LUKA

(NARUSASU) MENMA

Masashi Kishimoto

Satu lagi cerita bertajuk Naruto dan Sasuke (Menma) hadir diantara intimidasi deadline tugas yang menggunung. Jika suka silakan baca. Judul dan isi tidak saling berkaitan. Penulisan apa adanya. Kesalahan bertebaran dimana-mana. Penggambaran karakter sangat jauh dari aslinya.

Lagi, karena alasan satu dan lain hal saya jadi males edit. Maafkan bila banyak typo mengganggu hehe... dan ini lebih pendek dari kemarin, semoga suka dan selamat membaca.

Satu lagi maaf kalau makin aneh... :D

-af-

.

.

.

Bagi Sasuke, masa lalunya adalah sebuah buku yang sudah bertemu akhir. Takperlu diungkit dan tidak semestinya diungkit, karena tiap lembarnya hanya berisikan rasa sakit. Mengusik.

Seperti cerita pada dongeng-dongeng klasik, Sasuke ingin akhir bahagia. Bersama dengan buah hati tercinta. Menikmati waktu yang telah kembali ia dapat dari sang Kuasa. Bukan untuk kembali merasakan perihnya derita. Atau secuil ingatan menyentak jiwa. Sasuke ingin jadi orang biasa. Tanpa perlu chakra atau senjata. Menjalani hidup dalam dunia kecilnya yang susah payah Sasuke bangun di atas bayang-bayang masa lalunya sebagai pejahat dunia.

Namun, segala perjuangannya runtuh sudah. Satu kalimat dari seorang Shiba mampu menggoyangkan tembok kokoh yang selama ini dibangunnya. Satu kalimat yang dengan telak menghantam kelemahannya. Sasuke tahu, masa depan ada dari serpihan kenangan yang terkumpul jadi motivasi untuk berjalan ke depan. Hal itu akan mengikuti sampai kapan pun dirinya hidup di dunia. Takbisa disangkal. Tapi kalau jelas diucapkan, Sasuke bisa apa. Kenyataannya sebagai seorang missing-nin memang bukan bualan.

Sang Uchiha menghantamkan dirinya pada dinding terdekat. Menyelaraskan detak random dalam dada setelah ia mendengar penuturan Shiba muda. Masih membekas dalam ingatan, karena itu baru terjadi beberapa menit silam. Tiap katanya, bahkan hembus nafas itu, terekam dalam kepala. Berputar searah dengan gemetar di tangannya. Sasuke meremat ujung pakaian yang ia kenakan. Mata itu memburam perlahan, demi meminimalisir iluh yang menetes, Sasuke memejamkan manik malamnya.

Baru setelah dirinya merasa baik-baik saja, Sasuke kembali mengambil langkah. Semakin cepat dan semakin cepat. Setengah berlari, sampai di mana kakinya membawa Sasuke tepat di pintu kamar 208.

Krieett...

"Menma?"

.

.

.

Menma tahu, tidak seharusnya ia percaya dengan bualan orang asing tadi. Tapi pernyataan terakhir itu, Menma tidak bisa tidak peduli. Menyangkal pun sulit. Ia hanya bisa diam tak berkutik. Menelaah kembali segala jenis informasi. Menyaringnya, dan menyusun setiap keping memori. Satu per satu sampai di mana ia bisa berkesimpulan bahwa dirinya harus mempercayai.

"Bu... apa ayah juga punya mata biru sepertiku?"

"Hn... matanya sangat jernih sepertimu."

"Hehehe... bu aku menemukan ini di gudang. Bukankah ini lambang ninja Konoha? Apa ini punya ayah Menma?"

"Menma... Ayahmu... sudah bahagia."

"Sasu... ke... Sasuke..."

"Tuan... Hokage?"

"Maaf. Kupukir kau seseorang yang kukenal."

"Sasuke. Namanya Sasuke."

"Eh? Sasuke? Seperti nama ibuku."

"Bagaimana dengan ayahku, apa Anda juga mengenalnya?"

"Lalu, bagaimana kalau tiba-tiba ayahmu datang?".

"Kalau benar begitu, mungkin satu dua pukulan tidak masalah. Hahaha..."

"Lihat mata biru ini. Garis-garis pipi. Bentuk wajah. Kau benar-benar dupikat ayahmu."

