The Embezzler Evil

.

.

Genre: Brothership, Fantasy

Rate: T

Cast: All Suju Members

Disclaimer: All them belong to God. But this story is mine.

Warning: Typo(s), DLDR, No Copast, No Bash!

.

.

.

.

Leeteuk yang pertama kali sadar langsung berlari menuju gubuk. Tepat ketika ia ingin menerobos masuk dan mendobrak pintu, sebuah cahaya biru pekat muncul tiba-tiba dan membuatnya terpental.

"HYUNG!" Kangin dan yang lain sontak berteriak mengkhawatirkan Leeteuk. Tapi pria yang identik dengan senyum malaikatnya itu hanya meringis sebentar kemudian berdiri lagi dan melempar tatapan aneh pada gubuk itu.

"Hyung, ada apa?" Sungmin mendekat dan bertanya pada hyung tertuanya itu. Tapi Leeteuk tidak menjawab dan hanya diam dengan tatapan yang masih mengarah pada bangunan reot di depannya. Bertanya-tanya darimana datangnya cahaya itu dan mengapa ia sama sekali tidak bisa menembusnya. Leeteuk menggelengkan kepalanya.

"Aku akan mencoba masuk lagi." Katanya, meninggalkan Sungmin yang masih berdiri di belakangnya.

Leeteuk berjalan perlahan, nafasnya terdengar pendek-pendek tanda ia sudah memasang posisi siaga kalau-kalau ia kembali terpental seperti tadi. Saat jaraknya dengan gubuk itu semakin dekat, sekitar 2 meter, Leeteuk merasakan sesuatu yang tidak beres. Tubuhnya seperti terpapar hawa panas, sangat menyengat namun ia menolak untuk mundur.

Tangan Leeteuk mengepal menahan panas dan bergetar dengan sangat hebat. Semua saudaranya melihat itu dan mulai khawatir tapi mereka tidak mencoba untuk mengganggu konsentrasi Leeteuk. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi, tapi Kibum menyadari satu hal, sontak ia menjadi sangat panik.

"LEETEUK HYUNG, MUNDUR! HAWA PANASNYA BISA MEMBUATMU MENJADI DEBU!" teriaknya sekuat tenaga.

Siwon menghampiri Kibum dan hendak menyentuhnya, namun ia tiba-tiba meringis karena sesuatu seperti membakar tangannya dan ia menyadari rasa panas itu berasal dari mana. Ia menatap Kibum tidak mengerti.

"Apa yang terjadi padamu, Bum-ah? Mengapa kau sangat panas?" tanyanya yang seketika mendapatkan seluruh atensi Kibum yang sedang dilanda panik.

"Jangan pedulikan aku. Hanya cegah Leeteuk hyung semakin mendekati gubuk! Dia bisa terbakar!" Wajah Kibum memerah. Melihat dan mendengar itu, reflex Siwon berlari cepat untuk menghampiri Leeteuk dan ia langsung mengerti apa maksud kata-kata Kibum setelah merasakannya sendiri.

"Hyung! Berhenti di sana!" Siwon menahan tangan Leeteuk, mencegahnya untuk terus berjalan dan berhasil. Hyung tertuanya itu berbalik dengan wajah yang sangat merah dan lelah. siwon tersenyum menenangkan.

"Kita akan pikirkan caranya, hyung." Ujarnya yang membuat Leeteuk menghela nafas menyerah lalu ikut berjalan kembali menjauhi gubuk Kyuhyun. Tenaganya seperti terkuras habis, bahkan untuk melihat dengan benar pun ia sudah tidak sanggup, semuanya terasa berbayang dan beruntunglah sebelum ia jatuh menghantam bumi, Siwon sudah lebih dulu menopang tubuhnya dan membawanya pada Ryeowook.

.

.

.

"Argghhhh!"

BRAK!

Donghae terkejut setengah mati saat mendengar teriakan Heechul yang tiba-tiba dan suara bantingan benda yang ia yakin pasti hyungnya itu jugalah penyebabnya.

"Hyung! Ada apa denganmu? Heechul hyung?" Donghae dengan tergopoh-gopoh menghampiri Heechul yang terus menjambak rambutnya dan menendang-nendang ke segala arah sampai membuat beberapa buku milik Kibum di atas meja jatuh berserakan.

"Arrrrggghhhh! Sakit! Berhenti!" Jeritan Heechul semakin parah dan Donghae masih linglung tidak tahu harus melakukan apa, tapi akhirnya ia memutuskan untuk menarik dan menahan kedua tangan Heechul ke belakang agar tidak menjambaki rambutnya lagi.

