"The Tales Of New Ninja"

Disclaimer : Masashi Kishimoto©Naruto

Genre : Adventure

Rating : T

Warning : Typo-/Miss Typo, OOC, Alur terlalu cepat/kurang jelas,Strong!Naru,GodLike!Naru,Alive!MinaKushi,Gray!Naru, dll.

=ENJOY=

Sebelumnya : Setelah semua pergi, Genma berdehem. "Ehm, baiklah. Kedua peserta siap?"

Neji mengangguk, begitupula Menma.

"Kalau begitu…

HAJIME!"

"Chunin Exam Part 4"

"YEAHH! WHOAAA!" sorakan para penonton yang bergemuruh mengawali pertarungan antara Menma melawan Neji.

Neji melihat kearah penonton. Kemudian tatapannya berhenti di kursi tempat Kage menonton. Disana sudah ada Yondaime Hokage dan Yondaime Kazekage. 'Aku harus menunjukan kemampuan klan Hyuuga,'

"Hei Neji! Kau ingin bertarung atau hanya melihat- lihat?!" ucap Menma.

"Heh, kau jangan sombong hanya karena kau anak Hokage. Takdir sudah memutuskan bahwa akulah yang akan memenangkan pertarungan ini!" balas Neji.

"Takdir? Apa maksudmu kau takut sehingga berlindung dibawah takdir?" ejek Menma lagi.

Neji merasa geram. Ia segera mengaktifkan doujutsu khas klannya kemudian merengsek maju.

Melihat itu Menma mempersiapkan diri. Menyilangkan jarinya didepan wajah, dia membuat dua buah bunshin kemudian maju bersamaan.

"Heh, apa kau takut Menma?" ledek Neji.

Tepat didepan salah satu bunshin Menma, Neji memutar tubuhnya kemudian melayangkan telapak tangannya kearah bunshin tersebut.

Boftt!

Bunshin pertama menghilang. Dengan byakugannya, ia kembali melihat sekitar.

Bunshin kedua Menma segera melayangkan tinjunya ke wajah Neji.

Takk!

Serangan itu berhasil dipatahkan oleh Neji dengan menangkap tangan bunshin itu. "Jangan hanya menggunakan bunshin Menma! Majulah jika kau memang kuat!" ucap Neji kemudian memutar tubuhnya kemudian menendang bunshin itu hingga menghilang lagi.

Boftt!

Menma melihat pertarungan Neji dengan bunshinnya. Ia memperkirakan Neji adalah penyerang jarak dekat. "Dia unggul di taijutsu dan penglihatan matanya," teliti Menma.

"Ada apa Menma? Kau sudah menyerah pada takdir?" ucap Neji arogan.

"Menyerah? Apa kau sudah mendengarnya sendiri dari mulutku?" Menma segera merangkai segel tangan kemudian menarik napasnya dalam.

Fuuton : Daittopa!

Whussh!

Hembusan angin kuat segera melaju dan mengarah ke tempat Neji sekarang berdiri. Dengan cepat, Neji segera bersalto kesamping beberapa kali untuk menghindari serangan tersebut.

Melihat kesempatan itu, Menma segera melesat kae arah Neji dengan bantuan Chakranya dan kemudian ia sudah berada di samping Neji.

Namun sayang penglihatan 360 derajat byakugan tidak bisa diremehkan.

Ketika Menma akan melayangkan tinjunya kearah musuhnya itu, Neji segera merunduk sehingga pukulan Menma hanya mengenai ruang kosong.

Juken!

Neji segera mendaratkan pukulannya diperut Menma dengan cukup cepat sehingga ia tidak bisa menghindar.

Brakk!

"Arghh!"Menma terpental sejauh lima meter akibat pukulan Neji barusan.

"Dasar bodoh," ejek Naruto. Para peserta lain termasuk Sasuke melirik Naruto sejenak.

Sedangkan yang ditatap hanya melipat tangannya di depan dada. "Jika aku melawan Hyuuga itu, akan kuserang dari jarak jauh terus menerus."

