Hai, everyone!

Anne muncul lagi dengan chapter 9. Ada apa di sini?

Kiru Kirua : 10 point for Kiru. Thanks, hehehe!

Ninismsafitri : kasihan juga, sih, sama Al. Wahhh apa Willow? Ikuti terus ceritanya, ya. Thanks :)

Baiklah langsung dinikmati saja.

Happy reading!


Harry memakai jas senada dengan celana yang ia kenakan tampak lebih formal meski terkesan santai. Bersama dua orang lain, seorang pria dewasa dengan seragam abu-abu dan perempuan muda.. yang tak lain dan tak bukan adalah..

"Willow?" panggil Al pelan. Ia tak mampu berteriak meluapkan rasa bahagianya karena melihat gadis itu datang, hukuman Al bisa saja ditambah karena membuat keonaran di ruang sidang.

Tangan Harry meraih pundah Prim pelan, mendorongnya masuk lebih mendekat ke sekitar kursi pengadilan Al. "Harry James Potter, saksi terdakwa, atas nama keanggotaan devisi Auror. Saya membawa dua saksi tambahan—"

Pria yang juga ikut bersama Harry dan Prim melangkah lebih dekat ke arah meja Kingsley. Melewati Al yang mengamatinya penuh pengharapan besar.

"Saya Jonathan Underwood, dari Departemen Kecelakaan dan Bencana Sihir," pria bernama Jo mengeluarkan sesuatu dari dalam tas jinjingnya. Satu buah amplop besar dengan logo departemen yang diusungnya.

Melalui staf Kingsley, Jo menyerahkan berkas laporannya. Ada sekitar tiga lembar hasil laporan yang diperiksa oleh staf Kementerian itu. Berkas yang diserahkan Jo sebenarnya adalah laporan penangkapan Dementor bersama tim Auror yang berlangsung kemarin.

"Pihak kami baru saja menyelesaikan laporan karena memang paska penangkapan, tim departemen kami langsung mengurus segala urusan pengembalian 6 Dementor langsung ke Azkaban. Begitupula dari tim Auror yang masih menyerahkan laporan sementara pada Kementerian," jelas Jo. Al memang mengetahui ayahnya sendiri setelah penangkapan sore itu langsung sibuk dengan mengurus berkas laporan untuk Kementerian. Bahkan Al sendiri yang menemani Harry hingga larut malam untuk menyelesaikan laporan itu.

Jo kembali mundur sejajar dengan posisi Harry dan Prim berdiri. Kini giliran Harry yang mengajukan argumennya. Rupanya Harry menyadari sikap ketakutan Al yang semenjak kedatangannya di ruang sidang tak lepas memandangi dirinya.

"Memang, jika dilihat dari laporan yang diberikan oleh dua devisi yang bersangkutan menunjukkan benar-benar ada penyerangan Dementor ke kawasan Muggle. Sementara kami masih butuh bukti lain untuk membuktikan keterlibatan Muggle yang melihat secara langsung keberadaan Dementor,"

"Bagaimana dengan korbannya sendiri?" Harry mengajukan Prim untuk duduk di kursi menggantikan Al yang dipersilakan duduk di dekat Ron dan Allie.

Prim menyamankan posisi duduknya sejenak, mengatur roknya yang menutup hingga lima senti di bawah lutut. Jarang ia mengenakan rok dalam kehidupan sehari-hari. Hobinya berburu membuatnya lebih nyaman jika mengenakan celana panjang.

"Saya lihat Anda memang sudah mulai terbiasa dengan suasana di sini, Nona. Sekarang, coba perkenalkan diri Anda dan ceritakan secara singkat di mana Anda tinggal sebagai Muggle," Kingsley mempersilakan Prim untuk berbicara.

"Nama saya Willow Primrose Mellark. Saya penduduk baru di kawasan Godric's Hollow. Saya tinggal bersama orang tua dan adik laki-laki saya. Rumah kami terletak di dekat kediaman keluarga Potter.. rumah Albus," Prim menghentikan cerita singkat tentang siapa dirinya.

Satu persatu pertanyaan diajukan untuk Prim, mulai dari status Mugglenya, pengetahuannya tentang dunia sihir sampai situasi serangan Dementor yang ia alami.

