REMAKE 'BROKEN HART' by ELLA FOX
BAB 8
Aku terbangun pada Jongin yang berdiri di atasku, mencubitku lembut di pantat. "Ah!" Aku menyalak. "Apa sih yang kau lakukan?"
"Akhirnya aku mendapatkan perhatianmu. Kau benar-benar iblis untuk dibangunkan sayang. Ayolah. Showernya menyala untukmu. Cepat siap-siap dan mari kita pergi makan."
Aku cemberut padanya. "Aku nyaris tertidur. Aku benar-benar terjaga." Aku mengangkat tanganku kepadanya sehingga ia dapat menarikku dari tempat tidur. Aku kecewa bahwa dia berpakaian lengkap.
"Bukankah kau perlu mandi juga?" Dia memelukku dan terkekeh saat ia membawaku ke kamar mandi.
"Tidak sayang. Kau 'nyaris mengantuk' selama empat puluh lima menit terakhir, jadi aku sudah mandi tadi. Selain itu, jika aku masuk ke sana denganmu kita tidak akan pergi makan siang untuk waktu yang lama, dan kita belum makan sejak makan malam. Aku bisa makan zebra. Apa kau tidak lapar?"
Aku tertawa. "Zebra ya? Aku akan mengingatkan kebun binatang untuk waspada padamu."
Aku terkejut ketika aku melihat ke jam di meja di belakangku. Ini hampir siang. Tidak heran aku kelaparan! Aku belum makan sejak makan malam terakhir, dan Tuhan tahu aku mendapat latihan yang keras.
"Kau benar. Beri aku dua puluh menit dan mari kita makan dengan lahap!" Jongin tertawa dan memberiku ciuman cepat dan menepuk punggungku saat ia mundur keluar pintu kamar mandi.
"Dua puluh menit. Aku memegang kata-katamu!"
Aku cukup lapar untuk benar-benar mengangkat pantatku, dan aku keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dikeringkan dan dikuncir ekor kuda sepuluh menit kemudian. Lima menit setelah itu aku sudah siap untuk pergi. Aku memakai gaun halter maxi biru terang favoritku dengan sepasang Ralph Lauren firama espadrilles putih. Dengan semprotan J'adore, aku siap untuk pergi.
Kami memutuskan untuk pergi ke sebuah restoran di Apgujeong, sehingga setelah kita makan aku bisa menjelajahi toko-toko di Cheongdam-dong. Jongin bilang ia akan senang untuk ikut dalam porsi belanja hari ini dan kami pun berangkat.
Pada saat kita sampai di restoran, aku benar-benar rakus. Kami berdua sangat lapar, kami berdua memesan hidangan pembuka dan utama. Ada saat-saat di mana aku bertanya-tanya apa ini akan menjadi canggung, kami berdua duduk di meja ini mencoba untuk mencari tahu apa yang harus dikatakan satu sama lain. Tentu saja itu akan dimengerti—itu luar biasa bahwa enam belas jam yang lalu kami hanya berteman, dan sekarang kami sudah melakukan seks yang luar biasa tiga kali.
Hebatnya, ini tidak canggung sama sekali. Kami mengobrol dan tertawa tentang berbagai subjek. Sudah pasti kita masih menikmati pertemanan satu sama lain, seperti yang selalu kami lakukan. Hanya sekarang, ada sesuatu yang lebih dalam, yang memberiku perasaan hangat di dalam. Kami berbagi makanan pembuka yang fenomenal, dan masing-masing menikmati segelas Chardonnay. Saat menyelesaikan hidangan pembuka kami dan sedang menunggu untuk makanan utama, tampaknya hal yang paling alami di dunia adalah saat Jongin mencapai seberang meja dan meraih tanganku.
Kami menghabiskan beberapa menit berikutnya seperti itu, jari-jari kita terjalin di atas meja, tak lupa ibu jarinya menelusuri buku-buku jariku sementara kita bicara. Hidangan utama datang dan kami berdua menikmatinya. Ini aman untuk mengatakan bahwa kami berdua cukup berselera. Aku makan setiap gigitan burgerku dan Jongin melakukan hal yang sama dengan steaknya. Setelah Jongin membayar tagihan, kita keluar dan mulai berjalan.
