Break the Ice
·
·
Naruto © Mashashi Kishimoto
·
Break the Ice
·
Genre : Romance, Hurt/Comfort
·
Disclaimer : This story is original comes from my mind
·
Rated : T
·
Sakura
·
Summary : "Jangan dekat-dekat dia nanti kau membeku" / "Sakura Haruno sudah mati" / "Kau tidak tahu apa-apa!" / Sasuke, murid pindahan dari Oto tertarik pada gadis yang disebut Manusia Es yang sebangku dengannya. Sayangnya, gadis itu sudah kehilangan hatinya sejak lama
·
·
·
Jealous
Autumn
Friday, October 25, 2013
Free time
Physics Class
2nd Building, 1st Floor
Konoha Gakkuen
Penampilan Sakura dan Sasuke di festival akademi seminggu lalu benar-benar membuat Konoha Gakkuen gempar. Selama seminggu, kabar pernyataan cinta Sasuke menjadi headline di buletin sekolah. Foto pertunjukan mereka sampai terpampang di website sekolah dan mading. Semua orang bertanya-tanya apa itu benar-benar bukan bagian dari pertunjukan kelas 2-A. Mereka sampai berbondong-bondong mendatangi kelas Sasuke untuk bertanya tentang itu.
"Sudah kubilang itu bukan skenario kami! Pergi kalian!" bentak Shikamaru kesal karena jadwal tidurnya diganggu mulut-mulut berisik para pencari berita.
Sejak Sasuke mengungkapkan perasaannya di acara festival itu, Sakura menghindari berbagai macam bentuk interaksi dengan laki-laki itu. Gadis itu bahkan mengganti tempat duduk kesukaannya dengan Hinata dan sekarang duduk dengan seorang laki-laki bernama Towa Asakura. Sasuke ingin duduk dengan gadis itu lagi, menghabiskan waktunya memandangi Sakura, menggodanya di jam makan siang dan mengobrol dengannya—meski selama ini hanya Sasuke yang bicara dan Sakura hanya menggumam. Tapi ia tidak bisa membuat Sakura lebih marah dari ini.
Hari itu, setelah meninggalkan Sasuke, Sakura tidak terlihat selama beberapa hari. Gadis itu tidak datang ke sekolah selama tiga hari setelahnya. Ino Yamanaka membungkam mulutnya, tidak bersedia berkata apapun yang menyangkut Sakura. Hal ini tidak luput dari perhatian Karin. Gadis itu ingin sekali memotong-motong tubuh Sakura mengingat gadis itu dengan lancang berani mengambil perhatian Sasuke-nya.
Karin selalu berhasil menyingkirkan gadis-gadis yang berkeliaran di sekitar Sasuke sejak mereka masih kecil. Sasuke pernah secara terang-terangan mengatakan tidak menyukai tindakannya tapi ia tidak ambil pusing soal itu. Keluarga Uzumaki sudah lama bekerja sama dengan Uchiha Corp, jadi Karin tentu saja punya banyak sekali alasan untuk berdekatan dengan pangeran Uchiha itu.
Hal itu menjadi salah satu faktor pendukung Karin dalam melancarkan aksinya. Terlebih, Sasuke hampir tidak pernah menggubris gadis manapun yang mendekatinya. Sampai sekarang. Tepatnya sampai Karin melihat kedekatan Sasuke dengan gadis berambut merah muda itu. Ia iri, benar-benar iri. Sasuke seolah membuka pintunya lebar-lebar untuk Sakura. Ia membuka bagian dirinya yang lain saat berada di dekat gadis itu, membuat Karin semakin gerah. Selama bertahun-tahun ia mengenal Sasuke, laki-laki itu tak pernah menganggapnya istimewa. Sekalipun tidak.
Memikirkannya saja membuat Karin ingin memotong-motong gadis itu secepatnya.