"Saya lebih dulu masuk ke wilayah pekarangan keluarga Potter sebelum cahaya itu menutupi rumah saya. Saya tak tahu pasti, sampai saya mendengar teriakan orang-orang yang mengatakan bahwa rumah saya sudah diberikan mantera pelindung. Saya tetap berada di halaman belakang rumah keluarga Potter sampai Mr. Potter dan anggota keluarga yang lain menemukan saya di sana—"

Seluruh kejadian yang sempat membuatnya ketakutan harus rela ia ceritakan kembali. Al mendengar semua penuturan Prim begitu jelas. Prim tidak berbohong.

"Lalu, bagaimana kronologis Anda bisa melihat Dementor secara langsung?"

"Makhluk itu.. saya tak tahu apa itu Dementor atau bukan, maaf,"

"Ow.. begitu.. sekarang coba gambarkan seperti apa makhluk itu?" Hugine makin penasaran dengan pengakuan Prim. Sementara di sudut berbeda, pikiran Al mulai terpecah antara, memikirkan nasibnya nanti dan nasib ingatan Prim.

Kingsley mencondongkan badannya lebih dekat kearah Prim. "Yang saya lihat hanya dua makhluk yang memakai tudung, sekelebat berwarna hitam. Dan saat mereka mendekat, rasa dingin itu tiba-tiba terasa. Entah mengapa saya juga merasa seperti kehilangan rasa bahagia. Saya seperti ingin menangis,"

Seiring dengan perhatian Al pada Prim, Ron di sisi Al coba mengkonfirmasi bagaimana sebenarnya Al bisa melakukan tindakan senekat itu. Allie sempat melarang Ron bertanya, namun.. apa daya, "aku reflek Uncle," jawab Al sambil masih mengamati penjelasan Prim di depan Kingsley.

"Karena kau ingin menyelamatkan gadis itu? Kata Harry, kau sering menghabiskan waktu dengan dia, ya? Apa kau sedang ja—"

Plakk, pukulan telak mendarat sempurna di punggung Ron dari Allie. "Bukan saatnya untuk kau cari gosip di sini, Mr. Weasley," ancam Allie.

Sidang masih berlanjut dengan penuturan Harry selaku saksi dan orang tua dari Al. Harry tidak berniat untuk membujuk Kingsley atas nama sahabat, tapi menurutnya ia harus bertindak sebisa mungkin melakukan kewajibannya sebagai seorang ayah yang melindungi anaknya. Tanpa harus berbuat kotor di dalamnya.

Beberapa anggota wizengamot dengan jubah kebesaran mereka bersiap untuk berunding memberikan hasil sembari menunggu Kingsley menuntaskan tanya jawabnya dengan Prim.

"Saat itu pula, Al tiba-tiba mendekat dan menghalau makhluk hitam itu dengan tongkat yang mengeluarkan cahaya terang berbentuk elang dan mengusir mereka pergi. Sihir. Ya sihir," kata Prim tampak begitu tegang.

Pertanyaan terakhir Hugine tentang apa yang dilakukan oleh Al saat menolongnya selesai dijawab Prim dengan tuntas. Selanjutnya, Al tinggal menunggu keputusan akhirnya.

"Melakukan sihir di luar sekolah saat usia dibawah 17 tahun memang kesalahan, namun tak berarti menyelamatkan nyawa seseorang juga sebuah kesalahan," Harry berkata pelan dikesempatan terakhirnya memberikan pembelaan. Manik hijaunya menatap sang duplikat penuh harap, seolah berkata, 'Dad akan menyelamatkanmu, nak,'

"Jika mendalami hasil laporan yang sudah diberikan, secara garis besar, dari pihak Kementerian sendiri terjadi misunderstanding dengan pihak Auror beserta Departemen Kecelakaan dan Bencana Sihir. Namun, dengan adanya masalah ini, kami sepakat tetap melakukan sidang karena dari terdakwa masih dinyatakan melakukan pelanggaran kode etik sihir di bawah umur," Kingsley membuka perkamen baru yang baru saja selesai di tulis oleh stafnya yang lain.

Hugine memeluk map hitamnya, mengamati ekspresi Al yang sama kalutnya dengan beberapa orang yang lain. Salah satunya Prim yang masih duduk di bangku introgasi. "Pihak saksi Muggle yang dihadirkan mengaku bahwa ia benar melihat Dementor di dekatknya serta melihat dengan jelas dan sadar.. bahwa terdakwa melakukan sihir secara langsung. Oleh sebab itu, untuk saksi Muggle secepatnya akan dilakukan modifikasi ingatan seperti aturan yang berlaku," Hugine kembali mengambil alih.