Semua itu berputar seperti kaset rusak. Entah bagaimana semuanya terasa saling berkesinambungan. Sampai Menma pusing dibuatnya. Sampai Menma sendiri merasa kalau sesuatu tengah bermain di sekitarnya. Melibatkan dirinya yang tidak tahu apa-apa. Namun mengapa sebagian hatinya masih menyangkal. Padahal sudah sangat jelas kejanggalan dalam tiap penggal ingatan. Mengapa?

Belum sempat ia berpikir lebih jauh dari ini, pintu kamarnya terbuka. Menampilkan siluet Sasuke dalam retina. Dan begitu dua keping samudra itu bersitatap dengan luasnya malam, Menma tidak bisa menahan ucapannya. "Bu... siapa ayahku?"

.

.

.

Mata kelamnya membelalak. Di hadapannya kini, putra semata wayang, yang paling ia cintai, berurai air mata. menangis tanpa isakan. Menuntut sebuah jawaban. Dari satu pertanyaan yang selama ini ia kunci rapat.

Menma takpernah meminta, pun takpernah memaksa. Tapi kali ini, netra birunya penuh keingintahuan. Penjelasan mengenai rahasia yang selama ini tersendat di tenggorokan. Kalau boleh memilih, ingin Sasuke pergi dari situasi ini. Agar ia bisa mengalihkan topik yang mengulik hati.

Sekali lagi, Sasuke harus kembali merasakan sesak nafas dan mata berkunang. Sungguh, ingatan masa lalu itu benar-benar mencekam.

"Mengapa tiba-tiba?", begitu tanyanya. setelah menguatkan hati agar tidak tergerus luapan emosi. Sasuke bicara dengan nada kelewat hati-hati. "Bukankah sering ibu bilang kalau ayahmu sudah bahagia?"

Dilihatnya Menma menunduk. Menyembunyikan air matanya dari pandangan si ibu. Jawaban ini lagi. Sudah bosan ia dengar. Terlalu bosan sampai telinganya kebal. Bocah belia itu bergetar. seluruh tubuhnya gemetar marah. Isak kecil lolos seiring Sasuke mendekat. Mencoba menyentuh pundak, untuk menenangkan. Untuk saling menguatkan.

Namun bukannya lari dalam dekapan, tubuh Menma beringsut mundur. Belum puas jikalau ibunya tidak mau jujur. Jawaban dari pertanyaannya masih terkesan kabur. Mengapa ibunya tidak bicara saja, toh Menma pasti akan menerima kenyataan meski nantinya hati kecil Menma hancur. Sebahagia apa ayahnya sampai-sampai dirinya tidak boleh tahu? Apa meninggalkan istri dan anaknya, seseorang bisa bahagia?

"Bahagia seperti apa? Apakah dengan meninggalkan kita dia bisa bahagia!?". Suara Menma meninggi seketika. Nyala api dalam matanya bergelora. Menma ingin kebenaran. Malam ini, dan saat ini juga. "Bagaimana ibu bisa bilang dia bahagia? Apa ibu pernah bertemu lagi dengannya? Apa ibu pernah bertanya apa dia bahagia?

"Ibu selalu bilang dia bahagia, apa karena dia tidak ada lagi di dunia? Apa dia sudah meninggal? Di mana kuburannya? Kenapa ibu tidak membiarkanku bertemu dengannya walau hanya berupa nisan? Bahkan untuk nama saja aku tidak mengetahuinya. Bagaimana sosoknya, seperti apa perangainya. Aku tidak tahu. Ibu hanya bilang kalau aku begitu mirip dengannya."

Menma terengah. Nafasnya putus-putus setelah mengeluarkan segala yang mengganjal. Wajahnya kembali tersembunyi di balik surai sepekat arang.

Detik waktu terasa berat. Keheningan sesaat itu serasa mencekik jalur pernafasan. Sasuke melihat bagaimana putranya begitu putus asa. Jangankan menjelaskan, untuk mengucapkan satu sanggahan saja Sasuke tidak bisa. Ia terdesak oleh kemarahan Menma. ia bersalah karena menyembunyikan semua hal.

Nanar. Manik kelam itu nanar. Kenyataan menghempas telak wajah Sasuke. Ketika dirinya baru saja kembali, setelah rasa syok dari pemimpin Shiba barusan, yang terlihat dalam retinanya adalah potret bocah belia dengan segumpal air mata. dan kecewa. Dan amarah. Dan masih banyak lagi. Membaur dalam serangkai kalimat yang baru saja terlontar.

