Fake Boyfriend, Real Love
Kalian tidak bilang kalau adegan satu ke adegan lainnya tidak ada jedanya. Aku baru tahu setelah berkunjung ke ff-ku sendiri. Takut kalian tidak nyaman membaca. Maaf kalau begitu. Padahal sudah aku kasih jeda dengan (***) tampaknya tidak muncul ketika diposting. Aku perbaiki sedikit di sini. Semoga membuat kalian nyaman.
Terima kasih sudah mau membaca dan mereview. Senang kalian mau memberikan saran. Semoga tidak ada typo. Selamat membaca part ini!
Kibum, Kyuhyun
Cerita romantisnya anak sekolahan, tapi punya rating di atas normal.
Cerita ini nggak nyata. Semua yang ada di dalamnya sengaja dibuat untuk kesenangan semata. Kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dll, mohon dimaklumi, karena kalau tidak ada kesamaan di dalamnya, namanya bukan fanfiction.
Part 9
Keukeuh tidak ingin menginap di rumah Kibum, Kyuhyun pun diantarkan pulang ke rumahnya. Masih terlihat baik-baik saja ketika Kibum berpamitan, tapi langsung mengeluh setelah Kibum pergi dari rumahnya.
Berkemah itu melelahkan. Meski dia tidak banyak melakukan aktifitas, masih berimbas juga padanya. Badannya sakit. Sekujur tubuh ngilu, seperti tulang-tulangnya dipukul-pukul sampai remuk. Bahkan untuk membawa tubuhnya sendiri ke kamar, Kyuhyun merasa tidak sanggup. Dia langsung terjatuh di sofa, mengeluh pada seluruh pembantunya. Dan akhirnya mengandalkan bantuan pembantunya untuk pindah ke kamarnya.
Kyuhyun berendam air hangat yang disiapkan pembantunya. Karena terlalu lelah, dia tertidur dalam bathtub cukup lama. Kalau salah satu pembantu tidak mengedor pintu kamar mandi, mencemaskan keadaannya, Kyuhyun akan tertidur sampai pagi. Kyuhyun keluar dari kamar mandi dengan enggan. Kakinya diseret paksa. Ketika akan merebah ke tempat tidur, dia minta bantuan dari pembantunya juga.
"Aku sakit, cepat panggil dokter!"
"Mau kupanggilkan Kibum supaya datang juga?"
"Jangan!" Kyuhyun memekik. "Dia pasti lelah." Lagipula Kyuhyun tidak mau Kibum melihatnya sakit setelah pulang kemah. Bisa-bisa Kibum menganggapnya lemah. "Panggil dokter, cepat. Aku tidak tahan sakitnya!"
"Baiklah!"
Pembantu keluar dari kamar tuan mudanya. Menelepon dokter keluarga dan memastikan dokter harus datang saat itu juga. Setelah itu, dia pergi ke dapur, mengambil makanan yang disiapkan koki keluarga untuk makan siang Kyuhyun. Kemudian membawanya secepat mungkin ke kamar Kyuhyun.
"Dalam keadaan seperti ini, aku tidak nabsu makan."
Tapi pembantunya memaksa. Dia bilang harus makan sedikit supaya tenaganya terisi. Nanti, sakitnya akan berkurang. Mau tidak mau Kyuhyun menurut. Seperti anak manja, dia mengatakan tidak bertenaga bahkan untuk mengangkat tangannya, agar disuapi. Setelah menghabiskan setengah mangkuk bubur, dia tidak mau makan lagi. Tepat setelah pembantunya keluar kamar, pembantu lain masuk dengan dokter bersamanya.
Pemeriksaan berlangsung dengan cepat. Suhu normal meski muka memerah, itu hanya efek air panas saat mandi tadi. Mata masih jernih, tidak menandakan kurang tidur atau stres. Denyut jantung normal. Hanya tubuhnya saja yang sakit.
"Jadi, apa aku harus rawat inap di rumah sakit?"
Dokter tersenyum kecil. "Tidak perlu. Kau hanya butuh istirahat. Sakitnya sedikit demi sedikit akan mereda."
Dokter Shu, menggantikan ayahnya bertugas sebagai dokter pribadi keluarga besar Kyuhyun. Kenal Kyuhyun sejak Kyuhyun kecil. Sedikit banyak dia tahu keadaan keluarga Kyuhyun.
Sejak dulu Kyuhyun masih saja tidak tahu bedanya satu penyakit dengan penyakit lainnya. Yang dia tahu namanya sakit, harus pergi ke rumah sakit. Namun, dokter keluarga maklum, Kyuhyun tidak pernah keluar dari zona nyaman. Meski dia sering kelayapan sepanjang hari, sepanjang malam, selalu pulang ke rumah untuk tidur. Dan kali ini dia mengaku ikut kemah, benar-benar sesuatu yang membuat dokter terkejut.
"Dokter Shu, kau akan berikan aku obat pereda rasa sakit?"
Dokter tersenyum lagi. "Obat tidur, mau? Itu akan membuatmu tidur lebih nyenyak. Saat kau bangun besok, keadaanmu akan lumayan membaik."
