Begitu bel istirahat berbunyi, para lelaki suporter Luhan langsung melejit keluar dari kelas menuju kantin. Mencari minum. Mereka berlarian begitu saja. Sementara para perempuan teman sekelas berjalan keluar sambil menatap Luhan sesaat. Luhan jadi kesal.
"Ada apa lihat-lihat? Aku sudah selesai bertengkar!" gerutunya.
Luhan melirik orang di sebelahnya, masih dengan rasa marah. Kemudian dia berdiri dan berjalan ke luar kelas. Ketika melewati Kyungsoo, ditepuknya lengan temannya itu.
"Ayo ke kantin!"
Kyungsoo memasukkan buku-bukunya Ke laci, bangkit berdiri, lalu mengejar Luhan. Sambil membereskan buku-bukunya, Sehun mengikuti Luhan dengan pandangan mata. Sementara Jongin, begitu kedua gadis itu hilang dibalik tembok kelas sebelah, segera bangkit berdiri dan menghampiri Sehun dengan langkah cepat.
"Sebenarnya ada masalah apa diantara kau dengan Luhan?" tanyanya sambil menjatuhkan diri di sebelah Sehun. "Bertengkar sampai seperti itu."
"Sudahlah, tidak usah bertanya." Sehun berdecak malas. "Kajja, ke kantin. Aku lapar."
"Luhan juga sedang di kantin. Bisa-bisa nanti kau berdua bertengkar lagi di sana."
"Ya jika dia mencari gara-gara lagi...," Sehun bangkit berdiri, "apa boleh buat!"
.
.
.
Di depan salah satu meja panjang di kantin, Luhan dan Kyungsoo duduk berhadapan. Masing-masing dengan seporsi bibimbap dan segelas lemon tea.
"Sebenarnya kau ada masalah apa dengan Sehun? Bertengkar sampai seperti itu." Kyungsoo
membuka percakapan dengan topik yang membuat kekesalan Luhan jadi berkelanjutan.
"Aigooooo!" Luhan mengeluh. "Kau ini. Jika aku mengetahui apa masalahnya, aku tidak akan teriak-teriak seperti tadi pagi, lagi."
"Masa kau tidak tahu masalahnya? Kalau melihat tadi pagi Sehun marah sampai seperti itu, sepertinya masalahnya serius, Lu."
"Ah molla." Luhan menggeleng, lalu memerhatikan bibimbap di mangkuknya. "Tadi sepertinya aku sudah bilang dengan ajhumma itu tidak memakai lobak," katanya, lalu mulai memisahkan potongan-potongan kecil lobak dari bibimbapnya.
"Kau lebih baik bertanya, Lu, dengan Sehun, apa masalahnya?"
"Sudah. Tadi pagi itu aku sudah bertanya, lalu jadi bertengkar seperti itu."
"Secara baik-baik."
"Sudah, Kyungsooooo..." Luhan menghela napas lalu mengembuskannya kuat-kuat. Ia
memandang Kyungsoo, lelah dan putus asa. "Tadi pagi itu aku bertanya padanya sudah baik-baik. Kemarin juga begitu. Kau kira aku baru tadi bertanya lalu langsung membentaknya, begitu? Tidak. Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Membuat aku tidak selera makan saja. Atau begini saja, kalau kau penasaran, kau saja sana yang bertanya. Nanti beritahuku."
"Tidak mungkin aku yang bertanya." Akhirnya Kyungsoo menyudahi pembicaraan itu dan mulai menyantap bibimbbapnya.
"Lagi pula kalau kau ingin mendapat jawaban, sepertinya saat bertanya harus memakai tongkat wushu," kata Luhan sambil mengunyah. Kyungsoo tertawa. Namun tawa itu langsung langsung lenyap begitu dilihatnya Sehun dan Jongin memasuki kantin.
"Dia menuju kesini, Lu. Sehun," bisik Kyungsoo, berubah menjadi tegang. Tapi Luhan tetap
santai dan sama sekali tidak menoleh ke arah pintu kantin.
"Tentu saja. Mau tidak mau dia ke sini. Tidak mungkin dia ke kantin untuk murid tingkat dua, apalagi tingkat tiga."