Sunday, October 27, 2013
Uzumaki's Private Apartment
Dinner time
Matahari sudah kembali ke tempat beristirahatnya di barat. Konoha mulai menyalakan cahayanya yang kerlap kerlip di malam hari. Seorang gadis berambut scarlet dengan pakaian mandinya sedang duduk di depan sebuah jendela besar yang jadi tempat favoritnya sejak datang ke Konoha. Suara pintu terbuka sama sekali tidak membuatnya terganggu. Seorang pria dewasa berbadan besar masuk, menghormat pada Karin. Pria itu—Juugo—yang juga adalah butler pribadinya, sudah ditunggunya sejak tadi.
"Maafkan aku, ojou-sama. Semua informasi tentang Sakura dilindungi dan hampir tidak ada yang dapat ditembus.." kata Juugo, menundukkan kepalanya ketika bicara meski Karin sendiri membelakanginya.
"Kau bilang hampir, berarti masih ada yang kau dapat, kan?"
"Ha'i ojou-sama" jawab Juugo. "Gadis itu sepertinya mendapat perlindungan keluarga Senju".
"Senju? Keluarga bangsawan sekelas Senju melindunginya? Hmm...menarik"
"Dan...kemunculan Sakura di Konoha Gakkuen tampaknya terjadi tidak lama setelah putri keluarga Haruno dikabarkan menghilang" kata Juugo lagi.
Karin tersentak. Secepat kilat, gadis itu memutar tubuhnya ke arah Juugo dan menatap butler itu dengan tatapan tidak percaya.
"Haruno, kau bilang?!" mata Karin yang beriris merah membelalak tidak percaya. Juugo sendiri hanya mengangguk kalem.
Itu menjelaskan kenapa dia membawa mobil semewah itu ke sekolah.Batin Karin
"Apa lagi yang kau dapat?" tanya Karin.
"Berdasarkan arsip-arsip dari media dua tahun yang lalu, ibu Sakura Haruno diberitakan meninggal tidak lama setelah ayahnya menikah lagi" jelas Juugo.
"Dan dengan siapa ayahnya menikah?"
"Rin, Nona. Rin Uchiha"
Sudut bibir Karin terangkat membentuk sebuah seringaian. "Menarik..." gumamnya.
Juugo memandangi nona mudanya itu dengan tatapan gusar. Sudah bertahun-tahun ia melayani Karin sebagai butler dan mulai menganggap gadis itu seperti adik perempuannya sendiri. Karin selalu menyuruhnya menyelidiki gadis-gadis tak bersalah yang dikabarkan dekat dengan Sasuke. Biasanya hal itu tidak pernah berakhir baik. Juugo memandang kota Konoha yang dihiasi kerlap-kerlip lampu malam sambil memikirkan gadis yang kemungkinan akan jadi incaran Karin berikutnya.
Sakura Haruno. Semoga dia beruntung.
Wednesday, October 30, 2013
Lunch time
Mathematic Class; Backyard
2nd Building, 3rd Floor
Konoha Gakkuen
Bel makan siang adalah hal yang paling ditunggu siswa kelas 2-A hari ini. Terlebih, pelajaran mereka sebelum makan siang adalah Kalkulus, dan yang mengajar mata pelajaran itu adalah si Ular. Tepatnya, Orochimaru. Siswa Konoha Gakkuen selalu melakukan voting untuk menentukan rating para guru yang mengajar mereka dan Orochimaru selalu mendapat posisi terbawah di kategori guru favorit.
Sudah dua minggu sejak terakhir kali Sasuke dan Sakura bicara. Gadis itu benar-benar menghindarinya sampai Sasuke rasanya mau gila. Laki-laki itu tidak dapat memperhatikan pelajaran dengan baik karena sepajang jam pelajaran, ia hanya memperhatikan Sakura. Kantung mata Sasuke juga terlihat lebih gelap dan lebih besar setiap harinya karena laki-laki itu mendadak mengidap insomnia akut setiap malamnya.
"Kau kenapa, sih, Teme?" keluh Naruto. Laki-laki berambut kuning mencuat itu memutuskan untuk mengunjungi sahabatnya yang katanya berpenampilan seperti mayat hidup.