Dia janji menelepon Kibum malam ini, mana bisa minum obat tidur.
Malam pertama di kemah waktu itu, Kyuhyun sudah setengah mati takut ditinggalkan di hutan gara-gara dia jujur soal jebak-menjebak itu. Untungnya ketakutannya tidak pernah jadi kenyataan. Meski begitu Kyuhyun masih berfikir Kibum akan minta putus cepat atau lambat, dia jadi harus menyiapkan banyak cara agar Kibum tidak bisa memutuskannya. Namun, sampai dia pulang hari ini, sikap Kibum padanya tidak berubah. Tetap dingin memang, masih acuh tak acuh juga, tapi Kibum masih memerlakukannya dengan baik. Dari situ Kyuhyun berjanji tidak akan bohong lagi pada Kibum, menurut pada Kibum, dan akan menjadi kekasih yang baik. Pengecualian saja kalau Kibum mulai tidak mengakuinya sebagai kekasih. Dia akan lakukan segala cara agar tetap bersama. Makanya, malam ini dia tidak bisa tidur sebelum menelepon kekasihnya itu.
"Karena ini pertama kalinya kau berkegiatan di luar, badanmu memang akan sakit seperti ini. Lama-kelamaan akan terbiasa." Dokter membantu menyelimuti Kyuhyun. Anak nakal itu tidak terlihat nakal setelah terbaring dan mengeluh sakit di hadapannya. "Akan lebih cepat hilang sakitnya kalau kau mau dipijat."
"Aku tidak pernah dipijat." Kyuhyun suka geli kalau disentuh orang lain. Waktu disentuh Kibum, dia sudah merinding tidak karuan. Coba kalau sampai dipijat seluruh tubuh, akan jadi apa dia? "Aku mau istirahat saja."
"Baiklah. Kalau kau merasa ada yang tidak nyaman dengan tubuhmu, cepat suruh pembantu meneleponku." Kyuhyun mengangguk patuh. "Aku pulang dulu. Kau istirahat yang banyak!"
"Terima kasih, Dokter."
.
.
.
Pagi harinya Kyuhyun tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Sakitnya hampir membuatnya mati. Kalau dia mati, nanti tidak bisa ketemu Kibum. Itu yang dia sesalkan.
Ngomong-ngomong, setelah dokter pulang tadi malam, dia tidur. Rencananya cuma sebentar sambil menunggu malam tiba untuk menelepon Kibum, tak tahunya bangun sudah jadi pagi begini. Berusaha keras mengambil hanphone-nya, ternyata tidak ada panggilan masuk. Ah, benar juga, Kibum pasti marah padanya.
Mencoba menelepon Kibum, tapi Kibum tidak mengangkatnya. Melihat ke jam weker di samping tempat tidurnya, menunjukkan jam 9 pagi. Sekolahnya sudah masuk, Kibum sudah pasti ada di kelasnya sekarang.
Pintu diketuk. Sebelum Kyuhyun menyahut, seseorang masuk ke dalam kamarnya.
"Kyu, kau sudah bangun?"
"Eomma?" Ibunya Kibum tiba-tiba ada di rumahnya. Kyuhyun hendak bangkit dan menyambut, tapi bergerak saja tak mampu. Wanita itu menghampirinya. "Eomma kenapa ada di sini? Tidak bekerja?"
Ibunya menggeleng. "Semalam pembantumu menelepon, katanya kau sakit. Mumpung Eomma masuk sore, Eomma menggantikan Kibum untuk menjagamu hari ini." Kemudian duduk di sebelah Kyuhyun. "Pulang sekolah, Kibum akan ke sini lagi."
Menggantikan Kibum? Kibum akan ke sini lagi? Jangan-jangan semalam Kibum datang. Kyuhyun menyesal kalau benar Kibum datang dan menjaganya semalaman. Dia sama sekali tidak bisa bangun, kehilangan kesempatan melihat Kibum. Eh, tapi Kibum datang dan melihatnya dalam keadaan sakit, apa yang akan dipikirkan anak itu? Menganggap dia lemah, kah? Atau malah kasihan melihat dia sakit, secara Kibum yang mengajaknya pergi kemah.
"Mana yang terasa sakit?"
Seluruh tubuh ngilu, tapi dia tidak akan jujur. "Kaki dan tangan," dia bohong untuk jaga image.
"Ini pertama kalinya kau pergi kemah, Eomma tahu kegiatan di luar itu membutuhkan fisik dan stamina yang banyak. Kalau baru pertama kali melakukannya, tubuhmu akan sakit semua seperti ini." Sama seperti yang dikatakan Dokter Shu semalam. Ibunya tersenyum setelah berhasil menebak yang Kyuhyun sembunyikan. "Eomma punya langganan tukang pijat, nanti Eomma panggil supaya datang ke sini."
"Tukang pijat?" Kyuhyun ngeri mendengarnya. Yang pernah dia lihat di TV, ketika seseorang akan dipijat, dia harus telanjang, dibaluri minyak di sekujur tubuh, kemudian diraba-raba. Ih, Kyuhyun tak suka hal-hal seperti itu. "Tidak usah, Eomma. Aku minum obat, nanti sembuh."