Dia mengulurkan tangan dan meraih tanganku dan kami berjalan nyaman ke Galleria Department Store. Aku tahu persis apa yang aku inginkan, jadi aku tidak berputar-putar mengelilingi toko. Aku mengambil tiga pasang celana pendek lipat dalam berbagai warna kemudian tiga tanktop dengan warna yang serasi dan aku selesai.
Jongin menatapku tak percaya saat kita berjalan menuju ke kasir. Aku bingung mengapa.
"Pandangan apa itu?"
Dia tersenyum ke arahku, dan terkekeh geli.
"Kukira aku tidak perlu heran karena ini adalah bagaimana kau melakukan segala sesuatu yang lain, tapi aku suka bahwa kau tidak berjalan mengelilingi toko dan melihat setiap hal dan berdehem dan komat-kamit tentang apa yang kau inginkan."
Aku tertawa setuju. "Memang benar. Aku jauh lebih menentukan dari itu. Aku tahu apa yang aku inginkan dan aku tidak menikmati membuang-buang waktu. Aku selalu seperti ini."
Kami meninggalkan Galleria Department Store dan Jongin bertanya kemana aku ingin pergi berikutnya.
Aku memutuskan aku tidak benar-benar dalam mood untuk berbelanja. Aku sudah punya lebih dari cukup pakaian dan aku hanya merasa seperti bersenang-senang. Kami memutuskan untuk pergi ke Lotte World dan naik beberapa wahana.
Kami menghabiskan beberapa jam berikutnya di beberapa wahana. Kami bermain game dan tertawa, benar-benar santai dan menikmati hari. Menyenangkan.
Pukul setengah empat kami meninggalkan taman bermain dan berjalan ke mobil Jongin untuk pergi ke rumahnya. Hari ini dia mengemudi merek barunya Camaro convertible hitam. Aku suka mobil ini. Tutup atasnya diturunkan dan matahari bersinar, dan perjalanan yang menyenangkan.
Jongin menyetir dengan tangan kanannya pada lututku, dan aku merasakan sensasi menggelenyar pada tangannya di tubuhku. Ini benar-benar seperti beban fisik. Tiba-tiba, aku punya ide. Pada lampu merah berikutnya aku mengangkat tangannya dari kakiku dan menariknya ke bibirku dan mencium masing-masing ujung jari dan kemudian pusat telapak tangannya. Menjilati sepanjang jalan kembali, aku menarik jari telunjuknya ke mulutku dan mengisapnya.
Dia menatap mulutku sementara aku melakukan ini, jadi dia benar-benar merindukan untuk melepas gaunku. Ketika lampu berubah, aku menarik jarinya dari mulutku dan menempatkan tangannya di persimpangan pahaku.
Tarikan napasnya cepat dan segera. "Oh sialan Kyungsoo. Kau tidak mengenakan apapun di bawah gaun itu!" Aku menggeleng dan tertawa.
"Tidak, aku sudah telanjang sepanjang hari, hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahumu."
Geraman dari tenggorokannya membuatku tidak ragu lagi bahwa ini menjadi rangsangan utamanya. Dialah yang menangkapku sedang lengah ketika ia mulai menggosok lipatanku yang sudah basah.
Kepalaku menjepit kembali ke headrest dan aku mengerang.
Jongin tertawa, memberi dan membuat suara berdecak.
"Oh sayang, kau tidak akan ingin melakukan itu kecuali jika kau ingin semua orang di sekitar kita mengetahui bahwa aku jariku berada didalam dirimu." kepalaku tersentak dan aku melihat ke sekeliling.
Ada mobil di depan kami dan mobil di belakang kami, tetapi tidak ada mobil tepat di kedua sisi dari kami sekarang. Dua orang dapat bermain di permainan ini.
Aku berbalik dan tersenyum padanya saat jari-jarinya terus meluncur lambat bolak-balik pada clit-ku yang super peka, menikmati sensasinya selama satu menit. "Sebenarnya Jongin, aku pikir itu kau yang menginginkannya tidak ketahuan sehingga pengemudi lain tidak tahu apa yang aku lakukan untukmu."