Begitu melihat Luhan dan Kyungsoo, Jongin langsung mengajak Sehun duduk di depan meja panjang yang paling dekat dengan pintu. "Sehun, kita duduk sini saja. Kau ingin makan apa? Aku yang pesan."
"Aku ingin duduk di situ," tunjuknya dengan dagu ke sebuah meja panjang yang berjarak dua meja dari meja tempat Luhan makan. Dari meja itu, Sehun bisa leluasa memerhatikan Luhan. "Pesankan tteokpoki saja. Minumnya choco bubbletea."
Jongin langsung melesat ke sisi kanan kantin, tempat konter-konter makanan terletak berjajar. Tak lama ia kembali sambil membawa pesanan Sehun dan pesanannya sendiri. Diambilnya tempat didepan Sehun. Tapi begitu ia menyadari ke mana sepasang mata temannya itu tertuju, ia segara berdiri dan pindah posisi.
"Untuk apa kau pindah?" tanya Sehun.
"Pencegahan," jawab Jongin tandas. "Dari caramu melihat Luhan, sepertinya kejadian tadi pagi di kelas akan terulang di sini," sambungnya.
Sehun tidak membantah. Dalam hati ia justru membenarkan apa yang diucapkan Jongin.
"Kau sengaja duduk sini agar bisa memperhatikannya, kan?"
"Iya," Sehun terus terang.
"Kenapa ? Dia duduk disampingmu, kan? Masih kurang?" saking herannya, Jongin sampai menatap Sehun dangan kening berkerut rapat.
"Karena dia duduk disampingku, jadi aku tidak bisa memperhatikannya. Lain jika dia duduk di depanku," Sehun menjawab santai, lalu mulai menyuapkan potongan tteokpoki ke mulutnya.
Sementara itu Kyungsoo, yang juga cemas kalau-kalau pertengkaran Sehun-Luhan akan berlanjut di kantin, mengajak Luhan buru-buru kembali ke kelas. Luhan setuju karena tidak bisa makan dengan tenang di bawah tatap tajam Sehun yang sebentar-sebentar terarah padanya. Tanpa menghabiskan bibimbbap di piring masing-masing, keduanya berdiri dan bergegas berjalan ke luar kantin. Di ambang pintu, tanpa sadar Kyungsoo menoleh ke kedua lelaki itu. Di saat bersamaan Jongin juga tengah menatap mereka. Lelaki itu tersenyum tipis, memandang Kyungsoo dengan sorot berterima kasih. Sesaat Kyungsoo terkesima. Ini pertama kalinya ia melihat Jongin dalam ekspresi serius seperti itu. Tidak norak dan error seperti biasanya. Lelaki itu jadi terlihat berbeda. Lain sama sekali. Dengan kikuk dibalasnya senyum itu.
Begitu kedua gadis itu sudah hilang, Jongin mengembalikan tatapannya pada Sehun, yang sedang menikmati tteokpoki dengan santai, tapi jelas tahu bahwa Luhan sudah pergi.
"Aku kembali ke bangkuku ya? Kasihan Luhan duduk di belakang begitu. Tidak mempunyai teman. Pasti akan menjadi korban iseng anak-anak belakang pula."
"Kan ada aku?" kata Sehun tenang. "Boleh saja kalau kau ingin kembali. Tapi duduk bertiga, ya? Dan Luhan harus di tengah."
Mata Jongin membulat lebar. Tapi ia tidak juga mengeluarkan suara, saking bingungnya ingin bicara apa.
Sehun jadi tertawa. "Tidak bisa bicara?" tanyanya dengan nada geli. Tapi kemudian ia menggeleng kuat dan berkata tegas, jelas tidak ingin dibantah sama sekali. "Jangan! Aku ingin dia duduk di sebelahku."
"Agar bisa bertengkar terus, begitu?"
"Betul!" Sehun tersenyum lebar dan memainkan alisnya sesaat, sambil memandang muka bingung Jongin. "Dan kau tidak usah bertanya apa sebabnya. Tidak akan ku jawab. Tidak sekarang-sekarang. Karena aku tidak akan bisa cerita tanpa emosi, tanpa marah-marah. Dan kalau kau tetap memaksaku untuk cerita juga, bisa-bisa setelah cerita, aku bisa menyerang Luhan lebih ganas!" Jongin ternganga.