"Chullie hyung, tenanglah… Tenang. Semua akan baik-baik saja… Percaya padaku." Bisiknya lembut dan berulang-ulang. Sesekali ia akan menepuk bahu Heechul untuk membuatnya kembali tenang dan akhirnya berhasil ketika hyung cantiknya itu terduduk lemas di lantai. Wajahnya sangat pucat dan berantakan.

"Hae-ya…"

"Ne, hyung?" Donghae menatap Heechul teduh. Berusaha memberikan seluruh atensinya pada hyung tertua kedua di keluarganya itu tapi disambut dengan senyum redup setelahnya.

"Apa yang kau lihat terakhir kali?" Awalnya Donghae bingung dengan pertanyaan Heechul itu, namun akhirnya ia mengerti. Dengan tersenyum ia menjawab.

"Kita berhasil, Chullie hyung! Iblis itu pergi dan dia tidak akan mengambil Kyuhyunnie dari kita!" Tapi Heechul sama sekali tidak bereaksi. Itu membuat Donghae berkali-kali lipat lebih bingung lagi bahkan ia tidak melihat ada kedutan kecil di wajah hyungnya itu, barangkali sedang bercanda dengan membuat wajah seolah tidak senang sebelum akhirnya berteriak girang.

"Hyung…" Heechul menunduk, mengerat kedua tangannya berharap mereka akan berhenti bergetar sebelum Donghae melihat, namun ternyata pemuda itu sudah lebih dulu menyadarinya.

"Chullie hyung, sebenarnya ada apa? Apa kau mendapat penglihatan lagi? Karena itu kau berteriak histeris seperti tadi? Katakan padaku, hyung. Apa yang sebenarnya kau lihat?" Donghae tidak lagi sesabar tadi, kali ini ia dengan nekad mengguncang bahu hyungnya itu, memaksanya untuk membuka mulut.

"Aku…" Heechul kebingungan untuk mengatakan apa yang dilihatnya dan Donghae akhirnya menjadi kesal.

"Kita ke sana sekarang."

.

.

.

"Hyung, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita bahkan tidak bisa masuk. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun di dalam sana." Siwon meremas-remas tangannya. Ia cemas setengah mati, ia ingin melakukan sesuatu tapi ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan dan saudaranya yang lain termasuk Leeteuk sama buntunya.

"Apa kita harus meminta bantuan Alpha lagi, hyung? Aku akan pergi kalau memang harus." Kali ini Eunhyuk yang bertanya dan Leeteuk sama sekali tidak menjawab. Pria paling tua di klan itu tampak sedang berusaha untuk mencari jalan keluar ditengah proses pemulihan tenaganya, setidaknya ia harus bisa mendapatkan cara untuk bisa melihat keadaan Kyuhyun.

Leeteuk meregangkan bahunya yang terasa kaku setelah Ryeowook selasai menyalurkan energy positifnya, rasa panas yang tadi sempat menjalari tubuhnya mulai menghilang perlahan-lahan. Dengan mengetuk-ngetukkan ujung kakinya di tanah, ia mencoba untuk berpikir lebih lebih keras lagi. Sesekali ia melirik Kibum yang sepertinya masih berjuang sendiri untuk mengatasi hawa panas yang terserap oleh kekuatannya. Kasihan sekali karena tidak ada yang bisa membantunya bahkan Ryeowook sekalipun.

"Bagaimana keadaan Kibum, Wonnie?" tanyanya pada Siwon yang dibalas helaan nafas. Sepertinya bukan kabar baik.

"Kekuatan Kibum yang bersumber dari energi panas menyatu dengan hawa dari sinar magis itu. Panasnya terserap otomatis ke dalam tubuh Kibum tapi seperti dia bisa mengatasinya sendiri, hyung." Jelas Siwon. Leeteuk mengangguk mengerti. Ia berganti menatap ke arah Eunhyuk, adiknya yang memiliki gummy smile itu tersenyum begitu lebar, mungkin mencoba untuk menenangkannya meskipun tanpa menggunakan kata mata ahli ia masih bisa menangkap kesedihan dibalik mata kecil itu. Leeteuk membalas senyumnya tak kalah hangat dan saat itu juga ia tiba-tiba teringat sesuatu.

"Cepat panggil Donghae kemari!" Titahnya pada siapa saja yang ada di dekatnya dan Sungmin dengan cepat tanggap segera berdiri hendak melakukan teleportasi. Tapi sebelum ia sempat berpindah tempat, sebuah suara menginterupsi.

"Kami di sini, hyung." Donghae ada di sana bersama Heechul yang pucat pasi. Semua orang terkejut dengan kehadiran mereka yang tiba-tiba dan juga keadaan Heechul yang sungguh mengkhawatirkan.

