Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Death Note belongs to Takeshi Obata and Tsugumi Ohba
Warning : AR, time travel, typos dan sederet kesalahan lain
.
.
.
Lembayung senja tampak menuruni garis cakrawala. Saat yang tepat untuk mengakhiri latihan yang membebani raga. Seorang gadis berambut merah muda duduk di bawah pohon angsana. Ia mengusap butiran peluhnya. Manik kehijauannya memandang lepas areal latihan yang terpaut beberapa puluh meter dari tempatnya berada. Yang tertangkap olehnya hanya siluet pemuda Inuzuka dengan pemuda pecinta serangga.
Aneh.
Beberapa hari ini ia tak mendapati presensi sang heiress Hyuuga. Tak heran bila dua pemuda itu kian intens terlibat keributan tak berguna. Ia sudah pernah bertanya tentang ketidakhadiran Hinata. Tapi yang didapatnya bukanlah jawaban yang diharapkannya.
"Hinata menerima misi rahasia dari Hokage-sama."
Itu jawaban Kiba saat ia bertanya. Namun sorot mata Kiba saat itu merefleksi sebuah rahasia. Lagipula seandainya Hokage memang memerintahkan Hinata menjalankan misi rahasia, mengapa anggota Tim 8 lain tidak ikut serta?
"Oi, Sakura. Ayo, kita pulang. Aku akan mengantarmu." Suara khas milik pemuda Uzumaki membuyarkan lamunan Sakura.
Gadis itu menoleh ke arah rekan satu tim sekaligus kekasihnya. Mungkinkah … mungkinkah … Hinata pergi untuk menyembuhkan luka hati karena Naruto lebih memilihnya? Atau jangan-jangan …
Sasuke juga tak terlihat semenjak beberapa hari yang lalu. Mengaitkannya dengan menghilangnya Hinata, mungkinkah Sasuke menjadi partner Hinata menjalani misi rahasia itu? Memang terasa masuk akal, tapi masih tetap terasa ambigu.
"Hey, ayo. Apa yang kaupikirkan, Sakura-chan?" tanya Naruto.
"Hinata..., " gumam Sakura ragu-ragu.
"Hinata sedang menerima misi rahasia dari Tsunade-baachan. Whoaa~~ kedengarannya keren, ya? Aku tak menyangka, dia ... "
"Semoga saja memang begitu," ucap Sakura sembari bangkit dari posisinya, "ayo, pulang. Tawaranmu mengantarkan aku pulang masih berlaku, kan?"
"Tentu saja," Naruto ber-hi-five ria. Ia menggerakan lengannya untuk merangkul Sakura.
"Jangan sok mesra, Baka!" tukas Sakura.
"Iya, iya, maaf ... " ucap Naruto, "huh, padahal kan aku kekasihmu, Sakura-chan."
Sakura tak tertarik menanggapi ucapan kekasihnya. Benaknya dipenuhi berbagai prasangka. Tersisip tekad dalam hati untuk mengurai enigma dibalik menghilangnya Sasuke dan Hinata. Ia sudah memikirkan siapa yang patut untuk ditanya.
"Aku takkan membiarkan temanku pergi begitu saja. Tsunade-sama harus memberikan penjelasan padaku tentang misi rahasia yang diterima Hinata."
.
.
.
Near menggerakkan jemarinya demi mengakses database yang tersaji. L dan Hinata turut mengamati layar digital yang menjadi pusat atensi. Uh, nyatanya bukan hanya dimensi ruang yang memiliki peta penunjuk lokasi. Di hadapan mereka, sebuah peta waktu menunjukkan eksistensi. Menghubungkan berbagai lini dengan waktu yang menjembatani.
"Seseorang telah mencuri TR1209 dari ayah saya," ucap Near.
Near menunjuk satu noktah yang bergerak dengan kecepatan konstan. L memerhatikan garis putus-putus yang mengiringi pergerakan noktah yang ditunjuk bocah dari masa depan. Membandingkannya dengan garis-garis lain yang telah tercipta, ia mengerti mengapa Near berkata demikian. Terlebih bila melihat pola reversibel dari garis putus-putus yang nyaris bersinggungan.
