"Itu tidak masuk akal, Ayasegawa."

"… aku tidak peduli walaupun tubuhku tercabik-cabik, tapi aku akan berusaha untuk menyeretmu kembali ke Soul Society," lanjutnya seraya menebaskan zanpakutounya ke leher Byakuya.

.

.

Disclaimer

Bleach kagunganipun Tite Kubo. Kula nyambut karakterne kemawon loh, sekalian karakter anime lain. Ocreee… Ocreee~~

Warning :

Sedikit bernostalgia dengan bahasa gue-elu. Kangen soalnya ~XP

multiple-cross, OOC, Gaje, bla… bla… bla… Gak ada humor!!!

.

.

Chapter 9

Welcome to Konohagakure no Sato

Byakuya menatap nanar pada rinai air hujan yang jatuh di luar gua tempatnya berlindung kini. Bunyi gemeretak kayu yang patah karena nyala api terdengar nyaring di telinganya. Malam yang sunyi dan begitu dingin. Sedingin dan sepilu hatinya saat ini. Ia mendesah, mencoba memahami semua peristiwa yang terjadi selama ini.

Ia mengulurkan salah satu tangannya, membiarkan telapak tangannya yang pucat tertimpa air hujan yang cukup deras, hingga akhirnya ia berhenti dan membalikkan badannya. Menatap Senbonzakura yang terbujur lemah bersandarkan tas ransel hitamnya dan tubuhnya tertutup selimut. Nafas zanpakutou itu sudah stabil, dengan wajah yang tidak lagi memerah karena demam.

Sudah sekitar satu hari satu malam sejak peristiwa itu terjadi, dan kini… Byakuya berpikir lebih baik Senbonzakura mengalami materialisasi. Sementara hidup di real world dan meninggalkan inner world yang porak poranda hingga Byakuya berhasil memperbaiki bencana itu dengan menggunakan reiatsunya.

'Sen-chan.'

Hatinya terasa sangat sakit ketika mengucapkan nama itu di benaknya. Selama ini, mereka saling melindungi dan saling mengisi kekurangan satu dengan yang lain. Betapa ia begitu berterima kasih kepada Senbonzakura ketika ia melindungi dirinya dari serangan Muramasa beberapa saat yang lalu.

Ia cukup bersyukur, hembusan aroma Sano beberapa malam yang lalu tidak membunuh Senbonzakura. Namun… tetap saja, Senbonzakura kini telah kehilangan kekuatannya walaupun ia dapat berubah menjadi seribu kelopak sakura tapi itu bukanlah kelopak sakura tajam seperti yang dimilikinya dulu. Kelopak sakura itu, hanyalah seperti sakura musim semi biasa. Yaa… sangat normal tanpa sisi-sisi tajam yang mampu mengoyak tubuh hollow hingga menjadi seribu bagian.

'Aku berjanji akan menyelamatkanmu,' batinnya pilu dengan wajah yang muram, semuram langit mendung yang kini terpancar jelas di kedua bola matanya, hingga suara Senbonzakura menyentak lamunannya.

"Byakuu, aku gak berguna, ya?" lirih Senbonzakura tiba-tiba, menatap hampa pada stalaktit yang menjulang dari langit-langit gua yang samar-samar. Ia sedikit menelan ludahnya sebelum meneruskan kembali kata-katanya yang telah ia pikirkan begitu lama. "Aku… aku gak akan keberatan kalau kau mencari zanpakutou lain," lanjutnya sambil memalingkan wajah dari Byakuya yang duduk di sampingnya berbaring.

Byakuya sedikit terhenyak akan kata-kata itu. Dasar bodoh! Bagaimana mungkin ia akan mencampakkan Senbonzakura setelah sekian lama? Memang benar Senbonzakura telah kehilangan kekuatannya, tapi itu kan tidak bersifat permanen. Lagipula tidak mungkin seorang shinigami mencari jiwa zanpakuotu yang lain.

