Marriage Not Dating Part 09
.
.
.
Cast:
Jung Yunho, Kim Jaejoong
.
Genre:
Comedy, Romance
.
Warning:
Remake/Saduran dari drama Korea dengan judul yang sama.. Yaoi/BL..
Disarankan untuk membaca secara perlahan.. kkkk.
don't like don't read..
.
.
** Happy Reading **
.
.
.
Seorang pria tengah terbaring tak sadarkan diri di dalam sebuah kamar mandi mewah. Gedoran pintu tak membuat sang pria terbangun. Bibirnya terlihat sangat pucat.
"Ya.. Jung Yunho. Jung Yunho.." Jaejoong menggedor pintu kamar mandi dalam apartemen mewah Yunho. Rasa khawatir terlihat jelas dari raut wajahnya.
Berulang kali Jaejoong berteriak memanggil nama Yunho, namun nihil, Yunho tidak menjawabnya. Jaejoong mencoba mendobrak pintu kamar mandi itu dengan sekuat tenaganya.
Setelah berhasil membuka pintu kamar mandi itu, Jaejoong terkejut saat melihat Yunho sudah telentang tidak sadarkan diri di lantai kamar mandi.
"Jung Yunho". Gumamnya saat melihat Yunho dalam kondisi mengenaskan.
.
.
.
"Chap 8 : Bahagia dengan Caramu Sendiri"
"Sebenarnya Bertahan dengan Caramu Sendiri"
.
.
.
Sebuah mobil sport putih melaju dengan sangat kencang di jalanan Seoul malam hari ini. Yunho melajukan kendaraannya dengan sangat kencang serasa dikejar oleh waktu. Jaejoong yang duduk disamping kemudi hanya menampakkan wajah gelisah. Bukan karena Yunho yang melajukan mobilnya seperti orang gila, tetapi karena hal lain.
"Kau akan mengakui semua hal ini, kan?" tanya Jaejoong sambul memegang erat sabuk pengaman yang melindungi dirinya.
"Aku akan mengurusnya". Jawab Yunho cepat.
"Jangan buat masalah ini jadi semakin memburuk". Lanjut Jaejoong.
"Aku akan mengurusnya". Jawaban Yunho lagi sambil melajukan mobilnya semakin kencang.
"Jangan menyakiti perasaan siapapun". Ancam Jaejoong.
"Serahkan saja padaku".
.
.
2 hari sebelum insiden –
.
Di ruang tamu yang sangat sederhana, duduklah Ms. Jung dengan anggun. Sesekali matanya melihat-lihat perabot yang ada di ruang tamu untuk mengusir rasa jenuhnya.
Tidak jauh dari ruang tamu, seorang yeoja paruh baya tengah menyeduh teh untuk tamunya.
"Maaf, hanya ini yang aku punya". Ucap yeoja paruh baya saat menyajikan secangkir teh kepada Ms. Jung.
"Maaf karena datang semalam ini". Kata Ms. Jung meminta maaf.
"Biasanya aku memang kerja jam segini. Tapi, aku ingin bermalas-malasan hari ini. Perutku sakit, mungkin karena aku akan bertemu denganmu!" ucap yeoja parh baya yang ternyata adalah ibu dari Kim Jaejoong. "Tapi aku senang kau datang. Jaejoong terus bilang, dia akan membawa kekasihnya ke rumah. Aku penasaran karena tidak ada beritanya lagi belakangan ini". Lanjut Ms. Kim bersemangat.
"Ah maafkan aku". Hanya itu yang bisa diucapkan Ms. Jung.
"Ah, kau tidak perlu minta maaf". Ucap Ms. Kim.
"Tidak, aku ingin minta maaf. Anakku tidak ada keinginan untuk menikah". Ms. Jung mencoba mengatakan maksud dan tujuannya datang ke rumah Ms. Kim.
"Tidak ada keinginan untuk menikah?" tanya Ms. Kim dengan raut bingung. "Anakku..." lanjut Ms. Kim, namun sudah terpotong oleh perkataan Ms. Jung.
"Ya, dia sangat berharap menikah dengan anakku. Aku sudah lihat kalau mereka sering melakukan yang tidak sepantasnya terkadang kali". Ucap Ms. Jung menjelaskan.
"Apa? Apa yang kau katakan?" kata ms. Kim semakin bingung.
"Maaf. Ini semua salahku. Orangtua semuanya pasti merasakan hal yang sama. Aku tidak ingin anakmu membuang-buang waktunya. Aku harus melakukan sesuatu. Jadi, aku memberanikan diriku kesini untuk mengunjungimu". Kata ms. Jung panjang lebar.
"Ehm. Astaga. Haruskah aku berterima kasih? Aku bingung. Bisakah kau paksa anakmu menikahi anakku?" kata ms. Kim gelisah.
"Aku sudah mencoba segala cara, sampai anakmu menyerah untuk menikah sekarang. Dia pasti ingin mempertahankan hubungannya. Sungguh menyedihkan". Ms. Jung memang benar-benar ahli dalam memanajemen orang.