Dia hanya memiliki waktu untuk menembak tatapan bingung padaku sebelum tanganku turun ke pangkuannya. Oh yeah, dia sudah keras.
Aku membuka risleting celana jinsnya dan menarik kemaluannya keluar. Dia terengah-engah dan melihat sekeliling dalam kepanikan saat penisnya berdenyut di tanganku, tapi aku lebih memegang kendali daripada yang dia sadari. Aku tidak akan menariknya keluar jika ada orang di kedua sisi kami.
"Naikkan penutupnya Jongin, aku akan turun."
Dia tidak perlu diberitahu dua kali. Dia menekan tombol kontrol untuk atap convertible kembali naik dan aku menyalakan AC, saat ia menutup jendela berwarna. Sebelum jendela tertutup sempurna aku sudah memilikinya di mulutku. Dia begitu keras dan lezat dan aku suka dia membelah mulutku lebar-lebar dengan penisnya. Setiap lidahku yang lewat di atasnya rasanya seperti surga, dan rasa precumnya membuat tetesan gairahku sendiri naik ke pahaku.
Mobil kembali berhenti di lampu merah berikutnya, dan aku mendongak untuk melihat bahwa itu adalah yang terakhir sebelum kita masuk ke lingkungan rumahnya. Dia melihat ke arahku dengan ekspresi kagum di wajahnya saat aku kembali mengangguk naik turun dan mengisapnya.
"Kyungsoo, sialan, apa yang kau lakukan padaku?" Aku mulai bersenandung dan menggelengkan kepalaku bolak-balik di kemaluannya, menangkup bolanya dengan tanganku saat aku melakukannya. Tiba-tiba mobil melesat maju dan aku mendengar decit ban saat ia berbelok. Dalam satu menit kita melewati gerbangnya dan masuk ke garasi. Napasnya menjadi terengah-engah saat ia membanting mobil ke parkiran. Setelah mobil berhenti aku melakukan apa yang aku ingin lakukan sejak aku membawanya ke dalam mulutku di lampu merah. Aku mulai menelan ujung kemaluannya.
Ini tidak mudah tapi setelah beberapa kali mencoba, aku melakukannya. Aku sepenuhnya mendapat lebih dari beberapa inci dirinya dalam mulutku sekarang, beberapa di tenggorokanku.
Teriakannya merupakan tanda dari persetujuannya dan memukul atap convertibel dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengepal di rambutku. Dengan dorongan liar terakhir ke mulutku, dia datang.
Aku memerasnya untuk semua yang patut dia dapatkan dan menjilat bersih sepenuhnya ketika dia selesai. Kepalanya dilempar kembali ke headrest, napasnya masih terengah-engah dan megap-megap. Ini membutuhkan beberapa menit baginya untuk menguasai diri, dan aku tersenyum. Aku suka melihatnya diluar kendali, mengetahui bahwa aku membuatnya seperti ini. Akhirnya ia mendekatiku dan berkata, "Aku tidak tahu di mana kau belajar untuk melakukan itu, tapi jika aku tahu itu akan menjadi sepanas ini di antara kita, aku sudah membungkukkanmu di atas mejaku pada pagi pertama itu dan bercinta denganmu sampai pingsan. Tuhan tahu aku menginginkannya."
Aku tersenyum, lebar. Dia sangat menakjubkan. "Nah. Aku tidak 'belajar' untuk melakukan itu pada siapa pun. Kebenarannya adalah, sebelum hari ini aku hanya memberikan itu sedikit, dan aku tidak menikmatinya. Tapi aku menonton film dewasa ketika aku masturbasi dan aku mengambil ide dari sana. Aku selalu menikmati mengisap vibratorku sebelum aku menggunakannya, hanya saja blowjobs bukan bidang keahlianku. Aku tidak pernah sebergairah ini dengan orang lain seperti yang aku lakukan denganmu. Hal ini membuatnya begitu mudah untuk menjadi nakal."
Mulut Jongin menganga saat aku mengatakan semua itu.