Sasuke mengagguk mengerti. Sedangkan peserta lain masih menatap Naruto dengan berbagai macam pertanyaan dikepala mereka.

'Siapa dia itu? Sejak awal tidak menggunakan ikat kepala dari desa manapun.' pikir mereka.

"Ughh," ringis Menma sambil memegang perutnya.

"Sudahlah Menma! Lebih baik kau menyerah!"

"Cihh, dia itu!" gumam Menma.

Melihat Menma perlahan- lahan mulai bangun, Neji segera melesat dan dalam waktu singkat berhasil sampai didepan Menma.

Saat sampai, Neji langsung melakukan serangan dengan telapak tangannya yang dialiri Chakra kembali ke perut Menma.

"Arghh!" Menma yang belum siap kembali terpental dan berputar di tanah berulang- ulang.

"Bagaimana Menma?" ejek Neji yang memasang kuda- kudanya.

Pandangan Menma perlahan- lahan mengabur karena rasa sakit. "Perutku sakit sekali, ughhh"

"Ada apa dengan anakmu Yondaime-sama?" tanya Sabaku Rasa melihat Menma berulang kali terkena serangan dari Neji.

Minato sedikit merenung. "Mungkin dia terlalu meremehkan musuhnya. Padahal aku sudah berusaha mengingatkannya untuk tidak melakukan itu,"

'Dia berbeda sekali dengan Naruto,' batin sang Yondaime Kazekage.

Menma ingin menyerah sebenarnya. Namun, tekadnya sudah bulat untuk menjadi Chunin. "Aku tidak boleh kalah disini,"

Iapun segera bangun, melupakan rasa sakit yang sedang melanda dirinya.

"Ohh, rupanya kau masih sanggup. Tapi percuma saja karena takdir sudah memutuskan," Neji kemudian menyiapkan kembali kuda- kudanya.

Kemudian Menma mengambil beberapa langkah kebelakang dan kembali membuat dua bunshin.

"Apa kau hanya bisa membuat bunshin hah?! Menma?!" ejek Neji lagi dan lagi.

Kemudian salah satu bunshin mengumpulkan pusaran chakra di tangan kanan Menma yang lama- kelamaan menjadi padat berbentuk bola.

"Itukan," gumam Kakashi tidak percaya. Ternyata Sakura dan yang lainnya juga mendengar gumaman Kakashi.

"Memang kenapa sensei?" tanya mereka hampir bersamaan.

"Jutsu yang digunakan Menma adalah jutsu yang hanya dikuasai oleh Yondaime Hokage-sama dan Jiraya-sama," jelas Kakashi.

"Maksud sensei Jiraya salah satu legenda sannin?"

Kakashi mengangguk. Kemudian dia kembali memperhatikan muridnya itu.

Suingg!

Bunyi mendesing dari rasengan Menma terdengar jelas dari tempat Neji. 'Aku harus waspada,'

Kemudian, kedua bunshin Naruto segera melaju kearah Neji dengan menggunakan kunai.

Set! Trang!

Neji menangkis kedua serangan dari bunshin Menma dengan tangan kosong. Dengan bantuan byakugannya, Neji dapat dengan jelas membaca setiap gerakan dari kedua bunshin tersebut.

Namun secara tidak terduga, Menma sudah berada beberapa meter di depannya dengan rasengan di tangannya.

"Aku tidak akan kalah! Terima ini!"

Suingg!

"Heh. Jangan harap kau bisa menyerangku! Takdir sudah memutuskan!" Neji kemudian melebarkan kakinya sambil berputar semakin lama semakin cepat.

Hakkesho Kaiten!

Kemudian disekitar Neji terbentuk sebuah kubah Chakra berwarna biru.

Sedangkan Menma yang sudah terlanjur dekat segera menabrakan rasengannya ke kubah itu.

"Heahhhhhh!"

Suinggg! Blarr!

Ledakan pun terjadi setelah dua jutsu tersebut bertabrakan, menghasilkan kepulan debu cukup tebal.

