Genre : Drama, Family, Sad, Romance

Rate : T

Pairing : HunHan, HaoZi, ChanBaek, KaiSoo, Kyumin, HanChul, dsb.

Warning : Genderswitch, yang gak suka gak usah dibaca dan boleh pergi. Bom gak maksa. Banyak typo yang gak suka maafkeun. ≧ω≦

NB : Jan Mewek ato Ketawa ya... sabar aja bacanya walau singkat tapi semoga menempel dihati.

.

*Truth*

DEG..

Terpaku dan membeku adalah keadaan Luhan, Haowen dan Ziyu sekarang. Mereka hanya diam sambil menatapi smartphone Luhan yang berdering seakan-akan panggilan tersebut adalah panggilan menuju ke Akhirat. Tidak, mereka hanya merasa kebingungan dan tak habis pikir tentang semua ini. Untuk apa seorang Oh Sehun yang telah mengusir istrinya dulu sekarang menelfon sang mantan istri kembali setelah sekian lama. Apakah ia merasa menyesal lalu berniat meminta maaf lalu mengatakan 'maaf, aku baru menyadari bahwa aku telah tertipu oleh ular berwajah seperti salah satu member F(x). Ha! sungguh lucu. Hei cuaca semakin panas diluar, itu berarti ini telah masuk jam siang menjelang sore. Apakah ia mengalami delusi siang ini hingga membuat kepalanya bolong. Hmm, tentu saja tidak. Lalu apa!

"ibu..." panggil Haowen tanpa memandang sang ibu muda tersebut.

"Ya sayang. Ibu juga melihatnya. Tak perlu kau ulangi." Tangan kanan Luhan bergerak mengelus dagunya. Ia merasa ini adalah sebuah keajaiban. Apakah perlu masuk buku ke Guines of Records dengan judul The Miracle of Oh Sehun.

"Tidak, bukan itu yang ingin aku katakan" Haowen menatap ibunya dengan alis berkerut. Apa yang dipikirkan sang ibu dengan smirk tipis diwajah cantiknya itu.

"hmm?" Luhan yang tak mengerti akan pertanyaan dari anak sulungnya tersebut balik menatapnya.

"Hao memang tak heran kalau ibu masih menyimpan nomor ayah. Tapi mengapa harus foto itu yang terpajang sebagai gambar kontak ayah?, Itu terlihat..." Kedua alis Haowen berkerut hinga terlihat tinggi sebelah. (?)

"Norak dan alay" Ziyu menjawab datar dan juga pokerfacenya.

"oh, aku tak mengatakannya" Haowen mengangkat kedua tangannya keudara bagai tersangka pencuri ayam.

"Hei, pada jamannya foto itu adalah foto kesukaan ibu" Si Ibu justru terlihat kesemsem bak remaja dipadu kasih.

"Ya terserahlah yang penting itu bukan wajahku." Dasar Oh Haowen. Mirror please.. , kau memiliki wajah yang menjiplak dari Oh Sehun jika kau ingin tahu.

"Hapenya mati.." kembali suara halus nan lirih Ziyu terdengar.

"Apakah ayah mematikam telfonnya?"

"Ibu rasa iya. Syukurlah ibu terbebas" Luhan masih pada mode kesemsemnya dengan kedua tangan menangkupi dagunya. Sungguh imoet sekali.

Dringggg!... Dringggg!

"Oh, dia berbunyi lagi!" Ziyu kembali bersuara datar.

"waw! sepertinya dia memang berniat untuk berbicara denganku" Dengan pedenya Luhan mengibas rambut coklat seksinya.

"kalau begitu cepat ibu angkat" Haowen yang telah jengah dengan sikap sang ibu mulai ngotot.

"haruskah ibu angkat?" melirik pada sang anak sulung. Yang dilirik justru menatap ibu muda itu datar hampir jengah.

"ayolah ibu, kalian bukanlah anak kasmaran yang sedang bertengkar dan ngambek karena saling telat membalas chat" Haowen me-rolling eyes sambil berdecak kesal.

"astaga Oh Haowen mulutmu..." Luhan yang gemas mengarahkan tangannya kearah bibir Haowen seakan hendak mencubit bibir anak sulungnya. Namun telah ditepis oleh Anak tampannya terlebih dahulu.

"Oh Astaga ibu... aku bisa berhenti jika ibu mengangkat telfonnya" tak tahukah kau Luhan bahwa anakmu mulai jengah dengan semua ini.

