BAB 9 KELUARGA EVANS (Bagian 1)
.


oOOOo

A/N: Maaf baru bisa update setelah sebulan lebih menghilang. Selama waktu itu laptop saya sedang trouble, bahkan waktu ngerjain chapter 7-8 sambil ngerusuh di laptop temen, dan chapter 9 ini sendiri seringnya ngerjain di warnet, itupun kadang komputernya nggak punya Ms Word. Hiks. Chapter 9 ini juga panjangnya hampir 2x lipat dari biasanya, jadi butuh waktu lama untuk menerjemahkan, dan pada akhirnya agar readers nggak ketinggalan terlalu lama, saya potong jadi 2 bagian nggak apa-apa ya. Special thanks to mitsalia atas PM-nya semalam, membuat saya kembali semangat menuntaskan ini. Selamat membaca.:)

oOOOo


Lily dan James mendarat di sebuah taman kecil berlapis salju, membawa koper mereka. Mereka menjatuhkan botol yang mereka gunakan sebagai Portkey, dan Lily memimpin James menuju rumahnya. Dia membuka pintu geser yang mengarah ke ruang tamu, menyeret kopernya diikuti James. Lily menaiki tangga ke kamarnya dan melempar kopernya ke lantai, lalu menanggalkan jaket dan syalnya. James menirunya, memandang berkeliling kamar Lily; nyaman sekali di sana. Ada rak buku di salah satu sudut yang disesaki buku-buku, dan meja rias di depan dinding di sebelah pintu yang diduga James merupakan kamar mandi. Lemari Lily diletakkan di sebelah pintu kamar. James memperhatikan bahwa tidak ada meja belajar di kamar itu.

"Meja belajar?" tanyanya, memandang berkeliling.

Lily mengangkat bahu. "Kusingkirkan waktu aku sebelas tahun. Aku tidak butuh meja belajar sejak saat itu. Selama liburan, aku mengerjakan PR di tempat tidur."

James mengangguk dan mengamati boneka-boneka binatang di atas tempat tidur.

"Aku mengoleksi," kata Lily.

James tertawa. Lily menarik tangan James dan mengajaknya ke bawah untuk berkeliling rumah. Tur singkat mereka berakhir di dapur, dan perut James berkeriuk.

"Sudah kuduga," gumam Lily selagi James duduk di salah satu kursi. Lily menghampiri sebuah lemari. "Kau mau makan apa?"

James mengangkat bahu. "Roti bakar?"

Lily mengambil beberapa potong roti dan memasukkan dua di antaranya ke dalam pemanggang roti. Dia berbalik dan duduk di kursi di sebelah James, bersandar di bahunya.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya James, melingkarkan tangan ke sekeliling Lily.

"Entahlah, sudah lebih baik dengan kembali ke rumah, tapi aku masih sedikit shock," jawab Lily. "Bagaimana denganmu?"

James mendengus. "Tidak ada yang terjadi padaku."

Lily menggelengkan kepala. "Aku tahu kalau aku yang melihatmu disiksa, aku tidak akan baik-baik saja," katanya pelan.

James merasa bahunya anjlok. "Itu mengerikan," ujar James dengan suara tercekik. Lily meremas tangan James. "Tapi sekarang aku tenang karena aku tahu kau baik-baik saja."

Lily mengangguk. Pemanggang roti mengeluarkan suara berisik yang mengumumkan rotinya selesai dipanggang, dan James terlonjak. Tertawa, Lily bangkit dan mengambil roti itu, namun James menghampirinya dengan terpesona, "Apa itu?"

"Ini pemanggang roti," Lily memutar matanya. Kelihatannya memang sederhana, tetapi dia menyadari bahwa orang-orang yang tidak berasal dari keluarga Muggle belum pernah menggunakan pemanggang roti atau alat-alat elektronik lainnya.

"Bagaimana kau menggunakannya?" tanya James, mengangkat pemanggang roti itu dan memeriksanya. Lily menunjukkan cara penggunaannya, dan James mengambil sepotong roti dan memasukkannya ke dalam pemanggang itu.

"Jangan membuang-buang roti!" seru Lily ketika James menambahkan sepotong roti lagi ke dalam pemanggang. Sekarang mereka memiliki empat roti panggang. James mengabaikan Lily dan tertawa selagi roti itu meloncat dari pemanggang roti. Dia menoleh pada Lily.

"Aku tidak membuang-buang roti, akan kuhabiskan semuanya," katanya penuh tekad. Disambarnya keempat roti panggangnya dan duduk, memandang penuh harap ke arah pemanggang roti.

"Akan kubelikan satu kalau kita menikah nanti," kata Lily, tertawa, membuat James membeku. Lily mendadak menyadari kata-katanya, dan terpaku. "A-Aku tidak bermaksud..." Lily tergagap.

James menatapnya dengan senyum merekah.

"Kenapa kau minta maaf?"

Dia menatap Lily dengan sangat intens, membuat Lily merona. Lily menggelengkan kepala dan melihat James menyeringai.

"Apa aku membuatmu tak nyaman?"