SRETT!

"Heechullie, ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?" Leeteuk berjalan mendekat ke arah Donghae dan Heechul, berdiri tepat di hadapan pria yang hanya berbeda beberapa hari darinya itu.

"Chullie hyung melihat sesuatu, Teuk hyung. Aku membawanya kemari karena kupikir itu pasti sesuatu yang buruk dan sepertinya memang benar." Donghae mengamati sekeliling, semua saudaranya tampak letih dan juga panik, terliebih Kibum yang mengasingkan diri dengan kulit yang memerah parah. Kemudian pandangannya berhenti di gubuk, ia melihat ada cahaya biru gelap yang keluar dari sana, cahaya yang sama dengan yang waktu itu pernah keluar dari tanda sulur Kyuhyun. Donghae terdiam.

"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Bukankah Lucifer sudah pergi dan berjanji tidak akan mengambil Kyuhyun dari kita? Dan apa yang terjadi pada Kibum?" Leeteuk menunduk dan menghela nafas.

"Aku melupakan satu hal, Hae-ya. Ternyata, darah iblis itu akan tetap ada dalam tubuh Kyuhyun meskipun Lucifer sudah tak menginginkannya lagi." Donghae terkejut. Ia ingin berpikir skeptik dan ia akhirnya mencoba untuk berbalik mendekati Kibum, tapi Leeteuk langsung mencegah.

"Jangan. Kau akan terbakar." Katanya sedih yang lagi-lagi membuat Donghae semakin tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi sekarang dan Heechul mendadak jatuh terduduk di tanah seolah ia baru saja kehilangan rohnya. Sungmin segera menghampiri hyung tertua keduanya itu dan membawanya untuk duduk di dekat pohon tempat Ryeowook bersembunyi agar adiknya itu bisa menolong Heechul.

"Aku sama sekali tidak mengerti…"

"Kita semua yang ada di tempat ini tidak mengerti, Hae-ya. Gerhana bulan merah sudah muncul, Kyuhyun ternyata masih bisa berubah karena darah iblis itu masih tetap ada dalam tubuhnya, saat aku ingin masuk ke dalam gubuk ada cahaya biru yang keluar, aku terpental, saat aku akan mencoba lagi, terasa seperti ada hawa panas yang menerpaku, itu sangat panas, dan ternyata kekuatan Kibum menyatu dengan hawa itu karena sama-sama berasal dari energy panas, tubuh Kibum dengan otomatis menyerapnya dan sekarang dia sedang berusaha untuk mengendalikan tubuhnya sendiri, itulah sebabnya mengapa kulit anak itu sekarang berubah menjadi sangat merah. Sekarang katakan padaku, bisakah kau membantu kami dengan membuat kita semua bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun di dalam sana?" Donghae terdiam mendengar Leeteuk berbicara sedemikian panjang padanya. Mungkin orang lain yang mendengar akan berpikir kalau Leeteuk sedang kesal, tapi Donghae tahu Leeteuk tidak begitu.

"Baiklah." Jawabnya mantap, membuahkan sebuah senyum malaikat dari Leeteuk.

"ARRGGHHHHHHHH!"

Baru saja Leeteuk dan yang lain ingin mengobarkan semangat lagi, jeritan penuh kesakitan dari Heechul dan Kyuhyun yang terdengar bersamaan membuat semua kembali dilanda panik. Mereka sontak berhambur mengelilingi Heechul yang berada dalam pangkuan Ryeowook yang ternyata sedang menangis, entah bagaimana ceritanya eternal magnae mereka itu berhasil mengeluarkan air matanya.

Heechul tampak sangat menderita, kelopak matanya terlihat menghitam, ia bahkan kehilangan aura cantik yang selalu ia banggakan selama ini. Leeteuk menatap penuh rasa sakit, banyak sekali yang mereka korbankan, bahkan Kibum juga belum kembali normal sampai sekarang.

"Chulllie-ah… Semengerikan apapun penglihatan yang kau dapat, jangan pernah takut karena kami semua masih ada di sini. Jika ada yang harus menderita, maka kita semua akan menanggungnya bersama. Tidak ada yang berdiri sendiri di sini, buka matamu dan tatap kami satu persatu, semua orang ada di sekitarmu. Jangan takut…" Pada akhirnya Leeteuk juga ikut meneteskan air mata pertamanya. Ia sudah sekuat tenaga menekan rasa sesak yang merambati dadanya, tapi ternyata ia masih gagal.

