Fake Love
.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang pemuda tengah memacu mobilnya dengan cepat. Seakan ia tengah dikejar oleh sesuatu. Pemuda berkaca mata hitam itu kembali melirik ke arah jam tangan mewah yang melingkar pada tangan kirinya.
"AH! Sial!" umpatnya begitu tiba-tiba saja mobil di depannya tengah berhenti akibat lampu lalu lintas yang semula berwarna hijau mendadak berubah menjadi merah.
Pemuda tersebut hanya memukul stirnya hanya bisa berharap semoga ia tidak terlambat.
Sementara itu setelah beberapa saat bel sekolah pun beberbunyi. Sang guru yang tadi sibuk menjelaskan materi membubarkan kelas hari ini. Para siswa dan siswi di kelas mulau merapikan barang-barang mereka begitu lalu keluar dari ruangan kelas. Begitu juga dengan Jungkook yang sudah siap untuk kabur hari ini. Tidak—ia tidak ingin bertemu pemuda itu lagi sementara waktu. Selama pemuda itu masih bertingkah seperti itu Jungkook tak mau menemuinya.
Dengan cepat Jungkook segera melangkahkan kakinya melawati setiap lorong koridor sekolah lalu menuruni anak tangga. Namun pada saat dirinya tiba di anak tangga terakhir. Pemuda itu telah menunggu dirinya. Bahkan salah satu tanganya meraih tangan Jungkook dan mengandengnya berjalan bersamanya.
"Ji-oppa lepaskan aku! Aku tak ingin ikut denganmu!" ujar Jungkook kepada pemuda yang hari ini mengenakan kemeja flannel kotak-kotaknya.
Pria yang menarik tangannya tersebut kini menoleh ke arah Jungkook lalu tersenyum manis.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kita selesai bicara"
Mengabaikan Jungkook yang terus menolak pemuda yang bernama park Jimin tersebut menyeret sang gadis masuk ke dalam Audi A8 hitam miliknya.
Hening dan sunyi adalah kata yang tepat untuk melukiskan bagaimana kondisi di dalam mobil mewah tersebut. Pemuda berkemeja kotak-kota merah tersebut menarik nafas dalam-dalam sebelum tangannya kembali mengenggam kedua tangan gadis yang ada dihadapannya.
"Jeon Jungkook kumohon jangan abaikan aku" kedua mata sipitnya kini tengah menatap dalam-dalam kedua mata boneka sang gadis. Namun Jungkook kembali memilih diam. Tak membalas perkataan pemuda yang sejak tadi entah sudah keberapa kalinya memohon agar dirinya tak lagi mengabaikannya.
"Maaf oppa sampai kapanpun jika kau masih bertingkah seperti ini aku—" mendadak saja kalimat yang ingin Jungkook ungkapkan terpotong. Ketika pemuda Park tersebut secara tiba-tiba menginjak pedal kendaraannya dalam-dalam.
Mobil mewah yang semulai terpakir kini mulai melaju dengan kencang dan juga ugal-ugalan. Bahkan sukses membuat beberapa pengendara lain mengumpat karena nya.
Tangan kirinya tengah berpegangan pada sisi pintu. Sementara tangan kanannya tengah menyentuh lengan kiri sang pemuda, berusaha untuk menenangkan emosi sang pemuda.
Park Jimin memang sudah gila. Bahkan ditengah kepadatan kota sore ini ia masih nekat memacu kendaraannya diatas rata-rata. Membuat Jungkook hampir mati jantungan karena jarak maut dan mereka berdua hanyalah tinggal selangkah saja.
"Oppa kumohon kau tenang dulu, pelankan mobilmu" ucap Jungkook dengan nada lembutnya berharap agar Jimin menurunkan kecepatan laju kendaraannya.
Jimin hanya terdiam sejenak sebelum ia menjawab.