"Bisakah kita menghentikan mereka dari sini?" tanya L, "Jika Light-kun sedang bersama Sasuke-kun, sangat mungkin Light-kun yang sekarang mengendalikan TR1209."
"Kita hanya bisa mengamati, Grandpa," ucap Near, "mungkin dengan mengirimkan pesan pada mereka akan membuat mereka menghentikan pergerakan TR1209."
L ingat, ia pernah menerima sebuah pesan yang dikirimkan Itachi. Dan kini langkah serupa akan ditempuhnya demi menjalin koneksi. Ia menggerakkan jemarinya demi mengetikkan sintagma pembawa notifikasi.
Beragam konsepsi beraglomerasi di otak kiri. Memberi beragam opsi yang menuntut untuk dikaji. Manik legamnya merefleksi, tak ada satu eksposisi pun yang luput dari observasi.
Demi secangkir earl grey, L takkan membiarkan sang pembunuh keji melarikan diri. Apalagi menebar teror lintas dimensi. Tidak, teror Kira harus segera diakhiri dengan Light Yagami yang memberikan sebuah kapitulasi.
Atensi ketiganya kembali tercuri saat tombol berwarna merah berkedip beberapa kali. Sebuah pesan guna membalas notifikasi. Ugh, bahkan dalam pesan multidimensi pun, Kira masih tetap menunjukkan arogansi.
Berbuatlah semaumu, Ryuzaki. Karena sang waktu memberiku sebuah kunci. Semuanya hanya akan berakhir dengan keadilan yang harus kujunjung tinggi.
Jelas ini bukan sebuah kapitulasi. Baik L maupun Near berupaya melakukan interpretasi atas sebuah terminologi. Boleh jadi ini justru upaya Light untuk menantang L secara tersembunyi. Seulas senyum singkat terbit di bibir Ryuzaki. Aroganitas Light membuat Sang Dewa Keadilan melupakan setiap probabilitas yang mungkin terjadi.
Termasuk presensi Near yang tak terekspektasi.
"Near-kun punya rencana?" tanya L, "mesin itu milik ayah Near-kun. Saya pikir Near-kun memiliki preferensi untuk menentukan rencana untuk mengambil mesin itu kembali."
"Saya rasa tujuan mereka adalah Konohagakure. Tak ada salahnya mengikuti mereka. Setidaknya, saya harus menemukan ayah saya lebih cepat daripada mereka," ucap Near, "dan saya rasa, ayah saya akan senang bertemu dengan Grandma dan Grandpa."
L melirik ke arah istri masa depannya. Seperti yang ia terka, pipi ranum Hinata terhiasi semburat sewarna kelopak sakura. Andaikata tak ada Near di sini, mungkin ia takkan tahan untuk memberikan sebuah kecupan yang membuat Hinata semakin merona.
"Sungguh, Tuhan memang memiliki selera seni yang tinggi. Saya tak tahu teori warna macam apa yang digunakan. Yang saya tahu, kromatisitas warna merah pada pipi memiliki korelasi dengan akselerasi denyut jantung organisme yang terikat afeksi," ucap L.
Near mengulas senyum tipis. Sepenuhnya ia memahami arti dari setiap verbal yang dilontar detektif eksentris. Sebuah seduktif yang nyata-nyata tertuju pada gadis Hyuuga berwajah manis.
Rona merah di kedua pipi Hinata kian menebal. Jujur saja ia memang senang walaupun terselip sedikit rasa sebal. Hinata sebal, kenapa L harus merayunya di tengah presensi cucunya yang belum lama ia kenal. Ia sebal setiap kali memandangi manik monolit L yang mengharap jawabannya atas sebuah seduksi frontal.
"Grandpa bertanya apakah Grandma mencintainya?" Determinasi Near semakin membuatnya tak bisa menghindar dari seduksi L.