Lily mendengus, lalu bangkit menuju lemari dan berusaha meraih kotak serealnya, tetapi hampir tidak mencapainya. Menghela napas, dia mengikat rambutnya dan mulai memanjat konter, dengan satu tangan menahan di belakangnya, dan mengambil kotak serealnya.

Jane Evans memasuki dapur mengenakan jubah mandi berbulu merah jambu dan sandal berbulu. Rambut merah gelapnya disanggul dan jatuh hingga matanya. Dia berhenti menyadari ada orang di dapur.

"Maaf, Tuney, aku tidak tahu kau sudah bangun," dia sudah berbalik hendak keluar dapur, namun detik berikutnya membeku, berbalik, melihat Lily dan James sedang berdiri mengawasinya, terhibur. "Lily!" jeritnya, berlari menghampiri putrinya yang tertawa dan memeluknya.

"Hai, Mum," Lily mengelus punggung ibunya. James mengamati ibu dan anak itu, memperhatikan rambut mereka seperti membaur, dengan warna yang sama, dan Lily lebih tinggi daripada ibunya.

"Aku merindukanmu. Kenapa kau datang cepat sekali? Kau bolos sekolah ya?" tanya ibunya cemas.

Lily menggeleng. "Tidak ada alasan khusus. Kami hanya datang lebih awal."

Ibunya mengerutkan kening, lalu menoleh, memperhatikan James, dan menariknya dalam pelukan.

"Oh, senang sekali bertemu denganmu!" jeritnya.

James memandang melalui kepalanya kepala Lily, yang mengawasi ibunya dengan alis terangkat; ibunya melotot pada Vernon pertama kali mereka bertemu.

"James, kan?" tanya Jane, menjauhkan James, yang tersenyum dan mengangguk.

"James Potter, Ma'am, senang bertemu Anda."

Jane tersenyum lebar pada James. James memperhatikan senyumnya tidak mirip Lily, dan matanya cokelat. Jane Evans menjabat tangan James yang terulur dan berpaling pada Lily.

"Dia manis sekali," katanya dibuat-buat.

Memutar matanya, Lily kembali pada kotak serealnya. Ibunya berdeham dan kembali menatap James, "Kau mau sarapan?"

"Saya sudah menyantap beberapa potong roti," kata James, menunjuk tumpukan roti panggang di piringnya. Lily mendengus. James nyengir padanya.

"Beberapa?" kata Jane, beralih menatap tumpukan roti panggang. "Kenapa kau membuat banyak sekali?"

"James bersenang-senang dengan pemanggang roti," kata Lily, mengitari James dan ibunya untuk mengambil susu di kulkas.

"Jangan kasar begitu, Lily," ibunya mencela. James harus menyembunyikan gelaknya. "Aku lupa kau belum pernah menggunakan pemanggang roti," dia menambahkan pada James, merenung. "Kau mau minum sesuatu?"

"Bolehkah saya minta jus?" tanya James.

Ibu Lily mengangguk, mengangkat jari untuk menyebutkan satu per satu, "Kami punya jus jeruk, apel, kiwi, wortel, dan campuran."

"Jus jeruk saja," kata James sopan.

"Lily, ambilkan jus untuk James. Aku harus membangunkan ayah dan kakakmu."

Jane keluar. James mulai tertawa. Lily menyipitkan mata padanya, membuanya tertawa lebih keras. James mendekati Lily, menutup pintu kulkas, dan mendorongnya hingga bersandar di sana.

"Ada apa, Lils?" tanya James menggoda. "Apa ibumu menyukaiku lebih daripadamu? Kau cemburu?"

Lily mencoba mendorong James, namun James tak bergerak. "Minggir!"

Tertawa, James menggelengkan kepala. "Tidak mau." Dia malah menyandarkan keningnya di kening Lily.

"Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak senang kalau seluruh keluargaku jatuh hati padamu, terima kasih banyak."

James terkekeh.

"Selain kau, maksudmu?"

Lily mendengus mengejek. Dia mencoba bergerak, tetapi James masih tak tergoyahkan.

"Bisakah kau minggir, please?"

James menghela napas, bergerak perlahan. Memutar mata, Lily mendorongnya.

"Tunggu saja nanti," gumam James marah, membuat Lily tertawa.

Saat itu, ibu Lily masuk bersama suaminya. Jane tersenyum lebar pada James. Lily harus menahan diri untuk tidak memutar matanya. Ayahnya mendekati James dengan tangan terulur.

"Andrew Evans," katanya.

James menjabatnya dengan senyum menawan di wajahnya. "James Potter. Senang bertemu Anda," suara James juga terdengar menyenangkan.

Andrew memberinya senyum kecil. Lily lega melihat senyum James tidak berhasil membuat ayahnya jatuh hati padanya. Andrew berpaling pada Lily, yang menghindari tatapan mereka, menuang susu ke dalam mangkuk serealnya.

