"Oo!! Lihatlah! Anak kucing! Sepertinya dia tidak bisa turun" ujar Seongwoo yang mendekatkan dirinya menuju pohon besar, ia melihat seekor anak kucing yang sedang mengeong ketakutan, kalau diperhatikan sebenarnya anak kucing itu tidak bisa turun.
"...Seandainya aku bisa memanjat pohon, aku akan menolong kucing malang itu" lanjut Seongwoo memelas, sambil sedikit memberikan kode untuk Euigeon yang memanjat pohonnya.
"Lalu?" Euigeon menatap malas kearah atas
"Kau bisa memanjatnya kan?"
"Aku bisa, tapi aku tidak suka kucing"
"Hhh seandainya ada Daniel pasti dia akan menolong anak kucing itu"
Mendengar Seongwoo berkata seperti itu, Euigeon merasa tersaingi, ia merasa level dirinya berada dibawah Daniel.
"Baiklah! Aku akan menolongnya" Euigeon melihat sebuah dahan pohon besar, ia mengambil ancang-ancang.
Satu..
Dua..
Tiga..
Ia mulai menaiki batang pohon besar itu, dengan secepat kilat, ia sudah ada diatas dan meraih anak kucing itu "ah dapat!" bisiknya.
Ia segera turun dan menaruh anak kucing itu, disebuah bangku panjang yang terbuat dari besi.
Seongwoo tersenyum melihat kucing itu dan mengelus pucuk kepala kucing itu.
"Sepertinya dia lapar" Seongwoo duduk disamping kucing itu, sementara Euigeon yang melihat Seongwoo tersenyum sesenang itu juga ikut tersenyum.
"Dia lapar? apa yang biasanya Daniel berikan kalau kucingnya lapar?" Tanya Euigeon, dan dia baru sadar atas apa yang baru saja ia katakan, mengapa ia jadi peduli pada kucing itu.
Ia menampar pelan pipinya, Euigeon tidak sadar atas apa yang barusan ia katakan, beberapa menit yang lalu ia bilang tidak suka kucing, kemudian dia sekarang malah terlihat seperti ibunya kucing.
"Hmm.." Seongwoo sedikit berpikir dan mengelus dagunya "mungkin ikan? Entahlah. Dia selalu memberi kucingnya makanan kucing yang bentuknya kecil seperti biskuit"
"Dimana aku bisa membelinya?" Tanya Euigeon lagi, dan dia semakin peduli pada kucing itu.
"Sepertinya disana" Seongwoo menunjuk sebuah minimarket kecil"
"Kau tunggu disini, aku akan kesana" Euigeon pergi untuk membeli makanan kucing, sekali lagi, Euigeon tampak sangat peduli pada kucing kecil itu padahal sebelumnya dia sangat acuh.
Ia membuka pintu minimarket dan mencari makanan kucing, dan menemukannya.
"Bentuknya seperti biskuit? Gambarnya juga kucing.. sepertinya ini yang dia maksud" batinnya
"... Ah paman, apa ini makanan untuk kucing?" Teriak Euigeon dari kejauhan dan mengangkat sebungkus makanan kucing seraya menujukkannya pada paman penjaga kasir.
"Iya itu makanan kucing" jawab pria dibelakang meja kasir
Ia tersenyum dan membawa makanan kucing itu kemeja kasir, dan membayarnya.
"Terima kasih paman" Ujarnya dan melangkah pergi meninggalkan minimarket.
sementara itu, Seongwoo masih ditempat yang sama sembari mengelus pucuk kepala kucing itu.
"Oo?? Apa? Kau lapar?" tanyanya.
"...Sebentar ya, Daniel akan segera kesini—" lalu dia membulatkan matanya. "...Em.. maksudku kembarannya, Euigeon, mereka sangat mirip sampai aku tidak dapat membedakannya selain warna rambutnya dan tatapannya haha"
"...Haha apa yang aku lakukan, berbicara dengan kucing, ini sangat aneh, tapi Daniel selalu berbicara dengan kucing setiap saat dan itu kedengaran biasa saja, tapi aku? Malah seperti orang tidak waras" Seongwoo mengelus tubuh mungil kucing itu, bulunya tidak terlalu lebat dibagian badannya, tapi dibagian ekor sangat lebat, ekornya juga sangat panjang, bulu putihnya agak sedikit kotor dibagian kiri tubuhnya.
