Hai minna! :D Maaf ya, udah lama banget fic ini tidak dilanjutkan hehe #kicked

Karena itu, mari langsung saja. Selamat membaca~~


Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warning : OOC, AU, alur kecepetan, mini deskrip, misstypo?

Genre : Romance/Friendship/little bit crime

Pairing : SasoSaku, slight SasuSaku

.

.

MY BUTLER SUCKS!


CHAPTER 9 : ACCIDENT

"Kau ngapain butler sialan?" tanya gadis berambut soft pink itu dengan nada sinis. Orang yang tadi dipanggil butler itu menelan ludah, dia melirik kantong yang tak lain berisi perhiasan sangat banyak di kedua tangannya yang ia sembunyikan di balik punggungnya.

"Hei, Sasori!" panggil Haruno Sakura—gadis berambut soft pink tadi. Melihat gelagat butler yang sering memerintahnya itu menjadi aneh, dengan perlahan dia berjalan mendekatinya.

Rasanya bagai slow motion bagi Sasori sang butler, melihat majikannya tersebut berjalan ke arahnya. Berkali-kali dia menelan ludah, memikirkan kata-kata apa yang harus dia keluarkan saat majikannya itu bertanya padanya. Sebenarnya bisa saja Sasori memukul gadis tersebut hingga pingsan dan langsung membawa kabur kantong-kantong perhiasan yang ada di tangannya. Kabur sejauh-jauhnya dari tempat itu, menghilang di tengah kabut dan tak akan pernah kembali.

Tapi tidak, Sasori tidak bisa melakukannya.

Sebenarnya bukan tidak bisa, tapi Sasori tidak mau melakukannya. Menyakiti gadis itu tidak bisa dilakukannya semenjak dia merasakan perasaan itu. Perasaan yang aneh. Mau tak mau Sasori harus membuang perasaan ini, cepat atau lambat. Banyak alasan untuk itu, terutama statusnya yang sangat berbeda dan kedudukannya jauh di bawah Sakura. Apalagi di luar sana, Deidara dan Pein—partner sekaligus penyelamatnya dulu kini tengah menunggu bantuannya. Sasori membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu pada gadis di depannya...

"Kepala permen karet!"

Malah itu yang bisa diucapkannya.

Sakura melotot kaget, "Apa? Kepala permen karet? Kurang ajar!" dengan kesal gadis itu menendang kaki Sasori walau bagi yang bersangkutan tidak merasakan apa-apa. Jelas saja, kekuatan seorang gadis biasa tidak akan bisa menyakiti kekuatan pencuri nomor satu di Konoha tersebut.

"Apa yang kau lakukan di sini butler jelek?" tanya Sakura setelah kelelahan memukul Sasori—yang anehnya tidak dibalas sama sekali. Sasori mengangkat bahu, sementara kantong perhiasan tersebut diselipkannya di antara celana yang kemudian dia tutupi dengan baju kaos merah yang dipakainya.

Sasori melihat-lihat ke arah lain, tidak mau menatap hijau emerald di depannya, "Tidak, aku tidak melakukan apa-apa," jawab laki-laki bermata hazel tersebut. Bohong.

"Hn," respon Sakura, dia sempat melirik kedua tangan Sasori yang berada di balik punggung laki-laki itu, "aku akan pergi ke luar bersama Sasuke, katanya ada yang ingin di bicarakannya. Kau jaga rumah ya," ujar Sakura dan berbalik keluar meninggalkan Sasori yang terpaku lega.

Langkah gadis itu menggema di dalam kamar berbentuk persegi dan bernuansa putih itu. Rambutnya yang panjang sepunggung itu bergerak ke kanan kiri mengiringinya berjalan. Sasori hanya memperhatikan dalam diam hingga Sakura berjalan keluar kamar. Bibirnya bergetar, dia harus mengatakan yang sesungguhnya—itu teriakan dalam batinnya. Ya, Sasori sudah memantapkan hati. Dia akan mengatakan yang sesungguhnya. Tapi sekarang bukan waktunya.

Lagipula sepertinya tadi Sakura mengatakan sesuatu, Sasori berpikir keras sebelum akhirnya dia tersadar.

