Part 4 update! Maaf, lagi-lagi update-nya lama, kali ini karena draft ceritaku nggak sengaja kehapus (padahal sudah sampai part terakhir chapter II). Siaaal...

Seperti yang udah aku tulis di Notes part 3 kemarin, part 4 ini akan berfokus pada Chopper.

So, without further ado... enjoy!


One Piece © Eiichiro Oda

Two Schools, Two Worlds

Warning: terlalu banyak percakapan, typo, OOC…

Rate: T

Chapter II

High School Life

Part 4 –Witch Doctor

Seperti SMU pada umumnya, sejak MOS murid-murid baru SMU Seifu sudah diminta mendaftar ke klub yang akan mereka ikuti. Selain 'klub normal' seperti basket, jurnalistik, kendo, dan kyudo (panahan), di Seifu ada juga 'klub 'aneh', misalnya klub wisata kuliner, jalan-jalan, bahkan occult alias pecinta misteri! Kenapa disebut 'klub aneh', karena selain karena kegiatannya memang aneh, anggota dan guru pengawasnya lebih nyentrik lagi.

Chopper, sebagai anak yang tergolong 'normal' tentu saja memilih mendaftar ke 'klub normal'. Dalam hal ini, klub yang bisa menunjang cita-citanya sebagai dokter, yakni PMR SMU Seifu. Tapi, nggak seperti temannya Usopp, Kaya, yang langsung jadi anggota resmi, Chopper masih harus mengikuti tahap orientasi (lagi). Setiap ada pertemuan klub, dia belum dilibatkan dalam kegiatan klub dan hanya jadi pesuruh.

xxx

Suatu hari, saat istirahat makan siang Straw Hats...

"Haah? Kamu masih dijadikan pesuruh di PMR?"

"Unn..." Chopper mengangguk.

"Kurang ajaaar!" Luffy langsung beranjak dengan sumpit masih dalam mulutnya. Untungnya Usopp dan Chopper dengan sigap menahannya, sementara Nami menyetopnya. "Minggir! Jangan halangi aku! Teman kita dikerjai, tahu!"

"Luffy, jangan! Kalau kamu bertindak gegabah, bisa-bisa Chopper malah dikeluarkan dari PMR 'kan?" kata Nami.

"Oh, iya ya..."

Dzigg! Luffy lalu terkapar dengan memar berbentuk jejak sepatu di pipinya.

"Makan yang benar! Menggigit sumpit itu SANGAT nggak sopan, tahu!" komentar Sanji kesal.

"Luffy-san meninggalkan makanannya untuk membela teman... ini hal baru!" kata Brook.

"Ngomong-ngomong, siapa sih ketua PMR? Diskriminatif banget, karena Chopper itu cowok dan Kaya itu cewek..." komentar Zoro.

"Jangan bawa-bawa Kaya!" Usopp menyerang Zoro dengan tamparan tsukkomi.

"Iya, iya, aduh!"

"Ketua PMR adalah Trafalgar Law," kata Robin.

"Trafalgar... Law?" Luffy dan Nami saling memandang. Tentu aja mereka ingat, karena orang itu pernah mencegat mereka, bersama Kidd dan yang lain beberapa waktu lalu...

"Anak Supernova, toh? Mungkin, dia nggak mau anggota Straw Hats masuk ke 'wilayahnya'," kata Sanji.

"Tapi, jangan terlalu dipikirkan, teman-teman! Law-senpai bilang, minggu ini aku berkesempatan untuk jadi anggota resmi PMR kok!"

Dengan itu, pembicaraan berhenti dan mereka melanjutkan makan. Tapi dalam hati, Chopper sudah tahu apa yang menantinya sebelum resmi diangkat sebagai anggota PMR...

Pikirannya pun melayang ke beberapa hari lalu saat dia mencoba memprotes kebijakan Law.

"Tes?" Chopper terbelalak.

