The Dark Reality

Pairing : KiWook, KiMin, Yesung, Donghae, Heechul, Siwon, Kyuhyun, EunHyuk dan Member Sj lainnya.

Disclaimer : Super Junior milik SMEnt, Semua member milik mereka sendiri, tapi untuk Kim Kibum adalah milik saya, dan ryeowook adalah calon saya #kena Gampar# tambahan cho kwangmin selingkuhan saya.

Rated : T

Warning : Typos, bad plot, gaje, gak da humornya, YAOI, BOYS X BOYS don't like don't read

Summary : Kim Ryeowook adalah seorang polisi, hingga suatu hari dia di pecat akibat ulahnya sendiri. Disaat itulah dia menyaksikan pembunuhan langsung di depan matanya dan si pembunuh itu malah mengajaknya untuk bergabung di organisasi pembunuh bayaran yang terkenal, dan dia di terima dengan mudahnya oleh sang pimpinan yang tak sesuai dengan perkiraannya. Jelek banget nih summary!

Genre : Crime, Romance

Markas Snow Pink lantai 77 gedung 101. 16.20

Eunhyuk pov.

Tit…

Tit…

Tit…

Kutatap Yesung hyung yang sibuk berjalan mondar-mandir di ruangan kesehatan ini. Aku tak di izinkan bergerak sama sekali. Kutatap Kyuhyun yang tampak kebingungan menangani tubuh kibum. Apakah sakit? Pertanyaan itulah yang ingin kutanyakan pada sosok yang terbaring di hadapanku itu. Ia tak menjawab, ia diam. Meski aku tahu dia memang selalu diam, tapi tak seperti ini.

Entahlah… aku tak bisa percaya yang terbaring itu adalah seorang Kibum. Darahnya berceceran memenuhi seluruh ruangan. Yesung hyung, seluruh tubuhnya di basahi oleh darah segar Kibum. Dialah yang membawa Kibum kemari, dia bahkan terlihat terlalu panic untuk menyadari tubuhnya yang tak pernah terkotori oleh darah orang lain kini penuh oleh darah.

Sementara Ryeowook, lihatlah dia. Namja imut nan manis itu hanya diam membatu ditempatnya. Air matanya terus mengalir dalam diam. Begitu menyedihkannyakah melihat orang yang kita cintai tak berdaya seperti itu? Heechul hyung tak memperdulikan segalanya lagi, dia terus membisikkan kata-kata manis di telinga kibum sambil terisak. Memohon agar orang yang pernah ia cintai sepenuh hati itu terbangun dan membalas kata-katanya. Tapi kibum tak bisa. Ia masih diam.

"Hae hyung" kyuhyun memanggil Donghae, kulirik wajah namja yang kini terlihat pucat itu. Kurasa ia mulai terisak, jika kyuhyun tak memanggilnya. Dia berbalik dan mendekatkan dirinya pada Kyuhyun, aku bisa mendengar detak jantungnya yang mulai tak terkontrol. Bukankah kami harus bisa mengatur detak jantung itu? "Bisakah kau menjahit luka Hyukkie hyung?" suara kyuhyun terdengar serak. Ia sudah tak bisa menahan tangisnya.

Donghae mengambil peralatan di lemari ruangan ini. Apakah donghae bisa melakukannya? Dia bahkan tak pernah melakukannya seingatku. Dia juga bukan tipe orang yang teliti yang bisa rapi melakukan jahitan di kepalaku.

"Lakukan dengan benar hae.." kataku berusaha bercanda, hatinya sedang tak bersamaku sekarang. Kurasa begitu juga dengan hatiku, aku takut. Benar… ada rasa takut menghantam tulang rusukku berusaha menghancurkan pertahananku. Air mataku bercucuran, demi pimpinan Snow pink itu. Kumohon, biarkan dia berhasil selamat. Kumohon….

Bagaimana caranya ia akan selamat? Dihantam oleh truk besar dengan kecepatan tinggi kemudian terseret dan menghantam kaca tebal hingga pecah. Jika aku, aku mungkin sudah mati di tempat itu juga. Aku bisa memperkirakan kalau tulang kibum sudah remuk semua. Tidak ada kemungkinan ia dapat hidup lagi, aku tahu itu meskipun kyuhyun berusaha lebih dari kemampuannya.

"Jangan menangis hyukkie!"Donghae menepuk bahuku. Dia menyuruhku untuk tak menangis tapi wajahnya sudah bersimbah air mata seperti itu. Aku menghapus air mataku, sementara Hae mulai sibuk dengan percobaan pertamanya menjahit lukaku. Tangisnya tiba-tiba pecah, membuatku terkejut. Aku segera memeluknya, menenangkannya.

Apa yang terjadi jika kibum pergi? Bukankah semua akan sia-sia? Perjuangan kami menjadi jauh lebih kuat bukankah akan berakhir tanpa guna. Dialah yang menjadi pedoman kami, dialah sikuat yang selalu tenang. Dengan tangannya lah kehidupanku dan yang lainnya masih bertahan. Dialah orang yang berkali-kali menyelamatkan kami dari kematian, kemudian… tak bisakah kami melakukan seperti yang ia lakukan? Menyelamakan dirinya dari kematian yang sedang menyelimutinya.

Deg…. Deg… deg….