"Aku akan pergi ke luar bersama Sasuke, katanya ada yang ingin di bicarakannya. Kau jaga rumah ya,"

Mata hazel itu membulat.

"Sial, mana boleh!"

.

.

Hari ini Sakura berdandan cukup cantik. Dia memakai rok putih pendek 5 cm di atas lutut dan kemeja kotak-kotak berwarna merah namun masih terlihat lekuk tubuhnya. Sekarang dia sedang menunggu di taman yang ada di tengah Konoha. Sakura datang dengan muka bad mood gara-gara tadi sebelum berangkat dia harus adu mulut dengan butlernya itu. Hampir saja dia tidak boleh pergi bersama Sasuke, seandainya tidak ada telpon masuk yang sepertinya penting dari Hp Sasori.

"Hah dasar, lama-lama aku seperti babu asli butler sialan itu," Sakura bermisuh-misuh sendiri. Sambil sesekali menghentakkan kakinya pada tanah di bawahnya, "belum lagi sekarang Sasuke belum juga da—"

"Tebak siapa?"

Sakura merasakan pandangannya gelap gulita seketika. Ada seseorang yang menutup matanya dari belakang. Sakura tidak bisa melihat siapa orang yang iseng itu—tentu saja. Yang pasti tangannya besar dan hangat. Dan lagi bukan cuma itu, suara berat ini rasanya Sakura pernah mendengarnya di suatu tempat.

"Sasu... ke?" tanya Sakura perlahan. Terdengar kekehan kecil di belakangnya, sebelum akhirnya orang itu melepaskan tangannya membuat Sakura kembali bisa melihat sekitarnya. Sakura segera menoleh ke belakang, memastikan apa jawabannya tepat.

Dan memang benar, terlihat Sasuke berdiri memakai sweater biru tua yang lengannya dilinting sementara di balik sweater tersebut ada kemeja putih yang kerahnya dikeluarkan. Dia tersenyum tipis menatap Sakura yang kini terdiam melihatnya. Menatapnya polos.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Sasuke pelan dan kembali berjalan. Sakura hanya megikuti langkah Sasuke kecil-kecil.

"Baik saja, kau?" tanya gadis itu balik yang hanya dijawab dengan senyum tipis Sasuke. Sakura tidak menuntut lebih, sempat berpacaran dengan laki-laki itu selama kurang lebih dua tahun bisa membuatnya menghafal karakteristik pria itu dengan baik.

Sasuke berhenti di depan restoran besar yang sepertinya restoran mahal dan berbintang lima, "Kita makan di sini," ucapnya dengan nada yang berkata 'tidak-usah-membantah' sehingga Sakura hanya diam dan mengangguk.

Tanpa sepatah kata yang berarti, Sasuke berjalan memasuki restoran mewah tersebut diikuti Sakura di belakangnya. Melihat sekitar sekilas, Sasuke langsung memilih meja di pojokan untuk dua orang. Di dalam restoran itu, semua mata tertuju pada Sasuke dan Sakura. Dikarenakan saat ini banyak gadis yang datang, sehingga Sasuke yang jauh lebih diperhatikan. Namun tentu saja hal ini tidak dipedulikan kedua insan tersebut, bagi mereka hal seperti ini terlampau biasa.

Sakura segera mendudukkan dirinya di atas kursi tepat berada di depan Sasuke. Dia memperhatikan Sasuke yang kini tengah memesan makanan untuk mereka berdua, begitu pelayan pergi. Sakura tetap memperhatikan Sasuke yang kini tengah menunduk menatap kedua tangannya yang saling mengait, "Jadi..." Sakura membuka pembicaraan, "...apa yang mau katakan padaku?" tanya Sakura to the point.

Sasuke terlihat menghela nafas, "Entahlah, ngg lebih baik lupakan saja," jawab Sasuke sambil melemparkan pandangannya pada pemandangan di luar jendela di sampingnya.