"Kurasa lebih baik kita mati bersama saja indah bukan seperti kisah romeo and juliette"
Jungkook hanya terdiam membuka kedua matanya dengan lebar dan menatap tak percaya kepada mantan kekasih yang kini telah menjadi milik sang kakak. Tidak — Jungkook tak ingin mati muda. Ia masih ingin hidup, bersenang-senang, membuat sim dan juga merasakan duduk bangku kuliah. Lagipula ia tak ingin menyakiti hati sang kakak yang akan langsung kehilangan kedua orang yang paling ia cintai secara bersamaan.
Menghela nafas sejenak dan mencoba berfikir jernih.
"Baiklah oppa aku tidak akan mengabaikanmu lagi, soal hubungan akan kita diskusikan nanti"
Namun sang pemuda Park tetap saja tidak berhenti dan tetap melajukan mobil mewahnya di atas rata-rata.
"Aku hanya memberimu dua pilihan terima cintaku atau kita mati bersama"
Park Jimin yang berusia empat tahun darinya kini terdengar seperti seorang anak smp yang mengancam akan bunuh diri hanya karena cintanya ditolak. Pemaksa—entah sejak kapan sifat malaikatnya itu berubah seperti sekarang. Hanya cinta dan takut kehilangan saja yang dapat membuat seseorang kehilangan akal sehatnya.
"Baik—oppa aku tidak akan mengabaikanmu dan menerima cintamu" ucapan Jungkook seketika membuat pemuda Park yang tadinya tersulut emosi menoleh ke arahnya. Tersenyum manis layaknya seorang malaikat penolong seperti sedia kala. Padahal sebelumnya hampir saja ia menjadi sosok malaikat pencambut nyawa.
Dengan perlahan tapi pasti Jimin mulai mentralkan laju mobilnya. Sehingga kini mobil tersebut berada di dalam batas kecepatan aman layaknya mobil-mobil disampingnya.
"Oppa kita sekarang ada dimana?" tanya Jungkook yang bingung karena pemuda Park itu tidak mengantarnya pulang. Melainkan membawanya ke suatu tempat.
"Kau akan tahu nanti" ujar Jimin yang tiba-tiba saja mengelus surai Jungkook. Membuat dirinya kembali bernostalgia.
Setelah beberapa saat tibalah audi A8 tersebut disebuah lokasi. Yah—Jungkook mengenal jelas ini. Namsan Tower merupakan tempat pertama kalinya mereka berkencan beberapa tahun yang lalu.
Keduanya kini melangkah turun dari mobil. Jungkook yang sudah berjalan terlebih dahulu tiba-tiba saja merasakan sesorang menautkan jarinya pada jemari lentiknya. Dengan bergandengan tangan kini keduanya berjalan menyusuri tempat tersebut.
Untuk tiba di lokasi Namsan Tower mereka terlebih dahulu harus menaiki sebuah gondola. Keduanya kini tengah berada di dalam gondola, menikmati pemandangan sore sebagian kota Seoul yang tampak dari atas sana.
Langit senja yang berwarna Jingga. Sementara matahari kini mulai beranjak pergi dengan perlahan. Membuat Jungkook kembali merasakan rindu akan memorinya bersama sang pemuda Park beberapa tahun silam.
Setelah beberapa saat tibalah mereka diatas sana. Jungkook yang baru saja tiba segera beranjak pergi ke arah pagar pembatas untuk sekedar menikmati kencangnya hembusan angin yang meniup kulit serta surainya. Melupakan Jimin untuk sesaat. Namun tiba-tiba saja Jungkook merasakan sebuah tangan kekar tengah melingkar pada pinggang kecilnya. Wangi citrus menusuk indra penciumannya.
"Ji-oppa bisakah kau singkirkan tangamu? Aku benar-benar tak nyaman—bagaimana jika ada orang yang melihat kita"
Kepala Jimin yang semula berada tepat dibelakangnya kini telah berpindah pada pundaknya.
