My Only Girl
.
.
.
Sumarry : Donghae, seorang penyanyi terkenal istri pewaris tunggal Choi Entertainment terjebak cinta segitiga. Siapakah yang akan dia pilih? Choi Siwon, suaminya kah? Atau Kim Kibum, actor tampan teman semasa kecilnya?
Declaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, keluarga dan SMEnt.
Pairing : SiHae (Siwon Donghae) or KiHae (Kibum Donghae) ?
Other cast: HanChul (orang tua Siwon), KangTeuk (orang tua Donghae), yang lain menyusul sesuai dengan kebutuhan cerita :D
Rating: M (buat jaga-jaga)
Genderswitch Donghae, HeeChul, Leeteuk, Sungmin, Ryeowook.
Don't like don't read, no flame, no copas, review please (author baru soalnya, mohon bimbingannya)
.
.
.
Saranghaeyo Super Junior ^^
Previous chapter.
"Yeobboseo, chagiya."
"Eomma.."
"Ne? ada apa menelpon malam-malam?"
"Eomma.. hiks.."
"Gwaenchanayo?" Heechul mulai khawatir.
"Eomma…" dan ponsel pun terjatuh dari tangan Donghae.
"Yack! Chagiya! Donghae-ah!"
Sekencang-kencangnya Heechul berteriak, tetap tidak ada jawaban dari Donghae.
-HanChul's side-
"DONGHAE-AH! Kau mendengarku? HAE-AH!"
Heechul terus saja berteriak-teiak berusaha memanggil Donghae, namun nihil. Hanya keheningan yang didapatinya, suara Donghae tidak terdengar lagi.
"Hannie-ah, ireona. Palli!"
Heechul menggoncang-goncangkan tubuh Hankyung yang tidur di sebelahnya guna membangunkan sang suami dari alam mimpinya.
Hankyung mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sembari mengumpulkan seluruh rohnya dari alam mimpi yang telah ia singgahi.
"Waeyo, Chuliie?"
"Donghae baru saja menelponku tapi dia hanya memanggil-manggilku dan suaranya menghilang begitu saja. Aku sangat khawatir, yeobbo."
"Tenangkan dirimu, Chullie-ah, Donghae pasti baik-baik saja."
"Bagaimana aku bias tenang, Hannie-ah. Firasatku mengatakan sebaliknya. Aku mau ke rumah mereka sekarang."
"Tapi ini masih malam, chagiya, besok pagi saja." Bujuk Hankyung.
"I don't care." Ucap Heechul mutlak.
Heechul turun dari ranjangnya dan mengambil jaket di lemari. Tidak dihiraukannya kata-kata yang keluar dari mulut suaminya. Heechul menyambar kunci mobil yang ada di meja riasnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Melihat tingkah laku Heechul, Hankyung hanya menghela napas panjang dan segera beranjak menyusul Heechul. Tidak mungkin kan dia membiarkan Heechul menyetir sendiri di malam hari dengan emosi yang tidak stabil? Hankyung tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa istri tercintanya itu.
.
.
.
Setibanya di rumah anak dan menantunya, Heechul segera menuju ke kamar mereka dengan langkah cepat.
'Braaaak'
Heechul membuka pintu kamar dengan kasar dan tidak berperi-kepintuan. Kedua matanya membulat sempurna mendapati keadaan menantu tersayangnya yang kehilangan kesadarannya tergeletak tak berdaya di lantai dengan noda darah yang cukup banyak di daerah pangkal pahanya pada piyama mininya. Segera Heechul menghampiri Donghae dan merengkuh tubuh Donghae, air matanya sudah mengalir menganak-sungai di kedua pipinya.
"Donghae-ah! Donghae-ah! Ireona!" Heechul menepuk-nepuk kedua pipi mulus Donghae, berusaha menyadarkan Donghae.
"Jebal, ireona, chagiya! Bertahanlah!" hati Heechul hancur berkeping-keping melihat keadaan Donghae.
Sementara Hankyung berjalan menuju ranjang di mana Siwon terlelap di atasnya dalam keadaan topless dengan selimut menyelimuti perut hingga kakinya.