Clik..

Secara tiba-tiba muncul tangan penasaran yang menekan tombol hijau dari smartphone Luhan. Bukan hanyaBmengangkatnya, tangan penasaran itu bahkan menekan loudspeaker. Hingga terdengarlah sebuah suara seorang pria.

"Hallo?"

Luhan menatap Ziyu horor namun tak berbicara. Mereka saling menatap seakan-akan mereka juga telah bertukar pikiran.

'hei.. Ziyu mengapa kau mengangkatnya?' Luhan mengakat satu alisnya

'memang salah ya jika aku mengangkatnya, bu? jawab saja' putri tercintanya justru mengangkat kedua tangannya seakan tak bersalah.

Baiklah... ini dia

"Hahh... Hallo?" Luhan berkata sambil memandangi foto mantan suaminya pada layar.

"eum.. apakah aku bisa dengan Luhan?" suara pria diasan terdengar sedikit ragu. Tentusaja ragu saat mengatakan hallo Luhan dengan sengaja menutupi hidungnya dan membuat suaranya berubah. Childish

"ya, ini aku. ada apa?"

"eum... Hai lu!.. A-pa kabar? e.. B-B-Bagaimana kabarmu?"

"Aku baik."

"Oh, Oke. Itu bagus"

"hmm"

"..."

"(¬_¬)"

"..."

"Hahh... Baiklah, apa yang ingin kau katakan padaku. Kau sudah membisu selama 5 menit lebih. Dan itu benar-benar membuang waktu dan juga pulsa telponmu. Aku tahu kau kaya, hanya saja kau telah membuang 5 menit waktu berhargaku. Jadi sekarang katakan, Ada apa!?" Luhan berkata kesal pada mantan suaminya yang masih saja diam bergelut dengan pikirannya sendiri.

"oh... maaf, apa kau sibuk? Apa aku mengganggumu?"

"jika bertanya aku sibuk atau tidak, sebenarnya tidak, tapi jika kau bertanya apa kau menggangguku, jawabku adalah Ya!"

'ibu terlalu kasar pada Ayah' Haowen menatap Luhan tak suka, namun Luhan membalas dengan pandangan jengah.

'hei aku tak bersalah, dia saja yang lama.'

"Maaf, sungguh maafkan aku jika aku mengganggumu Lu. Aku tak bermaksud. Maaf"

"Astaga Oh Sehun, sudalah katakan saja apa yang ingin kau katakan padaku?"

"Aku hanya ingin bertanya... tentang... Haowen"

"..." Luhan dan kedua anaknya terutama Sehun menunggu dengan antusias kallimat selanjutnya dari si ayah.

"eum... lu, kau masih disana?

"ya.."

"eum.. aku dengar Haowen bersamamu. Jadi aku hanya ingin memastikan saja apa benar anak itu bersamamu."

"kalau kau sudah tahu Haowen bersamaku lalu mengapa kau menelponku dan bukannya menelpon Haowen?"

"ahh... itu, aku.. eum..."

SKAKMAT BROO

'dasar ayah bodoh' ezakli ini Haowen

' ●_● ' ini Ziyu yang tak mengerti apa-apa

"Ada lagi yang ingin kau katakan?" Luhan menyisir rambut coklatnya perlahan.

"..." Hening...

"jika tak ada, aku akan menu_"

"Tunggu! kumohon tunggu. Ada yang ingin aku katakan padamu. Hm.. aku tahu ini sangatlah tak pantas untuk dikatan di sini, tapi aku masihlah belum memiliki muka untuk menemuimu. Jadi inginkah kau mendengarkanku?"

"Katakan!"

"Hmm... begini. Lu, aku tahu ini sangatlah terlambat. Tapi aku jujur dan tulus mengatakan ini. Maaf, Maaf, Maaf, dan Maaf. Bahkan mungkin seribu kalipun aku ucapkan maaf padamu takkan membuatmu bisa untuk memaafkanku. Aku tahu kesalahanku memanglah begitu fatal bahkan menyakitimu dan juga Ziyu. Aku merasa begitu bersalah, bahkan saking merasa bersalahnya aku merasa malu pada diriku. Karenaku Haowen jadi ikut terlibat."

Sehun berhenti berbicara, namun ketiga orang itu tak ada yang menyahut. Mereka sibuk mendengarkan ucapan pria paruh baya tersebut. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan terucap dari bibir kecilnya.