Tak lama, Euigeon datang membawa makanan kucing.
"Apa yang kau lakukan? Berbicara dengan kucing?" Entah sejak kapan Euigeon sudah berdiri disampingnya, tapi Seongwoo benar-benar tidak sadar, karena hawa keberadaan Euigeon tidak Seongwoo rasakan.
"Entah, aku hanya melakukan apa yang sering Daniel lakukan" Seongwoo bersikap tenang, walau sebenarnya dia terkejut begitu mendengar suara Euigeon yang memang terdengar mirip dengan Daniel.
"Ini makanannya" Euigeon memberikan sebungkus makanan kucing itu.
Seongwoo membuka bungkusan itu dan menaruh biskuit biskuit kecil itu ditelapak tangannya sebagai wadah. Lalu memberikannya pada anak kucing itu.
"Haha geli!" Seongwoo menggeliat "Kau harus mencobanya!"
"T-tidak mau!" Euigeon memalingkan wajahnya dan menyilangkan kedua tangannya didada.
Hari mulai gelap, Euigeon tidak menyangka hari terasa cepat berlalu, ia menghabiskan waktunya satu hari ini dengan pacar adiknya. satu hal yang sejak awal terngiang diotaknya, Seongwoo itu menarik.
Dari apa yang Euigeon tangkap, Seongwoo adalah orang yang baik, penyayang, senyumannya tak pernah luput dari pengelihatannya, Seongwoo adalah sosok yang ramah dan ceria, dan sekali lagi degup jantung didadanya mulai berdetak kencang lagi, tapi Euigeon tidak mengerti arti dari detakan jantungnya kali ini.
Seperti sekarang, mereka menuju rumah sakit, jalan berdampingan ditrotoar, cahaya bulan dan lampu jalan dikota menemani setiap langkah keduanya.
"Jadi.. apa kau sudah punya pacar?" Tanya Seongwoo, yang ditanya hanya menggeleng.
"Sulit menemukan perempuan yang mau menerimaku" Euigeon jalan dengan wajah yang menunduk, sesekali menendang batu kecil yang menghalangi jalannya.
"Kenapa? Kau tampan, kau baik, kau—" Omongan Seongwoo terpotong.
"Baik katamu?" tanya Euigeon meninggikan nadanya
Seongwoo membulatkan matanya ketika Euigeon mulai menampilkan mata tajamnya lagi.
"Maksudnya, kurasa kau cukup baik" koreksi Seongwoo
"Kau tidak tahu saja"
Seongwoo hening, ia tidak mengerti apa yang Euigeon maksud.
Untuk beberapa langkah mereka hening, tidak ada lagi obrolan lagi, hanya terhanyut dalam pikiran masing-masing.
Tapi Euigeon membuka suara. "Jadi, kau itu.. anak yang tinggal di blok nomor 7?"
Seongwoo mengangguk pelan, "kau tahu rumahku? Daniel yang memberitahumu ya?"
"Tentu, dibelakang rumahmu ada sebuah lapangan besar yang rumputnya sangat lembut. Dulu, aku sering berada disana untuk sekedar berbaring, suasananya sangat mendukung untuk aktivitas hibernasiku"
"Ahh, lapangan itu, itu lapangan yang dibuat kakekku" jelas Seongwoo lalu menjatuhkan dagunya
"Kakekmu? Maksudnya Kakek Chan?"
"Em! Itu kakekku!" Seongwoo sedikit menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal
"Jadi kau!! Jangan bilang kau anak yang hampir tertabrak mobil itu?"
Flashback
"Kakek! Cepatlah! Udara disini segar sekali, ayo temani aku main bola" Teriak anak kecil yang menggandeng seorang pria yang sudah tua bahkan harus mengernyitkan dahinya untuk melihat dengan jelas padahal kakek itu sudah memakai kacamata.