Aku masih mendengar detakan lemah jantung kibum, masih menyahuti keraguan kami. Dia masih hidup, dia masih berjuang mempertahankan nyawanya sendirian. Kyuhyun masih berusaha setenang mungkin membersihkan luka kibum dan menjahit kulitnya yang robek, memasang alat bantu pada tubuhnya. Aku bisa mendengar celotehan Yesung hyung memperhatikan komputernya.

"Organ pencernaannya tak berfungsi lagi, kyu…" katanya menatap wajah kyuhyun, kyuhyun mulai memasang alat-alat yang tampak menyakitkan itu ke tubuh kibum. "Paru-parunya juga… sudah tak bisa…."

"Diamlah hyung!" teriak kyuhyun akhirnya. "Sampai kapan kau akan mengatakan tanda-tanda kematiannya!" si mulut pedas kyu mungkin sudah bangkit. Yesung diam, dia menutup laptopnya. Kyuhyun menatap tubuh kibum kini. Suara hysteris heechul hyung tiba-tiba terdengar.

"Bummie… bummie…!" teriaknya bagai orang kesetanan. Air mata donghae mengalir deras tapi ia tak meraung masih dengan teliti menjahit lukaku. Aku terisak… aku menangis sejadi-jadinya…. Suara jantung itu kini tak terdengar lagi. Suara detak jantung yang tenang itu menghilang. Wookie roboh.

"Ini Bohong!" dia menutup telinganya, berusaha tak ingin mendengar suara heechul yang terus berteriak seolah kibum sudah tiada. Kibum… dia memang sudah….

Kyuhyun mengambil alat pacu jantung. Disetrumnya jantung kibum. "Kumohon! Berdetaklah!" katanya terus dan terus hingga aku dapat melihat tubuhnya ikut tersetrum.

"Kyu… sudahlah… dia sudah pergi" Yesung menarik tubuh Kyuhyun agar menjauh.

"Andwae! Dia belum mati, bummie belum mati. Bummieku tak mati, alat ini rusak, pasti rusak!" dia menghempaskan alat pacu jantung itu. Dia naik keatas tempat tidur kibum dan mulai memompa jantung kibum lagi dengan kedua tangannya. "Bummie… kau dengar aku? Jantungmu ini… tidak boleh berhenti! Aku takkan membiarkannya. Bukankah suara jantungmu itu sangat merdu, bukankah aku jatuh cinta padamu karena suara jantung itu. Kumohon jangan hentikan suaranya! Kumohon!" pekik kyuhyun lagi.

Wookie bangkit, di elusnya pipi kibum penuh sayang. "Bummie.. bangun ya! Kumohon.. bangun ya!"

Siapapun tahu, bahwa wookielah yang paling terluka sekarang. Kyuhyun melekatkan bibirnya ke mulut kibum, berusah memberi nafas buatan disamping pipa oksigen yang melekat di hidung kibum. "Sadarlah bummie!"

Yesung hyung juga sepertinya masih tak ingin menyerah dengan tubuh yang sungguh sudah kehilangan nyawa itu. Diberikannya rangsangan-rangsangan listrik untuk membuat jantung kibum kembali berdetak. Sia-sia… aku tahu di hati mereka, kibum sungguh sudah tidak bisa di selamatkan. Dia sudah menyusul Sungmin hyung di dunia sana.

BRAAKKK….. seorang namja cantik berkursi roda memasuki ruangan ini. Kakinya tak bisa digerakkan lagi karena diriku. Akulah yang mematahkannya. Dialah dan teman-temannya lah yang bertanggung jawab atas kepergian kibum. Dialah…. "Ini semua salahmu!" aku terkejut saat melihat Wookie yang tiba-tiba menarik kerah baju jaejoong –si namja cantik dari cassie leaf.

Jaejoong menangis, dia tak peduli dengan yang dilakukan wookie padanya sekarang. Tatapan matanya hanya pada kibum yang sudah tak bernyawa. "Bummie…."

"Kau tak berhak mengucapkan nama kekasihku!" teriak wookie lagi, aku merasa aku melihat diri lain wookie. Diri yang penuh amarah dan dendam. Bukankah awalnya dialah yang memperlakukan jaejoong dengan baik tapi kenapa sekarang dia begitu membenci namja ini? "Temanmu itulah yang membuat bummie ku seperti ini. Kau pantas mati"

"Jika aku bisa menukar nyawaku dengannya aku akan lakukan!" jaejoong berteriak keras. Wookie menarik pistolnya. Anak itu sepertinya tak punya keraguan saat menodong tenggorokan jaejoong dengan senjata berbahaya itu.

"Aku akan membunuhmu. Aku akan lakukan apapun agar bummie kembali, jika ada kemungkinan nyawamu bisa di gunakan aku akan lakukan"

"Jangan babo wookie!" Heechul berteriak berusaha menghentikan tindakan babo tak terkendali wookie. Meskipun aku yang paling babo di ruangan ini, aku masih sangat tahu bahwa orang yang sudah mati takkan bisa hidup dengan membunuh orang lain sebagai gantinya.

Tiba-tiba… kami semua terdiam, bukan karena wookie akan siap menarik pelatuknya. Wookie menurunkan senjatanya. Dia berbalik dan menatap kibum. Aku tertegun begitu juga donghae. Kami mendengarnya… keajaiban terjadi. Suara detak jantung kibum terdengar. Ia hidup kembali, ia hidup… kyuhyun segera turun dari tempat tidur kibum. Sebuah senyuman lega terkembang di bibirnya yang indah. Adikku itu berhasil, dia mengembalikan detak jantung pimpinan hebat kami.