"Ya, tes buat jadi anggota resmi PMR SMU Seifu," kata Law. "Rabu siang, ambil amplop berisi materi tes di ruang UKS."

Rabu malam saat Straw Hats nongkrong di cafe Rip-off, Chopper memutuskan untuk memberitahukan ini pada kawan-kawannya.

"Masuk PMR saja, ada tesnya? Anak-anak Supernova memang sinting!" teriak Nami kesal.

"Koreksi: semua Yonko di Seifu itu sinting," celetuk Usopp.

"Lalu, apa yang bisa kita bantu?" tanya Luffy.

"Kata Law-senpai, teman-teman bisa mendampingiku saat tes."

"Oh? Memang tesnya apa? Kalau soal kedokteran atau biologi, bukannya kamu sudah nggak butuh bantuan belajar lagi?" tanya Nami.

"... ini," Chopper mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya, dan memberikannya pada Robin.

Anak-anak menelan ludah saat Robin membuka amplop, lalu mulai membaca isinya.

"Di sini hanya ada 2 kalimat, ditulis dengan tinta merah. Pertama, tesnya adalah uji nyali."

"U-u-uji nyali?" Chopper dan Usopp berteriak panik.

"... dengan lokasi: UKS SMU Seifu," Robin tertegun. "Ara, itu tempat yang angker."

"Oh ya? Bagaimana ceritanya?" tanya Luffy.

"Konon, UKS itu dulunya adalah tempat pembunuhan seorang wanita. Waktu itu, tanah tempat berdirinya SMU Seifu masih berupa hutan... dan katanya, arwah wanita itu masih suka menampakkan diri pada anak-anak yang sendirian di sana..."

"Hiiiiiy!" Usopp dan Chopper langsung gemetaran dengan tangan terangkat.

"Jangan buat aku tambah takut!" teriak Nami.

"Dan kedua, kau harus memainkan papan Ouija untuk mencari tahu informasi sang arwah."

"Papan Ouija?"

"Dengan kata lain, jailangkung."

"Hiiiiiy!" Usopp dan Chopper langsung gemetaran dengan tangan terangkat.

"Berisik!"

"Kenapa harus main papan Ouija di tempat sehoror itu?" komentar Sanji.

"Namanya juga uji nyali."

"Oh ya, ada juga yang bilang kalau wanita itu mati demi melindungi hartanya... jadi kalau kalian beruntung, arwahnya akan memberitahukan letak harta itu," celetuk Robin.

"Baiklah, ayo pergiiiii!" Nami langsung memasang peralatan berburu harta karun.

"Eeeeeh?"

"Kalau uji nyali, aku tidak ikut!" kata Brook. "Lagipula aku harus mempersiapkan materi mengajar, benar 'kan Bon-chan?"

"Ho-oh, ho-oh!" jawab Bon-chan.

"Oke! Selain Brook dan Bon-chan, karena mereka guru, yang lain wajib ikut demi membantu Chopper!"

"Kalian dengar ketua. Jadi, yang ikut adalah Luffy, aku, Nami, Usopp, anti nyamuk bakar, Robin, dan Franky selaku sie transportasi."

xxx

Jadi, malam Jumat itu, Chopper dan kawan-kawan berkumpul di depan Seifu bersama beberapa anak PMR dan klub occult. Belum masuk saja, trio penakut sudah pada gemetaran karena gelap dan sunyinya suasana SMU Seifu...

"Horo horo horo, selamat datang," sapa Perona.

"Kau lagi," Zoro facepalmed. "Kupikir ini acaranya PMR."

"Mu! Ini 'kan event kolaborasi PMR dengan occult!" kata Perona kesal.

"Maksudmu, konspirasi?"

"Muuu!"

"Marimo, jangan ganggu Perona-chan!" Sanji nyolot.

"Terserah..." Zoro nyuekin mereka berdua.

"Oh, Monkey, ternyata kau membawa seluruh kru-mu," sapa Law.

"Tentu saja..."

