Saat telinga Dean menangkap adanya langkah kaki menaiki tangga klinik, dia meletakkan koran edisi lawas yang tengah dibaca, berharap semoga yang datang adalah Billy. Bocah itu menjenguknya setiap hari sejak dia tahu Dean dirawat di klinik dan kehadirannya membawa suasana segar. Dean sudah bosan melihat tampang Sam dan Nathan yang bagaikan mengorbit di sekitarnya, imaji wajah dua orang itu bahkan sampai tercap di pelupuk mata Dean. Billy seorang bocah yang cerdas dan dia tahu bagaimana menghibur Dean, atau tepatnya, membiarkan Dean bersenang-senang dengan menghibur anak itu. Kali pertama Billy datang, Mary menemaninya. Perempuan itu tidak bertanya banyak meski matanya menyiratkan dia tahu yang sebetulnya terjadi dan Dean tak mempermasalahkan itu, terlebih setelah lidahnya dimanjakan sedapnya pai apel bikinan Mary.

Namun, bunyi taji yang khas dan langkah yang terlalu berat dan tenang untuk seorang anak membuyarkan asa Dean. Benar saja, sosok Chris yang berpakaian hitam, kali ini tanpa jubah panjangnya muncul dan memasuki ruangan klinik.

"Hm, jadi sekarang mereka kirim bos besarnya untuk cegah aku kabur?" Dean berolok-olok.

Satu-dua hari setelah demamnya turun, tubuh Dean memang terlalu lemah untuk mencoba macam-macam. Dia manut saja membiarkan Nathan dan Sam mengurusi dirinya. Nah, segera setelah sebagian tenaganya kembali, Dean betul-betul melaksanakan ancamannya dulu: menjadi pasien paling pecicilan sebisanya. Ulah yang paling kerap dibikinnya adalah percobaan kabur dari klinik dan itu cukup merepotkan Sam dan Nathan. Terakhir kali itu diperbuat Dean, mereka menyembunyikan semua pakaian Dean, tapi dasar Dean, dia menggunakan seprai sebagai jubah yang dililit ke tubuhnya (idenya didapat dari Josiah yang menceritakan tentang pakaian pemuka agama Hindu di India). Nathan memergokinya sudah sampai di pertengahan tangga, kehabisan nafas dan daya, tapi cengiran lebar terpajang di mukanya.

Barangkali Sam dan Nathan telah habis akal sehingga mereka merekrut Larabee jadi satpam, batin Dean.

Chris menyeringai, humor dingin di wajahnya. "Aku cuma ingin melihat bagaimana kondisi orang yang kutembak. Ini hal yang jarang terjadi. Biasanya mereka langsung hengkang ke kuburan," balasnya.

"Hei, kita belum sepakat tentang siapa yang menembak siapa," sergah Dean.

"Jadi kamu lebih suka jadi orang tolol yang tak sengaja menembak dirinya sendiri?" telak ucapan Chris.

"Kalau begitu kamu petarung pistol yang ceroboh sampai membiarkan musuh merampas senjatamu," Dean tak mau kalah.

Tatapan Dean bersirobok dengan mata Chris dan keduanya spontan tersenyum miring.

Chris duduk di kursi yang biasa dipakai Sam. Tanpa basa-basi dia membuka percakapan, "Kamu tahu Hakim Robert Miller?"

Dean mengerutkan alis. "Hakim Miller? Yeah, aku pernah berurusan dengan dia kira-kira... dua atau tiga tahun yang lalu di St. Johns, Arizona. Kenapa?"

"Dia hakim yang hampir mencabut namamu dari daftar orang dicari, benar?"

Dean meraba arah percakapan. "Ya, begitulah. Aku bantu dia mengatasi hantu ganas yang muncul di rumahnya dan dia melakukan itu sebagai imbalan." Hadiah atas diri Dean sudah akan dihapus bila saja waktu itu Sam tidak tiba-tiba muncul dan melarikan Dean dari penjara.

"Hakim Travis ternyata mengenalnya dan sempat menghubunginya sebelum sampai di sini. Aku dan Sam telah menemui Hakim Travis dan kami membahas kasusmu. Rekomendasi dari Hakim Miller termasuk yang menjadi bahan pertimbangan Hakim Travis guna memutuskan apa yang akan dilakukannya padamu," papar Chris.

"Jadi aku diadili tanpa sepengetahuanku?" ada nada jengkel dalam perkataan Dean.

"Bukan pengadilan, cuma dengar pendapat," Chris mengoreksi.

"Dan hasilnya?" penasaran juga Dean.

Chris tersenyum tipis. "Besok Hakim Travis akan membawakan berkas-berkas yang perlu kaububuhi tanda tangan." Untuk efek dramatis dia memberi jeda. "Kau mendapat pengampunan penuh."

"Huh."

Dean tidak tahu harus berkata apa. Ampunan, batinnya, itu rasanya layak karena dia memang melakukan semua tindak kriminal yang dituduhkan kepadanya, meski dengan motif yang jauh dari jahat. Mengharapkan bebas dari segala tuduhan sama dengan menggantang awan. Tidak, pengampunan saja sudah cukup bagus. Cukup untuk dunia yang sebagian besar masyarakatnya buta akan jenis kehidupan lain yang eksis bersama dengan mereka.

Selama beberapa saat Dean cuma terpekur. Seharusnya dia merasa lega, tetapi anehnya dia tidak mendapati perubahan emosi yang nyata di dalam hatinya. Datar saja dia mendengar keputusan hakim yang disampaikan Chris itu. Barangkali karena masuk dalam daftar orang dicari sejak awal tidaklah penting baginya. Banyak hal lain yang lebih membutuhkan perhatiannya ketimbang keselamatan jiwa dan nama baiknya. Toh, menjadi buronan juga tidak banyak menghambatnya dalam memecahkan kasus. Kecuali kali ini, tentunya. Namun, jika dipikir lebih lanjut, terhapusnya status buronan Dean bisa mengurangi kekhawatiran Sam akan diri kakaknya.