"Yixing bercerita padaku kalau Haowen ikut mencampuri masalahku yang seharusnya tak ia pikirkan. Aku hanya ingin ia sekolah dengan benar dan merasa bahagia. Tapi sepertinya semua itu tak mungkin jika ia bersamaku. Jika dulu aku masihlah tak bisa menerima jika kau membawa Haowen, sekarang aku relakan ia jika ia ingin bersamamu. Dan aku akan menerima jika kau ingin bercerai denganku. Tapi Lu, jujur aku tak ingin berpisah darimu. Tapi aku akan menerima jika kau menggugat cerai padaku. Kau tak perlu membayar dendan perceraian itu, biarkan aku yang membayarnya. Kau tak perlu memikirkan apapun sekarang. Aku ingin kau bahagia, jadi jika kau ingin bersama dengan orang lain aku rela, walau aku sendiri tak bisa menerima hal itu. Terima kasih atas segalanya, Aku... Sungguh.. Aku... Mencintaimu Lu Han"

"..."

Shock, tentu saja. Ketiga orang itu tak ada yang mengira bahwa pria itu akan mengatakan hal sepanjang itu dan bahkan mengatakan kalimat terakhir itu sungguhlah bukan Oh Sehun sekali. Apakah itu hanya acting belaka atau ia benar tulus dan jujur saat mengatakannya. Bisakah Luhan mempercayai perkataanmu, Oh Sehun?

"Lu.. Apa kau disana?"

"Ee... mm.. Hun... aku sudah sedari lama memaafkanmu. Kau tak perlu berkata begitu panjang seperti itu. Itu terdengar tak seperti dirimu. Intinya aku telah memaafkanmu. Dan aku takkan membalas untuk masalah lainnya. Dan untuk Haowen, aku takkan membawanya. Jika ia ingin menemuiku, ia bisa menemuiku kapanpun dia mau. Aku ingin ia menjagamu, dan juga sebaliknya. Terimakasih pengertianmu. Aku akan menutup telfonnya."

"Ya. terimakasih. Aku... Menyayangimu Lu!"

Tuttt... Tuttt... Tuuttt..

"Hiks... cukup" Hancur sudah pertahanan seorang Luhan yang berusaha untuk menahan tangisnya sedari tadi. Hatinya terasa begitu sakit mendengar suara pria yang pernah dicintainya itu atau mungkin sampai sekarang juga masih sama. Ibu dua anak itu menangis menutupi wajahnya agar tak dilihat oleh kedua anaknya, agar kedua anaknya tak dapat melihat betapa rapuhnya ia. Tapi faktanya kedua anaknya juga menangis dalam bayangan masing-masing. Mereka terbayang-bayang bayangan sang ayah yang selalu ada untuk mereka. Dan tanpa mereka sadari diujung telfon yang tertutup itu terdapat Sehun yang juga menangis merindukan ketiga malaikatnya.

.

.

.

.

Hening. Tak ada dari kedua orang tersebut yang mencoba untuk memulai pembicaraan. Seakan-akan mereka sedang dalam dunia mereka sendiri-sendiri. Sang pria yang mencoba untuk mengalihkan pandangannya kearah lain, karena ia menyadari wanita hamil didepannya ini sedang menatapinya. Sang pria tak tahu harus memulai dengan berkata apa pada si wanita, jadi ia lebih memilih untuk menatap kelain arah. Tiba-tiba terdengar suara helaan napas dari wanita dihadapannya itu yang membuat fokus matanya berpindah pada sang wanita.

"sejak kapan kau berdiri didepan pintu?" wanita tersebut bertanya tanpa menatap lawan bicaranya. Menurutnya lebih asik memandangi cheese cakenya dari pada harus menatap orang dihadapannya itu.

"A-aku... baru datang" Pria itu kembali menundukkan kepalanya setelah melihat bahwa wanita dihapannya tak menatapnya.

"Itu adalah hal yang tidak mungkin, aku mengirimu pesan sekita 40 menit yang lalu. Kantormu dari cafe ini tidaklah jauh mungkin hanya butuh sekitar 15-20 menit berjalan kaki. Dan aku sangatlah yakin kau tidak menaiki mobilmu dan memilih berlari kemari hanya karena aku mengatakan akan pergi kemari."