'PLAK'
Hankyung mendaratkan tangannya dengan sangat keras di pipi tegas Siwon. Siwon -yang mendapatkan tamparan gratis dari Hankyung- terperanjat duduk dan sontak kedua matanya terbelalak saat mendapati Hankyung di hadapannya dengan wajah garang segarang-garangnya yang belum pernah dilihatnya.
"Ap-appa." Siwon takut setengah mati.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRIMU, CHOI SIWON? KAU MEMPERKOSANYA, HAH?" teriak Hankyung kalap.
Siwon menundukkan kepalanya, dia tidak mempunyai keberanian sedikit pun untuk menatap mata sang appa yang sedang dikuasai amarah. Hati Siwon sakit sekali mendapati kondisi Donghae, apalagi Donghae menjadi seperti itu karena ulahnya.
"Mi-mian."
"KAU TIDAK BERGUNA, CHOI SIWON!"
'PLAK'
Kembali tangan Hankyung melayang, kali ini menampar pipi kiri Siwon.
"Kita harus segera membawa Donghae ke rumah sakit, Hannie-ah." Ujar Heechul menghentikan tangan Hankyung yang hendak menampar Siwon untuk yang ketiga kalinya.
"Appa sangat kecewa padamu, Siwon-ah." Ucap Hankyung dengan nada perkataan yang sarat akan rasa kekecewaan.
Hankyung menghampiri Heechul dan Donghae kemudian menggendong Donghae keluar dari kamar. Sebelum mengikuti Hankyung, Heechul menatap Siwon sejenak. Tidak ada kata-kata yang meluncur dari mulut Heechul, dia hanya menatap anak semata wayangnya. Mendapati sorot mata sang eomma yang memancarkan kekecewaan, hati Siwon semakin hancur berkeping-keping.
.
.
.
-at hospital-
Di ruangan bercat putih dengan bau obat-obatan yang menyengat itu, terlihat seorang yeoja berparas cantik yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan wajahnya yang sangat pucat. Seorang wanita paruh baya –Heechul- tampak tertidur –sambil duduk- di samping kanan sang pasien. Sementara tangan kirinya yang tidak di infuse digenggam erat oleh seorang namja tampan –Kibum- yang tak henti-hentinya menatap wajah pucat yang terlelap itu, kecemasan tergambar jelas dari sorot matanya. Sementara di single sofa ruang rawat itu, sosok namja paruh baya –Hankyung- tengah terlelap karena letih.
Penasaran mengapa Kibum yang berada di samping Donghae, bukan Siwon yang merupakan suaminya sendiri?
Setelah mendapatkan telpon dari Jungsoo aka Leeteuk –eomma Donghae- yang telah diberi tahu keadaan putrinya oleh Heechul, Kibum bergegas ke rumah sakit tempat Donghae dirawat. Sementara Siwon masih berada di rumahnya mengutuk dirinya sendiri atas perbuatan kejinya terhadap sang istri. Selama 2 jam ketiga orang itu -Hankyung, Heechul dan Kibum- menunggu operasi Donghae selesai, akhirnya janin dalam perut Donghae bias diselamatkan. Kemudian Donghae dipindahkan ke ruang rawat yang kini ditempatinya.
Kedua mata Kibum sedikit berbinar senang saat mendapati adanya gerakan kecil yang dilakukan Donghae.
"Noona." Kibum mengeratkan genggaman tangannya pada Donghae.
"Heechul-sshi, sepertinya noona akan segera sadar." Kibum membangunkan Heechul yang ada di seberangnya. Heechul membuka kedua matanya yang langsung terfokus pada Donghae.
"Chagiya." Pekik Heechul tak kalah senang melihat tanda-tanda Donghae akan sadar. Dibelainya lembut surai hitam Donghae.
"Eomma…" rancau Donghae lirih.
Heechul mengerti bahwa yang Donghae panggil bukanlah dirinya, melainkan Leeteuk.
"Eomma dan appamu sedang dalam perjalanan, chagiya." Tutur Heechul lembut.
Perlahan Donghae membuka kedua manic kelamnya nan indah.