Sasuke masih menata kepingan-kepingan cerita masa lalunya. Mengolahnya dalam bentuk kalimat sebelum menjelaskan pada Menma secara gamblang. Agar putranya tidak salah paham. Agar tujuannya untuk tidak menanamkan kebencian pada buah hatinya terlaksana. Sasuke sangat tahu bagaimana cara pikir seorang Uchiha. Menma darah daginya. Sebagian sifat juga cara pemikiran pasti menurun darinya. Keegoisan. Keras kepala. Dan sensitifitas akan apa yang terjadi dalam kehidupannya bisa memicu kerapuhan hatinya. Yang paling Sasuke hindarkan, Menma menaruh dendam. Memupuknya begitu lama, sama seperti dirinya.

Namun belum sempat Sasuke bicara, gumam lirih itu mengusik indera pendengaran. Menyentak hati. Menciutkan tekad. Dari mana kesimpulan itu Menma dapat.

"Lalu kenapa, dari semua orang, kenapa hanya paman Hokage yang punya mata sepertiku?"

Sasuke takkuasa bicara. Sekali lagi kelopak mata itu menyembunyikan malam. Helah-helah nafasnya beraturan guna menenangkan diri dari guncangan kenyataan. Meski begitu, ia mencoba berpikir rasional. Dari mana pemikiran ini Menma dapat. Selintas tanya itu terbersit dalam kepala. Namun lenyap kembali ketika kelopaknya kembali terbuka. Dan mendapati tubuh kecil itu bergetar dalam kerapuhan, Sasuke tidak bisa tidak merasa dirinya jadi orang tua gagal.

Sosok Menma telah menjelma dalam kerapuhan. Sedikit saja salah, buah hatinya bisa berubah jadi butiran pasir dan menghilang.

.

.

.

Dari dua sosok itu, terasing sosok lain. Pakkun. dalam diamnya, anjing itu berdiri tak jauh dari dua orang itu, tanpa bicara sama sekali. bahkan sejak para tetua mulai bercuap-cuap, dirinya sengaja membiarkan mulutnya terkunci. Tanpa kata, sengaja mengasingkan diri. melihat sampai mana hal ini akan terjadi. Karena jika benar, maka semuanya akan sesuai rencana Kakashi.

Ya.

Semuanya memang rencana Kakashi. Kedatangan Iruka siang tadi pun karena Kakashi. Sang copy-nin sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Sejak si surai kelabu mengetahui fakta bahwa Sasuke sudah tak memiliki chakra lagi. Di tambah Menma jadi target incaran para tetua, cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi.

Rekan ninjanya itu hanya bilang kalau Menma dan Sasuke pasti akan kembali di serang. Entah kapan, hari pastinya memang tidak ditentukan. Tapi dengan liciknya Kakashi membuat celah. Sengaja memancing Menma dan Sasuke keluar agar semuanya bisa berjalan lancar. Dan memang benar, setelah melihat festival itu, ketika semua orang sibuk dengan dunianya. Bahkan untuk orang-orang yang membaktikan diri pada kesehatan pun memilih untuk sejenak rehat dari rutinitas. Dua tetua itu bertindak. Memengaruhi kejiawaan Menma dengan membeberkan siapa dia sebenarnya.

Meski kedatangan Kotarou sama sekali tidak dinyana. Tapi sampai sekarang, semuanya tidak ada yang keluar dari rencana. Kejam. Memang. Namun ini semua demi sebuah kebaikan. Bagi Sasuke, bagi Naruto, juga buah hati mereka. Bukannya Pakkun tidak bilang kalau bisa saja apa yang terjadi nanti tidak sesuai perkiraan. Yang paling ditakutkan adalah goncangan pada pikiran si bocah remaja. Dua belas tahun bukan lah waktu yang tepat untuk mengetahui kebenaran menyakitkan.

Ini adalah pertaruhan. Selebihnya, biar mereka yang selesaikan. Pakkun yakin, bocah kesayangan tidak akan sampai memupuk dendam. Walau untuk bisa menerima itu semua perlu proses panjang.

Dan Pakkun akan senantiasa disisinya. Menemaninya selaku peliharaan kepada majikan.

.

.

.

"Lalu kenapa, dari semua orang, kenapa hanya paman Hokage yang punya mata sepertiku?"