"Eh, otot-ototmu tegang. Minum obat tanpa dipijat, mana bisa sembuh?" Ibunya mengaba Kyuhyun untuk duduk, tapi Kyuhyun tak mampu duduk. Lalu ibunya membantunya. "Kalau Eomma kerja lembur, kadang-kadang juga merasa capek, badan pegal-pegal. Eomma memanggil tukang pijat. Setelah dipijat, badan akan lebih cepat sehat. Kau tenang saja, tukang pijatnya perempuan, masih muda."
Mau perempuan atau laki-laki, Kyuhyun tidak peduli. Dia tidak mau dipijat.
"Kenapa? Kau takut dipijat?"
Kyuhyun menggeleng lemah.
"Lalu kenapa?"
"Aku... suka geli kalau dipijat. Apalagi dipijat orang lain. Eomma, tidak usah panggil tukang pijat, ya! Nanti biar pembantuku saja yang memijat."
"Pemijat ini lebih profesianal..." Kyuhyun masih menggeleng. "Ya sudahlah. Kau tidak mau, Eomma tidak akan panggil. Lebih baik kau mandi air hangat, setelah itu makan dan minum obat. Eomma akan membantumu."
"Emmm," Kyuhyun setuju kalau ibunya yang bantu.
Kihyun
Ada apa ini?
Bangun dari tidur siang, pembantu, ibunya Kibum, dan Kibum sendiri berkumpul di kamarnya. Memandangnya seperti memandang makanan lezat. Eh, memandangnya seperti terdakwa atau lebih kepada calon korban.
"Kalau kau tidak dipaksa, pegal-pegalmu tidak akan hilang!" itu kalimat yang dilontarkan ibunya Kibum. Kyuhyun belum tahu apa yang akan terjadi padanya. Tiba-tiba... "Peganggi dia, lucuti bajunya!"
Kyuhyun panik. Dia mau diapakan?"
"Eomma..."
"Kau akan dipijat."
"Eomma, aku tidak pernah dipijat."
"Setelah ini kau akan tahu rasanya dipijat."
Dua pembantu maju, Kyuhyun melototinya tapi tidak mempan. Dua orang itu lebih menurut apa kata ibunya Kibum daripada dia, yang anak majikannya. Kibum memang memandanginya, tidak melakukan pemaksaan seperti yang dilalukan pembantunya, tapi kekasihnya itu tidak ada niatan untuk membantu. Dalam keadaan badannya yang sakit, Kyuhyun tidak bisa melawan dua pembantunya. Kedua tangannya dipegangi. Bajunya hendak dilucuti.
"Eomma..." Kyuhyun memohon, sayang tidak digubris. "Kibum..."
Ketika dipanggil, Kibum datang padanya. Kyuhyun lega kalau Kibum mau membebaskannya, tapi lagi-lagi apa yang diharapkannya tidak terlaksana. Dengan kekuatan, Kibum berhasil melucuti bajunya. Kyuhyun teriak-teriak, menolak. Hasinya, dia hampir telanjang bulat di kasurnya. Sampai merasa malu pun tak sempat karena waktunya dihabiskan untuk protes.
Badannya di tekan ke ranjang. Tengkurap dan masih jadi tahanan pembantunya. Ibunya Kibum sekarang yang turun tangan. Mengambil obat gosok, menuang ke tangannya, kemudian membalurkannya ke punggung Kyuhyun.
"Eomma tidak jadi panggil tukang pijat, tapi bukan berarti kau tidak jadi dipijat." Ibunya menekankan tangannya tepat di otot Kyuhyun yang sedang tegang. Sakit bukan main. Kyuhyun menjerit. Minta ampun. "Eomma yang memijat, kenapa kau masih harus berteriak!"
Badan Kyuhyun habis dipijat. Awalnya hanya ibunya Kibum, lama-kelamaan dua pembantunya ikut memijatnya. Di kamar pribadi yang biasanya tenang itu jadi berisik. Kyuhyun teriak-teriak seperti korban penyiksaan. Ketika Kibum tidak tahan dengan berisiknya Kyuhyun, dia hendak keluar. Namun, Kyuhyun memohon agar Kibum tidak meninggalkannya. Kibum menurut, bukan untuk Kyuhyun, tapi karena ibunya di situ, Kibum tak akan bisa mengabaikan Kyuhyun seenaknya. Dia duduk di ranjang, sebelah Kyuhyun. Tangannya dicengkeram erat oleh Kyuhyun, dan dia pasrah.
Dau jam setelahnya...
Masih bau minyak gosok, dengan badan lemas bukan main, tapi mulut terus menggerutu. Tangannya mencengkeram lengan Kibum dan kebetulan apa memang sengaja, Kibum tidak melepaskan diri. Bajunya dipakaikan lagi sebelum dua pembantu dan ibunya Kibum keluar dari kamarnya. Terus menahan tangis, mengubahnya jadi gumaman penyesalan, lalu mengantuk, kemudian tidur.