"Ini…." Gumaman tidak kepercayaan yesung hyung terdengar, segera diambilnya alat bantu lainnya dan memasukkan sebuah selang ke dalam mulut kibum. Aku tak tahu entah alat apa lagi yang dia dan kyuhyun pasang untuk bummie. Tapi aku rasa alat itu sungguh membuat detak jantung kibum berlahan menormal, membuat senyuman indah kembali terkembang di wajah kami semua.

Author pov.

Kamar Yesung. Tiga tahun kemudian

"Kalian serius" suara menggelegar Siwon terdengar memenuhi seluruh ruangan. Wookie menutup telinganya sambil memasang wajah innocentnya. Ia nyengir saat Donghae tertawa melihat tingkahnya itu. Ia bersembunyi di belakang leeteuk, memeluk pinggang namja cantik itu dengan manjanya.

Leeteuk tersenyum, di tepuknya kepala wookie dengan sayang. "Hei… siwonnie.. kecilkan suaramu, kau menakuti wookie-ah" suara tawa donghae kini memenuhi ruangan mengalahkan suara siwon. Membuat heechul langsung mengeluarkan deathglare mematikan untuk membuat donghae diam.

"Tentu saja kami serius, kami akan menyelesaikan cassie leaf besok" semangat Eunhyuk terlihat menggebu-gebu.

"Bukankah itu terdengar mustahil tanpa kibum bersama kalian?" leeteuk menatap donghae yang kini di timpuk bantal oleh heechul. Hangeng berusaha menghentikan namja cantik itu atau donghae akan mati.

"Kami yang sekarang kurasa bisa" Jawab Yesung pasti. "Tidak ada yang tahu entah kapan Kibum bisa bangun dari komanya. Kemudian Jaejoong, apa kalian menjaganya dengan baik"

"Ya.. sesuai perintahmu hyung, dia tak ada masalah" sambung Hangeng masih berusaha menahan amarah Heechul.

"Baguslah, kalau begitu rapat hari ini selesai" putus Yesung meraih laptopnya dan kembali sibuk berkutat didepan sana. Mengatur rencana untuk acara puncak yang ia tunggu.

Donghae pov.

Aku melangkahkan kakiku keluar dari kamarku. Tidak banyak yang berubah sejak aku meninggalkannya sejak tigak tahun yang lalu. Kemanakah aku selama tiga tahun ini? Kehidupanku menjalani wajib militer mungkin sudah membuatku menjadi jauh lebih tangguh. Wajib militer mungkin tak terlalu sulit bagiku mengingat latihanku dulu jauh lebih mengerikan dan berat. Tapi aku tahu, aku tumbuh jadi lebih kuat dari sebelumnya.

Eunhyuk berbeda denganku, dia pergi ke Las Vegas dan menjalani pelatihan di sana. Dia belajar hal banyak disana dan aku bisa melihat tubuhnya yang jauh lebih lentur. Inikah hasil dari kamp militer amerika? Hahahahahaha…. Heechul hyung, dia masuk dalam kepolisian atas wewenang Siwon dan menjadi tim elit khusus penembak jitu. Aku bingung, dia ternyata mampu menjadi polisi demi kekasihnya dari China itu.

Lalu Yesung hyung? Dia bersama wookie kembali ke daerah tempat dia berasal. Ke Osaka, Jepang dan melatih Wookie kecil menjadi kuat seperti Sungmin hyung. Aku tak tahu seberapa berat latihan yang dirasakan wookie di sana, aku tak sengaja melihat luka-luka di tubuh mungilnya. Tapi sekarang dia sukses menjadi namja innocent yang mengerikan.

Snow pink sudah bersatu kembali, kami bukan snow pink yang dulu lagi, snow pink yang tak bisa berdiri sejajar dengan cassie leaf. Tiga tahun bagi kami bukan masa yang kami habiskan dengan gampang. Kami bekerja keras dan hidup dengan penuh usaha bertahan hidup. Sebentar lagi aku akan melepaskan dendam ini. Aku akan hidup sebagai layaknya manusia.

Kyuhyun memeluk tubuh mungil wookie di dalam kamar kibum. Melepas rasa rindu pada namja imut itu. Wookie kemudian duduk di tepi ranjang kibum, menatap wajah kekasih yang sudah lama di tinggalkannya. Di rapikannya poni kibum yang sedang berantakan. "Aku pulang chagiya.. rindu padaku?" suara tenor wookie terdengar manis seperti biasanya. Kyuhyun tersenyum lega. "Gommawo kyunnie.. sudah menjaganya selama aku tidak ada"

"Nee… gwechana hyung. Sudah kewajibanku… aku ingin tidur sebentar hyung, jika ada masalah bangunkan aku segera" kyuhyun membaringkan tubuhnya di samping kibum. Ia tampaknya langsung terlelap. Entahlah.. aku merasa kyuhyun lah yang paling lelah selama tiga tahun ini, menjaga kibum terus menerus. Jika ia sampai lengah sedikit dan alat-alat bantu hidup kibum tak melakukan tugasnya dengan baik mungkin pimpinan snow pink itu akan sungguh-sungguh tak ada lagi.