Pertanyaan itu akhirnya terangkai dalam satu nafas. Meski lirih, Menma yakin ibunya mendengarkan.

Ia masih menundukan kepala. Menolak untuk saling bertatap muka. Menma tidak akan tahu bahwa manik malam itu berselimutkan kabut. Wajah itu menyendu. Mendung tengah hadir dalam rupa sang ibu.

Baru saat ia memantapkan hati untuk mendongakkan kepala. Satu tamparan keras terasa dalam imajinasinya. Hal yang paling ia hindarkan kembali terulang. Menma telah membuat ibunya gelisah dengan mempertanyakan lagi sosok sang ayah.

Keheningan itu mencekik. Mereka tidak tahu mana yang terbaik. Akankah kenyataan terkuak agar tiada lagi rasa sakit. Atau harus tetap disembunyikan walau semuanya menjadi lebih pelik. Mana yang harus dipilih.

Menma membuang muka, bersamaan Sasuke melangkah mendekat. Satu tumpuan dijatuhkan. Ia sejajarkan dirinya dengan sang putra. Jemarinya berayun membelai lembut wajah yang serupa dengan milik ayahnya.

"Maaf.", kata Menma. terucap lirih selirih udara yang merasuk lewat celah jendela.

Sasuke mengembangkan senyum. Bukan karena senang, tapi pilu. Malam ini ia mantapkan hati untuk membongkar semuanya. Tentang siapa dirinya. Tentang siapa ayah dari buah cintanya. Dan segala alasan mengapa ia bilang kalau sosok lelaki itu sudah bahagia. Akan ia buat Menma mengerti tanpa setitik pun meninggalkan benih-benih dendam. Menma darah dagingnya. Tidak akan ia biarkan lelaki kecil itu terjerumus dalam pesakitan karena sebuah kebencian.

"Kenapa minta maaf?", satu usapan lembut Sasuke bagi pada pipi bergaris milik bocah bersurai arang.

"Sudah bicara tidak-tidak dan membuat ibu sedih. Padahal ibu sudah bilang kalau ayah sudah bahagia. Tapi aku masih saja bertanya. aku tidak percaya dan menerima begitu saja apa yang mereka ka – "

"Ssstttt..."

Satu isakan lolos dari remaja belia. Dengan telaten, dua tangannya menghapus segala ingus yang takbisa ditahan. Sasuke membantu dengan ibu jari miliknya. Sekaligus menenangkan buah hati tercinta bahwa semuanya bukan kesalahan Menma.

"Menma ingat apa yang pernah Pakkun ceritakan?"

Yang ditanya mengangguk, meskipun dirinya tidak tahu korelasi antara pernyataan maaf dengan cerita yang sering Pakkun kisahkan.

"Ingat apa yang terjadi dengan dua sahabat itu? Ingat ketika yang satu mencoba untuk membawa pulang temannya yang terjerumus dalam kegelapan? Meski berkali-kali hampir dibunuh? Meski harus menerima caci maki seumur hidup? Dia tak menyerah untuk mengulurkan tangannya. Terus berusaha agar sahabatnya keluar dari kubangan dendam yang menjerat. Siap menjadi sandaran bagi orang yang paling dikasihinya. Menma tahu siapa dia?"

"Uzumaki Naruto, Nanadaime Hokage."

"Dan?"

"Seorang Uchiha."

Sasuke kembali mengulum senyum. ah Uchiha. Klan yang bagi banyak orang adalah klan terkutuk. Ironi kan? ketika harus mengisahkan betapa jahatnya dirimu di masa lalu. tapi ini harus tetap berlanjut. Agar ke depannya Menma takperlu lagi mencari tahu.

"Benar. Apa Pakkun juga pernah bilang akhir dari cerita itu adalah salah satu harus melepaskan demi kebahagian lainnya?"

Gelengan Menma pertanda bahwa kisah selanjutnya memang tidak pernah diceritakan. Masih terkunci rapat dalam tenggorokan. Hanya sebatas mereka hidup bahagia selamanya, itu yang Menma tahu dari Pakkun, temannya.

"Sang Uchiha pergi, agar Uzumaki Naruto bisa hidup bahagia. Meraih cinta dan cita-citanya. Bersanding dengan pujaan hati serta menjadi orang nomor satu di Konoha."