Ketika Lily meletakkan mangkuknya, Andrew menyambar pinggangnya dari belakang dan mengangkatnya seraya berseru gembira, "Lilykins!" Lily menjerit, menyentakkan tangan ayahnya, membuat James dan Jane geli. Andrew menurunkan putrinya, yang tertawa dan memeluknya. "Ah, aku sangat merindukanmu! Aku sudah terkungkung di sini bersama ibumu lama sekali!" bisiknya sedih.

Lily tertawa.

"Aku bisa merasakannya," katanya serius. Ayahnya menyeringai dan mengacak rambutnya, kemudian berpaling pada istrinya.

"Apa?" tanya Jane.

Andrew menggelengkan kepala, mengedip pada Lily.

"Di mana Petunia?" dia bertanya, memandang berkelilng.

Tepat saat itu, Petunia dengan ragu memasuki dapur berpakaian piyama. Petunia mengerjap melihat dapur yang ramai, memandang orang tuanya, adiknya, dan akhirnya James. Matanya melebar melihat James, menunduk memeriksa pakaiannya, dan bergegas keluar. Lily mendengus. Kedua orangtuanya dan James menatapnya penuh tanya. Lily meletakkan mangkuknya dan beranjak dari kursinya.

"Kau mau ke mana?" tanya James.

Lily berbalik untuk menyeringai padanya sebelum keluar dari dapur, mengejar kakaknya.

"Dasar cewek," gerutu James, menggelengkan kepalanya, sudah melupakan orang tua Lily.

Andrew tertawa. "Aku setuju sekali," kekehnya, menepuk bahu James. "Bagaimana dengan dunia sihir? Apakah ada olahraga?" Tampak penasaran, dia duduk di salah satu kursi. James, nyengir, mulai bercerita padanya tentang Quidditch. Mata Andrew melebar, wajahnya dihiasi penasaran, selagi James menjelaskan berbagai aspek mengenai olahraga favoritnya.

Di atas, Lily melangkah masuk ke kamar Petunia selagi kakaknya itu melepas atasannya.

"Hai, Tuney," sapanya gugup.

Petunia berbalik untuk melihat adiknya yang berdiri di pintu, lebih pucat daripada biasanya, dan mengerutkan wajah.

"Kau tidak pernah cerita kalau pacarmu sekeren itu," katanya, membuat Lily tertawa. "Harusnya kau memperingatkanku." Petunia menghadap cermin untuk merapikan rambutnya. "Turun dengan piyama yang paling tidak pantas bukanlah caraku ketika menemui cowok keren untuk pertama kalinya." Petunia menatap adiknya melalui cermin dan merasa khawatir terhadap betapa pucatnya wajah Lily. "Semua baik-baik saja, Lily?"

Lily terperanjat.

"Apa kau baru saja memanggilku Lily?" tanyanya tercengang.

"Yah, itu namamu, kan?" sindir Petunia.

Lily menggelengkan kepala.

"Bukan begitu maksudku..."

"Aku tahu yang kaumaksud. Aku merindukan adikku, oke? Dan aku ingin kau hadir di pernikahanku. Dan aku merindukan kita yang dulu," Petunia mengucapkan kalimat terakhir dengan pelan, membuat mata Lily berkaca-kaca. "Oh, jangan menangis!" Petunia melemparkan sikat rambutnya pada Lily, yang menunduk dan tertawa.

"Aku tidak menangis."

Petunia mengerutkan kening.

"Yang benar saja, Lily. Ada apa?" Dia menghampiri Lily untuk bisa mengamati wajahnya dari dekat. Petunia lebih tinggi daripada Lily, tetapi tidak cukup tinggi untuk harus menunduk menatapnya.

"Apa maksudmu dengan 'ada apa'? Aku baik-baik saja."

Petunia mengernyit mendengar nada bicaranya meninggi.

"Cepat atau lambat, aku akan tahu juga," katanya. Lily menunduk. Petunia menghela napas dan menggandeng lengan Lily untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun yang lalu. "Ayo, aku ingin diperkenalkan secara resmi pada cowokmu," Petunia mengedip.

Lily tersenyum lebar.

"Jangan lupakan pernikahanmu," dia memutar mata, dan Petunia tertawa.

Keduanya memasuki dapur. Lily mendekati James, yang masih sibuk bicara tentang Quidditch, dan menepuk bahunya. James mendongak.

"Hei, Lils," katanya, dan Lily tersenyum padanya. Andrew dan Jane Evans saling berpandangan dengan seringai di wajah melihat tingkah Lily dan kekasihnya.

"Aku ingin mengenalkanmu dengan kakakku," kata Lily. James mengangguk. "Ini Petunia, kakakku," dia mengedik ke arah Petunia, lalu menoleh menghadap Petunia. "Tuney, ini cowokku, James Potter."

James berdiri untuk berjabat tangan dengan Petunia. James tersenyum menyenangkan padanya, dan Lily melihat Petunia, seperti ibunya, seolah akan pingsan, dan memutar matanya.

"Jam berapa sekarang?" tanya Petunia pada ibunya, yang mengerling jam tangannya.

"Jam delapan."

Mata Petunia melebar.

