Chanyeol dengan cepat melajukan mobilnya menuju sebuah apartemen di kawasan Sinchon. Ia baru saja mendapatkan laporan dari kepolisian mengenai keributan disana. Bukan sekedar laporan keributan—sebenarnya. Adalah mengenai sidik jari Baekhyun dan Sehun yang ditemukan di apartemen itu yang membuat Chanyeol kalut. Setelah seseorang—yang Chanyeol duga adalah Oh Sehun—menerobos ke markas interpol dan membawa kabur Baekhyun, baru sekarang lagi Chanyeol mendapatkan kabar tentang kekasih mungilnya itu.

Chanyeol mungkin tak akan sekalut ini jika saja laporan yang ia dapat tidak melibatkan pertumpahan darah. Tapi faktanya, kepolisian mengatakan bahwa mereka menemukan pisau Eickhorn dengan darah Baekhyun disana. Yang lebih mengejutkannya lagi, darah Kim Jongin—si pembunuh bayaran dengan julukan 'Shadow'—juga ditemukan di area yang sama dimana kepolisian menemukan darah Baekhyun. Kemungkinan besar keduanya terlibat dalam pertarungan sengit di atap gedung apartemen tersebut.

Chanyeol mengeratkan pegangannya pada kemudi, rahangnya mengeras tanpa sadar. Pikirnya, kenapa Baekhyun bisa terlibat dalam pertarungan pisau dengan Kim Jongin? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Baekhyun? Chanyeol bahkan ragu Baekhyun bisa melakukan pertarungan jarak dekat, mengingat pria mungil itu selalu menggunakan pistol. Dan sekarang ia bertarung dengan salah satu pembunuh bayaran yang bahkan para interpol tidak tahu bagaimana rupanya, dengan ceceran darah di sebilah pisau pula? Bagaimana mungkin Chanyeol tidak resah memikirkannya?

"Sial. Apa yang sebenarnya kau lakukan, Baek?"

.

.

.

###

Azova10 and Sayaka Dini

presents

RAVEN

Chapter 8 The Aim of the Revenge

Main Casts: Oh Sehun, Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Casts : Choi Seunghyun, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Gong Yoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Kim Yeri (RV)

Genre : Romance, Crime/Action

Rate : M

Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy

FF INI TIDAK BERMAKSUD MENYINGGUNG UNSUR SARA ATAU SIAPAPUN

###

.

.

.

Chanyeol bergegas keluar dari mobilnya begitu sampai di tempat tujuan. Tampak garis polisi dipasang di sekitar TKP, dengan beberapa polisi yang mengamankan agar orang-orang menjauh dari sana kecuali para petugas berwajib. Minseok, Jongdae, dan Seunghyun sudah berada disana. Mereka sedang mendiskusikan sesuatu setelah seorang polisi meninggalkan mereka.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Chanyeol begitu bergabung dengan anggota tim-nya.

"Belum bisa dipastikan." jawab Minseok. "Polisi mengatakan beberapa penghuni apartemen mendengar kegaduhan di kamar 94 sekitar pukul empat pagi. Tapi begitu dicek, tak ada seorangpun disana, hanya keadaan kamar yang sangat kacau dan darah bercucuran di beberapa tempat—termasuk atap gedung apartemen. Sepertinya mereka kabur sebelum para polisi datang."

Darah, katanya.

"Darah itu..apa benar itu darah Baekhyun?" tanya Chanyeol was-was. Jongdae dan Minseok saling melempar pandangan, sebelum akhirnya dengan berat hati mengangguk membenarkan.

"Pihak kepolisian dan interpol sedang mencari keberadaan mereka melalui rekaman CCTV di sekitar sini. Pencarian melalui jejaring sosial juga dilakukan. Mereka akan segera mengabari begitu menemukan sesuatu." Jongdae menimpali.

Seunghyun menghela napas melihat Chanyeol terdiam setelahnya. "Kau masih tak mau mengatakan informasi apa yang kau temukan di Gwangju?" Pertanyaan itu sontak membuat Chanyeol menoleh. "Kau tahu kita tak punya banyak informasi tentang Raven. Dan melihatmu menginterogasi Baekhyun kemarin, aku bisa tahu kau mengetahui motif pembunuhan yang dilakukannya."

Chanyeol menelan kasar ludahnya. Ia tak langsung menjawab, malah menatap ke arah lain untuk menghindari tatapan menuntut Seunghyun. "Aku..tak bisa mengatakannya pada kalian."

"Kenapa tidak?" Jongdae menyudutkan. Kentara ia mulai jengah dengan sikap Chanyeol. "Kau tahu kasus ini bukan kasus yang sederhana, Chanyeol. Setidaknya dengan memberikan informasi, kita bisa melakukan sesuatu untuk menyelesaikannya. Bukankah kau juga bagian dari tim 9?"

"Jongdae, tenanglah." Minseok menengahi. Ia menghela napas, lalu menatap Chanyeol. "Chanyeol-ah, kita berada disini bukan hanya untuk menangkap Raven, tapi juga untuk membantu Baekhyun keluar dari masalahnya. Kau tak bisa menangani hal ini sendirian hanya karena kau tak mau berbagi informasi dengan kami. Itu akan–"

"Bukannya aku tak mau berbagi, Hyung." Chanyeol menyela. Raut kesedihan lagi-lagi muncul di wajahnya. "Ini..bukan hanya tentang motif pembunuhan yang dilakukan Baekhyun. Ini jauh lebih rumit dari yang kalian bayangkan."

"Kalau begitu, beri tahu kami." ucap Seunghyun. "Serumit apapun itu, kita akan cari jalan keluarnya bersama."