Terdengar suara wookie melantunkan lagu di telinga kibum. Dia terlihat sangat senang kembali di samping kibum. Aku melihatnya sesekali mengecup pipi kibum dengan lembut. Berbisik di telinga kibum agar cepat sembuh kemudian kembali bernyanyi.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah sentuhan lembut menyentuh punggungku. Aku tak segera berbalik karena orang yang memberikan sentuhan itu memelukku dari belakang. "Aku merindukanmu" katanya datar. Aku tersenyum, aku sangat kenal pemilik pelukan hangat ini. Teuki hyung… orang yang selalu mendukungku dan mendoakanku selama ini.

"Jinjja? Kau bahkan selalu mengunjungiku di kamp, bagaimana mungkin kau begitu merindukanku?" aku mencoba menggodanya.

"Huh… aku bilang rindu ya rindu, sejak kapan kau berani menentang perkataanku?" aku terkekeh pelan. Dia menjadi begitu pemerintah sejak aku memutuskan untuk mengaitkan sebuah cincin di jari manis tangannya.

"Mian he hyung. Aku mengerti"

Siapa yang akan menyangka, seorang lee donghae yang begitu membenci polisi, kini bertunangan dengan seorang polisi. Aku mungkin bisa dibilang gila, tapi inilah hatiku, aku mencintainya dan aku tak bermaksud untuk mencintai yang lain lagi selain dia. Sungguh…

Aku melepas pelukannya, kemudian berbalik dan mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. "Saranghae" ujarku yang sontak membuat wajahku memerah. Berlahan aku langsung mengulum bibir pulm manisnya, membawa kami dalam cinta hangat kami.

Flashback-

"Yunho hyung…" pekikku memanggil namja yang tubuhnya sedikit lebih besar dariku berjalan di depanku. Dia meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Mengisyaratkan padaku untuk diam. Aku patuh.

Aku menatap wajahnya yang hanya di sinari sinar rembulan di malam itu. Meski dia banyak berubah tapi aku masih sangat mengenalinya. Dia masih Yunho hyung yang dulu, yang selalu melindungiku. Dia dewa penolongku yang tiba-tiba muncul saat aku di kejar-kejar oleh para polisi dan menyembunyikanku di gang-gang kecil ini.

"Mereka sudah pergi" Yunho hyung menarik nafas lega. Ditatapnya aku dan di elusnya kepalaku. "Kau sudah besar Hae? Aku merindukanmu"

"Aku juga hyung. Hyung… percayalah padaku, bukan aku pembunuhnya… bukan aku pembunuh orang tua angkatmu, aku hanya datang kerumahmu untuk…"

"Sudahlah… aku tahu. Kau bukan orang yang pantas untuk menghukum mereka. Hae… berjanjilah untuk melupakan hari ini. Anggaplah kau tak pernah bertemu denganku hari ini"

"Lho… wae?"

"Jika pembunuh itu tahu aku masih hidup, mereka akan mengejarku"

Aku mengangguk mengerti. Usiaku tak terlalu muda untuk tak mengetahui maksud dari perkataan hyungku itu. Dia kemudian memanjat pagar tinggi di dekat kami. Dengan lincahnya ia berlari, baru kusadari hyungku itu begitu hebat. Aku berlari ketengah kota tapi para polisi itu menemukanku. Aku bersyukur dalam hatiku, bukankah ini artinya mereka akan membantuku untuk melindungi Yunho hyung dan aku sendiri tentunya.

BRUUUKKK… aku tak mengerti mereka memukuliku. Kenapa? Bukankah aku yang mestinya di lindungi di sini. "Dia masih di bawah umur" aku mendengar seseorang mencela tindakan polisi-polisi itu.

"Diamlah! Kau ingin kita di pecat, anak ini adalah pembunuhnya"

"Tapi tak ada bukti yang membuktikan itu"

"Ada… kita akan membuatnya. Dengan begini aku akan naik pangkat. Yak… polisi baru, menyingkirlah dan pelajari beginilah polisi yang benar bekerja. Hah.. anak sialan lebih baik kau dengarkan kata-kata hyung-hyung ini atau kau akan mati" teriak salah satu dari mereka mulai mengancamku. Apa dayaku? Bukankah aku hanya anak SMA? Anak panti asuhan yang tak bisa mendapatkan keadilan sejak aku dilahirkan di dunia ini. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, tubuhku sudah di penuhi lebam.

Tak tahan dengan pukulan yang bertubi-tubi saat aku salah menghapalkan kalimat pengakuan yang mereka dikte. Aku lari… aku berlari tak tentu arah, tak jarang aku menabrak mobil yang menghalangi jalanku. Tapi aku bangkit dan aku terus berlari dengan pandangan yang gelap.

Lagi-lagi Yunho hyung muncul di hadapanku. "Hae kemarilah!" dia menarikku dan membawaku berlari ke tempat yang asing bagiku. Seoul bukanlah tempat tinggal kami, aku tak kenal tempat ini. Aku hanya mengikuti langkah Yunho hyung.

Dia menghentikan langkahnya di jalanan yang sunyi. "Kau aman di sini" dia menyuruhku duduk di atas tempat sampah.

"Kenapa mereka begitu jahat, aku bukan pembunuh kenapa mereka malah menyuruhku untuk berpura-pura?" teriakku kesal. Air mataku mengalir.