"Aku tidak menyangka kepandaianmu juga hilang, Sen-chan," sahut Byakuya sedikit ketus. Ia merasa marah akan kata-kata yang meluncur spontanitas dari Senbonzakura. "Atau…" Byakuya memegang dagunya dengan sebelah tangan, kedua alisnya mengkerut. "… kau memang dari dulu dungu?" lanjutnya dengan nada yang sedikit melecehkan. Kalimat Senbonzakura barusan, kontan telah membuat rasa ibanya hilang dan digantikan rasa marah.

Senbonzakura terperangah. Bangun tiba-tiba dan menatap tajam pada Byakuya. "IQ-ku lebih dari 150, tauk~!" semburnya gak terima dengan wajah marah dan kedua tangan terkepal di pangkuan.

"Jadi gunakanlah kepandaianmu itu untuk sedikit rasional." Byakuya mengetuk-ngetuk pelipis kirinya dengan jari telunjuk. "Aku tidak mungkin mencari zanpakutou lain. Lagipula, memangnya kau sanggup hidup sendirian, hm? Tanpa kekuatanmu itu dan tanpa keahlian apapun."

"Huh." Senbonzakura membuang muka. "Kau menang, Byakuu."

Byakuya menyeringai. "Itulah yang namanya master," lanjutnya seraya berdiri dan menatap ke arah luar gua yang telah sedikit terang. Sinar matahari yang menyusup masuk sedikit memberikan kehangatan dan memberikan efek berkilau pada embun pagi dan sisa air hujan.

"Tch… dasar congkak!" ketus Senbonzakura. Byakuya tersenyum dalam hati, setidaknya Sen sudah tidak berpikiran macam-macam lagi apalagi hingga berpikir untuk bunuh diri seperti ugh… dirinya dulu saat mengetahui akan harga dirinya yang jatuh. Bagaimanapun juga Sen adalah sahabatnya, seumur hidup.

.

.

Setelah selesai membereskan semua barang bawaan yang dijejalkannya ke dalam ransel dan ditentengkan di bahu kanan, Byakuya segera beranjak keluar gua. Ia menyipitkan matanya karena rasa silau yang menerpa wajahnya. "Ayo berangkat!" katanya kemudian.

"Emang mau kemana lagi, sih? Cape' ah jalan terus," dengus Senbonzakura di tengah perjalanan yang melewati hutan yang cukup lebat dengan pohon-pohon tinggi dan akar besar mereka yang tersulur di atas tanah.

Tanpa memandang Senbonzakura di samping kirinya, Byakuya menjawab, "Konohagakure."

"Buat apa?"

"Menemui seseorang yang mampu mengembalikan kekuatanmu."

Langkah Senbonzakura terhenti seketika mendengarnya. Menatap tidak percaya kepada sosok Byakuya di depannya. Akhirnya, Byakuya membalikkan tubuh saat dirasakannya Senbonzakura agak tertinggal di belakang. "Kenapa?" tanya Byakuya heran.

"Kau… serius?"

"Memangnya kapan aku gak serius?"

"Jadi aku bisa mendapatkan kekuatanku lagi? Bankaiku? Shunpoku?" tanya Senbonzakura bertubi-tubi. Sangat antusias dan seolah-olah ia mendapatkan kembali semangat hidupnya. "… dan sakuraku?!"

Byakuya mengangguk dalam diam.

"Beneran?!"

"Iya."

"Loe serius?!" desaknya seraya mengguncang bahu Byakuya, agak keras. "Gak bohong, kan?!"

"Ho-oh," jawab Byakuya singkat.

"Yooy~!" teriak Senbonzakura seraya meninjukan tangan kanannya ke udara. Meloncat-loncat girang. Masih dengan wajah girang, ia kemudian menatap mata abu-abu Byakuya. Cukup serius. "Tampar aku, Byakuu! Tampar! Gue gak ingin kalau ini semua cuman mimpi," katanya sambil menunjuk-nunjuk pipi kirinya dengan telunjuk.

"Jangan nyesel, ya."

Senbonzakura mengangguk mantap. "Gak, gue gak akan nyesel. Yang keras sekalian, okey."