Melihat itu, tentu saja membuat Sakura kesal, "Tidak lucu Sasuke, aku datang karena kau bilang akan ada pembicaraan penting," ucap Sakura dengan nada tegas. Tapi Sasuke masih saja diam sampai akhirnya Sakura menghela nafas, "ya sudah kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, aku akan pulang,"

"Tunggu," cegah Sasuke saat melihat Sakura mulai berdiri dari kursinya, gerakan Sakura terhenti, "sebenarnya aku ingin minta maaf," ucap Sasuke dengan suara yang sangat teramat pelan, ditambah dengan kepalanya yang menunduk.

"Err, apa? Kau bilang apa?" Sakura mengangkat sebelah alisnya.

"Maaf,"

"Apa?"

"Maaf,"

"Ha?"

"MAAF!" Sasuke mulai berteriak.

"He?" Sakura kini duduk di depan Sasuke, tersenyum menahan tawa, "Maaf untuk apa, Sasuke?" tanya Sakura, Sasuke mendelik menyadari nada bicara Sakura yang berubah. Lebih tepatnya seperti nada mengejek.

Pemuda berambut raven itu meremas rambutnya seperti frustasi. Dia menarik nafas, menahan diri supaya tidak meledak di sini, "Hn, maaf untuk semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu," ucap Sasuke pelan. Sakura tertawa kecil mendengarnya.

"Hahaha oke oke," tanggap Sakura dengan santai, dia melirik pelayan yang kini menaruh pesanan Sasuke di atas meja mereka, "seorang Uchiha Sasuke mengucapkan maaf, apa kata dunia?" canda Sakura sambil menjulurkan lidah.

Sakura masih tertawa saat dia menggapai makanannya, sementara Sasuke terlihat kembali berpikir, "Ah lalu..." Sasuke kembali mengeluarkan suara membuat perhatian Sakura teralihkan dari makanan, "aku punya pertanyaan,"

"Apa? Ngomong saja," pinta Sakura sambil mengunyah daging steak cordon blue di mulutnya. Sasuke masih diam, bahkan sampai Sakura menyelesaikan kunyahannya dan memotong daging lagi. Baru saat Sakura akan memasukkan potongan daging berikutnya ke dalam mulutnya, Sasuke mengeluarkan suara.

"Maukah kau kembali menjadi pacarku?"

Gerakan Sakura terhenti. Bahkan saking kagetnya dia hampir saja keselek. Mata hijau emeraldnya menatap mata onyx Sasuke dengan serius.

.

Seorang laki-laki yang memiliki wajah baby face dan berambut merah kini tengah berjalan di pinggir jalan. Kemeja putih yang berantakan, sepatu kets putih dan jeans hitam memperkeren penampilannya yang sporty. Dia menendang-nendang batu kecil di depannya dengan kesal. Bagaimana tidak? Tadi dia HAMPIR saja berhasil untuk menahan majikan (atau babu?) untuk tidak pergi dengan laki-laki—yang menurut Sasori—hidung belang itu.

"Bagaimana kalau nanti pulang-pulang Sakura berbadan dua? Cih, akan kucincang habis si ayam itu!" gusar Sasori. Sungguh, dari tadi pikirannya sangat tidak tenang. Setiap dia melihat ayam yang berjalan atau sekedar lewat di depannya, langsung Sasori tendang, tak ayal ada beberapa yang dia injak dengan sadis.

Kenapa?

Setiap melihat ekor ayam tersebut, dia jadi ingat seseorang.

Sasori mendengus kesal. Beberapa saat kemudian, wajahnya kini malah berubah menjadi sedih. Sekarang dia memikirkan bagaimana caranya nanti dia bicara dengan Sakura? Memberi tahu bahwa sesungguhnya dia adalah pencuri atau perampok nomor satu di Konoha? Sasori yakin, Sakura pasti akan marah sekecil apapun itu.

Tak terasa langkahnya masih terus berjalan hingga dia berhenti di depan sebuah rumah yang sudah mulai dibangun kembali walau baru kerangkanya saja. Sasori terdiam menatap kedua partnernya yang tengah saling memberi instruksi. Satu berambut orange dan berpiercing, satunya laki-laki cantik dengan rambut pirang panjang diikat ekor kuda dan poninya menutupi mata kirinya. Sasori tersenyum tipis. Bagaimanapun dia tidak mau mereka ditangkap polisi atau sebagainya yang menghalangi persahabatan mereka semua. Sasori harus memikirkan cara lain.