"Bagi yang setuju terdakwa diyatakan bersalah?" tanya Hugine kepada para anggota wizengamot yang lain. Sekitar 30 persen mereka mengangkat tangan. Al meringis ketakutan. Ternyata masih ada yang menganggapnya bersalah, meski sebagian kecil.

Merasa cukup, beberapa yang mengangkat tangan sudah menurunkannya satu persatu. "Bagi yang setuju membebaskan terdakwa dari segala tuduhan?" tanya Hugine berbeda dan cepat-cepat ia mengangkat tangannya lebih dahulu.

Dan jadilah.. hampir semua anggota yang tak mengangkat tangan sebelumnya memberikan dukungan Al untuk bebas dari tuduhannya. Kingsley pun tampak tak ragu mengangkat tangannya tanda setuju.

Kingsley menghitung mereka yang mengangkat tangan dan bersiap mengambil tongkat kayunya sembari berseru, "Dibebaskan dari segala tuduhan!"

DUK! Ketukan terakhir Kingsley mengakhiri semua. Al bebas..

Selanjutnya lantas berjalan begitu cepat, Harry memberikan kode pada Prim untuk turun dari kursinya dan ikut keluar bersamanya. "Dad, Willow! Tunggu! Kalian mau ke mana?" namun tak ada salah sau dari mereka sempat mendengar suara panggilan Al.

Ron dan Allie sigap menghalau tubuh Al untuk tidak mengikuti Harry dan Prim pergi. "Aku mohon Uncle, lepaskan aku," bujuk Al pada Ron, ia sangat berharap pamannya itu mau melepasnya.

"Tidak bisa, Al. Ayahmu harus membawa gadis itu ke Departemen Kecelakaan dan Bencana Sihir," kata Ron.

"Departemen Kecelakaan dan Bencana Sihir? Untuk apa?"

"Ingatannya harus dimodifikasi sebelum keluar dari Kementerian. Ia tak bisa pulang dengan ingatan masih jelas tentang semua ini, Al. Kau pasti sudah paham itu," giliran Allie yang menjelaskan.

Al tersentak kaget. Itu artinya sebentar lagi Prim harus lupa semuanya.

"Aku mohon, Uncle! Lepaskan aku, aku harus mengejar, Dad! Ada yang harus aku bicarakan dengan Willow! Aku mohon!" Al terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Ron sekaligus Allie pada tubuhnya, namun tak bisa. Kekuatan Al jauh lebih lemah dibandingkan Ron. Ditambah dengan Allie yang membantunya.

Al melihat dua orang dewasa itu penuh permohonan, "kalian pernah jatuh cinta, kan?" tanya Al tiba-tiba. Tubuhnya sudah mulai lebih stabil.

"Al—"

"Ada satu hal yang paling menyedihkan dari orang yang sangat kita cintai, Uncle. Saat ia tak bisa mengingat masa-masa bahagia bersama kita. Semuanya hilang, dan mungkin.. untuk kemungkinan kembali bersatu, akan berbeda,"

Sebagai orang yang jauh lebih pengalaman tentang urusan perasaan cinta, Ron tahu betul bagaimana menjadi Al yang baru tahu bagaimana seseorang jatuh cinta.

"Aku tahu kalian pasti sudah paham itu. Kalian sudah dewasa," kata Al melemah.

Tiba-tiba, Allie melepas cengkraman tangannya dari pundak kanan Al, ia tersenyum, "aku tahu, Al," kata Allie. Ia merelakan Ron mengambil tindakan akhir untuk Al. Harry dan Prim semakin jauh, dan Ron harus segera melakukan sesuatu untuk Al.

"Pergilah!" tukas Ron pasrah. "Aku bahkan jauh lebih tahu daripada kau, nak! Kejar gadis itu!" dan dengan senang hati, Al berlari sekuat tenaga mengejar Harry dan Prim yang bersiap masuk ke dalam lift.

"Terima kasih, Uncle!"