Byakuya merasa sedikit ragu, namun mengingat kelakuan Senbonzakura selama ini, tangan kanannya menegang seketika. Ia menyeringai dalam pikirannya. Entahlah, tiba-tiba saja berbagai pikiran dan rencana jahil berseliweran dengan bebas di dalam otaknya. Buku-buku jemarinya bergemeretak sedikit nyaring, sebelum kelimanya menyatu menjadi sebuah kepalan. Ia menyiapkan kuda-kuda dan kemudian bersiap melayangkan tinjunya.

'Mungkin dengan ini gue memiliki kesempatan untuk memukulnya, tanpa perlu alasan. Sebel juga dengan sifat childish-nya yang super parah itu… terus gue juga benci banget waktu dia tereak-tereak dan ngatain kalo gue ini cuman shinigami pecundang. Khukhukhu.. rasain pembalasan gue, Senbonzakura.'

"Ayo laku-"

BUAGH !!!

Sebuah hantaman berkecepatan tinggi mendarat dengan mulus di pipi kiri Senbonzakura sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya.

BRUK !!!

Membuat Senbonzakura jatuh tersungkur ke tanah. "Ugh." Ia meringis kesakitan saat memegang pipi kirinya yang bengkak dan lebam lalu tatapannya beralih pada Byakuya yang berdiri di hadapannya dengan wajah datar. Mata Senbonzakura berkilat penuh amarah dan kebencian. "Gue bilang kan ditampar bukan ditonjok!" raungnya emosi.

Byakuya memandang telapak tangannya dengan wajah tanpa dosa. "Oh… kurasa sebuah tamparan belumlah cukup untuk membuatmu sadar bahwa ini kenyataan, Senbonzakura," ucapnya tanpa perasaan bersalah sedikitpun dan dengan raut wajah yang sedikit keji, seakan-akan ingin mengulangi tonjokan itu sekali lagi –atau mungkin berkali-kali hingga ia puas-

"Loe tega, Byakuu!" kata Senbonzakura sambil berusaha berdiri walaupun sedikit terhuyung. Ia mengelus-elus pipi kirinya yang telah membesar. "Kasar sekali. Gue nyesel."

"Makanya… berpikirlah secara rasional. Tadi kan aku dah bilang, kan? Kalo nyesel ya gak usah dicoba," katanya sambil membalikkan badan dan dengan cueknya meneruskan perjalanan ke Konoha.

Sembonzakura manyun. "Ya… ya… sekali master tetep master. Menang teruuusss~!" serunya super sebel.

Tanpa sepengetahuan Senbonzakura, Byakuya nyengir penuh kemenangan. Ia hanya berdehem dan sebisa mungkin menahan diri agar tawanya tidak meledak. Rasanya puas sekali bisa memberi sedikit pelajaran pada zanpakutounya itu. Fufufu… 'Dasar zanpakutou lebay~!'

.

.

"Oooh… jadi begitu?"

Hitsugaya mengangguk sebagai jawaban atas semua pertanyaan yang diluncurkan oleh keempat makhluk penasaran yang duduk di depannya saat ini. Walah… mereka benar-benar agresif. Mendesaknya untuk menjawab semua keingintahuan mereka. Kalau saja ia tidak diingatkan oleh Hyourinmaru akan hukuman yang bakal dijatuhkan oleh Soutaichou kepadanya, ia pasti sudah membekukan keempat remaja ini menjadi patung es.

Sebenarnya dia heran dengan para manusia itu, namun semua kisah dan misinya termasuk kehidupan soul society meluncur mulus dari kedua bibirnya. Walaupun demikian, perasaannya sedikit lega setelah mencurahkan segenap isi hatinya. Yaa… walaupun mereka hanya menganggap cerita Hitsugaya hanya seperti sebuah dongeng legenda pada masa 500 tahun yang lalu di mana mitos siluman dan dewa kematian masih dianggap sakral.

'Emang mereka punya solusi?' batinnya. Humm… rasanya juga gak akan punya. Tapi masa bodohlah dengan semua itu. Toh mereka juga gak akan percaya dan kalaupun mereka mulai percaya dengan hal-hal semacam itu, ia masih memiliki sebuah alat penghilang ingatan yang selalu dibawa para shinigami yang tengah bertugas di real world.