Chanyeol termenung.

###

Baekhyun menatap iba pada sosok Sehun yang tengah melamun. Lagi-lagi ia begitu. Semenjak Kyungsoo dikebumikan kemarin, tak sekalipun Baekhyun melihat Sehun tak melamun. Matanya selalu menatap lurus ke depan, tampak penuh dengan kesedihan. Baekhyun bahkan masih ingat ketika semalam Sehun diam-diam menangis dengan mata terpejam. Ia tahu pria tinggi itu tak tertidur, melainkan mengubur isakannya. Sehun pasti sangat terguncang dengan kematian sepupunya.

Baekhyun ingin sekali menghibur Sehun, hanya saja ia tak tahu bagaimana caranya. Ia tak pernah melihat Sehun sediam ini sebelumnya, terlebih kehilangan keluarga bukanlah perkara mudah untuk dilupakan. Itu karena Baekhyun juga pernah mengalaminya saat orangtuanya meninggal. Namun membiarkan Sehun terlarut dalam kesedihan juga bukan ide yang bagus, ia bahkan belum makan semenjak kemarin.

"Hey, kau lapar?" tanya Baekhyun, membelah keheningan. "Aku akan membeli makanan untuk kita. Kau mau makan apa?"

Tapi yang ditanya urung menjawab. Sehun masih bergeming disana, melamun.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Dadanya berdenyut nyeri. Ia tak suka melihat Sehun seperti ini. Rasanya aneh. Lebih baik Sehun bersikap menyebalkan seperti biasanya, dengan begitu Baekhyun tahu bahwa pria albino itu baik-baik saja. Sikapnya yang seperti ini..hanya membuat Baekhyun khawatir.

PLETAK!

Sehun meringis saat sebuah pukulan telak mendarat di belakang kepalanya. Ia tatap dengan kesal si pelaku yang berdiri di belakangnya. "Apa yang kau–"

"Berhenti bersedih, bodoh!" sentak Baekhyun. Matanya memerah, dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya. "Kau pikir hanya kau yang merasa kehilangan Kyungsoo?! Kau pikir hanya kau satu-satunya yang bersedih disini?! Aku juga, bodoh!"

"Apa?"

"Aku–" Baekhyun menelan ludahnya susah payah. Teringat bagaimana tubuh mungil Kyungsoo yang berlumurkan darah dan wajah pucat pasi, membuat Baekhyun merasakan sesak tak terdeskripsikan di dadanya. Menyiksanya sampai airmata menumpuk di pelupuk matanya. "Aku juga..kehilangan Kyungsoo. Tapi.." Ia menatap obsidian Sehun. "Kyungsoo pasti tak suka jika kita seperti ini terus-terusan. Karenanya, berhentilah bersedih, Oh Sehun.."

Sehun tersentak dibuatnya. Selama ini, ia pikir hanya dirinya yang merasa terpuruk dengan kematian Kyungsoo, tapi ia melupakan satu hal tentang pria bermata sipit di hadapannya. Bahwa sebenarnya Baekhyun juga peduli pada Kyungsoo. Baekhyun-pun kehilangan Kyungsoo—sama seperti dirinya. Airmata itu yang mengatakannya.

Dan lagi, ucapan Baekhyun memang benar.

Kyungsoo pasti tak'kan suka melihatnya terus-terusan bersedih.

Sehun mendengus. "Yak, kau sedang menghiburku?"

"Aish, aku sedang serius, sialan!" hardik Baekhyun seraya mengusap hidungnya yang berair.

"Caramu benar-benar payah."

Baekhyun menganga tak percaya. "Kau menyebutku 'payah'?!"

Sehun tak membalasnya. Pria tinggi itu justru tersenyum tulus pada Baekhyun, membuat si mungil tertegun di tempatnya. "Tapi terima kasih, Baekhyun-ah.."

Detik itu, Baekhyun merasakan jantungnya berdentum keras.

.

.

Ayunan tungkai Gong Yoo berhenti di sebuah taman di Seoul. Netranya bergulir mencari sosok Chanyeol yang kemarin membuat janji temu dengannya. Pria berwajah kotak itu menghela napas ketika sosok yang dicarinya melambaikan tangan ke arahnya. Chanyeol tengah duduk di sebuah bangku yang berhadapan dengan perosotan anak-anak.

"Hey." Chanyeol menyapa ketika Gong Yoo duduk di sebelahnya. Ia berikan segelas kopi yang tadi dibelinya dalam perjalanan ke taman. "Apa kabar?" tanyanya basa-basi.

"Aku tak percaya kau memintaku datang ke Seoul."

Chanyeol terkekeh pelan. "Aku bahkan lebih tak percaya kau memintaku untuk bertemu di taman."

Gong Yoo mendengus. Ia sesap kopinya sesaat, lalu memfokuskan pandangannya ke depan. "Ini tentang Harry, iya'kan?" selidiknya. Dan Chanyeol berdehem. Well, Gong Yoo sudah menduga ini sebelumnya. Lagipula, tidak mungkin juga Chanyeol memintanya datang jauh-jauh ke Seoul jika ini bukan mengenai hal-yang-tak-boleh-dibicarakan-di-Gwangju. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya langsung ke intinya.

"Aku ingin kau membantu penyelidikanku."

Dahi Gong Yoo berkerut mendengarnya. "Maksudmu?"

"Kasus Raven. Aku berencana untuk membongkar kedok Kardinal Cheon Hojin." ucap Chanyeol lugas. Sorot matanya menampakkan amarah terpendam. "Tapi aku membutuhkanmu sebagai informanku."

