayan anda kan? Jadi anda tahu saya tidak berbohong."
Hening yang lama dan menyeramkan. Lalu Suga bersuara.
"Besok jam sembilan." Dan teleponpun ditutup.
Suga masih merenung dalam senyuman sinis sambil menatap telepon itu ketika Kai bertanya,
"Anda akan menerima permintaan wawancara itu?"
Suga mengangkat matanya dan menatap Kai, tatapan membunuh ada di sana, meskipun bibirnya tersenyum, "Tentu saja tidak. Lelaki bernama Taehyung itu bertindak bodoh dengan mengira bisa mempermainkanku. Dia tidak akan hidup sampai besok jam sembilan untuk mewawancaraiku." Suga terkekeh, "Malam ini kita akan memberikan kunjungan kejutan untuknya".
"Kita tidak jadi pergi?" Jimin mengerutkan keningnya. Dia sudah bersiap untuk pergi menemui teman lelaki bernama Taehyung ini yang katanya akan membantunya melarikan diri ke luar negeri.
"Temanku sedang ada urusan ke luar kota, jadi kita harus menunggu besok untuk menemuinya." Mereka sedang sarapan kopi dan mie instant, karena hanya itu yang dipunyai Taehyung di lemari dapurnya.
Jimin gelisah. Itu berarti dia akan tertahan di tempat ini satu hari lagi. Firasatnya mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk. Semoga saja Suga tidak dapat melacak mereka. Tetapi Hoseok pasti sudah mengusahakan yang paling aman untuknya bukan? Suga pasti tidak akan bisa menghubungkan dirinya dengan Taehyung.
"Ngomong-ngomong, aku seorang wartwan."
Jimin hampir tersedak kopinya ketika Taehyung mengatakan hal itu, "Apa?" Dari semua orang di dunia ini, kenapa Hoseok meminta tolong kepada seorang wartawan.
"Hei jangan memandangku seperti itu. Tidak semua wartawan jahat. Aku contohnya. Aku punya koneksi yang luas dan aku bisa membantumu." Meskipun Hoseok harus menyogokku dengan berita eksklusif tentang ayah kandungmu dan segepok uang, lanjut Taehyung dalam hati.
Jimin termangu. Hoseok pasti memilih Taehyung karena lelaki ini punya banyak koneksi. Dan mengingat Suga dan Yoongi sangat menghindari wartawan, mereka pasti tidak akan berpikiran bahwa Hoseok akan meminta tolong kepada seorang wartawan untuk membantu Jimin melarikan diri. Hoseok memang cerdik, batin Jimin dalam hati.
"Lagipula kenapa kau lari dari Min Yoongi?" Taehyung menatapnya dengan menyelidik, "Biarpun dia kedengarannya arogan, dia pria yang kaya dan tampan. Kalau aku jadi perempuan aku tidak akan menolaknya."
Jimin diam saja, tidak terpancing dengan pertanyaan Taehyung. Lelaki itu tidak tahu, betapa mengerikannya sisi lain Min Yoongi. Betapa mengerikannya seorang Suga. Kalau lelaki itu tahu, dia pasti tidak akan sesantai ini.
Taehyung menatap Jimin yang mengabaikan pertanyaan-pertanyaannya. Gadis ini langsung bersikap defensif ketika Taehyung menyatakan bahwa dirinya seorang wartawan. Dia menyesal mengatakannya, seharusnya tadi dia diam saja dan berpura-pura menjadi teman baik, mungkin dia bisa mengorek lebih banyak informasi.
"Bagaimana rasanya menjadi anak seorang artis terkenal yang disembunyikan? Apakah kau merasa tersiksa dan ingin berteriak agar diakui? Kenapa kau bersembunyi selama ini?" Taehyung tidak mau menyerah. Besok mungkin gadis ini sudah diambil oleh Min Yoongi, dia harus mendapatkan informasi sebanyak yang dia bisa.
Tetapi Jimin hanya menatapnya tajam dari atas cangkir kopinya. Kemudian meletakkan cangkirnya dan menatap Taehyung bermusuhan,
"Aku rasa aku sudah selesai sarapan. Terima kasih. Aku lelah, mungkin aku akan beristirahat seharian di kamar." Dan kemudian gadis itu melangkah pergi dan memasuki kamarnya.
Sialan. Taehyung mengumpat dalam hatinya. Sepertinya susah mengorek informasi secara
sukarela dari Jimin. Taehyung hanya bergantung pada Min Yoongi kalau begini caranya.
Jimin baru membuka amplop cokelat yang diletakkan Hoseok ke dalam tangannya. Isinya uang dalam bentuk dolar, dan banyak sekali. Dia tidak mau menghitungnya, jadi dimasukkannya uang itu kembali ke dalam amplop dan dijejalkannya ke dalam tas pakaiannya.