"Eh! Jangan ngobrol doang! Ayo, cepetan dimulai!" kata Nami.

"Cerewet amat sih, padahal bukan dia yang ikut tes..." gumam Zoro.

"Sst, dia cuma takut," bisik Usopp.

"Kau juga 'kan?"

"Haha... sudah takut rupanya?" Law membuka laptopnya. "Begini, yang harus kalian lakukan adalah pergi ke UKS, lakukan permainan papan Ouija, lalu keluar hidup-hidup."

"'Keluar hidup-hidup'?"

"Yah, siapa tahu arwahnya suka makan orang..."

"Hiiiiiy!" Usopp dan Chopper langsung gemetaran dengan tangan terangkat.

"Jangan sedikit-sedikit teriak ketakutan!"

"Oke, di sebelah sana ada kamera, dan satu lagi di sebelah sini," Law menunjukkan setting-an kamera video di dalam UKS yang sudah amat gelap itu, tapi trio penakut nggak berani melihatnya. "Kalau nggak kuat, lambaikan tangan kalian... atau langsung lari saja keluar sekolah walaupun mungkin kami sudah tak ada di sana saat itu."

"Tentu saja kalau begitu kalian gagal, horo horo horo," sambung Perona.

"Ini berisi pertanyaan yang harus kalian sebutkan. Pilih aja 3," seorang anak occult memberikan sebuah amplop pada Chopper. "Dan ini papan Ouija-nya."

Luffy menerimanya dengan mata berbinar, sudah nggak sabar ingin main.

"Sudah tahu cara mainnya?" tanya Perona. Luffy dan kawan-kawan (kecuali Robin) geleng-geleng. "Aku jelasin."

Papan Ouija adalah sebuah alat untuk berkomunikasi dengan arwah – atau apapun itu – yang terdiri dari sebuah papan bertuliskan huruf alfabet dan dilengkapi dengan semacam koin besar dengan lubang di tengahnya. Peserta permainan harus meletakkan tangan mereka di atas koin dan menanyakan beberapa pertanyaan, dan kemudian arwah – atau apapun itu akan menggerakkan koin itu menunjuk huruf-huruf yang menyusun jawabannya.

"Mengerti?"

"Ah, ternyata itu permainan misterius..." kata kuartet Luffy, Zoro, Usopp, dan Chopper.

"Kalian nggak mengerti 'kan?" teriak Perona kesal.

"Tenang saja Perona-chwan, aku sudah mengingatnya untuk para idiot ini!" kata Sanji.

"Ngomong-ngomong, siapa yang mendampingi Chopper-chan?" tanya Kaya.

"Tiga orang ikut ke dalam dan lainnya stand by di luar bersama panitia," kata Zoro.

"Aku nggak mau ikut masuk, lho," Nami dan Usopp mengangkat tangan mereka.

"Enak saja. Biar adil, kita tentukan dengan undian," Zoro mengeluarkan beberapa sedotan dan menggenggamnya. "Yang dapat pendek, ikut Chopper."

"U-uh... penyakit 'aku-akan-mati-kalau-kalah-undian'ku kambuh nih..."

"Aku juga, aku juga!"

"Peduli amat. Sekarang ambil dan jangan mengeluh."

Beberapa saat kemudian, tampaklah 4 orang di layar laptop Law, yang terekam dari kamera CCTV yang terletak di lorong sekolah.

"Uuuh... k-kenapa keberuntunganku nggak muncul di saat-saat begini..." keluh Nami sambil memegangi jaket Luffy dengan gemetaran.

"Tenang saja Nami-swan, aku akan melindungimu!" kata Sanji dengan pedenya.

"Bukannya kemarin kamu semangat banget mau cari harta karun, Nami?" komentar Luffy.

"Mencari harta karun terpendam dan harta karun hantu itu beda, tahu!"

"Menurutku, Nami lebih seram dari hantu..."

"Aku dengar itu, Chopper..." Nami menolehinya dengan tampang seram.