"Sudah jam segini! Aku harus menemui Vernon!"

Dia pun melambai pada mereka semua, lalu keluar. Lily menoleh pada orang tuanya, yang tampak dongkol.

"Jam delapan pagi?" tanyanya tak percaya. Ibunya memutar mata dan menggelengkan kepalanya.

"Hanya karena kau benci pagi hari, bukan berarti itu sesuatu yang buruk, Lils," kata James.

Lily memerah, sementara orang tuanya tertawa. Dia memelototi James dan berbalik menuju dapur.

"Kau baik-bak saja, Lilykins?" tanya Jane, mengikutinya. Lily bisa melihat ibunya menatapnya penuh perhatian. Andrew menjajari keduanya.

"Sayang, mukamu pucat sekali," kata Andrew.

Wajah James memucat. Lily menatapnya, yang balas menatap, merasa panik. Lily menghela napas dan menghadap kedua orangtuanya.

"James bisa menceritakannya," dia berbisik.

Kedua orang tua Lily menoleh pada James, yang matanya melebar dan menggeleng.

"Tidak, Lils. Aku tak sanggup."

"Ceritalah pada kami kalau kalian sudah siap," kata Andrew, menghentikan Jane yang sudah hendak memprotes. "Di mana barang-barang kalian?"

"Di kamarku," jawab Lily.

"Kalian sebaiknya mulai beres-beres. Pernikahan Petunia tinggal beberapa hari dan kalian seharusnya tak perlu sibuk membongkar barang. Kami akan ke toko untuk membeli beberapa keperluan. Baik-baiklah di rumah," Andrew menambahkan sebelum meraih kunci mobil dan memimpin istrinya keluar rumah. James dan Lily berdiri saja, menunggu sampai mereka bisa mendengar roda mobil meluncur di jalanan, sebelum Lily meringis pada James.

"Kenapa kita selalu ditinggalkan berdua saja?" tanyanya.

Nyengir, James melangkah mendekat.

"Sudah waktunya," katanya seraya mendekat selangkah lagi.

Lily menjerit dan berlari menaiki tangga. Mendengar langkah kaki James di belakangnya, dia menuju kamarnya dan menutup pintunya. James mendorong pintu tersebut, tetapi Lily bersandar menahannya agar tetap menutup.

"Aku akan segera masuk, Evans," geram James.

Lily tertawa. James berhenti mendorong pintu, dan Lily berdiri. Begitu dia melepas tekanannya pada pintu, James mendorongnya terbuka, membuat Lily menjerit. James menggendongnya seperti seorang pemadam kebakaran yang menyelamatkannya. Dijatuhkannya Lily di tempat tidur dan membungkuk di atasnya.

"Aku menang!" seru James.

"Kalau melibatkan tongkat sihir, aku akan menang," kata Lily, mengedip.

James tahu betul kalau itu benar, namun tidak ingin mengakuinya. Dia mengecup Lily sebelum bangkit. Lily menyambar baju James dan berkata, "Aku belum selesai." James terkekeh sebelum menciumnya. Setelah itu, dia berbaring di sisi Lily.

"Tempat tidurmu benar-benar nyaman," ujar James, menarik tangan ke atas kepala.

"Aku tahu," katanya. James menarik sehelai rambut panjang Lily dan jarinya mulai bermain-main dengan rambut itu. "Kau baik-baik saja, James?" tanyanya cemas. James menghela napas dan menatap Lily sambil tersenyum lebar, tetapi Lily bisa melihat senyum itu tidak mencapai matanya. "James, ada apa?"

Meskipun demikian, James masih saja memainkan rambut Lily, sehingga Lily menarik rambutnya dan mengikatnya erat, menjaganya sejauh mungkin dari James.

"James?"

Lily mengangkat tubuhnya supaya bisa mencium James, yang membalasnya seraya melingkarkan tangan di sekeliling Lily. Melihat respons antusias James, Lily menarik dirinya dan duduk. James menatapnya bingung.

"Kau tidak boleh mencium atau menyentuhku sampai kau mengatakan padaku ada apa," ujar Lily, berpindah ke sisi lain tempat tidur, menarik lutut hingga menyentuh dagunya. James tertawa dan bangkit, melarikan jari ke rambutnya. Dia bergeser lebih dekat pada Lily, menarik ikat rambut Lily.

"Aku takut," katanya pelan sambil menunduk. "Aku tidak takut pada Voldemort atau para Pelahap Maut; aku takut mereka menyakitimu, dan aku kehilangan dirimu. Aku tahu kita baru betul-betul berkencan selama dua bulan, tapi aku sudah naksir kau sejak lama. Dan aku selalu berpikir tentang apa yang terjadi waktu itu di Hogsmeade, betapa nyarisnya aku kehilanganmu, dan bagaimana aku tak bisa berbuat apa-apa soal itu," dia menambahkan kalimat terakhir dengan berbisik.

Lily meletakkan jarinya di dagu James, mengangkat wajahnya.