Sementara itu Chris memandang Dean yang setengah duduk di ranjang dengan rasa iri merayapi dirinya. Andai saja Vin bisa memperoleh pengampunan layaknya yang didapatkan pemuda ini. Itu akan mengangkat rasa bersalah yang selalu menghantuinya karena membunuh satu-satunya saksi yang mampu membebaskan Vin dari tuduhan pembunuhan yang tak dilakukannya. Vin tidak perlu lagi selalu menoleh ke balik bahunya dengan waswas sepanjang waktu, menghindar dan bersembunyi dari pemburu hadiah. Dia akan dapat hidup bebas seperti yang selalu diimpikannya.

Chris mengerutkan kening menangkap ekspresi hambar Dean, tetapi dia tak berkomentar mengenainya. Dia memilih untuk berkata, "Rekomendasi Hakim Miller bukan satu-satunya yang membuat Hakim Travis mengampunimu. Adikmu itu," Chris berdecak, "memukau Hakim Travis. Sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sam dapat menjadi pengacara yang andal kalau dia mau."

Kali ini kata-kata Chris menimbulkan kilasan sedih sekejap di mata Dean dan dia menjawab dengan nada mengawang, "Ya." Sam mau menjadi pengacara, tinggal selangkah lagi dia resmi menyandang profesi itu sewaktu Dean muncul di depan pintunya dan menyeret Sam ikut bersamanya. Pupuslah mimpi Sam untuk berjaya di ruang sidang, memesona deretan juri dan menguasai para saksi.

Kesunyian melingkupi ruangan klinik, kedua pria di dalamnya sibuk dengan pikiran masing-masing. Andai mereka tahu bahwa satu sama lain isi kepalanya tak jauh-jauh dari rasa bersalah, penyesalan dan "bagaimana jika".

Dean, yang merenung berlama-lama bukan pembawaannya, buka suara kemudian, "Yah, aku hargai pengampunan itu, meski itu berarti aku harus meralat surat wasiatku."

"Apa maksudmu?"

Sudut bibir Dean terangkat. "Aku berencana jika aku mati atau tertangkap, kemungkinan besar yang pertama, Sam yang akan mendapatkan lima ratus dollar uang hadiah atasku. Kini, terima kasih padamu," dia menyindir, "tubuhku tidak bernilai apa-apa lagi dan aku kehilangan warisan untuk Sam, yah... selain Impala."

Chris tertegun sesaat. Itu persis seperti yang dikatakan Vin padanya setelah mengakui bahwa dia seorang buronan. Biar Chris yang memiliki hadiah uangnya bila Vin tewas. Chris menggelengkan kepala.

"Sama-sama," balas Chris. "Aku bertemu Cutler kemarin," tambahnya.

"Uh-huh."

"Jangan kaget kalau nanti dia datang menengok dan menyembahmu di tempat," Chris memperingatkan dengan nada terhibur.

"Apa?"

"Waktu dia tahu kau dan Sam yang membebaskannya dari kutukan patung itu, Sam sampai tak bisa bernafas dipeluknya saking berterima kasihnya dia, padahal dia cuma pakai satu tangan yang sehat," Chris tertawa pelan.

Dean mencebik. "Kau baru saja memberiku satu alasan lagi untuk kabur dari sini, kau tahu?"

Chris cuma mengangkat bahu. "Aku tidak menyalahkanmu. Tersekap di sini memang bikin suntuk."

"Kedengarannya kamu punya banyak sejarah dengan klinik ini," pancing Dean, merasa ada angin untuk mengorek cerita dari pria misterius di hadapannya ini, lumayan buat obat jenuh.

"Percobaan bagus," elak Chris, menyadari apa yang diperbuat Dean. Dia berdiri dan melangkah ke pintu, berhenti di ambangnya untuk berkata sambil lalu, "Oh ya, omong-omong ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."

"Bukan Cutler, kan?" Dean masih belum siap menerima apapun bentuk ucapan terima kasih antusias dari orang itu.

Chris tak menjawab, cuma melempar cengiran penuh arti pada Dean. Dia pergi ke balkon dan mengatakan sesuatu pada orang yang rupanya menanti di sana. Dean dengan ingin tahu menegakkan duduknya, mengabaikan tarikan nyeri di pinggangnya, melongokkan kepala sejauh dia bisa ke arah pintu.

Sosok yang berjalan setengah meluncur masuk dengan anggun itu betul-betul di luar dugaan.

"Halo, Dean," sebuah suara feminin menyapanya, aroma parfum semerbak menggapai penciuman Dean dan matanya menangkap figur molek yang melenggang menghampirinya, jemari lentik menyapu lengannya.

"Nona Betsy," senyum Dean, senang bahwa dia masih ingat nama perempuan itu.

Hm, ini akan jadi siang yang menarik.

xox

Hal pertama yang menjadikan dahi Dean berkerut sewaktu Sam masuk melewati pintu klinik adalah raut muka penuh tekad adiknya. Dia tak dapat memutuskan apakah itu pertanda baik atau buruk, tetapi tampang Sam yang seperti itu serta merta membuatnya berjaga-jaga. Soal kedua adalah ingatan akan penyebab Sam tadi keluar dari klinik dan itu yang ditanyakannya terlebih dahulu.

"Hei, bukannya kamu sudah janji mau mengajak Impala jalan-jalan?" Dean menyergah. "Kalau kurang dilatih nanti dia keenakan bersantai di kandang." Dan bertingkah waktu kita mulai perjalanan lagi.

Sam berhenti di tepi ranjang kakaknya, membuat Dean mesti mendongak untuk menatapnya dan berkata, "Ada yang harus kita bicarakan."

Dean mengangkat bahu perlahan, hati-hati dengan jahitan yang masih kerap nyeri. "Kita sedang bicara."

"Maksudku..."

"Ya. Ya. Aku juga baru saja menemukan sesuatu yang ingin kurundingkan denganmu," potong Dean.

"Ini penting, Dean," desak Sam.

Dean menaikkan sebelah sudut bibirnya dengan menjengkelkan. "Aku lebih tua, jadi aku duluan." Tanpa menunggu persetujuan ataupun protes Sam, dia meneruskan, "Telegram dari Pa kemarin, tentang kasus penunggang kuda misterius yang memancarkan cahaya itu."