Sepanjang lorong, Prim tak banyak bicara sementara mengikuti langkah Harry yang semakin cepat. Sama dengan Prim, Harry juga tak banyak bicara meski ia sesekali memandang Prim dengan senyuman.

"Seperti aturan Kementerian tadi, kita harus ke Departemen Kecelakaan dan Bencana Sihir sekarang," jelas Harry. Ia harus mengatakannya sementara Prim masih terus diam. Tidak enak juga lama-lama tak saling berbicara, batin Harry.

Prim mengalihkan pandangannya ke sekitar lorong. Di sana tak ada pintu lain mengarah ke sebuah kantor. "Untuk apa? Datang ke sana dengan lift boks telepon lagi?" tanya Prim kebingungan. Saat ia dijemput oleh Harry di rumahnya, Harry beralasan mengajak Prim untuk mencari sekolah di sekitar London. Namun saat Prim berhasil dibujuk Harry ikut, Prim akhirnya tahu, bahwa ia diminta untuk menjadi saksi dalam persidangan Al di Kementerian Sihir.

Suatu pengalaman baru bagi Prim saat ia harus masuk boks telepon merah di pinggir jalan bersama Harry. Merasakan boks yang ia masuki bergetar dan bergerak seolah ia tenggelam di trotoar. Kemudian sampai di suatu tempat dengan cahaya yang sangat terang serta sambutan suara perempuan yang terdengar ramah bak pelayanan informasi di bandara.

"Ingatanmu harus segera dimodifikasi, Prim. Karena sangat berbahaya jika kau kembali ke dunia Muggle tetap dalam keadaan seperti sekarang ini," ujar Harry.

"Dimodifikasi? Kenapa tak di rumah saja?"

"Di rumah? Lalu siapa yang harus melakukannya? Mereka harus datang ke rumahmu dan membuat orang tuamu dan adikmu juga tahu tentang ini? Tidak mungkin, nak!"

Prim sejenak terdiam. Memikirkan kemungkinan keluarganya juga akan tahu jika pemodifikasian ingatannya dilakukan di rumahnya. "Anda, sir?"

"Aku? Aku bisa saja melakukan obliviate padamu, bahkan saat kau melihatnya pertama kali saat di halaman belakang kemarin. Tapi ada pihak yang bertanggung jawab dan bertugas khusus untuk melakukannya sendiri, Prim. Kau harus siap, apapun yang terjadi nanti. Aku bisa pastikan kau akan baik-baik saja,"

Ya, Prim tahu tidak akan apa-apa. Itu juga yang ia pernah ia baca dari buku milik Lily. Tapi siapa tahu kebenarannya bukan begitu.

"Dad! Willow!"

Seru Al dari jarak 5 mile. Harry menoleh dan mendapati Al terengah berusaha mengejar. "Tunggu!" panggil Al sekali lagi.

"Al, kenapa kau ikut? Ron? Allie?" Harry gelagapan mendapati putranya siap mendekat. Ia sudah berusaha cepat agar Al tak mengejar mereka.

Harry menghampiri Al dan memeluknya. "Thank you, Dad," kata Al di pelukan Harry.

"Always, Son. Siapapun orang tua akan berusaha untuk menyelamatkan anaknya," jawab Harry tak kalah terharunya. Senang rasanya Harry berhasil melindungi darah dagingnya sendiri.

"Lalu, kalian mau ke mana? Mengapa tak menungguku?"

Harry mencari celah untuk mengamati perubahan ekspresi Prim yang benar saja.. gadis itu seperti ketakutan. "Ke tingkat 3. Tepatnya ke Markas Besar Pelupaan. Prim harus kesana," katanya.

"Jadi benar, Prim harus.. ahhh Merlin!"

"Al, tenanglah. Ini juga untuk kebaikan Prim. Kau tak mau, kan, kalau Prim akan selalu ketakutan mengingat semua ini? Percayalah," bujuk Harry. "Aku tahu ketakutanmu, nak,"

Kalimat terakhir Harry seolah menjadi sengatan listrik paling mematikan bagi Al. Jantung Al berdegup kencang merasakan makna perkataan ayahnya itu. Ya, selama ini Al sudah menyadari Harry pasti tahu hubungan dekatnya dengan Prim.

"Aku—aku hanya takut," kata Al singkat.

Harry cukup diam, membiar Al meluapkan emosinya. "Ayo ikut Dad! Prim, ayo!"