"Jadi, ini cinta bertepuk sebelah tangan?" ucap Ms. Kim dengan raut wajah sedih.
"Aku juga merasa tidak enak padamu. Sekali lagi, aku minta maaf". Ucap Ms. Jung dengan penuh penyesalan. Kemudian mengambil tas tangannya dan berniat pergi dari rumah Jaejoong.
Namun saat akan meninggalkan ruang tamu, Jaejoong dan Yunho mendadak masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa-gesa.
"Eomma". Ucap Yunho saat melihat ibunya.
"Annyeonghaseyo". Ucap Jaejoong memberi salam kepada ibu Yunho.
Ibu Jaejoong langsung berdiri saat melihat Yunho datang bersama Jaejoong.
"Apa ini orangnya? Si pemilik restoran itu?" tanya Ms. Kim saat berada di depan Yunho. Ms. Jung, Jaejoong, maupun Yunho terlihat kaget saat Ms. Kim menyebut pria pemilik restoran.
"Apa?" tanya Ms. Jung kepada Ms. Kim.
"Maaf. Tapi aku melakukan semua ini sebagai ibunya". Lanjut Ms. Kim tanpa mau mendengar ms. Jung.
"Maksudku, kau bilang pemilik restoran?" tanya Ms. Jung kembali.
"Kenapa? Masalah buatmu?" ucap Ms. Kim ketus.
"Anakku ini dokter. Dia ini dokter bedah plastik". Kata Ms. Jung.
"Dokter bedah?" tanya ms. Kim.
Ms. Jung dan Ms. Kim bergantian melihat Jaejoong dan Yunho. Sepertinya ada yang sedang disembunyikan oleh keduannya.
"Ehm". Jaejoong ingin mencoba untuk menjelaskan, namun Yunho keburu menyelanya.
"Ini idenya untuk berbohong kepadamu". Yunho mencoba menjelaskan.
"Apa?" teriak Jaejoong ke arah Yunho.
"Dia sungguh keras kepala". Ucap Yunho menjelaskan kepada Ms. Kim. "Aku ingin memastikan dirimu dulu, Orangtua tidak boleh mengganggu, kau harus dirahasiakan". Lanjut Yunho menjelaskan semua apa yang dikatakan Jaejoong saat hubungannya keduanya dirahasiakan. Dan semua itu hanya karangan Yunho.
"Memastikan apanya?" tanya Ms. Kim menyelidik.
"Aku tahu. Seperti apa yang ingin dia pastikan kepadaku?" yunho sekali lagi mencoba menjelaskan. "Seperti, aku mencintaimu, aku membutuhkanmu. Dia ingin cinta yang lebih banyak. Tapi sangat sulit bagiku". Lanjut Yunho mendramatisir.
"Maka dari itu.. " ucap ms. Kim tertahan.
"Sebenarnya, aku ingin bertemu denganmu. Dan suatu kehormatan akhirnya aku bisa bertemu denganmu sekarang, Ibu mertua". Ucap Yunho dan itu membuat Ms. Kim sedikit memiliki harapan tentang hubungan anakknya dengan kekasihnya.
Yunho kemudian membungkuk memberi salam kepada Ibu mertuanya. Jaejoong hanya memelototkan matanya tidak percaya dengan apa yang sedang Yunho lakukan.
"Yunho" ucap Jaejoong dengan mata menyalang marah.
"Baiklah. Aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik lagi. Aku akan memberikanmu segalanya". Ucap Yunho kepada Jaejoong. Jaejoong hanya bisa menelan ludahnya kasar.
"Yunho, kau". Ms. Jung berucap dengan sedikit memberi penekanan bahwa dirinya saat ini sedang kesal.
"Ibuku kesini pasti karena dia taku Jaejoong akan menyia-nyiakan waktunya bersamaku kan?" tolong pengertiannya Ibu mertua. Aku akan mengantarnya pulang sekarang". Setelah membungkuk salam hormat kepada Ibu Jaejoong. Yunho menghampiri ibunya dan menyeretnya pergi dari rumah Jaejoong.
"Selamat tinggal Ibu mertua". Ucap Jaejoong saat melihat Ms. Jung yang secara paksa disuruh pulang oleh Yunho.
Jaejoong akhirnya bisa bernafas lega karena Ibu Yunho dan Yunho sudah pergi dari rumahnya, namun masalah baru mulai muncul.
"Astaga. Ini pasti tidak nyata!" teriak Ms. Kim bahagia.
.
.
.
"Semua ini kebohongan kan?" gumam Ms. Jung saat diperjalanan pulang.
"Apa?" tanya Yunho santai.
"Kau bilang dia ingin menikah denganmu. Itulah yang kau katakan kepada bibimu". Ucap Ms. Jung dengan wajah datarnya.
"Memang itu semuanya bohong. Kalau aku mengemis ingin menikah dengannya, nanti harga dirimu akan terluka. Kau kan selalu menjaga harga dirimu". Terang Yunho kepada Ibunya.
"Jadi itu sebabnya kau memperlakukanku seperti itu ketika disana? Agar membuatku malu?" tanya Ms. Jung jengah.