"Kenapa dengan itu?"

Dean menunjuk setumpuk surat kabar di meja samping tempat tidurnya. "Penelitian sudah dilakukan dan..."

Mata Sam melebar sewaktu dia menyela, "Dalam kondisi masih terluka dan baru saja sakit begini kamu masih melakukan penelitian?"

Mendeteksi nada berbahaya dari adiknya, Dean berpikir untung Sam tak tahu menahu soal aktivitas ekstrakurikulernya dengan Nona Betsy tempo hari. Sam pasti mendondernya habis-habisan jika kabar soal itu sampai ke telinganya.

"Sebetulnya bukan aku yang meneliti," kilah Dean. "Tidak secara langsung. Aku minta bantuan Mary untuk carikan informasi di koran mengenainya dan hasilnya aku temukan legenda lokal di Tucson yang sepertinya menjadi asal-muasal pemunculan makhluk itu, apapun dia. Cocok dengan gambaran wilayah yang Pa suruh untuk kita datangi."

"Huh." Sam sama sekali tidak tampak terkesan karenanya.

Dean mengabaikan reaksi adiknya. "Omong-omong, agak seram juga ya bagaimana Pa bisa tahu dengan tepat di mana kita berada. Pemilihan waktu pengiriman telegramnya pas betul. Jangan-jangan dia pakai papan ouija buat melacak kita," kelakar Dean.

Tanggapan Sam di luar dugaan. "Itu gagasan yang patut kita pertimbangkan, sebetulnya."

"Apa?"

Sam melipat tangannya dan berujar serius. "Kita gunakan papan ouija, panggil arwah untuk bertanya di mana Pa berada saat ini. Dengan begitu, kita tidak perlu capek-capek memburu jejaknya yang sudah dingin ke seluruh penjuru negeri."

Giliran Dean yang mendelik. "Kau sudah sinting ya? Apa bertahun-tahun jadi pemburu tidak mengajarkanmu sesuatu? Bahaya tahu, melakukan pemanggilan arwah. Apalagi kalau kita tak sanggup mengembalikannya ke tempat asal. Bisa dibuntuti seumur hidup kita nanti. Tambahan pula, pekerjaan kita, kan mengusir arwah, bukan memanggil arwah!"

"Whoa. Aku cuma bercanda, Bung," Sam tersenyum kecil mendapat balasan begitu dari kakaknya. Ekspresi serius kembali ke wajahnya. "Tapi tampaknya kita tidak butuh papan ouija untuk mencari Pa. Ada ini," dia merogoh saku dan menyerahkan sehelai kertas kuning pada Dean. "Inilah yang ingin kubicarakan denganmu."

Dean membaca isi kertas itu dengan cepat sementara Sam mengamati reaksinya. Ada kilas emosi yang barangkali bisa dimaknai sebagai rasa mengingini di mata Dean, yang kalah beradu dengan itikadnya ke arah berlawanan.

Usai membaca, Dean mengembalikan kertas telegram itu pada adiknya dan kalimat yang terlontar pendek saja. "Setelah ini kita ke Tucson."

"Apa?" Sam tercengang.

"Kamu belum tuli, Sammy. Kita ke Tucson," suara Dean tak memberi kesempatan untuk dibantah.

"Tidak," balas Sam sama tegasnya. "Ini petunjuk paling jelas tentang keberadaan Pa setelah berbulan-bulan, Dean. Caleb sendiri yang mengatakan Pa sedang di sekitar Silver City dan itu arahnya ke timur, padahal Tucson itu ke barat."

"Jadi?"

"Kamu mau menemukan Pa atau tidak, sih? Dengar, Dean. Kita sudah lama sekali mencari-cari Pa, tetapi saban kali kita selalu selangkah di belakangnya. Kaubaca sendiri, Caleb bilang Pa tampaknya akan lama di Silver City karena kakinya patah. Jika kita berangkat minggu depan, kita akan dapat menemuinya di sana. Untuk apa ke Tucson segala, yang notabene letaknya berlawanan dengan lokasi Pa," Sam mencoba berargumen.

"Pa mengutus kita ke sana, Sammy. Ada kasus yang diserahkannya pada kita dan tugas kita adalah menyelesaikannya. Kita Winchester dan kita tidak lari dari kasus apapun," tukas Dean.

"Apa kasus ini lebih penting daripada menemukan Pa? Bukankah karena itu kamu mengajakku kembali berburu denganmu, Dean?"

Dean tercekat. Jadi sampai kini Sam masih mengira cuma itulah alasan dia menarik adiknya menemaninya berburu. Jadi Sam beranggapan perburuan ini, perjalanan ini hanya sebuah misi belaka, yang harus dituntaskan selekasnya.

"Selama ini kita bekerja sama sebagai tim dengan cukup baik, bukan?" Sebelum bisa dicegah kalimat itu melesat dari mulut Dean.

"Ya, memang. Tapi, aku tak habis pikir kenapa kamu tiba-tiba mundur padahal sudah ada informasi yang hampir bisa dipastikan benar tentang lokasi Pa. Kamu lebih pilih mengejar kasus?"

"Bisnis keluarga kita adalah memburu makhluk dan menyelamatkan orang," Dean mengajukan alasan.

Sam menggeleng. "Tidak. Pasti bukan karena itu."

"Kamu mau aku bilang apa, Sam?"

Tatapan menyelidik Sam bagai menembus ke dalam alam pikiran Dean. "Kamu menyembunyikan sesuatu," ucapnya dengan yakin, sama sekali tidak membuka kemungkinan kata-katanya keliru.

"Tidak ada," elak Dean.

"Pasti ada."

"Tidak."

"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Katakan padaku," perintah Sam, matanya tajam terarah pada Dean, seperti pengacara yang menuntut cuma kejujuran dari mulut siapapun yang ditanyainya.