"Informan?" tanya Gong Yoo tak percaya dengan ucapan pria di hadapannya. "Chanyeol, kau lupa pihak gereja masih mengawasiku dengan ketat? Aku tak bisa memberikan–"

"Aku tahu, aku tahu." Chanyeol menyela. "Aku tak memintamu untuk menangani kasus ini sendirian, justru memintamu untuk menyerahkan semuanya pada interpol. Kami yang akan menyudutkan Kardinal Cheon. Kami yang akan menuntut sistem yang ia salah-gunakan. Kami pula yang akan menyeretnya ke balik jeruji."

"Sungguh? Bagaimana caranya?" tanya Gong Yoo dengan intonasi menantang.

"Bukankah waktu itu kau pernah mengatakan ada dokumen rahasia yang membuktikan bahwa Kardinal Cheon mengetahui perbuatan bejat para pastor beberapa tahun yang lalu, tapi malah tak melakukan tindakan apapun?"

"Ya, tapi dokumen rahasia itu tak ada padaku. Aku harus mengajukan mosi pada hakim agar dokumen itu dibuka untuk umum. Dan aku tak yakin Dewan Pengawas Pengacara akan berpikir dua kali untuk memecatku jika mendapatkan laporan tentang hal ini dari pihak gereja lagi."

"Itu tak'kan terjadi." tandas Chanyeol. "Kali ini aku sendiri yang akan bicara langsung pada hakim yang menangani dokumen rahasia itu agar bisa diteliti pihak interpol. Kau hanya perlu bekerja di belakang kami, menjadi informan gelap. Itu saja."

Lalu hening.

Gong Yoo terdiam. Sedikitnya ia salut melihat kesungguhan Chanyeol, namun di saat bersamaan ia merasa kasihan. "Ini tidak akan mudah, kau tahu itu."

Chanyeol tak langsung menjawab. Ia tatap gelas kopinya. Sesaat, pikirannya melayang pada sosok yang ia cintai. "Aku tahu, aku paham hal itu. Tapi..ini satu-satunya cara. Aku benar-benar ingin membantu Baekhyun keluar dari kasus ini. Aku tak ingin melihatnya membunuh siapapun lagi, apapun alasannya. Karena itu," Chanyeol tatap manik Gong Yoo dengan raut serius—memantapkan niatnya. "Bantu aku."

Lagi, Gong Yoo terdiam. Ia termenung—lebih tepatnya. Beberapa kasus yang ia baca mengenai pembunuhan yang dilakukan Raven memenuhi benaknya. Rasanya masih tidak percaya bahwa Raven yang selama ini diburu para interpol adalah si mungil Harry yang dulu ia kenal begitu pendiam.

"Kau tentu sadar betul bahwa tindakanmu ini juga akan mengirimkan Harry ke penjara, bukan?"

Chanyeol tersentak. Ia menatap ke bawah. Tiba-tiba tenggorokannya terasa sakit. "Tidak apa." ucapnya lirih. "Walaubagaimanapun, yang dilakukannya adalah tindakan kriminal. Kau pasti mengerti sekalipun tak kujelaskan. Hanya saja..sedikitnya aku ingin meringankan hukuman yang kelak ia terima."

Gong Yoo menghela napas karenanya. Kalau sudah begini, ia sulit berkata 'tidak'. Terlebih keinginannya untuk menyelesaikan kasus Baekhyun masih belum padam, sementara di hadapannya, Chanyeol menawarkan kerja sama yang membantu posisinya yang tengah diawasi ketat oleh pihak gereja. Siapa tahu dengan membiarkan interpol mengambil alih, akan ada titik terang yang selama ini ia cari?

"Bukti itu masih belum cukup."

Alis Chanyeol bertautan—kebingungan. "Maksudmu?"

"Kau harus memiliki korban untuk memberikan kesaksian."

"Bukankah kau pernah menangani korban-korban untuk kasus ini? Hubungi saja–"

"Mereka tidak akan mau, Chanyeol." Gong Yoo memotong. Tikungan alis Chanyeol yang tajam menjadi respon. Gong Yoo-pun melanjutkan, "Kasus ini sudah lama tak menemukan titik terang. Para korban yang dulunya bersedia untuk bersaksi juga banyak yang menyerah. Apalagi setelah tahun berlalu, mereka pasti tak mau ambil resiko dengan tampil di muka umum. Jadi sekalipun kau mendapatkan dokumen rahasia itu, akan sulit untuk menangani kasus ini jika tak ada kesaksian dari korban."

Chanyeol tampak berpikir. Tak begitu lama, karena kemudian si jangkung menatap Gong Yoo kembali. "Bagaimana dengan Baekhyun?"

"Harry?"

"Ya, Baekhyun adalah salah satu korban. Aku yakin dia tak'kan keberatan untuk memberikan kesaksiannya."

Well, secara teknis, itu benar. Tapi entah kenapa, Gong Yoo pikir Baekhyun tak'kan menyetujui ide ini begitu saja.

"Aku ragu. Tapi sepertinya tak ada salahnya dicoba. Dimana dia sekarang?"

"Dia sedang dalam pencarian."

Gong Yoo mengernyit. "Apa maksudmu dengan 'sedang dalam pencarian'? Kupikir waktu itu kau buru-buru kembali ke Seoul karena Harry sudah tertangkap?"

"Ada kejadian tak terduga waktu itu. Tapi kami akan segera menemukannya." jawab Chanyeol penuh keyakinan.

"Well, sebaiknya begitu." Gong Yoo bangkit dari duduknya, bersiap untuk pergi. "Aku tak bisa menjamin apa-apa saat ini. Akan sangat sulit menuntut Kardinal Cheon Hojin jika kalian tak memiliki bukti yang utuh, bahkan jika aku menjadi informan gelap kalian."