Hoseok sudah menyiapkan uang itu sejak lama. Uang investasi katanya. Berarti Yoongi sudah menyiapkan rencana ini sejak lama.
Yoongi... Jimin tidak bisa menahan diri untuk menyebut nama Yoongi berulang-ulang di benaknya. Apa kabarnya dia? Apakah dia baik-baik saja? Ataukah dia terkubur dalam-dalam, ditidurkan dengan paksa oleh Suga?
Dia masih mengingat jelas percintaannya dengan lelaki itu. Yoongi begitu lembut, memperlakukannya penuh kasih sayang. Dari semua hal yang dilakukannya, Jimin tidak pernah menyesal menyerahkan keperawanannya kepada Yoongi. Meskipun percintaan berikutnya... Jimin menghela napas, berusaha menghilangkan kenangan akan percintaan liar dan brutal yang dilakukan oleh Suga kepadanya.
Tidak. Dia tidak boleh memikirkan Yoongi lagi. Dia tidak bisa mencintai Yoongi, karena mencintai Yoongi berarti harus bisa menerima Suga. Jimin tidak bisa, dia takut dan benci. Takut atas semua kekejaman yang tega dilakukan oleh lelaki itu. Dan benci atas kejahatan lelaki itu, yang merenggut semua keluarganya dari sisinya.
Malam sudah datang dan Taehyung mengintip dengan hati-hati di pintu kamar tidur Jimin, perempuan itu sedang tidur lelap. Taehyung menelan ludahnya. Dia harus mendapatkan informasi sebelum besok pagi.
Taehyung melihat bahwa malam itu Jimin membawa tas dan menggenggam erat-erat sebuah amplop cokelat. Dia harus bisa mengorek tas itu, mungkin saja ada informasi rahasia di dalamnya.
Setelah mengintip lama, Taehyung yakin bahwa Jimin sudah benar-benar tertidur pulas. Dia membuka pintu kamar Jimin pelan-pelan dan mengendap-endap melangkah masuk ke dalam kamar Jimin. Gadis itu sedang tidur dan miring membelakanginya sehingga Taehyung mulai leluasa bergerak.
Dia melihat tas itu. Tas cokelat berukuran sedang yang diletakkan di atas kursi di samping ranjang. Dengan hati-hati diambilnya tas itu dan diangkatnya ke atas meja. Dibukanya resleting tas itu pelan, berusaha tidak menimbulkan suara.
Isi tas itu terbuka. Menampakkan pakaian-pakaian perempuan yang tidak seberapa jumlahnya. Dan ada amplop cokelat yang terselip di sana.
Uang atau dokumen..?
Dengan ingin tahu Taehyung mengambil amplop itu dan membukanya. Isinya uang. Dalam bentuk dolar. Pelayan itu ternyata kaya juga. Taehyung tergoda untuk memilikinya. Dia kemudian memutuskan untuk mengambil uang itu. Toh Jimin tidak akan membutuhkannya lagi. Besok Min Yoongi mungkin akan menjemputnya dan membawanya pergi, dan Taehyung yakin Min Yoongi bisa memberi Jimin lebih banyak uang daripada yang di amplop ini.
Dia berusaha memasukkan amplop itu ke dalam saku belakang celana jeansnya karena dia masih ingin membuka-buka isi tas Jimin, siapa tahu ada dokumen-dokumen penting tersembunyi di sana. Tetapi karena terburu-buru, amplop itu meleset dan jatuh ke lantai, menimbulkan bunyi jatuh yang cukup mengganggu.
Jimin membuka matanya waspada ketika mendengar bunyi itu. Sejak tahu bahwa Suga mengejarnya, Jimin membiasakan diri untuk selalu waspada, malam ini dia tertidur pulas mungkin karena kelelahan lahir dan batin. Tetapi suara berisik benda jatuh di lantai itu membuatnya terbangun.
Matanya terbuka dan dia langsung terduduk kaget, menangkap basah Taehyung yang sedang mengaduk isi tasnya dengan amplop uangnya terjatuh di lantai.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Jimin berteriak panik karena ketakutan. Dia hanya berdua di rumah ini bersama Taehyung dan dengan bodohnya dia mempercayai lelaki ini, karena Hoseok mengatakan lelaki ini akan menolongnya. Seharusnya dia curiga. Taehyung seorang wartawan dan semua wartawan selalu mempunyai maksud di balik tindakannya.
Taehyung sendiri panik karena ketahuan, dia menyergap Jimin dan membekap mulutnya.