"Orang-orang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Lagipula ini adalah hal wajar kau kan adik iparku sekarang"
Pemuda itu berucap dengan santai tanpa beban sama sekali. Sementara Jungkook kini sudah tidak memiliki alasan untuk menghindar dari kontak fisik dengan sang pemuda. Jika terus begini ia tidak yakin dapat mengendalikan perasaanya.
Beberapa saat kemudian tangan yang melingkar pada pinggang Jungkook terlepas. Membuat Jungkook mendadak merasa kehilangan akan kehangatan tubuh sang pemuda.
"Sebentar lagi hari akan gelap, sebelum pulang aku ingin kesuatu tempat" ujar sang pemuda bermata bulan sabit yang kini menarik tangan Jungkook entah kemana.
Beberapa ratus langkah mereka berjalan tibalah mereka di favorite spot objek wisata ini. Tempat dimana pagar-pagar dihiasi dengan banyak sekali gembok berwarna-warni.
"Kau masih ingat tidak beberapa tahun yang lalu kita pernah menggantungkan love lock milik kita"
Tentu saja Jungkook masih mengingat jelas. Hal itu adalah idenya, ia ingin agar Jimin menjadi satu-satunya cinta yang hadir di dalam hidupnya.
Tiba-tiba saja Jimin mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Yaitu sebuah gembok berwarna pink. Jungkook dapat membaca dengan jelas tulisan yang tertera pada gembok tersebut. Kedua matanya membulat sementara kemudian dahinya mengernyit keheranan.
"PJM Love JJK" ucapnya sembari menatap pemuda ke arah pemuda yang ada di depannya. Pemuda tersebut pun tersenyum kedua matanya semakin menghilang membentuk bulan sabit.
"Ya aku masih mencintaimu Jungkook, bahkan aku sangat mencintaimu"
Jungkook hanya terdiam dan tertunduk—tak tahu akan apa yang hendak ia katakan. Jika boleh jujur perasaan dan rasa sayangnya kepada pemuda sipit itu semakin besar saja. Walaupun ia tahu jika ini adalah hal yang salah.
Seketika Jungkook merasakan tangan Jimin mengusap kepalanya.
"Jangan melamun terus. Daripada kau melamun lebih baik jika kita bersama-sama memasang gembok ini"
Jungkook pun tersadar lalu bersama dengan Jimin keduanya memasang lovelock berwarna pink tersebut. Berharap jika cinta memang akan bisa bersatu suatu saat nanti.
Setelah acara berkencan mereka selesai keduanya kembali berada di dalam mobil. Jimin sedari tadi hanya menatap gadis yang berada disampingnya terdiam seribu bahasa.
"Kau kenapa kookie?" tanya Jimin yang kini tengah menepikan mobilnya hanya untuk berbicara dengan Jungkook.
"Aku—jika begini terus aku tidak bisa… memendam dan menahan seluruh perasaanku lagi padamu" Mendadak saja airmata Jungkook terjatuh membasahi pipi gembilnya. Sementara Jimin kini mulai memeluk tubuh Jungkook berusaha untuk menenangkannya.
"Jadi kumohon lepaskan aku, aku tidak ingin menja…" Ucapan Jungkook tiba-tiba saja terpotong karena Park Jimin membungkam Jungkook dengan bibir miliknya.
"Kookie kau bukan lah perusak hubunganku dengan Yoongi. Kau juga bukanlah orang ketiga. Kau itu adalah orang nomor satu dihidupku. Kau mau tahu alasan mengapa tiba-tiba aku bertunangan dengan eonnie mu." Jari jempol milik Jimin kini menghapus sisa airmata yang masih tertinggal pada pipi gembil sang gadis. Kemudian pemuda itu menghela nafas sebentar sebelum kembali menceritakan alasannya.