Chanyeol bergeming di tempatnya ketika Gong Yoo pergi dari sana. Pandangannya lurus ke depan, memikirkan cara cepat untuk menemukan Baekhyun yang keberadaannya masih belum diketahui. Walaubagaimanapun, tekadnya untuk mengakhiri kasus Raven sudah bulat. Dan ia tak'kan membiarkan apapun menghalangi jalannya.

.

.

Sehun menghela napas ketika dirinya berdiri di depan rak rokok dalam mini market yang baru saja ia masuki. Niatannya kesana adalah membeli sebotol bir, sekedar untuk melepaskan rasa penat, tapi saat melihat deretan rokok yang salah satunya adalah yang sering dibeli Kyungsoo, niatannyapun berubah. Pria berkulit pucat itu mengambil salah satu rokok tersebut, lalu berjalan menuju rak makanan.

"Omo~ tampannya!" Yeri—si penjaga kasir dalam mini market itu—memekik tertahan saat melihat sosok Sehun. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia mengeluhkan betapa bosannya kota kelahirannya, dan sekarang seorang pria tampan bersurai ebony justru mendatangi tempat kerjanya. Seperti Tuhan baru saja memberinya bingkisan menarik. Benar-benar sebuah keberuntungan.

Aku harus memotretnya!—batin Yeri. Gadis belia itupun mengeluarkan ponselnya, mematikan suara kamera, lalu membidik Sehun beberapa kali tanpa sepengetahuan pria tampan itu. Ia berpikir untuk mengunggah foto itu ke instagram-nya agar teman-temannya iri padanya. Well, setidaknya ia memiliki sesuatu yang menarik dalam kehidupannya yang monoton.

.

.

Kekuatan media sosial zaman sekarang memang mengagumkan. Terbukti dengan beberapa menit setelah foto Sehun yang diambil Yeri diunggah ke instagram, foto tersebut menjadi viral. Minseok adalah anggota interpol pertama yang menemukannya. Tanpa berpikir ulang, ia cari asal muasal foto itu. Begitu mendapatkan koordinatnya, dengan cepat ia menghubungi Chanyeol.

"Ya, Hyung?" Suara berat Chanyeol menyambut setelah dering kedua.

"Aku menemukan Oh Sehun."

"Sungguh? Dimana?"

"Aku akan kirimkan koordinatnya. Kau langsung saja kesana, aku akan memberitahu yang lain."

"Oke, terima kasih."

Sambungan telepon ditutup oleh Minseok. Ia perhatikan kembali foto tersebut. "Semoga kau ada disana juga, Baek."

.

.

Sehun segera mengunci pintu flat sederhana yang ia sewa begitu menutupnya. Ia berjalan menuju satu-satunya kamar tidur dalam flat tersebut, dan menemukan si mungil Baekhyun tengah terlelap di sofa dekat ranjang. Sehun menghela napas. Pikirnya, pasti Baekhyun ketiduran disana selagi menunggunya. Dihampirinya sosok bersurai dirty blonde itu, menatapnya dalam diam.

"Padahal kau yang bilang lapar, tapi kenapa malah tertidur?" celetuk Sehun. Senyuman kecil muncul di sudut bibir si jangkung melihat betapa manisnya Baekhyun ketika terlelap, terutama bibir tipis berwarna coral yang menarik perhatian itu. "Kau membuatku ingin mencuri ciuman darimu lagi."

Namun Sehun tak melakukannya. Alih-alih, pria berkulit pucat itu justru bangkit dari duduknya untuk merokok di balkon. Setelah mengetahui masa lalu Baekhyun yang kelam, Sehun sebisa mungkin tak melakukan tindakan yang menjurus pada skinship. Bukan karena merasa jijik, ia hanya tak mau mengingatkan si mungil pada trauma yang mengerikan itu.

"Ngh.."

Langkah Sehun terhenti karena suara merintih di belakangnya. Ia menoleh, mengernyitkan dahinya mendapati wajah Baekhyun yang tampak pucat.

"Tidak.." Baekhyun kembali meracau dalam tidurnya. Kepalanya menggeleng beberapa kali, bulir keringat menuruni pelipisnya. "J–jangan..kumohon.."

Menyaksikan itu, Sehun urungkan niatannya untuk merokok, dan segera menghampiri Baekhyun. "Hey, bangunlah." panggilnya seraya menepuk-nepuk pelan pipi Baekhyun. Namun mata pria mungil itu masih terpejam, tubuhnya lambat laun gemetaran. Sehun mulai cemas. "Baekhyun, bangunlah! Itu hanya mimpi!"

"T–tidak, j–jangan sentuh aku!" Baekhyun meronta hebat.

"Sial." Sehun mengumpat. Sekuat mungkin ia tahan pergerakan Baekhyun, lalu mengguncang bahunya. "BAEKHYUN, BANGUNLAH!"

Kelopak mata Baekhyun seketika terbuka lebar. Bola matanya yang agak merah itu bertabrakkan dengan obsidian Sehun. "S–Sehun-ah.." ucapnya dengan napas terengah-engah. Airmata mulai berkumpul di pelupuk matanya. "K–Kardinal Cheon ingin membunuhku. D–dia bahkan mencoba memperkosaku. Aku berusaha melepaskan diri, tapi dia begitu kuat.."

"Shh, shh, itu hanya mimpi, Baek. Tak ada Kardinal Cheon disini, hanya aku." Sehun mencoba menenangkan Baekhyun. Ia tangkup wajah pucat itu, mengelus pipinya perlahan. "Kau baik-baik saja disini. Aku tak'kan membiarkan siapapun melukaimu, kau mengerti itu?"