Yunho hyung menggoncang tubuhku, "Mereka bukan orang yang baik hae… merekalah pembunuh orang tuaku dan orang tuamu. Mereka jugalah yang membunuh orang tua angkatku. Mereka sama dengan para ibu di panti, mereka berpura-pura baik saat orang lain datang dan menindas kita saat tak ada yang tahu"

"Mereka…"

"Benar… merekalah yang salah, mereka yang membuat kita begini. Dendamlah pada mereka hae-ah!" Yunho hyung menepuk kepalaku kemudian memberikanku beberapa ribu uang. Dia kemudian menghilang di telan kegelapan malam.

Flashback end-

Semenjak mengenal leeteuk hyung, aku merasa mungkin Yunho hyung membuat sedikit kesalahan. Aku seharusnya tak membenci semuanya, aku hanya perlu membenci beberapa di antaranya. Tidak untuk leeteuk dan teman-teman siwon. Mereka orang baik, mereka membantu kami melindungi kibum. Mereka membantu kami untuk tak di pandang rendah sebagai penjahat kakap. Kami masih di hormati mereka sebagai organisasi yang membasmi beberapa organisasi lain.

Kami sekarang berada di tujuan yang sama sebagai tim pemberantas organisasi pembunuh hanya cara yang kami gunakan berbeda. Aku sudah bersumpah pada leeteuk untuk melepas nama pembunuh dari diriku saat misi ini selesai, begitu juga dengannya dan nama polisinya. Kami akan hidup nyaman sebagai masyarakat pada umumnya.

Aku sering bertemu Yunho hyung setelah kejadian itu, dan dia menjadi seorang dokter di sebuah rumah sakit ternama. Apa aku sekolah lagi saja ya dan menjadi seorang dokter sepertinya? Kurasa itu baik. Leeteuk hyung mendorongku. Aku tersenyum dengan reaksinya yang terlihat malu-malu.

"Hmm…. Lepaskan hyung!" aku menatap leeteuk hyung, apa suara manis itu berasal darinya. Dia mengangkat bahunya, jelas sekali bukan dia. Dia menutup bibirnya dari tadi. Jadi siapa?

Aku mengendap-endap dan mencoba mengintip. Aku yakin sekali suara itu berasal dari kamar eunhyuk. Leeteuk hyung diam di tempatnya, aku tak ingin suara langkahnya itu akan mengacaukan segalanya. Kulihat dari balik pintu kamar eunhyuk, eunhyuk dan… OMO!

My God is not real! Ingin rasanya aku berteriak. Ya… jelas saja ini tak mungkin, yang benar saja… hyukkie dia sedang…. "Aku merindukanmu hyukkie dan begini reaksimu padaku?"

"Tapi hyung… kita tidak pernah melakukannya di sini. Jangan yang aneh-aneh!"

Aku bingung, apa aku harus terkejut melihat pemandangan ini. Ataukah aku harus tertawa? Aku sungguh tak bisa menebak hal ini sebelumnya. Tak pernah kusangka hyukkie itu seorang uke… bwahahahahahahahaha…. Rasanya ingin mengejek namja itu.

"Hyung-ah… setidaknya tutup pintunya" celutukku membuat keduanya tampak terkejut. Aku tertawa terbahak. "Tak kusangka Yesung hyung akan seberani itu" kali ini aku mengejek. Wajah yesung hyung tampak memerah sedikit. Dia menatapku tajam.

"Oke.. oke… maaf mengganggu hyung! Lanjutkan saja!" kataku tersenyum jahil. Tak kusangka cinta eunhyuk akhirnya terbalas juga. Kukira Yesung hyung tak pernah menaruh perhatian pada sahabatku itu. Kau beruntung hyukkie, kau mendapatkannya sudah. Aku menutup pintu kamar eunhyuk rapat-rapat.

Leeteuk hyung menatapku dengan wajah penasaran. "Wae hae?"

"Gwechana hyung… hanya orang yang sedang bercinta. Eh… ayo kita keluar! Aku ingin menghabiskan hari ini berdua saja!"

Author pov.

Yesung memasang seragam hitamnya. Tak lupa dia memasang anting di telinga kanannya. Anting yang dapat menyambungkannya dengan snow pink lainnya. Di ambilnya pedang bersarung hitamnya dari atas tempat pajangan. Di dengarnya suara Siiiiiingggg… panjang dari antingnya. Itu sebuah tanda bahwa kyuhyun sudah mengaktifkan anting seluruh member snow pink.

Yesung melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Ia berjalan menyusuri lorong lantai 77 itu. Dia menarik nafas panjang saat ia telah sampai di penghujung lorong, pintu kamar itu terbuka lebar. Pintu kamar kibum. Semua member snow pink berdiri mengintari ranjang kibum. Kemudian terlihat Siwon disana yang sedikit menjauh dari mereka. Mengambil jarak aman, agar anggota snow pink tak merasa terganggu dengan keberadaannya.

Wookie duduk di sisi kibum, di pakaikannya anting putih yang biasa dipakai pimpinan snowpink itu dalam bertugas. "Doakan kami bummie, lindungi kami seperti yang biasa kau lakukan" bisik wookie mengecup dahi kibum pelan. Ia kemudian berdiri di samping Donghae.

"Kibum, aku tahu mungkin aku telah bertindak salah dengan melakukan hal yang tak seharusnya. Memimpin snow pink bukanlah wewenangku. Sesungguhnya aku hanya menggantikanmu sebentar. Hanya kau pimpinan snow pink setelah adikku lee sungmin" suara Yesung yang tenang terdengar di penjuru ruangan.