"Jadi, kenapa kau malah pergi kesana? Sudah kubilang tunggu saja". Ucap Yunho tidak kalah dingin dari Ibunya.
.
.
.
Ms. Kim berlari menuju kedai ayam milik suaminya. Jaejoong terlihat mengejar sang ibu,
"Eomma". Teriak Jaejoong. "Dengarkan aku dulu".
"Yeobo". Teriak Ms. Kim sesudah tiba di dalam kedai suaminya. Namun ms. Kim mengingat sesuatu dan segera menutup mulutnya.
Mr. Kim yang mendengar keributan yang dibuat oleh istri dan anaknya hanya melihatnya sekilas dan langsung mengambil sebuah papan kecil yang selalu dibuatnya sebagai alat berkomunikasi dengan sang istri.
"Panggil ayahmu". Suruh Ms. Kim kepada Jaejoong.
"Kau seharusnya tidak usah kesini". Tulis Mr. Kim di papannya dan memperlihatkannya kepada Ms. Kim.
Ms. Kim kemudian mengambil ponselnya dan langsung mengetikkan sesuatu. "Ada tamu datang ke rumah kita". Kemudian langsung mengirim pesan itu.
"Bukan seperti itu!" teriak Jaejoong frustasi saat membaca pesan yang ditulis sang Ibu.
Mr. Kim merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang bergetar. "Calon ibu mertuanya Jaejoong". Mr. Kim hanya melongo saat membaca pesan dari istrinya.
"Ya, ya ya". Teriak Mr. Kim sebagai respon kemudian pergi mendekati sang istri dan Jaejoong.
"Calon ibu mertuamu datang?" tanya Mr. Kim kepada Jaejoong.
"Ibu salah paham". Jelas Jaejoong kepada sang Ayah.
"Pria itu juga datang tadi" mr. Kim kembali membaca pesan yang dikirim istrinya.
"Si pemilik restoran?" tanya Mr. Kim kepada Jaejoong.
Ms. Kim hanya mengibaskan tangannya kalau bukan pemilik restoran yang datang.
"Bukan" jawab Jaejoong.
"Kalau bukan, lalu siapa?" tanya Mr. Kim makin penasaran.
Ms. Kim mencoba mengetikkan siapa pria yang datang ke rumahnya tadi. "Dia dokter bedah...
"Sebenarnya aku berbohong" ucap Jaejoong. "Dia itu..."
"Dokter". Teriak Ms. Kim sebelum Jaejoong menjawab pertanyaan sang ayah.
"Dokter? Kenapa kau berbohong". Marah sang ayah. Jaejoong hanya mendelik tidak suka ke arah sang Ibu.
"Dia dokter bedah plastik". Lanjut Ms. Kim.
"Tunggu". Jaejoong mencoba menghentikan kedua orangtuanya yang saat ini sedang berbicara.
"Dia orangnya juga imut". Kata Ms. Kim.
"Yang paling penting sifatnya!" ucap sang kepala keluarga Kim.
"Dia punya sikap yang baik padaku tadi. Ibu mertuanya juga sopan". Ucap Ms. Kim menjelaskan.
"Hei, kalian berdua saling bicara ya!" ucap Jaejoong saat melihat kedua orangtuanya bicara satu sama lain, bukan menggunakan pesan singkat maupun tulisan di papan seperti biasanya.
"Awas". Kata Mr. Kim kepada Jaejoong. "Pakaianmu aneh". Lanjutnya.
"Beritahu aku yang lebih jelas lagi". Kata mr. Kim kepada istrinya.
"Jadi, yang sebenarnya terjadi... " ms. Kim membisikkan semuanya kepada suaminya. Jaejoong hanya melihat kelakuan orang tuanya dengan malas.
.
.
Malam ini Jaejoong tidak bisa tidur dengan nyenyak. Badannya berkali-kali berguling ke kanan dan ke kiri. Sesekali ia tersenyum saat mengingat perlakuan baik Changmin saat di pesta amal. Perlakuan manis Changmin saat membantunya memakaikan sepatunya.
Jaejoong terbangun dari posisi tidurnya dan tersenyum senang saat mengingat itu. Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Jaejoong membuka ponselnya dengan masih tersenyum hangat, namun setelah membaca isi pesan itu, ia langsung melempar ponselnya dan berhenti tersenyum.
.
.
1 hari sebelum insiden –
.
.
"Lihat ini" Jaejoong menyerahkan ponselnya kepada Junsu. Saat ini mereka berdua sedang berada di dalam ruang ganti yang tersedia di Dept Store tempat Jaejoong dan Junsu bekerja.
"Sudah tidur". Junsu membaca pesan teks yang ditunjukkan Jaejoong. "Park Yoochun? Dia menyesal sekarang?" tanya Junsu.
"Tidak mungkin. Memang begitu sifatnya. Dia selalu mengirim ribuan pesan kepada semua wanita dan para uke". Jelas Jaejoong dengan menggebu-gebu. "Ah, dia selalu memberikan hadiah mahal pada gadis di pesta itu dengan Brand kita". Lanjut Jaejoong.