.
.
.
Dia melewatkan makan malam, tapi tidak ada yang membangunkannya. Tidak masalah, karena ketika dia bangun di esok harinya, badannya benar-benar sudah enakan. Betul kata ibunya Kibum, dipijat menghilangkan pegal. Dia bisa menggerakkan badannya lagi lebih leluasa daripada kemarin. Memang masih terasa sakit, tapi jelas jauh lebih baik dari sebelumnya.
Ketika dia menggeser tubuhnya, miring ke sebelah kanan, ada kekasih hatinya di sana. Sedang tidur. Kyuhyun langsung menarik sudut-sudut bibirnya. Senang. Kibum benar-benar kekasih yang bertanggung jawab. Terlepas keberadaannya di sini kemungkinannya atas paksaan dari ibunya, Kyuhyun tidak peduli.
Dia menggeser tubuhnya lagi. Mendekati Kibum. Mengambil lengan Kibum untuk dilingkarkan di pinggangnya sendiri. Lengannya juga dilingkarkan balik ke tubuh Kibum. Dia memejamkan mata sejenak, mencoba merasakan tidur dalam dekapan Kibum. Sampai beberapa menit kemudian dia membuka mata, tersenyum lagi, kemudian mengecup pipi Kibum.
Kibum terganggu tidurnya, mengulat, kemudian bangun. Lengannya ditarik dari Kyuhyun, lalu mendorong Kyuhyun dengan lembut agar menjauh darinya.
"Kau bau!"
Semangat Kyuhyun menurun. Dia cemberut.
Kibum melirik ke jam di meja. Masih terlalu pagi. Dia bisa tidur 1-2 jam lagi. "Kalau masih mau aku di sini, mandi sana!"
"Aku masih sakit," Kyuhyun beralasan. Lagipula kalau dia bau, sejak semalam Kibum tahan tidur dengannya, kenapa sekarang tidak?
Kibum membalik badan, ingin meneruskan tidurnya. "Sakit bukan berarti tak mandi."
"Tapi ini masih gelap," dalihnya.
"Mandi air panas!" Kibum menyelimuti dirinya sendiri. "Pakai sabun yang banyak!" Diam sebentar, kemudian menambahkan. "Keramas juga!
Kibum tak suka baunya. Kyuhyun menyesalkan hal itu. Kalau dia sendiri, sebau apa pun Kibum, dia akan tetap suka. Namun, ketika Kyuhyun mencoba mencium bau tubuhnya sendiri, minyak gosok yang semalam berbau tidak enak, lebih tidak enak lagi setelah bercampur dengan keringatnya saat tidur. Terasa mau muntah. Benar kalau Kibum menyuruhnya mandi.
Karena sudah bisa bergerak, dia juga sudah bisa memindahkan badannya sendiri dari ranjang ke kamar mandi. Dia mandi air hangat, lebih panas dari yang biasa dia gunakan mandi. Menggosok badannya dengan sabun yang banyak, keramas dengan sampo sampai bersih, seperti kata Kibum. Selesai dengan mandinya, dia segera mengganti baju dan kembali ke tempat tidur. Baru juga naik ranjang, Kibum meliriknya, menyelidik.
"Aku sudah tidak bau."
"Keringkan rambutmu!"
Sudah dikeringkan dengan handuk, tapi belum benar-benar kering. Kyuhyun pun harus menurut lagi. Menunda naik ke ranjang, mengambil pengering rambut, kemudian mengeringkannya sendiri. Setelah benar-benar kering, baru dia berani naik ke ranjang.
"Sudah tidak bau, sudah mengeringkan rambut, aku boleh tidur lagi?"
Kibum tidak menjawab. Langsung memejamkan matanya. Tandanya boleh. Kyuhyun menggeser posisi tidurnya, dekat dengan Kibum.
"Kibum..."
Kibum membuka matanya.
"Aku tidak dipeluk?"
Kibum menarik guling dari atas kepalanya, meletakkan guling itu di pelukan Kyuhyun. Kyuhyun mencemooh tindakan Kibum. Waktu di kemah, Kibum hampir-hampir memerkosanya. Sekarang, ketika dia menawarkan diri, Kibum malah mengabaikannya. Kekasihnya itu malah membalikkan badan. Reaksi macam apa itu?
"Aku mau dicium!"
Kibum tidak merespon. Dia tidak mungkin tidak dengar apa yang Kyuhyun minta. Pura-pura tidur, dikiranya Kyuhyun tidak akan tahu? Kyuhyun melepaskan gulingnya. Bangkit dan melompati tubuh Kibum. Sekarang dia merebahkan diri di depan Kibum. Menarik lengan Kibum untuk dilingkarkan ke tubuhnya, kemudian mencium bibir kekasihnya itu.
"Morning kiss!" jawabnya ketika Kibum membuka mata, menyipit, melemparkan tatapan bengis padanya. "Mulai sekarang harus ada ciuman dalam setiap harinya. Biar aku lebih terbiasa denganmu." Kalau sudah terbiasa, kemungkinan siap untuk kegiatan ranjang yang lebih erotis akan makin cepat. Kyuhyun sampai membayangkan hari itu tiba, semesra apa mereka nanti?