"Katakan padaku kalau kalian semua yang ada di tempat ini masih saling mencintai satu sama lain. Katakan padaku jika kalian rela, meskipun harus bertaruh nyawa demi menyelamatkan saudara yang masih kalian miliki. Katakan padaku, apapun itu yang bisa meyakinkanku bahwa kita semua yang ada di sini, masih berada dalam satu lingkaran yang sama." Donghae dan Eunhyuk bergandengan tangan, mencoba untuk saling menguatkan.

"Kami masih dan akan tetap di sini, Teuk hyung." Jawab mereka tegas.

"Ya, kami juga." Siwon, Ryeowook, Shindong dan Yesung mengangguk mantap. Kangin, Hangeng dan Sungmin tersenyum meyakinkan.

"Begitupun denganku, hyung." Leeteuk sontak mengusap air matanya yang kembali jatuh begitu melihat Kibum berjalan terseok mendekati mereka, meskipun tetap bersikeras untuk menjaga jarak. Ia tersenyum begitu lebar, mengabaikan rasa sakit yang ia rasakan. Melihat Kibum yang begitu tegar menahan deritanya, yang Leeteuk tahu sangat tidak mudah, ia merasa ingin mengutuk siapa pun yang membuat mereka harus merasakan hal semenyakitkan ini.

SRETT!

"Aku masih sanggup untuk berjuang, meskipun aku akan mati perlahan karena tidak tahan dengan apa yang kulihat. Aku akan tetap mencoba sekuat tenaga agar selalu ada untuk kalian." Heechul tersenyum lirih, Leeteuk bisa melihat semangat di sana.

"Baiklah. Ayo berjuang sekali lagi."

.

.

.

Marcus duduk dengan tenang di belakang semak-semak sambil mengamati kegiatan para Cho bersaudara yang menurutnya sangat dramatis tapi juga menyentuh. Ini pertama kalinya ia meliaht orang-orang yang rela mengorbankan dirinya demi orang lain. Mereka bukan sedarah, tentu saja. Tapi rasa cinta dan saling memiliki yang ada dalam diri mereka membuat mereka kuat. Marcus tersenyum.

"Aku akan melihat apakah perjuangan mereka ini akan membuahkan hasil." Gumamnya.

Keberadaan Marcus yang tidak terlalu mencolok, membuatnya bebas untuk melakukan apapun. Tadinya ia berpikir akan menginterupsi kelompok vampire itu ketika mereka tengah dilanda kebingungan, tapi saat ia melihat Kibum yang mendadak jadi begitu unik di matanya karena warna kulitnya yang memerah, ia berubah pikiran dan memutuskan untuk menunggu dan ia tidak menyesal akan keputusan itu. Buktinya, Leeteuk sudah berhasil membawa kembali semangat ke-11 saudaranya untuk berjuang lagi, termasuk Heechul yang sepertinya sangat lemah.

Sambil mengamati jam tangannya dan langit secara bergantian, Marcus menghela nafas. "Tinggal sebentar lagi." Bisiknya pada angin.

.

.

.

"Semuanya, berkumpul di bawah pohon itu." Leeteuk menujuk pohon yang tadi sempat digunakan Ryeowook untuk bersembunyi. Posisinya yang tepat menghadap gubuk, membuat Leeteuk berpikir itu adalah spot yang paling tepat.

"Kibummie, apa kau masih sanggup? Aku bisa meminta Hangeng dan Kangin untuk meminta ramuan pada Alpha." Kibum menoleh dan tersenyum pada Leeteuk.

"Aku baik-baik saja, hyung. Hanya fokus pada rencana selanjutnya." Jawabnya berusaha meyakinkan Leeteuk kalau keadaannya tidak akan menjadi masalah. Dan Leeteuk akhirnya mengangguk mengerti.

"Baiklah. Pertama, kita harus melihat keadaan Kyuhyun di dalam sana agar kita bisa menentukan langkah selanjutnya. Hae-ya, masalah ini kuserahkan padamu." Donghae mengangguk paham. Saat semua duduk melingkar, ia mengambil posisi tepat di tengah dengan sebuah wadah besar berisi air yang entah didapat dari mana sebagai media untuk melihat ke dalam gubuk.

Donghae memfokuskan pikirannya dan perlahan-lahan, air dalam wadah itu berputar teratur hingga lambat-laun mulai terlihat gambaran dalam gubuk. Suasana di dalam gubuk begitu abstrak karena penuh dengan cahaya biru gelap. Mereka kesulitan untuk menangkap sosok Kyuhyun meskipun Donghae telah berusaha mencapai batas fokusnya.

"Mengapa hanya terlihat bayangan samar-samar begini?" Shindong mengucek matanya yang sedikit terasa sakit karena terlalu dipaksakan melotot.