Junsu mengingat kejadian saat dirinya mengantarkan pesanan Yoochun di pesta amal.
"Sekarang, aku tidak punya perasaan lagi padanya. Aku sudah melihat dia yang sebenarnya. Pria yang lain sangat keren. Sangat baik". Seru Jaejoong.
.
.
.
Yunho masih tidur di atas kasurnya yang empuk. Namun ketenangannya terusik saat mendengar suara tombol-tombol pintu apartemennya berbunyi, sepertinya ada yang masuk. Dan benar saja, Ms. Jung saat ini sudah berada di dalam apartemen Yunho.
"Kau kesini lagi?" tanya Yunho kepada Ibunya sesaat setelah keluar dari kamarnya.
"Kau masih tidur?" tanya Ms. Jung. "Mandi-lah". Perintahnya.
Bukannya mandi, Yunho malah mengikuti Ibunya yang pergi ke arah dapur. Ms. Jung melihat isi lemari es Yunho. Kemudian mengabil paper bag kosong yang akan digunakannya untuk menampung semua makanan kaleng yang ada di dalam lemari es Yunho.
"Kau bilang rumah ini akan jadi milikku? Aku kan sudah bawa kekasihku ke rumah?". Tanya Yunho kepada Ibunya.
"Apa memiliki rumah ini hanya tujuanmu?" tanya Ms. Jung sambil tetap memasukkan makanan yang dianggapnya tidak layak makan ke dalam paper bag.
"Aku juga ingin tetap memiliki Jaejoong". Ucapnya santai.
"Aku tidak percaya kau mengucapkan itu. Kau ingin aku percaya ya?" ucap sang Ibu.
"Percaya atau tidak, dia juga sering datang kesini. Jadi, hargai privasi-ku. Agar aku mau menikah". Lanjut Yunho menasehati sang Ibu agar tidak sering datang ke apartementnya.
"Aku tahu kau tidak pernah punya tamu". Seru sang Ms. Jung.
"Habisnya, aku pulang Cuma untuk ganti baju saja. Kau beruntung saja, aku belum pergi. Jika kau terus menyerobot masuk begini, kau mungkin tidak akan melihat anakmu menikah". Ucap Yunho panjang lebar.
"Aku tidak bisa membiarkan anakku memberontak padaku lagi. Hentikanlah semua ini!" ucap sang ibu dingin.
"Kenapa ibu tidak menghentikan semuanya ini!" ucap Yunho tidak kalah dingin.
"Aku akan menemuimu lagi nanti. Tidak ada makanan sungguhan disini". Ucap Ms. Jung kesal dan membuang paper bag ke dalam tong sampah.
.
.
.
Yoochun terlihat asik mengirim pesan singkat dari smartphonenya.
"masih tidur?"
"Pagi?"
"Jaejoong-ah".
"Sedang apa?"
"Sibuk?"
Sudah beberapa kali Yoochun mengirim pesan kepada Jaejoong namun satupun pesannya tidak ada yang dibalas oleh Jaejoong.
"Tidak dibalas? Sungguh tidak bisa dipercaya". Gumam Yoochun tidak bersemangat.
Yoochun menghela nafas dalam karena merasa sedih pesannya tidak dibalas. Wajahnya terlihat sangat murung. Namun saat melihat Jaejoong sedang menaiki sepedanya ke arah restorannya, wajahnya kemudian menjadi sumringah.
"Lihat, lihat". Yoochun tersenyum saat melihat Jaejoong.
Jaejoong memarkir sepadanya dan mengambil paper bag yang ada di keranjang depan sepedanya.
Yoochun berpura-pura membaca saat melihat Jaejoong masuk ke dalam restoran miliknya.
Jaejoong melihat keseluruh penjuru restoran mencoba mencari seseorang yang ingin ditemuinya.
"Eoh, kau melihat Changmin?" tanya Jaejoong saat melihat Yoochun duduk di dekat jendela.
"Di dapur" jawab Yoochun tidak bersemangat.
"Aku masuk ke dalam ya?" kemudian Jaejoong menuju ke arah dapur meninggalkan Yoochun.
Yoochun yang kesal karena tingkah Jaejoong meneguk jus wortelnya dengan rakus.
.
.
Di dapur restoran Yoochun, seorang koki sedang memasak pasta.
"Berapa perbandingan krim dan pastanya?" tanya Changmin kepada sang koki.
"Pikirkan saja pekerjaanmu sendiri". Jawab sang koki tanpa melihat ke arah Changmin. "Jadilah pelayan yang baik".
Changmin hanya mengangguk dan kembali memakan spagetie yang berada di depannya sambil sesekali melihat sang koki memasak.
Jaejoong ke dapur dan menemui Changmin.
"Lagi makan siang ya?" tanya Jaejoong kepada Changmin.
"Ya, kenapa kau kesini?" tanya Changmin tanpa mengalihkan pandangan matanya ke arah makanan yang sedang dimasak sang koki.
"Aku membawa jas yang kupinjam. Terima kasih". Ucap Jaejoong tersenyum.
