CHAPTER 09

BETWEEN LOVE AND HATES

Karena kekecewaan yang kurasakan pada suamiku, pulang sekolah aku mogok bicara padanya.

"Kau kenapa?" Tanya Yunho padaku dimobil setelah pulang sekolah, aku menutup rapat bibirku.

"Hei kau kenapa? Dari tadi kau pendiam sekali" Tanya yunho lagi sambil memegang kepalaku kalau-kalau aku sakit panas.

Aku menggelengkan kepalaku, ia menatapku dan memegang tanganku.

"Kau mau belanja dulu?" tanyanya, aku menggeleng kepalaku lagi.

"Kau mau makan diluar?" Tanyanya lagi, aku menggeleng kepalaku.

"Apa kau sakit?"

"Tidak" jawabku kemudian untuk tidak membuatnya khawatir.

"Ah baiklah, aku hanya khawatir padamu".

oOo

Sesampainya di rumah ia menarik tubuhku untuk istirahat di kamar, ia membaringkan tubuhku lalu mencium keningku.

"Kau istirahat ya, aku yang akan memasak untukmu malam ini" ujarnya padaku, sebelum ia meninggalkanku aku memegang tangannya.

"Yunho, aku sedih sekali" kataku memberanikan diri.

"Ceritakan padaku apa yang membuatmu sedih" katanya sambil membelaiku dengan lembut.

"Semalam kau berbohong padaku kan? Kau tidak pergi ke tempat Yoochun kan?"

Yunho melepaskan tangannya dikepalaku, ia memalingkan muka, mencoba mencari kata-kata tepat untuk menjawab pertanyaanku.

"Kau tahu dari mana?" katanya balik bertanya

"Jadi benar kau pergi ke hotel dengan perempuan lain?"

Ia menundukkan wajahnya, ah hatiku kok semakin mendidih melihat sikapnya seperti ini, ia sama sekali tidak terlihat bersalah, hanya terlihat kikuk dihadapanku.

"Maafkan aku Jae" balasnya dengan tenang.

"Kau keterlaluan sekali!".

"Aku akan menjelaskannya padamu" ujarnya sambil mencoba memegang pundakku namun aku segera mendepaknya.

"Ya jelaskan saja, kau marah padaku karena aku tidak bisa melayanimu lalu kau pergi dengan wanita lain ke hotel untuk memuaskan nafsumu kan, begitu?!. Kau pikir aku bisa mengerti alasan seperti itu! Kau pikir aku akan memaafkanmu!" kataku berapi-api, aku sungguh kecewa sekali dengannya, hatiku sakit sekali.

"Dengarkan dulu penjelasanku"

"Jelaskanlah!"

"Memang demikian rencana awalnya, aku berniat untuk tidur dengan wanita itu, tapi aku tidak jadi melakukannya"

"Kau bohong, kau pikir aku percaya ceritamu? Untuk apa kau membawanya ke hotel kalau kau tidak menidurinya!".

"Jae aku tidak akan berbohong padamu, aku tahu aku salah tapi aku tidak ingin berbohong padamu, terserah kau mau berpikiran apa tapi dengarkan dulu penjelasanku".

"Baiklah lanjutkan".

"Awalnya aku memang membawa wanita itu ke hotel, saat kami hendak melakukannya aku tidak bisa karena aku ingat dirimu dirumah".

"Oya?!"

"Aku minta maaf"

"Aku tidak akan memafkanmu".

"Jae kau belum pernah sekalipun melakukan hubungan sex dengan orang lain kan?"

"Belum"

"Maka kau belum tahu bagaimana rasanya memiliki keinginan kuat untuk melakukan hal itu" ujarnya menjelaskan.

"Ya aku memang polos tidak seperti dirimu, salahkan saja aku, salahkan aku karena tidak berpengalaman seperti dirimu!".

"Hei bukan begitu maksudku, aku hanya ingin kau mengerti bahwa aku mempunyai keinginan kuat untuk melakukan hal itu, jika kau pernah sekali melakukannya kau ingin terus merasakannya apalagi ketika kau didekat orang yang kau sukai, seperti alkohol atau rokok, kau tidak bisa membendungnya, kau belum pernah mencobanya makanya kau tidak akan mengerti posisi diriku"

"Lalu kau ingin aku memaafkanmu dengan alasan tersebut untuk membenarkan perbuatanmu yang pergi tidur dengan orang lain? Begitu?!" ujarku semakin memanas.