"Sebagai cucu pertama keluarga Park, aku harus menuruti keinginan harabeoji dan juga keluarga ku agar aku tetap menjadi perwaris keluarga Park. Jika waktu itu aku tidak menurut maka semua fasilitasku pasti akan dicabut dan kemungkinan besar aku tidak akan menjadi perwaris utama keluarga Park. Jadi mau tidak mau aku harus menikah dengan eonnie mu"
"Kau tahu Kookie jika manusia tidak bisa hanya hidup dari cinta saja. Maka dari itu waktu itu aku terpaksa tiba-tiba memutuskan hubungan kita tanpa penjelasan. Kumohon Kookie maafkan aku dan aku berjanji jika aku sudah menjadi perwaris keluarga Park maka aku akan kembali padamu dan menikah denganmu apapun yang terjadi"
Jungkook masih saja terdiam tak mengucapkan satu patah kata pun. Namun Jimin dapat melihat dari manik onyx nya jika gadis itu hendak kembali meneteskan airmata.
"Kookie jawab aku, kumohon" tangan Jimin kini sudah terulur mengenggam jemari lentik Jungkook. Berharap gadis itu akan segera membalas ucapannya.
"Ya aku memaafkanmu"jawab Jungkook dengan pelan nyaris tak terdengar. Dengan segera pemuda yang berada disampingnya memeluk erat tubuh rampingnya.
"Terima kasih karena kau telah memberikan aku kesempatan kedua"
Saat ini Jimin tersenyum senang karena baru saja Jungkook telah memberikan kepastian jika ia menerima cintanya. Namun berbeda halnya dengan Jungkook, ia memaksakan senyumnya. Jujur saja hatinya merasa bersalah dengan sang eonnie. Namun rasa cintanya pada Jimin juga terlampau besar sehingga ia harus terjebak di dalamnya.
…
Saat ini Yoongi yang tengah mengandung tiga bulan menghubungi suaminya. Meminta Jimin untuk menemaninya ke dokter kandungan. Namun sayang seperti biasa sang suami tampaknya terlampau sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga wanita muda itu sepertinya harus pergi sendirian ke dokter kandungan.
Sementara itu ditempat lain seorang pemuda tengah bergegas, berjalan dengan cepat menuju ke arah lift. Sembari menatap ke arah arloji yang melingkar pada tangan kirinya. Tidak lama setelah itu tiba lah pemuda tersebut di basement. Dengan segera ia berjalan menuju ke arah porsche kuning miliknya. Kemudian memacu mobil sport tersebut meninggalkan area basement.
Beruntung, tampaknya hari ini dewi Fortuna tengah berada dipihak Jimin. Biasanya dari kantornya menuju ke tempat sekarang ia berada akan memakan waktu kira-kira 30-45 menit lamanya. Namun hari ini karena jalan sedikit lenggang ia dapat tiba hanya dalam waktu 20 menit saja.
Jimin menatap arlojinya sebentar, sudah jam 3 sekarang. Tidak lama setelah itu banyak siswa dan siswi yang keluar dari gedung sekolah tersebut. Jimin kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Yeoboseyo, apa kau sudah keluar sekarang"
"…."
"Ah—baik-baik, hari ini aku menggunakan porsche kuningku"
Setelah itu Jimin menutup panggilannya. Kemudian memilih menghabiskan waktunya dengan bermain game pada smartphones nya sembari menunggu.
Tidak lama setelah itu seseorang menginterupsi dirinya dengan ketukan pada kaca mobilnya. Jimin pun menoleh kemudian membuka pintu mobilnya. Lalu orang itupun masuk.
"Tidak biasanya kau tidak terlambat oppa" ucap gadis itu dengan penenkanan pada kata terlambat.
"Ah—tadi jalanan lenggang, sepertinya mereka tahu jika aku akan menjemput tuan puteriku" ujar Jimin sembari terkekeh. Sementara Jungkook hanya memutar bola matanya malas karena sikap gombal Jimin telah kembali.
Namun mereka tidak menyadari sesuatu sejak tadi. Jika ada seorang wanita muda yang tengah menatap mobil kuning itu sejak daritadi. Dengan tatapan bingung, terkejut dan juga heran.
