Naka and The Vociferous-tronic Cyber
Presents
#
A to Z
[chapter 9—Prelude]
Disclaimer: Semua punyanya Richard Kirby, Paul van Zeland ama Dr. Frank Graham ! /dordorbuaak! /abaikan
Warning: Standar kegajean saya yang biasanya =_=V
A/N: Whoaa, apdet super molor, oenyoee! DX Hn, hontouni gomennasai minna-chii~ Mood saya akhir-akhir ini lagi jelek banget, dan semua itu gara-gara seorang HIDEKAZU HIMARUYA! IYA, ELUU! APA LIRAK-LIRIK? SINI LO KALO BERANI! MOOD SAYA UDAH JELEK GARA-GARA BANYAK TUGAS, SEKARANG SITU MALAH NAMBAHIN PAKE BUAT INDONESIA SEGITUNYA! DEMI ALIS ARTHIE, MASA BODO MAU SALAH FANDOM ATO APA KEK! SAYA ESMOSSIII! DEMI JENGGOT FRANCIS, KENAPA INDONESIA JADI KAYAK TANTE-TANTE GIRANG GITUU? PENDEK PULA! IYA, SAYA SADAR SAYA PENDEK, TAPI GAK SEGITUNYA JUGA KALI! ITU SIH BANTETNYA KELEWAT, MAS HIDE~ BENERAN KAYAK KALENG PENYOK! DEMI BUNTUT KUDA FELIKS, APA PULA WAJAH MALING JADI ALIM GITU, HAH? ADEK PSIKOPAT YANG BISANYA CUMA NYOLONG, NYIKSA TKI, AMA NGAJAK RIBUT GITU DIBUAT BERWAJAH ALIM? MEIN GOTT! DEMI KAMBING MATHIAS, MINTA DIGOROK YA, MAS? DAN DEMI ILER HERACLES, saya bener-bener minta maap. Kepsloknya lupa saya matiin. MANGKEELL! Hh… hh… /gasp/ bi-bisa-bisanya Nesia kayak banser perempatan gitu, cewek pula! DAN MELAYUCEST JADI YURI, DONG? UWAAA, GAMAAUUU /nggerong-nggerong di tengah jalan/ DEMI SUARA NORIAKI SUGIYAMA YANG AW-MAN-SO-HOT-SEKALE JAUH LEBIH MENDING NESIA GA DIBUAT OC AJA DARIPADA NESIA JADI VERSI CUNGKRINGNYA ADE RAI BEGINI! /kepslok jebol
Ck, harusnya sih terimakasih, maturnuwun sama Himaruya-sensei yang udah bersedia gambar Indonesia. Ta-tapi kenapa? Ke-kenapa? Kenapaaa? Huweee~ 8T3T8 /nangis kejer /abaikan
#
#
Udara dingin menjelang musim dingin telah merambati kehangatan musim gugur yang sebentar lagi akan terlewati, ketika Hime memutuskan untuk keluar rumah di hari Minggu pagi yang bisa dibilang mendung itu.
Matahari tampak mengintip malu-malu di balik awan besar yang tak pernah keberatan untuk melindungi sang mentari. Dedaunan saling bergemerisik mesra, menyambut tiap hembusan sang bayu dengan senang hati.
Hachi, anjing peliharaan Hime, mengaing pelan saat melihat majikannya mulai memasangkan sepasang sepatu sandal manis di kedua kakinya dan bersiap pergi.
"Baiklah, anak manis. Kau juga mau ikut?" tawar Hime pada Hachi seraya membelai kepala seekor golden retriever itu lembut. Hachi menggoyang-goyangkan ekornya heboh, mengiyakan pertanyaan Hime barusan. Hime tertawa kecil dan mulai memasang tali Hachi pada tempatnya.
Dengan perlahan, ia membawa anjing kesayangannya itu menelusuri jalanan yang mulai ramai dengan anak-anak kecil dan para orang dewasa yang asyik bersantai—terlepas dari aktifitas rutin mereka selama hampir satu minggu penuh.