"Taruh saja di sana".
"Kenapa kau makan sambil berdiri?" tanya Jaejoong.
"Aku selalu begini".
"Kau bisa keluar tidak? Kau bilang mau makan denganku?" tanya Jaejoong lagi.
"Aku baru saja selesai makan". Jawab Changmin sambil tersenyum kepada Jaejoong.
"Ah, maksudku makan yang sungguhan". Jaejoong terus berusaha mengajak Changmin makan di luar.
"Nanti saja".
"Tapi aku tidak tahu nomor teleponmu".
"Aku tahu nomormu. Aku akan menelponmu nanti". Ucap Changmin.
Changmin mengabaikan Jaejoong karena terlalu asik dengan makanan. Jaejoong akhirnya pergi meninggalkan dapur.
"Diberi parutan keju juga ya?" tanya Changmin kepada sang koki.
.
.
Jaejoong meninggalkan dapur dengan wajah lesu.
"Kau bisa berhenti sekarang". Ucap Yoochun saat melihat Jaejoong keluar dari dapur.
"Apa?" tanya Jaejoong bingung.
"Kau tidak usah buat alasan lain, agar bisa melihatku. Kau bisa datang langsung padaku".
Jaejoong hanya memutar bola matanya bosan mendengar ocehan Yoochun.
.
.
Yunho baru saja keluar dari rumah sakitnya. Kemudian sebuah pesan masuk. Yunho mengambil samrtphonenya dan membuka pesannya.
"Ibumu sudah pergi. Berikan aku 5 juta won untuk info ini". Ternyata bibi Yunho memberikan sedikit informasi mengenai ibu Yunho.
.
"Aku sungguh merasa buruk padamu sekarang" kata Yoochun sambil mengejar Jaejoong yang saat ini pergi meninggalkan rstoran. Yunho yang sebenarnya berada di luar gedung sebelah restoran menoleh ke belakang, ke arah pertengkaran Yoochun dan Jaejoong.
"Terima kasih. Aku sudah kenyang dengan perkataanmu". Kata Jaejoong malas.
"Jangan seperti ini. Aku akan mencoba menyukaimu dengan tulus". Kata Yoochun sungguh-sungguh.
"Beraninya kau menyukaiku!" teriak Jaejoong marah.
"Ya, dia sudah menjadi milikku". Ucap Yunho secara tiba-tiba dan langsung merangkul Jaejoong di depan Yoochun.
"Kita kan berencana mau ke apartementku, ayo pergi". Kata Yunho kepada Jaejoong.
"Hah". Ucap Jaejoong bingung. Namun saat Yunho memberi sebuah kode akhirnya Jaejoong mengerti. "Ah, ayo pergi".
"Apartement?" gumam Yoochun belum sadar dari lamunannya, Jaejoong dan Yunho sudah pergi dalam hadapannya.
"Ya, tunggu!" teriak Yoochun sambil mengejar keduanya.
.
.
Yoochun mengikuti mobil Yunho. Dilajukan mobilnya dengan kencang, mencoba menghalangi Yunho yang membawa Jaejoong ke apartementnya.
"Ya ampun, kenapa dia terus mengejar kita?" ucap Jaejoong frustasi.
"Balas dendam-mu berhasil". Kata Yunho santai.
.
.
Yunho memarkirkan mobilnya, kemudian mengajak Jaejoong masuk. Tidak lama kemudian mobil Yoochun menghalangi keduanya.
"Semua akting ini untuk menipuku kan?" teriak Yoochun kepada keduanya.
"Kami ke sini untuk menyendiri berdua saja". Jawab Yunho acuh lalu meninggalkan Yoochun yang kesal.
"Tidak mungkin. Kau tidak pernah punya tamu". Ucap Yoochun sambil mengikuti keduanya dari belakang. "Aku tidak percaya ini! Aku sedang berbicara, Kalian mau kemana?"
Langkah Yoochun terhenti karena pintu kaca yang hanya bisa dibuka melalui akses pin yang dimiliki oleh penghuni apartement saja.
Yunho tersenyum sinis ke arah Yoochun saat melihat sang sahabat tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mau main kasar ya sekarang?" ucap Yoochun dengan tawa masam.
.
.
"Dia yang memutuskan-ku, tapi kenapa dia yang begitu?" gerutu Jaejoong saat keluar dari lift.
"Tapi kau kan ingin mengakhiri kesepakatan kita. Jadi, kau masih begini?" ucap Yunho yang berjalan di belakang Jaejoong.
Yunho menarik tangan Jaejoong saat Jaejoong melewati pintu apartementnya.
"Bantu aku sampai semua masalahku dengan Yoochun benar-benar selesai". Kata Jaejoong.
"Dia juga bilang hal yang sama, untuk menyingkirkan-mu". Kata Yunho sambil memencet password apartementnya.
Pintu membuka..
"Sekarang aku mengerti. Dia yang sebenarnya pantas diuduh penguntit". Ejek Jaejoong.
Yunho membuka pintu apartementnya, menyuruh Jaejoong agar segera masuk ke dalam.