Baekhyun tak kuasa menahan airmatanya lagi. Ia menangis. "Aku tak bisa lagi, Sehun-ah.." ucapnya sesenggukan. "Aku takut.."

Sehun lantas membawa Baekhyun ke dalam dekapannya. Sambil menahan rasa ngilu di dadanya karena tangisan si mungil, ia usap punggung yang gemetaran itu. "Aku ada disini, Baek. Aku akan melindungimu, apapun yang terjadi.."

Baekhyun tak menyahut dengan kata, hanya balas memeluk Sehun. Seketika suara isakan Baekhyun memenuhi ruangan, dan Sehun menjadi pendengarnya.

.

.

Park Chanyeol tiba lebih dulu di lokasi koordinat yang diberikan Minseok, karena memang kebetulan posisinya paling dekat ketimbang yang lain. Koordinat itu membawanya pada sebuah flat sederhana. Ia sudah bertanya pada pemiliknya tentang orang baru yang menyewa sebuah kamar dengan ciri-ciri seperti Sehun. Dan di sinilah dia, berdiri di depan kamar bernomor 14. Tak ingin membuang waktu, Chanyeol mendobrak pintu flat sederhana tersebut. Menodongkan pistol, Chanyeol siap berteriak.

Namun tak ada siapapun di dalam sana. Dari dua bungkus piring bekas jajangmyeon yang tertinggal di meja, Chanyeol memprediksi Sehun dan Baekhyun sudah meninggalkan tempat itu sekitar kurang dari sejam yang lalu. Chanyeol mengumpat. Sekarang ia harus segera mengecek CCTV di sekitar flat itu untuk mendapatkan petunjuk kemana perginya Sehun dan Baekhyun.

.

.

"Kau yakin?"

Sehun menaikkan alis mendengar pertanyaan Baekhyun yang ragu. "Kau ingin mundur?" Ia balik tanya.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya, melirik ke samping, menghindari kontak mata dengan Sehun. "Aku hanya merasa..ini terlalu cepat.." bisiknya, terselip nada takut di dalamnya.

"Lebih baik langsung menghadapinya dengan cepat daripada kau terus dihantui ingatan trauma dan ketakutanmu itu," timpal Sehun, sambil melanjutkan aktivitasnya—memakai sarung tangan dan mempersiapkan pistolnya. "Kita tidak punya banyak waktu, karena para interpol brengsek itu terus gencar mencari kita. Dan kita juga tidak bisa membiarkan Kardinal Cheon mengirim pembunuh bayaran lainnya setelah tahu Jongin gagal dalam misinya." Sehun memberikan sebuah pistol Walther P99 pada Baekhyun. "Kita akan menyelesaikan misimu malam ini juga. Dengan begitu, kita juga bisa pergi ke Finlandia dengan tenang. Iya'kan?" Sehun tersenyum.

Baekhyun menatap pistol yang disodorkan Sehun. Ia berpikir, masih belum mau menerima pistol tersebut.

Sehun berdecak. "Kalau kau masih ragu juga. Biar aku sendiri yang menghabisi Kardinal Cheon itu untukmu."

"Tidak!" sahut Baekhyun cepat. Segera ia ambil pistol tersebut dari tangan Sehun, menggenggamnya erat. "Aku yang akan membunuhnya sendiri."

Sehun tersenyum miring. "Itu baru Raven yang kukenal." Ia mengacak surai dirty blonde itu dengan gemas.

"Yak!" Baekhyun protes. Pipinya samar-samar merona.

Sehun terkekeh saja menanggapinya.

.

.

"Chanyeol!"

Yang dipaggil meringis karena suara nyaring Minseok di headset yang menempel pada telinganya. "Ada apa?" tanyanya balik sambil berkonsentrasi pada jalan yang ia lewati. Mobil yang dikemudi Chanyeol terus melaju kencang.

"Barusan terjadi ledakan bom kecil di sekitar gereja Sogang! Dan menurut kabar, disana ada Kardinal Cheon yang menghadiri misa malam ini. Bukankah tempat itu juga tidak jauh dari flat terakhir yang ditempati Sehun dan Baekhyun? Kau masih di sekitar sana'kan? Chanyeol!"

"Aku mengerti!" Tanpa banyak bicara, Chanyeol memutar setir kemudinya. Mencari jalan pintas tercepat menuju gereja Sogang.

.

.

Saat semua orang panik berlarian keluar dari gereja, Kardinal Cheon tampak dikawal oleh tujuh pengawal menuju pintu belakang. Mereka berlari cepat menuju mobil yang sudah siap untuk membawa Kardinal Cheon pergi dari tempat ledakan tersebut. Namun tinggal sepuluh meter lagi, mobil hitam di depannya tiba-tiba meledak.

Mereka mundur, terkejut. Namun para pengawal itu dengan tanggap segera membuat formasi berdiri melingkari Kardinal Cheon, melindungi majikan mereka. Tapi itu tidak lama, karena masing-masing pengawal itu mendapatkan tembakan di kedua bahu dan paha mereka hingga jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Menyisakan Kardinal Cheon yang berdiri penuh awas melihat sekeliling, mencoba mencari tahu dari arah mana tembakan-tembakan tanpa suara itu muncul.

"Mencari kami?"

Sebuah suara muncul bersamaan dengan sosok yang keluar dari kumpulan asap bekas ledakan mobil yang terbakar. Sehun berjalan sambil memutar pistol di jemarinya dengan gerakan main-main, ia tersenyum miring. Satu langkah mundur yang diambil Kardinal Cheon membuat ekspresi Sehun berubah mengeras dan langsung mengokang senjata, lalu menodongnya ke arah pria paruh baya tersebut.