Dan setelah debu itu menghilang, terlihatlah Neji yang terbaring dalam keadaan terlentang dengan luka pusaran di depan tubuhnya.

Sedangkan Menma berada sekitar 10 meter dari Neji dengan beberapa sobekan di bajunya, namun dalam keadaan setengah berdiri sambil bertumpu pada lututnya.

Ia segera berjalan sedikit tertatih mendekati Neji kemudian duduk di sampingnya menatap ke langit. "Kau tahu Neji. Kau memang tidak bisa mengubah takdir…" ia menatap Neji.

"…Jika tidak mau berusaha mengubahnya," lanjut Menma kemudian kembali berdiri.

Neji kemudian menutup matanya dan tersenyum.

"Pemenangnya adalah, Namikaze Menma!" ucap Genma.

Teriakan penonton yang riuh-rendah langsung memenuhi arena tersebut.

"Selamat atas kemenangan anakmu Hokage-sama!" ucap sang Kazekage melihat pertarungan yang dia rasa menarik ini.

"Arigatou Kazekage-dono," balas Minato. Ia sempat berpikir bahwa anaknya akan kalah dalam pertarungan kali ini.

"Kau boleh pergi ke tempat medis untuk mengobati lukamu," ucap Genma kepada Menma.

Menma mengangguk kemudian mengikuti para medis yang membawa Neji.

"Baiklah, sekarang kita ke pertarungan selanjutnya,"

"Aku akan menemui Menma," ucap Sasuke yang di jawab anggukan oleh Naruto. Setelah itu Sasuke segera pergi menuju tempat medis.

Setelah Sasuke pergi, Naruto kemudian pergi dari balkon itu juga.

Kemudian Temari yang melihat hal itu menegurnya. "Hei, mau kemana kau?"

Naruto menoleh. "Pertarungan selanjutnya akan membosankan, percayalah!" Kemudian ia melanjutkan jalannya.

"Yo, Sensei!" sapa Naruto. Ternyata dia pergi ke tempat senseinya berada.

"Naruto," balas Kakashi sambil tersenyum dibalik maskernya. "Ada apa kau kemari?"

Naruto mengambil posisi duduk disebelah gurunya itu. "Yah, kurasa karena pertarungan selanjutnya akan membosankan."

Naruto mengamati sekitar. Ternyata para genin dari Konoha yang menjadi teman seangkatannya semua berada disini. Sebagian melihatnya degan tatapan bingung.

"Apa ada yang salah denganku?" tanya Naruto melihat mereka menatapnya.

"Ti-tidak," balas mereka bersamaan.

"Hahh, baiklah kalau begitu," Naruto kembali mengawasi sekitar. Ia tidak boleh lupa bahwa kehadirannya disini juga untuk menjadi pengawas.

'Belum ada tanda- tanda dari ular itu,' batin Naruto.

Kemudian ia melihat ke arena. Ternyata disana Kankuro sudah terkapar karena terkena racun serangga Shino.

"Cepat juga," komentar Naruto.

"Ah pertarungan ini kurang menarik," kata Kiba. Sedangkan yang lain mengangguk.

Naruto tersenyum dalam hati. 'Sudah kuduga,'

Kemudian ketika pandangannya kembali berkeliling, ia menemukan Nagato sedang duduk di bangku paling atas sambil menatap keluar.

"Sensei, aku permisi dulu," ucap Naruto kemudian berjalan ke arah Nagato.

"Nagato-nii!" ucap Naruto kemudian duduk disamping Nagato.

"Oh, Naruto-chan." balas Nagato.

"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Naruto.

Nagato menunjuk kearah matahari. Ternyata ada pelangi yang mengelilinginya. "Perasaanku tidak enak."

Naruto kemudian terdiam. "Apakah si ular itu merencanakan sesuatu?" gumam Naruto. Kemudian ia melihat sekekliling lagi. Diberbagai sisi dari balkon penonton ternyata ada banyak ninja dengan menggunakan ikat kepala dengan lambang bunyi.