"Kenapa?"

"Karena selama mereka bersama, yang ada hanya luka."

Menma mendapati bagaimana dua keping malam itu menatapnya. Dalam. Seperti mencoba menyampaikan sesuatu tapi dirinya tidak mengerti apa. Sebenarnya apa yang coba ibunya sampaikan? Adakah hubungannya dengan pertanyaannya?

Lalu sekelebat ingatan itu menyapanya. Saat ia bertemu dengan Hokage di danau Konoha. Pernyataan maaf yang terlantun berkali-kali itu, serta isak tangis sembari menyerukan nama.

"Sasu... ke... Sasuke..."

Matanya membeliak. Begitu ingatannya memutar kejadian beberapa hari silam. Dengan jelas paman Hokage menyebut nama ibunya. Di sela isak tangis yang bersarang di bahunya. Bahkan sampai sekarang, bagaimana mungkin dirinya tidak sadar? Lalu setelah cerita yang ibunya perdengarkan barusan, serta semua kejanggalan yang baru pagi tadi terpikirkan, dan terakhir adalah pernyataan dari para tetua. masihkah dirinya bertanya siapa sosok ayah yang selama ini ia rindukan? Atau, masih pantaskah sosok itu ia rindukan?

"Apa Uzumaki Naruto, dalam cerita itu adalah... ayahku?"

Gumaman itu sontak membuat Sasuke memebelalak. Dia akui kalau sang putra adalah seorang yang cerdas. Tinggal bagaimana ia bertindak agar kebenaran ini tak membuatnya membenci Naruto saja. Sasuke akan jadi tameng pertama agar Menma tidak mengambil jalan dendam.

"Ya."

.

.

.

PRANG.

Bersamaan dengan kebenaran yang terkuak, kaca jendela kamar rawat Menma pecah akibat ulah beberapa orang. Mereka berpakaian serba hitam. Dengan topeng khas ninja, mengeilingi Sasuke dan Menma agar tidak kabur ke mana-mana. Sasuke lekas mendekap tubuh kecil yang gemetar kaku karena serangan tiba-tiba. Sedangkan Pakkun dengan sigap, menempatkan diri pada posisi siaga.

Kejadian itu terjadi dalam kedipan mata, Sasuke bahkan sampai taksadar kalau ada dua tetua –Koharu dan Hamura – di sana. Orang yang dulu sangat mendukung akan kematiannya. Berdiri beberapa langkah di hadapan. Tidak salah, yang mengepungnya sudah pasti para jounin yang berpihak pada keduanya. ANBU Ne. Mereka yang katanya, menyokong kemajuan Konoha dari balik layar. Sayangnya, kebusukan mereka sudah Sasuke ketahui sejak kematian Danzo bertahun silam.

"Uchiha Sasuke.", lelaki tua bersuara, Hamura, dengan kilat mata licik di balik kacamatanya. "Aku tidak menyangka kauberani menginjakkan kaki di Konoha. Setelah berusaha untuk menghancurkan desa, bahkan mencoba membunuh sahabatmu sendiri, seharusnya kematian adalah hukuman yang pantas. Kalau bukan karena seseorang, kaupasti sudah mengucapkan selamat tinggal pada dunia."

Masih di posisi yang sama, Menma dipeluk makin erat. Prioritas Sasuke adalah melindungi Menma dari segala macam kejahatan. Termasuk dari tetua gila haus kekuasaan.

"Dan aku berbaik hati untuk melakukan hal itu. Melenyapkan semua keturunan Uchiha adalah kewajibanku."

"Kau! Berani menyentuh Menma, kupastikan kau membusuk di neraka!"

"Sayang sekali, tapi kalian lah yang lebih dulu ke sana. Tenang saja, kami akan melakukan ini dengan cepat", katanya. Semua ANBU Ne bersiap dengan kunai di tangan. Kapan saja mereka akan melepaskan serangan, sesuai perintah dari Hamura. "Bunuh mereka."

Kunai dilemparkan dari tiap penjuru arah. Bukan Sasuke jika takut pada gertakan. Pelukan dieratkan. Menma terlindung sempurna dalam dekapan. Sasuke memicing tajam pada tiap kunai yang menyerang. Pakkun pun demikian. Meski dia tidak memiliki jurus andalan. Kalau hanya kunai masih bisa ia hentikan.

TRANG.

SLEB.