"Hae-ya, apa tidak ada yang bisa dilakukan agar terlihat sedikit lebih jelas?" Leeteuk mulai cemas, kalau seperti ini ia tidak akan tahu bagaimana kondisi Kyuhyun di dalam sana dan itu sama saja seperti sebelum mereka bisa melihat ke dalam gubuk.

"Tidak ada, hyung." Donghae menunduk sedih. Leeteuk menghela nafas kemudian tersenyum dan menepuk punggung Donghae pelan.

"Tidak apa-apa." Katanya menenangkan. Sementara yang lain sibuk berdebat karena tidak bisa melihat apapun, entah mengapa Siwon malah sangat berkonsentrasi melihat dengan bayangan samar itu. Ia merasa akan ada sesuatu yang muncul. Dan memang benar, saat Donghae membidik dengan tidak fokus karena yang lain masih banyak yang mengeluh, tanpa sengaja Siwon melihat bayangan dua titik berwarna merah yang kalau dipikir-pikir bentuknya mirip seperti…

"ASTAGA! ITU KYUHYUN!" Siwon refleks berteriak begitu sadar apa yang baru saja dilihatnya itu. Itu adalah sepasang mata dan sepertinya milik Kyuhyun karena tidak ada siapapun selain anak itu di dalam gubuk.

"Leeteuk Hyung, apa yang terjadi pada Kyuhyun? Mengapa matanya menjadi merah begitu?" Ryeowook merangkak mendekati wadah air Donghae untuk melihat lebih dekat dan beberapa kali melihat bayangan itu cukup untuk membuatnya merasa ngeri sendiri.

"Tunggu, tunggu dulu. Ada yang aneh di sini." Tiba-tiba Heechul menginterupsi, membuat Leeteuk dan yang lain menatap tidak mengerti padanya.

"Apanya yang aneh, Chullie hyung?" Kangin bertanya mewakili yang lain. Dan Heechul menanggapinya dengan semakin mengerutkan dahi. Ia kemudian melempar tatapan ganjil pada Leeteuk yang hanya diam, menunggu dengan tenang.

"Menurut penglihatan yang ku dapat sebelumnya. Mata Kyuhyun harusnya berwarna hitam seperti Lucifer. Bukan merah menyala seperti ini. Itu adalah warna mata Kyuhyun sebagai vampire, sama seperti kita dan kalau ternyata dia memang tetap berubah menjadi iblis, harusnya warna bolah matanya juga ikut berubah. Tapi mengapa yang terlihat sekarang ini justru berbeda?" Tukasnya.

Perkataan Heechul itu memaksa semua orang untuk berpikir hingga akhirnya menghasilkan spekulasi-spekulasi yang tidak masuk akal. Terlebih saat Hangeng berkata dengan gamblang bahwa mungkin saja jiwa vampire Kyuhyun tengah memberontak untuk menolak jiwa iblisnya, sehingga untuk beberapa momen yang terlihat hanyalah mata merahnya tapi ada momen saat mata Kyuhyun menjadi hitam juga hanya saja tidak terlihat karena cahaya yang gelap.

"Itu tidak mungkin!" Sanggah Shindong tidak setuju. Ia lebih suka spekulasinya sendiri karena menurutnya mungkin saja kesalahannya ada pada Heechul, mungkin Heechul tidak melihat mata Kyuhyun dengan benar jadinya ia berpikir itu berwarna hitam padahal memang berwarna merah seperti sekarang ini.

"Tapi kurasa Han gege ada benarnya, Teuk hyung." Kali ini Kibum lah yang menimpali. Ia setuju karena ia juga berpikir demikian dan Leeteuk juga sepertinya sependapat, hanya saja mereka belum terlalu yakin, segala hal mulai dari yang masuk akal sampai yang tidak sekalipun bisa saja terjadi di sini.

"Jadi apa yang harus kita lakukan? Berdiam diri sampai gerhana bulan merah lewat? Sampai Kyuhyun keluar sendiri dan menampakkan wujudnya iblisnya pada kita? Ayolah, ini hanya membuang-buang waktu." Kangin memang kurang ajar. Setidaknya itulah julukan yang Heechul berikan padanya. Tapi yang ia katakan itu memang benar. Akhirnya Leeteuk mengalah dan kembali memberi komando.

"Seberapa banyak energi yang kita miliki?" Tanyanya.

"Aku merasa masih full, hyung. Tadi memang melelahkan tapi kita istirahat cukup lama jadi aku siap kapan pun." Ryeowook menjawab.

"Aku juga."

"Benar."