"Jangan berteriak." Suara Taehyung terdengar mengancam, "Aku cuma berusaha mencari informasi tentangmu, karena kau sangat pelit membagi informasi." Mata Taehyung menelusuri tubuh indah di bawah tindihannya. Dia baru menyadari bahwa Jimin sangat cantik. Dengan
matanya yang lebar bagai rusa dan kulitnya yang.lembut menyentuh kulitnya. Bahkan tubuh di bawah tindihannya ini terasa begitu menggairahkan.
Taehyung lelaki normal, dan berada di kamar yang temaram, dengan seorang perempuan yang cantik dan sexy tentu saja membangkitkan gairahnya. Aku akan mencoba gadis ini. Toh tidak ada ruginya, gadis ini akan menjadi gundik Min Yoongi, dan Taehyung akan rugi kalau tidak mencicipinya.
Jimin melihat di mata itu. Mata lelaki yang mulai dirayapi oleh nafsu, dia meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri. Tangannya mencoba mencakar, kakinya mendendang sekuat yang dia mampu. Tetapi dia hanyalah perempuan mungil di bawah kuasa lelaki bertubuh besar. Jimin hanya melukai dirinya sendiri, ketika Taehyung menggunakan kekuatannya untuk menahannya. Kaki dan tangannya serta beberapa bagian tubuhnya mulai memar-memar.
Dengan penuh nafsu Taehyung merobek gaun tidur Jimin di bagian dada, robekannya begitu kasar hingga tanpa sadar tangannya mencakar pundak Jimin, menimbulkan bilur kemerahan yang perih. Jimin melindungi dadanya sekuat tenaga, dia memeluk dadanya agar tidak terlihat oleh Taehyung sementara salah satu tangan Taehyung membekap mulutnya dan tangan yang lain dengan kasar mencengkeram tangannya berusaha menyingkirkan tangan Jimin yang melindungi dadanya.
Paha Taehyung mencoba membuka paha Jimin yang tertutup rapat, napas keduanya terengah-engah atas pergulatan itu. Dalam suatu kesempatan, Jimin menggigit tangan Taehyung yang sedang membekap mulutnya, membuat Taehyung marah, lalu menamparnya keras-keras hingga darah mengalir di sudut mulutnya.
"Diam dasar pelacur! Aku tahu kau sudah menjadi pelacur Min Yoongi, dan sekarang aku akan mencicipi tubuh pelacurmu yang menggiurkan." Taehyung berseru sambil menahan kedua tangan Jimin, lelaki itu menyeringai mengamati dada Jimin yang ranum, "Wow...
aku akan sangat puas malam ini, merontalah pelacur, dan aku akan sangat menikmatinya..."
Lelaki itu berusaha mendekatkan bibirnya untuk melumat bibir Jimin. Jimin memejamkan matanya jijik, berusaha memalingkan kepalanya menghindari ciuman itu. Kedua tangannya ditahan dan kedua kakinya ditindih hingga dia tidak dapat bergerak. Dan Jimin bersumpah, dia akan bunuh diri kalau lelaki itu berhasil memperkosanya.
Tubuh lelaki itu makin berat menindihnya. Semakin berat... lalu... tidak terjadi apa-apa. Kenapa lelaki itu hanya menindihnya dan kemudian terdiam? Apakah lelaki itu tertidur? Jimin membuka matanya pelan-pelan. Lalu memekik ketakutan.
Sebuah pisau besar telah menancap dipunggung Taehyung, dan.sepertinya tidak hanya sekali menancap, tetapi lebih dari dua kali, karena bajunya terkoyak oleh beberapa tusukan dan darah memancar luar biasa deras dari punggung yang tertusuk pisau itu. Wajah Taehyung tampak sangat kaget, matanya melotot dan bibirnya menganga, lelaki itu sepertinya tidak sadar apa yang terjadi ketika ajal menjemputnya. Darahnya begitu banyak, dan mulai menetes menyebarkan cairan panas berbau anyir dan lengket, dan menetes ke bawah, membasahi tubuh Jimin. Jimin menjerit, berusaha menyingkirkan mayat Taehyung yang menindihnya.
Saat itulah Jimin menyadari Suga berdiri di pinggir ranjang, lelaki itu menatap mayat Taehyung dengan kemarahan yang menakutkan. Tatapannya tampak begitu puas karena telah menancapkan pisau berkali-kali di punggung Taehyung. Suga mencabut pisau itu dengan dingin dari punggung Taehyung tampak puas melihat darah segar mengalir dari lubang yang dia buat. Pisaunya berkilat dan bersimbah darah. Dan dengan tenang lelaki itu mengelapnya dengan sapu tangannya, lalu memasukkan ke wadahnya, dan menyimpannya ke dalam saku jaketnya. Suga mengalihkan pandangannya dengan dingin ke arah Jimin yang berusaha menyingkirkan tubuh Taehyung yang terkulai mati dari atas tubuhnya.