Hime merapatkan jaketnya ketika udara dingin mulai merajam dengan tidak tahu malunya. Ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya demi mendapat sedikit kehangatan. Tapi tiba-tiba saja, Hachi berlari cukup kencang yang mau tak mau membuat Hime harus ikut berlari dalam kerepotan.
"Hachi! Stop! Berhenti! Hei, ada apa?" seru Hime dengan nafas yang mulai terengah karena Hachi belum juga menghentikan aksinya. Orang-orang di sekitarnya hanya memperhatikan gadis malang itu dengan geli seraya berusaha menghindar dari serangan hewan beserta majikannya tersebut.
Hachi masih belum memperlambat laju kakinya, komplit dengan gonggongan khas miliknya. Ekornya bergerak ke kanan dan ke kiri, sementara lidahnya terjulur keluar dan menyebarkan liur lengket di jalanan. Di tengah kesibukannya mengatur nafas, Hime memperhatikan pemandangan sekilas-sekilas di sekelilingnya. Ia seperti mengenal tempat itu, ya tidak salah lagi. Ia memang mengenalnya.
Tiba-tiba saja, secara spontan Hachi menghentikan larinya—yang dengan sukses membuat Hime nyaris terjungkal.
"BOW! BOW! BOW!" gonggong Hachi dengan ekor yang belum berhenti bergoyang. Ia memasang posisi duduk yang tampak sangat manis. Hime mengernyitkan dahinya dengan heran sembari melayangkan pandangan pada keadaan di sekitarnya. Tempat yang ramai.
"Ada a…" ucapan Hime terhentikan seiring tertangkapnya sebuah toko dengan pintu kaca mengkilat oleh pandangannya. Hachi tampak menggonggong terus menerus di depan toko tersebut seakan meminta Hime untuk mengajaknya masuk. Hime memandangi toko itu dengan mulut yang masih sedikit terbuka.
Ia bisa membaca dengan jelas tulisan yang tertera pada sebuah papan kayu kecil yang digantung di depan pintu; "Kaze Uta"
Hime mengatupkan mulutnya dan tersenyum simpul. Spontan ia langsung mengingat kakaknya ketika melihat toko yang sudah tak asing itu.
"Baiklah kalau itu maumu. Kita masuk, ya?" ajak Hime pada Hachi seraya berjongkok dan membelai hidung Hachi lembut. Hachi menggonggong senang dan segera beranjak mengikuti majikannya masuk ke dalam.
#vociferoustronic#
Salah satu hal menyebalkan dari Tokyo adalah stasiunnya yang sepertinya tak pernah tidak ramai, tidak peduli siang atau malam, hari biasa maupun hari libur. Atmosfer kesibukan menekan dari segala arah seiring dengan langkah terburu yang diambil setiap pasang kaki—berusaha mencari celah di antara begitu banyaknya manusia dengan berbagai macam keperluan.
Pengeras suara secara berkala memberitahukan kepada para penumpang tentang keberangkatan kereta mereka. Dan sebelas kali dentangan jam terdengar ketika sebuah kereta lain datang dari arah barat, membawa penumpang yang bisa terbilang banyak tapi belum cukup untuk membuatmu mati kehabisan napas.
Seorang lelaki tinggi tegap keluar dari salah satu gerbong. Rambut merahnya ia tutupi dengan sebuah topi hitam dengan google oranye tergantung di atasnya. Kedua tangan ia masukkan ke kantung jeans hitam belelnya sementara sebuah rompi putih dengan kaus hitam-putih berlengan panjang sebagai dalaman, membalut tubuhnya dengan agak berantakan.
Lelaki itu berjalan santai menembus kerumunan orang-orang yang masih sibuk berlalu-lalang, dan menempatkan dirinya di balik salah satu tiang penyangga. Ia melinting lengan kausnya dan semakin menenggelamkan rambut merahnya di balik topi. Sesekali ia melirik ke arah jam stasiun dengan tidak sabar. Menunggu suatu komando menyenangkan yang akan ia jalani dengan senang hati.