"Sasori-kun?" panggilan seseorang membuyarkan lamunan pemuda berambut merah itu. Sasori mengangkat kepalanya dan melihat laki-laki berambut pirang menatapnya senang.

Sasori tersenyum menanggapinya, "Hei Deidara," ucapnya. Deidara tertawa dan berlari memeluk Sasori sangat kencang, seperti anak kecil yang bertemu orang tuanya setelah sekian lama terpisah dalam waktu yang lama. Mengingat tubuh Deidara lebih kecil dari Sasori—tingginya hanya seleher laki-laki bermata Hazel tersebut.

Saat berpelukan itu, Sasori melihat Pein yang tersenyum dengan gayanya yang (sok) ngebos berjalan ke arahnya, "Haha kau datang juga Saso, jadi mana?" tanya Pein to the point. Sasori hanya diam sementara Deidara melepaskan pelukannya dan menatap kedua partnernya dengan polos.

Tangan Sasori bergerak untuk menggapai kantong perhiasan yang kini berada di sakunya. Dikeluarkannya perlahan, Sasori menatapnya sesaat sebelum akhirnya dia memberikan kantong itu pada Pein yang langsung menerimanya. Pemuda berwajah baby face itu terdiam melihat Pein yang membuka kantong dan wajahnya menunjukkan kalau dia puas sekali.

Sasori menarik nafas, "Di kantong itu perhiasannya paling banyak daripada kantong yang lain," ucap Sasori membuat perhatian Pein teralihkan.

"Benarkah?" Pein tersenyum senang, "Kalau begitu masih ada kantong yang lain kan? Berikutnya kau ambil saja semua kantong yang ada," kekeh Sasori dan kembali menyibukkan dirinya menghitung perhiasan yang ada di dalam kantong.

Laki-laki berambut merah menggelengkan kepalanya, "Tidak," Deidara menatap Sasori bingung, begitu pula Pein, "aku tidak akan kembali mencuri di sana,"

"Eh, kenapa un?" tanya Deidara sementara Pein masih tetap diam.

"Keluarga di sana hanya dua orang, perempuan semua dan mereka sangat mempercayaiku," bisik Sasori perlahan namun dapat didengar dua partner yang lain, "aku tidak mau mengkhianati mereka lebih jauh, lebih baik aku cari tempat lain saja," cetusnya.

"Kau bercanda Sasori?" tanya Pein meyakinkan, Sasori menggeleng. Ketiganya hening sesaat, hingga Pein mengeluarkan nafas, "Hahh apa boleh buat, kami juga percaya padamu. Jadi terserah kau saja," ujar Pein sambil tersenyum Deidara juga ikut tersenyum dan mengangguk tanda bahwa dia menyetujui bosnya.

Sasori bernafas lega, "Terima kasih bos," ucapnya pelan. Pein hanya terkekeh sendiri dan tangannya kembali bergerak untuk mengacak-acak rambut merah Sasori. Kebiasaannya.

"Hm, oh ya bagaimana dengan majikanmu itu?" tanya Pein sambil memutar-mutarkan kantong di tangannya. Sasori menggeleng, wajahnya kembali terlihat sedih—mengingat Sakura. Mengingat dia tak akan pernah kembali ke sana, tidak bisa bertemu lagi dengan gadis itu. Namun, yang sangat membuatnya kecewa adalah...

Dia tidak bisa lagi memperbudak gadis kaya itu.

Pein menatap bawahannya yang terlihat seperti galau itu. Lalu dia kembali teringat kata-kata Sasori sebelumnya, "Sebelumnya kau bilang ada dua perempuan di keluarga itu kan?" tanya Pein tiba-tiba membuat Sasori mengangkat wajahnya dan menatap sang bos, "Kau suka salah satu dari mereka?" tanya Pein sambil mengangkat sebelah alisnya.

Sasori tersentak kaget. Tebakan bosnya itu sangat tepat sampai-sampai rasanya menusuk. Sasori kembali menunduk, menahan perasaannya untuk tidak meledak. Deidara yang melihat keadaan Sasori hanya bisa menepuk-nepuk punggung laki-laki itu dengan prihatin. Merasa jawaban Sasori adalah 'ya', Pein menghela nafas. Yah, dia memang mengerti perasaan Sasori saat ini. Pasti berat kan harus meninggalkan gadis yang disayangi?