"A-aku_"

"maaf!. Aku dengan seenaknya pergi dari rumah. Maaf aku tak mendengarkan apa yang kau ucapkan tentang laranganmu untuk pergi ke cafe baru dekat rumah kita. Maaf, karena aku harus mengetahui pemilik cafe ini dari orang lain dan bukan dari orang yang bersangkutan secara langsung ataupun suamiku sendiri yang jelas telah memberikan kafe berharga ini padanya." wanita itu menggenggam garpu cheese cakenya lalu merematnya lamat-lamat. Apakah ia sedang menahan amarah.

"baek aku-" pria bernama Chanyeol itu akhirnya menatap tepat kearah bola mata Baekhyun, begitu juga sebaliknya. Saling landang dengan ekspresi berbeda.

"a-aku senang dapat bertemu dengan Luhan, dan pastinya kau juga senang bertemu dengannya. Mungkin saking senangnya kau lupa memberitahuku, padahal aku.. aku adalah sahabat dekat Luhan. Aku ingin selalu ada untuknya saat ia butuh teman untuk bercerita. Tapi pada kenyataannya pria dihadapanku ini yang sialnya adalah suamiku tidak membiarkanku bertemu dengan sahabatku sendiri. Padahal kita serumah, namun mengapa begitu susah untukmu mengatakannya padaku."

Terlihat Baekhyun tersenyum hingga menghilangkan seluruh bola matanya. Semakin lebar senyumannya semakin terasa menyakitkan bagi Chanyeol. Itu bukanlah senyuman tulus, senyuman itu palsu. Dan itu ditunjukan untuknya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? tertawa lalu berkata maaf aku melupakanmu? atau menusuk dirinya sendiri dengan pisau dari meja sebelah.

"Maaf"

"Tak perlu meminta maaf, aku sudah memaafkanmu bahkan aku tak pernah bisa marah kepadamu. Bodohnya aku yang terlalu mencintai orang yang tak mencintaiku, ahh.. bukan bukan cinta, bahkan menatapku saja ia tak ingin. Haha"

"Baek.." Chanyeol mencoba meraih tangan Baekhyun namun Baekhyun lebih cepat menarik tangannya dan mengelusnya. Seakan-akan jika disentuh oleh tangan Chayeol akan infeksi. Ia tak merasa jijik, namun ia hanya tak ingin disentuh oleh pria berstatus suaminya tersebut.

"Cukup chan.. Aku tak sanggup lagi. Aku cukup bersabar untuk berbagi cintamu, aku cukup sabar untuk membiarkanmu tetap mencintai sahabatku walau selama itu aku telah sah menjadi istrimu, cukup sabar aku menunggumu membalas cintaku secara tulus. Aku bersabar karena aku yakin kau pasti dapat berubah. Semua orang berkata 'Setiap orang pasti memiliki titik jenuh mereka, dan disaat itu terjadi mereka akan mencoba untuk berubah dan mencari titik nyaman mereka yang baru'. Namun.. berapa lama lagi aku harus menunggu? puluhan? ratusan? atau ribuan tahun? hanya untuk menunggumu berpaling padaku. Berapa lama lagi? Aku bukanlah vampire yang dapat hidup seribu tahun dan selalu setia pada pasangannya apapun yang terjadi. Aku manusia, hanyalah manusia biasa yang memiliki perasaan jenuh. Aku tak ingin lagi menunggu. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Apalagi sekarang aku memilikinya, aku tak ingin anakku merasakan apa yang aku rasakan. Perasaan tak diinginkan oleh orang yang kau sayang. Karna hal itu sangatlah menyakitkan."

"..." Chanyeol tak dapat berkata-kata. Ia terdiam menatap kearah perut buncit istrinya. Baekhyun yang merasa kesal menatap tanjam kearah suaminya yang sibuk dengan pemikirannya sendiri.

"Jangan hanya diam dan katakan sesuatu.. Aku tahu kau dapat berbicara tapi mengapa kau hanya terdiam. Bahkan menatapku saja kau tak mau. Lalu apa gunanya aku berbicara padamu jika hanya aku yang menatapmu PARK CHANYEOL!"

Mendengar bentakan dari sang wanita Chanyeol dengan perlahan menatap wanita itu. Tapi rasanya ia menyesal telah melakukan itu. Ia berpikir bagaimana wanita itu dapat menahan suaranya agar tak bergetar sedangkan pipinya telah dibanjiri oleh lelehan airmata. Airmata itu mengalir karenanya, karena kegoisannya, karena ke serakahannya. Kenapa hatinya terasa begitu nyeri melihatnya menangis.