"Bayiku.." ujar Donghae lirih. Tangannya yang tidak digenggam oleh Kibum meraba perutnya, cairan bening itu siap meluncur dari kedua bola matanya,
"Dia baik-baik saja, cahgiya. Istirahatlah." Heechul menjawab kegalauan menantunya,
Donghae kembali menutup kedua matanya, kondisi tubuh Donghae masih sangat lemah. Respon-respon yang dia tunjukan pun tidak banyak, bahkan dia tidak menyapa Kibum di sampingnya dan tengah menggenggam tangannya.
Satu jam kemudian, pintu ruang inap Donghae terbuka dan menampilkan sepasang suami-istri yang tak lain adalah orang tua Donghae. Leeteuk langsung menghampiri putri tercintanya, sementara Kangin yang juga tidak kalah khawatir dari Leeteuk mengekor di belakang istrinya. Kibum melepas genggaman tangannya pada Donghae dan mundur beberapa langkah guna memberi ruang bagi Kangin dan Leeteuk untuk mendekat pada Donghae.
"Omona, chagiya, kenapa bisa seperti ini?" Leeteuk miris melihat keadaan putri semata wayangnya. Dibelainya lembut surai hitam Donghae dan mengusap pipinya.
"Bagaimana dengan cucu kita, Chullie-ah?" Tanya Kangin pada Heechul.
"Syukurlah dia baik-baik saja."
"Mian mengecewakan kalian, aku telah membesarkan anak yang tidak berguna." Ucap Hankyung yang sudah bagun dari tidurnya dan berdiri di samping Kangin.
"Yang penting Donghae dan cucu kita tidak apa-apa." Balas Kangin sembari menepuk bahu Hankyung, padahal dirinya sangat ingin mematahkan tulang-tulang Choi Siwon –menantunya- yang telah membuat anaknya sakit seperti itu tapi akal sehat masih menguasainya. Tidak mungkin dia melimpahkan semuanya pada besannya kan?
Merasa ada yang mengganggu kenyamanan tidurnya, Donghae membuka matanya perlahan.
"Chagiya, gwaenchanayo? Eomma di sini."
Donghae memalingkan wajahnya ke arah sumber suara. Donghae menatap Leeteuk, namun sorot matanya kosong, tidak seperti biasanya yang lembut dan menenangkan. Dapat terbaca di matanya memancarkan kesedihan dan kepedihan yang ia rasakan.
"Eomma.." suara Donghae melantun lirih dan lemah.
"Ne, chagiya, eomma ada di sisimu." Leeteuk mengecup lembut kening Donghae. "Istirahatlah."
Donghae kembali memejamkan kedua matanya, menyembunyikan kedua manic indahnya.
.
.
.
#keesokan harinya#
Ruang rawat inap Donghae pagi itu terlihat ramai. Di sana telah hadir Kyuhyun, Sungmin, Yesung, Ryeowook, Kibum –yang tidak beranjak sedikit pun dari sisi Donghae-, Heechul, Leeteuk dan Kangin, sedangkan Hankyung harus pergi ke perusahaan untuk menghadiri suatu rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan.
Di manakah Choi Siwon, sang tersangka utama atas peristiwa ini? Mungkin dia sedang menyiapkan mental untuk menemui Dongahe dan berhadapan dengan ayah mertuanya yang siap mencincang dirinya.
"Syukurlah keponakan ku baik-baik saja, aku khawatir setengah mati, sampai-sampai aku tidak bernapsu bermain dengan istriku –PSP-" gurau Kyuhyun mendapatkan jitakan sayang dari sang kekasih –Sungmin- yang mampu mencairkan suasana.
"Tentu saja, Kyu, dia kan anak yang kuat." Kata Donghae seraya tersenyum tipis. "Gomawo sudah menjengukku."
"Aish kau ini, Hae, kami ini sangat khawatir denganmu dan keponakan kami." Ucap Sungmin yang diamini oleh yang lainnya. Sedangkan Donghae hanya membalasnya dengan senyuman.
"Kau tidak syuting, Kibum-ah?" Tanya Yesung pada Kibum.