Kemudian mobil porsche kuning tersebut melaju meninggalkan area parkiran sekolah. Disusul dengan sebuah porsche berwarna hitam.
Setelah beberapa saat perjalanan tibalah pasangan tersebut di COEX MALL yang terletak di daerah Gangnam. Saat ini keduanya tengah berada di dalamsalah satu butik high-end.
"Kau lebih suka yang mana? Yang warna hitam atau warna coklat?" tanya Jimin yang kini tengan menunjuk dua buah sling bag yang dipajang di estalase.
"Tentu saja hitam oppa" Jungkook memang adalah seorang gadis yang simple dan pecinta warna monochrome sama seperti sang eonnie.
"Noona aku ingin tas yang ini"
Tidak lama setelah itu salah seorang pelayan toko mengambil tas itu lalu kemudian membungkusnya. Setelah itu Jimin pun membayar barang yang ia beli dengan menggunakan black card miliknya.
Kedua pasangan berbeda jenis kelamin tersebut kemudian berjalan meninggalkan toko tersebut.
Drttt… Drttt…
Ponsel milik Jungkook tiba-tiba saja bergetar, membuat sang pemilik ponsel mengangkat panggilan tersebut.
"Yeoboseyo, eonnie ada apa?"
"Kookie sekarang kau dimana? Bisakah kau menemani eonnie pergi ke dokter kandungan sekarang"
"Mian eonnie aku tidak bisa. Aku saat ini sedang jalan-jalan bersama bam-bam"
"Baik tak apa"
Panggilan tersebut mendadak terputus.
"Tumben sekali Yoongi menghubungi mu?" tanya Jimin penasaran.
"Tadi ia minta ditemani ke dokter kandungan"
"Ah ayo setelah ini kita ke toko ice cream setelah itu kita pulang" Tangan Jimin kini tengah merangkul pinggang sempit Jungkook.
…
Pada pagi hari ini seorang wanita muda tengah menikmati secangkir susu hangat ditemani dengan beberapa potong strawberry chessecake. Tiba-tiba saja salah seorang maid datang menghampiri nona mudanyaz
"Permisi nona ini ada surat untuk anda" ujar sang maid sembari meletakan sebuah amplop berwarna coklat pada atas meja.
"Baiklah kau boleh pergi sekarang" ucap Yoongi yang kini sudah meletakan cangkir di atas meja mahogany tersebut. Kemudian meraih amplop coklat tersebut.
Ia hanya bisa tersenyum miris begitu melihat isi dari amplop tersebut. Beberapa lembar foto bukti jika sang suami dan dongsaeng kesayangannya mempunyai hubungan lebih daripada kakak dan adik ipar. Bahkan tanpa disadari bulir kristal bening telah jatuh membasahi pipinya.
Kemudian wanita berkulit pucat tersebut meraih ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.
Sementara itu pagi ini seorang pemuda yang tengah mengeringkan rambutnya tergejolak kaget. Apakah saat ini ia sedang bermimpi, mengapa tiba-tiba wanita yang dulu dan mungkin masih ia cintai sampai saat ini tiba-tiba saja mengajaknya untuk bertemu. Di sebuah café tempat mereka bertemu biasanya.
Dengan terburu Taehyung mengeringkan surai coklatnya. Kemudian mengenakan pakaiannya. Lalu segera berangkat menuju tempat tersebut.
Tak butuh waktu lama hanya dalam waktu 20 menit ia pun tiba di sebuah café yang terletak tidak jauh dari sekolahnya dulu. Begitu ia masyk ke dalam café tersebut ia dapat melihat sesosok gadis bersurai hitam sebahu dengan dibalut sebuah dress berwarna cream. Kemudian sang pemuda berjalan menghampiri sang gadis dan duduk tepat dihadapannya.