"Baek... Ku mohon jangan menangis"

"mudah sekali kau mengatakannya. Apakah kau malu karena dilihat oleh para pelanggan Tuan Park?!"

"B-bukan begitu, tapi bukankah lebih baik kita pindah ke tempat lebih sepi untuk membicarakan hal ini?"

"Kau malu? Kau malu memiliki istri yang tak tahu malu sepertiku? Ya aku memang tak tahu malu, mengumbar masalah kita di muka umum. Huh! Wanita macam apa aku ini.. Sepertinya perjuangan ibuku untuk melahirkanku begitu sia-sia. Ia telah melahirkan seorang anak yang tak tahu malu dan telah memalukan suaminya sendiri dimuka um_"

"BERHENTI BICARA BYUN BAEKHYUN!"

DEG

"K-kau.. membentakku? hiks.. Kau bahkan memanggilku dengan nama ayahku. Hiks.. inikah jawabanmu chan? Hiks.. jadi ini akhirnya. Baiklah, aku mengerti. Terimakasih atas segalanya Tuan Park. Permisi.."

Baekhyun mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan Chanyeol yang frustasi dan menyesal atas perbuatannya. Apa yang telah kau lakukan Park, kau menyakitinya lagi dan lagi. Manusia macam apa kau ini.

"GAHH!... hiks Maaf! Maafkan aku Baek"

.

.

.

"kenapa kau terlihat begitu tertekan, soo?"

Terlihat seorang pria berkulit tan sedang mengurut kaki sang istri yang terlihat bengkak dan memerah dibagian tumitnya.

"a-aku... terlihat jelaskah?" Kyungsoo menatap suaminya yang duduk diujung ranjang mengurut kakinya sambil menatapnya.

"sudah berapa lama kau menikah denganku, soo. Aku tak mungkin tak tahu bagaimana istriku secara rinci. Jadi ada apa sayang, heum?"

"aku... memikirkan mereka berdua. Aku merindukan mereka berdua. Aku merindukan masa-masa kami tertawa bersama tanpa beban, senang sedih bersama-sama. Terlalu sering bersama membuat kami memiliki ikatan batin yang cukup kuat. Aku merasakan sakit yang mereka rasakan saat ini. Dan rasanya begitu sesak di dada"

"Kau merindukan mereka?"

"ya, aku sangat merindukannya. Sangat.. hiks.. aku.. ingin.. hiks.. berkumpul kembali.. hiks.. tanpa beban dan tertawa bersama-sama."

"Sshhh... aku mengerti. Jangan menangis, soo. Aku mohon."

Jongin menghapus airmata di wajah istrinya dengan romantis. Lalu tak lupa ia memberikan kecupan pada Dahi lalu kedua mata belo istrinya lalu hidung bangirnya dan yang terakhir kecupan dan sedikit lumatan pada bibir hati milik sang istri. Tapi belum sempat Jongin menahan tengkuk istrinya, istrinya tersebut langsung melepas tautan mereka.

"Jong... aku merasa ada sesuatu yang membuat hatiju merasa tak tenang"

"tenanglah sayang, aku kemarin telah lunas membayar cicilan rumah kita. tak perlu khawatir, mulai hari ini rumah ini resmi milik kita dan atas nama kita." jawab Jongin sambil mengelus tangan halus milik istrinya.

"aku turut senang akan itu sayang. Tapi ada yang lebih dari itu. Aku merasakan kesedihan didalam hatiku."

"itu karna kau tadi mengingat mereka para sahabatmu tadi, jadi maklum saja jika kau merasakan kesedihan."

"bukan ini bukan masalah itu. Aku merasa bahwa Luhan dan Baekhyun sedang menangis. Kita bertiga memiliki insting wanita yang sangat kuat. Aku yakin mereka sedang bersedih sekarang. Aku.. Aku akan menyusul mereka." Kyungsoo dengan tergesa-gesa turun dari tempat tidurnya dan mengambil jaket serta tasnya. Namun dicegah oleh Jongin.

"sayang... hei dengarkan aku.. itu hanyalah perasaanmu saja, tak ada yang namanya insting wanita. Sudahlah ayo kembali ke tempat tidur kita."

"tidakk...aku benar-benar merasakannya. Aku akan pergi." Kyungsoo mengambil jaket dengan tergesa-gesa dan mencoba jalan dengan cepat menjauhi suaminya.