.
.
.
Begitu sampai rumah, Sehun langsung masuk kamar dan berdiri di depan tempat tidur Kris.
"Tadi pagi, gadis yang kau sukai itu aku marahi sampai aku puas, Hyung!" Setelah mengatakan itu, Sehun berganti baju. Disambarnya salah satu komik dari rak koleksi komiknya lalu berjalan di keluar kamar. Sembari tiduran di ruang tamu, Sehun membaca komik itu sampai jatuh tertidur.
Namun malam harinya, setelah mengerjakan PR untuk besok dengan konsentrasi yang cuma setengah, Sehun duduk tercenung di depan meja belajar Kris. Kalau mau berpikir tanpa menyertakan emosi, dan terus terang mau mengakui, sebenarnya jawabannya jelas. Hanya puas sesaat. Hanya melegakan sementara. Setelah itu semuanya kembali seperti semula. Tidak ada yang berubah. Tetap sedih. Tetap sesak. Tetap kosong. Tetap terasa Kris sudah tidak ada. Dan tetap kesepian seperti itu. hanya sendirian di kamar ini. Kecuali kalau saat ini juga dikontaknya Luhan lalu kembali dibentak-bentaknya gadis itu seperti tadi pagi. Dengan mata nanar Sehun menatap sepotong kertas yang dulu ditempelkan Kris di dinding didepannya. Barisan kalimat itu, tulisan tangan Kris, masih dapat terbaca, walaupun tampak kabur karena Sehun membaca dengan pikiran menerawang. Kalimat-kalimat tentang Luhan. Hanya tentang gadis itu.
Sebenarnya ingin sekali dilepasnya kertas itu dari dinding. Tapi tidak tega, karena kertas itu usaha Kris selama berbulan-bulan. Karena kertas itu adalah kegembiraannya selama berbulan-bulan juga. Sekaligus kecemasannya. Kegelisahannya. Ketidaksabarannya. Yang pasti, kertas itu kenangan untuk Sehun dan seluruh isi rumah ini pada bulan-bulan terakhir hidup Kris. Hanya satu lembar kertas yang dirobek dari buku tulis sekolah, tapi sangat berharga bagi hyung-nya saat dia masih hidup. Dan kini sangat berharga untuk orang-orang yang dia tinggalkan.
"Sangat menyukai warna biru," desis Sehun pelan, membaca salah satu poin di kertas itu dalam keadaan setengah sadar.
"Sangat jahil. Suka menjahili orang." Sehun membaca poin di yang lain... jika ada yang marah-marah karena sudah menjadi korban kejahilannya, Luhan akan menjulingkan mata. Membuat orang itu semakin marah.
Poin yang lain lagi...
Tidak bisa olahraga. Tidak ada satu pun olahraga yang dia bisa. Kecuali lari atau kabur. Karena biasanya sesudah menjahili orang, dia akan dikejar-kejar.
Poin yang lainnya lagi...
Jika mengikat rambut, tidak pernah rapi. Asal terikat. Tapi dengan rambut yang terikat asal seperti itu, berantakan, dia menjadi tambah manis. Cantik!
"Masa?" Sehun tertawa mendengus. Tidak yakin dan sama sekali tidak percaya dengan kebenaran kalimat-kalimat itu. Terutama yang terakhir.
Namun tak lama tawanya menghilang. Lelaki itu kemudian menghela napas dalam-dalam. Tercenung dalam keterdiaman yang lama.
.
.
.
Di saat yang sama, di kamarnya, Luhan juga sedang duduk dalam diam. Tercenung dalam. Tapi untuknya, tidak ada yang perlu di pikirkan tentang Sehun. Sama sekali. Percuma saja, ia tidak akan mendapatkan jawabannya. Yang ada malah menjadi emosi lagi jika mengingat kejadian tadi pagi.