"Baik, hanya sampai dia pergi saja" Jaejoong langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartement Yunho.
Setelah sampai di dalam, Jaejoong tak bisa menyembunyikan kekagumannya atas apartement mewah Yunho.
"Uah, rumah seorang bujangan bersih begini!" seru Jaejoong.
"Aku ini sengaja melajang, bukannya tidak bisa menikah. Aku lebih memilih untuk tetap melajang". Ucap Yunho sambil melepas blazernya.
"Tapi disini terlalu bersih". Kata Jaejoong sambil mendudukkan pantatnya di sofa.
Yunho menarik Jaejoong agar berdiri "Jangan duduk dimana pun". Yunho membersihkan sofa nya yang tadi diduduki oleh Jaejoong.
Jaejoong kemudian melihat-lihat perabotan yang ada di apartement Yunho. Matanya dengan jeli melihat mesin pembuat kopi yang terletak di sebelah vas.
"Buatkan aku segelas kopi?" seru Jaejoong sambil memainkan alat pembuat kopinya.
Dengan cepat Yunho berlari ke arah Jaejoong dan merebut alat pembuat kopi yang dipegang Jaejoong. "Jangan, ini hanya pajangan!"
Kemudian Jaejoong berseru senang ketika melihat benda kuno yang ternyata adalah pemutar musik piringan hitam.
"Kau juga punya ini?" tanya Jaejoong takjub.
Yunho kembali menujuke arah Jaejoong dan membersihkan barangnya setelah disentuh Jaejoong.
"Ini juga". Jaejoong mengambil piringan hitam yang ada disana.
"Jangan sentuh!" teriak Yunho.
"Uah, Nemo!" saat Jaejoong melihat akuarium yang lumayan besar dan berisi beberapa ikan hias yang sangat cantik.
"Hai Nemo!" Jaejoong menyapa ikan hias itu sambil menempelkan wajahnya di kaca akuarium.
Yunho kemudian menjauhkan kepala Jaejoong dari akuarium dan membersihkannya.
"Namanya Bukan Nemo!" ucap Yunho ke arah Jaejoong.
Jaejoong yang kesal kemudian memukul-mukulkan tangannya ke kaca akuarium dan pergi meninggalkan Yunho.
Jaejoong akhirnya menemukan kursi pijat dan langsung mendudukinya. Mengambil remote kontrolnya dan menyamankan posisi duduknya.
Yunho berlari ke arah Jaejoong dan seketika menghembuskan nafasnya kasar saat melihat Jaejoong sudah duduk di kursi pijat kesayangannya.
"Aku sudah mengaturnya dengan tepat". Kata Yunho pelan lalu duduk di lantai. "Kalau kau mengaturnya terlalu kuat, jadi terasa tidak enak".
"Tapi aku tidak bisa merasakannya". Ucap Jaejoong sambil melepaskan kaos kakinya dan melemparkannya sembarangan.
"Ku harap kau tidak mempunyai kaki seperti atlit". Gerutu Yunho sambil mengangkat kaos kaki Jaejoong.
"Wajar kalau aku begitu. Aku selalu berdiri seharian". Jelas Jaejoong.
"Bangun!" teriak Yunho sambil memukul pinggiran kursi pijatnya.
"Hentikan. Aku sudah berusaha keras, agar kau bisa terus melajang. Kau tahu seberapa besar pengorbananku! Aku harus pergi dari tempat itu".
Jaejoong mengingat kejadian di malam pesta sesaat dirinya mendapatkan telepon. Jaejoong membatalkan acara makannya dengan Changmin kemudian pergi berlari meninggakan pesta. Saat itu Jaejoong dan Yunho sedang diburu waktu karena kedua orangtua mereka sedang bertemu.
"Kau merusak segalanya!" geram Jaejoong. "Ini semua salahmu!"
"Yang kau maksud itu Ibuku!" jelas Yunho tidek terima karena Jaejoong menyalahkannya.
Namun perdebatan mereka terhenti saat mendengar seseorang memencet password apartement Yunho.
"Hmm.. siapa itu?" tanya Jaejoong.
"Dia kesini mau menghancurkan segalanya" ucap Yunho kepada Jaejoong dan langsung berdiri dari duduknya.
Yunho menarik Jaejoong berdiri dari kursi pijat dan mencoba membawa Jaejoong ke dalam kamarnya. Karena tergesa-gesa Yunho sampai terpeleset dan jatuh. Yunho kemudian cepat berdiri dan menyeret Jaejoong ke kamarnya.
"Ibumu?" tanya Jaejoong panik.
Menyuruh Jaejoong tiduran di kasurnya dan kemudian menutupi badan dan kepala Jaejoong dengan selimut namun menyisakan kaki mulus Jaejoong.
"Apaan ini?" Jaejoong berpikir saat Yunho menutupinya dengan selimut. Ketika Jaejoong bangun, Yunho kembali memaksanya tidur kembali.
.
Ms. Jung melihat ada sepatu lain saat memasuki apartement anaknya. Kemudian segera masuk dan melihat apakah ada tamu.