KRAKK.

Semuanya terjadi tiba-tiba. Hanya dalam satu kedipan mata semua kunai yang mengarah padanya berhasil dipentalkan. Sebagian menancap pada dinding, sebagian lain keluar jendela. Semua mata di sana membeliak, menyaksikan siapa yang kini berdiri menantang. Uzumaki Naruto, dengan jubah berkibar, beridiri di arena pembantaian.

SRET.

Kunai lain teracung seketika. Namun kali ini bukan mengarah pada Sasuke dan Menma. akan tetapi pada masing-masing kepala yang hendak menyerang keduanya. Rupanya Naruto tidak sendirian. Ada sepasukan ANBU yang juga bersiaga.

"Hamura!"

Dari arah pintu, sosok Kakashi masuk kemudian. Diiringi langkah Shikamaru Nara. Sesaat setelahnya, Sai tampil membelit tubuh Hamura. Dengan posisi membekapnya dari belakang serta kunai yang siap menancap di perpotongan leher dan bahunya.

"Sudah kuduga kalau kalian akan bertindak malam ini.", Kakashi angkat bicara. Dalam langkahnya mendekati Naruto yang masih setia berdiri memunggungi sang Uchiha. "Aku tidak mengerti mengapa kalian masih saja mengusik Uchiha, padahal jelas kalau semua itu bermula dari para tetua. apa kalian tidak malu melimpahkan kesalahan kalian pada orang lain?"

"Hatake Kakashi.". meski nyawanya terancam, rupanya Hamura masih bisa bersikap tenang. "Dengan ini kauhanya akan membuat mala petaka kembali terjadi."

"Satu-satunya mala petaka adalah kalian berdua. Mau sampai kapan kalian membenci Uchiha. Mereka bahkan sudah kalian lenyapkan. Apa hal itu tidak menunjukkan betapa bejatnya kalian? Atau ini sekedar pembalasan dendam karena kematian Danzo?"

"Kautidak tahu apa-apa. Danzo hanya ingin membawa kejayaan bagi Konoha. Tapi dia membunuhnya!". Koharu yang sejak tadi terdiam buka suara. Belum puas sampai dirinya melihat Sasuke dan keturunannya jadi mayat.

"Hhhh... itu lagi. Bahkan sampai kalian ingin membunuh bocah tidak bersalah. Di mana otak kalian? Bawa mereka. Pastikan mereka tidak bisa berbuat macam-macam."

"Kau!"

"Koharu!". Hamura berteriak. Menghentikan apa yang akan rekannya lakukan. Matanya memicing tajam. Tepat menghujam pada Sasuke yang balik memandangnya dengan intensitas yang sama. "Sudah cukup. Mereka sudah tahu."

.

.

.

Satu per satu dari mereka meninggalkan kamar rawat 208. Kakashi dan Pakkun paling akhir keluar. Tersisa hanya Sasuke, Naruto dan Menma. Ketiganya terlibat dalam kecanggungan. Padahal jelas, kamar ini sudah tidak layak jadi kamar inap. Pasalnya jendela yang berlubang bisa membuat angin dingin menyelinap. Namun, entah mengapa masing-masing dari mereka tidak ada yang mau pindah dari posisi semula.

Sasuke masih bersimpuh, mendekap erat putranya. Menma enggan melepas tautan tangan dari leher ibunya. Naruto sendiri sudah berbalik, melihat bagaiman Sasuke dan Menma masih berpelukan.

"Kautidak apa-apa?", satu kalimat dari Naruto memecah sunyi. Sasuke mengalihkan pandang pada sosok di hadapannya kini. Dengan pelan melepas Menma dan mulai berdiri. Tapi baru satu detik, ia sudah memalingkan muka lagi. Enggan menatap wajah yang baru saja menyatakan perasaannya beberapa waktu tadi.

"Hn.", gumamnya sebagai jawaban.

Kembali hening menguasai. Jejak-jeka nafas mereka berpadu selayaknya harmoni. Dalam remang kamar Menma, dua entitas itu berkontradiksi. Masing-masing merasa tidak enak hati.

Naruto memutuskan untuk menalihkan perhatian pada Menma. menanyai bagaimana perasaan bocah itu setelah terlibat dalam kasus pembunuhan terencana. "Menma baik-baik saja?", tanyanya.