"Ya mungkin seperti itu, aku memang salah, aku mohon maafkan aku, aku hanya ingin kau memaafkan perbuatanku, aku janji tidak akan mengulanginya"

"Oya? Kalau aku tetap tidak ingin berhubungan denganmu apa kau tetap tidak akan mencari orang lain untuk melepaskan hasratmu?"

"Tidak aku janji"

Aku buru-buru mengambil koper dari dalam lemari, semua bajunya kumasukkan kesana.

"Jae kau mau apa?".

"Keluar dari sini, aku tidak percaya padamu"

"Yah Jae, aku sudah mengaku salah dan minta maaf, kenapa kau malah mengusirku?!"

"Jangan mendekatiku, dasar tukang selingkuh!"

"Yah aku tidak akan kemana-mana ini rumahku"

"Baiklah kalau begitu kau tidur disofa saja, kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan, kau pikir aku akan dengan mudahnya memaafkanmu?!"

"Hei aku sudah mengakui perbuatanku, lagipula tidak terjadi apa-apa pada kami, apa kau tidak berpikir sikapmu ini berlebihan!"

"Ya aku memang berlebihan, kau tahu bagaimana diriku kan, aku tidak suka orang yang bermain-main dengan diriku…Jadi nikmatilah pembalasanku, keluar dari sini!" Kataku sambil membanting pintu kamar dihadapannya.

"Baiklah terserah dirimu" katanya dari luar pintu.

oOo

.

Paginya aku menyiapkan sarapan untuk diriku sendiri, Yunho yang baru selesai mengganti seragamnya mendekatiku.

"Sarapan apa pagi ini?". tanyanya seperti biasa dipagi hari, ia bertingkah seperti tidak terjadi sesuatu pada kami semalam.

"Aku tidak masak untukmu" kataku dengan judesnya sambil mengangkat potongan kimchi dan sayuran dari dalam panci kedalam piring besarku.

"Yah mana bisa seperti itu, kau masih istriku, kau harus masak untukku". Katanya protes.

"Yah siapa suruh kau berselingkuh dari istrimu, sudah beruntung aku tidak mengusirmu keluar dari sini" balasku sambil menuangkan saus dan mengaduknya kedalam nasi serta campuran kimchi, ia melihatku dengan kesal.

"Ini rumahku! Lagipula siapa yang selingkuh, kami tidak berbuat apa-apa" serunya membela diri.

"Tetap saja kau berbohong padaku!" kataku tenang sambil memakan makananku.

Yunho menarik nafasnya, aura kesal di wajahnya dapat kurasakan.

"Kau keterlaluan sekali, kau pikir siapa yang mau menerima pemuda dingin seperti robot seperti dirimu, sudah baik aku menerimamu dan keluargamu!". Sayuran di sendok yang hendak kumasukkan ke mulutku mendadak terhenti setelah mendengar ucapannya, aku mengembalikannya ke piring dan menantangnya.

"Ooh begitu jadi kau menyesal menikah denganku?!" kataku berusaha untuk tidak emosi.

"Pikir saja sendiri! Sudah tidak berguna diranjang kau pun tidak berguna di rumah…tsk"

Aku cukup sakit hati dengan perkataannya namun bukan diriku kalau aku begitu saja menerima perkataannya.

"Bagus kalau begitu, sekarang kelihatan sifat asli dirimu…baiklah pergi saja dengan wanita lain, tidur dengan orang lain sesukamu, jangan bicara lagi denganku! Aku tidak peduli lagi dengan dirimu!".

oOo

"Kalian ini kenapa lagi, kemarin mesra seperti lem kertas hari ini seperti kucing dan anjing". Ujar Junsu khawatir padaku, semenjak aku keluar dari mobil Yunho di sekolah kami sama sekali tidak menegur satu sama lain, Junsu yang melihat jelas pertengkaran di wajah kami berusaha mencairkanku namun aku terlanjur sakit hati dan tidak ingin bicara pada lelaki pembohong itu.