"Bergerak sedikit lagi atau aku akan menembak kepalamu," ancam Sehun dengan nada serius.

Kardinal Cheon membeku di tempat. Tak berani bergerak. "Apa..maumu?"

"Tidak." Sehun menggeleng. "Kau tidak berhak bertanya apa mauku. Justru saat ini, kaulah yang seharusnya menyusun kata-kata terakhir dalam hidupmu untuk seseorang. Iya'kan?" Sehun mengerling ke samping. "Harry Park," panggilnya. Seringaian muncul di sudut bibirnya melihat ekspresi Kardinal Cheon yang terkejut.

Baekhyun muncul dari belakang punggung Sehun. Matanya menggelap. Ia melangkah pelan, selangkah demi selangkah menuju Kardinal Cheon dengan pistol di tangannya. "Selamat malam, Bapak. Masih mengingatku?" tanyanya dengan nada datar, berhenti dua meter di hadapan pria paruh baya tersebut.

Kardinal Cheon balas dengan tatapan biasa. Ia berucap penuh nada beribawa layaknya pejabat tinggi Vatikan, "Kau..seharusnya menjalani hidupmu dengan baik setelah Tuhan memberkatimu, Harry. Bertobatlah dari dosa-dosa–"

"OMONG KOSONG!" hardik Baekhyun. Tangannya dengan cepat menodongkan moncong pistol ke arah kepala Kardinal Cheon. "Jangan bicara tentang dosa di hadapanku jika kau sendiri yang telah menutupi dosa teman-teman bejatmu itu, sialan!"

"Heh," Kardinal Cheon mendengus. Bahunya bergetar, lalu tiba-tiba tertawa terbahak. Tertawa sangat keras, jauh berbeda dengan image dirinya yang selalu tenang dan berwibawa saat tampil di depan umum. Baekhyun dan Sehun mengernyitkan dahi keheranan. "Kau itu.." Kardinal Cheon menatap Baekhyun dengan ekspresi meremehkan. "..hanyalah anak kecil. Seorang anak kecil yang dirawat oleh pastur seharusnya bersyukur dan memberikan segalanya pada kami. Itulah yang namanya anak baik. Kau mengerti, hm?" Ia tersenyum kejam.

Mata Baekhyun melotot tak percaya. "BAJINGAN KAU!" bentaknya. Ia tarik pelocok pistol Walther P99 itu, lalu menempelkannya di dahi sang Kardinal. "Aku akan membunuhmu!" geramnya penuh kebencian.

Tapi kardinal Choi masih menanggapinya dengan tenang. "Apa dengan membunuhku, kau akan menyelesaikan masalah, hm?"

"Setidaknya dengan membunuhmu aku bisa menghentikan perbuatan keji itu pada korban yang lain."

"Owh, jadi sekarang kau bersikap seperti pahlawan? Kau yakin?"

"KUBILANG DIAM!"

Sehun mengernyit. Ada yang aneh di sini. Kardinal Cheon terlampau tenang. Dengan sebuah mulut pistol yang menempel di dahinya, dia bersikap kelewat tenang. Seolah dia yakin akan tetap selamat dalam situasi seperti ini. Sehun berpikir, mulai mengeluarkan kewaspadaannya pada sekitar. Ada sesuatu, terlihat sinar berkedip walau hanya sebentar, seperti pantulan cahaya bulan pada bidang kecil. Mata Sehun seketika melebar.

"Baekhyun!" Sehun melompat, menerjang Baekhyun, lalu jatuh bersamaan di atas aspal, tepat setelah sebuah peluru nyaris mengenai kepala Baekhyun.

Kardinal Cheon mengambil kesempatan ini untuk segera melarikan diri. Sehun dengan tangkas melayangkan tembakan ke arah seseorang yang bersembunyi di balik pepohonan yang baru saja menargetkan Baekhyun.

Baekhyun sendiri bangkit, mengejar Kardinal Cheon yang kabur. Seseorang yang bersembunyi di balik pohon kembali menargetkan Baekhyun, tapi Sehun lagi-lagi menembakinya, membuat sosok itu kembali berlindung di balik pohon. Sehun menggeram, berteriak murka, "KELUAR KAU, KIM JONGIN!"

"Cih," Sebuah suara umpatan terdengar. Kim Jongin muncul disana. Dengan sebelah kaki yang pincang, pria berkulit tan itu menyeret dirinya keluar dari balik pohon, sambil menodongkan pistol pada Sehun yang juga sedang mengarahkan pistol ke arahnya.

Wajah Sehun memerah. "Kau–" Ia menggeram. "Tidak cukupkah setelah kau membunuh Kyungsoo, brengsek?!" makinya.

Jongin berdecih. "Itu bukan kesalahanku sepenuhnya," sangkalnya. "Dari awal itu sudah menjadi keputusanmu untuk lebih memilih Raven daripada keselamatan sepupumu."

Sehun tidak tahan lagi, ia menarik pelatuk pistolnya. Namun tak ada letusan tembakan yang keluar. Pelurunya telah habis. Gantian Jongin yang menembak Sehun tepat di pahanya. "Akhh!"

Jongin terkekeh mengejek. Ia layangkan tatapan dingin pada Sehun yang tengah menutupi darah di luka tembaknya. "Kuingatkan sekali lagi padamu, Oh Sehun. Jangan memaksaku untuk membunuhmu." Setelahnya Jongin berlari mengejar Baekhyun, meski dengan kaki yang diseret karena patah—akibat jatuh dari atas atap tempo hari lalu.