Dean mengalihkan pandang ke luar jendela. Dia menghela nafas berat. Itu salah satu hal yang belum berubah dari adiknya, mungkin tidak akan berubah. Kemampuannya mengorek hal-hal yang sebetulnya tidak ingin diungkapkan oleh Dean. Persoalan yang mestinya tak usah sampai ke pemikiran adiknya. Dean menggelengkan kepala, menyadari bahwa satu hal yang masih menetap pada dirinya adalah dia tak pernah benar-benar sanggup menyembunyikan sesuatu dari Sam. Cepat atau lambat, Sam bakal tahu juga entah dengan cara bagaimana. Lebih baik dia tahu dari mulut Dean sendiri.

Masih menolak bertemu pandang dengan adiknya, Dean berkata enggan, "Pa sendiri yang melarang kita mengikutinya."

Sam mengejapkan mata, mencerna keping informasi itu.

"Begitukah? Dari mana kamu tahu?" selidiknya.

"Pa kirim telegram padaku," ucap Dean pendek.

"Kapan?" kejar Sam.

"Tiga minggu yang lalu," Dean makin merasa tak enak.

Sam bertanya lagi, "Dari mana?"

"Sam..."

"Jawab aku."

Dean menyahut dengan berat, "Lordsburg."

Peta terpentang secara mental di otak Sam dan dia bergumam, "Sama seperti telegram terakhir berasal. Itu kota yang ke arah Silver City." Dia menyambung dengan penuh kemenangan, "Jadi benar, kan kalau Pa ada di Silver City."

"Tapi bukan berarti kita harus menyusulnya," sanggah Dean.

"Aku tidak melihat alasan kenapa kita tak bisa melakukan itu," tolak Sam.

Dean jadi ingin menghentakkan kaki ke lantai, kalau saja tubuhnya mengizinkan, tak peduli betapa kekanak-kanakannya itu.

"Apa kamu tidak dengar apa yang kukatakan? Pa melarang kita mengikutinya!" meninggi suara Dean.

"Cuma karena itu lantas kita mesti mundur sekarang?"

Dean berucap, "Pa bilang itu berbahaya bagi kita. Lebih baik kita jangan mencarinya dan kau tahu sendiri bagaimana Pa jika dia tidak ingin ditemukan."

"Dan kamu telan mentah-mentah semua kata-katanya? Atau, lebih tepat, perintahnya?" sinisnya Sam keluar.

"Terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas, Pa pasti punya alasan sendiri kenapa kita tidak boleh mencarinya."

"Alasan apa? Oh, benar, bahwa situasi terlalu berbahaya buat kita sehingga kita tidak boleh menyusul Pa?" Sam mendengus melecehkan. "Kita sudah bukan anak kecil lagi, Dean. Kita malah bisa membantu jika benar Pa sedang dalam bahaya. Atau... kamu yang tidak percaya pada kemampuan kita."

Dean memutar bola mata, kekesalannya naik beberapa derajat. "Apa tidak pernah terlintas di otakmu yang jenius itu bahwa mungkin saja Pa benar? Dengan tidak membolehkan kita ikut terlibat, dia malah menyelamatkan kita dari apapun yang menurutnya berbahaya."

Sam melayangkan tatapan antara gemas dan iba pada kakaknya dan Dean membencinya. "Dan itu cukup buatmu?" tanyanya hampir putus asa.

"Ya," Dean menjawab tegas, sama pastinya dengan fakta bahwa matahari terbit di timur.

Adiknya menggelengkan kepala, masih dengan ekspresi tak mengerti. "Kamu tidak pernah berubah," ujarnya dengan pelan tapi menusuk. "Kamu masih menurut seperti dulu. Pa bilang ini dan kamu tak pernah membantah. Kamu seperti prajurit saja, Dean. Kalau komandanmu bilang kamu harus lompat, kamu akan tanya seberapa tinggi. Peduli setan ada jurang di depanmu."

Ada sesuatu yang menimbulkan perih sekejap di dada Dean, sama sekali tidak ada hubungannya dengan luka fisiknya. "Itu namanya menjadi anak yang baik," sahutnya tajam.

"Kenapa, sih kamu selalu patuh pada Pa?"

"Kenapa, sih kamu selalu mempertanyakan segalanya?"

"Sam," sambar Dean, bertekad untuk memenangkan pertikaian mulut ini.

"Dean," balas Sam, sama kepala batunya.

Ketegangan sengit di antara dua bersaudara itu terburai seketika sewaktu seseorang muncul di pintu klinik. Nathan meringis mendapati dua pasang mata kompak menatap dirinya dengan intens. Sorot yang begitu mirip, tetapi juga menyiratkan perbedaan. Nathan menyadari sepenuhnya bahwa dia telah menginterupsi sesuatu yang penting, tapi dia berusaha tidak mengindahkan situasi tak nyaman di kliniknya.

Seakan tidak ada apa-apa, Nathan menghampiri Dean dan berkata, "Waktunya minum obat."

Sam melempar pandang pada kakaknya, jelas-jelas menyampaikan bahwa perdebatan itu belum selesai dan tanpa bicara dia keluar dari klinik, langkah-langkah panjangnya terdengar digebrak ke lantai.

Sayup-sayup Sam menangkap protes Dean pada Nathan di sela acara penjejalan obat ke mulutnya. "Buset, Nathan. Apa kamu tidak punya obat yang rasanya lebih mengerikan daripada ini?"

Sam mendengar pula balasan Nathan, entah bercanda atau tidak. "Ada, banyak malah. Kamu mau yang mana?"

Sam tidak tertawa karenanya, tersenyum pun dia tidak. Dia berdiri di balkon klinik, lengan bertumpu di pagarnya, nafas ditariknya panjang, mencoba menenangkan diri dan melunturkan kekesalan yang meruyak di hatinya. Matanya nanar ke depan, pemandangan sisi selatan kota ditangkap penglihatannya, tetapi tidak masuk ke benaknya.

Pintu klinik membuka di balik punggung Sam dan terdengar langkah-langkah Nathan mendekat. Sam tetap pada posisi semula, tidak menoleh sama sekali kala merasakan kehadiran Nathan di sampingnya. Dia sedang tak ingin ditemani, tetapi mengusir Nathan dari balkon kliniknya sendiri terasa sangat konyol dan tak patut. Sam memutuskan dialah yang mesti pergi jika ingin sendiri, tetapi sebelum dia berjalan ke arah tangga, Nathan tiba-tiba saja berbicara dan Sam terpaksa tinggal di tempat.