"Aku tidak suka ciuman denganmu!"
"Lalu dengan apa kau suka ciuman?" Bukan siapa, tapi apa. Karena Kyuhyun tidak rela kalau Kibum sampai menyebutkan nama seseorang. Cukup namanya saja yang boleh disebutkan Kibum.
"Apa saja yang penting bukan kau!"
Kyuhyun tersenyum, tak ambil pusing. "Kalau begitu, saat berciuman denganku anggap saja kau mencium apa saja selain aku!" Karena dia tak mungkin menyerah cuma karena Kibum menolak berciuman dengannya. "Ayo tidur lagi!"
Kibum melirik Kyuhyun yang sekarang memejamkan mata. Benar-benar susah mengatasi anak nakal ini!
Kihyun
"Kekasihku demam," seorang adik kelas yang berjalan di depan Kibum tengah berbicara dengan temannya. "Pulang dari kemah kemarin itu, dia tidak bisa pindah dari kasurnya sampai sekarang."
Betul, Kyuhyun juga begitu. Seseorang yang baru pertama kali ikut kegiatan berat, akan mudah sakit. Lama-kelamaan kekebalan tubuhnya akan meningkat.
Masih berjalan di belakang dua adik kelas itu, Kibum tidak membuat suara. Bukan sengaja. Dia tidak mau mengganggu siapapun, makanya dia diam saja. Kebetulan dua adik kelas itu tidak mengetahui keberadaannya.
"Tahun lalu, sebelum jadi kekasihmu, dia juga ikut kemah. Bahkan menghabiskan seminggu di perkemahaan karena dia jadi anggota panitia. Dia baik-baik saja waktu itu, kenapa sekarang sakit?"
Jadi, kekasih adik kelasnya itu bukan pertama kalinya ikut kemah?
Penyakit bisa datang kapan saja meski seseorang sering berolahraga. Mungkin saja kemarin itu kekebalan tubuhnya sedang lemah.
"Kau dan dia tidak memanfaatkan waktu kemah kemarin untuk...?" temannya membuat pertanyaan menggantung. Meski begitu maksudnya cepat tersampaikan.
Segera meletakkan telunjuk di depan mulut, "Stttt!"
"Jadi benar...?"
Adik kelas itu membekap mulut temannya.
Kibum menebak adik kelas dan kekasihnya melakukan yang tidak-tidak di perkemahan. Kibum sendiri juga merencanakan hal sama sebelumnya. Hanya tujuannya berbada. Kalau rencana itu meleset, adegan panas mereka pasti akan berlanjut. Kibum tidak bisa membayangkan dirinya dan Kyuhyun melakukannya dalam tenda. Untungnya Kyuhyun terlalu polos, sampai-sampai mengatakan kalau dia belum siap. Kibum jadi merasa lega.
Kalau boleh jujur, Kibum tidak punya pengalaman di bidang itu. Namun, bukan berarti dia tidak bisa melakukannya. Bercinta sudah ada dari zaman primitip. Tidak perlu belajar, nalurinya akan membimbing. Hanya saja, kalau suatu saat hal primitif itu menguasainya, semoga bukan Kyuhyun yang jadi partnernya.
Setelah berhasil membungkam temannya, adik kelas itu menceritakan pengalamannya. "Ini pertama kalinya. Aku tidak tahu kalau itu bisa membuatnya sakit."
"Kau memaksanya?"
Adik kelas itu menggeleng. Diam sebentar. "Tidak begitu tepat. Aku meminta, dia mengiyakan."
"Ooo!" Temannya membuat ekspresi lucu.
"Gara-gara waktu itu..." Dia ragu mengatakannya, tapi akhirnya diceritakan juga. "...kau tahu Kyuhyun, kan?"
"Si anak nakal itu?"
Dia mengangguk. "Dia ikut kemah kemarin."
"Eh, aku tidak melihatnya? Panitia memerbolehkannya ikut? Tumben tidak ada masalah meski dia ikut."
Yang dibicarakan itu kekasihnya. Kesannya Kyuhyun jadi ancaman bagi semua orang di sekolah. Semua yang ada di anak itu buruk di mata orang lain. Ya, memang benar Kyuhyun itu buruk. Dia nakal, licik, dan pembohong besar. Terlepas dari semua itu, Kibum tahu Kyuhyun melakukannya karena sebuah alasan. Ingin punya teman.
Berpikir positif tentang Kyuhyun, bukan berarti Kibum membela anak nakal itu. Dia hanya merasa bertangung jawab atas Kyuhyun dan tindakannya. Sebagai orang yang dibebani amanah dari orang tua Kyuhyun, sebagai anak ibunya yang tidak pernah mengecewakan, dan sebagai kekasih, dia akan mengontrol tindakan Kyuhyun. Setelah ini tidak boleh ada berita orang lain dikerjai Kyuhyun.