"Sialan." Mengabaikan luka di pahanya, Sehun bergerak mengambil pistol lain di saku pengawal Kardinal Cheon yang tak sadarkan diri, lalu ikut mengejar Jongin.

.

.

Baekhyun berlari sambil mengarahkan pistolnya. Satu tembakan ia lepaskan. Itu tepat mengenai betis Kardinal Cheon. Pria paruh baya itu tersungkur di atas aspal, merintih tertahan. Baekhyun menghampirinya dengan napas terengah. "Aku tidak akan membiarkanmu lolos, Pak tua."

Kardinal Cheon menggeram. "Kau hanyalah anak kecil!" gertaknya murka. "Beraninya kau melukai Bapak-mu!"

"DIAM!" Baekhyun mengeratkan genggaman pistolnya. "Kau bukan siapa-siapaku. Dan aku akan membunuhmu!"

Kardinal Cheon memejamkan matanya. Menunggu, namun detik berlalu, ia tak merasakan apapun.

Tangan Baekhyun sendiri gemetar. Di saat-saat seperti ini, suara Chanyeol tiba-tiba menghantui pikirannya. Menahan keinginannya untuk menarik pelatuk pistol di tangannya.

"Kau terlalu berharga untuk melakukan hal seperti itu.."

Jemari tangan Baekhyun melemas. Pistol itupun terjatuh dari genggamannya tak lama kemudian. Air matanya mengenang di kelopak matanya. Keinginan untuk membunuh Kardinal Cheon tiba-tiba sirna begitu saja, tepat di saat ia memiliki kesempatan besar untuk melakukannya. Baekhyun tertawa miris. Pada akhirnya, ia tak mampu melakukannya.

Dan itu semua karena Park Chanyeol.

"Aku.." Baekhyun bersuara dengan lirih, "..akan menelepon pihak interpol." Mata Kardinal Cheon terbuka, menatap Baekhyun tak percaya. Pria mungil itu berbalik memunggunginya. Ia kembali berucap dengan lirih, "Aku..akan menyerahkanmu pada mereka."

Kardinal Cheon bergerak gelisah. Arah pandangnya lalu tertuju pada pistol Walther P99 yang dijatuhkan Baekhyun semenit yang lalu. Ia mengambilnya, mengarahkannya pada punggung Baekhyun yang berdiri membelakanginya.

DOR!

Baekhyun terkejut. Ia berbalik. Mendapati Kardinal Cheon terjatuh, tergeletak di aspal dengan kepala berlubang, berceceran darah. Dan tak jauh dari sana, ada Oh Sehun, dengan pistol yang mengepulkan asap dari moncongnya.

"S–Sehun?" Bola mata Baekhyun bergulir pada paha Sehun yang berdarah. Ia terkejut dibuatnya. "Sehun-ah, kau–" Ia dengan sigap berlari menghampiri pria tinggi itu, tepat ketika tubuh Sehun yang oleng karena sebelah kakinya yang ngilu tak dapat membuatnya bertahan lama untuk berdiri dengan tegak. "Yak, kau baik-baik saja?"

Sehun malah tersenyum. "Sudah kubilang, bukan? Kalau kau ragu, aku yang akan membunuhnya untukmu."

Baekhyun tersentak. Dadanya seketika terasa menghangat. Ia balas tersenyum tulus. "Terima kasih.."

"Hm," Sehun melihat sekeliling. Mengira Jongin telah salah arah mengejar Baekhyun sebelumnya. "Sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum Jongin ataupun interpol menangkap kita."

Baekhyun mengangguk. Ia bantu memapah Sehun dengan mengalungkan lengannya. Namun baru lima langkah mereka terhenti, seorang pria tinggi berdiri menghadang keduanya. Itu Park Chanyeol.

Baekhyun terpaku. Sehun mendecih. Sementara Chanyeol tak mengatakan apapun dan hanya balas menatap Baekhyun. Ada sejuta emosi yang terkumpul hingga Chanyeol tak tahu apa lagi yang harus ia keluarkan terlebih dahulu. Tapi yang pasti ada satu keinginan besar di batinnya yang ingin menarik Baekhyun dari rengkuhan pria lain dan membawanya ke dalam pelukannya sendiri. Hanya dalam pelukannya.

"Apa maumu, brengsek?" Sehun yang mulai menarik pemicunya.

"Sehun, hentikan," Baekhyun mencegahnya. Ia lepaskan rangkulan Sehun di bahunya, lalu melangkah maju. Ditatapnya manik Chanyeol. "Kau bisa menangkapku sekarang. Tapi biarkan Sehun pergi."

Sehun melotot. "Yak! Apa kau gila?"

Namun Chanyeol masih tak mengatakan apapun. Matanya masih terfokus pada Baekhyun—sosok mungil yang sangat ia rindukan. Ia ingin menarik tangan pria mungil itu, ingin mendekap erat pria mungil itu, dan tak'kan pernah melepaskannya. Namun fokus Chanyeol pecah ketika sekelebat bayangan terlihat di matanya.

Bersamaan dengan itu, sebuah suara kongkangan pistol terdengar di telinga Sehun. Pada detik-detik saat sebuah peluru ditembakkan oleh sosok asing itu, Chanyeol berhasil memeluk tubuh Baekhyun untuk melindunginya. Sementara Sehun berbalik ke belakang, lalu membalas dengan sebuah tembakan lain untuk Jongin yang baru saja melepaskan sebuah tembakan ke arah Baekhyun.