Jika biasanya Taehyung lah yang selalu mencari dan mengejar gadis itu. Berbeda dengan hari ini, tiba-tiba saja gadis itu mengajak Taehyung bertemu. Namun sejak tadi ia datang dan duduk ia dapat merasakan jika ada aura berbeda yang menguar dari sang gadis. Min Yoongi gadis yang terkenal karena sifatnya yang swag and cool mendadak saja berubah menjadi mellow bagai cinderella.
Taehyung kini menatap sahabatnya yang tengah terisak dalam diam.
"Ceritakan semuanya pada ku" ucapnya sembari menatap tulus seakan siap untuk menjadi sandaran dan tempat mengeluh sang sahabat. Tangan Yoongi yang semula diam kini menyerahkan sebuah amplop coklat. Tanpa rasa curiga sama sekali Taehyung kemudian membuka amplop tersebut.
Namun hazel elangnya seketika saja membola begitu melihat foto-foto tersebut. Ia melihat sepupunya dan juga sang tunangan tengah berkencan dengan mesra di salah satu pusat perbelanjaan. Tidak hanya itu foto-foto yang berjumlah hampir 10 lembar tersebut menunjukan jika mereka berdua tidak hanya berkencan sekali saja. Berkali-kali ada moment keduanya tengah dinner di salah satu restaurants bintang lima. Ada juga moment ketika keduanya tengah berciuman di dalam mobil. Bahkan ketika difoto terakhir keduannya tertangkap kamera memasuki salah satu hotel bintang lima di daerah Gangnam.
Tangan Taehyung kini terkepal meremas foto-foto yang berada ditangannya. Kemudian ia berpindah tempat tepat ke sebelah Yoongi dan memeluk sang sahabat.
"Aku bahkan sudah tidak tahu ini sudah ke berapa kalinya ia berbohong. Ia bilang jika seminggu ini ia akan berada di luar kota. Tapi kenyataaanya kemarin malam ia malah bersama dongsaengku menginap di hotel" ujar Yoongi pelan dalam isaknya. Membuat darah Taehyung semakin naik dan hatinya juga semakin panas.
…
Sementara itu di sebuah hotel sore ini seorang gadis tengah berbaring sembari memainkan smartphone miliknya. Menunggu kehadiran sang kekasih yang telah kembali menjalin hubungan dengannya 1 bulan terakhir ini.
Tidak lama setelah itu pintu kamar hotel tersebut pun terbuka. Menampilkan sesosok pemuda bersurai pirang berjalan masuk dan mendekat, lalu duduk tepat di tepi ranjang. Jungkook yang tadinya berbaring pun bangkit duduk lalu memeluk tubuh pemuda itu.
"Aku merindukan kookie-ku. Mana poppo untuk ku?" tanya Jimin sembari meletakan telunjuknya pada bibirnya.
"Oppa berhentilah menggodaku" ujar Jungkook yang kini telah mendorong Jimin, sehingga pemuda itu jatuh terlentang di atas ranjang. Namun Jimin seolah tak kehabisan akal, ia menarik tangan Jungkook. Membuat sang gadis berada tepat diatasnya. Secara tiba-tiba membalik posisi mereka. Sehingga gadis Jeon itu kini berada di dalam kungkungannya. Jarak dianatara pemuda dan gadis itu semakin menipis. Dan kini keduanya saling bercumbu panas di atas ranjang.
Setelah beberapa saat pemuda itu mengendong tubuh sang gadis. Membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Keduanya menanggalkan setiap helai pekaian mereka. Lalu berendam air hangat bersama di dalam satu bathub. Bahkan saat ini Jungkook tengah duduk diatas pangkuan Jimin. Tangan pemuda itu melingkar memeluk pinggang sempit sang gadis. Bahkan tak jarang keduanya saling bercanda kemudian tertawa bersama.
Ting! Tong!
Kegiatan intim keduanya terganggu akibat suara bel kamar hotel yang tiba-tiba saja berbunyi.