Ia bersujud di lantai, "aku meminta izinmu untuk menyelesaikan misi kali ini. Aku percaya tim kita bisa menyelesaikan para cassie leaf itu. Aku akan melindungi mereka kali ini"

Yesung bangkit. Di tatapnya lukisan Sungmin yang terpampang besar di dinding kaca kamar Kibum. "Hyung pergi Minnie…" kemudian Yesung melirik Siwon. "Tolong jaga bummie ya!" dia tersenyum kemudian melangkah pergi keluar dari ruangan itu. Donghae, eunhyuk, heechul dan wookie mengikuti langkahnya.

Markas Cassie Leaf

"Bagaimana hyung?" Junsu menatap wajah Yunho dengan mata bersinar. Yunho memamerkan senyum indahnya. Dia bangkit dari kursinya dan melangkah memasuki ruangan lainnya.

"Hadapi saja mereka" jawab Yunho santai menutup pintu ruangan yang baru saja ia masuki. "Katakan padaku ketika mereka datang. Bawa saja keruang bawah tanah dan hancurkan mereka di sana"

"Arraso" kali ini Yoochun yang menjawab.

Sungmin terlihat bergelayut menja di bahu Changmin. Tampak sesekali Changmin mencium bibir namja cantik itu mesra. "Kali ini jangan mengecewakanku Minnie… pergilah ke samping Yunho hyung"

Sungmin mengangguk mengerti. Dia berdiri di depan kamar yang di masuki Yunho sementara Changmin mengikuti kedua hyungnya yang siap menyambut kedatangan Snow pink di depan pintu markas mereka. Mereka yakin dengan kemampuan mereka, mereka tim terkuat selama ini. Meski mereka kehilangan seorang kim jaejoong, mereka juga mencoba berpikir, hal itu bukan masalah yang besar. Selama ini mereka bisa mengatasi masalah meski mereka tidak lengkap.

Kemudian bukankah lawan mereka juga kehilangan satu prajurit sama seperti mereka? Bukankah itu impas dan mereka merasa mereka dalam keadaan yang imbang.

Yesung pov.

Kami semua turun dari sebuah van, aku menatap rumah tua yang di selidiki kyuhyun sebagai markas Cassie Leaf. Benarkah disini? Hmf… tentu saja disini, kyuhyun tak pernah salah memperkirakan sesuatu. Aku memimpin Snow Pink tanpa rasa takut sedikit pun. Aku berjalan paling depan seperti yang pernah di lakukan oleh adikku lee sungmin dulu dan kibum. Benar… jika peluru tiba-tiba di tembakkan maka akulah yang akan mati duluan, bukankah itu tugas pemimpin? Melindungi dan merasakan sakit yang akan dirasakan oleh bawahannya.

Kyuhyun berjalan di sampingku, dia pengganti posisi kibum saat sungminlah yang dulu berdiri di posisiku. Aku sekarang mengerti bagaimana sulitnya berdiri di sini. Berjalan penuh kekuasaan, tapi kematian tepat di depan mata. "Radius 8 meter hyung. Seorang namja berdiri di depan kita, tepat di balik pintu itu" seru kyuhyun mengingatkanku. Aku dapat mendengar suara detak jantung orang yang dimaksudkannya.

Kucengkram erat pedangku, begitu juga dengan anggota snow pink yang lain mereka mulai menikmati peran mereka. Mereka bukan manusia saat ini, mereka adalah dewa kematian yang siap mencabut nyawa para cassie leaf itu. Bukankah begitu?

Author pov

Kamar kibum, lantai 77 gedung 101 09.16

Siwon menatap wajah kibum yang pucat. Tak bisa ia bayangkan namja manis yang sedang terbaring itu akan menjadi seperti ini selama tiga tahun. Di elusnya pipi kibum, dilihatnya satu persatu benda yang terpasang di tubuh kibum. Alat yang menjadi nyawa kibum selama ini, alat yang menopang hidup seorang pimpinan snow pink yang tangguh.

"Bummie… apa benda-benda ini terasa sakit?" suara siwon terdengar bergetar. Air mata mengalir di pipinya yang putih. Segera di hapusnya buliran bening itu, dia bangkit dari sisi kibum. Dia berjalan ke depan dinding tempat lukisan besar Sungmin terpajang. Dia membungkuk hormat pada lukisan itu. "Hyung…."

Ia bisa mengingat betapa marahnya namja yang ada dilukisan ini marah saat ia berdekatan dengan seorang kibum. Siwon merasakan sedikit rasa rindu yang menyerang hatinya, pada sungmin. Pada namja yang pernah mengancam akan membunuh dirinya jika berdekatan dengan kibum. Mata siwon menggercap kaget saat sebuah buku diary terjatuh dari atas meja, tak sengaja ia sentuh. Dibukanya lembar demi lembar buku itu, milik lee sungmin, tertulis jelas di sana.

Siwon membawa buku itu ke sisi Kibum. Di bacakannya halaman-halaman yang bertanda tepat di telinga kibum, berharap kibum akan mendengarnya dengan baik.

25 Maret

Hari ini aku menginjak tanah kelahiranku, suasana disini tidak terlalu berbeda dengan di Osaka. Bedanya mungkin otosa tak ada di sini dengan tampang sangarnya. Aku tak perlu harus di marahi dan di pukuli. Tapi sejujurnya aku tahu otosa menyayangiku sama seperti ia menyayangi Yesung hyung sebagai anaknya sendiri. Dia hanya sok keras begitu agar kami tak menjadi anak yang cengeng. Aku sayang dia.