"Kenapa nasibku jelek sekali ya?!". Kataku setelah mencurahkan isi hatiku pada sahabatku..

"Kau harus memaafkannya, setidaknya ia telah mengaku bersalah" ujar Junsu menasehatiku..

"Kau ini, kemarin mengatai dia sekarang malah membelanya" protesku padanya.

"Bukan membelanya, aku hanya membantumu, kalau kalian sama-sama keras kepala terus bagaimana hubungan rumah tangga kalian?…Kalian tidak berniat cerai kan?"

"Apa maksudmu, kami tidak akan bercerai, aku hanya sedang menyatakan perang dengannya"

"Kau ini aneh sekali, seharusnya kau juga tahu kesalahanmu, dia pergi dengan wanita lain itu juga gara-gara dirimu yang tidak mau tidur dengannya"

"YaYaYa kau juga menyalahkanku".

"Kau punya kewajiban memuaskannya, memang seperti itu hidup berkeluarga". Ujar Junsu semakin menceramahiku

"Baiklah kalau begitu kau ajarkan aku".

"Ajarkan apa?" Tanya Junsu keheranan.

"Ajari soal tekhnik bercinta"

"Aku…Hfft…kenapa kau minta ajari padaku?". Balasnya sambil tertawa kecil.

"Kalau begitu aku harus belajar pada siapa?".

"Ya suamimu dong, dia kan ahlinya soal begituan"

"Kau tahu darimana ia ahli soal begituan?"

"Itulah mengapa kau ini polos sekali, semua orang sudah tahu hal itu, kan sudah kubilang ia dan teman-temannya sudah biasa dengan sex party, Yoochun sendiri yang mengaku padaku"

"Aku tidak bisa belajar darinya, aku kan sedang marahan dengannya"

"Kau buka baju dan diam saja dihadapannya, ia pasti langsung bertindak"

"Bertindak apa?"

"Kau ini ya, benar-benar membuat kepalaku pusing…tentu saja ia akan MEMPERKOSAMU!".

"YAH pelankan suaramu! Shhhtttt" kataku sambil melirik kanan kiri.

"Hahahaha kau ini lucu sekali…kalian pergilah honeymoon, besokkan weekend"

"Kau bercanda, untuk apa kami pergi liburan"

"Ah kau ini sama sekali tidak romantis"

Aku menatap langit, apa yang akan kami lakukan besok di hari libur ya, tidak pergi sekolah berarti waktu untuk kami berdua didalam rumah apalagi Yunho sedang marah padaku, aku ingin mengajaknya ke pantai, tapi mana mungkin kami kan sedang marahan.

oOo

Pulang sekolah Yunho masih menungguku, kupikir ia akan meninggalkanku karena kesal dengan sikapku.

"Kau menungguku?" tanyaku judes seperti mau ngajak perang.

"Ya setidaknya aku masih punya tanggung jawab" katanya tanpa melihat kearahku, aku jadi semakin kesal dengan sikapnya, ternyata hidup berkeluarga tidak selalu menyenangkan.

Sepanjang perjalanan kami terdiam, lagu yang diputar Yunho menambah suasana semakin tegang antara kami berdua.

"Kita belanja dulu ya" kataku mencoba memancingnya bicara

"Baiklah"

Yunho memilih menunggu di parkiran dan membiarkanku mencari bahan belanjaan sendiri, aku yang sedang kesal dengannya menjadi tambah kesal dengan sikap dinginnya, aku mencoba untuk berpikiran positif, nanti malam ia harus minta maaf padaku jika tidak aku tidak akan pernah memaafkannya. Pikirku sambil memasukkan bahan makanan dengan cepat.

Di rumah bukannya bertambah baik, ia semakin bersikap dingin padaku, karena kesal aku membuatkan makan malam untuknya dan aku membawa makananku sendiri kedalam kamar sambil mengunci pintu kamar, aku bisa-bisa menumpahkan makan malam ini ke wajahnya kalau ia terus menerus bersikap seperti itu.

Sial padahal aku ingin mengajaknya ke pantai besok untuk berbaikan, jika seperti ini terus kami bisa-bisa terus perang dingin.

.

.

.

