Still..

By : Esti Kinasih

Main Cast: KAISOO

Other Cast CHANBAEK, HUNHAN etc.

WARNING! GENDERSWITCH

DON'T LIKE, DON'T READ.

.

.

.

.

.

Chapter 9

.

.

.

.

.

SATU per satu, Kai mendatangi gadis-gadis yang pernah "jalan" bersamanya di banyak waktu yang singkat, bahkan teramat singkat. Beberapa telah terlupakan. Beberapa telah menghilang. Beberapa ternyata masih berharap bisa kembali. Beberapa menyimpan kebencian sampai saat ini.

Dan...

Beberapa memberinya tamparan telak!

Salah satu dari gadis itu meninggalkan kesan yang cukup dalam untuk Kai. Yewon. Kai bahkan masih ingat dengan jelas namanya yang—sumpah!—menurutnya—kampung banget. Tapi, waktu pertama kali bertemu Kai, gadis itu memang baru saja tiba di Seoul, dari desanya di Pulau Goeje sana. Desa yang mulai berkembang dan mulai ramai oleh pendatang adalah keberadaan 2 pabrik kapal (shipyard) besar yaitu milik Daewoo dan Samsung.

Saat pertama kali melihat Yewon di area parkir sebuah lembaga kursus tidak jauh dari kampus, saat Jeep-nya terjebak macet, Kai langsung tertarik. Yewon cantik. Cantiknya gadis desa. Polos. Penampilannya sederhana. Terlihat canggung dan bingung di tengah keramaian orang-orang yang tahu pasti ke mana tujuan dan apa yang akan mereka lakukan. Yewon tipe perempuan yang sering jadi sasaran penipuan, bahkan trafficking.

Saat ia dekati, gadis itu langsung waspada. Mukanya langsung pucat, dan baru agak tenang setelah Kai menekankan berkali-kali bahwa tempat itu pernah jadi daerah jajahannya. Apalagi ucapan Kai dibenarkan oleh penjual rokok yang mangkal di situ.

"Yewon, ya? Bukan Sewol?" goda Kai saat gadis itu menyebutkan nama. Asli, itu plesetan nggak mutu banget. Dan Yewon tersenyum. Meskipun malu-malu, gadis itu terlihat sangat geli dengan joke jayus yang dilontarkan Kai. Jangan-jangan di kampungnya sana nggak kenal sama plesetan, lagi. Parah juga!

Di hari-hari berikutnya, Kai senang mengajak gadis desa itu keliling Seoul. Rasanya lucu sekaligus aneh, melihat ada orang yang sebegitu tercengangnya melihat Namsan Tower. Sebegitu takjubnya dengan Lotte. Sebegitu terperangahnya dengan gedung pencakar langit yang Yuksam Building (63 Building). Yewon bahkan sampai minta mobil berhenti di depan Namdaemun Gate, saking terpesonanya pada gerbang yang memang berarsitektur indah dan elegan itu.

Tapi cukup sekali Kai mengajaknya memasuki sebuah plasa, karena gadis itu memasuki setiap konter dengan wajah terperangahnya. Juga pertanyaan dan komentar-komentar yang membuat hampir setiap orang yang mendengar jadi menoleh dan langsung tahu gadis itu baru datang dari pedalaman.

Yewon juga sangat takjub pada lift kapsul di plasa itu. Ketika akhirnya bisa mengatasi rasa takutnya, gadis itu naik-turun lift berulang kali.

*

Bagaimana kabar Yewon sekarang?

Pertanyaan yang sebenarnya ditujukan Kai untuk dirinya sendiri itu kemudian membawanya memasuki perkampungan yang bisa dibilang kumuh. Berbekal ingatan yang sudah samar, ditelusurinya perkampungan padat, sumpek, dan semrawut itu.

Setelah tersesat di lorong-lorong yang becek, kadang remang bahkan gelap, dan tak terhitung berapa kali ia bertanya dia sana-sini, Kai menemukan apa yang dia cari. Sebuah rumah kontrakan murah, kecil, dan kusam. Tempat Yewon tinggal bersama kakak perempuannya yang sudah berkeluarga.