Yang sedang dipikirkan Luhan dengan serius saat ini adalah, bagaimana caranya agar ia bisa nyaman duduk di deretan belakang yang sama sekali tidak ada murid perempuannya itu. Ditambah bersebelahan dengan lelaki stress yang sepertinya berpotensi benar-benar sakit jiwa. Tetapi, sampai matanya meredup, karena kantuk, Luhan tidak juga mendapatkan ide. Yasudahlah. Lihat bagaimana situasinya saja nanti, putusnya kemudian. Ia bangkit berdiri sambil menguap lebar-lebar sambil menuju tempat tidurnya, menjatuhkan diri di sana, dan tak lama kemudian ia jatuh terlelap.
.
.
.
Keesokan paginya, sambil menyiapkan diri berangkat ke sekolah, Luhan meneruskan berpikir soal semalam. Ketika akhirnya gadis itu membuka pintu rumah, siap berangkat ke sekolah, ia telah mengambil satu keputusan.
"Diamkan saja Sehun. Daripada aku tertular sakit jiwa!"
Meskipun begitu, belajar dari pengalaman kemarin, Luhan telah menyiapkan
langkah pencegahan. Semua PR untuk hari ini telah ia kerjakan. Jadi Sehun
tidak bisa lagi mengatakan, "Mengerjakan PR itu di rumah, bukan di sekolah. Melakukan apa saja kau semalam di rumah?"
Luhan juga telah menyiapkan langkah pencegahan tambahan, kalau-kalau langkah pertama tidak berhasil. Ia sengaja berangkat ke sekolah dalam waktu yang benar-benar mepet. Yang kira-kira nanti sampai di sekolah sudah akan bel.
"Jika perlu kurang satu menit dari bel. Jadi orang itu tidak mempunyai kesempatan untuk mengomel," katanya, bermonolog sambil berjalan dengan langkah cepat ke halte bus.
Akibat berangkat terlalu mepet itu, jarum jam sudah menunjukan delapan kurang lima saat bus yang ditumpanginya sampai ditujuan. Susah payah Luhan menyeruak di antara para penumpang yang menyesaki perut bus, resiko jika berangkat siang, dan berusaha mencapai pintu bus secepat mungkin.
Begitu berhasil mencapai pintu, Luhan langsung melompat turun dan berlari secepat-cepatnya menuju sekolah. Gadis itu sampai di ambang pintu kelas dalam keadaan mandi keringat dan napas terengah. Dan tepat seperti dugaannya, waktu sudah menujukkan pukul delapan kurang satu menit!
Sambil mengatur napas, Luhan cepat-cepat berjalan ke bangkunya dan langsung mengempaskan tubuhnya di sana. Lelah. Selain habis berlari, selama di bus dia juga terus berdiri, tidak dapat tempat duduk.
"Baru datang pukul segini!?" Sehun menyambut kedatangan Luhan dengan teguran galak. "Kau kira memang bisa, belajar dalam kondisi berkeringat seperti itu? Pasti tadi dari halte ke sekolah berlari. Iya, kan? Kau berangkat dari rumah jam berapa? Besok berangkat lebih pagi!" Luhan terkesima. Bibirnya sampai melebar. "Aku sudah mengerjakan PR di rumah," lapornya. Akibat ketersimaan itu, Luhan mendadak jadi polos dan bodoh.
"Bagus!" ucap Sehun singkat. Tak lama kemudian Luhan tersadar. Kenapa juga aku melapor ke dia jika sudah mengerjakan PR, ya? desisnya dalam hati. memang apa urusannya? Aku ingin datang jam berapa juga, terserah aku, bukan?
Tapi baru saja Luhan membuka mulut, mau balik marah-marah, bel masuk sudah berbunyi. Terpaksa gadis itu mengatupkan kembali mulutnya. Dalam hati ia bertekad, nanti jam istirahat pertama akan ia balas. Tapi tekad baru itu hanya bertahan sepuluh menit. Luhan segera teringat kembali tekad awalnya yang ia putuskan saat berangkat sekolah tadi: diamkan saja Sehun! Kemudian ia memutuskan dalam hati, kali ini dengan niat bulat. Ya, diamkan saja! Masalahnya jika tidak seperti itu, sepertinya akan panjang urusannya. Sekarang saja, selagi masalahnya masih benar-benar gelap dan status mereka juga masih teman baru, mereka sudah saling membentak sampai parah seperti itu. bagaimana nanti? Ih, seram! Luhan bergidik tanpa sadar.