"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Riku dengan tangan terlipat di dada dan duduk dengan kaki bersilangan. Nadanya sedikit cuek.

Hitsugaya meneguk sekaleng cola yang disodorkan oleh Mamori. Sedikit berdehem dan kemudian menutup kedua hidungnya akibat sensasi aneh yang baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya. 'Real world emang gak cocok buatku,' batinnya. 'Jadi kangen deh sama teh hijau bikinan Matsumoto.'

'Yoo, aku juga kangen sama Shirayuki,' kata Hyourinmaru tiba-tiba seraya menerawang di langit inner world yang gelap dan selalu hujan salju.

Ia kemudian berdiri dan menyilangkan kembali zanpakutounya di punggung. "Kurasa aku harus pergi dari sini segera," katanya sambil berjalan menuju pintu ruang manajer klub football SMU Deimon.

"Aa-ah… maafkan kami karena telah salah paham, Hitsugaya-san," Sena membungkuk dalam-dalam.

"Berhati-hatilah, Shiro-chan," Kid memberikan salam terakhir yang membuat Hitsugaya dan Riku berdecak kesal. Sedangkan Riku kini sudah mulai memahami bahwa di dunia ini –menurut mitos- ada 7 orang yang memiliki kemiripan fisik dan ia telah menemukan salah satunya. Ia berharap tidak akan menemukan kelima orang yang lain atau sebutan 'shiro-chan' itu akan terus menghantui kehidupannya.

"Selamat tinggal," bisik Hitsugaya sebelum ia menyemprotkan cairan penghilang ingatan ke arah mereka yang membuat mereka pingsan seketika. 'Dengan begini kalian tidak akan pernah mengingat tentang apapun yang berhubungan dengan soul society.'

Ia pun kemudian melesat pergi dari tempat itu. Pergi menelusuri dunia untuk menemukan secercah reiatsu dari targetnya. Perburuan Kuchiki Byakuya sudah menjadi prioritas utamanya sejak titah Soutaichou diumumkan. Tapi terkadang ia sedikit heran dengan keberadaan Matsumoto yang menghilang dari sisinya saat ini. Aah… lagi-lagi ia cuek dan berpikir positif.

'Halaaah… paling-paling dia shoping bareng Haineko. Dasar fukutaichou durhaka! Durhaka! Durhaka! Hidupmu pasti akan berjalan buruk, huh,' kutuk Hitsugaya dalam hati.

.

.

- Gerbang Konoha -

"Engh?" Seorang shinobi penjaga gerbang desa Konohagakura berpangkat chuunin, tampak meregangkan kedua tangannya. Ia sedikit bosan dengan aktivitasnya yang setiap hari hanya mencatat keluar masuknya pengunjung di desa itu.

Shinobi yang lain, rekannya yang duduk di sampingnya hanya bertopang dagu dan mengetuk-ngetukkan sebuah pensil di meja dengan salah satu tangannya. "Izumo, akhir-akhir ini banyak orang aneh yang datang, ya?" tanyanya.

"Iya, heran banget. Seminggu yang lalu ada cowok centil, terus cowok aneh berkepala botak terakhir Uchiha Itachi dan Deidara dari geng Akatsuki," sahut Izumo seraya mengelus-elus dagu kepada rekannya yang bernama Kotetsu.

Kotetsu menyangga kepalanya dengan kedua tangan yang terlipat di belakangnya. "Mungkin ada misi kelas berat yang membuat Tsunade-sama memanggil para Akatsuki," katanya sambil menatap burung emprit yang terbang di langit Konoha.

"Apakah benar ini Konohagakure?"

Sebuah suara datar dan dingin terdengar menyentak kedua penjaga itu. Byakuya menatap dengan pandangan datar pada Izumo dan Kotetsu yang menatapnya dengan pandangan curiga. Kimono hitam dengan katana, mengingatkan mereka pada dua orang pengunjung yang entah bagaimana mereka izinkan untuk memasuki Konoha tanpa interogasi apapun.