"Gyaaaa!"

Kini mereka sedang menyusuri lorong lantai 1. Tempat yang ramai di siang hari karena kelakuan gila para muridnya, menjadi seram di malam hari...

"Oh ya Luffy, kenapa pakaianmu begitu?" tanya Sanji.

Luffy memang memakai pakaian "kebesarannya": cardigan warna merah yang terbuka di bagian dada dan celana pendek berbulu warna biru, lengkap dengan topi jerami… berserta jaring serangga dan kurungannya?

"Oh, ini? Aku mau menangkap hantu itu dan memeliharanya!" kata Luffy dengan mata berbinar sambil mengangkat kurungan serangganya.

"Jangan remehkan kekuatan mistik, idiot!" Nami memukulnya keras. "Memangnya serangga?"

"Sama saja toh. Gerakannya cepat berkelebat, tak terdeteksi, dan seringkali membuat orang takut..."

"… dia benar," Sanji menjatuhkan tusuk gigi yang digigitnya.

"Apa?"

Sementara itu, di luar sekolah...

"Mereka mau uji nyali atau main acara komedi sih?" komentar Law, sweatdropped.

Tim Chopper pun sampai di depan UKS. Setelah menggunakan Kenbunshoku Haki untuk mendeteksi keadaan sekitar, Luffy bilang kalau dia belum merasakan apa-apa dan membujuk duo penakut masuk. Setelah di dalam, udara terasa berat dan panas, seolah-olah mereka nggak cuma berempat di sana...

Chopper langsung membuka amplop pertanyaan dan Nami mengeluarkan papan Ouija serta menatanya. Sanji menyalakan lilin dengan api rokoknya dan mereka pun duduk bersila membentuk lingkaran.

"Siapa yang mau duluan?"

"Aku, aku!" Luffy mengangkat tangannya.

"Nggak! Pilihan pertanyaan darimu pasti akan membuat arwah – atau apapun – yang akan menjawabnya marah!" Sanji menendangnya.

"Kalau gitu, karena Chopper yang dites, jadi kamu duluan," kata Nami.

"O-oke..." Chopper meletakkan tangannya di atas koin. "Pertanyaan pertama, a-apa ada sesuatu di sini?"

Ya, selamat datang

"O-kay... jadi memang ada sesuatu di sini," Sanji menelan ludah.

"Selanjutnya aku, aku!" Luffy melambai-lambaikan tangannya.

"Nggak! Biar Nami-swan dulu, kayaknya dia sudah benar-benar ketakutan," kata Sanji, merujuk pada Nami yang mencengkeram lengan Luffy.

"..." Nami menerima kertas berisi pertanyaan dari Chopper tanpa ekspresi, lalu membacanya dengan suara bergetar. "A-apa... kami mengganggumu?"

Tidak

Nami dan Chopper menghela napas lega, berpikir kalau apapun yang menjawab pertanyaan mereka nggak akan menampakkan diri.

"Selanjutnya aku," Sanji mengambil kertas pertanyaan dari Nami dengan gerakan cepat sebelum diserobot Luffy. "Eh-ehem. Ghost-san dulunya wanita, bukan? Apa kita boleh tahu namamu?"

Nami menjewernya.

"Malah kenalan sama hantu? Pokoknya cewek, langsung kamu sikat begitu?"

"Auw, maaf, Nami-swan!"

Namaku Victoria Cindry

"Nama yang indah, ghost-san!" kata Sanji. Nami dan Chopper sweatdropped.

"Ini sudah 3 pertanyaan," kata Nami. Dalam hati, dia amat lega karena nggak terjadi apa-apa selama uji nyali. Soal jawaban di papan Ouija, dia malah berpikir kalau alat itu sudah di-setting sedemikian rupa sehingga bisa bergerak sendiri.

Hantu itu nggak ada, pikirnya.

"Aku gimana dong?" tanya Luffy.