"Kyungsoo—kau benar-benar membuatku takjub. Kau begitu terbuka. Aku suka bahwa kau baru saja mengatakan itu padaku. Jika kau tahu berapa banyak malam aku bersetubuh dengan tanganku lagi dan lagi memikirkan ada dalam dirimu—well, cukup dikatakan, sudah hampir setiap malam setahun ini. Terlepas dari apa yang aku lakukan malam itu. Aku juga tidak pernah menjadi begitu bergairah seperti yang aku lakukan denganmu."
Sekarang giliranku untuk bernapas berat sekarang. Ide bahwa dia membelai kemaluannya mengirimkan getaran diseluruh tubuhku.
Sialan, itu akan menjadi panas untuk ditonton.
"Nah, kembali padamu. Setiap kali aku masturbasi setahun ini, aku selalu memikirkanmu, menangisi namamu dan berharap kau berada di dalam diriku saat aku datang."
Dia keluar dari mobil seperti tembakan dan dua detik kemudian pintu penumpang terbuka. Dia menyentakku keluar dan melemparkanku di atas bahunya. Dia sedikit meleset dengan kunci dalam lubang pintu garasi dan aku terkekeh ketika akhirnya ia berhasil menjalankan kuncinya dan hampir menendang engsel pintu saat ia membukanya.
Kami hanya mencapai sejauh dapur. Menurunkanku sehingga kakiku berada di lantai, Jongin memutarku sehingga aku menghadap meja.
Sambil menaikkan gaunku ke pinggangku dia berkata, "Capai tepinya dan pegang sayang."
Aku memiliki sekitar sepuluh detik untuk mematuhi sebelum ia mulai memompa ujung kejantanannya dalam diriku. Aku sangat basah, ia masuk ke dalam diriku lebih cepat dari sebelumnya, dan aku berpegang pada tepi meja saat ia menghantam masuk dan keluar dariku, iramanya menyiksa dan sempurna.
"Oh Tuhan, aku benar-benar suka menyaksikan sementara kejantananku masuk dan keluar dari milikmu sayang."
Dia hampir menyelesaikan kalimat sebelum aku memecah terpisah, terengah-engah dan mengerang melalui orgasmeku. Dia menarik keluar dariku dan ternyata aku diputar kembali sehingga aku menghadap ke arahnya, lalu ia mendorongku terhadap meja. Kakiku seperti jelly dan aku butuh stabilitas di punggungku.
Dengan mata yang penuh gairah, ia meletakkanku di atas meja dan menyingkirkan gaunku. Dalam hitungan detik dia sudah kembali dalam diriku, kejantanannya panas dan keras. Aku bersenang-senang dalam sensasi, menikmati secara menyeluruh. Aku senang menjadi penuh olehnya. Bahkan hanya berpikir bahwa itu miliknya yang ada dalam diriku membuatku bergetar. Aku baru saja datang tapi aku merasa itu bahkan belum mencapai ujung.
Mulut kami melebur bersama, mencium dan menjilati. Tangannya memegang stabil pinggulku saat ia mendorong masuk dan keluar.
Aku sangat panas, aku harus datang secepatnya. Aku menggeser jariku di antara kami dan mulai menggosok clit-ku dan dengan cepat membawa diriku sendiri ke orgasme berikutnya.
Dia merenggut mulutnya dari mulutku dan menggeram ke arahku,"Ya Tuhan sayang, aku begitu menyukai rasamu datang dikejantananku. Begitu nikmat. Sial." Aku mengangguk setuju. Sial, benar. Aku mulai berteriak, "Fuck me, fuck me, fuck me." saat ia bergerak masuk dan keluar. Dia berhenti sejenak dan menarik hampir semuanya keluar.
Aku bersandar naik dan meraih pantatnya dan berteriak, "Tidak! Jangan berhenti!" Dia hanya terkekeh saat ia meraih pergelangan kakiku dan menempatkan mereka di pundaknya.
Dengan itu, ia kembali menghantam masuk dan keluar dariku. Menempatkan tangannya di bawah pantatku, ia mengangkat aku lebih tinggi untuk memperdalam penetrasi. "Yes!" Aku menjerit.