"Aku baik-baik saja. Lihat kan, aku bicara, tertawa, berjalan ke sana kemari, dan menciummu." James tertawa kecil, dan Lily melanjutkan, "Aku tak bisa menjanjikan sesuatu tak akan pernah terjadi, tapi aku berjanji bahwa aku tak berencana meninggalkanmu. Dan tentang Hogsmeade, kita berhasil selamat, dan itu yang terpenting. Tak ada yang bisa kita lakukan kecuali saling menjaga, selalu ada satu sama lain, dan berjuang semampu kita. Dan sekarang kau kuizinkan menciumku."

James menyeringai. Dia mulai mencondongkan badan pada Lily, namun Lily menarik dirinya dan menatapnya licik, "Hanya karena kau mendapatkan izinku, bukan berarti kau bisa melakukannya sekarang."

James memutar matanya. Dia menarik Lily ke arahnya pada rambutnya.

"Ouch!" jerit Lily, mencengkeram rambutnya, tetapi James mengabaikannya dan mendaratkan ciuman pada bibirnya. Dia bisa merasakan Lily tersenyum dan dia tersenyum juga. Cukup lama keduanya berciuman dengan liar, sampai James menarik diri dari Lily.

"Sepertinya kita tidak akan pernah merasa ingin berhenti, tapi aku tidak yakin orang tuamu akan senang kalau mereka pulang dan mendapati Bunga-Lily mereka tak lagi suci," James mengedip, membuat wajah Lily merah padam.

James menciumnya lagi sebelum Lily memutuskan untuk berganti baju. Dia mengangkat Lily berdiri dan berjalan menuju lemari, menarik dari dalamnya atasan merah yang diberikannya pada Lily. Lily menggelengkan kepala.

"Tidak mau, warnanya bakal menabrak rambutku."

Meskipun demikian, James tetap melemparkan baju itu padanya.

"Aku tak peduli. Aku suka merah."

Lily memutar mata, tapi toh memakainya juga.

"Ingin berkeliling rumah secara resmi?" tanyanya, mengedikkan kepala ke pintu kamar.

"Aku lebih suka melakukan hal lain," kata James, menggoyang rambut Lily yang terikat, nyengir padanya.

"Ayolah, Potter," Lily menarik tangan James.

Usai melakukan tur keliling rumah, Lily dan James duduk di sofa di depan televisi. Lily menunjukkan pada James cara kerjanya, sementara James mengamati dengan takjub.

"Muggle sungguh luar biasa," gumam James, menatap layar terpesona.

Lily memutar mata seraya menuju rak berisi koleksi film.

"Kau sedang ngapain?" tanyanya, mengamati Lily.

"Kita akan menonton Cinderella," Lily nyengir.

"Buku itu?" tanya James antusias.

"Sudah dibuat dalam bentuk film," Lily memasukkan kaset ke dalam VCR.

Ketika kedua orang tua Lily pulang, mereka mendapati Lily sedang duduk di pangkuan James, menonton Cinderella.

"Hei, anak-anak," panggil ayah Lily, sementara Jane meletakkan bahan-bahan makanan di beberapa tempat di dapur. Andrew mendekat untuk melihat apa yang mereka tonton dan mendengus. "Cinderella? Yang benar saja. Kalian usia berapa, lima tahun?"

Lily meleletkan lidah pada ayahnya. James tertawa.

"Aku akan membantu Mum," kata Lily seraya menuju dapur. Jane sedang membereskan kulkas. "Hei, Mum."

Jane berpaling padanya. "Hai, Sayang," sapanya, lalu kembali ke dapur untuk mengambil lebih banyak bahan makanan.

"Butuh bantuan?" Lily menawarkan.

Ibunya menggeleng. "Hanya membereskan."

"Aku bisa melakukan itu dalam sedetik," Lily tersenyum, mencabut tongkatnya. Ibunya mengawasi dengan alis terangkat.

"Kau akan membereskan kulkasku dengan sihir?"

Lily mengangguk.

Ibunya tersenyum senang. "Bagus sekali. Aku selalu ingin melihatmu melakukan sihir."

Lily mengayunkan tongkatnya ke arah bahan-bahan makanan. Jane mengawasi dengan takjub selagi bahan-bahan makanannya berterbangan di sekeliling dapur, melesat ke lemari dan laci sesuai tempatnya. Pintu kulkas menutup setelah proses itu selesai, dan Jane berlari mendekat untuk melihat segala sesuatunya sudah tertata sesuai jenisnya.

"Menakjubkan!" desahnya, tersenyum pada Lily. "Kau bisa merapikan piring-piring juga?"

Lily mengayunkan tongkatnya kea rah piring-piring di wastafel. Jane mengamati dengan penasaran selagi keran menyala sendiri dan spons mulai membersihkan piring. Setelah dicuci, piring-piring itu terbang ke lemari di atas wastafel dan merapikan diri. Jane menggelengkan kepala.

"Sekarang, mari kita lihat apa yang sedang dilakukan para lelaki itu," dia tersenyum lebar.