"Lalu..." Pein mengambil jeda, "kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?" tanyanya lagi. Sasori menggeleng pelan.

"Dasar, kalau begitu terus ya perasaanmu tidak akan pernah sampai padanya. Sama saja kau menyiksa dirimu sendiri. Ternyata kau memang masih anak kecil Sasori. Nah, sekarang lebih baik kau—eh jatuh!" Pein menghentikan ceramahnya saat salah satu cincin emas yang berada di dalam kantong jatuh menggelinding ke tengah jalan. Pein mendengus kesal dan menggelengkan kepalanya, "Merepotkan saja," keluhnya. Dengan ogah-ogahan akhirnya Pein berjalan ke tengah untuk mendapatkan cincin tersebut.

Sasori mencerna kata-kata Pein tadi. Dia benar, kalau terus ditahan maka Sasori akan menyakiti dirinya sendiri. Sasori harus mengatakannya yah sekalian dia mengucapkan selamat tinggal bukan? Pria berwajah baby face dan berambut merah itu tersenyum lega, akhirnya dia bisa juga memikirkan apa yang harus dilakukannya. Sekarang tinggal memikirkan kata-kata yang tepat. Saat Sasori berpikir keras, tiba-tiba saja Deidara berteriak.

"BOS!"

BRAK

Sasori tersentak. Dia langsung menengadahkan kepalanya dan mencari sumber suara tersebut. Deidara langsung berlari ke arah di mana tadi Pein berjalan untuk mengambil cincin emas yang terjatuh. Di sana, Sasori bisa melihat bos yang beberapa waktu lalu memberi masukan padanya. Bos yang dari dulu selalu melindunginya dan menyelamatkannya meski Sasori sendiri sering membentaknya. Sekarang, laki-laki bermata hazel itu hanya terpaku di pinggir jalan melihat bosnya tersebut terkapar di tengah jalan dengan kepala berlumuran darah sementara Deidara menangis di sampingnya dan sopir mobil yang menabraknya tadi tengah menelpon ambulance.

Saat kakinya dapat digerakkan, Sasori langsung berlari menerjang. Memeluk bos bodoh yang selalu merepotkannya tapi selalu menyelamatkannya.

"PEEEEIIN!"

.

To Be Continued


Special thanks for :

Imuri Ridan Chara, Shiori Yoshimitsu, kafuyamei vanessa-hime, Vipris, Ka Hime Shiseiten, Fuyuzakura-hime, Haruchi Nigiyama, Dhevitry Haruno, kin-chan, Kuroneko Hime-un, kiro yoiD, Uchiha Sakuya-chan, Morikawa Yui, Murasaki Sakura, Michiru No Akasuna, Thia2rh, Kazekuro Yuka-chan, Hanakaze-no-ookami, Fun-Ny Chan, KuroShiro6yh, dark-chillan, Chiho Nanoyuki, Ryuku S. A .J, Setan Alas, Sasori Schifferway, Gymnadenia, Arisa Horigoshi, Sakura-ChaNoRuffie-chan, Aihara Yuki, Delasachi luphL, Oichi Tyara no sasori (2x), Namikaze Sakura

Terima kasih semuanya, sudah mereview sampai sini ^^ next chap adalah final. Jadi jangan dilewatkan ya XD

Btw, aku kasih tahu ya untuk yang lupa di sini Sakura dan Deidara 17 tahun, Sasuke dan Sasori 18 tahun, Itachi dan Pein 20 tahun. Yup, supaya nggak bingung aja hehe, di sini Deidara perannya emang sengaja kubikin dewasa tapi polos supaya bisa melerai Sasori dan Pein kalau berantem. Sasori emang overprotective banget sama Deidara hoho~ Dan maaf ya aku gak bikin fic halloween, nggak sempet ==v

Next chap mungkin bakal kutampilin lagi slight PeinSaso atau PeinDei wahahaha #kumat #ditendang atau yang lebih asyik SasoDei, my favourite :9 #geplaked

Haha oke, boleh minta review? XD