DefluentibusFoliis

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : Shikamaru N X Hinata H

Genre : Romance

Warning : Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya,

Chap IX

Aku selalu berjalan tepat di belakangmu…

Bersama dengan bayanganmu…

Memastikan bahwa kau baik-baik saja…

Bisakah kau sekali saja, berhenti melangkah dan tengoklah aku di belakangmu…

Hinata Hyuga,

Aku… Mencintaimu selamanya…

Sudah hampir 6 bulan sejak kepergian Naruto, sigh aku bahkan mengambil cuti satu semester dari perkuliahan… karena aku berfikir akan sangat percuma aku kuliah saat itu… pikiran ku sedang tidak mampu, ada belahan jiwa dari diriku yang ikut terkubur dalam pusaran Uzumaki.

Entah apa yang direncakan Tuhan untukku, dia menciptakan Naruto untuk melengkapi kehidupanku, tapi kenapa dia juga yang mengambil Naruto dari kehidupanku.

Dan untuk Hinata Hyuga, And when all is said and done …

Yang bisa aku lakukan hanya melihatnya dari kejauhan… memastikan bahwa dia baik-baik saja, mendapat kabar tentang kondisinya dari sang bunke setiap harinya dan aku sudah sangat bersyukur… walau sudah hampir 6 bulan sejak kematian Naruto, luka yang tercipta sepertinya sulit untuk ditutupi… Hinata memang beraktivitas seperti biasa, dia berkuliah seperti biasa menghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan keluarga Hyuga seperti biasa, tapi… amethyst nya jelas menampilkan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya… dia rapuh, walau dari perbincangan nya yang terakhir dengan ku dia mengatakan akan berusaha hidup seperti biasanya, tapi jelas… dia tidak sekuat itu… kehilangan yang terkasih untuk selamanya jelas membuat jiwanya pun ikut terkubur bersamanya.

Hinata… I'm waiting here forever with this shattered heart…


Sudah musim panas…

Walaupun saat ini berada dalam apartemen, tetap saja… aura panasnya rasanya terasa sampai kulit… aku benar-benar malas melalukan apapun, sepanjang hari yang aku lakukan hanya merebahkan diri di sofa ruang tengah apartemen, televisi sengaja aku biarkan menyala sejak semalam tanpa minat untuk menonton.

Sigh, walau dalam musim panas seperti ini, kenapa yang aku ingat hanya Hinata… sedang apa yang dia sekarang ? ucapku dalam hati. Padahal hampir setiap senja aku selalu menyempatkan untuk melihatnya dari kaca besar kamarnya, melihat dia baik-baik saja, aku sudah sangat bahagia.

Tiittt

Ponsel ku bergetar, terdengar jelas dalam ruangan yang hanya ada aku seorang diri bunyi notifikasi email yang masuk. Hn, pasti Chouji yang mengirim email ucapku dalam hati. Dengan malas aku terpaksa duduk dan mengambil ponsel yang tergeletak di meja.

Tapi ini,

Mataku membulat sempurna, mulutku bergumam tak percaya membaca nama si pengirim email, yang aku rasakan dadaku berhenti berdetak lalu bergemuruh dengan hebat setelahnya, ini… tidak salah kan ? bukan salah pengiriman atau kesalahan operator mengirim email ?

Kuso ! bahkan untuk membuka kotak email dalam aplikasi ponsel sendiri saja tanganku sudah sangat bergetar…oh Kami-Sama, kenapa Hinata sampai bisa membuatku seperti ini ?

From : H_Hinata

To : Shika_Naara

Subject : -

"Konnichiwa, Nara-san… apa kau sedang sibuk ? ada yang ingin aku bicarakan, bisa aku hubungi sekarang atau jam berapa bisa aku hubungi ?"

Sankyu,

Hyuga Hinata

Ini… Hinata ? Benar ini Hinata yang mengirim email ?

Butuh lebih dari 15 menit untuk aku membalas pesan dari Hinata, banyak kata-kata yang sudah aku ketik di ponsel tapi kemudian aku hapus kembali karena rasanya masih belum pas dan tidak sopan, kemudian aku ketik lagi dan aku hapus lagi terus berulang sampai 15 menit berlalu…

Ayolah Shikamaru… kau itu seorang Nara, apakah IQ mu sama sekali tidak bekerja jika berhubungan dengan Hinata, membalas email saja butuh lebih dari seperempat jam ! Maki ku pada diri sendiri.