Semuanya terjadi terlalu cepat bagi Baekhyun. Hingga ia tak mampu mencerna situasi macam apa yang baru saja terjadi. Hanya sebuah pelukan hangat yang ia terima, lalu bisikan tulus, dan aliran darah yang menetes dari punggung Chanyeol.

Tiba-tiba semua suara terasa hening. Gendang telinga Baekhyun terasa bising. Dan kepala Chanyeol yang melemah terkulai di bahunya, beserta bisikan terakhir yang ia terima dari suara berat itu.

"Berbahagialah, Baek. Aku mencintaimu.."

.

.

.

.

.

Baekhyun menjerit.

.

.

.

.

.

TBC

A/N (Sayaka Dini): Yang terhormat dan tersayang kepada seluruh reader yang berbaik hati sudah membaca fanfic ini. Mohon dari lubuk hati yang paling dalam, maafkan kami jika ending dari fanfic ini sama sekali jauh dari ekspektasi kalian. Ini sudah menjadi keputusan dan pilihan kami berdua sejak awal pembuatan fanfic ini. Kami sudah memberikan yang terbaik yang kami bisa, menulis dengan hati ikhlas dan semata-mata bertujuan untuk menghibur para reader-nim sekalian tanpa balasan apapun, dan hanya berharap pada sebuah kalimat tanggapan reader-nim sekalian yang sudah membaca hasil kerja keras kami. Tak ada sama sekali unsur menipu atau membuat para reader-nim sekalian kecewa dan bersedih hati.

Karena itu, sebagai reader yang baik, dewasa, dan bijaksana. Mohon mengertilah kami. Jika memang tidak suka, cukup tak usah dibaca lagi. Atau cukup 'ngedumel' sendiri aja. Tidak perlu sampai menyakiti kami atau mengatai hasil kerja keras kami dalam bentuk tulisan yang bisa jadi membuat semangat kami untuk menulis hancur dalam sekejap.

Jika para reader-nim sekalian mengerti/mengenal kami lebih lama. Pasti sangat tahulah, kami senangnya dengan siapa. Bukannya kami berpindah haluan. Hanya saja, kami ingin mencoba sesuatu yang baru. Kami tetap pencinta ChanBaek kok. Bahkan sampai detik ini pun, ChanBaek masih nomor satu di hati kami. Hanya untuk yang satu ini...kami memutuskan yang lain.

Sekali lagi kami meminta maaf, dan mohon pengertian.

Setelah fanfic ini selesai, kami akan tetap melanjutkan fanfic-fanfic ChanBaek kami lainnya dengan penuh semangat yang tinggi. Itu semua pun tidak terlepas dari pemberi semangat dari para reader-nim yang hebat sekalian. Karena itu, mari berjuang bersama-sama dengan pemberi kalimat yang lebih indah daripada sebuah hinaan yang membuat kami bisa kecewa dan menghilang.

A/N (Azova10): Jadi, ini HunBaek. Sebenarnya tanpa diberi tahu sekalipun, main pair sudah terlihat jelas dari summary (HunBaek/ChanBaek). Saya selalu menulis main pair di summary, tepatnya pair mana yang diketik duluan. Beberapa readers yang suka main ke lapak saya mungkin sudah ngeh dengan ini.

Maaf bagi kalian yang merasa kecewa, bahkan rugi sudah mengikuti FF ini, tapi ini adalah keputusan saya dan Aya. Tidak ada perubahan main pair selama proses pengetikan kok, karena memang sudah ditentukan jauh sebelum kami mengetik prolog. Yang kami harapkan sekarang adalah sikap dewasa kalian.

Kami tahu beberapa dari kalian pasti akan berhenti membaca FF ini, dan meluapkan kekecewaan di kotak review dikarenakan main pair yang tidak sesuai harapan. Tapi KAMI MOHON, penyampaiannya yang sopan. Ini hanya FF kok, untuk kesenangan semata, jadi tidak perlu sampai mengeluarkan kata-kata tidak pantas. Thanks before.

Untuk No name, terima kasih banyak untuk review-mu :)

PS. Crime Twins apdet jamaah bareng Kang Seulla, ChiakiBee, dan Phyromaniac.

PSS. Next chapter is the ending, so anticipate it~

SPECIAL THANKS:

fujokuu, , SexYeol, Ellaqomah, neniFanadicky, Andhani, byunhime, shantisolekah9, adelianjjbyuniee, hunbaek, mi210691, Illa651, ParkHyerin6194, syeleexo, Debby Sagita YN, Kiki2231, Yoon745, cbhs, chanxlatifaxbaek, babybaekhyunee7, Guest(1), indi1004, Guesttt, EternalKim, inspirit7starlight, Summer Mei, shenshey27, MiraKimLu, xiaobao, riririi, EyiLy, Kenzoumukii, nia88, JKris115116, DongchimiChanbaek, wiwitcbcb, kiyasita, yellowfishh14, inibaek, Park Byunaa, aminion, ChanNhye, yoyoyo man, guest01, LUDLUD, Eka915, ay, akakuroseiya415, AndrelaPearl, Only ChanBaek, AlexandraLexa, itsathenazi, Hyurien92, themaknae1929yuna, bbkhyn, Innocent Vee, Guest(2), kichansarang, Lovely MakeUp, ByunB04, sesebaek, altogirl382, Yuichanzu, kirafuchi, xoo'49, Guest(3), noufbaybe91, Yuuui, chanbaekssi, magnaeautumn, No name, exobbabe, Incandescence7, NyawNyaw09, diarayu22, Guest(4), Yxxx1106, ByunRahayu, baekpie461, Twelvelight, mikaanggra, Channia Park, xiaorita. oktavia