Tiba-tiba handphone di kantung celananya bergetar. Tanpa melihat nama yang tertara pada layar, ia segera menjawab telepon tersebut.
"Semua sudah siap. Lakukan tugasmu dengan baik, aku mengawasimu." ujar suara di seberang telepon dengan nada datar.
"Roger! Kau tak bisa meragukanku." Jawabnya sedikit menyombong sembari tersenyum singkat.
Boots hitam kelamnya kembali menelusuri tiap senti lantai stasiun yang keras dan dingin. Menuju ke arah pintu keluar yang tampak menantang di hadapan pandangannya.
#vociferoustronic#
"SET! HUT! HUT!"
Seiring dengan terlemparnya seruan barusan, seorang quarterback bertampang setan dengan rambut pirang spike menangkap bola coklat lonjong yang dioperkan padanya menggunakan jemari lentiknya dan tanpa menunggu detik beranjak, ia telah membebaskan bola itu ke angkasa. Setengah menyeringai, ia memperhatikan hasil lemparannya barusan.
Bola itu terus berputar di udara layaknya sebuah roket mini, sebelum akhirnya tertangkap dalam genggaman seorang lelaki berpostur tinggi dengan rambut putih panjangnya. Berdiam dalam dekapan lelaki itu, terbawa menembus setiap orang yang mencoba menghalangi langkah kaki jenjangnya, sebelum terlempar kembali pada seseorang lain hanya untuk merasakan rasanya mencium rerumputan hijau segar lapangan dengan hentakan yang keras. Peluit pun dibunyikan.
"Cih, sampah baru." desis seorang lelaki berambut gimbal ungu, seraya meninggalkan lelaki yang baru saja dijatuhkannya—seorang lelaki dengan bagian depan kepala yang botak meskipun ia masih terlalu muda untuk botak.
"Hei, kau tidak apa-apa?" Juumonji mengulurkan tangan untuk membantu.
Bukannya menyambut dengan penuh terimakasih, lelaki setengah botak itu segera bangkit berdiri. Hawa hitam menguar bebas dari tubuhnya. Dan serta merta, tanpa peringatan tanpa alarm, ia sudah mencak-mencak sendiri dengan umpatan dalam berbagai bahasa alam yang terlontar indah dari mulutnya.
"AKU BUKAN SAMPAH! JANGAN PERNAH LAGI MEMANGGILKU SAMPAH! DREAD BUSUK! DASAR KAUU *PIIIPP*, *PIIIIPP*, *PIIIPPP*…" dan beberapa sensoran lainnya. Beruntung Juumonji dengan sigap telah menahan lelaki receiver berlabel Ikkyu Hosokawa tersebut sebelum ia mengakibatkan korban jiwa. Sementara Agon Kongo dengan santainya melenggang masa bodoh ke pinggir lapangan.
Youichi hanya berdecak pelan melihat semua itu seraya memasukkan sebatang perman karet tanpa gula ke dalam mulutnya. Peluh tampak bercucuran di keningnya setelah latihan ekstra di Minggu pagi itu.
"YA!—HAA! Kalian ini berisik sekali dasar orang sialan tak berguna!" seru Youichi sembari memuntahkan amunisi AK 47nya ke arah Ikkyu dengan sadis. Kontan, Ikkyu, Juumonji, dan orang-orang yang berada di sekitarnya langsung berloncatan kesana kemari dengan ramainya.
"Kekekee, latihan pagi ini sampai disini dulu! Bubar dan minum susu kalian di rumah, sana!" tambah Youichi dengan seringaian laknatnya tanpa memedulikan anggota lain yang masih berusaha menenangkan detak jantung mereka.
Tanpa memedulikan mereka lagi, Youichi segera melenggang ke arah kamar ganti yang tentunya masih kosong. Ia merogoh lokernya dan menemukan handphonenya tengah bergetar di sana.
"Ada apa?" tanyanya langsung setelah membuka flap handphonenya.
"Aku sudah meneliti data yang kau ambil dari lelaki sok rapi itu. Dan berdasarkan data ini, aku menyimpulkan kalau Ken Kagita tidak mungkin menitipkan aplikasi hack itu pada orang lain," terang Light Yagami langsung dari seberang telepon.