"Nagato-nii, ada yang tidak beres," bisik Naruto. Kemudian matanya memberi instruksi untuk melihat sekeliling. "Ada banyak ninja Otogakure disini."

"Sebaiknya kau beritahu senseimu. Aku akan berjaga disini." balas Nagato.

Naruto mengangguk kemudian segera berjalan kembali ke tempat Kakashi. "Sensei, aku merasakan banyak keganjilan." bisik Naruto kepada Kakashi.

Kakashi mengangguk. "Aku akan berjaga- jaga disini,"

Naruto menangguk sebagai balasan. "Di bangku paling atas, yang berambut merah itu kakak ku. Dia akan membantu jika ada sesuatu,"

"Tunggu sejak kapan kau -"

Naruto memutar matanya. "Bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya sensei! Bisa saja desa ini dalam bahaya besar!"

"Baiklah kalau begitu," balas Kakashi.

"Sepertinya Sasuke akan bertanding, aku harus kembali sensei, jaa!"

"Pemenangnya, Nara Shikamaru!" ucap Genma mengumumkan. "Selanjutnya, Sasuke Uchiha melawan Sabaku Gaara."

"Giliranmu Sasuke," kata Naruto.

Sasuke mengangguk. Kemudian mereka beradu jotos untuk menambah semangat keduanya.

Hap!

Sasuke segera melompat ke arena diikuti oleh Gaara yang turun dengan pasirnya.

Mereka berdua saling bertatapan. Lebih- lebih Gaara yang menatapnya dengan tatapan pembunuh.

"Kedua peserta siap?" Genma menatap mereka bergantian. Mereka mengangguk. "HAJIME!"

Sasuke dan Gaara bertatap- tatapan. Tidak ada yang ingin memulai pertarungan terlebih dahulu.

"Kau tidak ingin memulai? Kalau begitu aku saja!" Sasuke segera melaju dengan bantuan Chakranya ke arah Gaara. Gerakannya hampir tidak dapat diikuti oleh mata.

Beberapa detik kemdian, ia berada satu meter di depan Gaara. Dengan cepat, ia melayangkan tendangan kaki kirinya menuju kepala Gaara.

Srakk!

Lapisan pasir yang sama cepatnya segera melindungi Gaara. Tak tinggal diam, Sasuke segera memutar tubuhnya kemudian melakukan tendangan memutar kaki kanan kearah Gaara.

Srakk!

Lagi- lagi lapisan pasir menghalangi Gaara dari serangan Sasuke.

'Cih, pertahanannya kuat sekali.' Sasuke kemudian menendang pasir itu sambil melompat kebelakang.

"Kenapa Uchiha? Kau takut?" Gaara kemudian tersenyum misterius. "Kalau begitu giliranku." Kemudian Gaara segera tangannya kedepan.

Pasir dalam gentong yang ia bawa segera melaju menuju Sasuke.

Sasuke waspada. Sambil sesekali menghindari pasir, ia kembali melaju kearah Gaara. Sharingan tiga tomoenya sudah ia aktifkan. Dengan begitu ia lebih leluasa untuk menghindari serangan pasir Gaara.

Akhirnya, ia kembali berhadapan dengan Gaara. Dengan kecepatan yang sama dengan serangan pertamanya, ia kembali menyerang Gaara bertubi- tubi.

Namun semuanya gagal. Perisai pasir tak mengijinkan Sasuke menyentuh Gaara.

Ia memutuskan untuk mundur. "Pertahanan yang bagus." Sasuke terengah.

Gaara hanya diam. Namun kemudian, pasir- pasir itu kembali menyerang kearah Sasuke.

Wush!

Dengan cukup mudah Sasuke berhasil menghindari berbagai serangan pasir milik Gaara.

"Gerakan yang bagus, Uchiha." Ucap Gaara kemudian menghentikan serangan pasirnya.

Sasuke kembali terengah. Kedua tangannya menyangga beban tubuhnya diantara kedua lutut. Sambil mengusap beberapa tetes keringat di pelipisnya,Sasuke terus memikirkan rencana untuk menyerang Gaara.