Sama sekali bukan karena kondisi ini ketika akhirnya dia tinggalkan Yewon. Tapi karena lagi-lagi, kebebasannya mulai terancam, dan yaaah... harus dia akui, agak malu juga untuk memunculkan gadis itu di tengah teman-temannya.

Pelan, diketuknya pintu. Tak lama didengarnya suara gerendel ditarik. Menjelang pintu itu akan terbuka, Kai merasa tubuhnya mendingin. Ternyata yang muncul di depannya adalah seorang wanita muda yang tidak dikenalnya.

"Maaf. Yewon ada?"

"Yewon?" Wanita itu mengerutkan kening. "Di sini nggak ada yang namanya Yewon. Yang dulu pernah ngontrak di sini, kali ya? Udah pindah."

"Mmm... ke mana ya kira-kira?"

"Wah, saya nggak tau."

Sesaat Kai terdiam. Tapi kemudian dia minta diri karena memang tidak ada lagi yang bisa dilakukannya di situ.

"Terima kasih. Permisi."

Namun saat akan ditinggalkannya perkampungan kumuh itu, tak diduga Kai bertemu seseorang yang dia kenali sebagai teman sekelas Yewon di tempat kursus. Sayangnya dia lupa nama yeoja itu. Terpaksa disapanya tanpa menyebut nama.

"Hai. Apa kabar?"

Yeoja tak bernama itu tampak kaget. Diturunkannya majalah yang sedang dibacanya.

"Baik," jawabnya dingin.

"Ng... lo tau Yewon pindah ke mana?" tanya Kai langsung.

"Pindah ke mana? Dia balik ke kampungnya di tengah sana. Baru tau?" Sekarang ganti Kai yang kaget. "Balik ke kampungnya? Kapan?"

"Begitu lo tinggalin dia!" jawab cewek itu telak, membuat tubuh Kai menegang.

"Maksudnya?"

"Maksudnya!?" Cewek itu melotot. "Lo pacaran sama dia, kan? Kalo mau putus, bilang dong! Jangan kayak pengecut gitu. Pergi begitu aja. Nggak ngomong apa-apa!"

"Kami nggak pacaran!" bantah Kai tajam.

"Oh, ya? Trus kenapa dulu lo suka ngajak dia jalan? Beliin ini-itu. Jemput dia di tempat kursus. Bantuin ngerjakan PR yang dia nggak bisa. Gue juga pernah beberapa kali ngeliat lo gandeng tangan dia. Kayak gitu bukan pacaran, ya?"

"Yaaa... mmm..." Kai tergeragap. Cewek itu menatapnya semakin dingin, lalu geleng-geleng kepala.

"Elo itu orangnya tega banget, ya? Cewek kampung polos gitu lo mainin."

Kai menghela napas. "Ada nomor telepon yang bisa gue hubungin?"

Cewek itu terbelalak. "Elo itu ternyata juga suka menghina, ya? Dia itu tinggalnya di kampung di tengah lautan. Boro-boro telepon, listrik aja kadang hidup kadang mati. Dia bisa ke Seoul karena ortunya jual sapi. Buat biaya nerusin sekolah di Seoul. Makanya dia cuma pingin ambil D3, sama kursus-kursus. Ntar kalo udah lulus, dapet kerjaan, dia mau bantu orang tuanya di desa. Biar nggak bener-bener hidup dari hasil laut. Soalnya kalo lagi musim dingin kayak kemaren itu, keluarganya bener-bener sampe harus makan nasi sama garam doang. Malah pernah cuma bisa makan nasi yang udah dijemur sampe kering. Pahit nggak sih, begitu sampe sini dia ketemu orang kayak elo?"

Kepala Kai tertunduk sesaat.

"Ada alamat?" tanyanya kemudian. Suaranya berubah lirih. "Kalo nggak bisa telepon, paling nggak gue bisa kirim surat. Bisa, kan?"