"Ternyata dia kekasihnya Kibum hyung." Mata Kibum menyipit sebelah setelah namanya disebut. "Aku melihatnya berjalan dengan Kibum hyung dan teman-temannya. Kupikir salah lihat, tapi setelah kuamati, ternyata benar, itu Kyuhyun si anak nakal." Dia mendekat pada temannya, mulai berbicara lebih pelan karena hampir memasuki area kelas. "Aku rasa dia tidak buat masalah akhir-akhir ini karena Kibum hyung."
"Maksudmu?"
"Kibum hyung berhasil menahklukkannya."
"Ooo," sekali lagi temannya membuat ekspresi terkejut yang lucu. "Jadi, kalau dia buat masalah, kita tinggal laporkan dia pada Kibum hyung?" Dia mengangguk, mengangguk bersamaan dengan temannya. "Lalu apa hubungannya Kyuhyun denganmu dan kekasihmu?"
Adik kelas yang tidak menyadari keberadaan Kibum, dengan terus terang menjelaskan. "Malam pertama di perkemahaan, aku berjalan di belakang Kibum hyung dan Donghae hyung saat kembali ke tenda. Setelah Donghae hyung pergi, Kibum hyung dan Kyuhyun tampak melakukan sesuatu di tendanya. Aku mendengarnya dengan jelas." Jeda sejenak untuk ambil nafas. Ceritanya agak sedikit berbeda. Dia mendengar, tapi tidak terlalu jelas. Untuk lebih membuat ceritanya kuat di mata temannya, dia harus membuatnya sedikit berbeda. "Ciuman-ciuman kasar, lalu suara baju dibuka paksa, dirobek. Ada desahan-desahan juga. Tenda mereka tidak terlalu besar, jadi aku lihat sedikit bagian gerak-gerak itu. Kemudian aku pergi sebelum orang lain menyangkaku mengintip mereka."
"Ooo," Itu reaksi ketiga yang sama persis seperti sebelumnya.
"Setelah mengetahui adegan itu, aku gelisah sampai esok harinya. Di malam berikutnya, coba kutanyakan pada kekasihku, eh, dia setuju. Ya, jadi begini akhirnya."
Kibum mengerat gigi-giginya, menahan amarah. Meski dia sendiri yang salah, melakukan adegan dewasa di tenda kecil, hanya untuk pembuktian, dia tidak akan menyangka kalau ada yang mengetahui perbuatannya. Tidak menyangka juga kalau adegan yang digambarkan adik kelasnya itu lebih erotis dari kenyataan. Sekarang tambah lagi dua orang yang memerberat proses berpisahnya dari Kyuhyun.
Hendak mengejutkan kedua adik kelas itu, Eunhyuk menepuk pundaknya dari belakang.
:"Kibum,"
Kedua adik kelas menoleh, mendapatinya dan Eunhyuk berada di belakang, mereka melotot horor. Ketakutan. Mau lari, tapi Kibum segera menyipitkan mata ke arah mereka. Mengisyaratkan keduanya untuk tidak pergi sebelum bertanggung jawab dengan omongan mereka.
"Eh Kibum, semalam aku sibuk setengah mati. Ada kumpul keluarga besar di rumahku, jadi tidak ada waktu mengerjakan PR." Setiap hari Eunhyuk tidak mengerjakan PR, tapi karena adik kelas di dekat mereka, dia harus punya alasan. "Eh, aku mau pinjam buku PR-mu!"
Shit!
Kibum terkejut, tapi ekspresinya ditahan. Hanya menghembuskan nafas berat mendengar kata PR disebutkan Eunhyuk. Semalam dia tidur di rumah Kyuhyun, dia sendiri lupa mengerjakannya. Lagi-lagi gara-gara Kyuhyun, dia dapat masalah.
Segera menarik Eunhyuk, melewati dua adik kelas yang menunggu ketakutan di hadapannya, membawa temannya itu berjalan cepat ke kelas. Meski dua adik kelasnya itu terlihat lega setelah diabaikannya, Kibum tidak ada waktu lagi. Dia perlu mengejakan PR-nya secepat mungkin. Kalau pagi ini tidak selesai, terpaksa untuk pertama kalinya Kibum menyalin pekerjaan temannya.
Kihyun
Changmin menatap tidak berminat pada Kyuhyun yang tidak menggunakan baju sekolah, tapi datang ke sekolah. Sekolah sudah usai, tidak mungkin secepat kilat Kyuhyun mengganti bajunya dengan baju rumahan seperti sekarang ini.
"Apa yang mau kau berikan padaku?" tanyanya sambil memandangi dua tas belanjaan dari dua merek produk kelas atas. Merek pakaian terkenal dan merek tas terkenal.
"Aku mau minta tolong padamu."
"Menyogokku supaya mau dimintai tolong?"
Kyuhyun menggeleng. Jelas Changmin salah paham. Dia tidak ingin memberikan apa pun pada teman, tapi bukan temannya itu. Minta tolong, tanpa imbalan. Kalau Changmin bersedia, Kyuhyun akan jadikan dia sahabat.
"Kau sudah kaya, kenapa aku harus memberimu sogokan?" Kyuhyun menyerahkan kedua tas itu pada Changmin. Changmin melihatnya dan mencibir melihat isinya barang-barang khusus untuk perempuan. "Berikan ini pada seseorang."