"Kita semua masih kuat, Teuk-ah." Heechul menepuk bahu Leeteuk yang dihadiahi senyuman oleh sang empunya.

"Baiklah. Rencana kedua, kita butuh seseorang untuk berkomunikasi dengan Kyuhyun. Kita harus menariknya keluar dari dalam gubuk itu sebelum gerhana ini selesai." Eunhyuk mengacungkan tangannya tinggi-tinggi.

"Ne, Eunhyuk-ah? Kau punya ide?"

"Kita bisa telepati, hyung!" Leeteuk berpikir sejenak sebelum akhirnya menggeleng.

"Tidak bisa, kita memproteksi pikiran Kyuhyun pagi tadi. Telepati tidak akan berhasil padanya untuk saat ini." Eunhyuk menghela nafas. Ia lupa akan hal itu.

"Ah, hyung! Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak, tapi sepertinya kita bisa mencobanya." Kibum berbicara lagi dari sisi di luar lingkaran. Masalahnya dengan aura panas itu belum juga selesai tapi sepertinya ia sudah bisa mengatasinya perlahan-lahan. Leeteuk mengangguk mempersilahkannya untuk berbicara.

"Sungmin hyung bisa membantu kita. Dia bisa mengendalikan pikiran Kyuhyun dan memaksanya untuk keluar dari gubuk, mengapa menurutku ini patut untuk dicoba karena kupikir sejak awal tepatnya sejak pagi tadi Sungmin hyung lah yang memegang kendali pikirannya dan kita bisa memanfaatkan itu. Tapi satu yang harus diingat, jangan coba-coba untuk melepas kuncian pikirannya, karena kalau sempat terlepas kita tidak akan punya kesempatan lagi untuk mengikatnya." Perlahan senyum terkembang di wajah Leeteuk dan yang lain. Memang tidak salah mereka memberi Kibum julukan si jenius yang pendiam.

"Baiklah, mari lihat dan buktikan. Sungmin-ah, lakukan sekarang." Sungmin yang masih bingung sempat terdiam, namun tatapan mata Leeteuk yang menyorot tegas dan penuh kepercayaan segera menyadarkannya dan dengan sigap ia bergerak sesuai perintah pemimpin klan mereka itu, sebisa mungkin agar tidak ada waktu yang terbuang.

Sungmin duduk di tengah lingkaran menggantikan posisi Donghae, di belakangnya ada Siwon yang akan menjadi sumber energi tambahan kalau-kalau energi yang dimilikinya tidak cukup kuat untuk menjangkau Kyuhyun. Siwon ada di sana untuk menggantikan posisi yang seharusnya diisi oleh Kibum karena anak itu sedang tidak boleh tersentuh oleh siapapun sekarang.

"Aku mulai." Sungmin mencoba untuk berkonsentrasi, matanya ia fokuskan pada wadah air milik Donghae yang masih memperlihatkan suasana dalam gubuk. Donghae berusaha untuk mencari-cari posisi Kyuhyun untuk memudahkan Sungmin mencoba peruntungannya.

Terlihat.

Mata merah itu bergerak liar ke segela arah. Tampak kacau dan tidak fokus sebelum kemudian berhenti pada satu titik yang jika dilihat dari sudut pandang para Cho bersaudara di luar sana, mata Kyuhyun itu tepat memandang ke arah mereka dan kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Sungmin. Dengan cepat ia mencoba untuk mengunci tatapannya dan mengontrol pikirannya. Sungmin pikir akan mudah, tapi ternyata tidak. Sinar magis yang menyelubungi tempat itu berusaha untuk memutus kontaknya, bahkan energi Sungmin nyaris lost karena diserap dengan brutal.

"Wonnie, bantu Sungmin." Untung saja Leeteuk menyadari kondisinya dan memerintahkan Siwon dengan cepat karena Sungmin memang tidak punya waktu untuk memberikan kode. Siwon lantas menyentuh punggung Sungmin untuk menyalurkan energinya. Proses penyaluran energi Siwon cukup lambat, tidak secepat Kibum. Namun, tampaknya tidak begitu mengganggu konsentrasi Sungmin terbukti dari seulas senyum yang tersemat di sudut bibir pria berwajah imut itu.

"Sedikit lagi." Bisiknya.