"Apa dasar kalimatmu barusan?" buru Youichi.
"Dari gerak-gerik Ken selama ini, bisa dipastikan ia bukanlah orang yang mudah percaya pada orang lain, termasuk adiknya sendiri, seberapapun ia menyayanginya. Jadi menurutku, kemungkinan besar Hime tidak memegang aplikasi hack tersebut," ujar Light, "Selain itu, aku bisa memastikan kehidupan Hime selama dalam pengasingan, dan dari semua itu tak ada yang aneh. Semuanya normal, bahkan tidak ada satupun catatan dari data yang dicari Grimmjow bahwa ia pernah berhubungan dengan kakaknya selama diasingkan. Sehingga kemungkinannya kecil Hime bisa mengetahui keberadaan aplikasi itu. Kalaupun ia tahu setelah pulang, itu juga agak tidak mungkin. Sebab Ken meninggal di malam ia pulang."
"Tunggu dulu. Apa maksudmu dengan pengasingan?" Youichi melirihkan suaranya.
"Ya. Hime sempat mengalami masa pengasingan setelah meninggalnya Sousen Kagita. Banyak yang membiacarakan bahwa gadis itu merasa sangat terpukul ketika mengetahui ayah tiri yang telah dianggapnya sebagai ayah kandungnya sendiri, dijatuhi pidana mati. Karena itu, ia diasingkan untuk menenangkan diri selama dua tahun lamanya di Moscow, Russia."
"Tch. Begitu. Lalu dimana aplikasi itu sebenarnya…" desis Youichi gemas.
"Entahlah. Sebaiknya kita tunggu dulu laporan dari Seiren. Aku punya firasat ia akan menemukan sesuatu."
"Aku tahu," jawab Youichi, "Lalu bagaimana dengan orang yang menguntitku waktu itu?"
"Ah, maksudmu Mello? Belum banyak yang kuketahui tentangnya. Aku hanya tahu ia memiliki seorang partner lagi—entah siapa. Ini hanya pendapat pribadiku, tapi kurasa lelaki itu mengincar aplikasi hack itu juga."
"Keh, baiklah, saingan baru." Youichi menyeringai sinis, "Lanjutkan analisamu."
"Aku bisa bilang begitu setelah kau bilang bahwa ia mencegatmu dan bertanya dimana Kin Quetzalcoatl berada. Ia juga jujur kalau ia mengetahui tentang kerjasamamu dan Seiren dengan Ken dalam keterlibatan kasus Sousen terdahulu. Kalau aku tidak salah, itu adalah kasus tentang Sousen yang berusaha merebut aplikasi tersebut dari anaknya sendiri demi membobol data pemerintah, tapi hal itu hanya membuatnya tertangkap dan menjadi terpidana mati dengan tuduhan percobaan pembunuhan pada anak sendiri dan pembobolan data pemerintah. Begitu, bukan?"
"Ya, dan kau tak perlu mendikteku, muka dua sialan!" ucap Youichi cuek.
"Dengan begitu pun dapat disimpulkan Mello mencari Kin melaluimu karena ia tahu tentang kerjasamamu, Seiren, dan Ken mengenai aplikasi hack tersebut dan ingin merebut aplikasi itu dari Ken. Singkat kata, Mello mengira aplikasi hack ada pada Seiren. Hanya saja ada satu hal yang tidak kumengerti. Kalau Mello tahu kau juga ikut bekerja sama dengan Ken dulu, kenapa ia tidak mengindahkanmu dan justru bertanya padamu tentang keberadaan Seiren ketimbang menangkapmu langsung yang juga punya kemungkinan untuk menyimpan aplikasi itu?" beber Light panjang lebar.
"Tch, mana kutahu. Jadi, inti penjelasan bertele-telemu barusan hanya berujung pada kalimat 'Mello mengincar aplikasi hack itu juga' bukan? Hanya saja ada alasan lain yang tersembunyi kenapa ia tidak menangkapku yang juga punya kemungkinan untuk memegang aplikasi itu juga. Begitu maksudmu?" jawab Youichi mencoba meluruskan.