"Pelan-pelan Seongwoo, nanti kau terjatuh! Ayo kita segera pulang saja kerumah hari mulai gelap, punggungku sudah tidak bisa ditolerir lagi, kalau berlama-lama diluar bisa gawat punggungku!" Teriak kakek itu.
Seongwoo yang saat itu berumur 7 tahun, sedang asyik bermain dengan bolanya, sang kakek hanya duduk disebuah batu besar yang tampak seperti tempat duduk dipinggir lapangan.
"Tchh!! Siapa sih? Berisik sekali!" Seorang anak kecil berumur 6 tahun dengan masker yang menutupi hidung dan mulutnya terbangun dari tidurnya, Euigeon.
Euigeon terbangun dan berdiri melihat anak yang sedang berlarian dirumput lembut berwarna hijau, ia juga melihat kakek tua dipinggir lapangan.
"Ohh?? Kakek Chan? Dengan siapa dia? Apa itu cucunya?"
Euigeon berlari kearah pria yang ia panggil Kakek Chan itu.
"Kakeekk!" Teriaknya
"Euigeon? Sedang apa disini?"
"Tadi aku sedang tiduran disebelah sana, tapi tiba-tiba suara anak itu membangunkanku"
"Haha seharusnya kau tidur dirumah"
"Tidak mau! Ibu selalu marah padaku jika aku tidur sore-sore begini"
"Hari semakin gelap, lebih baik kau pulang Wuigwon"
"Aku memang akan pulang sekarang, Kakek juga harus pulang, udara dingin tidak baik untuk kakek tua seperti dirimu haha"
"Hahaha, Aku juga akan pulang, errr.. ngomong-ngomong kemana anak itu? Cepat sekali perginya" Kakek Chan melihat ketiap sudut lapangan tapi tidak melihat sedikitpun batang hidung cucunya.
"Anak yang tadi itu? Sepertinya dia tadi bermain didekat jalan raya"
"Astaga! Disitu berbahaya" Kakek Chan bangun dari duduknya
"Kekek disini saja, aku akan kesana dan memanggilnya"
"Hmm.. terima kasih Euigeon"
"Sama-sama kek"
Euigeon berlari kearah tempat yang ia maksud tadi, tapi nihil.
Anak itu tidak ada disitu, "ah kemana anak itu" batinnya.
Euigeon melihat anak itu berlari mengejar bola yang menggelinding sampai ketengah jalan raya.
Ia berlari kearah bola, dan dari arah lain ada sebuah mobil yang melaju agak cepat.
"HEY! AWAS!" Euigeon berlari kearah anak itu, memegang kedua pundak anak yang tingginya hampir sama dengannya, ia mendorong anak itu hingga tersungkur dipinggir jalan raya.
Sementara Euigeon telat untuk menghindari mobil itu, sehingga mengakibatkan dirinya terserempet mobil, dirinya terguling dijalan raya, siku dan lutut Euigeon berdarah, tapi masih bisa berdiri kokoh.
"Kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?" anak yang bernama Seongwoo itu menghampiri orang yang menyelamatkannya.
"Tidak, hanya luka kecil" Euigeon berdiri dan menepuk pelan bokongnya berharap debu dibagian belakangnya hilang.
"Kau harus diobati, ayo kita pergi kerumahku" ajak bocah itu
"Tidak! Aku mau pulang saja" Euigeon berlari menjauh dari anak itu, tak peduli rasa sakit disiku dan lututnya dia masih tetap berlari.
Sementara anak itu hanya terdiam melihat sebuah darah segar mengalir deras dikaki kanan anak yang berlari itu, sepertinya Euigeon tidak sadar kalau ada luka yang cukup serius dikaki kanannya.
Kakek Chan datang, ia sedikit berlari menghampiri cucunya.
"Seongwoo? Ada apa? Kakek seperti mendengar sebuah teriakan tadi"
"Anak itu! anak yang memakai masker itu! Dia terluka" menujuk kearah jalan yang Euigeon tempuh tapi Euigeon sudah pergi menjauh hingga tidak terlihat lagi pundak itu dimata Seongwoo.