"Aku syuting nanti siang, hyung."
"Kau di sini sedari tadi malam, Kibum-ah?" kali ini Ryeowook yang bertanya.
"Ne, Wookie noona."
"Pulanglah, Bummie-ah, kau pasti lelah." Saran Donghae.
"Aku tidak lelah, noona." Kibum menampilkan killer smile andalannya.
Suara gesekan engsel pintu mengalihkan perhatian semua orang yang ada di ruangan itu kecuali Donghae. Sepertinya dia sudah tahu siapa pelaku yang membuka pintu. Muncullah sosok berbadan atletis dengan paras tampannya yang kusut yang tak lain adalah Choi Siwon. Dihampirinya ranjang di mana Donghae berbaring. Mengerti akan situasi, semua orang yang mengelilingi Donghae –KyuMin, YeWook dan Kibum- pergi menuju sofa ruang tunggu di mana Kangin, Leeteuk dan Heechul duduk.
Hatinya mencelos melihat paras cantik Donghae yang sangat pucat dan tubuhnya yang terbaring lemah tak berdaya. Siwon meraih tangan Donghae, digenggamnya lembut nan erat. Donghae memalingkan wajahnya, tidak ingin menangkap refleksi Siwon di kedua manic nya.
"Mianhae, chagiya. Aku memang tidak pantas mendapatkan malaikat sepertimu. Mianhae telah menyakitimu dan uri aegya." Siwon mengecup tangan Donghae berkali-kali namun Donghae tetap tidak bergeming.
"Hae-ah, umpatlah aku sesukamu, pukullah aku, tapi kumohon jangan mengacuhkanku seperti ini, jebal~"
Donghae masih mengunci rapat mulutnya dan tidak bereaksi apa-apa.
Siwon mengangkat tangannya yang tidak menggenggam tangan Donghae menuju pipi porselen istrinya itu dan mengusapnya lembut.
"Mianhae." Siwon menundukkan kepalanya.
Kangin yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya berjalan menghampiri Siwon, sementara Leeteuk dan Heechul yang khawatir akan kondisi Donghae ikut beranjak dari duduknya menghampiri Donghae. Kangin melepaskan tangan Siwon yang menggenggam tangan Donghae dengan kasar.
'PLAK'
Tangan kekar Kangin mendarat di pipi tegas Siwon. Donghae memejamkan matanya saat mendengar suara yang menyayat hatinya itu, tangannya meremas seprai kasur. Semarah apapun dirinya pada Siwon tetap saja Siwon adalah suami yang sangat dicintainya.
"Aku sangat kecewa padamu, Siwon-ah. Kalau kau tidak sanggup menjaga Donghae lagi, kembalikan dia padaku."
Mendengar penuturan Kangin, sontak kedua mata Siwon terbelalak kaget. Sama halnya juga dengan kelima orang yang duduk diam di sofa yang tak kalah terkejut mendengar kata-kata yang Kangin lontarkan.
"Kangin-ah!" seru Leeteuk pada suaminya yang tidak Kangin hiraukan sama sekali.
"Kangin-ah, tolong jangan gegabah." Kali ini Heechul ikut angkat bicara.
"Aniyo, appa, aku sangat mencintai Donghae, aku tidak akan sanggup tanpanya. Kumohon beri aku kesempatan, appa." Siwon berlutut di hadapan Kangin.
Kangin menolehkan kepalanya ke arah istri, besan dan anaknya. Ditatapnya dalam kedua mata sang istri yang menyiratkan penuh permohonan.
"Jika kau menodai kepercayaanku lagi, aku akan mengambil Donghae." Setelah melancarkan ancaman kepada menantunya, Kangin membawa kakinya pergi dari ruang rawat inap Donghae.
"Gomapta, appa." Siwon masih dalam posisinya berlutut dan menundukkan kepalanya, ada sedikit –sangat- kelegaan di hatinya.
.
.
.