From : Shika_Nara

To : H_Hinata

Subject : -

"Oh, Hai… Silahkan."

Send…

Huuuuuuuh… Setelah menekan tombol send, hembusan nafas penuh kelegaan hanya ini yang bisa aku lakukan.

Selang beberapa menit berlalu tidak ada balasan dari Hinata, gugup ! jelas aku gugup, yang bisa aku lakukan hanya kembali ke posisi awal merebahkan diri di sofa, lalu beberapa detik kemudian aku kembali duduk dan mengecek pesan di ponsel walaupun jelas tidak ada pesan masuk bunyi nya saja tidak terdengar, lalu aku tiduran kembali tidak bertahan lama aku duduk kembali, berulang-ulang seperti itu… oh ya Tuhan, apa dia marah karena aku balas pesannya terlalu lama ? Ah… Kuso ! kenapa aku harus sebodoh ini. Rasanya begitu lama menunggu balasan dari Hinata, aku sangat penasaran sekaligus bahagia walaupun aku belum tau alasan dia mengirim pesan yang jelas aku sangat bahagia, artinya dia mengingatku dan itu semua sudah cukup untukku.

Lalu kemudian,

Drrrtttt… Drrtttt

Ponsel ku bergetar, Panggilan masuk… Hinata calling ?

Ya, memang Hinata tidak pernah memberikan nomer ponsel pribadinya padaku, tapi aku Nara, aku jelas bisa tahu jika hanya mengenai nomer ponsel nya… nomernya, sudah lebih dari bebebapa musim ada di kontak ponselku.

Setelah 3x aku keluarkan dan hembuskan nafas perlahan, rasa gugupku mulai berkurang, aku accept panggilan darinya "Ehh… Hai… Moshi-moshi ?" sapaku.

"Moshi-moshi Na-nara-san, Hinata desu ?" jawab Hinata, suaranya yang lembut seperti biasa sesaat menghilangkan kesadaranku rasanya sama seperti meminum wine, jelas memabukan.

"Hai, Hinata-san, Ogenki desu ka? " Tanyaku kikuk sambil menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal, yaah berharap bisa sedikit menghilangkan rasa nervous. "Hai, genki desu, Nara-san sendiri bagaimana kabarnya ?" tanya Hinata kemudian.

"A-aku baik," jawabku, "Oh iya, kau pasti menghubungi ku pasti karena ada sesuatu, ada yang bisa aku bantu Hinata-san ?" tanyaku lagi.

"ya, gomenne Nara-san, aku menghubungi hanya disaat ada perlu saja." jawab Hinata kemudian, suaranya terdengar lirih… ah sial ! kenapa aku malah bertanya seperti itu padanya, Hinata pasti tersinggung.

"Daijubou Hinata, bagaimanapun situasinya… aku senang kau menghubungiku."

"Sekali lagi gomenne Nara-san, sebenarnya aku dari dahulu ingin menghubungimu, mungkin kirim email padamu… tapi aku takut kau sedang sibuk dan aku malah menggangu aktivitasmu."

Kami-sama…

Pipiku memerah, yaaa… aku bisa merasakan pipiku memerah sama seperti kebiasaan Hinata jika dia sedang malu atau tersipu. Hatiku menghangat, ini artinya… Hinata memikirkan ku selama ini.

Tidak-tidak tidak, aku gelengkan kepalaku, berharap menghilangkan pikiran absurd ini, mana mungkin Hinata memikirkanku, dia mungkin hanya merasa khawatir padaku.

Ck, Mondokusai

Aku tertawa canggung "Hahaha, tidak apa-apa Hinata-san, oh iya apa yang bisa ku bantu ?"

"Begini Nara-san, Universitas ku sedang mengadakan event tahunan, kebetulan aku jadi panitia dan dalam event kali ini akan ada seminar yang bertujuan meningkatkan mental mahasiswa supaya lebih berprestasi, dan kupikir Nara-san orang yang sangat tepat." Ujar Hinata

"Hahahaha, begitukah ? apakah kau berpikir aku orang yang berprestasi Hinata ? lagipula Universitas kita berbeda, akan jadi masalah jika aku menjadi pembicara di universitas lain." jawabku lagi, sambil kembali merebahkan diri di sofa, saat ini rasanya sudah tidak gugup seperti tadi.