Pagi harinya saat aku bangun aku mendengar suara berisik dari dalam kamar, kulihat Yunho sedang memasukan beberapa baju dan jaket kedalam tas. Apa ia benar-benar mau pergi dari sini?.

"Kau mau kemana?" tanyaku langsung terjaga.

"Aku mau pergi selama dua hari".

"Pergi kemana?"

"Ada acara reuni sekolahku dulu, aku akan menginap di villa teman" ujarnya menjelaskan.

"La-lalu aku?" kataku kemudian padanya.

Tangan Yunho berhenti dan ia menatapku.

"Memangnya kenapa dengan dirimu?". Tanyanya balik dengan nada sinis.

"Aku tidak ingin ditinggal sendirian di apartemen".

Ah Yunho kau brengsek, aku kan ingin pergi ke pantai, kenapa kau malah pergi sendirian…

"Hmm bagaimana ini. Aku janji akan datang sendirian, kau tidak akan nyaman jika ikut, banyak teman-temanku yang tidak kau kenal" katanya menjelaskan.

"Tapi aku mau ikut"

"Kau ini kenapa sih, apa kau takut aku selingkuh?" serunya.

"Aku hanya tidak ingin sendiri disini, lagipula aku juga ingin liburan" kataku beralasan, penolakan Yunho membuatku semakin ingin mengikutinya.

"Baiklah sana cuci wajahmu dan temui aku 10 menit lagi dibawah"

"Sepuluh menit?"

"Sepuluh menit atau kau kutinggal" ujarnya dengan Judes. Ia langsung mengangkat tasnya keluar dari kamar, karena panik aku langsung membasuh wajahku seadanya lalu memakai baju secepatnya lalu turun kebawah dengan tergesa-gesa, aku akhirnya tiba di mobilnya dengan nafas yang hampir habis.

"Wah kau sebegitunya mencurigaiku ya sampai mengusahakan ikut denganku" katanya menyindir padaku, aku bahkan belum sarapan dan kini aku harus menerima kata-kata pedas darinya.

"Jangan bercanda denganku atau kupatahkan tanganmu!" kataku galak sambil melemparkan tasku kedalam mobilnya.

Tak berapa lama mobil pun sudah melaju dengan kecepatan sedang, ditengah perjalanan Yunho berhenti di supermarket untuk membeli sarapan, kami masih sama-sama diam sepanjang perjalanan sampai aku tertidur karena bosan.

oOo

"Hei bangun, sudah sampai"

Yunho membelai-belai pipiku sampai terbangun, kami sudah berada disebuah villa besar yang terdapat banyak pohon cemara disekitarnya

"Wah indah sekali" seruku ketika keluar mobil, suasana pegunungan yang sungguh sejuk sekali.

Yunho membawaku kedalam villa, disana teman-temannya sudah berkumpul, ada sekitar enam orang, empat orang pria yang salah satunya kukenal dan dua wanita cantik yang langsung berlari memeluk Yunho ketika kami masuk.

"Kau semakin tampan Yunho-chan" ujar salah seorang wanita berambut panjang dengan dialek jepangnya, wanita itu pun tidak segan untuk mencium pipinya dihadapanku.

"Kau tidak berubah ya. Ayu-chan" ujar Yunho balik mencium pipinya, aku rasa ia sengaja hendak membuatku marah.

"Eeeh siapa ini?" Tanya wanita cantik itu ketika melihatku.

"Aaah apa dia pasanganmu?" Tanyanya lagi.

"Iya, kenalkan. Ini Kim Jaejoong" kata Yunho sambil mengenalkanku.

"Eeeh Jadi kau pasangannya Yunho ya?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya yang kecil.

"Maaf aku tidak bisa bahasa jepang" balasku tidak ramah pada wanita tersebut.

"Maafkan dia, memang sifatnya seperti anak kecil, kami keatas dulu ya" ujar Yunho pamit pada temannya, ia lalu menarikku keatas, menginterogasiku.

"Apa kau tidak bisa bersikap lebih bersahabat pada teman-temanku?"

"Ah aku lupa maafkan aku, soalnya aku masih kesal jika melihat wanita didekatmu, aku seperti melihat selingkuhanmu saja" kataku santai sambil melemparkan tas dan tubuhku keatas kasur.