"Lalu kemana ia?" Tanya Kakek Chan khawatir
"Entah, dia berlari kearah gang sepi itu, katanya dia mau pulang"
"Yasudah sekarang kita pulang, kakek sudah peringatkanmu tadi, mari kita pulang"
Flashback Off
"Kalau begitu—" Seongwoo menghentikan langkahnya, ia berjongkok.
"...Aku ingin lihat kaki kananmu" lanjut Seongwoo
"Hah? Ada apa?" Euigeon bingung karena Seongwoo sudah berjongkok didekat kakinya.
"Buka saja! Cepat! Naikkan celanamu!"
Euigeon yang masih berdiri, mengangkat bagian celana dibagian kanannya, kaki Euigeon yang putih menampilkan sebuah garis bekas jahitan.
Seongwoo membulatkan matanya, apa yang ia lihat sama dengan kejadian saat ia berumur 7 tahun.
"K-kau? Yang menyelamatkanku?"
Euigeon yang sedari tadi bingung, ia akhirnya mengerti dan menurunkan celananya.
Euigeon terdiam dan hanya mengerjapkan matanya yang terasa perih.
"Kau anak yang memakai masker itu bukan? Kata Kakekku, kau alergi debu, maka dari itu kau selalu memakai masker jika kau keluar rumah, tapi sekarang—"
Euigeon mengangguk. "Itu dulu, tapi sekarang sepertinya aku tidak alergi lagi" lanjutnya
"Terima kasih" Kata itu keluar begitu saja dari bibir tipis Seongwoo, malu dan menunduk rasanya wajah Seongwoo jadi semakin panas
Euigeon menatap kearah Seongwoo, ia bingung karena barusan Seongwoo baru saja berterima kasih padanya.
"Untuk apa?" Tanya Euigeon, dahinya mengerut.
"Karena telah menyelamatkanku 16 tahun yang lalu"
Lalu hening sejenak
"Oh itu, haha kupikir apa, lain kali hati-hati"
Seongwoo mengangguk, mereka melanjutkan jalan.
————
"Kondisinya sudah stabil dok"
"Baiklah kalau begitu kita biarkan dia beristirahat"
Dokter dan dua orang suster keluar dari ruangan Daniel, Seongwoo dan Euigeon sedikit berlari untuk mengejar dokter.
"Dok? Ada apa dengan Daniel?"
"Em.. tidak.. kami hanya mengecek kondisinya saja, kondisinya sudah stabil" dan Dokter itu sedikit menunduk dan melanjutkan jalannya.
yang mendengarnya hanya bernapas lega, dan buru-buru masuk kedalam ruangan.
Daniel tertidur, mereka keluar lagi karena tidak ingin istirahat Daniel terganggu.
"Kau tidak pulang?" Ujar Euigeon
"Kau mengusirku?" Tanya Seongwoo sedikit meninggikan nadanya
"Tidak, bukan seperti itu.. hari sudah malam aku takut orang tuamu khawatir"
"Orang tuaku, tidak seperti orang tuamu" hampir tersuarakan tapi Seongwoo tidak berani untuk mengatakannya.
"Ah benar, baiklah aku akan segera pulang, kalau ada apa-apa kabari aku, mana ponselmu" Euigeon memberikan ponselnya dengan ekspresi bingung, Seongwoo menyimpan nomor ponselnya diponsel Euigeon "kabari aku sekecil apapun keadaan Daniel" lanjutnya.
Euigeon hanya mengangkat kedua alisnya dan mengangguk, "okay".
Seongwoo pun pergi meninggalkan Euigeon, Punggung Seongwoo mulai menjauh bahkan sampai menghilang pun Euigeon masih membeku ditempat.
Aku dapat nomornya,
haruskah kukirimi dia sebuah pesan?
-euigeon
TBC
wah ternyata ada yang baca ff ini, kupikir di ffn ini sepi gak ada yang baca ternyata ada, kuterlalu fokus diwattpad jadinya jarang buka ini.
makasih loh yang udah review:)))
Kucinta kalian hehehe. x