Keduanya menuju ruang keluarga. James sedang menggebu-gebu menjelaskan seluk-beluk sapu terbang. Lily mengerang dan duduk di sebelah James, yang menoleh dan menyipitkan mata padanya. "Hanya karena kau tidak suka Quidditch…" dia memulai, tetapi Lily menyela.

"Bukannya aku tidak suka Quidditch, aku menyukainya sebetulnya. Aku hanya tidak suka para cowok selalu saja membincangkannya." Dia memutar mata. James balas memutar matanya, membuatnya tertawa.

"Dasar perempuan," kata Andrew.

"Tepat sekali," kata James, membuatnya menerima tonjokan pelan di lengannya dari Lily. "Nah, seperti yang saya katakan..." dia mulai lagi, namun bel berbunyi.

"Oh, tidak! Dia pasti mengajak Vernon," erang Jane, dan berpaling pada Lily. "Kukira sebaiknya kau mengganti bajumu dengan yang lebih pantas." Dia menoleh pada James. "Kalau bisa, kau juga. Vernon sangat..." Tanpa menyelesaikan kalimatnya, dia keluar untuk membukakan pintu.

"Menjengkelkan," Andrew menyelesaikan untuknya. Lily meninju lengan ayahnya, yang berpaling padanya. "Aku tidak bercanda, Lilykins. Semoga sukses." Seraya menepuk lutut James, dia bangkit.

"Kita harus segera ganti baju," Lily bangkit, diikuti James, yang memandang ke arah televisi.

"Bagaimana cara mematikannya?"

Tertawa, Lily menekan sebuah tombol televisi. Keduanya berlari ke kamar Lily dengan diam dan menutup pintu di belakang mereka.

"Apa yang harus kukenakan?" desis Lily, menyentakkan terbuka pintu lemarinya.

James berjalan di belakangnya dan menarik sebuah celana jins ketat berwarna gelap dan atasan putih berkancing yang tertutup. Lily meringis, dan berbalik menatap James. Diacungkannya tongkatnya ke baju James, yang berubah menjadi kemeja biru pucat, lalu menggulung lengannya dan membiarkan jinsnya apa adanya.

"Trims," James nyengir.

Lily masuk ke kamar mandi untuk berganti baju dengan cepat, mengikat rambutnya tinggi. James mengerang dan mencoba menarik ikatan rambut Lily, tetapi Lily mengindar dan menyambar tangan James.

"Ayo," katanya, menghela napas dalam sebelum menuruni tangga. "Di mana mereka?"

James mengangguk ke arah ruang makan. Suara-suara terdengar jelas dari sana. Lily menggenggam tangan James lebih erat dan masuk ke ruang makan. Di dalamnya, sudah duduk seseorang yang kelihatannya seperti ikan paus di sebelah kakaknya.

"Lily, ini Vernon," kata Petunia.

Lily mengulurkan tangannya, namun Vernon mengabaikannya, dan mendengus. Dengan marah James membuka mulut untuk mengatakan sesuatu pada Vernon, tetapi Lily menginjak kakinya, dan dia mengatupkan mulutnya.

"Vernon, ini pacarku, James Potter," kata Lily sopan.

James tidak bersusah payah mengulurkan tangannya, tetapi mengangguk pada Vernon, yang bahkan tidak menggerutu. Lily menoleh pada orang tuanya, yang menatapnya minta maaf. Lily meraih tangan James dan menariknya ke sisi lain meja, memaksanya duduk supaya dia tidak bisa melakukan hal-hal bodoh. Lily duduk di sebelah ayahnya, yang duduk di salah satu ujung meja, sementara James di sebelah ibu Lily di ujung lain meja; hanya ada enam kursi di sana.

Keheningan terasa canggung sebelum Lily berdeham. "Jadi, Vernon, siapa nama belakangmu?" tanyanya sopan.

Vernon menoleh padanya, tampak tersinggung.

"Dursley," gerutunya. Lily mendengarnya bergumam, "Bahkan tidak tahu nama belakang tunangan kakaknya, orang-orang ini."

Lily mengatupkan rahangnya, demikian pula James. Dia menggenggam tangan James, yang menoleh padanya, melihat rahangnya terkatup, dan menunduk menatap lantai; dia tidak ingin membuat lebih banyak masalah antara Lily dan kakaknya.

"Kau bekerja di mana?" Lily bertanya lagi. Dilihatnya ibunya berterma kasih tanpa suara, dan dia mengangguk pelan.

"Aku bekerja di perusahaan bernama Grunnings, yang menjalankan bisnis bor. Itu salah satu perusahaan bor paling ternama di Inggris," katanya bangga. "Ayahku yang mendirikannya."

Lily mengangguk sopan.

"Jadi, kukira kau menikmati bekerja dengan bor?"

"Tentu saja, kalau tidak aku tidak akan kerja di sana," Vernon memutar matanya.

Mata Lily menyipit. Ayahnya mengusap tangan Lily menenangkan, dan dia menarik napas dalam-dalam.

"Tentu saja, betapa bodohnya aku," ujarnya, mengabaikan dengusan Vernon. "Kau berencana untuk terus bekerja di... erm... Grunnings?"