"Kau masih kepikiran soal ditolak Sakura, ya?" tanya Naruto to-the-point. Akibatnya, tangan Sasuke dengan ringan mendarat di puncak kepalanya.
"TEME!" raung Naruto kesakitan. Sasuke cuek saja, mengabaikan keberadaan sahabatnya itu dan memandangi taman belakang sekolah dari kursinya.
Naruto mendengus kesal sekaligus kasihan. Penasaran, ia mengikuti arah pandang Sasuke. Well, kebiasaan baru Sasuke sejak kenal Sakura adalah...melamun. Laki-laki itu melamun kapanpun dan dimanapun. Persis seperti ayam yang ingin menikah di peternakan neneknya di Kanada. Naruto mencari kalau-kalau ada yang menarik dari taman belakang. Gedung mereka ada di bagian terpisah dari gedung tingkat sepuluh dan dua belas. Gedung ini bersebelahan dengan gedung olahraga dan membelakangi taman sekolah yang ditanami banyak pohon.
Oh, Sakura.
Naruto mengangguk seolah mendapat jawaban atas pertanyaannya. Pantas saja Sasuke mengabaikannya, bahkan mengabaikan jus tomat kesukaannya. Naruto ikut mengamati Sakura yang sedang memakan makan siangnya dengan dua temannya.
Eh, tunggu, apa?
Kalau diamati lagi, memang ada tiga gadis disana. Mereka masing-masing memangku sebuah kotak bento dan tampak terlarut dalam obrolan santai. Naruto merasa ada yang aneh mengingat Sakura selama ini hanya memiliki satu teman. Well, itu yang sedang memakan nasi dengan wajah datar pasti Sakura, mengingat rambutnya sangat mencolok. Lalu yang sedang mengobrol sambil meminum jus itu si Yamanaka, lalu yang mengobrol dengan Yamanaka itu...Hyuuga?
Hinata Hyuuga?
"Hey, Teme, si Hyuuga itu dekat dengan Sakura, ya?" tanya Naruto tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ya, mereka sudah bertiga sejak kau bilang padaku Hyuuga digencet Karin" jawab Sasuke.
Naruto mengangguk mengerti sebelum mendadak menolehkan wajahnya ke arah Sasuke dengan tampang horror seolah habis melihat hantu.
"TEME!" teriak Naruto untuk yang kedua kalinya. Kali ini lebih histeris dan lebih keras sampai membuat Shikamaru hampir terjungkal dari tempatnya tidur.
"BERISIK!" umpat Sasuke, kesal setengah mati.
"Kau...kau...sejak kapan ka..kau..."
"Cepat katakan, Dobe" kata Sasuke tidak sabaran.
"Sejak kapan kau...bicara panjang lebar...begitu?" kata Naruto terbata-bata. "Kau tahu, kan, biasanya kau hanya menanggapiku dengan 'Hn' atau 'Aa' atau malah diam saja! Dan yang lebih mengagetkan, kau memperhatikan sekitarmu, Teme!"
Sasuke berdecih, "Saa" jawabnya mau-mau tidak-tidak.
"Teme..." rengek Naruto, tidak puas dengan jawaban Sasuke yang memang selalu tidak memuaskan.
"Kalian...kenapa berisik sekali?!" tegur Sai yang tiba-tiba muncul di belakang mereka berdua.
"Heh, Zombie, mau apa kau kesini?" omel Naruto. Ia memang punya semacam kenangan buruk dengan Sai karena sejak awal, laki-laki itu terus saja meledeknya soal berbagai hal.
Yah, Naruto memang bodoh, tapi, kan, dia tidak harus meledeknya setiap saat!
"Aku mau mengembalikan catatan matematika yang kupinjam dari Shikamaru minggu lalu" jawab Sai. "Kalian sedang lihat apa, sih?"
Naruto melirik Sasuke sebentar, kemudian mengedikkan bahu tanda tidak mau menjawab. Sai hanya tersenyum, fake smile seperti biasanya. Mata hitamnya kemudian mengikuti arah pandang Sasuke dan menemukan objek pandangan Naruto dan Sasuke sebelumnya. Di taman belakang sekolah, tiga gadis yang tampaknya masih belum sadar kalau diperhatikan tampak sedang asyik mengobrol—sebenarnya hanya dua yang mengobrol dan yang satu lagi sedang medengarkan musik.