Bisa dirasakan tubuh itu menegang. Benar. Belum selesai Sasuke membuka rahasia, para tetua sudah menyerangnya. Hal ini bisa berakibat fatal bagi keduanya. Sebagai ibu dia belum tahu bagaimana reaksi putranya. Setelah mengetahui siapa sang ayah, akankah Menma membencinya atau bagaimana.

Cemas.

Bagaimana ia bisa lupa. Seharusnya, malam ini keduanya tidak boleh dipertemukan. Setidaknya sampai Menma bisa menerima kenyataan.

Naruto merendahkan dirinya. Menyejajarkan tubuh jangkungnya dengan remaja usia dua belas. Ditepuknya perlahan bahu bocah yang masih menyembunyikan wajahnya. "Tidak apa-apa. Semua sudah selesai.". Namun Menma takjuga berbalik. Malah makin meringsek menyembunyikan mimik. Samar-samar terdengar isak tangis.

Takmau kecewa, Naruto meminta Sasuke menjelaskan. Pun lelaki Uchiha takkunjung bicara. Daripada terperangkap dalam ketidaktahuan, si pirang memutuskan meninggalkan. Tubuhnya beranjak hendak memberikan privasi bagi ibu dan anak. Tanpa sepatah dua patah kata, Naruto bersiap pergi dari ruang 208.

Baru saja diambil satu langkah. Lengan kecil dari bocah belia menahan ujung jubahnya. Mau tidak mau Naruto urung pergi dari sana. Ia kembali menyejajarkan diri pada diri Menma. menatap warna netra yang sama. menunggu si kecil buka suara.

BUGH.

Setelah detik terlewat tanpa kata, Menma malah melayangkan pukulan di dadanya, yang sama sekali tidak terasa. Dalam benaknya, si pemimpin desa bertanya. gerangan apa yang membuat bocah kesayangan begitu tingkahnya.

Belum sempat apa yang dipikirkan, terucap dalam bentuk tanya. Satu pukulan kembali bersarang ditempat yang sama. yang lagi-lagi tidak terasa.

Tepat ketika keping samudra itu menunjukan rupa, pria berusia tiga puluhan seolah mengerti apa yang hendak si belia katakan. Maksud dari dua pukulan yang baru saja dia terima. Serta terjangan pelukan dan isak tangis yang dirasa basah di bahunya.

"Hiks... hiks... hiks..."

Naruto hanya membalas dekap sayang yang Menma berikan.

Sasuke melihat itu sembari mengumbar senyum kelegaan. Dia sadar, banyak dari sifat Naruto yang menurun pada sang putra. Apa yang harus dikhawatirkan?

.

.

.

Di lain tempat. Pada waktu yang bersamaan. Kotarou Shiba tengah dilanda kegalauan. Setelah dengan jelas Sasuke-san menolaknya. Ia malah berbuat hal yang membuat lelaki itu membencinya. Bagaimana bisa dia melakukan hal demikian. Entah karena cemburu buta atau semua itu dilandasi keputusasaan. Sebab Sasuke-san takjuga mau menerima cintanya.

Setelah mengumpulkan kewarasan yang beberapa waktu hilang, Kotarou melangkah di bawah sinar bulan sabit yang menyayat. Menemukan bangku taman rumah sakit dan memosisikan dirinya di sana. Entah berapa lama ia terdiam pada posisi yang sama. tiba-tiba sosok Pakkun sudah ada di sampingnya. Kotarou baru sadar ketika anjing itu bicara.

"Cinta itu rumit, ya.", katanya.

Meski tak mengerti, Kotarou setuju saja. memang benar cinta itu macam labirin menyesatkan. Bertahun memendam rasa, apalah artinya jika seseorang yang dipuja tak memiliki rasa yang sama. lelaki Shiba itu miris dibuatnya.

"Aku pernah melihat bagaimana seseorang gila karena cinta terlampau besar. Sampai-sampai rela menundukkan kepala demi kekasih hatinya agar tidak berakhir di tiang gantungan."

"Haha... apa yang sebenarnya ingin kaukatakan?"

Pakkun melirik Shiba muda yang tak berubah posisinya. Masih setia dengan duduk sembari menundukkan kepala. Tangan ditautkan diantara lutut yang sedikit terbuka. Pose galau yang seingat Pakkun mirip dengan Kakashi ketika dilanda dilema.