Menarikku keras ia mencondongkan tubuh untuk menciumku lagi. Dia menggosok clit-ku di posisi ini dan itu terlalu banyak untuk ditahan. Aku mencakar dadanya saat aku mulai datang lagi. Bahkan orgasmeku datang lebih intens ketika aku merasakan tembakan pertama dari benihnya yang menghangatkan bagian dalamku.
Kami menunggangi satu sama lain ketika datang, terengah-engah dan menyentuh satu sama lain. Kami berbaring seperti itu di atas meja selama beberapa menit, sampai napas kami kembali normal.
Aku menggigil ketika ia menarik keluar dariku. Perasaan itu menyebabkan gempa tremor mini pada tubuhku, hampir seperti sebuah orgasme kecil. Semuanya dengan Jongin begitu menjulang dan duniawi. Dia tersenyum padaku dan meraih tanganku, menarikku berdiri.
"Kita hanya memotongnya benar-benar dekat. Bersihkan dirimu dan kembali ke sini dalam lima belas menit. Lakukan apa yang harus kau lakukan untuk membuatnya tidak jelas kalau kau baru saja melakukan seks dari samping," katanya sambil terkekeh.
Aku mencicit saat aku mengambil gaunku. Sial! Semua orang akan berada di sini sebentar lagi. Tidak akan pernah ada penjelasan untuk salah satu dari mereka bila menemukan kami melakukan seks seperti binatang di meja dapur. Sudah pasti aku senang kami menghindari peluru itu.
Tertawa, aku memukul pantatnya saat aku mengambil gaunku dan berbalik untuk pergi.
"Terima kasih untuk melakukan seks dari samping, sayang. Itu benar-benar nikmat."
Ketika aku pergi, aku melihat lewat bahuku saat melihat dia berdiri di dapur dengan kepala menengadah saat ia tertawa. Ternyata menjadi sangat beruntung bahwa aku sudah keluar dari dapur, karena Mingyu tiba sekitar lima menit kemudian.
Di kamar mandi Jongin aku menemukan sikat gigi yang aku gunakan tadi malam di gantungan. Aku menggunakan kamar mandi, mencuci tangan, sikat gigi, menyisir dan menata ulang rambutku, kemudian memakai lip gloss. Sebuah pemeriksaan menyeluruh dari diriku di cermin mengungkapkan bahwa aku tidak terlihat seperti aku baru saja benar-benar melakukan seks, tapi ku pikir jelas sekali ada kilauan puas pada diriku. Kupikir itu bukan apa-apa menjadi sesuatu yang akan diperhatikan orang. Aku harap.
Kembali ke dapur aku menemukan Jongin membumbui steak sementara Mingyu mengupas jagung. Aku berjalan dan memberikan Mingyu pelukan dan ciuman di pipi, kemudian berjalan menuju lemari es untuk mengambil bahan-bahan untuk kontribusiku untuk malam ini, tomat, mozzarella dan basil salad. Aku mengiris tomat ketika Ahreum tiba. Dia membawa makan malam favorit, taco dip. Ahra dan Wonwoo yang berikutnya. Ahra membuat sayap ayam, dan Wonwoo membawa beberapa bir blueberry. Berikutnya Soohyun, dan dia membuat tujuh lapisan salad.
Jihyun adalah orang terakhir yang tiba, dan dia membawa kue lemon meringue. Perutku menggeram melihat semua makanan ini. Aku suka minggu makan malam di rumah Jongin karena itu adalah upaya kelompok, selalu menyenangkan, berisik, penuh kasih dan nikmat untuk dilepaskan. Aku suka waktu keluarga ini.
Ini adalah makan malam yang menyenangkan, kita semua berada di sekitar meja luar, tertawa dan berbicara. Setelah kita makan, kita pindah ke perapian luar untuk minum bir dan bersantai. Pembicaraan yang riang dan menyenangkan, kita semua mengejek satu sama lain dan membuat lelucon. Sekitar dua puluh menit setelah kami duduk di sekitar api, Jihyun mengumumkan dia harus pergi karena ia memiliki panggilan awal. Sisanya dari kita menuju ke dalam rumah untuk menonton film. Mingyu membawa sebuah film komedi berjudul 'Cop Out'.