"Ya. Aku akan dipromosikan menjadi manager secepatnya, dan dengan cara kerjaku sekarang, aku tidak harus menunggu lama."

Menahan diri untuk tidak memutar mata, Lily memutuskan dia sama sekali tidak menyukai Vernon. Dengan pandangan memohon, dia berpaling pada James, yang menggelengkan kepala, menolak melakukan apa pun dengan Vernon.

"Ke mana kau akan mengajak Tuney berbulan madu?" tanya Lily.

"Petunia. Aku tidak menerima panggilan lain," kata Vernon kasar.

Lily terkesiap, kemarahannya mendidih.

"Oh, sori saja, tapi aku sudah menjadi adik Tuney lebih lama daripada kau menjadi tunangannya, jadi aku tak akan berhenti memanggilnya begitu hanya karena kau tidak menerima panggilan lain," katanya tersinggung.

Andrew tak bisa menahan seringainya. Dia sudah mengenal tabiat putrinya, dan selalu terhibur betapa cocoknya itu dengan rambut merahnya. James menggigit bibirnya, membuat kakinya diinjak Lily, dan dia menyamarkan tawanya sebagai batuk.

"Yah, mengingat dia akan menjadi istriku dalam waktu dekat, dan tidak akan pernah bertemu denganmu dan kaummu lagi, kukira tak masalah kau memanggilnya apa," Vernon mengangkat bahu.

Lily, James, Andrew, Jane, dan bahkan Petunia membeku. Tatapan mereka terpancang pada Vernon.

"Apa maksudmu, dia tak akan pernah bertemu denganku dan kaumku lagi?" desis Lily.

Biasanya Jane akan memarahi Lily karena bersikap kasar, namun kali ini dia bahkan mendelik pada Vernon.

"Kau dan kaummu, orang-orang aneh," Vernon mengangkat bahu.

Lily berdiri, kursinya menggores lantai, membuat suara berderit yang menyakitkan.

"Kurasa kita bisa segera makan malam," cicit Petunia, mengawasi saku Lily, yang dia tahu tongkat sihir Lily ada di sana, dengan ketakutan. Jane berdiri menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.

"Aku akan membantu Mum," kata Lily, menuju ruang makan dengan berisik. James mengikutinya, tidak ingin menemani Vernon demi keselamatan Vernon sendiri. Di dapur, Jane memeluk Lily, mengusap punggungnya menenangkan. James mendekati mereka, dan Jane mendorong lembut Lily ke arah James, berbalik untuk menyiapkan piring dan makanannya.

Lily tidak menangis, tetapi kemarahan membuat air mata lolos dari sudut matanya. James mendudukkannya di konter dapur. "Dia hanya Muggle bodoh, Lily," katanya pelan. "Jangan pedulikan apa yang dikatakannya."

Lily menggeleng.

"Apa menurutmu dia benar-benar akan menghentikan Tuney menemuiku?"

James menatapnya tak berdaya.

"Aku tidak tahu soal itu, Lils, tapi aku tahu tidak masalah soal apa yang dia katakan. Petunia kakakmu, kau bisa menemuinya kapan saja kau mau. Dan kau adiknya, aku tahu dia peduli padamu, meski dia berpura-pura tidak menyukaimu."

Lily mengangguk.

"Lily, aku kehilangan adikku," James menambahkan. Lily melihat ibunya menatap James dengan mata melebar. "Aku bertengkar dengannya sepanjang waktu dan kadang tidak saling bicara selama beberaa minggu, tapi aku selalu menyayanginya, bahkan selama kami bertengkar." Lily tersenyum padanya. "Lebih baik?"

Lily mengangguk.

"Kau kehilangan adikmu?" tanya Jane pelan.

James berpaling padanya, mengangguk. "Setahun yang lalu, dia terbunuh."

Jane mengangguk bersimpati. James berpaling kembali pada Lily, yang melihat ibunya memandanginya sambil berkata tanpa suara, 'Ceritakan padaku nanti.' James membantu Lily turun dari konter. Jane sedang berusaha mengangkat piring-piring.

"Oh, demi Merlin," gerutu Lily.

Dia pun mengacungkan tongkatnya ke arah piring-piring makanan, merasa puas melihat ekspresi ngeri di wajah Vernon selagi piring-piring itu melayang masuk ke ruang makan dan mendarat di meja dengan sangat teratur. Andrew berusaha keras untuk tidak tertawa, namun mengawasi piring-piring itu dengan penasaran.

"Peralatan lainnya?" tanya Andrew.

Menyeringai, Lily mengacungkan tongkatnya ke dapur selagi ibunya dan James duduk. Garpu, pisau, dan sendok terbang memasuki ruangan, begitu juga beberapa gelas, teko air, dan sebotol anggur. Lily duduk di sebelah James seraya tersenyum lebar pada Vernon, yang mengawasi tongkat Lily penuh ketakutan. Lily menyimpan tongkatnya dalam saku dan menoleh pada ayahnya, yang mengedip, menikmati kepanikan Vernon.