Demi byakugan milik seluruh klan Hyuuga, Hinata lebih suka kedua pemuda stoik itu kembali mendiskusikan strategi rumit yang tengah mereka hadapi. Setidaknya dengan begitu, keduanya takkan menempatkan Hinata sebagai objek sentral yang patut diberikan atensi. Bagi seorang kunoichi pemalu sepertinya, membalas ungkapan cinta bahkan lebih sulit ketimbang menjalankan sebuah misi.
"A-aku ... " Hinata didera rasa gugup berkepanjangan, "a-aku me ... "
Tombol merah yang kembali berkedip membuat Hinata urung melanjutkan ucapannya. Diam-diam gadis Hyuuga itu bersyukur karenanya. Bersama kekasih dan cucunya, ia memerhatikan layar yang menampilkan sebuah pesan yang baru saja tiba.
Sebuah pesan yang tak diduga sebelumnya.
Sebuah pesan dari Sasuke Uchiha.
.
.
.
Fokus dari sepasang iris monolit itu tak pernah lepas dari sosok Light Yagami. Sungguh pun ia tak begitu mengerti data macam apa yang dikehendaki, ia tahu pemuda itu memiliki maksud tersembunyi. Dengan kredibilitasnya sebagai Dewa Keadilan yang kerap melakukan eksekusi, bukan tak mungkin Light bermaksud mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.
Terlebih kala melihat reaksi Light atas notifikasi yang dikirim kekasih Hinata.
Manik amber itu … seakan benar-benar menghendaki Ryuga Hideki, Ryuzaki atau siapapun itu untuk menyerah. Menyerah untuk membuktikan bahwa Light memang nyata-nyata bersalah. Dan dalam hal ini, kematian adalah manifestasi dari apa yang disebut kalah.
Sasuke memang telah menulis namanya dalam Buku Kematian. Tujuh hari adalah waktu yang ia berikan pada Light untuk sedikit mencari kesenangan. Sial, Sasuke tak memperhitungkan sebuah kemungkinan. Masihkah kutukan Death Note berlaku bagi mereka yang bergerak mundur menuju masa lalu yang terlupakan? Ugh, pemuda satu ini memang benar-benar merepotkan.
"Ada apa?" Light mengerutkan alis kala mendapati tatapan tajam Sasuke.
"Katakan padaku, apa rencanamu sebenarnya, Tuan Yagami?" Sasuke memberikan aksentuasi pada frasa 'Tuan Yagami'.
"Menurutmu?" Light balik bertanya.
"Jangan berharap kaubisa lari dari takdir kematianmu sendiri, Yagami," ucap Sasuke.
Light Yagami tertegun, menatap tatapan sarat ancaman yang diberikan sang shinobi. Hanya berselang beberapa saat, ia menyeringai. Sedikit memuji kecerdasan Sasuke dalam membaca situasi.
Hey, sisa hidupnya memang hanya beberapa hari lagi. Tapi jika ia bisa memperlambat waktu dengan mengunjungi masa lalu, maka kutukan itu tak lagi berarti. Lebih dari itu, dengan mesin ini ia bisa mendatangi Ryuzaki, mencari tahu identitasnya lalu menggiringnya menuju peti mati. Ia bahkan tak membutuhkan Death Note untuk menjalankan eksekusi. Khusus untuk Ryuzaki, sepertinya akan lebih menyenangkan jika ia bisa membunuhnya dengan tangannya sendiri.
Dan hal pertama yang harus dilakukannya adalah menyingkirkan Uchiha Sasuke.
Light jelas butuh cara yang halus namun mematikan. Sedikit saja kesalahan, maka mangekyou sharingan pemuda itulah yang akan ia dapatkan. Tak ada cara lain selain menggiring pemuda itu melakukan sebuah blunder yang membuatnya terpaksa menelan pahitnya kekalahan.
"Jika memang tak ada masa depan untukku, maka masa depanku adalah repetisi dari masa lalu. Sama seperti halnya sejarah yang terus berulang," tukas Light.