"Langsung saja. Aku tidak tahu seperti apa rasa cinta. bagaimana wujudnya, baunya, bentuknya. Yang kutahu hanya, takselamanya cinta mendatangkan bahagia. Tapi bukan berarti pula, cinta hanya mendatangkan petaka. Orang-orang tidak beruntung saja yang merasakan cinta sebagai petaka. Dan sayangnya, selama ini hal itulah yang kulihat.

"Demi mendapat cinta dari penduduk desa, Naruto harus berjuang dengan keringat dan darah. Demi membalasakan dendam kematian orang yang dicinta, Sasuke harus terperosok dalam kegelapan. Sakura bahkan terluka karena cintanya untuk Sasuke tak sekalipun mendapat tanggapan. Pun Hinata, gadis itu juga menderita karena cintanya membuat orang lain terluka.

"Semua hal yang melibatkan cinta selalu berakhir derita. Selama ini itu yang kulihat."

Pakkun menjeda kalimat. Menarik nafas sejenak, kemudian kembali mengalihkan lirikan pada pemuda yang kini makin terdiam. Entah reaksi apa yang kini Shiba muda itu perlihatkan. Malam sepenuhnya menyembunyikan rupa.

Kesenyapan itu dilewati oleh terpaan angin Konoha. Kotarou menyerap semua ucapan Pakkun dalam kepala. Pria bermanik kelabu itu tidak tahu mengapa si anjing tiba-tiba bercerita. Apa tujuannya? Koatrou tahu siapa Naruto dan Sasuke yang Pakkun maksudkan. Tapi dua nama lain, sama sekali Kotarou tidak kenal. Dan apakah mereka terlibat dalam suatu hubungan rumit menyesatkan? Sama sekali, Kotarou takpaham.

"Mengapa kaubicara seperti ini padaku? Apa kauingin bilang kalau aku pun mengalami penderitaan karena cinta?"

"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya mengatakan bahwa selama ini, perasaan yang melbatkan cinta itu berakhir derita."

"Lalu?"

"Lalu? bisakah kau mengubahnya jadi akhir bahagia?"

Dua keping kelabu itu mengaihkan atensinya. Sosok Pakkun terpotret sempurna dalam retina. Sang anjing balik menatapnya dengan iris sayu andalan. Tepat di manik yang kini membelalak. "Terutama untukmu.", katanya kemudian.

"Apa maksudmu!?"

"Lepaskan perasaan cintamu untuk Sasuke. Ubah itu jadi sesuatu yang lebih sederhana. Sesedarhana ketika kau mengaguminya."

"Kauingin aku membiarkan Sasuke-san kembali pada orang yang jelas-jelas telah menyakitinya?". Dalam hal ini Koatrou menegakkan badan. Berdiri dengan mata nyalang.

"Dari mana kesimpulan itu kaudapat?"

"Melihat bagaimana Menma tidak tahu siapa ayahnya saja, hal itu sudah sangat jelas. Lelaki itu menyia-nyiakan Sasuke-san!"

"Bukan Naruto yang pergi. Tapi Sasuke sendiri. Dia meninggalkan Naruto untuk kedua kali.". Pakkun melihat Koatoru bungkam. Dia melanjutkan. "Siapa yang kaupikir paling merasa disakiti?". Jeda. "Sebatas tahu masa lalu Sasuke tidak lantas membuatmu seenaknya menyimpulkan. kalau hal itu bisa kaujadikan alasan untuk cinta yang selama ini kaupendam. Maka itu terlalu dangkal. Yang paling tahu dan mengerti Sasuke di dunia ini hanya Naruto. mereka selayaknya cerita yang tidak bisa dikisahkan secara terpisah."

Pakkun diam. Kotarou bungkam. Meski lelaki itu tidak membalas pernyataannya, bukan berarti dia terima saja apa yang mantan anjing ninja itu ungkapkan. Karenanya, dalam sehelai nafas, Pakkun kembali bicara. "Aku tidak mengatakan ini untuk siapapun. Tapi untukmu. Jangan libatkan dirimu lebih dari ini. Sekalinya kau terjerumus dalam lingkaran keduanya, sulit untuk melepaskan. Itu yang dialami salah satu pemilik nama yang tadi kusebutkan – Hinata."

.

.

.

Bersambung...

PS: terima kasih buat yang sudah review, fav, dan follow, kapan-kapan saya akan balas reviewnya, hehehe