"Ya, begitulah kira-kira. Mungkin aku akan menyelidiki yang bagian itu juga."
"Tidak, tidak perlu. Sebaiknya kau selidiki pergerakan penguntit sialan itu, karena ia bisa saja menyerang tiba-tiba." perintah Youichi singkat sebelum memutus sambungan telepon. Ia berjalan keluar setelah mengganti pakaiannya seraya menjinjing tas laptop serta AK-47nya. Ia mendesah keras, berusaha mencerna dari semua data yang ia ketahui.
Lelaki spike itu tentu tidak bisa bilang bahwa ia tahu kenapa Mello lebih condong mengincar Seiren ketimbang dirinya. Apalagi kalau bukan karena pembobolan Pentagon oleh Seiren, Ken, dan kakek Seiren. Mudah saja menganalisa kalau Seiren memiliki kemungkinan paling besar untuk menyimpan aplikasi itu—karena bagaimanapun juga Ken bukanlah orang yang mudah percaya pada siapapun termasuk kerabatnya sendiri jadi, pastinya mengejutkan ketika Ken mempercayakan Seiren dan kakeknya untuk menggunakan hasil karyanya tersebut—walaupun sebenarnya bukan Seiren yang menyimpannya.
Hanya ada satu hal yang terus membingungkannya. Dimana Ken menyembunyikan hasil karyanya itu jika bukan pada Hime? Sekali lagi, Youichi hanya bisa menyepat kesal.
#vociferoustronic#
Langit semakin kelabu ketika Hime meletakkan rangkaian lili putih di atas makam kakaknya. Gadis itu menatap kosong nisan Ken dengan pandangan tak tertebak. Sedangkan Hachi masih sibuk menggonggong sembari memasang tampang miris ke arah Hime, seakan ia merasa sangat kecewa pada majikannya yang satu itu.
Hime, yang perlahan-lahan mulai mendapatkan kesadarannya kembali, mendengar kaingan menyedihkan Hachi. Kontan ia memasang senyum sarkastis dan mencium hidung Hachi halus.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kau tak perlu khawatir tentang itu," ucap Hime lirih.
Sementara itu, Seiren menatap kelakuan Hime dengan heran dari balik sebuah pohon. Ada sesuatu yang janggal dari sikap Hime sebagai seorang adik yang paling dekat dengan Ken. Ia terus mengulang-ulang sebuah pertanyaan dalam hatinya. Kenapa Hime tidak mengingat satu hal yang bahkan Seiren sendiri ingat betul—tentang kesukaan Ken Kagita? Kenapa ia justru meletakkan hal yang jauh berlawanan?
Hime beranjak dari tempatnya berlutut dan membersihkan celananya dari serpihan-serpihan tanah yang menempel. Ia meraih tali Hachi, dan menggiringnya menjauh dari makam Ken tanpa menitipkan sebuah doapun pada Tuhan demi kakaknya tersebut.
"Lili? Sejak kapan lili…" gumam Seiren bingung.
Drrtt… Drrrtt… Drrrttt…
Sumpah serapah segera meluncur dengan mulus dari mulut Seiren ketika handphonenya bergetar di dalam kantung celananya. Dengan cepat ia menyambar handphone sialan itu dari tempatnya berada dan menjawabnya tanpa melihat call id di layar.
"Ada apa?" tanyanya ketus.
"Tch, nadamu menyebalkan sekali, cyborg sialan."
"Heh, kenapa jadi kau yang marah-marah begitu? Ada apa?" Seiren mengulang pertanyaannya.
"Sedang dimana kau sekarang?"
"Pemakaman. Tak jauh dari Saikyoudai, kurasa." Seiren mengerling ke keadaan sekitarnya, dan kembali lagi menatap Hime yang semakin menjauh. Ia pun ikut beranjak perlahan dari tempatnya.
"Kau sudah terima laporan dari Light?"