Kamar rawat inap Donghae tampak sepi, di sana hanya terdapat Donghae yang sedang tertidur pulas ditemani Kibum yang menggenggam tangan Donghae dan terus memandangi wajah damai Donghae yang sedang tidur yang masih terlihat sedikit pucat. Tidak ada bosannya Kibum menikmati paras cantik bak bidadari Donghae. Suara gesekan pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Kibum. Tertangkap oleh retina matanya sosok rival nya tengah memasuki ruangan. Tatapan mata Kim Kibum begitu tajam menusuk Siwon, akan tetapi Siwon tetap tenang dan memasang stoic face nya. Hey, tidak mungkin kan Siwon takut dan menunjukkan kegalauan hatinya pada rival nomor satunya?
Andai saja –memukul- menganiaya orang lain tidak melanggar hukum negara maupun agama, sudah dipastikan Siwon telah membuat Kibum babak belur dan meraung kasakitan.
"Pulanglah, Kibum-sshi, aku akan menjaga Donghae." Siwon melangkah mendekati ranjang Donghae. Kibum yang mendengar perkataan Siwon terkekeh pelan meremehkan. Dihampipinya Siwon yang masih berdiri tidak jauh dari ranjang Donghae.
"Menjaga katamu, Siwon-sshi?" Kibum tersenyum sinis. "Kau bahkan telah menyakitinya, bagaimana caramu menjaganya? Jika kau membuatnya menderita, aku tidak akan segan-segan merebutnya darimu. Aku yang akan melindungginya. Camkan itu, Siwon-sshi." Kibum meninggalkan Siwon yang masih terpaku menahan emosi. Lihat saja kedua tangan Siwon yang sudah terkepal erat, siap melayangkan tinjunya.
"Never, Kim Kibum, even in your dream." Siwon menggeram kesal.
Siwon menghampiri sang istri yang masih terkulai lemas di ranjang rumah sakit,. Ditatapnya sendu paras cantik sang istri yang kini putih pucat, tidak seperti biasanya yang terlihat segar dan ceria. Tangan kanannya terulur membelai pipi Donghae dengan sangat lembut, takut mengganggu kenyamanan Donghae.
"Mianhae, jeongmal mianhae." Tanpa bisa dicegah, Siwon menitikkan air matanya dan terjatuh di wajah Donghae sehingga membuat Donghae terbangun dari tidurnya.
Seketika Donghae terkejut mendapati pemandangan yang terbilang amat sangat langka di hadapannya, Siwon menangis. Seorang Choi Siwon menangis! Tetapi dalam sekejap Donghae kembali mengenakan topengnya, wajah dingin. Dipalingkan mukanya dari Siwon, pandangan matanya kosong dan menatap lurus ke depan.
"Kutuklah aku sesukamu, Hae-ah. Pukullah aku sepuasmu, tapi kumohon jangan begini. Jangan mengacuhkanku. Jebalyo~"
Tangan Donghae mencengkram seprai dengan erat, menahan air matanya agar tidak mengucur keluar. Dia masih setia memasang wajah datarnya dan seolah menulikan telinganya.
"Jeongmal mianhaeyo, aku telah menyakitimu dan uri aegya. Aku memang brengsek, aku tidak pantas mendampingimu."
Siwon menelan ludahnya kelu. Dia tidak yakin apakah hal yang akan dia katakana ini adalah sesuatu yang tepat dan apakah dia akan sanggup menjalankan keputusannya ini. Siwon memejamkan matanya sesaat, menahan kepedihan yang dia rasakan.
"Jika kau akan bahagia tanpaku, aku.." ucapan Siwon terputus, "Aku bersedia menghilang dari hidupmu. Gomawo sudah mengizinkan aku memilikimu. Jeongmal mianhae." Siwon menarik tangannya dari pipi Donghae dan hendak melangkah pergi sebelum sebuah tangan menggenggam tangannya, mencegahnya supaya tidak pergi. Ya, tangan milik Donghae yang menahannya.
"Gajima." Suara parau Donghae melantun keluar dari mulutnya.
Siwon terpaku sejenak, dia masih setengah sadar mendengar suara Donghae. Benarkah Donghae mencegahnya pergi? Siwon membalikkan badannya dan mendapati Donghae yang sudah berlinangan air mata.