"Ah, di bagian bawah kertas ada tulisan 'Pertanyaan bonus: silahkan tanya apa saja'... siapa yang mau?"

"Akhirnya! Bagianku!"

"Hh... apa boleh buat," Nami memberikan koin pada Luffy yang matanya sudah berkilauan itu.

Tanpa banyak bicara, Luffy langsung meletakkan koinnya selayak sedang ada di kasino. Tegas dan mantap. Chopper dan kawan-kawan menahan napas, penasaran pertanyaan apa yang membuat Luffy begitu bersemangat mau tanya.

"Apa hantu bisa poop?"

GUBRAK!

"Pertanyaan macam apa itu?"

Koin Luffy mulai bergerak...

"Dan jangan dijawaaaab!"

Bocah nggak sopan...

"Gyaaa! Dia maraaah!" Chopper dan Nami berpelukan.

Dan saat itu juga terdengar keributan aneh, mulai dari barang-barang yang berjatuhan dan deritan lemari, sampai suara... pintu terbuka. Setelah itu, angin nggak enak berhembus, membuat bulu kuduk mereka berdiri. Tapi buat Luffy, itu adalah pertanda hal menarik akan segera terjadi.

"Kyaaaaaaa!"

"Sugeee!"

"Ini gara-gara kau, idiot!"

Tiba-tiba terdengar suara seperti kain kasar yang diseret-seret. Dan...

"Hi hi hi hi..." tawa trademark arwah.

"Luffy, jangan main-main!" Nami menarik pipi Luffy.

"Bwukan waku, bwukan!"

"Hi hi hi hi…"

"Twuh 'kwan!"

"Kalau bukan kamu, terus siapa...?" Nami melepaskan Luffy dan menoleh ke arah sumber suara itu… saat tiba-tiba sosok wanita tua berpakaian putih berkelebat di depan matanya.

"Hiiii!" secara reflek dia memeluk Luffy yang berada di dekatnya.

"Apaan tadi?" Luffy malah asyik ngupil.

"Luffy, sialan kau!" Sanji memukul-mukul lantai nggak terima.

"S-San-Sanji…" Chopper sudah mulai nangis sambil menarik-narik jaket Sanji.

"Oke, ini mulai nggak lucu. Siapapun kau, jantanlah dan tampakkan dirimu!" kata Sanji.

"Sanji, jangaaan!"

"Aku nggak jantan… aku ini wanita…" terdengar suara nenek-nekek dari belakang Sanji. Sanji menoleh, dan…

Tampaklah wajah seorang nenek yang nyengir seram di tengah kegelapan.

"Muncuuuuul!"

xxx

Aaaaaaaaaaaaa…

Teriakan mereka berempat terdengar sampai gerbang sekolah… seketika itu juga layar laptop Law mati.

"?"

"Oi, kameranya mati..." komentar Franky.

"Apa... yang terjadi di sana?"

"Pergilah roh jahat, pergilah roh jahat! Beristirahatlah dengan tenang, Luffy!" Usopp melakukan tarian exorcism sambil nangis ketakutan.

"Hey, apa yang harus kita lakukan, panitia?"

Siiing... belakang mereka sudah kosong. Rupanya para panitia sudah kabur, meninggalkan Perona yang marah-marah pada kamera yang mati seenaknya dan Kaya yang duduk nggak bergerak dengan keringat mengalir deras.

"Cepat banget kaburnya!"

"Jangan-jangan, mereka yang di dalam mati karena kutukan hantu..." komentar Robin.

"Kenapa kamu selalu ngomong hal sadis seperti itu?"

"Oi, kalau mereka kena kutuk di dekat kita, itu pertanda buruk..." kata Franky.

"Daripada semua omong kosong itu, pikirkan apa yang harus kita lakukan!"

"Oke, kita bagi jadi 2 tim. Dua orang ikut aku dan yang satu berjaga di sini," Zoro langsung mengambil alih komando di tengah kepanikan itu.