Gadis yang paling kiri—jika dilihat dari arah pandang Sai—adalah gadis yang tempo hari berduet dengan Sasuke diatas panggung. Gadis yang belakangan jadi buah bibir siswa Konoha Gakkuen, Sakura. Gadis yang berambut indigo itu pastilah Hinata Hyuuga, ia memiliki mata yang sama dengan Neji. Lalu yang ditengah itu...rambut blonde, poni panjang dan secantik barbie.
Gadis yang mengomelinya di tangga.
"Hei, itu yang berambut blonde, siapa?" tanya Sai pada Naruto yang sekarang sudah ikut mengamati lagi.
"Oh, itu Ino. Ino Yamanaka. Dia sekelas denganku" jawab Naruto tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ino Yamanaka, ya? Menarik..." gumam Sai.
Sementara tiga stalker di lantai tiga masih sibuk dengan kegiatan mereka di kelas, Sakura mematikan iPod yang sejak tadi menghujani telinganya dengan lagu. Sejak Hinata Hyuuga masuk ke lingkaran kecilnya dengan Ino, Sakura entah bagaimana merasa lebih ringan. Sejak Ino—yang talk active—bermain bersamanya, Sakura merasa gadis itu terlalu banyak terbebani dengan kebiasaan menyendirinya.
"Hinata...aku pernah dengar gossip..." kata Ino tiba-tiba.
"Jangan dengarkan dia, Hyuuga. Obaa-san ini memang hobi bergosip" kata Sakura memotong pembicaraan Ino. Hinata terkekeh.
"Tidak apa-apa, Sakura-san. Bukankah gadis memang senang bicara?" kata Hinata kalem.
Ino memandang Sakura dengan tatapan 'tuh-kan' miliknya yang ditanggapi dengan kedikan bahu cuek.
"Kau...suka si...Namikaze, ya? Benar?" tanya Ino.
Sakura menjitak Ino tepat di puncak kepalanya yang membuat gadis itu menjerit kesakitan.
"Hei! Sakit, tahu!" keluh Ino.
"Kau bertanya pertanyaan yang salah, Yamanaka-san! Lihat!" Sakura menunjuk Hinata yang sudah memerah seperti kepiting. Bahkan gadis itu memerah sampai ke telinganya. Sakura menghela nafas dan menghampiri Hinata yang hampir mencapai batasnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sakura. Ia membantu Hinata bersandar di batang pohon sambil memandang Ino yang terlihat kesal.
"Pfft...Hahahaha" Sakura tertawa lepas melihat kedua temannya. Wajah Ino dan Hinata benar-benar merah untuk alasan yang berbeda. Sakura tak bisa menahan tawanya melihat Hinata menunduk dengan wajah merah padam sampai ke telinga dan Ino merajuk sambil membuat ekspresi wajah menggelikan. Ino dan Hinata berpandangan sebentar sebelum ikut tertawa lepas.
Selagi ketiga gadis itu sibuk tertawa di taman belakang, ketiga laki-laki yang sedang menjadi stalker di lantai tiga tampak sudah tidak melihat ke arah mereka lagi. Sasuke tampak mencoba menyibukkan diri dengan membaca buku meski dia benar-benar tidak bisa konsentrasi. Naruto langsung berjalan keluar kelas dengan terburu-buru sementara Sai terduduk lemas di lantai.
Yang paling penting, mereka bertiga sama-sama blushing.
Autumn
Friday, November 1, 2013
Geography Class
2nd Building, 2nd Floor
Konoha Gakkuen adalah akademi terbaik di seluruh Jepang, bahkan membawahi akademi lain yang berada dibawah naungan yayasan keluarga Senju lainnya. Sebagai akademi yang berada dalam yayasan yang sama, Konoha Gakkuen, Sunagakure Gakkuen, Academy of Otogakure, Kirigakure Gakkuen dan Academy of Iwa biasa mengadakan pertemuan antara dua sekolah diantara mereka untuk menjalin persahabatan.