"Jae aku ingin berlibur, aku ingin menenangkan diri darimu sejenak, tak bisakah kau bersikap lebih baik?".

"Baiklah, aku janji akan bersikap baik".

"Terimakasih, kau tidak usah bicara dengan teman-temanku ya, kau bicara saja pada Yoochun satu-satunya orang yang mengenalmu"

"Memangnya kenapa kalau aku bicara dengan teman-temanmu?".

"Kau tidak akan bisa mengontrol mulutmu, kau bisa mempermalukanku".

"Ah kau ini, aku ini kan istrimu, apanya yang hendak dipermalukan".

"Sudahlah kau diam saja disini, tidur saja seharian sampai makan malam tiba".

"Apa kau malu punya pasangan sepertiku?"

"Entahlah aku sedang memikirkannya sekarang"

Tanganku terkepal, jika tidak ingat ia adalah orang yang menolong keluargaku sudah kuhajar mulutnya yang keterlaluan itu, aku mencoba tersenyum simpul sambil menahan dadaku yang naik turun geram.

"Baiklah, aku akan menurut padamu, selamat bersenang-senang" kataku dengan senyum terpaksa.

"Nah begitu dong sayang, aku keluar dulu ya" ujarnya, tangannya membelai pipiku, lalu ia melangkah pergi.

Tsk, keterlaluan sekali menyuruhku mengurung diri didalam kamar, apa dia malu punya pasangan sepertiku?! AAAAHHH menyebalkan!, sudahlah lebih baik aku tidur saja.

Aku membaringkan diriku dengan kesal dan tanpa terasa jam pun berputar

.

.

Langit sudah gelap saat aku terbangun dari tidur siangku, jika diingat-ingat seharian ini aktifitasku hanya tidur, didalam mobil yunho juga disini, sepertinya aku tidak akan bisa tidur malam ini.

Tawa serta suara teman-teman Yunho membuatku tidak bisa berdiam diri dikamar, aku turun untuk bergabung bersama meraka, mereka menyapaku dengan ramah.

"Kau sudah makan?" Tanya Yoochun yang dari tadi asyik berduaan dengan teman wanitanya.

"Belum" jawabku.

"Makanlah dulu, sini" katanya sambil memgeser kursi untukku.

"Yunho kemana?" tanyaku padanya

"Pergi keluar menemani A-chan"

"Kemana?"

"Belanja, A-chan senang sekali belanja" balasnya menerangkan

"Oooh begitu ya"

Aku melihat makanan didepanku dan selera makanku langsung hilang

"Kau kenapa?"

"Aku tidak selera makan"

"Tak usah kuatir, mereka hanya teman" katanya meyakinkanku

"Aku tahu tapi aku tidak ingin makan"

"Baiklah, kalau begitu bagaimana jika kukenalkan dengan teman-temanku"

"Iya"

Setelah kami asyik mengobrol satu jam kemudian akhirnya Yunho datang.

"Kalian darimana saja?" tanyaku langsung menyilangkan kedua tanganku dihadapan mereka.

"Jalan-jalan…ini untukmu" kata wanita tersebut sambil menyodorkan oleh-oleh untukku, kepalaku mulai mendidih saat Yunho melirik kearahku dan tersenyum.

"Terimakasih tapi aku tidak menerima hadiah dari orang lain" balasku tidak senang.

"Kau ini kenapa sih, Aku beli baju untukmu, cobalah" ujar Yunho. ia lalu membawaku ke kamar untuk mencoba pakaian yang ia beri, sesampainya disana kami langsung berhadapan.

"Yah kau kemana saja dengan wanita itu?!".

"Mengantarnya belanja" jawab Yunho santai.

"Kau ingin membuatku marah ya!"

"Aku tidak berbuat apa-apa, kami hanya berbelanja"

"Kau pergi sama sekali tidak ijin padaku, kau anggap aku ini apa, huh?"

"Aku ingin pamitan padamu tapi kau tidur tadi"

"Seharusnya kau membangunkanku!"