Akhirnya ia kembali berdiri tegak, kemudian merangkai beberapa segel tangan dan menarik napasnya dalam- dalam.

Katon : Goryuuka No Jutsu!

Lalu dari arah Sasuke segera muncul seekor naga api berukuran cukup besar yang bergerak ke arah Gaara. Beberapa penonton dibuat takjub, tak terkecuali para Kage yang menonton pertandingan ini.

"Benar- benar seorang prodigy!" Puji Kazekage.

Gaara yang melihat itu kemudian segera merangkai segel tangan, dan dalam sekejap, terbentuklah tembok pasir berukuran besar untuk menahan jutsu yang Sasuke keluarkan.

BUMM!

Jutsu naga api Sasuke berhasil di redam oleh dinding pasir milik Gaara, menghasilkan debu yang menutupi pandangan. Namun kemudian, Sasuke sudah berada di belakang Gaara dan mengayunkan tendangannya yang berlapis chakra ke arahnya.

DUAGH!

Untuk pertama kalinya Sasuke berhasil mendaratkan serangannya. Gaara terpental jauh kedepan, tapi Sasuke berlari mendekatinya kemudian kembali melancarkan berbagai serangan. Dan akhirnya, Gaara jatuh ke tanah dengan suara berdebum yang sangat keras disertai kepulan debu yang kembali memenuhi area itu.

Sasuke kembali terengah. Bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman setelah akhirnya ia berhasil melakukan serangan beruntun ke arah Gaara.

Namun senyuman itu hanya bertahan sebentar. Sedetik kemudian, sebuah tangan dari pasir dengan ujung- ujungnya berbentuk kuku berwarna hitam bergerak ke arah Sasuke. Namun Sasuke terlalu lelah untuk bergerak karena staminanya sudah cukup terkuras. Akhirnya tangan pasir itu berhasil menangkapnya, kemudian melemparnya hingga menabrak tembok.

"HAHAHAHA, KAU LEMAH, UCHIHA!" Ucap sebuah suara dengan nada berat yang ternyata berasal dari tempat Gaara. Setelah debu menipis, akhirnya mereka dapat melihat perubahan yang terjadi pada Gaara. Setengah wajahnya berubah menjadi pasir dengan iris yang berwarna emas dan sebuah telinga serta ekor.

"A-apa?! Yondaime Kazekage-sama! Kita harus menghentikan pertarungan ini!" ucap Minato. Tetapi sang Yondaime Kazekage tidak menjawab.

Sedangkan Sasuke sedang berada di sisi yang lain dengan kesadaran yang semakin menipis. "Sial, kalau begini terus aku akan menjadi bulan- bulanannya." Ia berusaha bangun, namun tidak berhasil. "Cih, dia terlalu kuat."

Namun Sasuke kembali dikejutkan dengan kehadiran tangan pasir itu kembali mengarah kepadanya. Ia pasrah dan akhirnya menutup matanya.

"MATILAH KAU!" Teriak Gaara. Namun, tiba- tiba sebuah tembok dari tanah dengan ukiran berbentuk pola konsentris di tengahnya.

BRAK!

Tembok itu akhirnya berhasil menahan serangan dari tangan pasir milik Gaara. Sasuke membuka matannya perlahan. Hal yang pertama dilihatnya seorang anak laki- laki dengan rambut kuning khasnya, menggunakan kaos berkerah merah berlambang pusaran dan celana hitam se-lutut sedang membelakanginya.

"Kau tidak apa- apa, Sasuke?" Bocah itu menatap Sasuke dengan senyuman sedikit mengejek.

"Tepat waktu seperti biasa, Naruto?" Balas Sasuke. Kemudian ia mengambil posisi duduk dan bersandar pada tembok.

Naruto segera menurunkan tembok tanahnya dan menatap tajam ke arah Genma. "Hei wasit! Apa Jinchuuriki setengah bijuu diperbolehkan melawan seorang genin, HAH?!"