"Belum. Laporan apa?"
"Kalau begitu kita bahas saja di apartemen nanti. Sekalian laporanmu, apa Hime sudah bertindak yang aneh-aneh seminggu ini?"
"Yah, tidak juga. Aku justru baru menemukannya hari ini. Cukup menarik dan…" kata-kata Seiren terhenti ketika hawa aneh yang sebenarnya telah ia rasakan sejak tadi secara tiba-tiba muncul ke permukaan hingga bulu kuduknya meremang. Disusul oleh sebuah suara yang Seiren takutkan akan benar-benar nyata berada di belakangnya, suara pistol di kokang.
Tanpa memutuskan dulu sambungan teleponnya, Seiren berkata pada seseorang di belakangnya, "Siapa kau dan apa maumu?"
Tak ada jawaban selama beberapa detik, hanya terdengar suara helaan nafas masing-masing orang dan hembusan angin yang bertiup semakin menusuk.
"Sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu, Kin Quetzalcoatl…" jawab seseorang itu akhirnya.
Perlahan Seiren memutar kepalanya sedikit. "Sedikit gerakan maka aku akan membunuhmu," ucap seseorang itu lagi dengan dingin. Lelaki berambut merah maroon itu mengangkat sebelah tangannya dan memutus teleponnya—menganggap sepupunya disana telah mengerti keadaannya saat ini.
"Baiklah. Apa maumu?" ulang Seiren, masih berusaha mengintip siapa penguntitnya. Ia tersenyum singkat ketika mengetahui penguntitnya ternyata juga berambut merah, rambut merah yang tenggelam dalam topi hitamnya. Sebuah google oranye tampak bersandar pada kedua matanya.
"Cukup menjawab satu pertanyaan. Tidak perlu basa-basi, cepat jawab dimana kau menyembunyikan aplikasi hack Ken Kagita?" tanya orang asing tersebut dengan nada datar.
"Hei, aku tidak mengerti apa maksudmu?" dengan nekat, Seiren memutar tubuhnya seutuhnya hingga sekarang keningnya telah berhadapan langsung dengan mulut pistol. Lelaki dengan tinggi sama dengannya, berompi putih dengan kaus hitam garis putih sebagai dalaman, celana jeans, serta sepatu boots hitam kelam.
"Sebaiknya jangan banyak bicara. Cepat jawab!" bentak lelaki itu galak. Tapi kegalakannya justru membuat Seiren semakin ingin mengusilinya.
Dengan senyum tipis yang sinis, Seiren menjawab santai, "Kau terlihat seperti takut membunuhku, Tuan Muda?"
"Jangan bercanda. Aku masih membutuhkanmu untuk menemukan aplikasi sial itu. Tenang saja, setelah kau memberitahuku, aku akan langsung membunuhmu." Lelaki itu menjawab tak kalah sinis.
"Begitukah? Tapi maaf, kurasa niatmu takkan bisa terlaksana secepat itu." Seiren tersenyum lagi, disusul oleh suara senjata dikokang lainnya.
"Kusarankan turunkan senjatamu, Matt." perintah seseorang di belakang penguntit berlabel Matt itu dengan dingin. Jamper putih tampak membalut tubuhnya dengan rambut platina yang tertutup tudung. Dua buah garis, yang aneh bila dikatakan sebagai sepasang mata, bertengger dengan aksen licik di wajah putih pucatnya.
Dan dalam detik berikutnya, sebuah pukulan keras telah mendarat di kepala Matt. Lelaki itu dengan sukses terkulai lemas dan nyaris membentur aspal jika saja Seiren tidak segera memapahnya.
"Youichi?" tanya Seiren singkat pada lelaki yang telah menolongnya.
"Ya. Ia langsung menyuruhku ke tempatmu begitu ia tahu kau ada masalah. Untungnya aku sedang bertugas tak jauh dari sini." Terang Gin seraya membuka tudungnya.
"Tugas?"