"Kenapa?" bisik Sehun tajam. Lamunan Luhan memang tertangkap jelas olehnya, karena seisi kelas saat ini sedang sibuk mencatat dan cuma Luhan satu-satunya yang sibuk menggigit ujung bolpoinnya. Dengan serius pula.
"Ketahuan tidak mencatat, kau nanti bisa dimarahi...," bidik Sehun lagi. Jenis bisikan yang merupakan volume minimalis dari bentakan. Luhan cemberut. Tapi tidak berusaha membantah. Tentu saja. Meladeni orang gila di saat kelas sedang sunyi senyap seperti ini berarti dirinya sama tidak warasnya. Dengan senyum puas tertahan, Sehun melirik gadis di sebelahnya. Luhan mencatat dengan bibir cemberut maju beberapa senti. Sehun menjadi bersemangat menunggu jam istirahat pertama. Karena ia yakin, pertengkaran mereka akan berlanjut. Jadi bisa dibentak-bentak dan dimarahinya Luhan seperti kemarin.
Tapi kali ini, ia tidak ingin pertengkaran mereka terlalu terbuka. Tidak perlu terlalu heboh. Yang penting bisa membuat hatinya lega. Puas. Tidak peduli meskipun hanya sesaat. Sehun tidak tahu Luhan sudah tidak ingin lagi bertengkar. Sama sekali. Karena itu, saat bel istirahat pertama berbunyi dan Sehun langsung mengubah posisi duduknya menjadi benar-benar menghadap ke arahnya, Luhan sudah tahu lelaki itu pasti akan berbicara lagi. Dan dugaannya seratus persen tepat!
"Kau tidak punya jam, ya? kenapa bisa telat sekali seperti tadi!?" pancing Sehun. Luhan langsung bersyukur. Meskipun intonasi suara Sehun tinggi, volumenya sama sekali tidak tinggi. Jadi tidak sampai mengundang perhatian teman-teman sekelas. Dan sesuai tekadnya, Luhan memilih diam. Sebenarnya ia ingin langsung kabur ke kantin, tetapi Kyungsoo ada urusan dengan murid kelas sebelah.
"Pasti kau tidak sempat sarapan," lanjut Sehun. Tetap dengan nada menusuk. Luhan tetap diam. Dimasukkannya buku-buku pelajaran di atas meja ke dalam tasnya. Sehun tidak memperdulikan kebungkaman Luhan. Justru ada perasaan senang karena Luhan tidak membantah kata-katanya.
"Memangnya bisa, belajar dalam kondisi perut lapar dan badan berkeringat? Aku jamin tidak!" Luhan tidak tahan lagi, tapi tetap tidak ingin buka mulut. Dan Sehun tetap meneruskan kalimatnya. Lelaki itu semakin senang. Tanpa ia sadari, perasaan senang itu muncul karena ia dalam keadaan benar-benar dapat melupakan kesedihannya, bukan
karena sedang memarahi Luhan.
"Kau bangun terlambat karena semalam mengerjakan PR, ya?" ucap Sehun lagi, lalu tertawa geli. "Aku jadi tidak tahu, lebih baik mana. Kau datang tidak terlambat tetapi begitu sampai sekolah langsung mencontek PR, atau kau mengerjakan PR di rumah tetapi jadi datang terlambat...," Sehun terdiam sejenak, kemudian meneruskan kalimatnya dengan nada yang kembali tajam. "Menurutku dua-duanya tidak benar!"
Niat sekali lelaki ini marahnya! Desis Luhan dalam hati. Akhirnya ia memutuskan untuk cepat-cepat pergi. Daripada kesabarannya habis lalu ia langgar tekadnya dan akhirnya mereka saling bentak dan saling teriak seperti kemarin pagi.
Luhan menoleh ke arah Sehun dengan gerakan tiba-tiba, dan sikap garang Sehun sontak menghilang. Lelaki itu menatap pemandangan di depannya dalam ketersentakan hebat.
Luhan menjulingkan kedua matanya!