.
Yunho membuka sabuk yang dipakainya. Saat akan membuka kaos putih yang dikenakannya, Jaejoong bangun.
"Tunggu". Seru Jaejoong.
"Ahh". Yunho langsung memaksa Jaejoong untuk tidur kembali.
Yunho melepaskan kaosnya dengan cepat. Lalu membenarkan posisi tidur Jaejoong. Beruntungnya karena Jaejoong saat ini memakai celana pendek, jadi Yunho bisa membuat suasana seolah-olah mereka sedang tidur bersama.
Yunho memukul-mukul kaki mulus Jaejoong karena tidak bisa diam. "Ya, diam saja!"
.
Ms. Jung masuk ke dalam apartement Yunho. Melihat ke sekeliling namun tidak menemukan siapa-siapa. Arah pandangnya langsung tertuju ke arah sebuah kaos kaki yang tergeletak begitu saja di dekat kursi pijat.
Setelah meletakkan makanan yang dibawanya, Yunho keluar dari kamarnya. Sengaja Yunho membuka lebar pintu kamarnya agar Ibunya bisa melihat ke dalam kamarnya.
"Eomma datang?" tanya Yunho sesaat setelah keluar dari kamar. Yunho hanya mengenakan celana panjangnya, memperlihatkan bagian tubuh atasnya.
Yunho kemudian berpura-pura menyingkir dari arah pintu kamarnya agar sang ibu bisa melihat kaki Jaejoong yang mulus dibalik selimut nyaman Yunho.
Setelah dirasa Ibunya sudah melihatnya, Yunho kemudian berpura-pura kaget dan kemudian menutup pintu kamarnya.
"Aku melarangmu datang tadi karena ini. Jadi, aku minta maaf". Ucap Yunho dengan penuh penyesalan.
"Tidak. Aku tidak melihat apapun".
Setelah mengatakan itu, Ms. Jung langsung pergi meninggalkan apartement Yunho.
.
.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jaejoong pada Yunho setelah Yunho kembali ke kamar.
"Aku menyembunyikanmu, agar tidak terlihat aneh". Jawab Yunho biasa saja.
"Kenapa kau melepas bajumu?" teriak Jaejoong saat melihat Yunho yang masih belum memakai kaosnya kembali.
"Kau duluan yang melakukannya". Ucap Yunho sambil melemparkan kaos kaki Jaejoong yang tadi.
Kemudian Yunho mencari kaosnya tadi dan memakainya di hadapan Jaejoong.
"Kau membawaku kesini agar ibumu mau keluar?" tanya Jaejoong. "Tapi, dia kan sudah bawa makanan untukmu? Kenapa kau malah begini?"
"Aku ingin berhenti sekarang. Aku akan bilang kepadanya yang sebenarnya. Aku juga akan memberitahu keluargaku". Ucap Jaejoong sambil memakai kaos kakinya kembali.
"Kau belum memberitahu keluargamu?" tanya Yunho.
"Aku akan memberitahunya". Teriak Jaejoong.
"Tapi Ibu-mu mencintaiku. Orangtuamu semuanya menyukaiku". Ucap Yunho percaya diri.
"Aku akan memberitahu mereka!" teriak Jaejoong lebih keras tepat di depan wajah Yunho.
.
.
.
"Ini dia. Ini ayamnya!". Mr. Kim membawakan beberapa potong ayam goreng kepada pelanggannya yang ternyata juga tetangga mereka.
"Nikmatilah!" ucap Ms. Kim. "Dan juga, datanglah ke pesta pernikahan anakku nanti. Mereka akan segera menikah".
"Astaga, lihatlah senyum lebar itu, wajahmu keriput nanti!" goda Ms. Jang, pelanggan kedai ayam goreng keluarga Kim.
"Tapi kan menantunya dokter bedah plastik. Dia pasti akan memberinya botox, jadi tidak usah khawatir". Sahut Ms. Song yang duduk di depan Ms. Jang.
Jaejoong yang baru saja sampai di kedai milik orangtuanya hanya bisa memejamkan matanya saat mendengar semua orang membicarakan pernikahannya.
"Oh, Jaejoong-ah, kau datang?" ucap Ms. Kim saat melihat putranya berada di pintu masuk kedai.
"Ayo bergabung bersama kami". Ajak sang ayah sambil menyeret anaknya ke hadapan para ibu-ibu. "Sapa mereka semua".
"Beritahu kami semua tentang dia". Minta Cho ahjumma kepada Jaejoong.
"Apa dia orangnya tampan?"
"Berapa umurnya?"
"Dimana kliniknya? Aku mau kesana".
Jaejoong hanya tersenyum hambar mendengar semua orang sangat antusias menanyakan Jung Yunho.
.
.
Jaejoong berjalan-jalan mencari udara segar. Pikirannya saat ini sedang kacau.
"Aku ingin minum alkohol". Gumamnya. "Aku ajak Junsu saja".
Jaejong mengambil ponselnya kemudian mendial nomor Junsu.
"Oh Junsu-ya. Kau mau minum denganku?".