"Ya. Setan spike licik itu menyuruhku menyusup ke kediaman Hime," Gin mengulurkan tangan untuk membantu Seiren memapah Matt, "Kau takkan percaya aku menemukan hal yang sangat menarik. Tapi kau harus percaya lelaki tua yang disebut-sebut sebagai paman sulung Hime itu benar-benar menyebalkan!" sungut Gin yang tanpa sadar telah curcol di sepanjang perjalanan pulang. Tentu saja mereka tidak memakai kereta—apa kata orang saat melihat tiga orang laki-laki dengan salah satunya yang telah tepar dengan mengenaskan? Jadi, mereka masuk ke dalam mobil jeep milik Youichi yang dibawa Gin.
#saishuu#
A/N: Inilah hasilnya jika Anda membuat sebuah cerita sambil nonton Upin-Ipin dan mendengarkan OST. You're Beautiful. Wokaay, saya juga nyadar kombinasinya kagak elit banget. Dan saya minta maaf kalau chapter ini membingungkan dan… pendek. Iya, iya, saya nyadar itu semua, kok~ ==v Uwaa, saya jadi maluuu~ 8A3A8 /ngumpet di balik dasternya embah /najong
Btw, ada yang gak ngerti gimana jalan ceritanya? (para readers: *ngacungin tangan semua*) Hehehee, emang mbulet sih ceritanya. Jadi, akan saya jelaskan disini. Ehm, ehm! *ngetok-ngetok spidol di papan tulis* Sebenernya intinya tuh, Hime lagi dimata-matain kubunya Seiren, sedangkan kubunya Seiren lagi dimata-matain kubunya duo M (Mello-Matt), dan kubunya duo M sendiri sebenernya lagi dimata-matain sama kubunya Seiren (baca: Hiruma). Dan jika Anda-Anda sekalian bertanya bagaimana kubu satunya lagi, sebenarnya diam-diam mereka lagi nguntit kubunya Seiren (malang bener tuh orang-orang, dikeroyok bareng… T^T) walaupun emang belum kuceritain disini.
Terus soal Hime. Waktu dia masuk toko, itu sebernya toko bunga—dan jangan tanya saya darimana dapet nama 'Kaze Uta'. Dia beli lili putih buat ditaruh di makam kakak(tiri)nya, Ken Kagita. Tapi Seiren yang ngeliat itu rada-rada bingung, kenapa Hime naruh lili putih. Dan jawabannya bisa Anda temukan di chapter-chapter selanjutnya /dikeroyok massa/ Nah, habis itu adegannya kan Matt yang lagi mata-matain Seiren langsung maen todong ke arah Seiren dan gak berontak waktu dipukul Gin (*ALERT: HINT!*) sebenernya itu ada tujuannya sendiri kenapa dia gak berontak. Dan lagi-lagi jawabannya bisa Anda temukan beberapa minggu lagi /diseret - dijadiin korban sembeleh/ Selanjutnya yang diomongin Light. Dia bilang bingung kenapa Mello bukannya langsung nagih dimana aplikasi itu ke Hiruma (sekarang bilang 'Hiruma') justru malah tanya dimana Kin a.k.a Seiren. Padahal Youichi (sekarang malah 'Youichi') juga bisa aja jadi orang yang nyimpen aplikasi hack itu, kan, nginget dia juga ikut terlibat dalam kasus Sousen dulu. Tapi, Light bilang begitu soalnya dia belum tau kalo Seiren sama Ken pernah kerjasama lagi untuk mbobol Pentagon tanpa melibatkan Hiruma (balik lagi ke 'Hiruma' – gampared by all) sementara MelloMatt udah tau hal itu. Secara, kriminal professional begitu kan ibarat bigos berkuping tajem (halah) Intinya, akhirnya Matt ketangkep sama kubunya Youichi (ganti lagi manggilnya) dan setelah ini bakal ada kejutan lainnya yang menanti! XDD (readers: yeeyy! /lebeh) Apa bisa cukup dimengerti, saudara-saudari?
Nhahaa, untuk kripik pedes, komentar, saran, dan pertanyaan diterima dalam bentuk review /grins/ Akhir kalimat, say CIAO to the next chapter! X*