"Nama?" tanya Izumo singkat, seraya menyiapkan kertas perkamen dan kuas di tangan kanannya. Mencatat identitas.

"Kuchiki Byakuya."

"… dan?" Kotetsu melirik curiga pada Senbonzakura yang masih memakai topengnya. Sejauh yang ia ketahui, tidak ada seorangpun ANBU yang memakai topeng seperti itu dan pakaian perang.

Zanpakutou itu melepas topengnya, membungkukkan badan dan memperkenalkan diri. "Senbonzakura." Seakan memahami arti pandangan itu, Senbonzakura berkata, "Ah… ini kostum yang aku peroleh dari rombongan sirkus, err… maksudku, karena pakaianku kotor."

Kotetsu mengangguk. "Ada urusan apa?"

"Bisnis, menemui- ugh~" Senbonzakura meringis ketika kakinya diinjak oleh Byakuya. Menatap sebal dan kesal pada masternya itu. "Ya… ya… kami hanya ingin jalan-jalan," ralatnya.

"Surat jalannnya?"

Ups- sepertinya Senbonzakura tidak mampu lagi untuk berkelit. Byakuya tampak merogoh sesuatu dari balik hakamanya, membuat kedua ninja itu secara diam-diam menyiapkan kunai. Antisipasi serangan mendadak. Ia merasakannya, namun apa yang bisa diperbuat oleh seseorang yang tiba-tiba kehilangan kekuatannya? Saat ini Senbonzakura merasa bahwa ia bagai burung tanpa sayap.

Sang master menjatuhkan sebuah kertas yang terlipat di meja, cukup keras hingga meja itu berbunyi. "Ada sebuah urusan penting yang harus aku bicarakan dengan ketua kalian."

Kotetsu membuka kertas itu. Tampak sebuah lambang keluarga Kuchiki dan berbagai macam keterangan yang membuat Senbonzakura terheran-heran karena beberapa saat kemudian mereka telah diijinkan masuk ke dalam desa ninja itu.

Cukup jauh memang, dan sepertinya mereka menjadi pusat perhatian. Oh sudahlah, Byakuya yang sangat tampan dan terlihat paling cemerlang di antara para lelaki yang hanya memiliki ketampanan rata-rata dan Senbonzakura yang tampak manis namun pakaian perang itu sedikit mengusik pemandangan.

"Hn… Byakuu, kau punya uang?" Senbonzakura akhirnya memberanikan diri membuka mulutnya. "Kau, maukah membelikanku baju? Ini sangat mengganggu, setidaknya kita bisa berbaur dan tampak tak terlalu mencolok," katanya dengan nada berbisik.

"Hn."

'Euh… kenapa beberapa jam ini dia dingin sekali ya? Sebodo amat deh, yang penting gue dapet baju baru. Hehehe.'

.

.

Triiing~!

Bunyi lonceng di sebuah toko pakaian yang tidak begitu besar menyentak perhatian seorang pria yang sejak tadi memandangi cermin kecil di tangan kirinya. Beberapa kali ia menyibakkan rambut hitam sebahunya, dan bergumam tentang sebuah kata yang berhubungan dengan kecantikan dan keindahan.

Mendengus, karena merasa terganggu akan kehadiran orang yang telah menganggu kesenangannya yang hanya bersifat sejenak, ia pun kemudian membungkukkan badan seraya mengucapkan, "Selamat da-" Seketika matanya berkilat tak percaya ketika ia menegakkan badannya dan senyumnya pudar saat melihat Byakuya berdiri di hadapannya. "Taichou?"

"Kau?" Byakuya juga tidak kalah kaget."Apa yang kau lakukan di sini, Ayasegawa?" tanyanya dengan ekspresi super datar.

"Hah, seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Kuchiki taichou," sanggah Yumichika tak kalah sengit. Ia masih ingat betul akan misinya walaupun saat ini ia terpaksa bekerja paruh waktu di sebuah toko pakaian, sebuah pekerjaan yang ia anggap mendekati minatnya akan fashion, untuk menyambung hidupnya di dunia ini. "Karena saat ini kau adalah seorang buronan," lanjutnya seraya menghunuskan Ruirio Kujaku miliknya ke arah Byakuya.