"Sudahlah daripada bertengkar lebih baik kita makan saja"

"Aku tidak lapar, terimakasih ini berkat dirimu"

"Yah Jae, aku hanya mengantar temanku keluar bukan mengajaknya ke hotel"

"Bukan itu masalahnya, kau seharusnya ijin padaku, kau seharusnya tahu perasaanku"

"Perasaanmu? Aku harus paham? Apa kau paham bagaimana perasaanku?" tanyanya balik, nadanya mulai meninggi.

"Memangnya apa yang harus kupahami darimu?".

"Kau sendiri yang bilang tidak peduli padaku, kau menyuruhku jalan dengan wanita lain, kau pikir bagaimana perasaanku saat kau mengucapkan hal itu padaku, sekarang kau bilang aku harus tahu perasaanmu!" balas yunho berapi-api.

"Itu...aku—aku tidak bermaksud seperti itu"

"Kita lebih baik bicara di rumah saja…sekarang kau pura-pura bersikap baiklah padaku, jangan menyebalkan didepan teman-temanku atau kau lebih baik pergi dari sini" katanya dengan nada ketus.

"Kau mengusirku?"

"Tidak, aku hanya memberi pilihan padamu"

"Kau benar-benar berubah ya…hanya gara-gara masalah kecil, hanya tentang nafsu birahimu kau berani menyulut pertengkaran denganku".

"Jangan memancingku Jae, kata-kataku selalu tidak benar dimatamu…Bahkan suami istri bisa bercerai hanya gara-gara masalah ranjang, ini bukan masalah kecil, jangan hanya menyalahkanku, kau pun harus mengkoreksi dirimu sendiri" ujar yunho serius sambil menunjuk wajahku.

"Baiklah terserah apa maumu, kalau kau mau bercerai dariku, ceraikan saja aku!" kataku kesal sambil mencoba pergi, yunho menahan tanganku.

"Yah bukan itu maksudku! kenapa kau selalu salah paham dengan maksudku" katanya mencoba menjelaskan namun aku sudah terlanjur sakit hati.

"Aku tahu maksudmu! Maafkan aku jika tidak peka tentang dirimu, ternyata aku baru menyadari bahwa kita lebih cocok jadi musuh daripada suami istri seperti ini!"

Aku menarik tanganku darinya dan langsung mengambil jaketku keluar kamar, Yoochun yang sedang main gitar di ruang tengah langsung kutarik keluar.

"Pinjam kunci mobilmu!"

"Apa?"

"Aku mau pulang, cepat pinjamkan!"

"Kau sudah gila, malam-malam begini?"

"Aku tidak ingin melihat Yunho, aku mau pulang!"

"Ya sudah akan aku antar".

Yooochun pergi untuk mengambil mobilnya sedangkan Yunho berusaha mengejarku.

"Jae jangan pergi! Aku minta maaf jika membuatmu tersinggung". Kata yunho mencoba menahanku.

"Aku tidak cocok berada disini bersama teman-temanmu, aku hanya akan membuatmu malu jadi sampai jumpa" seruku padanya sebelum masuk mobil.

"Jae!"

.

Sepanjang perjalanan aku sedih sekali, tidak ingin meninggalkan Yunho namun egoku berkata tidak, aku sudah muak dengan semua pertengkaran ini, jika memang ini salahku aku harus bertanggung jawab, aku harus melepasnya tapi rasanya mustahil karena ini sungguh menyakitkan.

"Kalian ini kenapa sih?" Tanya yoochun membuyarkan lamunanku, kami sudah setengah perjalanan menuju Seoul.

"…"

"Hei kau mendengarku? Kau baik-baik saja?"

"Aku mau berhenti disini saja" kataku lemas.

"Apa?"

"Aku bisa naik bis pulang sendiri ke rumah"

"Kau ini bercanda ya, mana mungkin kutinggalkan dirimu disini, yunho bisa membunuhku"

"Kau tidak akan dibunuhnya, kami akan bercerai" kataku lemas menyebut kata perceraian.

"Apa? Cerai? Kau ini bercanda ya?"

"Aku sadar bahwa aku tidak becus sebagai istrinya, kami lebih baik bercerai saja"

"Kau ini sudah gila ya, kau pikir kawin cerai itu mudah?"

"Tapi lebih tidak mudah hidup bersama dengannya, bisa-bisa aku membunuhnya karena banyak mengomel"

"Aaaah…Itulah mengapa aku tidak ingin menikah buru-buru, menikah itu merepotkan" sahut yoochun membalas.