Kami semua menempati kursi kami. Seperti biasa Mingyu berbaring di sofa besar di depan. Wonwoo dan gadis-gadis duduk di baris kedua di kursi malas, dan Jongin dan aku duduk di barisan belakang di dua kursi besar belakang sana. Di masa lalu kita selalu duduk di kursi terpisah, tapi malam ini kita duduk tepat di samping satu sama lain.
Film ini benar-benar lucu dan kami semua tertawa keras. Biasanya aku akan benar-benar meresapi filmnya, tapi aku terlalu waspada pada Jongin sekarang. Aroma dia dan sensasi kulit pada tangan kami yang menyentuh lengan kursi membuatku bergoyang di kursiku.
Aku menggeser tanganku ke atas pangkuan Jongin dan menikmati asupan napasnya. Tatapan yang dia berikan padaku adalah murni panas. Mengangkat tanganku yang lain ke bibirku, Aku memberinya sinyal untuk diam dan dia mengangguk setuju saat aku mengusapnya melalui celananya. Tangannya menutupi tanganku dan kami berpegangan tangan saat aku mengusapnya. Aku bergairah karena merasakan kejantanannya yang keras di bawah tanganku. Dia memanggilku pada tingkat yang paling mendasar dan aku dalam keadaan yang konstan dengan gairah. Segalanya dengan Jongin panasnya melebihi batas, benar-benar berbeda. Ini adalah nafsu pada steroid. Begitu melebihi apa yang pernah aku alami, atau yang pernah kupikir akan dilakukan.
Aku menyadari bahwa aku tidak akan bisa melewati malam tanpa memilikinya lagi, tapi aku harus pulang dengan Soohyun karena aku tidak punya mobil.
Tiba-tiba aku punya ide dan mengambil iPhoneku untuk mengirim sms. Aku mengetik:
Sembunyikan telepon dan hubungi aku supaya ponselku berdering. Jangan tanya. Lakukan saja.
Membaca itu, Jongin langsung menoleh dan mengangkat alisnya padaku, tapi mengikuti instruksi. Ponselku berdering dan aku membuat kerjaan kecil meninggalkan ruangan untuk 'menjawab' itu. Aku berdiri di aula selama sekitar tiga menit sebelum aku berjalan kembali masuk. Menghentikan film, aku memberitahu semua orang bahwa aku perlu meminjam Jongin karena panggilan tadi adalah tentang masalah bisnis. Aku memberitahu mereka bahwa kita akan kembali beberapa menit dan kemudian aku menekan play lagi.
Mereka bahkan tidak menggerakkan bulu mata saat kita pergi karena hal ini sudah biasa. Aku mendapat panggilan sepanjang waktu selama waktu keluarga dengan masalah-masalah yang Jongin dan akuharus selesaikan. Setelah kami berada di lorong dan pintu ditutup aku mengambil tangan Jongin dan menariknya saat aku berlari menaiki tangga. Kami sampai ke lantai dua dan aku menariknya menyusuri lorong ke kamar tidur cadangan. Aku ingin memastikan jika salah satu dari mereka mencari kita, kita tidak akan mudah untuk ditemukan. Aku membiarkan lampu di kamar tidur mati dan menutup pintu, kemudian menariknya masuk ke kamar mandi.
Pintu kamar mandi masih menutup ketika dia meraihku dan memutarku. "Kyungsoo! Kau jenius. Kupikir aku akan meledak di sana."
"Shh. Jangan bicara. Kita tidak punya waktu." Sambil berjalan ke konter di kamar mandi , aku mengangkat gaunku dan membungkuk, mempertunjukkan pantatku kepadanya.
"Fuck me Jongin. Cepat! Aku membutuhkanmu sekarang." Dia membuka ritsleting celana jinsnya dan kejantanannya melonjak keluar, panas dan keras.