"Tentu saja, dengan semua olimpiade yang sudah Nara-san dapat, rekor-rekor yang sudah Nara-san buat sampai saat ini tidak ada yang lebih layak untuk menjadi pembicara, Nara-san cuti semester kan tahun ini ?" tanya Hinata kemudian. "Ya," jawabku singkat.

"Kemarin aku ke Universitas Nara-san, aku mengunjungi fakultas farmasi tapi aku disana bertemu dengan teman-teman Nara-san mereka bilang Nara-san cuti di semester ini, makanya aku menghubungi Nara-san lewat email, tadinya aku ingin berbicara langsung dengan Nara-san tentang masalah ini." ujar Hinata yang berbicara melalui ponselnya.

"Hakh ?" responku seperti orang idiot.

"Iya, Universitas kita kan berkerjasama dalam acara ini, kebetulan tempat ku yang jadi tuan rumah, jadi… tidak akan jadi masalah kan hihihihihi ?" ujarHinata sambil tertawa… terdengar suara tawanya dari seberang sana. Kami-sama… mendengar tawanya lagi-lagi hatiku menghangat.

Senyumku mengembang…

as you wish, Hinata… ucapku dalam hati, jangankan menjadi pembicara, kau minta aku untuk terjun dari atap gedung pun aku bersedia "baiklah" jawabku "lalu, apa saja yang perlu aku persiapkan ?"

"Artinya Nara-san bersedia menjadi pembicara ?" tanya Hinata ragu

"Iya, kupikir tidak masalah, lagipula ini sudah mulai masuk liburan musim panas." jawabku meyakinkan.

"Hai, arigato gozaimasu Nara-san, sekali lagi sankyu arigatou." ucap Hinata. "untuk detail acaranya, jika tidak keberatan bisakah kita bertemu Nara-san ?"

"Bisa !" Jawabku lantang, tentu saja bisa Hinata.

"Souka, besok di taman Konoha aku tunggu jam 10.00 pagi bagaimana ?" tawar Hinata

"Baiklah."

"Baiklah, sekali lagi arigatou ne Nara-san, ehm… Ja, mata ashita." ucap Hinata.

"Ja ne… " ucapku

"Nara-san ?" tanya Hinata kemudian.

"Ya ?" Jawabku…

"Aku tutup telponnya yah ?"

"Oh, ya ya silahkan… ?" jawabku canggung

"Baiklah." Jawab Hinata ragu.

"Hinata-san ?" tanya ku lagi. "Ya ?" Jawab Hinata

"Bisakah kau mulai sekarang memanggil namaku saja, jangan marga ku, rasanya tidak nyaman didengar ?"

"Bo-bolehkah ?" tanya Hinata ragu

"Ya, kenapa tidak." jawabku

"Baiklah, Shikamaru-san." ucap Hinata lagi.

"apa tidak terlalu panjang Hinata-san ?"

"Ehhm…. Shika-san saja bagaimana ?" tawar Hinata

Aku tertawa garing "Ya, tapi rasanya aneh juga yah… Hehehehe." jawabku

"Baiklah, bagaimana jika Shika-kun saja ? apa Nara-san tidak keberatan ?"

Ini yang aku mau Hinata… "Ya, tidak masalah Hinata-chan." Dan Hinata hanya tertawa di ujung panggilan sana, mungkin terdengar lucu aku memanggilnya dengan suffix –chan. Hinata tertawa, dan aku disini hanya bisa merona, pipiku memanas… "Baiklah, sampai bertemu besok pagi Shika-kun." Ucap Hinata akhirnya. "Ja… Hinata-chan."

-DefluentibusFoliis-

Mendustai diri seolah aku tak peduli, padahal ini terasa sulit.

Aku selalu merasa melihatmu dari kejauhan sudah lebih dari cukup untukku,

Bisa memastikan kau baik-baik saja aku sudah sangat bahagia...

Segala hal yang sudah aku perjuangkan untuk satu tatapan, satu sentuhanmu...

I'm giving it all away...

Yang terus membunuhku setiap kali aku merindukanmu...

Tapi kenapa perasaan ini berubah ?

Rasanya saat ini aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri.

Hinata-chan, aishiteru.

Sekali lagi terima kasih banyak untuk reader yang sudah bersedia membaca, dan ada banyak review yang masuk di email saya, tapi kenapa saat di kotak review pesannya malah tidak ada, dan aku pun tidak tau caranya membalas review, bodohnya aku huft . saya tidak paham sama sekali ? ada yang tahu kah kenapa ? Sekali lagi, sankyu arigatou buat yg bersedia membaca.