12 Juni

Huwaaa…. Yesung hyung sungguh tega meninggalkan ku sendirian. Meski aku di terima menjadi seorang guru di sekolah yang ku idamkan, tapi itu bukan berarti dia bisa pergi ke Amerika seenaknya untuk mendapatkan S3 nya kan? Aku tahu aku tak sepintar dia, tapi kenapa dia tak membawaku juga. Kurasa otosa takkan marah jika aku bersamanya ke Amerika. Kini dia malah pergi diam-diam dan meninggalkan selembar surat sialan ini.

20 Juni

Sekolah ini memang mengesankan, aku suka. Hanya satu kelemahannya, badanku terlalu kecil untuk di panggil 'seongsenim' oleh anak-anak nakal itu. Mereka malah memanggilku dengan sebutan 'Minnie?' bukankah itu keterlaluan. Huft… aku harus memperbesarkan badanku. Tapi heechul hyung, malah mengejekku. Aku jadi semakin kesal.

26 Juni

Yak… siapa nama anak itu tadi? Ya aku ingat KIBUM, dia anak yang mengesalkan. Kukira dia anak yang baik pada awalnya, dia menghentikan teman-temannya untuk memanggilku Minnie. Dia juga anak pintar dan pendiam. Tapi lihat apa kelakuannya tadi? Dia kurang ajar! Berani sekali dia mengataiku 'guru payah'. Aku tak suka dia.. huft…

"Bummie.. kau sungguh anak yang nakal ternyata" siwon tertawa kecil membaca tulisan itu. Tak ada respon yang berarti dari kibum, dia masih diam dan tak berdaya. Siwon kembali membaca dan semua tulisan selanjutnya tentang kibum.

2 Juli

Kesabaranku sudah habis untuk anak itu, hari ini dia menggendongku di koridor sekolah. Begitu ringankah badanku hingga dia bisa mengangkatku seenaknya? Dia bahkan menggodaku dengan senyuman manisnya yang bagaikan senyuman iblis dari neraka. Huh… tapi entahlah.. hatiku tak tenang jika bersamanya, apa segitu bencinya kah aku pada anak kecil itu. Hmp.. tunggu saja sampai dia tahu bahwa aku seorang pembunuh bayaran yang membunuh para pembunuh-pembunuh kejam, lihat seberani apa dia melawanku. Hehehehehehe…

4 Juli

OMO! Dia bilang apa? Yang benar saja? Dia bilang aku manis? Aku marah-marah terus menerus secara tak jelas hari ini. Heechul hyung sampai mengutuki. Dia bilang aku marah-marah tapi wajahku memerah seolah malu. Sebenarnya ada apa denganku? Jujur saja, dan aku ingin ini menjadi rahasia, aku senang di katai manis olehnya.

9 Juli

Tuhan…. Apa ini? Apa namja ini tidak normal? Maksudku… bagaimana mungkin dia mengatakan dia mencintaiku? Kurasa dia salah kira soal perasaannya. Pasti begitu! Aku yakin itu. Humph… akan lebih baik jika aku menghindari dia untuk sementara.

13 Juli

Yak… apa-apaan itu? Dia bilang dia mencintaiku, tapi dia bermesraan dengan tiga namja dan empat yeoja hari ini. Huh… aku kenapa sih? Apa jangan-jangan aku abnormal dan aku…aku.. aku mencintai muridku sebagai praktik ke abnormalanku? Ini gila! Kurasa aku perlu ke psikiater. Tapi heechul hyung malah tertawa dan menyuruhku untuk mengatakan perasaanku pada kibum. Bagaimana mungkin?

16 Juli

Ini hari terbaik yang kumiliki, dia.. dia… HYAAAA…. Dia mencium bibirku saat bel pulang sekolah di gudang belakang. Jantungku jadi tak nyaman seperti ini. Sepertinya aku harus mengakui aku mencintainya. Otosa, aku berdosa padamu tapi sungguh aku mencintai kibum. Siswa sekaligus namja. Aku sungguh tak bisa bergerak seolah aku kehilagan tenaga yang selama ini kulatih saat bersamanya. Dia membuatku tak berdaya.

21 Juli

Jreng… jreng…. Apa-apaan gayanya itu? Dia bisa begitu cepat mengakrabkan diri dengan Yesung hyung. Tapi aku tak suka cara Heechul hyung menatapnya. Sejujurnya aku cemburu saat kibum dan chullie hyung berpandangan, mereka seolah sangat cocok. Yesung hyung hanya tertawa saat aku menjerit di depan wajahnya kalau aku itu normal. Untuk apa dia pulang ke Seoul hanya demi melihat seorang kibum yang tak penting?

8 Agustus

Kibum sepertinya marah besar dengan keberadaan Donghae dirumah ini. Aku hanya kasihan dengan namja malang ini. Dia sama sepertiku dan Yesung hyung dulunya. Kami tak punya apa-apa dan penuh dengan fitnahan. Kami lemah dan tubuh kami penuh luka. Apa salahnya jika aku mengadopsinya? Dia terlihat sangat menderita.

15 Agustus

Aku tak menyangka donghae mmm… maksudku lee donghae, adik yang baru saja kuadopsi ini menyuruhku untuk jujur dengan perasaanku. Dia juga memintaku untuk menjadikannya sebagai pembunuh. Cukup sudah kibum yang membuatku pusing dengan keluarga super kaya dan protektif nya itu. Tapi berkat hae aku sadar, aku sungguh membutuhkan kibum dan aku mencintai namja kecil itu.