"Kim Kyungsoo! kau takkan pergi kemanapun. Jika kau tetap berniat melakukannya, jangan salahkan aku jika aku berbuat kasar."

"Aku tetap akan pergi.. lpaskan jong... lepash... mmmphh" Ciuman maut Jongin hantarkan untuk mencegah kepergian sang istri. Ia harus membiarkan Kyungsoo dirumah agar rencana seseorang berjalan lancar.

DUAKK

Tendangan maut dari mantan ketua futsal wanita telah dilayangkan setelah sekian lama pada seorang pria berstatus suami wanita tersebut. Ia melakukannya karna kesal pada suaminya yang kelebihan Testosteron.

"OOUCHHH!" Terdengar suara melengking dari pria tersebut. Tak disebut namanya karena haram.

"Maafkan aku sayang. kau tak pernah tahu bagaimana insting wanita. Karena kau tak pernah menjadi wanita. Memang pria itu yang dipikirannya habya hawa nafsu semata. Aku pergi" Kyungsoo pergi meninggalkan Jongin tanpa rasa bersalah bahkan sebelum sampai pjntu ia berbalik dan berbisik 'good luck babe'

"Kyungg!... Ouchh... sakit sekali, sudah berapa lama aku tak ditendang seperti ini. Dasar bawaan bayi.. Oh astaga... KIM TAE OHH! CEGAH IBUMU PERGI DARI RUMAH"

" Apa ibu mau pergi dari rumah?" Tae Oh bertanya pada Kyungsoo yang hendak memakai sepatunya.

"Ya, ibu akan pergi ketempat teman-teman ibu."

"Ohh... apakah ini bibi Luhan atau bibi Baekhyun?"

"Ya."

"Oh, Boleh aku ikut ibu?" TaeOh bertanya dengan mata berbinar.

"tentu sayang, ayo.. biarkan asaja ayahmu." Umi kyungsoo menyibak rambutnya dan menguncirnya.

"SIAP BOSS" Tae Oh dengan gerakan Hormat segera berlari ke kamar dan mengambil jaket lalu keluar lagi mengambil kuci mobil sang ayah. Ia sempat melewati kamar sang ayah, namun ia hanya menutup pintu dan berbisik 'good luck father'.

"KAMVRETT! DEMI KERANG AJAIB, JONGJONG JUNIOR TERSAKITI"

Jongin pun guling-guling dilantai sambil menggosok, meremas, mengelus anunya yang berkedut-kedut #eakkkk. NYERI. Kyungsoo beserta Tae Oh pun pergi meninggalkan Jongin sendirian dirumah menuju restoran Luhan. Dan ternyata Chanyeol juga udah ilang, hanya tersisa meja dengan uang 10 ribu won. Waw... ternyata Sehun juga guling-guling mencari guling bersama jongin yang guling-guling menelpon Chanyeol menanyakan cicilan gulingnya yang belum lunas.

.

.

.

.

TBC

Heiiii... bombomi balik lagi nih temen-temen semuahh...

Heii ada yang kangen ama bom gak?\( ̄▽ ̄;)/

GAK. BUAT APA GAK DIUNTUNG BANGET UPDATENYA JARANG TYPONYA BANYAK JALAN CERITANYA CEM EPTIPI SIANG HARI DI CHANEL IKAN TERBANG. ( ̄へ ̄)

.

Aduh minna... miannn sungguh dengan keaungguhan hati jiwa raga dan cinta bom, bom berniat update cuma... HAHA.. males ●_●

jadi gak update2 karna lupa yang mix dengan males °Д°

.

Oh Ya minna ini adalah Chapter ke 9... itu artinya Chapter minus 1 Ending #bosoinggrisjebol...

intinya Chap 10 adalah finalnya... Endingnya The end Fix Selesai Akhir Tamat yah pokok gak akan ada TBC (TubuhBaekhyun Cemokk) ⊙_⊙

.

.

Tapi sama seperti biasa bom gk bisa memprediksi kpn bom update (。ŏ_ŏ)

jadi like, comment dan jangan lupa subscribe nya

maaf kalo bahasa inggris daku banyak yg salah. aku gak bisa inggris.. bisanya hageul, hiragana ama katakana ^ω^

.

.

Gak usah panjang2 karna bom gk maw bikin panjang dan buat kalian males baca jadi singkat dan... BYEE