"Mungkin itu wine yang kupesan. Tunggu sebentar ya kookie" ucap Jimin yang bangkit berdiri. Kemudian ia meraih bathrobe untuk menutupi tubuhnya. Tak lupa bibir pemuda tersebut mengecup pucuk kepala sang gadis yang masih berendam di dalam bathub.
"Jangan lama-lama" ucap Jungkook dengan pelan dan juga malu-malu. Membuat Jimin semakin gemas dengan gadis bergigi kelinci itu.
Park Jimin kemudian melangkah keluar dari kamar mamdi menunju ambang pintu kamar hotel. Tanpa melihat ke arah door peep hole terlebih dahulu.
Begitu membuka pintu tersebut Jimin hanya bisa menganga tak percaya dengan baru saja apa yang ia lihat.
"Bukannya kata mu kau ada urusan di Busan" ucap seorang wanita berkulit pucat dengan nada penuh pekanakan.
"Ah itu…"
BUGH!
BUGH!
Belum sempat Jimin berbicara seorang pemuda yang berdiri tepat di sebalah memukul telak rahang kiri Jimin. Membuatnya jatuh tersungkur ke atas karpet kamar hotel tersebut.
"BAJINGAN! SIALAN! Beraninnya kau menyakiti istrimu sendiri!" ucap Taehyung yang kini sudah berada di atas Jimin dan kembali menghajar wajah sepupunya tanpa ampun.
"Tae—tae sudah kumohon hentikan!" teriak Yoongi yang kini tak tega melihat sang suami di hajar habis-habisan oleh Taehyung.
"Jika bukan karena permintaan Yoongi. Mungkin kau sudah mati di tanganku"
Taehyung kini kembali bangkit berdiri. Namun sebelumnya ia tak lupa meludah tepat ke arah wajah sang pemuda Park.
Jungkook yang berada di dalam kamar mandi hanya bisa menutup mulutnya sedari tadi. Terkejut, takut, panik, dan khawatir semuanya kini menjadi satu.
BRUK!
Suara pintu yang dibanting dengan keras terdengar. Membuat sosok gadis Jeon tersentak kaget. Tidak lama setelah itu seorang pemuda yang akhir-akhir ini tak terlihat sosoknya kembali muncul. Dengan tatapan marah dan tajamnya, yang jauh lebih menyeramkan dari biasanya.
"Tak ku sangka ternyata kau semurahan ini" ucapnya dengan dingin, lalu dengan kasar ia menarik tangan Jungkook keluar dari kamar mandi. Jungkook sebisa mungkin menahan dirinya, karena saat ini ia tidak siap untuk bertatap muka langsung dengan sang eonnie. Namun tenaga Taehyung sebagai seorang laki-laki tentu jauh lebih kuat dari sang gadis. Sehingga akhirnya sosok pemuda dan gadis itu keluar dari dalam kamar mandi.
Jungkook hanya menundukan kepalanya ke bawah sama sekali tidak berani menatap ke arah sang eonnie.
Yoongi yang tadinya sedang mengompres luka Jimin tiba-tiba saja berjalan mendekat ke arah sang adik.
PLAK!
Sebuah tamparan keras menadarat di pipi Jungkook. Jungkook tidak menangis ataupun marah karena ia merasa dirinya pantas mendapatkan tamparan tersebut.
"Kau benar-benar adik brengsek! Kuharap kau tidak pernah lahir ke dunia!" ucap Yoongi yang kemudian memalingkan muka dan berjalan menjauh dari sang adik.
Selama seumur hidupnya baru pertama kalinya Yoongi mengatakan tersebut. Pertanda jika saat ini ia benar-benar telah di kecewakan oleh sang adik.
Taehyung yang menjadi saksi drama pertengkaran kakak beradik Jeon barusan. Menarik dengan kasar tangan si bungsu keluar dari kamar hotel tersebut. Tanpa peduli jika si bungsu Jeon hanya berbalut bathrobe saja, bahkan ia tengah berjalan tanpa alas kaki.
.
.
.
TBC
.
.
.