Genma terdiam. Namun tiba- tiba Gaara kembali melaju ke arah Naruto dan Sasuke. "MATILAH!" Ucap Gaara sambil mengayunkan tangan pasirnya.

Namun tiba- tiba, Naruto melaju kemudian meninju perut Gaara dengan kepalan tangannya yang berlapis chakra.

BUAGH!

Gaara terpental hingga menabrak tembok di seberang arena. "Disini tidak aman." Ucapnya. Kemudian ia segera mengangkat Sasuke ke atas arena, tepatnya di tempat Kakashi.

"Naruto?" Mata Kakashi menyipit melihat Sasuke yang tidak sadarkan diri.

"Tolong jaga dia, sensei!" Kemudian ia kembali turun ke arena.

"Genma-san! Kita harus menghentikan pertarungan ini!" ucap Naruto yang sudah berada di sebelah Genma.

Genma mengangguk, kemudian segera melakukan shunsin ke tempat Hokage berada. Namun tiba- tiba, sebuah ledakan besar terjadi di beberapa tempat di Konoha. Dan tiba- tiba muncul seekor ular berkepala tiga di pusat kota.

"Para penduduk menjadi bingung serta cemas. Secara tiba- tiba helaian bulu berwarna putih jatuh entah dari mana dan membuat beberapa penduduk tertidur.

Beberapa genin yang berada di sana juga terkena jutsu tersebut.

"Kai!" Sakura berusaha menghilangkan bulu- bulu itu yang ternyata sebuah genjutsu. "Kakashi-sensei! Apa desa sedang diserang?"

Kakashi mengangguk. "Prioritas kita melindungi penduduk!" Dan setelah mengatakan itu, beberapa ninja dengan hitai-ate berlambang nada muncul.

Sasuke yang sudah mulai pulih kemudian berdiri dan mengambil posisi siaga. "Kau juga Sasuke! Lindungi penduduk!"

Mereka berdua mengangguk kemudian segera menjalankan perintah Kakashi.

TRANG! TRANG!

Nagato berhasil menepis beberapa kunai yang hampir mengenai Kakashi.

"Terimakasih!" Kemudian Kakashi berhasil mengalahkan beberapa ninja itu tanpa kesulitan berarti.

"Kita harus menuju ke desa. Disana serangan lebih banyak." Ucap Kakashi lagi.

Nagato mengangguk. "Kita selesaikan dulu disini!" Kemudian menahan serangan beberapa ninja Otogakure tersebut.

"Ada apa ini?! Neko laporkan keadaan!" ucap Hiruzen. Seketika itu munculah seorang anbu dengan topeng kucing.

"Lapor. Desa sedang di serang. Penyerang berasal dari Otogakure dan …Sunagakure."

Mata ketiga kage itu melebar. "Apa maksudnya ini Kazekage-sama?!" Minato berucap.

"A-aku tidak tahu. Aku tidak pernah merencanakan hal ini. Sumpah!" Balas sang Kazekage.

"Bicaranya lain kali saja! Sekarang-"

BOFT!

Ucapan Hiruzen terpotong ketika sebuah kepulan asap muncul di tengah- tengah arena. Dari kepulan asap itu, mucul seekor ular raksasa berwarna ungu dengan seseorang diatas kepalanya.

"Lama tidak bertemu, sensei."

"Naruto! Kau harus mengejar Gaara! Kurasa mereka akan melepaskan bijuu itu di Konoha!" Ucap Genma.

Naruto menggeleng. "Aku tahu siapa yang harus mengejar Gaara!" Segera setelah itu ia melompat ke tempat para Kage.

"Naruto! Apa yang kau lakukan disini?!" teriak Hiruzen melihat kedatagan Naruto secara tiba- tiba.

Naruto tidak menjawab, namun malah berbicara pada Kazekage. "Kau harus mengejar Gaara Kazekage-sama! Kurasa ada yang merencanakan akan melepas bijuu itu di Konoha." Kemudian Naruto mempersiapkan kekuatan penuhnya. Sekarang tubuhnya sudah berpendar chakra abu- abu.