24 Agustus

Tebak… kibum memberikan aku sebuah kemeja pink yang cantik. Aku suka… dia namjachingu yang sangat perhatian, Cuma saja aku tak bisa menahan emosiku saat dia dekat dengan orang lain selain aku. Aku hanya merasa tenang jika dia bersama snow pink, jadi kuputuskan untuk memasukkannya ke tim, hanya saja aku tak mengizinkannya untuk berurusan dengan kekerasan. Umph.. dia harus ke Amerika dan belajar pengobatan di sana. Aku harus bersedia kehilangan namjachingu tampanku hanya untuk sementara waktu ini.

12 Desember

Yee… dia pulang! Hoooreee…. Tapi.. tunggu! Siapa namja yang bersamanya itu? Cho Kyuhyun? Apa dia namja yang baik? Kurasa begitu karena dia terlihat sama dengan kibum. Sama-sama pendiam dan kurasa mereka seperti sepasang es di kutub selatan saking dinginnya. Seperti hari ini.. ckckckckcck… dingin!

1 Januari

Untunglah dia ingat ulang tahunku, kalau tidak aku akan sangat marah. Lihat saja kibum, sudah cukup aku melihat mu bersama namja cantik itu. Kau bilang apa? Tak sengaja? Dan semuanya salahku karena aku tak bisa menghangatkanmu? Yang benar saja? Kau masih anak kecil dan berani sekali kau meminta hal yang aneh-aneh padaku! Kau mau mati?

Siwon dengan cepat membalik diari itu. Hingga mungkin terlewatkan setahun lebih.

18 Juni

Tidak terasa ya bummie… sudah kelas 3. Kau bertambah dewasa setidaknya. Hari ini kau memutuskan untuk ikut lagi bersama Yesung hyung. Kau hobi sekali meninggalkanku. Tapi tak apalah.. kan demi snow pink yangkita dirikan bersama. Bukankah begitu? Aku berharap kau cepat pulang. Karena belum lama kau pergi, rasanya aku sangat merindukanmu.

12 Juli

Aku sesungguhnya tak ingin menulis ini, tapi aku tak bisa memedamnya. Aku sudah melakukan hal yang tak seharusnya kulakukan. Aku… ya ampun… air mataku tumpah. Aku memang babo, bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal itu pada kyuhyun? Dia sahabatnya kibum dan… aku bahkan tak pernah membiarkan kibum menyentuhku dan kini aku sudah kotor oleh orang lain. Kenapa aku harus terluka malam tadi. Seharusnya.. itu tak terjadi.

17 Juli

Aku memberanikan diri untuk bertanya pada nya apakah dia mencintaiku. Dia menjawabku dengan tegas dan senyuman manisnya itu. "Nee" dengan sangat singkat. Kemudian apa dia tak masalah dengan semua orang yang menentang hubungan kami? Orang tuanya, semua orang di sekolah dan keadaan bahkan sahabatnya sendiri. Dia hanya mengatakan "aku tak peduli" apa itu benar? Apa kau bisa memaafkanku yang sudah berbuat dosa ini?

19 Agustus

Tuhan… apa benar yang kudengar ini? Kyu.. dia sakit? Dia perlu jantung? Dia juga… dia mencintai kibum? Aku tahu itu? Dia mencintai kibum dan dia menjebakku. Tapi aku tak peduli soal itu, bukankah kibum akan sangat bersedih jika tahu kyu sakit. Dia juga akan marah padaku tentang apa yang sudah terjadi. Kyu memang menyembunyikannya dari kibum tapi aku tahu cepat atau lambat kibum akan tahu tentang peristiwa malam itu.

21 Agustus

Kibummie… aku sungguh mencintaimu, sungguh dan selamanya pasti begitu. Mungkin jika aku boleh berharap aku ingin kau lah yang membunuhku untuk membalas betapa sakit hatinya dirimu padaku. Jantung ini… mungkin tak pantas ku miliki. Aku sudah putuskan untuk memberikannya pada sahabatmu yang mencintaimu itu. Kuharap kau dapat hidup dengan baik setelah ini. Aku harap keajaiban juga bisa membuat snow pink tetap hidup dan menyelesaikan semua misi kita hingga akhir. Saranghae kibummie… hiduplah dengan baik. Cintailah orang yang lebih baik dariku setelah suara jantung ini dimiliki oleh kyu… hah.. kuharap kau membaca diary ini. Kuharap kau tahu betapa aku mencintaimu.

Siwon tergugah melihat tulisan di hari terakhir dalam diary itu. Tinta pena hitam yang di gunakan untuk menulis diary itu terlihat kembang terkena air. Siwon merasa ia tahu bahwa itu adalah air mata dari seorang lee sungmin. Siwon mengalihkan pandangannya pada kibum, dilihatnya butiran bening hangat mengalir pelan dari pelupuk mata yang tertutup sejak tiga tahun yang lalu. Siwon menyeka air mata itu. "Sungmin sangat mencintaimu bummie, sadarlah dan laksanakan tanggung jawab terakhirmu untuknya!"

TBC

Chap 9 selesai…

Tolong reviewnya ya! Selanjutnya chap terakhir ya? Hehehehhehehehe… ayoo review yang banyak biar cepat publisnya! Bwahahahahaha…