"Kau berubah pikiran tentang Kibum? Menyukai perempuan, sekarang?"
Tidak mungkin. Kyuhyun terlanjur suka dengan Kibum, kenapa dia harus menyukai orang lain? Kyuhyun tipe pembuat masalah, dia perlu dilindungi kalau ada yang menuntut balas padanya. Lagipula dia sendiri memang lebih suka dilindungi daripada melindungi. Jadi, bersama Kibum menjadi pilihan tepat daripada dengan perempuan.
"Ini untuk temannya Kibum."
"Oh, kau menyogok temannya Kibum untuk memudahkan jalanmu?" Changmin mulai tak berminat lagi. "Bukankah Kibum sudah mulai suka padamu?"
"Ini bukan sogokan. Dia akan menghadiri sebuah pesta keluarga, karena dia tipe masa bodoh dalam berpenampilan, dia tidak tahu harus mengenakan apa di pesta nanti. Dia minta tolong padaku untuk memilihkan beberapa barang yang pas." Kyuhyun masih belum mendapati Changmin yang antusias. Namun, kalau dipikir-pikir, Changmin memang tidak pernah menampakkan ekspresi berminat pada apa pun. "Ini pakai uangnya, bukan uangku."
"Mau-maunya kau melakukannya!" Changmin masih belum bersedia.
"Temannya Kibum, temanku juga."
"Kenapa tak antarkan sendiri padanya?" tolaknya lagi.
"Aku masih harus pura-pura sakit supaya nanti malam Kibum menginap di rumahku lagi."
Changmin berpikir sejenak, kemudian mengatakan kalau dia sibuk.
"Luangkan sedikit waktu!" Kyuhyun meminta. "Hitung saja sebagai hutang. Aku akan membalasnya nanti!"
Segera mengambil alih dua tas itu dengan kasar. " Yang mana orangnya?"
"Gadis manis berkaca mata bulat, paling pintar di kelasnya," terang Kyuhyun sambil tersenyum senang. "Terima kasih, Chang!"
Kihyun
Setelah membaca pesan dari Kibum, bahwa kekasihnya itu tidak bisa datang, apalagi menginap, Kyuhyun kesal. Sudah persiapan pura-pura sakit juga. Tak ada gunanya sekarang.
Dia mendial nomor Kibum untuk minta penjelasan.
"Aku kan masih sakit!"
Kibum tidak melihatnya sakit tadi pagi, jadi dia masih menolak untuk datang ke rumah Kyuhyun. Dia mengatakan ada kerja kelompok. Karena Kibum duduk di kelas tiga, sebentar lagi lulus, ada banyak hal yang harus dikerjakan.
"Di rumah Siwon, kan? Aku akan ke sana!"
Kibum menolaknya. Lagipula dia tidak sekelas dengan Siwon, jelas bukan rumah Siwon tujuannya. Kibum juga meminta Kyuhyun untuk tidak banyak mengganggunya, karena dia butuh fokus untuk memersiapkan ujian akhir. Dan telepon diakhiri oleh Kibum.
Menelepon lagi, handphone Kibum tampaknya dimatikan.
Menelepon rumah, ibunya Kibum mengatakan kalau Kibum sedang keluar.
Menelepon Ada, yang mengangkat teman sekamarnya, mengatakan kalau Ada sudah tidur. Menyuruhnya meneleponnya lagi esok hari.
Pergi ke rumah Siwon, rumah itu sepi.
Pulang dari rumah Siwon, Kyuhyun memekik karena frustrasi. "Kibum, kemana kau pergi?" Mengabaikan tatapan kasihan dari pembantu-pembantunya, langsung melemparkan diri si sofa ruang tamu.
.
.
.
Kibum tidak menjemputnya ketika akan berangkat ke sekolah. Kekasihnya itu tidak bisa dihubungi. Terpaksa berangkat sendiri.
Di lorong sekolah dekat dengan ruang guru, dia berpapasan dengan si cupu yang tidak lagi cupu. Kaca mata bulat barunya membuatnya lebih jauh lebih manis dari sebelumnya. Gadis itu masih kikuk melihat Kyuhyun, agak-agak takut.
"Terima kasih!" katanya gugup.
Meski tidak tahu kenapa dia diberi hadiah, tapi dia tahu kalau Kyuhyun yang memberikan hadiah itu untuknya. Seharusnya terima kasih saja tak cukup. Nanti ada kesempatan, dia pasti membalas kebaikan Kyuhyun.
"Kau cantik, manis, dan pintar, patut mendapatkannya!" kata Kyuhyun dengan nada sekeren mungkin. Namun tampang sendunya mengurangi nilai kekerenan ucapannya. "Tidak usah dibahas lagi!" Selain menghindari orang lain tahu kalau dia menghadiahi barang-barang pada gadis itu, kemudian disangka menyogok seperti kata Changmin kemarin, dia juga menghindari prasangka pamrih.
Gadis itu hanya tersenyum. Senyum nyaman, tapi sedikit takut.