"Kau!" Sasuke menggeram dengan gumpalan amarah di matanya. Keputusannya membawa Light turut serta demi menuntaskan ambisinya sebelum maut menjemput nyatanya justru menjadi bumerang baginya. Pemuda ini ... tidak ... makhluk ini ... sebenarnya terbuat dari apa?
Kedua tangan Sasuke membentuk segel chidori. Ya, kejutan listrik sepertinya akan jadi terapi yang bagus untuk si sulung Yagami. Persetan jika langkahnya ini akan membuat mesin ini terdestruksi. Toh, ia masih bisa melarikan diri dengan mangekyou sharingan yang ia miliki.
"Chidori!"
Gumpalan arus listrik itu tertuju pada dada kiri. Berharap denyut jantung Light akan terhenti. Sepasang lingkar amber milik Light merefleksi keterkejutan bercampur nyeri. Ia mengerang, membiarkan suaranya memainkan melodi yang menyayat hati.
Brakkk!
Entah kekuatan dari mana, Light mampu membuat Sasuke terhempas. Ia masih terengah-engah mencari pasokan udara untuk bernapas. Kini keterkejutan justru diperlihatkan pemuda yang mengalami paralaks.
"Hahaha ... lihat dirimu, Uchiha. Kau sendiri yang menulis namaku dalam Death Note dan sekarang kau berniat mengingkari waktu kematianku yang kautulis," Light tertawa, "kau benar-benar menyedihkan, Uchiha. Tak heran kau menjadi Uchiha paling lemah."
Buaghh!
Satu tinju Sasuke melayang, membuat Light jatuh ke belakang. Iblis satu ini, berani-beraninya mengoloknya dengan lancang. Jadi itukah yang sedari tadi diselidikinya melalui database yang tak terpampang?
Satu hal yang paling dibenci Sasuke dari mesin ini adalah kemampuannya meng-copy memori yang tersimpan dalam benak pemakainya. Sial, ia tak paham bagaimana cara mengunci data seperti pemilik sebelumnya. Sasuke selalu mencoba, tapi data tentang pemakai mesin ini sebelumnya tak pernah bisa ia temukan keberadaannya.
Dan kini, iblis tampan satu ini menggunakan data terkait dirinya untuk mengoloknya.
"Aku benar, kan, Tuan Uchiha?" Light mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya yang sedikit robek, "tak heran kau tak pernah menjadi lebih baik dari kakakmu. Mengendalikan emosimu saja kau tak mampu."
"Diam!" bentak Sasuke. Giginya gemeretuk menahan amarah. Sekalipun dalam hati ia mengakui tudingan Light, tapi mengakuinya terang-terangan akan membuatnya terlalu pasrah.
"Simpan energimu, Uchiha," ucap Light, "sebentar lagi kita sampai."
Konohagakure, itu tujuan yang tertera dalam layar kaca. Sasuke tak sepenuhnya mengerti, apa yang dikehendaki Light dari desanya. Tapi sebuah tindakan preventif sepertinya akan berguna. Jika ia tak bisa melakukannya, maka hanya satu orang yang terbesit dalam benaknya.
Dia, kekasih Hyuuga Hinata.
Mencari celah saat Light lengah, Sasuke memilih mengirimkan sebuah pesan pada Ryuga Hideki. Siapa pun pemuda itu, yang pasti dialah lawan sepadan untuk pemuda Yagami. Sasuke tahu, Light datang ke Konohagakure dengan sebuah tujuan tersembunyi. Apapun itu, boleh jadi ia akan menciptakan sebuah tragedi. Dan sebagai seorang Uchiha, Sasuke takkan membiarkan hal itu terjadi.
.
.
.
Hinata, bisakah kau melihatku? Jika kau bisa, ikuti aku.
L menggerakkan manik monolitnya berkali-kali demi membaca pesan dari pewaris Uchiha. Ia yakin pemuda itulah yang mengirimnya. Karena hanya pemuda itu yang mengenali kekasihnya sebagai Hyuuga Hinata.