"A-aaku ikut kamu, ya, Zoro!"

"Aku bersamamu, marimo-bro. Buat gendong-gendong yang pingsan."

"Marimo, aku ikut!" teriak Perona dengan kamera obscura di tangan.

"Kaya, kamu di sini saja, ya," kata Usopp.

"I-iya, Usopp-san, lagian kakiku nggak bisa bergerak…" jawab Kaya dengan suara bergetar.

"Pacarannya nanti, sekarang kita tolong Luffy dan yang lain!" Franky menarik Usopp pergi.

"Kaya, kalau aku nggak kembali nanti, sampaikan salamku ke mama!"

"Lebay amat sih…"

Zoro dan kawan-kawan berlari secepat mungkin, tapi belum-belum mereka sudah nyasar gara-gara Zoro.

Sementara itu, di UKS...

Chopper dan Nami saling memeluk untuk hidup mereka, sedang Sanji diam tak bergerak dan mata Luffy berkilauan. Di depan mereka berdiri seorang... atau sesosok nenek tua.

"Kyaaa, suster ngesot!"

"Bu-bukan, Nami! I-itu 'mbak kunti'!"

"Sebagai penakut, kalian terlalu banyak nonton film horor..." komentar Sanji. "Apapun dia, aku memang dapat feeling kalau dia berasal dari dunia lain..."

"Wooow... benar-benar muncul," komentar Luffy sambil nyengir lebar. Dia lalu mendekati nenek itu dan menyentuhnya dengan ujung tongkat. "Nenek hantu ya?"

"Aku ini manusia, bodoh!"

Bletak!

Luffy ditendangnya! Tapi, bukannya hantu nggak punya kaki?

"Wow, ternyata cuma nenek tua bangka yang terlalu bersemangat."

Bletak! Sanji terkapar.

Mendengar komentar Sanji dan tendangan nenek itu, Chopper dan Nami melepaskan pelukan mereka sambil saling memandang...

"Jadi... nenek bukan hantu?" tanya mereka.

"Enak saja nenek! Tahun ini aku masih 139 tahun, tahu!"

"Jangan bohong, nek," Nami memicingkan matanya.

"Baik, 141. Tapi berani benar kau masih memanggilku nenek? Namaku Dr. Kureha, panggil saja Doctorine!"

Swing! Nami menghindar dengan mudah. Dia lalu menjulurkan lidahnya.

"Hee... kamu lumayan juga, nak," Kureha nyengir.

"Ngomong-ngomong Doctorine, ada yang bilang kalau di ruangan ini dulunya ada yang meninggal untuk melindungi hartanya, apakah itu benar?" tanya Chopper.

"Heh! Itu cuma cerita buatan untuk menakuti anak Seifu agar nggak menyusup ke sekolah malam-malam!" jawab Dr. Kureha.

"Berarti, hartanya..."

"Jelas, tidak ada! Kalau memang ada, aku sudah menemukannya dari dulu."

Tiba-tiba...

Greeek! Pintu UKS terbuka dengan kasar! Chopper dan Nami segera berpelukan lagi, tapi yang mereka lihat adalah Zoro dan lainnya yang terengah-engah.

"Ahh, ternyata cuma Doctorine?" komentar Perona, kecewa.

"Jadi, kalian kemari karena tes dari Trafalgar ya..." Kureha geleng-geleng. "Dia memang suka seenaknya sendiri kalau aku nggak ada di sekolah. Kalau nggak mengawasi, dia bisa mempraktikkan jual-beli organ manusia..."

Chopper dan kawan-kawan sweatdropped.

"Yah, tanpa tes pun kamu sudah pantas jadi anggota PMR kok, Chopper!" Dr. Kureha menepuk kepala anak itu. "Karena kamu murid jenius yang katanya telah melampaui mentormu Dr. Hiluluk."

"Hehe, makasih, Doctorine!"

"Yaaay!" Luffy dan yang lain bersorak.