Pertemuan itu adalah serangkaian acara school trip yang dikhususkan bagi siswa tingkat sebelas. Para siswa akan berada di luar akademi selama seminggu penuh dan menjalani serangkaian kegiatan. Biasanya acaranya hanya mendengarkan alumni mereka berbicara, atau perwakilan dari dewan yayasan, lalu kegiatan sosial lainnya.
"Jadi, tiga hari lagi kita akan berangkat ke Karibia untuk menjalani school trip selama seminggu. Persiapkan diri kalian!" kata Ibiki ketika ia mengisi jam kosong di kelas Sakura.
Sakura sudah mendengar kabar ini dari bibinya—Tsunade—sebelumnya. Tsunade meminta Sakura mengurus izin masuk di pulau itu mengingat gadis itu adalah pewaris dari seluruh aset Haruno Group—termasuk pulau pribadi di Karibia.
Ketika Ibiki keluar kelas, suasana yang tadinya tenang langsung berubah ramai. Gadis-gadis mulai membentuk grup mengobrol sendiri, sibuk bicara tentang pakaian apa yang akan mereka bawa atau sekolah mana yang nantinya akan bergabung dengan mereka. Para laki-laki juga ikut membentuk grup, mengobrol tentang gadis mana yang kira-kira akan menarik paling banyak perhatian.
Sasuke sendiri asyik melamun—entah sudah keberapa kalinya—di tempatnya duduk. Ia berusaha keras untuk tidak merasa terganggu dengan pembicaraan para anak laki-laki di sekitarnya. Belakangan ini, Sasuke terlihat seperti tubuh tanpa raga. Dia tidak menanggapi obrolan apapun, bahkan tidak menghiraukan siapapun. Beberapa fangirl Sasuke memanfaatkan ini untuk menempel pada di setiap kemungkinan, termasuk Karin.
"Sasuke-kun, ayo ke pulang bersama!" ajak Karin riang, ia menarik tangan Sasuke dengan manja.
"..." Sasuke melirik gadis berambut scarlet itu sekilas sebelum menarik tangannya.
"Ayolah Sasuke-kun..." kata Karin, kembali menarik tangan Sasuke.
"Diam kau" desis Sasuke tajam, memelototi Karin dengan mata hitamnya.
Karin membatu. Gadis itu merasa aliran darahnya tiba-tiba berhenti ketika Sasuke memandangnya dengan tatapan menyeramkan. Mata hitam laki-laki itu seperti memendam banyak kesedihan, tidak sepperti biasanya. Dan hal itu sukses membuatnya makin membenci Sakura...Haruno. Sambil menghentak-hentakkan kaki, gadis berambut merah itu berjalan keluar kelas, merajuk.
"Ne..ne, menurutmu siapa yang akan terlihat paling cantik saat ball nanti?" Sasuke mendengar seorang siswa memulai obrolan. The Ball adalah pesta dansa yang diselenggarakan pada malam terakhir school trip.
Cih, dasar orang-orang tidak penting. Umpat Sasuke dalam hati.
"Menurutku Yamanaka dari kelas C itu cantik juga. Rambutnya kelihatan halus sekali" komentar yang lain.
Yang benar saja...
"Menurutku Karin Uzumaki lebih cantik".
Kau pasti bercanda..
"Tidak...tidak. Menurutku mereka kalah cantik kalau dibandingkan Sakura-san. Kau tahu, kan, penampilannya di festival sekolah lalu? Dia cantik sekali!"
Sasuke menoleh, memandang horror pada orang yang barusan bicara. Matanya membesar hingga ukuran maksimal sampai-sampai Sasuke merasa matanya akan keluar dari rongganya. Mendengar laki-laki lain bicara tentang Sakura membuat Sasuke merasa ingin meledak. Belum cukup sampai situ, para laki-laki itu mulai melirik-lirik Sakura yang belakangan ini memilih mengikat rambutnya dan memakai sedikit make up—yang sebenarnya tidak terlihat terlalu kentara di wajahnya yang pucat.