"Kau ada masalah?" tanyanya penasaran.
Kyuhyun menggeleng. "Hanya sedang kesepian."
"Kibum ada di perpustakaan sekarang." Berarti benar kalau Kibum memiliki banyak hal yang harus dikerjakan. Kyuhyun mulai maklum. Kibum harus sukses. Untuk masa depannya, masa depan mereka berdua. Duh, Kyuhyun berharap terlalu tinggi. Tapi... "Sedang ngobrol dengan Siwon. Hubungan kalian dalam keadaan baik, kan?" ...prasangka baik Kyuhyun patah.
"Tentu saja. Hanya dia jarang bersamaku."
"Kalau begitu, pasti Siwon yang merongrong Kibum supaya meninggalkanmu." Itu opini pribadi, tapi ucapannya seyakin fakta. "Kudengar mereka bersahabat. Mungkin Siwon tak suka padamu, makanya dia menghasut Kibum."
Mengenal gadis satu ini memang suatu keberuntungan. Meski Kyuhyun tidak meminta, dengan suka rela gadis itu memata-matai Kibum untuknya. Malahan beberapa waktu lalu berikrar mau membatu, meski mengatakan hanya sebisanya saja.
"Biarkan," Kyuhyun pasang muka sedih. Si pembohong kembali. "Aku apa kalau dibanding dengan sahabatnya?"
Meski takut dengan Kyuhyun, gadis itu merasa kasihan juga.
"Mungkin kau harus buat satu hal mengejutkan supaya Kibum memerhatikanmu lagi!"
Karena beberapa saat lalu, dia mendengar dari adik-adik kelasnya kalau kenakalan Kyuhyun mereda gara-gara kekasihnya. Meski tidak dijelaskan siapa kekasih Kyuhyun, sudah pasti yang dimaksud itu Kibum yang mengendalikan Kyuhyun. Membuat keonaran kecil, akan menarik perhatian Kibum, kan?
.
.
.
"Kudengar kau mengenal kekasihnya Kyuhyun?" tanya si kaca mata bulat pada adik kelas yang kemarin menyebarkan gosip soal Kyuhyun dipawangi kekasihnya. "Siapa kekasihnya?"
"Memangnya kenapa, Senior?"
"Kyuhyun mengerjai orang lagi." Dia menyebutkan nama, membuat adik kelas itu melotot karena terkejut.
"Itu teman sekelasku!" pekik si adik kelas. "Kyuhyun benar-benar kurang ajar!"
"Kau bisa mengatasinya?" Si gadis pura-pura ragu. "Lebih baik kau..."
"Aku harus laporkan ke Kibum hyung!"
Dia tidak berpamitan, langsung berlari secepat dia bisa ke arah kelas Kibum berada. Melewati lorong-lorong kelas yang rasa-rasanya lebih jauh dari biasanya. Karena dia ingin cepat sampai, kalau tidak, teman sekelasnya bisa diapa-apakan Kyuhyun.
Beberapa bulan sebelumnya teman sekelasnya yang lain juga dikerjai Kyuhyun. Karena temannya itu cengeng, dia sampai menangis dan hampir-hampir tidak mau sekolah lagi. Untungnya waktu itu kepala sekolah berhasil membujuk Kyuhyun untuk minta maaf. Kyuhyun memang menemui gadis itu, bukan minta maaf, tapi untuk menambahkan ejekan. Bagusnya, ejekan dari Kyuhyun membuatnya lebih tegar, kemudian memutuskan tetap sekolah. Sekarang gadis itu malah tidak cengeng lagi.
Di kelas, Kibum hendak duduk setelah kembali dari perpustakaan. Si adik kelas memanggilnya, menimbulkan kegaduhan kecil di kelasnya.
"Hyung... Kibum hyung!"
Sekelas memerhatikannya.
"Pacarmu, Hyung... pacarmu mengerjai teman sekelasku!" teriaknya dari depan kelas. teman sekelas Kibum memandang bolak-balik, dari Kibum ke adik kelas itu. "Tolong hentikan dia, Hyung!"
Kibum meradang. Siapa anak itu, berani benar menyebar fitnah?
Atau memang benar, kekasih yang tak dianggapnya membuat onar lagi?
Semoga saja adik kelasnya itu tidak menyebutkan nama!
Kibum pura-pura santai, tak tahu menahu dengan apa yang dikatakan adik kelasnya itu, sampai...
"Kyuhyun tak akan berhenti kalau bukan kau yang menyuruhnya, Hyung. Tolong hentikan Kyuhyun sebelum temanku hancur!" ekspresi dan permintaannya lebai, tapi kelebaiannya itu membuahkan pandangan menyudutkan dari seisi kelas kepada Kibum.
Fuck you! Kibum mengumpati Kyuhyun.
Pandangan teman sekelas mengintimidasi. Sebelum Kibum diintrogasi, dia beranjak. Awas saja, Kyuhyun. Setelah ini dia akan balas dendam!
To be continue
Jenis balas dendam apa yang cocok untuk diterapkan pada Kyuhyun?