Hanya itu... Ya, hanya itu... tapi itulah yang ditulis Kris! Itulah yang ditinggalkannya dalam catatan! Luhan berdiri lalu berlari ke luar kelas. Ia tidak memedulikan
ekspresi kaget di wajah Sehun. Tidak memedulikan kondisi Sehun yang mendadak berubah menjadi arca hidup. Sendirian di kelas yang terasa lengang, mendadak Sehun merasa di tempat yang asing. Rasa lega sesaat yang tadi dirasakannya saat memarahi Luhan tadi
kini juga menghilang.
Sampai menjelang bel pulang, Sehun masih mencoba memancing kemarahan Luhan. Mencoba membuat gadis itu merespons setiap kata-kata tajamnya. Tapi Luhan benar-benar melaksanakan tekadnya, sama sekali tidak mengacuhkan Sehun dan semua pancingannya.
Cukup di kelas saja aku sebangku dengannya. Aku tidak ingin menemaninya sampai ke rumah sakit jiwa karena berbarengan gila! desis Luhan dalam hati.
Luhan lebih memusatkan perhatiannya pada murid lelaki yang duduk di belakang. Mana yang asik diajak berteman, mana yang lebih baik say hello saja. Hari ini ia juga tahu ternyata murid lelaki itu asik-asik. Sesaat sebelum istirahat kedua berakhir, Jaehwan, Chen, Myungsoo dan semua murid laki-laki yang duduk di deretan paling belakang, kompakan menyembunyikan buku catatan Bahasa Indonesia Tao, yang duduk di deretan yang sama dengan Luhan.
"Iseng saja," kata Jaehwan, sang pencetus ide.
Luhan yang baru saja kembali dari kantin tidak sengaja mendengarkan perkataan
Jaehwan itu dan langsung tertarik. Pelajaran apa pun, kalau itu ada di dua jam terakhir, selalu memerlukan kemauan yang lebih keras. Tekad yang lebih kuat dan semangat yang lebih membaja. Kedengarannya memang hiperbolis, tapi itu kenyataan. Fakta. Silahkan bertanya kepada semua pelajar yang masuk sekolah pagi dan pulang sore hari. Junior High School maupun Senior High School. Dijamin tidak ada yang masih dalam keadaan fresh di jam-jam itu. Kalaupun ada, hanya sebagian keciiil. Mungkin di jam pelajaran sebelumnya dia sukses bolos, atau berhasil berfikir tanpa ketahuan.
Jam setengah satu siang, saat matahari sedang terik-teriknya, saat kerja otak sudah menurun tajam karena belajar sejak jam tujuh pagi, wajar kalau niat iseng Ian itu langsung mendapat sambutan antusias. Bisa tertawa –minimal senyum lebar selama sepuluh menit sebelum memulai belajar lagi sampai tepat jam dua siang-jelas merupakan anugerah terindah.
.
.
.
Karena masih jam istirahat, kelas nyaris kosong, dengan leluasa Jaehwan menarik keluar tas Tao dari dalam laci lalu mengeluarkan buku cetak Sastra Korea dari sana. Dilemparnya buku itu ke Sanghyuk, yang menangkapnya dengan sigap dan langsung menyembunyikannya di dalam laci.
Tao ternyata langsung tahu. Begitu membuka tas hendak menyiapkan buku-buku dan mendapati buku cetak Sastra Korea-nya raib, ia sudah bisa menebak oknumnya pasti anak
-anak yang duduk di bangku deretan paling belakang. Hanya ia tidak tahu pasti siapa pelakunya. Lelaki itu kemudian berdiri dan bertolak pinggang.
"Siapa yang menyembunyikan bukuku? Kau, Jaehwan?"
"Ani!" Jaehwan menggeleng kuat-kuat.
"Apa kau, Chen?" pandangan Toao beralih ke Chen. Kedua matanya mulai melotot.
"Ani!"
Chen membeo jawaban Jaehwan, juga sambil menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Ani!" belum ditanya, Myungsoo sudah menjawab. Teman semejanya, Sanghyuk, jadi tetawa geli. Luhan. yang menyaksikan jalannya peristiwa itu sejak awal jadi terkikik juga, sementara sebagian teman-teman yang lain tidak menyadari peristiwa itu.
Tao mulai gusar.