Diikuti oleh Al dan Prim, Harry melangkah menuju sudut lorong yang berbeda di Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir. Sepasang pintu kayu ek mereka lewati dan tampaklah sebuah area cukup luas dengan banyak sekat membentu ruang kecil. Ada beberapa orang sedang berada di sana sambil berbicara satu sama lain. Tak lupa banyak memo yang terbang ke sana kemari dan mendarat di beberapa meja.

Prim mengamati sekelilingnya, matanya tertuju pada papan di sudut depan area itu. Markas Besar Auror. "Ini kantor Anda, sir?" tanya Prim pelan. Takut beberapa orang di sana mengamatinya.

"Benar, kau pasti sudah tahu kalau kau benar sudah membaca buku itu sampai habis," kata Harry dan Prim mengangguk.

"Hai, Harry. Bagaimana sidangnya?"

"Hai Larry. Syukurlah, sudah selesai. Al bisa bebas. Bukti-buktinya sudah pasti. Ah ya terima kasih sudah membantu mencarikan Mr. Underwood," Harry menarik kursi di depan papan besar dengan tempelan poster-poster buronan sampai denah dan skema penyerangan. Beberapa tulisan yang ada di sana begitu Al kenal. Sebagian besar gambar dan tulisan skema penyerangan adalah tulisan tangan ayahnya sendiri. Harry Potter.

Beberapa orang berseragam Auror yang tampak bergerombol lantas ikut mendekat dan menyapa Harry sopan. "Selamat pagi, sir. Maaf kami sedang tak ada tugas," kata seseorang berambut ikal meminta maaf pada Harry.

"Tak apa, asal kalian tak membuat pekerjaan sia-sia selama istirahat ini," kata Harry sambil tersenyum ramah. Ia tak akan marah jika anak buahnya tertangkap tangan sedang bersantai saat memang tak ada pekerjaan. Sebagai kepala Auror, ia harus bersikap tegas namun tak memanfaatkan posisinya demi menghakimi anak buahnya sendiri.

Seorang wanita yang duduk di bilik paling depan mengamati Al dan Prim yang masih berdiri di belakang Harry tanpa sedikitpun berbicara. "Ahh Mr. Potter, kenapa tak sering-sering kau ajak putramu main kemari. Lihatlah dia tampan sekali!"

"Hei, akhirnya kau menunjukkan keperempuanmu juga, Tessa. Aku kira kau tak tahu pria tampan," seru seorang pemuda dari sudut bilik di bagian belakang. Tessa, memang terkenal sebagai Auror wanita yang hampir mirip seperti pria. Tubuhnya kekar dan terkesan bergaya tomboy. Di usianya yang hampir sama dengan Harry, ia belum kunjung menikah.

Tawa pecah di markas Auror. "Siapa dulu ayahnya? Sudah-sudah.. kenapa jadi saling goda, sih?" Harry menenangkan anak buahnya agar tak begitu kencang saat tertawa. Markas mereka masih di wilayah departemen yang serius, bukan santai seperti yang sedang terjadi.

"Al, Prim. Aku tahu, kalian butuh waktu. Jadi, aku beri kalian kesempatan beberapa menit untuk berbicara berdua. Masukklah ke ruanganku, buat kesempatan ini sebaik mungkin, nak,"

Al dan Prim paham, mereka berjalan masuk ke ruangan dengan papan penanda bertuliskan Head of Auror, Harry J. Potter.

Melihat Al dan Prim masuk ke ruangan Harry, para anggota Auror ternganga tak mengerti. Beberapa langsung menyerbu Harry dengan tatapan penuh tanya. "Urusan anak muda. Sudah, kembali bekerja," hardik Harry langsung disambut cepat oleh anak buahnya.

Di dalam ruangan Harry, beberapa penghargaan sampai foto-foto keluarga terpajang di tembok dan meja kerjanya. Tumpukan perkamen dan karton tebal bertuliskan nama departemennya saling tumpuk di beberapa sudut ruangan. Rapi dan tersusun rapi.

"Ayahmu memang hebat, Al," kata Prim tiba-tiba.