"A-apa?!" Ketiga Kage tersebut kembali dibuat terkejut. Kazekage kemudian mengangguk. Jubah Kage yang ia gunakan segera ia lepaskan. Ia segera melompat untuk mengejar Gaara. Namun tiba-tiba ular itu bergerak ke arah Kazekage dengan mulut terbuka seolah ingin menelannya.

"Tidak akan kubiarkan!" Teriak Orochimaru. Naruto yang melihat itu melompat, kemudian memukul ular itu dengan sekuat tenaga hingga terpental menabrak dinding arena.

Rasa melihat ke arah Naruto kemudian mengangguk. Perlahan- lahan tubuh Naruto tertarik gravitasi dan mendarat di tanah. Minato dan Hiruzen berada di belakangnya.

Minato memandang sendu ke arah Naruto. Sedangkan Hiruzen yang melihat itu tidak dapat melakukan apapun.

Rambut Naruto perlahan- lahan berubah menjadi keabu- abuan dan terangkat keatas karena armor chakra yang ia maksimalkan.

BOFT!

Ular ungu raksasa itu menghilang, meninggalkan Orochimaru yang berdiri angkuh di seberang sana. Tiba- tiba ia menggunakan segel tangan dan menghentakannya ke tanah. Dua buah peti tiba- tiba keluar di sampingnya.

Hiruzen terkejut. "Itu jurus terlarang Nidaime Hokage. Edo Tensei!"

Peti itu terbuka, menampakan dua orang yang sudah dikenal oleh Hiruzen. "I-itu…"

"Khu…Khu…Khu…"

Naruto menatapnya tanpa ekspresi. Sedetik kemudian ia sudah berada di seberang sana dan mengayunkan kakinya ke kepala Orochimaru.

TAKH!

Serangan Naruto berhasil dipatahkan oleh kedua orang dari dalam peti itu. Namun aura kekuatannya masih dapat dirasakan oleh Orochimaru maupun kedua kage disana.

"Khu…khu…khu…Tendanganmu boleh juga Naruto-kun." Dan setelah Orochimaru berkata begitu, kedua orang yang menahan serangan Naruto itu melakukan pukulan bersama- sama hingga Naruto kembali terpental. Namun ia bersalto beberapa kali hingga mendarat dengan sempurna di depan Minato dan Hiruzen.

"Kau tidak apa- apa Naruto?" tanya Minato yang tanpa ia sadari keluar dari mulutnya. Naruto hanya mengangguk.

"Apakah kalian bisa mengambil mantan Hokage itu? Biar aku yang urus ular menjijikan itu." Naruto menatap kedua kage itu serius.

Mereka kembali terkejut. "Darimana kau-"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya jiji. Minato-sama, kau ambil Nidaime-sama. Kalian sama- sama memiliki hiraishin kan?" Minato mengangguk. "Sedangkan jiji, kau ambil Shodaime-sama." Hiruzen juga mengangguk. Baru saja ia akan berkata- kata, Naruto menutup matanya dan membukanya lagi. Matanya berubah menjadi berpola lingkaran berwarna ungu terang.

"Ti-tidak mungkin." Ucap Minato dan Hiruzen serentak.

"Nah, ayo mulai!"

=TBC=

A/N : Holaaaa! Maaf maaf apdetnya telat bangettt! Author sedang banyak urusan untuk berbagai hal kayak un, persiapan masuk SMA dll. Ohiya, author juga minta maaf belum bisa kasi scene pertarungan diatas juga maaf kalo kurang panjang. Susah dapet ide soalnya, hehehehe. Mungkin akan update sekitar 4-5 hari kedepan. Mumpung libur. Okedeh, bagi reader sekalian jangan lupa buat review kekurangan dari fic ini biar kedepannya semakin baik ok? Sekian dari author. Yang mau nanya atau saran secara pribadi boleh lewat pm kok. Author ON 24 jam, hehehhe. Sampai jumpa!

=AnselmusSarira=

::LOGOUT::