"Apa kau cukup basah untukku?" Aku berbalik dan mengedipkan mataku. "Jika aku menjadi lebih basah, kita akan mempunyai masalah. Jangan khawatir. Ayo kita lakukan ini."
Muncul di belakangku, dia membungkukkan tubuhku ke meja dan kejantanannya mulai tergelincir ke dalamku. Aku mendesis dalam sensasi kenikmatan. Aku melirik lewat bahuku padanya dan berkata, "Bawa aku dengan keras. Jangan perlahan," Dia mengangguk padaku dan mendorong pada saat yang sama, mendapatkan sekitar pertengahan masuk. Dia menghantamku dengan kalut, lebih dan lebih mengisiku dengan setiap dorongan. Aku kehilangan itu, berusaha keras untuk tidak membuat suara keras, tapi sulit sekali untuk tidak.
Aku hampir tidak bisa menahan erangan ketika ia mencapai ke gaunku,menangkup payudaraku dan mencubit putingku. Aku berbisik,
"Fuck me Jongin, cepat. Cepat!"
Kecepatan yang kita jaga benar-benar intens yang gila. Ruangan ini dengan diam menyimpan suara persetubuhan kami yang berapi-api dan napas tak beratur yang liar. Tanganku meluncur ke clit-ku dan aku hampir tidak punya waktu untuk berbisik bahwa aku akan datang ketika aku meledak.
Perasaan orgasmeku mengirimkan Jongin pada orgasmenya, dan aku merasa dia memancar ke dalamku. Aku menggigil saat ia mencium bagian belakang punggungku saat orgasme kami selesai. Dia menarik keluar dariku dan aku berbalik memberinya ciuman cepat. "Kau harus pergi dulu. Kembali dan memberitahu mereka aku harus pergi ke kamar mandi. Aku akan segera menyusul."
Aku menyaksikannya dengan cepat menyeka dirinya dan memakai kembali celana jinsnya. Ketika matanya bertemu denganku, aku langsung putus asa untuk melakukannya lagi. Ini mengkhawatirkan seberapa cepat aku menginginkan dia. Dia menggelengkan kepalanya ke arahku.
"Kyungsoo, aku akan memberikan apa saja untuk kembali berada dalam dirimu sekarang, tetapi jika kita tinggal lagi, mereka akan mengetahui bahwa ada sesuatu yang terjadi. Tapi ini benar-benar sulit untuk pergi. Kau begitu seksi sayang. Aku tidak pernah merasa seperti ini."
Aku mengangguk setuju dan berkata, "Aku juga. Aku tidak pernah peduli banyak tentang seks yang sebenarnya sama sekali. Aku selalu menikmati masturbasi lebih dari apa pun yang pernah kumiliki dengan orang lain. Aku tidak pernah orgasme dengan orang lain sebelumnya. Ini adalah yang pertama."
Dia terkesiap ketika aku mengatakan itu, dan aku mendorongnya keluar dari pintu saat aku tertawa. Aku cepat-cepat membersihkan diri, menggunakan toilet dan mencuci tangan. Untungnya ruang teater gelap jadi aku tahu mereka tidak akan melihat bagaimana memerahnya wajahku. Aku kembali ke ruang teater dan menuju kursiku. Jongin meraih tanganku dalam buku jarinya dan aku duduk di kursiku.
Ketika film selesai, kita semua mengucapkan selamat tinggal dan Soohyun dan aku pulang ke rumah kami. Dia mengemudi dan kami mengalami waktu yang menyenangkan dengan bernyanyi Eminem Greatest hits bersama-sama.
Kami tiba di rumah dan masing-masing pergi ke kamar kami untuk tidur. Aku tidak lebih cepat memakai babydoll-ku daripada ponselku yang bergetar tanda sms masuk. Ini dari Jongin.
Semalam dan hari ini menakjubkan. Kau membuatku terpesona. Terima kasih.
Aku tersenyum lebar dan aku merasakan memiliki kupu-kupu di perutku—sama tak terduganya dengan semua ini, itu jauh melampaui fantasi yang pernah aku miliki tentang dia. Aku membalas sms kembali,
Menurut hitungan orgasmeku, aku percaya itu aku yang seharusnya berterima kasih.