"Aku tidak bisa hari ini. Mianhae Hyung". Jawab Junsu.
"Tidak apa. Baiklah, sampai ketemu besok".
Jaejoong menutup panggilan teleponnya. Kemudian ia teringat percakapannya dengan Changmin saat dia dengan jujur tidak memiliki nomor ponselnya dan Changmin nanti yang akan menghubunginya duluan.
"Kapan kau mau menelponku?" tanya Jaejoong pada ponselnya.
.
Jaejoong akhirnya sampai di depan restoran Yoochun. Dia berharap bisa menemui Changmin.
Jaejoong mengendap-endap layaknya stalker. "Aku tidak boleh dilihat oleh Yoochun".
Namun saat melihat ke dalam restoran, Jaejoong melihat Yoochun sedang makan malam dengan seorang namja uke. Posisi namja itu membelakangi pintu, jadi Jaejoong tidak dapat melihat wajah namja itu.
Jaejoong kemudian melihat Yoochun menyerahkan sebuah credit card kepada namja itu "Kartu kreditmu sekarang jadi hadiah ya?" gumam Jaejoong.
.
.
"Aku akan mengembalikannya padamu nanti". Ucap sang namja uke kepada Yoochun yang sedang menyeruput kopinya.
"Astaga, kau tidak usah repot-repot datang ke sini". Jawab Yoochun santai.
"Jaejoong hyung nanti akan merasa tidak nyaman". Ungkap namja itu yang ternyata adalah Junsu.
"Dia bilang begitu?" tanya Yoochun. "Dia pasti sangat sakit hati".
Junsu hanya tersenyum menanggapinya. "Dia tidak membalas pesanmu kan?" tanya Junsu dan itu membuat Yoochun tersedak kopi panasnya.
"Dia mau main kasar". Kata Yoochun.
Jaejoong masuk ke dalam restoran dengan sembunyi-sembunyi. Dia berjalan pelan dan menutupi mukanya dengan tangannya.
"Dulu dia tidak pernah begitu". Lanjut Yoochun.
"Apa dia ada di dapur ya?" gumam Jaejoong sambil terus berjalan membungkuk ke arah dapur mencari Changmin.
"Dia selalu ingin bersamaku" ucap Yoochun sambil menoleh ke arah meja counter. Dan seketika itu juga matanya melihat Jaejoong.
"Kim Jaejoong!" teriak Yoochun senang.
Jaejoong berhenti berjalan dan diam membisu. Yoochun berdiri dari duduknya dan mendekati Jaejoong, dan Junsu berusaha menutupi wajahnya dari Jaejoong.
"Jaejoong, kau kembali". Tanya Yoochun.
"Hei, aku kesini bukan mau melihatmu ya!" ucap Jaejoong sambil menunjuk ke arah muka Yoochun.
Yoochun hanya tertawa masam.
"Hyung". Sapa Junsu, percuma saja dia bersembunyi, nanti juga bakalan ketahuan.
"Sejak kapan kalian berdua.." tanya Jaejoong pelan. Jaejoong tidak menyangka bahwa Yoochun dan Junsu tengah dekat.
"Ah, Jaejoong-ah.."
Sebelum Yoochun menjelaskan, Jaejoong sudah pergi meninggalkan restoran Yoochun, melupakan niatnya untuk menemui Changmin.
"Jaejoong-ah, Tunggu!" teriak Yoochun. Junsu mencegah Yoochun yang akan mengejar Jaejoong.
"Biarkan saja". Ucap Junsu. "Dia yang memulai semuanya. Mata dibalas mata".
"Tapi aku tidak ingin dia membencimu karena aku". Kata Yoochun.
"Tidak apa, lagipula aku yakin semuanya akan berakhir bahagia. Salah paham bisa diselesaikan". Lanjut Junsu.
Jaejoong berjalan cepat keluar dari restoran Yoochun. Kepalanya benar-benar sangat pusing. Saat sampai di luar, Jaejoong malah melihat Changmin yang baru saja keluar dari sebuah mobil.
"Aku banyak tertawa hari ini karenmu. Thank You". Ucap seorang yeoja dari balik kemudi kepada Changmin.
"Itu hanyalah layanan gratis. Kau juga telah banyak membayarku". Ucap Changmin sambil tersenyum.
Kemudian sang yeoja melihat Jaejoong yeng tengah menatap ke arahnya dan Changmin. Akhirnya Changmin juga membalikkan badannya dan melihat kalau Jaejoong saat ini tengah menatapnya.
Changmin terlihat kaget saat melihat Jaejoong, Jaejoong kemudian berbalik arah dan berlari pergi meninggalkan Changmin yang berdiri terpaku melihat kepergian Jaejoong.
.
.
.
.
Gamsahamnida..
Terimakasih buat yang sudah mau review, follow, maupun favorite..
Ok. Ini udah 4K lebih, biasanya Cuma 2K.. masih kurang panjang? Semoga tidak.. kkkkk.
Dan semoga tidak semakin membosankan..
Sekali lagi, Thank's..
.
.
^,^ Phicha Gyuzizi ^,^