Pria Kuchiki itu hanya memberikan tatapan datar yang telah menjadi ciri khasnya. 'Oh… jadi sekarang aku menjadi seorang buronan hanya karena aku menentang penayangan film itu?' batinnya dengan sedikit senyum ironis di pikirannya. "Itu tidak masuk akal, Ayasegawa."

"Hn," Yumichika menyeringai dan tertawa hambar. "Kau pikir kau bisa dimaafkan karena telah mencuri gulungan mantra kidou tingkat tinggi yang terlarang bagi kita, Kuchiki taichou?" tanyanya dengan nada penuh penekanan. "… dan juga-" tatapan sang shinigami divisi 13 itu kemudian sedikit menajam. "… aku tidak peduli walaupun tubuhku tercabik-cabik, tapi aku akan berusaha untuk menyeretmu kembali ke Soul Society," lanjutnya seraya menebaskan zanpakutounya ke leher Byakuya.

"Mantra kid-"

Slash~! Belum sempat Byakuya menyelesaikan kata-katanya, Ruirio Kujaku telah mengayun menebas udara. Walaupun Byakuya berhasil menghindarinya dengan cukup gesit, namun pria penggila kecantikan itu terus menyerangnya secara brutal, mengabaikan segala kerusakan yang terjadi akibat perbuatannya.

Prang~! Brak~!

"Aduh apaan sih?" keluh Senbonzakura yang baru saja keluar dari ruang ganti. Ia kini memakai kimono berwarna ungu muda dan telah membungkus kostum lamanya ke dalam kain hijau yang kini berada di punggungnya. Hanya saja, topengnya ia gantungkan ke obi di pinggang kanannya. Ia menatap bingung pada keadaan sekitar yang telah hancur tak berbentuk. Sekonyong-konyong, ia melihat Byakuya dan Yumichika yang telah berada di luar. Yumichika yang kini mengejar Byakuya dengan zanpakutou tergenggam erat di tangannya. 'Ba-bahkan ia meninggalkan ranselnya di sini, padahal kan isinya begitu berharga baginya,' batinnya merasa heran.

"Ah…," Ia memutuskan untuk mengejar keduanya, tidak… sesungguhnya ia hanya tidak ingin Byakuya meninggalkannya di dunia yang asing ini. Yang benar saja, ini sangat menakutkan baginya yang selama ini hanya mengenal Seretei dan inner world. Oh betapa ia sangat merindukan keduanya.

"Tunggu, kau mau kemana?" Seorang pria tiba-tiba mencekal kerah kimononya dari arah belakang. Walaupun kekuatannya musnah, ia dapat merasakan suatu hawa buruk yang begitu mengintimidasi hatinya saat itu. Ia menolehkan kepalanya dan mendapatkan wajah seorang pria paruh baya yang menatapnya dengan tatapan membunuh tingkat tinggi. "Le-lepas!" Ia meronta namun ternyata kekuatan pria itu tampaknya meningkat satu juta kali lipat karena amarah yang menggelora.

"Kau. Harus. Membayar. Semua. Kerusakan. Ini!" kata pria itu yang ternyata adalah pemilik toko tempat Yumichika bekerja.

"Bukan aku pelakunya!" sanggah Senbonzakura yang tak mau kalah. Tentu saja karena itu memang bukanlah salahnya.

"Katakan itu di hadapan Hokage," ujarnya dingin seraya menjentikkan kedua jarinya dan seketika itu pula, wajah zanpakutou itu telah tertutup kain hitam dan diseret entah kemana oleh dua orang ninja berpakaian hitam.

.

.

Hitsugaya tampak mengutak-atik handphone miliknya, mencari keberadaan teman-temannya yang menghilang tanpa jejak. Ia menatap pada horizon lautan di depannya, pada sinar matahari jingga yang hendak tenggelam.