Sulit memercayai seorang pemuda arogan meminta bantuan. Boleh jadi, ini hanya sebuah jebakan. Labih dari itu, L merasa tak suka dengan pilihan kata yang Sasuke gunakan.
Tapi bagaimana seandainya Sasuke memang membutuhkan bantuan. Boleh jadi Light merencanakan sesuatu yang tak diharapkan. Karena itu, Sasuke berniat melakukan pencegahan.
"Ryu-Ryuga-kun ... " Hinata menoleh ke arah kekasihnya. Ia hanya ingin menjaga perasaan kekasihnya mengingat L sedikit sensitif dengan keluarga Uchiha.
"Tidak apa-apa. Dia bertanya padamu," jawab L sembari mencoba mengendalikan gemuruh di dalam hati.
"Baiklah," ucap Hinata.
Wanita itu mengetikkan sebaris kalimat demi menanggapi pesan yang dikirimkan padanya. Sekedar menjadi penjelasan atas kata 'bantuan' dalam pesan yang diterimanya. Mungkinkah Light berniat mengancam Konoha dengan Death Note-nya? Tapi bukankah Death Note milik Misa telah diamankan oleh Ryuga?
Mungkin di tangan Light tersimpan Death Note kedua. Karir membunuhnya di dimensinya telah terbaca, mungkin ia hendak memilih Konoha sebagai lahan bermainnya. Mungkin juga ia hendak mencari sesuatu di Konoha.
Ah, terlalu banyak probabilitas yang ada di benaknya.
Kutulis namanya dalam Death Note. Dan kini Light sedang mencoba mengingkari takdir kematiannya.
Hinata tersentak kala membacanya. Ia menoleh ke arah L, mencari tahu reaksi apa yang diperlihatkan kekasihnya. Sementara Near hanya mengerutkan alis sembari memainkan ujung rambut putihnya.
"Jadi begitu ... " gumam L, "jadi Light-kun sengaja pergi ke masa lalu untuk memperlambat waktu."
"Buku kematian ... apakah itu semacam kutukan?" Near menyuarakan keingintahuannya.
"Death Note adalah buku yang digunakan untuk mengeksekusi pelaku tindak kriminal. Setiap orang yang namanya tertulis dalam Death Note akan mati dalam empat puluh detik atau sesuai waktu yang ditentukan," jelas L.
"Dan pemiliknya adalah orang yang sekarang berada di dalam TR1209, begitukah?" tegas Near.
L mengangguk, membenarkan konklusi yang diucap cucunya.
"Biarkan saya yang bicara padanya, Grandma." Bocah berumur sekitar sebelas tahun itu menghampiri Hinata yang tengah merangkai kata untuk membalas pesan Sasuke.
"A-aku tak tahu harus lega atau bagaimana. Tapi jika tujuan Yagami-san dan Uchiha-san adalah Konoha, maka ki-kita tak perlu repot untuk memenuhi janji pada ... Itachi-kun," Hinata sedikit ragu kala menyebut nama itu.
Sontak L melayangkan pandangan ke arah calon istrinya. Sungguh, ia tak suka nama itu terucap dari bibir Hinata. Sulit baginya menahan diri untuk tidak bertanya. Tak peduli bahkan dengan presensi Near di antara mereka.
"Saat kabur itu ... kenapa Hikari-san memilih menjadi Itachi Uchiha?" L tahu, ada kecemburuan tersirat dalam pertanyaannya.
Hinata tersenyum melihat gurat-gurat kecemburuan dari kekasihnya. Alih-alih menjawab dengan terbata, ia justru terpikir untuk sedikit menjahili detektif eksentrik maniak gula. Yeah, sepertinya akan menarik jika ia membungkus seduktif dalam balutan kata-kata.
"Aku tak bisa menyamar menjadi Ryuga-kun. Mogi-san pasti akan mengenaliku," ucap Hinata, "lagipula, kupikir Itachi-kun adalah sosok yang err ... keren."