Aku menambahkan tiga wajah smiley dan klik send.
Ponselku berdering segera. Aku mempunyai senyum terlebar di wajahku ketika aku menjawab.
"Hei, kau."
Sambil tertawa kecil ia berkata "Kyungsoo, kau mencoba membunuhku? Aku tidak tahu bagaimana aku akan bertahan hidup malam ini. Aku begitu keras hingga mungkin bisa memalu paku. Aku akan menyentakkan kejantananku sepanjang malam karena kau!"
"Jongin, kau jahat. Sebagai catatan, aku masih prima dan siap untuk itu juga. Vibratorku akan mendapat latihan. Aku begitu terangsang, itu seperti aku tidak mendapatkan miliaran orgasme hari ini."
Jongin menghela napas keras. "Aku akan membayar sejumlah uang untuk menontonmu masturbasi. Ya Tuhan. Bahkan berpikir tentang hal itu membuatku pening. Aku sangat keras sekarang."
Bahkan lebih terangsang dengan kata-katanya, aku menggeser jariku ke dalam celanaku, menemukan diriku panas dan basah.
"Oh sialan Jongin. Aku begitu basah untukmu. Memikirkan tentang tanganmu yang menakjubkan, satu-satunya yang membuatku datang berkali-kali sejak kemarin membuatku gila. Aku menyukai tanganmu di seluruh tubuhku. Oh Tuhan, dan aku menyukai diisi penuh oleh milikmu yang besar. Kau mengisiku dengan begitu nikmat."
Punggungku melengkung, aku menggeser satu jari ke intiku yang basah kuyup kemudian mulai menggosok clit-ku dengan jempolku. "Nikmat sekali Jongin. Aku menempatkan jariku di pusatku yang kecil sekarang, berharap aku sedang diregangkan oleh milikmu yang besar itu." Napasnya terengah-engah dan aku tahu dia bekerja keras pada dirinya karena aku bisa mendengar tangannya bergerak ke atas dan ke bawah dikejantanannya.
"Persetan Kyungsoo. Aku menyetubuhi kepalan tanganku begitu keras sekarang, sangat berharap aku berada didalam tubuhmu yang panas. Kau terasa seperti surga ketika aku mendorong kejantananku ini kuat-kuat ke dalam dirimu, cairanmu meluncur ke bolaku."
Saat ia mengatakan kata bola , aku mulai datang—aku mengerang dan menggeram saat aku masturbasi melalui orgasme yang panas yang hanya semakin kuat ketika aku mendengar dia mulai datang.
"Ya Tuhan sayang. Begitu banyak aku keluar. Aku berharap aku mengisi milikmu dengan ini." Sambil terengah-engah mengambil udara, aku menarik jari-jariku dari pusatku dan meletakkan tanganku di atas jantungku.
"Jongin—itu menakjubkan. Aku tidak pernah melakukan telepon seks sebelumnya." Napasnya terdengar seperti dia baru saja berlari mengelilingi blok, dan aku tertawa saat ia mengerang.
"Membayangkan jarimu menggosok milikmu yang kecil, aku baru saja datang begitu keras hingga aku hampir pingsan. Kau membunuhku sayang!"
Aku tertawa. "Aku juga, tapi aku harus tidur sekarang karena bosku tidak suka aku terlambat dan aku pikir dia akan memukulku jika aku tidur saat bekerja."
Aku menyukai suara tawa seraknya. "Bosmu benar-benar terdengar mengerikan. Dasar brengsek." Aku balas tertawa padanya.
"Oh, dia memang lumayan brengsek." Aku membuatnya lengah dan dia tersedak sedikit saat ia tertawa.
"Kyungsoo, kau luar biasa. Aku benar-benar menyukai sisimu yang seperti ini. Jadilah seorang gadis yang baik dan tidur yang nyenyak. Aku akan bertemu denganmu besok."
"Terima kasih sudah menelepon, bos. Sampai jumpa besok."
Dia masih tertawa saat aku menutup telepon.
TBC
HAPPY NEW YEAR EVERYONE!
01-01-2017
Big Love,
caramel-hun