"Iya kau lebih baik jangan menikah seumur hidupmu, berkencan saja semaumu sampai mati" kataku padanya

"Yah doamu itu sungguh mengerikan sekali"

"Bagaimana hidupku jika bercerai darinya? Aku akan mengirim keluargaku ke jalanan, kami akan hidup miskin…aku dan Yunho bahkan belum melakukan hubungan sex." kataku sambil mempoutkan bibir, sedih.

"Apa benar-benar susah untuk melakukan hal itu dengannya?" Tanya Yoochun penasaran.

"Aku hanya tidak tahu bagaimana meresponnya, aku takut sekali. Aku harap ia memberi waktu sampai aku siap melakukannya, rasanya jantungku seakan mau berhenti jika ia mencoba menyentuhku. Aku takut mati mendadak". Kataku setengah bercanda, perlahan mataku mulai berembun, rasanya sakit sekali memikirkan tentang hal itu.

"Kau benar-benar menyukainya ya?"

Tanganku mencoba meraih wajahku, menahan airmata yang berhamburan, aku tidak bisa menjawab pertanyaannya karena hatiku sakit sekali, aku baru menyadari jika mencintai seseorang itu sangat menyakitkan.

Yoochun pun menghiburku.

"Aku hanya ingin kau tahu bahwa Yunho berubah sejak bersamamu…entah ini hal yang kusuka atau tidak tapi aku baru pertama kali melihat dirinya sebahagia ini...kami bahkan menentang pernikahan kalian, kau memang bukan tipe Yunho yang liar namun jika bisa melihatnya hidup tenang seperti sekarang ini aku rasa kalian memang ditakdirkan untuk mengisi satu sama lain".

Kata-katanya membuatku semakin sedih, yunho memang pemuda yang baik hanya saja mungkin kami tidak cocok untuk hidup bersama, aku yang tidak cocok hidup dengannya, dadaku semakin sakit

.

.

.

Sesampainya di rumah aku langsung membereskan baju-bajuku, melipatnya satu persatu kedalam tas besar, entah apa yang kulakukan namun aku berpikir jika nanti Yunho datang dan kami bertengkar lagi setidaknya aku tidak perlu repot membereskan barang-barangku lagi.

Suara langkah kaki mendekatiku, aku tidak terlalu kaget jika yang datang adalah Yunho, ia pasti mengejarku kesini.

"Kau baru datang?" Tanya Yunho padaku, ia nampak tenang, aku tidak menjawab hanya meliriknya sebentar sebelum merapikan bajuku lagi dengan tidak semangat.

"Kau sudah makan?" Tanya Yunho lagi

Aku mengangguk pelan

"Yoochun memberiku makan sebelum sampai sini" kataku kemudian, tanganku sebenarnya gemetaran waktu memasukan baju-bajuku kedalam tas, aku tidak ingin melakukan ini tapi karena aku sendiri yang mengungkit tentang perceraian maka aku yang harus siap-siap pergi dari sini.

"Bisa kau buatkan aku sesuatu? Aku belum makan dari tadi" kata yunho.

Aku lalu membuatkan daging sapi yang sebelumnya didinginkan, di meja makan kami berdua duduk dengan tenang, yunho asyik menikmati makanannya sedangkan aku duduk manis disampingnya, aku tidak tahu harus berbuat atau berkata apa maka aku berdiam diri saja sampai ia selesai menghabiskan makanannya, saat aku hendak bangkit tanganku langsung dipegangnya.

"Kau mau kemana?" tanyanya khawatir

"Cu…cuci piring" jawabku kikuk.

Yunho lalu melepaskanku dan membiarkanku mencuci piring didapur, pandangan matanya sesekali kearahku, seakan takut jika lengah sedikit aku akan menghilang tiba-tiba dari pandangannya.

Ia kemudian mendekatiku lalu menaruh kepalanya di pundak belakangku, jika seperti ini mana mungkin aku bisa mencuci piring lagi dengan tenang.

"Jae, kepalaku sepertinya demam, kau akan merawatku kan?".

"Iya".

oOo

Sorry ngegantung dah kepanjangan soalnya lanjut next chap ya…XD