"Yahh dia ayah yang hebat. Tak hanya hebat bagi kebanyakan penyihir di sini, tapi khusus untukku.. dia benar-benar pahlawan bagiku dan keluargaku. Aku sangat ingin sepertinya,"

Pintu ruangan tak sampai tertutup rapat. Masih ada cela sedikit yang memungkinkan orang lain melihat mereka. "Kau harus sepertinya, Al,"

"Ya. Tentu. Aku akan jadi pahlawan untuk orang-orang yang aku sayangi. Salah satunya seperti kau," kata Al duduk di sofa kecil di samping rak kayu.

Prim memilih duduk di kursi kecil dekat meja kerja Harry. "Tapi aku malah membahayakan orang lain saat aku berusaha melindunginya. Sulit untuk bisa seperti Dad,"

"Tidak, Al. Kau lupa, ya, banyak yang harus dikorbankan orang-orang sekitar ayahmu saat pertempuran dulu. Bahkan, keluargamu banyak yang meninggal karena ikut terlibat di dalamnya. Ayahmu sendiri sering merasa bersalah pada mereka yang telah kehilangan nyawanya. Bukan begitu?"

Prim melihat foto keluarga Potter yang bergerak-gerak. Satu bingkai terlihat sepasang suami istri dengan bayi yang digendong sambil tertawa. Prim tak pernah melihat foto itu sebelumnya, namun ia sendiri menebak jika foto itu adalah foto ayah Al saat masih bayi bersama kedua orang tuanya. Prim tahu sejarah singkat tentang kakek dan nenek Al yang terbunuh saat ayah Al masih bayi.

Berbeda dengan foto yang lain, ia sangat mengenal satu-persatu wajah di foto itu. Keluarga Al. Harry dan Ginny tersenyum sambil memeluk ketiga anaknya, James, Al dan Lily yang ikut tersenyum duduk di atas rerumputan hijau.

"Aku akan melupakan semua ini," Prim membelai bingkai foto yang ia amati lembut.

"Willow, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku pengecut, Will!"

"Cukup, Al. Kita sudah berjanji kan? Kau akan tetap di dekatku, begitupula aku. Begitu pula dengan perasaan ini. Aku mencintaimu, Al, seakan aku akan.. kehilanganmu. Seolah aku akan mengucapkan selamat tinggal sebentar lagi,"

Prim mengucapkannya dengan napas satu-satu. Menahan suaranya agar tak luput isakannya didengar Al. "Tapi kau akan ucapkan itu juga sekarang, Will,"

"Al—" tahan Prim membuat Al terguncang, "mungkin sebentar lagi aku seolah kan menghilang dan kembali merasa kesepian. Kita tak tahu kapan waktu akan membuat kita bisa berdiri berdua kembali. Tapi.. aku memohon satu hal padamu,"

Suara Ron dan Allie terdengar memasuki area markas besar Auror. Mereka sudah sampai.

Prim berdiri, dengan air mata jatuh tepat di lencana tamu Kementerian yang terpasang di dadanya, Prim berbisik, "tetaplah bersamaku,"

"Always!"

Dan akibat kecerobohan Ron yang penasaran dengan siapa di dalam ruangan Harry, akhirnya.. dengan wajah penuh penasaran, para Auror itu melihat betapa bahagianya menjadi anak muda yang sedang jatuh cinta.

"Rasanya aku ingin cepat pulang dan memeluk istriku, sir," seru salah satu Auror yang diketahui baru saja menikah.

Ron mendesah bahagia, senyuman tersungging di bibirnya, "indahnya menjadi anak muda," kata Ron diikuti anggukan Harry dan yang lainnya.

- TBC -


#

Huftt.. sudah chapter 9.. Tinggal satu lagi.

Banyak penulis yang punya cara sendiri buat mencari fill di tulisan mereka. Kalau Anne sering pakai musik. Biasanya instrumen piano, gitar, atau cello. Tapi nggak jarang juga buat denger lagu-lagu. Nah, untuk chapter ini.. yang sempat keplay dari ponsel lagunya Sam Smith yang Stay with Me dan lagunya Meghan Trainor yang Like I'm Gonna Lose You, yang feat. John Legend itu, loh. Jadi, kalau kalian negrasa seperti pernah tahu, karena memang Anne terinspirasi dari lagu itu. Hehehe..!

Baiklah, Anne tunggu review kalian dan bisa berikan request cerita buat Anne juga, silakan! Dan jangan lupa tunggu chapter akhir dari fic ini. Oke!

Thanks,

Anne xo