Semua mata langsung mengarah pada Sasuke saat ia tiba-tiba saja menendang mejanya sendiri dan berjalan ke arah Sakura. Uchiha muda itu memandang Sakura yang malah mengabaikan keberadaannya. Sasuke membuang nafasnya dalam sekali hembusan keras dan langsung membawa Sakura—
—membawa dalam artian memanggulnya di pundak seolah Sakura adalah sebuah karung beras.
"Hei! Turunkan aku!" teriak Sakura keras, tangannya memukul-mukul punggung Sasuke dengan brutal. Laki-laki itu tiba-tiba saja datang ke mejanya, memandangnya dengan tatapan mengerikan lalu membawanya pergi seperti seorang penculik. Sakura benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Sasuke belakangan ini.
"Kubilang turunkan aku!" teriak Sakura lagi, mencoba menjambak rambut Sasuke sekeras yang ia bisa.
"Tidak" jawab Sasuke, "Berhenti menjambak rambutku!"
"Kalau begitu turunkan aku!"
"Kalau kuturunkan, kau akan jadi pusat perhatian orang-orang itu lagi!"
Sasuke berteriak keras sekali sampai orang-orang di lorong memandang mereka dengan tatapan aneh. Sakura memukul kepalanya keras sekali meski tidak mampu turun dari tempatnya sekarang. Ia menoleh memandang orang-orang di sekitar mereka yang mulai berbisik-bisik. Ah dia merasa akan gila.
"Hei, Uchiha, berhentilah bertingkah gila dan turunkan aku sekarang!" omelnya kesal.
"Begitu..." gumam Sasuke pelan meski masih mencapai indera pendengaran Sakura.
"Apa?!"
Sasuke menoleh bersamaan dengan Sakura. Ia memandang wajah gadis itu yang sekarang dekat sekali. Benar, wajah marahnya imut sekali. Ketika Sakura marah, wajah pucatnya akan berubah menjadi merah dan alisnya akan bertaut. Matanya akan berkaca-kaca dan demi Tuhan, Sasuke tidak bisa menahan diri untuk tidak blushing karenanya.
"Jangan..."
"Jangan apa?! Turunkan aku!"
"Jangan perlihatkan wajah seperti itu di depan orang lain selain aku"
Sakura melotot, tidak percaya pada apa yang baru saja di dengarnya. Si Uchiha ini rasanya bisa membuatnya mati di usia muda!
"Turunkan aku dasar gila!" teriak Sakura keras yang akhirnya percuma saja karena Sasuke seolah menulikan telinganya.
Tanpa kedua manusia itu sadari, dua sosok gadis yang sejak tadi mengamati mereka tampak memperlihatkan ekspresi yang berbeda. Shion menatap Sasuke dengan tatapan tidak tertarik sementara Karin berusaha menahan diri agar tidak meremukkan gelas iced chocolate di genggamannya.
"Kurasa Sasuke benar-benar mencintai gadis itu" gumam Shion cuek. Ia melirik Karin yang tampak kesal setengah mati dari ekor matanya.
"Persetan!" dengus Karin. "Akan kupastikan ia tak bisa mendekati Sasuke seujung kukupun nanti!"
Autumn
Friday, November 1, 2013
Free time
Chemistry Class
1st Building, 3rd Floor
Sunagakure Gakkuen
Siang itu di Sunagakure siswa tingkat sebelas akademi Suna mulai ribut membicarakan school trip yang akan diadakan di Karibia beberapa hari lagi. Semua orang tidak sabar menantikan perjalanan mereka ke Karibia apalagi tiga bersaudara Sabaku juga ikut serta. Tiga bersaudara Sabaku adalah selebriti Sunagakure Gakkuen mengingat mereka bertiga memiliki aura yang tidak biasa. Keluarga Sabaku adalah keluarga pemimpin Suna sejak delapan generasi ke belakang. Tiga bersaudara itu—Temari, Kankurou dan Gaara Sabaku—juga merupakan kerabat dari keluarga Senju.