"Mana bukuku? Kembalikan cepat! Sebentar lagi Bae seongsaenim datang!"
"Memangnya siapa yang menyembunyikan bukumu? Jangan menuduh sembarangan,"
kata Sanghyuk. Sampai Bae seongsaenim memasuki ruangan, tetap tidak ada satu pun yang
mau mengaku.
"Bukuku, ya! Cepat! Bae seongsaenim sudah datang!" seru Tao dengan suara tertahan.
Para lelaki yang duduk di deretan paling belakang itu tetap tidak ada yang mau mengaku. Mereka memandangi Tao sambil senyum-senyum. Chen malah memeletkan lidahnya.
Tao jadi semakin kesal. Akhirnya lelaki itu mengempaskan tubuh ke bangkunya lalu berseru lantang, tepat di saat Bae seongsaenim akan membuka mulut untuk meminta murid-muridnya membuka buku.
"SEONGSAENIM...! BUKU SAYA DISEMBUNYIKAN DENGAN ANAK YANG DUDUK DI BELAKANG...!"
Para lelaki di deretan paling belakang kontan tercengang, kemudian tertawa gelak-gelak. Seisi kelas ikut tertawa. Semua mata menatap ke arah Tao dengan penuh minat.
"Tao suka mengadu! Jangan ditemani!" seru Sanghyuk, ikut mengimbangi tingkah Tao yang seperti anak sekolah dasar.
"SAEEEEEEM! KATA SANGHYUK SAYA SUKA MENGADU, LALU TIDAK BOLEH DITEMANI!" seru Tao lagi. Seisi kelas tertawa lagi. Tapi tawa mereka kali ini terdengar berbeda. Mata mereka juga memandang Tao dengan sorot berbeda, sedikit menerawang. Bila dipastikan, sebagian besar murid kelas itu jadi ingat waktu zaman sekolah dasar dulu. Mengadu ke guru karena buku, bolpoin, atau barang-barang mereka yang lain disembunyikan teman dan tidak ada satu pun yang mengaku telah melakukan.
"Ada apa si kalian ini?" Bae seongsaenim memandang ke belakang dengan kening berkerut. "Seperti anak sekolah dasar saja. Kembalikan buku Tao. Kita akan memulai pelajaran. Jangan membuang-buang waktu!"
Sanghyuk mengeluarkan buku cetak Sastra Korea milik Tao dari dalam laci mejanya. Diopernya buku itu pada Chen, yang kemudian memberikannya pada Tao.
"Tao suka mengadu!" katanya.
"Biarin, wee!" Tao menyambar bukunya dari tangan Chen lalu menjulurkan lidahnya. Luhan terkekeh. Ia teringat teman-teman dan hari-harinya di Junior High School dulu. Kejadian itu membuatnya merasa lega. Berarti musibah yang dialaminya hanya satu: sebangku dengan Sehun. Lainnya tidak ada. Malah sepertinya duduk di belakang, bersama para lelaki jahil tadi, akan membuat hari-harinya di sekolah menjadi seru. Karena itu -setelah pelajaran Sastra Korea usai dan Bae seongsaenim berjalan ke luar kelas-Luhan tidak peduli saat didengarnya Sehun bicara dengan nada tajam.
"Jangan tidur larut malam, jadi besok tidak terlambat seperti tadi!"
Luhan menjawab dengan menghadapkan mukanya ke arah Sehun lalu menjulingkan kedua matanya. Kemudian gadis itu bangkit berdiri dan berjalan ke luar kelas dengan langkah cepat. Sehun mengikuti kepergian Luhan dengan pandangan mata. Sikap garangnya langsung hilang. Kembali ia merasakan itu. Perasaan asing yang tidak dikenalnya, namun membuatnya gelisah.
.
.
.
.
.
TBC
Hallo! Maaf atas keterlambatan update, maaf ya. soalnya kemarin keasikan nonton dance cover di depok town square, coba yang kemarin nonton angkat bulu ketek Chanyeol/? Gimana nih hunhannya, chapter depan lebih greget loh/? Makanya tetep baca dan review terus ya. TERIMAKASIH UNTUK YANG REVIEW, AKU BACA SEMUANYA. AKU LOVE KALIAAAAN, MWAAAH:****