"Gajima, Siwon-ah." Ulang Donghae.
Siwon tidak tega melihat Donghae menangis dan tampak begitu menderita.
"Hey, uljimayo, chagiya. Air matamu terlalu berharga. Mata indahmu tidak layak digunakan untuk menangis." Siwon mengusap kedua pipi Donghae lembut dengan ibu jarinya.
Kini tangan Donghae terulur mengusap pipi Siwon yang menjadi korban' pendaratan' tangan kekar Kangin –appanya. Donghae menatap Siwon dengan tatapan sendunya.
"Pasti sakit, hem?" air mata Donghae kembali mengalir.
Siwon menggeleng perlahan. "Aniya. Aku pantas mendapatkannya, bahkan ini belum cukup untuk menebus apa yang aku lakukan padamu."
"Apa Han-appa juga menamparmu?"
"Ne, bahkan appa memberikan dua." Siwon terkekeh pelan menjawab pertanyaan Donghae.
"Aish, kau ini." Donghae menepuk pelan pipi Siwon seraya terkekeh keci pula.
"Jadi, apa kau memaafkanku dan bersedia memberiku kesempatan kedua, chagiya?" Tanya Siwon penuh harap.
"Mollayo, tapi aku tidak mau menyandang prediakat eomma kejam yang memisahkan appa dan aegyanya." Donghae menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Artinya kau memaafkanku, chagiya."
"Aku tidak bilang begitu."
"Jinjjayo?"
Siwon mengeliminasi jarak antara dirinya dn Donghae, mempertemukan bibir mereka. Tidak ada nafsu di ciuman itu, hanya sebatas menempelkan bibir mereka dan menyalurkan rasa cinta pada sang belahan jiwa. Kedua tangan Donghae terangkat menyentuh pipi Siwon, sedangkan tangan Siwon masih setia membelai kedua pipi Donghae. Setelah beberapa menit terhanyut dalam ciuman yang sarat akan cinta itu, Siwon mengakhirinya dan menatap kedua manic sang istri yang sangat ia rindukan dengan hangat.
"Gomawo, chagiya." Siwon mengecup kening Donghae lembut, Donghae menikmati sentuhan Siwon.
"Temani aku tidur, Wonnie-ah."
"Tentu, chagiya." Siwon mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang Donghae dan menggenggam tangan Donghae.
"Bukan di situ." Rancau Donghae manja.
"Arraseo." Siwon tersenyum dan beranjak memposisikan dirinya di ranjang –di samping Donghae. Lengan kanannya Donghae gunakan sebagai bantal sedangkan tangan kirinya mendekap perut Donghae yang agak buncit, tangan kiri Donghae –yang tidak diinfus- diletakkan di atas tangan Siwon yang mendekap perutnya. Donghae meposisikan dirinya senyaman mungkin dalam rengkuhan sang suami.
"Jaljayo, chagiya. Have a good rest, nae aegya." Tutur Siwon pada Donghae dan janin yang tengah dikandungnya.
"Saranghae."
Siwon terpaku sesaat mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulut Donghae. Hatinya melompat-lompat gembira mendengar kata cinta dari Donghae yang sudah sangat lama ia nantikan. Senyum merekah di bibir kissablenya serta menampilkan dimple di kedua pipinya.
"Nado saranghae. Neomu neomu saranghamnida, Hae-ah." Siwon mengecup pucuk kepala Donghae dan mengeratkan pelukannya –tapi tidak sampai membuat Donghae tersiksa. Siwon menarik selimut menyelimuti tubuhnya dan Donghae hingga sebatas pinggangnya.
Donghae memejamkan matanya, angelic smile nya pun tak lupa membingkai paras cantiknya. Di dalam dekapan hangat Siwon, ia tertidur dengan nyaman dan damai. Siwon pun menyusul Donghae ke alam mimpi dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan karena kesabarannya selama ini tidaklah sia-sia.
.
.
.