"Karibia, ya?" gumam Temari ketika ia dan kedua saudaranya menghabiskan waktu makan siang bersama di taman akademi.
"Kalau begitu mereka pasti menggunakan pulau pribadi keluarga Haruno" kata Kankurou. Remaja yang berprofesi sebagai pembuat boneka kayu itu asyik meminum kopi kaleng di tangannya.
"Mengingat hubungan di antara Haruno dan Senju, kemungkinan itu bisa sembilan puluh lima persen" kata Temari menanggapi.
"Kalau itu benar-benar pulau pribadi Grup Haruno, pasti menyenangkan!" kata Kankurou, menghentikan sejenak kegiatan minum kopinya. "Kudengar Grup Haruno memiliki mansion mewah di pulau itu".
"Kudengar, tahun ini Iwa yang tidak ikut acara" kata Kankurou lagi.
"Aku penasaran sekolah mana yang akan ikut ke Karibia bersama kita" kata Temari.
"Entah kenapa firasatku mengatakan kita akan bertemu Konoha" Gaara yang sejak tadi diam saja mulai angkat bicara. Jarang sekali ia tertarik pada suatu pembicaraan disamping kegiatannya bermain rubik. Laki-laki itu tersenyum miring, senyuman khasnya. Memikirkan Konoha membuatnya kembali mengingat sahabat pinknya. Ah, rasanya rindu.
Temari dan Kankurou tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya saling bertukar pandang. Mereka memandang Gaara dengan tatapan maklum. Kalau menyangkut sahabat pink mereka, Gaara bisa jadi orang lain rasanya.
"Yah...kurasa Gaara benar. Firasat Gaara belum pernah ada yang salah" kata Kankurou diiringi anggukan Temari.
to be continued..
um... hai guys. hehe
..
..
..
MAAFKAN AKUUUUU...
aduh ini udah hiatus lama banget ya ? maaf yaaa aku sibuk asliii -_- karena lagi magang di majalah kampus waktu itu juga lagi UAS /alibi/
asli deeeh
naaaah untuk kalian yang masih seneng baca fanfic ini, aku hargain banget :') kalian penyemangat aku bangettt :')
maaf yaa. untuk tiga bulan ke depan aku libur semester kok! jadi berusaha dikebut sampai END! :) tetap semangat baca! :)
nah, untuk yang nanya nanya, berikut ini akan aku balas :)
Q : Kapan Saku mau terima Sasu?
A : Saku cuma butuh waktu dan sedikit pencerahan kok hehe mana ada cewek yang tahan lama-lama mengabaikan Sasuke? :p
Q : Kenapa Saku kayak nolak Sasu padahal udah ada rasa?
A : Dear one, dia trauma sama Uchiha karena kematian ibunya :) mungkin itu alasannya/? mari tanyakan Sakura biar lebih jelas wkwk
Q (dari Nike dan Za-chan) : Lagu apa itu?
A : itu lagu OST Aladdin. judulnya A Whole New World yang dinyanyiin sama Peabo Bryson (kalo gasalah inget namanya)
Q : Kapan aksi bales dendamnya?
A : di saat klimaks/? wkwk
Q : taruhan Sasu sama Naru masih berlaku?
A : secara nggak langsung sih udah nggak. tapi di chapter selanjutnya nanti akan ada kejelasan dari entah Sasu atau Naru hehe
Q : gimana karin kalo sama sui aja?
A : hmm, saran yang bagus :) akan aku pertimbangkan yaaa. everything needs time hehe
Thanks to Musang Hitam-san yang katanya mau tetep baca fic ini walau harus nunggu setahun/? XD
Thanks to Za-chan, Ai-chan, Cherry-chan, Kei-kun, Sakuraaaa-chan, Lechi-chan, Frans, kikyu, Gadi, Kenshin, Uchiharu dan 131 orang yang sudah review! LOVE YOU ALL GUYS!
/Kiss/