Nathan mengawalinya dengan berdehem. "Ehm, Sam. Barangkali bukan pada tempatku untuk bicara seperti ini padamu, tetapi aku... tadi menangkap... uh, pembicaraanmu dengan kakakmu dan..."

Yeah, pikir Sam, mari kita dengar apa nasehatmu.

"Yah, aku tidak pintar berkata-kata seperti Josiah, tapi aku tahu sesuatu tentang keluarga dan bagaimana rasanya kehilangan anggota keluarga," suara Nathan mengandung kesedihan dan Sam memandangnya dengan sedikit tertarik.

"Waktu aku masih kecil, aku, ayah dan saudara-saudaraku dijual oleh pemilik kami ke Alabama sementara ibuku ditinggal di Georgia. Aku tidak pernah melihat ibuku lagi dan tak lama setelah itu ia meninggal," Nathan berkisah, matanya lurus ke muka, tidak menghadapi Sam.

"Aku... menyalahkan ayahku atas semua itu. Dia tidak melakukan apapun untuk mencegah itu terjadi, mencegah kami terpisah dari ibu. Aku sempat membencinya dan ketika perang berlangsung, kami terpisah. Selama bertahun-tahun aku putus hubungan dengannya sampai kemudian..." Nathan menjilat bibir bawahnya, "kami bertemu lagi dalam situasi yang tidak menguntungkan."

"Ya?" Sam menanggapi.

"Ayahku seorang terdakwa. Dia membunuh orang yang telah menimpakan musibah pada ibuku dan memisahkan kami," Nathan menghela nafas. "Saat itulah aku baru mengerti betapa ayahku sesungguhnya juga merasa sedih akan perpecahan keluarga kami. Betapa dalam itu melukainya."

"Lalu?"

"Ayahku meninggal karena penyakit paru-paru. Pada hari-hari terakhirnya aku merawatnya semampuku dan aku menemukan sisi tentang ayahku yang sebelumnya tidak kuketahui." Nathan menatap Sam kini, matanya bersorot lebih lembut. "Dan aku sadar bahwa aku telah memaafkannya, aku paham mengapa dia melakukan semua itu. Aku jadi mengerti satu hal, jangan menggantungkan asa atau berlarut-larut memikirkan sosok yang sudah pergi atau sulit dijangkau. Kita mesti menghargai anggota keluarga yang masih ada, yang dekat dengan kita sekarang, yang bisa kita perhatikan. Di sini, aku punya enam orang sahabat yang sudah kuanggap sebagai saudara dan aku berusaha untuk menjaga mereka. Mereka keluargaku sekarang."

Sam tidak tahu harus berkata apa.

"Maksudku, kamu masih punya kakakmu," ucap Nathan hati-hati. "Itu saja."

Sam tahu apa yang dicoba Nathan dan meski dalam hati agak jengkel lantaran nasehat yang datang tanpa diminta itu, dia tahu Nathan mau mengatakan itu semua sebab pria itu menganggapnya teman. Mengingat jasa baik Nathan padanya, Sam menahan lidahnya untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang menentang.

"Trim's untuk ceritanya," balas Sam singkat.

Nathan agak ragu menepuk bahu Sam sebelum dia menuruni tangga. Dia tinggalkan Sam yang kembali sibuk dengan pemikirannya sendiri, kata-kata Nathan masih berputar di kepalanya, perlahan-lahan merembes ke dalam hatinya.

Hanya Dean yang dia punya sekarang. Apa dia juga akan memecah hubungan mereka?

Sam menggeleng perlahan.

Tucson, kami akan datang.

xox

Sepanjang telinganya masih beres dan suasana tidak terlampau ramai, di mana pun Dean senantiasa sanggup mendeteksi langkah adiknya. Ada sesuatu yang khas dari cara Sam menapakkan kaki, yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun. Itulah sebabnya Dean tidak usah menoleh untuk tahu bahwa Sam berjalan mendekatinya yang tengah berada di teras depan kantor sherrif. Segulung koran yang disodorkan pada orang di depannya yang bikin Dean berpaling.

"Koran, Chris," Sam berucap seraya menyerahkan benda itu pada orang yang dituju.

Chris menerimanya dan mengangguk singkat.

Dean mendapati setumpuk surat kabar baru cetak yang dipeluk dengan kedua tangan oleh Sam, apron bebercak tinta masih menutupi bagian depan pakaiannya.

"Bung, katamu kamu kerja jadi teknisi mesin cetak," cetus Dean. "Sejak kapan kamu merangkap jadi loper koran juga?"

Sam membenahi posisi koran-koran yang agak merosot dan menyahut, "Mary tadi ada urusan dengan Tuan Willis di bank, entah apa. Jadi..."

"Ah," seringai mencurigakan bermain di muka Dean. "Sudah berani panggil Ny. Travis pakai nama depan kau. Akrab sekali." Dia melirik pada Chris yang ekspresinya disetel datar. "Hati-hati, kawan. Jangan kauremehkan tampang adikku yang pedantik macam begini. Diam-diam Sammy ini punya pesona maut yang bisa bikin cewek kepincut. Kamu mesti lebih waspada, kalau kau tahu maksudku." Tidak salah lagi apa yang dimaksud oleh Dean, tentu saja.

Chris tidak menanggapi, matanya tetap terpaku pada papan catur di meja yang tengah dihadapinya. Justru Josiah dan Nathan yang duduk dekat situ, menonton pertandingan catur itu yang bertemu pandang. Mata mereka menyiratkan hal yang sama: apa Dean Winchester itu cari mati? Berani-beraninya omong begitu gamblang tentang Mary di depan Chris.