Sesungguhnya ia sedikit terganggu, dengan seorang anak kecil aneh yang sangat menyebalkan. Baru kali ini ia bertemu orang yang lebih menyebalkan dari yang ia temui di SMU Deimon sehari sebelumnya. Ia menghela nafas, dan kembali memandang ke arah lautan yang terhampar di depan matanyayang tampak sedikit bergolak. Sekonyong-konyong ia melihat sebuah kapal dengan bendera berupa tengkorak yang diberi tanda silang.

… dan seseorang, yang sangat ia kenal, sedang melambaikan tangan ke arahnya.

"Hinamori?"

.

To Be Continued

.

Author Note~!

Yuhuy!!! *digebuk rame-rame coz telat apdet* Ugh… maafkan saya, sekali lagi karena menterlantarkan fic ini sampai 2 bln seperti halnya fic saya yang lain. Taulah mengapa… WB, mati ide, virus males, sindrom parno ama komputer -?- de el el dan alesan gak masuk akal lainnya.

Yaaah… sepertinya untuk chapter depan juga bakalan telat apdet… fuuuh~! Ini juga udah saya paksain buat ngetik. Makanya doain saya biar cepet nyelesaiin tugas akhir saya *nunjuk-nunjuk file yang juga terlantar* =.="

Yasudahlah… daripada curhat gaje, saya mau nulis balesan repiu dulu deh, fuuuh… udah dibales blm yah? Lupa saya *plak*

Kaori a. k. a. Yama : Eh yah uhuhu… kemaren buat chara lain soalnya. Huhuy… sekarang dah ada Byakuu lagi kan? Makasih udah merepiu…

KuroShiroy6h : Iya noh… Byakuu lagi maen kejar-kejaran sama Yumi *nunjuk-nunjuk* makasih repiunya yah? Eh? Gimana UN-nya? Sukses?

Quinsi males log in : Errr… dia kan cowok, gimana caranya coba =.=a tapi makasih deh atas repiunya hehehe…

Jess Kuchiki : Iya Jess, waktu ntu saya lupa namanya, ya sudah saya buat namanya Going Marry sajooo *taboked* Iyeee ini udah apdet, RnR lagi yeeee!

Ruki_ya as Tsuichi Yukiko : Kangen? Eaaaa! *meluk Ruki* ngusap ingus di baju Ruki*plak* Iya ah… pengen juga nyisipin IchiRuki, but maaf makin lama makin garing,jadi mungkin ke depannya akan saya kurangi adegan humornya… soalnya udah mau njajah Inuyasha huhuhu…

ruki406jo : Err saya juga bingung ini fic kapan selesainya, tapi yang jelas saya usahain gak akan lebih dari 20 chapter *reader : WHAT?!* hueeee… mau gimana lagi, inilah konsekuensi nampilin anime banyak, itupun udah saya skip dan potong sana-sini. Makasih repiunya

Kuchiki Rukia-taichou : Eum kan IchiRukiRen satu tim, jadi otomatis aku munculin huhuhu… sudah diapdet, mohon RnR lagi yah! ^_^

Sayurii Dei-chan : Uweee… adek, iya mbak tau kok makin garing, makanya mulai ke depan akan saya kurangin humor gajenya, mau ke arah adventure dan topik utama! Mengejar om Byakuya dan mas Naraku, hohoho…

Yui Hoshina : Aish… tak apa, saya kan juga sering telat repiu *digebuk author laen* Iyaaa itu Insya Allah akan saya munculin, deh. Mau yang childish or gimana? Um enaknya masih sendirian atau udah satu tim ama Kagome cs, yah? RnR lagi yah…

Minna-san, maafkan author tak bertanggung jawab ini. Saya tau kok kalian pada kecewa sama saya karena gak apdet-apdet *reader : kagak tuh!!!* author pundung di tempat*

Saking lamanya,saya mpe lupa alur dan endingnya hahaha… *dilempar strawberry* Jadi… ah mohon bantuannya, masukkannya, flame-nya *ngelirik salah satu repiuer yang terus ngedesak saya buat apdet =.=" maaf* serta kritik dan sarannya.

Terima kasih banyak, teman-teman. Dukungan kalian sangat berarti untuk memacu saya segera menyelesaikan fic ini.

Repiu please?