Mendengar Sungmin berkata seperti itu, secara otomatis yang lain beringsut mendekat untuk melihat lebih jelas dan meskipun masih samar, namun cahaya merah dari mata Kyuhyun cukup untuk memperlihatkan mereka akan kemana bocah magnae mereka itu bergerak dalam pengaruh Sungmin. Dan hasilnya adalah…

"Dia akan keluar sebentar lagi." Tebak Kangin. Leeteuk yang juga menyadari itu cepat-cepat memberi instruksi agar yang lain bersiap membentuk formasi dan untuk kali ini, mereka akan menyingkirkan Kibum dulu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Kibummie, bantulah hanya saat yang lain terdesak. Arraseo?" Dan Kibum hanya bisa mengangguk patuh. Ia akan menurut saja karena ia sendiri tidak ingin membahayakan nyawa orang-orang yang sangat disayanginya itu dengan kekeras kepalaannya.

"Bagus. Kangin, bersiap di garis depan. Shindong, Hangeng ikuti Kangin. Sungmin dan Donghae tetaplah berada di belakang, Donghae awasi pergerakan Kyuhyun dan beritahu apa saja yang kau lihat pada Sungmin. Ryeowook, bawa Heechul ikut bersamamu ke atas pohon. Siwon tetap bagi kekuatanmu dan lindungi Sungmin juga Donghae. Eunhyuk dan Yesung bantu dari garis belakang bersama Kibum. Saat Kyuhyun keluar nanti aku akan mencoba untuk mengajaknya berkomunikasi. Kalian siap?"

"Kami siap, hyung!"

.

.

.

Marcus masih di sana. Masih memperhatikan bagaimana jalan cerita ini akan berakhir. Tadinya ia sendiri, tapi sekarang tidak lagi. Di sebelahnya ada seseorang yang sekilas terlihat mirip dengannya namun sebenarnya sangat berbeda.

"Jadi… Menurutmu siapa yang akan menang di sini, otto-san? Sekumpulan Vampire itu atau takdir yang sedang bermain saat ini?" Marcus mengerutkan kening, ia melirik orang disebelahnya dengan tatapan kesal.

"Tidak perlu bertanya kalau kau sendiri tahu jawabannya." Orang itu tertawa meremehkan kemudian melayangkan sebelah tangannya untuk mengacak-acak rambut Marcus. Ia menggidikkan bahu acuh.

"Aku tahu kau sayang padanya, kenapa tidak pergi membantu?" Marcus mendengus.

"Lalu mati menggelikan di tangan si petir itu? Tidak, terima kasih." Sekali lagi tawa renyah sekaligus menjengkelkan menembus gendang telinganya dengan sangat menyebalkan. Marcus menghela nafas sebentar kemudian tanpa aba-aba segera bangkit berdiri dan pergi menjauh dari orang yang sudah mengacaukan pengintaiannya itu. Orang itu terlihat terkejut kemudian ikut berdiri dan berlari mengejar Marcus.

"Ya! Aku kan mengatakan apa yang menurutku benar. Kenapa kau marah? Ya! Otto-san!"

PLAK!

Marcus mendeplak kepala orang itu dengan cukup kuat dan ketika dibalas dengan pelototan ia kembali meradang dan baru akan melayangkan pukulan lagi sebelum sebuah energi tiba-tiba menghempaskan mereka berdua dengan kencang hingga tersungkur.

"Errgghhh…" Marcus meringis kesakitan sambil memegangi dadanya yang sempat menghantam tanah. Di tengah kesakitannya, mendadak ia ingat seseorang yang tadi bersamanya.

"Ken…" Marcus mencoba membalik tubuhnya dan mendapati Ken berada tidak terlalu jauh darinya dengan keadaan yang hampir serupa. Merasa semua masih dalam kembali, Marcus menghela nafas lega sebelum kemudian ia kembali melotot begitu melihat Ken di bangunkan paksa oleh seseorang yang muncul entah darimana.

"Siapa kalian?"

DEG!

Marcus terkejut mendapati Kibum kini tengah berdiri di hadapannya. Pemuda itu menarik kerah baju Ken hingga saudaranya itu tidak lagi menapak di tanah. Kibum si pemuda listrik yang mengerikan itu kini benar-benar ada di depan matanya.

"Kibum-ah, kami bisa menjelaskannya. Tapi tolong turunkan saudaraku." Marcus berhasil berdiri dengan tegak. Perlahan Kibum mulai melepaskan cengkramannya pada kerah baju Ken kemudian menghempaskan pemuda itu kembali menghantam tanah.

"Kalian penyusup."

Marcus menggeleng, "Tidak. Tidak. Aku punya alasan kenapa ada di sini, tapi percayalah kami bukan penyusup ya walaupun kami datang dengan menyusup." Marcus tersenyum aneh dan sesekali melirik Ken yang masih tidak berdaya di tanah.

Kibum menyipitkan matanya. Ia belum bisa percaya dengan kata-kata orang asing yang sering ia temui di sekolahnya itu tapi ia kemudian mengingat bahwa keluarganya sedang dalam kesulitan dan ia harus segera kembali untuk membantu mereka.