Reaksi Josiah dan Nathan tak luput dari perhatian Dean dan itu menjadikan cengirannya kian lebar. Dean mencondongkan badan ke depan, sedikit lebih maju dari yang diperlukan, dia meraih sebuah pion catur, kuda putih, dan menjalankannya di atas papan permainan. Sengaja dia pamer kesakitan dengan mendesis pelan waktu melakukan itu, seakan hendak mengatakan: masa Chris mau melayangkan peluru pada orang yang sedang dalam masa pemulihan setelah tertembak?

Adegan itu kontan bikin Sam, Josiah dan Nathan jadi geli dan menyembunyikan senyum.

Chris melihat jalannya kuda putih Dean dengan tenang, seperti tidak tertarik sama sekali. Begitu Dean menempatkan buah caturnya di kotak tujuan, Chris menggerakkan menteri hitamnya, maju terus tanpa halangan mengancam raja putih Dean yang berada dalam posisi terbuka.

"Sekakmat." Kalem saja Chris berkata.

Mata Dean terbeliak. "Sekak... Apa?"

Chris melipat tangan, tidak perlu lagi mengamati papan catur untuk tahu bahwa dia sudah menang mutlak. Dibiarkannya Dean mengerutkan kening, memelototi pion-pion caturnya seolah dengan cara itu dia dapat membalikkan keadaan. Dean menyipitkan mata, mencoba memikirkan jalan keluar untuk rajanya, tapi dalam lima menit saja dia terpaksa mengakui bahwa Chris telah menutup semua kemungkinan untuk itu. Ia terjebak seperti air di bendungan.

"Kau kalah," ucap Chris. "Bayar."

Dean menggerundel, dalam hati berpikir andai Chris diajaknya main poker tentu tidak begini hasil akhirnya. Bersungut-sungut dia mengeluarkan dua lembar satu dollar dan sekeping lima puluh sen, meletakkannya di atas meja dan memandang Chris mengambil uang itu.

"Harusnya kamu main lawan Sam," gerutu Dean.

"Aku tidak ikut-ikutan," elak Sam.

Sekonyong-konyong JD menghambur mendekat, semangat membara dalam gerak-geriknya dan meski terengah-engah, sebagian gairahnya meruap dalam kata-katanya. "Mereka datang!"

JD mengatur nafas, berpegang pada sebuah tiang. "Mereka sudah datang. Aku lihat dari atas menara lonceng gereja." Ditilik dari tampangnya, pasti dia langsung meluncur ke kantor sherrif segera setelah dia menangkap kehadiran tiga temannya di kejauhan.

Pandangan Dean dan Sam bertaut. Winchester bersaudara telah mengetahui tentang tiga pelindung kota lainnya dan mau tidak mau mereka penasaran juga seperti apa wujudnya ketiga orang itu. Kalau menurut penggalan-penggalan cerita empat pria yang telah mereka kenal, tampaknya kehadiran sisa The Seven akan menambah seru suasana. Sam bersandar di dinding, bersama Dean dan Chris cs. matanya terpancang ke arah selatan kota, menunggu.

Debu terlihat beterbangan di udara, mengaburkan pandangan sesaat sebelum sosok-sosok yang menyebabkan badai pasir lokal itu muncul di baliknya. Gemuruh tapak kaki tiga ekor kuda terdengar berderap mendekat, ditingkahi suara obrolan para penunggangnya. Dua Winchester dengan tertarik mendapati ekspresi lega sama-sama muncul di wajah Nathan, JD dan Josiah. Bahkan garis-garis muka Chris terlihat lebih rileks. Tak hanya itu, dalam derajat yang berbeda-beda, mata keempat anggota The Seven itu memantulkan sorot menyayang yang biasanya ditujukan pada sanak kerabat dekat. Mereka seperti menyambut kedatangan anggota keluarga saja.

Ketiga ekor kuda itu berhenti tepat di depan kantor sherrif, memungkinkan Dean dan Sam mengamati dengan jelas bagaimana rupa para penunggangnya. Pria pertama rambutnya panjang ikal menyentuh bahu, dia berpakaian seperti pria gunung dengan jaket kulit berumbai di seputar bahunya. Sebuah senapan sawed off di sabuk pistolnya yang didesain khusus, senapan utuh terkait di sadelnya. Pria kedua sama sekali bertolak belakang penampilannya dari pria pertama. Dia mengenakan jaket merah yang mestinya menyolok mata, tetapi warnanya agak tenggelam ditelan debu perjalanan. Topi dan sadelnya terlihat bergaya dan meski terlihat kotor sebagaimana musafir pada umumnya, kenecisannya tidak dapat disembunyikan.

Dean dan Sam otomatis menggigit bibir melihat tampang pria ketiga. Mimik tergelitik rupanya bukan monopoli mereka saja karena Nathan, Josiah dan Chris sama-sama mendengus terhibur waktu mata mereka menyoroti kondisi pria ketiga. Terang saja, orang itu cuma mengenakan topi dan pakaian dalam panjang lelaki berwarna merah pudar. Sabuk pistol masih membelit pinggangnya, tapi selain aksesori itu dia tidak memakai apa-apa lagi.

JD yang memang dasarnya sukar mengerem mulutnya langsung menyeletuk, "Whoa, Buck. Vin dan Ez menyeretmu dari kamar perempuan bersuami lagi?"

Ucapannya itu membuat kumis pria yang dipanggil Buck itu bergerak-gerak menahan jengkel, barangkali sempat dia memaki dan kedua rekannya meletuskan tawa pendek. Jelas sekali bahwa dua orang itu sudah lelah tertawa, tetapi tiap kali ada pancingan, tak ayal tergelak juga mereka.

"Kalian terlambat," ucap Chris.

"Hei, Chris," gumam Buck lesu.

"Tuan Larabee," pria berjaket merah menyentuh ujung topinya dengan hormat.

Pria berjaket kulit tersenyum kecil. "Hei, koboi," katanya pelan, aksen Texas samar di suaranya.

Dean menyeringai. Koboi, eh? Dapat satu amunisi baru dia untuk mengejek Chris. Namun, Josiah menangkap raut mukanya dan niat yang tersurat di sana. Pria itu mendehem untuk menarik perhatian Dean dan menggelengkan kepala dengan serius. Pesannya jelas: jangan coba-coba panggil Chris dengan julukan itu, kalau masih sayang nyawa.