Gurat kekesalan L bertambah saat mendengar Hinata mengucap kata 'keren' untuk Itachi. Ritme degup jantungnya meninggi. Sebuah pukulan telak menghantam tiap kisi-kisi sanubari. Sedikit banyak, ia khawatir atensi Hinata telah terbagi.
"Jadi saya tidak keren, ya," gumam L lirih, nyaris tak terdengar.
Hinata hanya tersenyum geli. Sedikit permainan verbal nyatanya mampu membuat L berkenalan dengan bermacam ekspresi. Terdengar jahat memang, tapi ia menikmati ekspresi L yang bersusah payah menahan rasa kesal yang tersembunyi.
"Ryu-Ryuga-kun...," Hinata memanggil nama pemilik rambut liar, "Ryu-Ryuga-kun terlihat manis kalau sedang cemburu."
L terpana, ia menoleh cepat ke arah Hinata yang tengah merona. Butuh waktu dua detik baginya untuk mencerna lingual Hinata. Astaga ... jadi Hinata hanya bermaksud menggoda. Ugh, kenapa ia tak bisa membacanya?
Sepasang lengan berbalut long sleeves putih melingkari bahu Hinata. Gadis itu bisa merasakan punggungnya menghangat dengan tiba-tiba. Ia tahu, L tengah merengkuhnya. Seakan hendak menyalurkan afeksi tanpa kata. Dalam sekejap, kedua belah pipinya merona.
Near turut tersenyum melihat romansa L dan Hinata. Ia mengakui kebenaran kata-kata ayahnya, Grandpa dan Grandma adalah salah satu pasangan sempurna di dunia nyata. Tak berniat menginterupsi, ia kembali fokus pada layar di depan mata.
Noktah merah dalam layar meredup, tergantikan oleh warna jingga. Sebagai pemilik TR1209, Near tahu apa artinya. Takkan lama lagi, mereka akan segera tiba. Menelusuri jejak keberadaan para pencuri TR1209 miliknya.
Dan mungkin juga mencari di mana keberadaan ayahnya.
.
.
TBC
.
.
Thank's to : botol pasir, *vee~~ gomen kalo buat senpai diksi berimanya 'berat' untuk dibaca. sedikit menyesal, saya harus bilang, tapi inilah gaya bercerita yang sedang saya suka. gomen kalau kurang berkenan orz* Aiwha liu *yup. beberapa kali near udah kasih penegasan di chapter ini*, Freeya Lawliet, UQ, suka snsd *fufufu~~ maafkan saya yang selalu lelet update, ya. soal romance, saya harap nggak terkesan 'maksa'', Yamanaka Emo, Himeka Kyousuke, adeana winchester *halo juga adeana-san. iya tuh, sasuke. belum tahu liciknya light sih', Mei Anna AiHina, raya diu 'ini udah update kok ^^', kaizoku dARknEss , dan Hikaru
'err ... nearhina, ya? nggak bisa janji, ya. sebagai fangirl near, saya tipikal fangirl posesif yang masih agak berat memairingkan near dengan siapapun. tapi request hikaru-san tetap saya pertimbangkan kok'
Yang login, balesan review lewat pm, ya ^^
Glossary:
1. Kapitulasi : pernyataan kalah
2. Sintagma : frasa, gabungan kata
3. Aglomerasi : pengumpulan/pemusatan ke dalam satu wilayah
4. Reversibel : bolak-balik
5. Repetisi : perulangan
Yosh, chapter ini masih belum move on dari mesin waktu. Penekanan chapter ini memang tentang Light-Sasuke yang tak lagi bersatu. Maaf atas keterlambatan update karena aktivitas RL yang menuntut konsentrasi tambahan. Andaikata tak merepotkan, berikan saya setetes pujian (kalau ada) atau semangkuk kritikan untuk menemani saya menikmati liburan (?) ^^
Molto grazie ^^