"Kai."
Seorang lelaki Asia yang ramping dan pucat melangkah masuk. Tatapannya sepertinya biasa saja ketika melihat mayat Taehyung.
"Bereskan mayatnya."
Tanpa kata, Kai menyingkirkan mayat Taehyung yang bersimbah darah dan memanggulnya keluar kamar.
Jimin terbaring dengan tubuh gemetaran di atas ranjang sambil menatap Suga. Dia hampir saja diperkosa dan telah melawan sekuat tenaganya. Pakaiannya sobek dari leher bajunya sampai ke pinggangnya dan dalam usahanya untuk menutupi dirinya, Jimin menggunakan lengannya untuk melindungi buah dadanya dan memeluk dirinya sendiri, dan ada bekas cakaran dan memar-memar merah di tangan dan kakinya. Ujung bibirnya masih mengeluarkan darah segar, luka akibat tamparan Taehyung yang sangat keras, Dan dia ketakutan setengah mati, menyaksikan pembunuhan keji yang dilakukan Suga di depan matanya.
Suga mendekat. Dan Jimin langsung beringsut mundur ketakutan. "Ja.. jangan mendekat..." Matanya terasa panas oleh air mata frustasi yang mengancam akan turun, dan tubuhnya terasa sakit. Dia sungguh takut dan tidak mampu lagi melawan. Tetapi setidaknya dia masih bisa bertahan.
Suga tersenyum, lelaki itu tidak mengtakan apa-apa. Dia menatap luka-luka di tubuh, pundak, dan bibir Jimin dengan tidak senang. Ada kemarahan membakar di sana. Tetapi Suga tetap menjaga kemarahannya tetap di dalam. Lelaki itu membuka jasnya, dan kemudian menyelimutkannya ke tubuh Jimin yang setengah telanjang
"Ayo kita pulang."
Jimin ingin melawan, tetapi dia sudah kehilangan tenaga. Dia hanya pasrah ketika Suga mengangkatnya dan menggendongnya keluar kamar itu.
Kai sudah menunggu, mayat Taehyung sudah di bungkus dengan rapi di dalam kantong mayat warna hitam yang entah darimana. Apakah mereka memang datang untuk membunuh, hingga sudah menyiapkan kantong mayat itu?
"Bereskan kekacauan di kamar itu sebelum kau singkirkan mayat itu. Pastikan semua bersih seolah-olah kita tidak pernah datang. Aku akan pulang dengan supir. Kau menyusul nanti."
Jimin merasakan tubuhnya teayun-ayun dalam gendongan Suga. Dan kemudian dia kehilangan kesadarannya.
Dia tersadar kemudian ketika merasakan mobil sedikit beruncang. Dibukanya matanya dengan bingung, dia berada di dalam mobil. Tubuh bagian depannya tertutup oleh jas Suga dan dia berbaring di pangkuan Suga. Tangannya menggantung di leher Suga . Lelaki itu memeluknya dengan kaku, menyangga kepalanya dengan lengannya.
Jimin merasakan aroma itu. Dan kenangan akan Yoongi menyeruak di benaknya. Dia mencoba mengusir kenangan itu. Ini sudah pasti Suga. Bukan Yoongi. Hanya Sugalah yang mampu menancapkan pisau ke punggung orang berkali-kali, lalu setelah orang itu mati, dia mencabut pisau itu dengan tenang, mengelap darahnya seolah membersihkan kotoran biasa, dan menyimpan pisaunya kembali. Lelaki ini kejam dan sedikit gila. Dan sekarang Jimin kembali terperangkap ke dalam cengkeramannya..
Jimin merasakan mobil itu berhenti. Mereka sudah berada di gerbang rumah Yoongi. Dia masih terdiam berpura-pura tidur, meski jantungnya berdebar kencang. Jimin ketakutan dan berharap Suga tidak merasakan debaran jantungnya.
Begitu pintu gerbang itu tertutup, maka kesempatan Jimin untuk keluar tidak akan ada lagi. Jimin tidak akan pernah bisa lepas untuk yang kedua kalinya dari cengkeraman Yoongi
Min...
Lelaki itu menundukkan kepala, dan kemudian menggunakan ujung jarinya untuk mengangkat dagu Jimin, memaksa perempuan itu menatapnya, ada senyum kejam di sana yang tidak mungkin dilakukan oleh Yoongi,
"Well, Jimin, selamat datang di rumah." Gumamannya mengerikan, bergema di kegelapan. Bagaikan sebuah janji tak terbantahkan , sama seperti ketika dia bersumpah bahwa Jimin akan menjadi miliknya..
-to be continued