"Bagaimana, Vin?" Cuma itu yang dilontarkan Chris, tertuju pada si pria berjaket kulit.

Yang ditanya turun dari kuda, diikuti oleh pria berjaket merah sementara Buck tetap di atas punggung kudanya entah karena apa. Kejelian Nathan membuatnya menangkap sekilas kerutan di wajah kedua orang itu sewaktu menuruni tunggangan masing-masing dan dia menghela nafas. Daftar cedera terpentang di kepalanya.

Vin melapor, "Tahanannya sudah kami tangkap lagi dan kini pasti tengah menikmati hotel prodeo di Yuma."

"Bagus," komentar Chris. "Ada masalah?"

"Yah, Ez mungkin akan bilang 'terlalu banyak aral melintang' dan itu memang kena. Keparat itu sempat bikin repot, tapi semua beres," jelas Vin.

"Dan Buck?"

Si pria berjaket merah yang menyahut dengan logat panjang khas orang Selatan, "Hanya kenyataan bahwa Tuan Wilmington adalah personifikasi dari segala ketidakberuntungan yang mungkin terjadi pada manusia."

"Detilnya?" selidik Chris.

Vin menyeringai nakal. Dia mengerling pada rekannya, "Kau saja yang mengelaborasi, Ez, atau aku?"

Josiah bergumam, "Mengelaborasi? Celaka dua belas, Vin sudah terkontaminasi Ezra."

Yang didaulat, Ezra, membalas dengan cengiran, satu gigi emasnya berkilau ditimpa sinar matahari. "Suatu kehormatan bagi saya, Tuan Tanner," ucapnya. "Tapi menurut hemat saya, alangkah baiknya bila ceritera itu diuraikan setelah kita semua sudah berada dalam kondisi busana dan tempat yang lebih patut."

Sam berbisik pada Josiah, "Dia selalu bicara seperti ini?"

Josiah membalas dengan, "Ini masih belum apa-apa."

Sementara itu, Buck menggeram mendengar jawaban Ezra, giginya gemertak sewaktu dia mengancam, "Ceritakan dan kau akan dapat ganjaran setimpal, Ez."

"Setelah saya pikir kembali, barangkali lebih baik jika kemalangan Anda tidak saya pancar sebarkan di telinga publik, Tuan Wilmington," Ezra mengangkat sebelah alisnya. "Siapa yang tahu di kemudian hari itu akan menjadi berfaedah bagi saya bilamana saya memerlukan Anda untuk mengerjakan sesuatu di luar kehendak dan persetujuan Anda."

"Maksudmu, itu jadi bahan untuk memerasku, Ez?" tuding Buck.

"Sebut saja, suatu motivasi yang kuat," elak Ezra.

Buck menggerutu tak jelas dan yang lain tidak merasa perlu repot-repot menangkap isinya.

JD melihat Ezra dan Vin memperhatikan dua orang yang asing bagi mereka berada bersama Chris dan kawan-kawan dan dia berinisiatif, "Oh, kenalkan. Ini Dean dan Sam Winchester. Mereka... uh, pemburu yang kebetulan sedang mampir di sini." Dia menoleh pada Winchester bersaudara, "Dean, Sam, ini rekan-rekanku yang pernah kuceritakan. Itu Vin Tanner," dia menunjuk pria berjaket kulit, "Ezra Standish," tangannya mengarah pada pria berjaket merah, "dan..." JD menyeringai, "Buck 'tukang gombal' Wilmington." Yang terakhir ini diberi bungkukan hormat berlebihan.

"Suatu hari nanti, JD, kau akan mengemis untuk bisa mengutarakan kata-kata indah dan penuh nuansa cinta seperti yang biasa kukatakan pada wanita," tanggap Buck. "Hai," dia menyapa Winchester bersaudara.

Vin dan Ezra memberi salut dengan menyentuh ujung topi. Dean yang tak bertopi menaikkan dua jari sementara Sam yang kedua tangannya sarat koran hanya mengangguk.

Para pria yang baru saling berkenalan itu melontarkan basa-basi singkat. Sempat ada yang mengusulkan agar nanti malam diadakan adu main poker antara Ezra dan Dean. Ezra menatap Dean dengan kalkulatif, jika benar pemuda itu sehebat kata teman-temannya, pertandingan yang akan datang itu akan jadi ajang mengasah kemampuan yang menggairahkan. Dean sendiri menyambut tantangan yang memancar di mata hijau Ezra, berpikir bahwa ini baru lawan yang setara buatnya: sama-sama penjudi profesional, walau Dean tidak menunjukkan itu dalam caranya berbusana. Tambahan pula, ini anaknya Maude Standish. Itu sudah jadi motivator yang bagus.

Winchester bersaudara dan The Seven terlibat dalam percakapan ringan bersahabat, semua kecuali Buck. Senyum seorang penggoda bermain di bibirnya tatkala dia menemukan sosok molek Nona Betsy menyeberangi jalan menuju ke arahnya. Lenggok pinggul perempuan itu terlihat seduktif, bibirnya merekah dan matanya memunculkan binar-binar jelita. Buck membusungkan dada, sudah bersiaga menyambut wanita yang sudah beberapa lama jadi incarannya itu, ketika...

"Dean sayang..." Nona Betsy melewati Buck begitu saja, langsung ambil posisi di samping pemuda Winchester itu.

"Hai, Betsy. Kangen padaku?" goda Dean, membiarkan wanita itu duduk merapat padanya.

"Kau tidak bilang kalau sudah keluar dari klinik," Nona Betsy mengejapkan bulu matanya yang panjang.

"Kamu terlalu mempesonaku sampai aku jadi lupa memberi tahu kemarin," rayu Dean yang membikin semua orang di sana memutar bola mata.

Buck sendiri mendelik mendengarnya. Rasanya gombalannya jauh lebih canggih, tapi kenapa Nona Betsy sama sekali tak terkesan padanya? Perempuan memang aneh.