"Sampai semua ini berakhir, jangan pernah beranjak dari tempat ini atau aku akan mencari kalian sampai ke ujung bumi sekalipun."

SLAP!

.

.

.

"Hyung! Kyuhyun sepertinya akan mengamuk!" Donghae berteriak memberitahu Leeteuk apa yang ia lihat lewat wadah airnya. Tidak sedetikpun ia mengalihkan pandangan dari air yang menampakkan keadaan dalam gubuk itu. Leeteuk yang mendengar kemudian berpikir dengan keras, ia pikir mereka mungkin akan kekurangan tenaga ditambah kondisi Kibum yang belum memungkinkan untuk membantu mereka, oh iya tiba-tiba ia ingat adiknya itu dan lantas mencari keberadaannya tapi tak menemukan dimanapun.

"Kibum-ah!" Panggilan Leeteuk membuat yang lain saling berpandangan bingung, butuh beberapa panggilan sebelum akhirnya Kibum memunculkan diri dengan keadaan seperti semula, tidak ada energy panas lagi yang menyelimuti tubuhnya.

"Aku di sini, hyung. Ada apa?" Leeteuk mengernyitkan kening, ingin bertanya tapi ia tahu waktunya sedang tidak tepat untuk menanyakan hal lain selain Kyuhyun.

"Tidak. Kemarilah dan ikut berjaga di depan bersama Kangin. Donghae bilang kemungkinan Kyuhyun akan keluar dalam keadaan marah dan itu tidak bagus mengingat kekuatan kita saat ini terbilang cukup minim." Kibum mengangguk mengerti kemudian berjalan cepat mendekati posisi Kangin.

"Donghae, beritahu kami kapan Kyuhyun akan keluar." Leeteuk kembali memberi perintah yang diangguki dengan cepat oleh Donghae. Pemuda itu terlihat berkonsentrasi sebelum kemudian terlihat panik sama seperti Sungmin yang duduk di sebelahnya.

"DIA KELUAR!"

BRAK!

"Teuk hyung. awas!"

SRET!

Kibum berlari cepat menarik Leeteuk sebelum pintu gubuk yang baru saja dihancurkan Kyuhyun berhasil mengenainya. Pemimpin klan Cho itu terlihat terkejut namun dengan cepat menenagkan dirinya.

"A-apa…"

Ryeowook yang bertengger di atas pohon bersama Heechul mencicit tidak percaya dengan apa yang sedang dilihat oleh matanya.

"H-heechul hyung, a-apa itu Kyuhyun kita?" Kyuhyun kecil mereka yang selama ini mereka sayangi dan selalu manjakan kini berubah menjadi sosok yang berbeda. Itu seperti bukan Kyuhyun, yang selalu memakai baju keren dengan senyumnya yang tampan, itu bukan Kyuhyun karena Kyuhyun tidak punya sayap hitam sebesar itu dan tidak memiliki mata hitam yang menakutkan.

"H-heechul hyung—

"Diamlah, Wook. Diam dan tenanglah." Heechul memejamkan matanya. Ia tahu ia akan melihat sosok ini cepat atau lambat. Tadinya memang mata Kyuhyun berwarna merah tapi aura iblis itu mungkin sudah menguasai dia sepenuhnya hingga sepasang mata yang biasanya terlihat sangat indah itu kini menjadi sangat mengerikan.

"Kyuhyun-ah! Hyung tahu kau masih di sana!" Heechul, Ryeowook dan semua orang yang ada di sana mendengar Leeteuk mencoba untuk mengajak Kyuhyun berkomunikasi dan sosok mengerikan itu menanggapinya dengan geraman.

"Kyuhyun-ah! Kau harus berusaha untuk melawan darah iblis itu, arraseo! Kau lawan dari dalam dan kami akan membatu dari luar sini! Kami tidak pernah meninggalkanmu! Tidak ak—

CRASHH!

BRUK!

"LEETEUK HYUNG!"

.

.

.

TBC

.

.

.

Hehehe...

The embezzler evil comeback lagi! Aduhh terlalu lama gk update jd kayanya udh banyak yg lupa deh sama ff ini. Hehehe mianhae... Ada sesuatu yg gk bisa ditinggal kemarin dan aku berusaha nyari waktu yg pas buat update lagi dan jadilah hari ini. Makasih banyak buat yang udh review, aku sayang kalian dan aku gk bermaksud buat nunggu review sampai banyak tapi memang ada hal urgent kemarin-kemarin jd maafkan daku, arrasseo! Hehehe...

Saranghae^^