"Hari sudah malam, sebaiknya kalian cepat pulang. Aku masih ada urusan di sini, hi hi hi."

Zoro dan yang lain segera membereskan papan Ouija dan pamit undur diri. Tapi, sebelum kembali...

"Oh ya nek, mau bergabung dengan geng kami?" tanya Luffy.

"Geng? Aku sudah terlalu tua buat itu... dan jangan panggil aku nenek!"

Bletak!

xxx

"Ternyata Doctorine toh, yang katanya mak lampir di UKS itu," komentar Usopp sembari mereka berjalan keluar gedung sekolah.

"Ya... itulah alasan kenapa UKS jarang dimanfaatin murid-murid yang kabur dari pelajaran, karena Doctorine akan langsung menyuntik mereka dengan obat nggak jelas," kata Sanji.

"Jangan bicara begitu, Sanji! Doctorine itu dokter hebat! Aku nggak nyangka, setelah pensiun dari RS Drum, dia bekerja di sini..." kata Chopper.

"Shishishi... beruntung sekali kau, Chopper, tergabung di klub yang diasuh idolamu," komentar Luffy.

"Beruntung apanya? Padahal, kupikir aku akan jadi anak occult pertama yang mendapatkan bukti penampakan di Seifu!" Perona cemberut.

Sementara Luffy dan kawan-kawan asyik ngobrol, Nami diam saja. Rupanya masih ada yang mengganjal buatnya... karena nggak mau memendamnya lama-lama, dia pun memutuskan untuk mengatakannya.

"Perona, apa... papan Ouija itu benar-benar permainan untuk berkomunikasi dengan arwah?"

"Tentu saja! Memangnya kenapa?"

"Bukannya digerakkan dengan baterai dan sensor suara? Soalnya, tadi 'kan sudah terbukti kalau 'hantu' di UKS itu ternyata Doctorine... terus apa yang gerakin koin itu waktu kita bertanya?"

"Mana ada papan Ouija secanggih itu!" Perona nyolot. "Kalau memang pertanyaan kalian dijawab, berarti ada sesuatu yang mengikuti kalian ke UKS..."

"Hii, yang benar?"

"Tadi ada pertanyaan tentang namanya 'kan? Dia jawab nggak?"

"Dia jawab... namanya Victoria Cindry-chan!" jawab Sanji.

"HAH? Victoria Cindry?" Perona melotot.

"M-memang kenapa...?" trio penakut mulai gemetaran lagi.

"Dia adalah..."

Belum selesai ngomong, tanda-tanda kehadiran energi mistis kembali terasa di sekitar mereka... angin dingin berhembus dan terdengar suara-suara nggak jelas...

Kenapa denganku...?

"..."

Luffy dan yang lain menoleh ke asal suara, dan...

"!"

Chapter II Part 4 End


Gara-gara kebanyakan nonton PNP dan main-main ke Forsup KasKus, aku dapat ide buat nulis part ini. Lumayan horor 'kan? Eh, nggak? Okay...

Sebenarnya yang deg-degan itu aku loh, karena nulis part ini dini hari sendirian di kamar dekat pekarangan belakang (sembari begadang ngerjain tugas)... di mana banyak suara-suara nggak jelas terdengar. Kebanyakan kucing sih :P

Oke, part selanjutnya... SanNa! Berbahagialah!

Spoiler for Chapter II part 5 – Black Leg Chef

"Lomba masak tingkat kota buat segala umur?"

"Ini bukti kalau pak tua keparat itu masih meremehkanku."

"Tapi Sanji, lawanmu kebanyakan cewek lho..."

"Yang terpenting dalam masakan itu adalah perasaan cinta saat membuatnya... atau begitu kata Bellmere."

"Sanji, masakan ini..."

OT: Kita berhenti mencari-cari monster di bawah kolong tempat tidur kita setelah menyadari bahwa monster itu bersarang di hati kita...

Thanks for reading!