Sang surya telah menampakkan kekuasaannya, menggantikan rembulan yang telah menunaikan tugasnya menerangi malam. Sinarnya yang menyilaukan menembus celah-celah tirai putih yang membatasi ruangan bernuansa putih itu dengan dunia luar. Secercah cahaya yang berhasil menembus tirai itu, sukses mengganggu keasyikan dua insan yang tengah berada di dunia mimpi mereka.
"Eungh." Sesosok yeoja rupawan yang berada di dalam dekapan seorang namja menggeliat kecil karena merasa terganggu dengan masuknya sinar mentari.
Tanpa mereka sadari, beberapa orang –tepatnya 9 orang- sedang memandangi keduanya dengan mulut terkunci rapat. Tidak ada niat sedikit pun untuk mengganggu fenomena romantis yang tengah disuguhkan di depan mata. Bersikap selayaknya penonton yang baik dan menikmati drama yang sedang diputar. Namun diantara mereka yang menyaksikan kemesraan Siwon dan Donghae dengan senyum bahagia, ada satu orang yang jantungnya berdenyut sakit. Tapi apa daya, untuk menyempurnakan acting yang sedang dilakoninya, ia harus tetap bertahan di sana dengan hati yang pedih.
Donghae membuka matanya perlahan dan mengerjap-ngerjapkan nya guna beradaptasi dengan silau cahaya yang mengetuk kelopak matanya. "Wonnie-ah, bangun." Donghae kembali menggeliat dalam dekapan Siwon.
"Five minutes more, chagiya." Siwon tetep menutup matanya dan malah mengeratkan pelukannya pada Donghae.
"Kau tidak bekerja, hm? Bagaimana kalau Han-appa memecatmu?"
"Appa tidak akan tega melakukannya padaku, appa dari cucu kesayangannya."
"Aku akan mencari appa baru untuk aegya kalau sampai kau dipecat."
"Aku akan bunuh diri."
"Aish." Donghae mencubit kecil tangan Siwon yang memelik perutnya.
"Aku akan benar-benar memecatmu, anak malas."
Sontak Siwon membelalakkan kedua matanya saat suara yang sangat familiar menembus gendang telinganya, begitupun Donghae yang tak kalah terkejut. Siwon membalikkan badannya dan obsidiannya membidik sosok yang telah bersuara tadi.
"Ap-appa. Sejak kapan kalian semua ada di sini?"Tanya Siwon. Betapa kagetnya dia ketika mendapati kedua orang tuanya, kedua mertuanya, KyuMin, YeWook dan Kibum telah berada di ruang rawat inap istrinya.
Donghae mendudukkan dirinya di ranjang sedangkan Siwon sudah berdiri di samping ranjang Donghae dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali untuk sekedar menghilangkan kegugupannya. Siwon dan Donghae tersenyum kikuk.
"Tidak lama kok, chagiya, yang jelas cukup puas untuk menyaksikan drama romantis kalian." Leeteuk terdenyum jahil.
"Choi Siwon, mantra apa yang kau gunakan pada putriku, eoh?" Kangin ikut membuka suara.
"Kangin-ah, apa kau tidak tahu kalau nae Siwonnie pandai merayu." Heechul ikut menggoda Siwon.
"Hyung, ajarkan aku jurus rayuan mautmu." Si evil Kyuhyun pun tak mau ketinggalan meramaikan suasana.
"Siwon-ah, kau benar-benar daebbak!" Yesung mengacungkan kedua jempolnya pada Siown.
"Hae eonnie sudah terperangkap dalam jerat Siwon oppa." Goda Ryeowook.
"Hadirin sekalian, sebaiknya kita tinggalkan saja pasangan romantis ini." Sungmin mengusulkan.
"Ne, kau benar, Sungmin-ah, kajja kita keluar." Heechul mendukung usul Sungmin.
Mereka bersembilan pun meninggalkan Siwon dan Donghae berdua. Tanpa mereka semua sadari, Kibum menatap nanar pada Donghae sebelum meninggalkan ruangan itu –walaupun hanya sejenak.
.
.
.
T~B~C
Apakah ff ini akan dimusnahkan lagi?
Adakah yang menghendaki ff ini dituskan?
Mind to REVIEW?