"Kentang, Vernon?" tawar Lily tanpa dosa, menawarkannya sepiring kentang.

James, Jane, dan Andrew berusaha keras menyembunyikan tawanya. Mulut Petunia berkedut, dan ketika tatapannya beradu dengan Lily, dia berpaling cepat. Makan malam berlangsung dalam diam. Ketika mereka selesai, Lily membereskan semua peralatan di meja dan membawanya ke dapur. James membuat peralatan makan itu mengatur dan mencuci sendiri.

"Jadi, James, karir apa yang kauinginkan setelah lulus dari Hogwarts?" tanya Andrew, berpaling pada James. Lily memperhatikan Vernon tersentak mendengar kata Hogwarts.

"Orang-orang sepertimu punya karir?" dengus Vernon.

"Ya. Sebetulnya, Vernon, karir kami mungkin lebih sulit dan menarik dibandingkan bekerja dengan bor," kata James. Lily menggigit bibir.

"Orang-orang sepertimu tidak bisa bertanggung jawab," ejek Vernon, rahang Lily mengatup. "Maksudku, lihat adik Petunia," dia memberi isyarat ke arah Lily, yang menaikkan alisnya.

"Adik Petunia? Namaku Lily, dan kalau kau tidak ingin memanggilku dengan namaku, aku lebih memilih kau tidak berbicara padaku sama sekali." Lily melihat ayahnya menyeringai. Dia menendang kaki ayahnya di bawah meja, dan melihatnya memutar mata, terhibur. "Dan apa maksudmu, aku tidak bisa bertanggung jawab?"

"Lupakan," gumam Vernon, memutar mata.

Lily mencabut tongkat sihirnya dari saku. James menyambar pergelangan tangannya untuk menahannya.

"Apa pelajaran favoritmu?" Jane bertanya pada James.

"Yah, saya menyukai semua pelajaran, tetapi harus saya akui, pelajaran favorit saya Mantra dan Pertahanan terhadap Ilmu Hitam."

Jane mengangguk paham, sudah pernah mendengar pelajaran-pelajaran itu dari Lily.

"Mantra," Vernon mendengus.

James menutup matanya, mencoba bersabar. "Jadi, Vernon, kau sudah memikirkan pernikahan itu?" tanyanya, berusaha bersikap sopan.

"Pernikahan kami akan sangat spektakuler, dan aku tidak harus mengeluarkan sepeser pun mengingat orang tua mempelai wanita yang mengatur semuanya," Vernon mengangkat bahu.

Wajah Lily memerah. Andrew menepuk tangan Lily lembut, membuat Lily menyadari tekanan yang dirasakan orang tuanya. Dia sudah akan mengatakan sesuatu, tetapi James meremas tangannya, dan dia pun menutup kembali mulutnya. Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan, Vernon berdiri. "Aku akan pergi sekarang. Kau ikut aku, Petunia. Aku tak ingin kau dikelilingi orang-orang seperti ini lebih lama dari seharusnya."

Ini sudah cukup buat Lily. Dia berdiri seraya menarik tongkatnya yang menyemburkan bunga api merah. Vernon membeku. Lily mendelik pada Petunia, yang mengawasi Vernon penuh ketakutan. Lily merasa seolah dia tenggelam menyadari betapa kakaknya telah jatuh cinta pada Vernon. Menghela napas, dia menurunkan tongkatnya dan bicara pada Vernon seraya mengulurkan tangan. "Maafkan aku. Damai?"

Vernon menatap tangan Lily dengan mata menyipit, dan Lily perlahan menurunkan tangannya. James berdiri dan membuka mulut untuk meneriaki Vernon, namun Lily meletakkan tangannya di bibir James, membuat James menatap Lily tak percaya.

"Sungguh memalukan kita tak bisa berdamai, Vernon," ujar Lily dingin, dan mulai berjalan keluar dari ruang makan, namun mendadak berhenti, berbalik untuk menatap Petunia.

"Ayo pergi, Petunia," kata Vernon, berdiri dan menarik tangan Petunia. "Atau kau mau tinggal di sini bersama orang-orang urakan ini?" Dia mengangguk ke arah Lily.

Lily mengabaikan Vernon. James mendesis. Orang tua Lily menyipitkan mata menatap Petunia.

Petunia membalas tatapan Lily, yang merasa hatinya remuk ketika menyadari keputusan kakaknya. Petunia berdiri perlahan, masih menatap Lily dengan mata yang berkaca-kaca. Begitu Petunia meraih tangan Vernon, mereka tak akan pernah bisa menjadi kakak-adik seperti dulu. Dengan tatapan yang dalam pada Lily, Petunia membiarkan Vernon menarikknya meninggalkan ruangan.

Seisi ruangan membeku selagi mereka mendengarkan mobil Vernon menjauh. Kemudian James berdiri perlahan mendekati Lily, yang berpaling padanya, air mata mengalir dari matanya. James membuka kedua tangannya dengan mengundang. Lily melempar dirinya dalam pelukan James dengan tangis pecah. James memeluknya erat, membiarkan air matanya membasahi bajunya.