Pemandangan yang terhampar di depan matanya benar-benar bikin sewot. Nona Betsy menggenggam tangan Dean, dia mencondongkan tubuh untuk berbisik mesra di telinga Dean, mencetak jelas garis dadanya yang indah dan ramping pinggangnya. Yang dikisiki balik mengatakan sesuatu dengan nada rendah, berdua mereka tertawa lirih bersama dengan ekspresi tahu sama tahu. Kemudian Nona Betsy bangkit dari duduknya, dia membantu Dean berdiri perlahan-lahan. Lengan Dean masih melingkari bahu perempuan itu sewaktu dia berpamit.

"Aku ada urusan yang perlu dapat penanganan segera," Dean berucap penuh arti. "Sampai nanti, tuan-tuan." Masih saling berangkulan, yang sebetulnya lebih tepat disebut yang satu setengah dipapah oleh yang lain, pasangan itu berjalan ke arah Saloon.

Mimik ternganga campur tidak terima Buck menggelitik urat geli yang lain. Dia membuka dan menutup mulutnya beberapa kali, macam ikan terdampar.

"Itu tadi..." gagapnya. "Dia tidak..."

"Yep," senyum Vin.

JD terpingkal. "Daya tarik hewanimu sudah luntur, eh, Buck?"

Ezra tak ketinggalan menimpali, "Perlu menala ulang vibrasi, Tuan Wilmington."

Buck memandang ke arah Nona Betsy dan Dean yang menghilang ke dalam Saloon dengan masygul. Namun, tidak pernah berkubang dalam kegagalan berlama-lama, sejurus kemudian dia berkata yakin, "Ya, biar saja kalau memang wanita itu seleranya begitu. Masih ada banyak perempuan di Four Corners ini yang tahu menghargai seorang pria sejati berkualitas tinggi." Dengan itu dia mengarahkan kudanya ke istal, wajahnya penuh determinasi dan teman-temannya yang hafal adatnya yakin malam ini para gadis Saloon, juga Inez, akan memperoleh limpahan perhatian dan sanjungan dari seorang Buck Wilmington, penggemar perempuan kelas wahid.

Sepeninggal Buck, Nathan angkat bicara dan yang dikatakannya gampang ditebak. "Apa di antara kalian ada yang terluka?"

Pertanyaan itu membikin Ezra dan Vin saling melirik dengan ragu-ragu. Nathan mulai bisa meraba ke mana jalannya pikiran dua temannya itu. Polanya hampir selalu sama, laksana musim setiap tahun.

"Dan jangan coba-coba berkelit atau mengecilkan cedera," Nathan menujukan ini pada Vin yang bergerak gelisah. "Jangan pula menjawab dengan berbelit-belit," yang ini diarahkan pada Ezra yang sudah buka mulut mau mencoba hal yang dilarang Nathan itu.

"Pergelangan tangan Ez terkilir waktu menarik kekang kuda yang kabur," ucap Vin.

Ezra mengerutkan bibir. "Terjadi kontak temporer antara bahu Tuan Tanner dengan sebutir timah panas."

Vin balik mengadu dengan, "Ez jatuh dari kuda dan pelipisnya terbentur."

"Setelah lapisan-lapisan pakaiannya diekskavasi, saya berani memastikan ada memar di rusuk Tuan Tanner," timpal Ezra.

Nathan turun menengahi. Mantap dia memberi peritah, "Klinik. Kalian berdua. Sekarang!"

Vin dan Ezra sama-sama merengut mendengarnya. Sambutan macam itu sudah dapat diduga, tetapi tetap saja menyebalkan. Kompak pula mereka lantas pasang ekspresi memohon pada Nathan. Nathan tak terpengaruh, sudah kebal dia agaknya, ditatapnya kedua temannya itu dengan tegas tanpa kompromi.

"Ayo ikut ke klinik," Nathan berdiri, memanfaatkan tinggi tubuhnya untuk menimbulkan kesan mengancam pada dua rekannya yang lebih pendek, sama sekali tidak mau menerima gelagat membantah sekecil apapun.

Kenangan tentang dirinya dan Dean dalam situasi yang mirip seketika menyelinap ke benak Sam.

Pasrah, Vin dan Ezra setengah didorong paksa oleh Nathan berjalan ke arah klinik, diiringi tatapan terhibur Sam, JD dan Chris. Kemudian Josiah ikut bangkit dari duduknya.

"Siapa tahu Saudara Nathan butuh bantuan dengan mereka. Kombinasi Vin dan Ezra bisa membuat seorang santa sekalipun gatal ingin menempeleng mereka," Josiah menjelaskan niatnya seraya tersenyum sarat makna sebelum menyusul teman-temannya yang sudah separuh jalan menuju klinik.

Sepeninggal teman-temannya, JD masuk ke dalam kantor sherrif untuk menulis laporan yang diminta oleh Hakim Travis, sedangkan Sam pergi melanjutkan acaranya yang tadi tertunda, mendistribusikan koran ke pelanggan di seluruh penjuru kota.

Tinggallah Chris seorang diri. Dia menyulut cerutu kecilnya, menikmati setiap isapannya. Ditatanya kembali pion-pion catur yang berantakan kembali ke posisi siap tempur yang berhadap-hadapan. Trio sinting itu sudah pulang dan itu melegakan Chris lebih dari yang mau diakuinya. Mereka mungkin tidak utuh benar, tetapi mereka selamat dan itu yang terpenting. Mereka bertujuh kembali utuh dan bersama-sama. Itu membangkitkan perasaan yang nyaman di hatinya, walau Chris akan menyangkalnya sampai titik darah penghabisan.

Chris menghembuskan asap cerutunya membentuk huruf "o" dan berpikir geli, dua Winchester bersaudara itu gemar mencari masalah ke mana pun mereka pergi. Yah, seluruh perjalanan mereka adalah tentang mencari masalah. Sementara trio Vin-Ezra-Buck biasanya malah dicari oleh masalah, bagaimanapun mereka menghindar dan apapun yang mereka perbuat. Bayangkan kedua kubu itu bertemu di satu kota dan Chris menyeringai terhibur.

Four Corners akan jadi ramai nanti.

xox

SELESAI