"Oh, bisa!" jawab cewek itu langsung. "Dengan syarat, tukang posnya selamet sampe tujuan. Nggak keburu dimakan hiu, atau tenggelem di lautan!"

*

Kai tercenung di belakang setir. Hampir satu jam Jeep-nya terparkir di satu tepi jalan yang lengang. Kenyataan tadi benar-benar memukulnya.

Yewon pasti punya banyak impian dan harapan yang menyertai kepergiannya ke Seoul. Milik orangtua, saudara-saudara, keluarga besar, teman-teman, bahkan mungkin seisi desa. Terlebih untuk kedua orangtuanya. Anak gadis mereka merantau ke Seoul untuk meneruskan sekolah. Hebat sekali!

Namun semua impian dan harapan itu hancur di tangannya. Dan baru saat ini dia tahu, setelah lebih dari satu tahun berlalu!

Bersama tarikan napas berat, Kai menjatuhkan kepalanya ke atas setir. Kesepuluh jarinya mencengkeram benda itu kuat-kuat. Kuat-kuat! Kuat-kuat!!! Sampai semua jarinya terasa sangat sakit. Tapi rasa bersalah itu tetap tidak bisa keluar. Tetap diam di dalam. Mengganjal dan menekan.

*

"Lo bener-bener nggak tau atau pura-pura nggak tau?"

"Serius gue nggak tau. Kenapa Luna nggak nerusin kuliah, Ri?"

Yeri, sahabat Luna, salah satu mantan yoeja Kai yang kebetulan masih bisa diingat dan masih bisa dilacak, menatap cowok gondrong di depannya dengan ekspresi datar.

"Dia nggak nerusin kuliah karena harus merit."

Kai terperangah. "Kenapa dia harus cepet-cepet merit?"

Kening Yeri sedikit mengerut mendengar itu.

"Kayaknya elo deh yang paling tau, kenapa dia harus cepet-cepet merit," jawabnya dingin. Kai sempat tersentak sesaat namun kemudian kembali normal.

"Gue justru baru tau sekarang dia udah merit. Dia nggak bilang sama sekali. Apalagi ngundang gue."

"Kita lagi ngomongin alasan, bukan undangan!" ucap Yeri sengit. "Lo berharap diundang, gitu?"

"Kenapa gue harus nggak diundang?"

Sesaat sepasang mata Yeri jadi menyipit. Kemudian dia bangkit berdiri dan berjalan ke dalam, meninggalkan Kai kebingungan di teras.

Tak lama cewek itu kembali dengan selembar foto di tangan. Diserahkannya foto itu pada Kai.

"Umurnya baru dua bulan."

Kai menatap foto di tangannya. Tubuhnya terasa meringan. Kesadarannya ikut melayang. Itu foto seorang bayi mungil. Montok. Lucu.

"Tebak siapa namanya?" desis Yeri. Perlahan Kai mengangkat kepala. Bibirnya bergerak tapi tidak ada suara yang keluar. Yeri tersenyum sinis.

"Yoo Jongin. Cuma beda marga sama nama lo yang Kim Jongin." Kai sontak pucat pasi. Yeri menyaksikan itu dan kembali senyum sinisnya muncul.

"Lo nggak usah panik dulu. Gue juga pingin banget kalo nanti udah merit, trus punya anak cowok, gue namain Gong Yoo. Meskipun orang bakalan ribut nanya apa hubungannya sama Gong Yoo yang bintang film itu, gue berhak untuk nggak ngomong apa-apa, kan?"

Lagi-lagi Yeri tersenyum sinis. Kai merasa dirinya dipojokkan.

"Itu bukan anak gue!" tandasnya.

"Gue nggak bilang itu anak lo kok." Yeri geleng kepala. "Kecuali ada kata 'junior'-nya. Baru deh lo boleh panik trus bikin klarifikasi. Eh, tapi untuk orang sengetop elo, konferensi pers kayaknya lebih tepat." Tapi detik berikutnya, Yeri meralat kalimatnya, "Eh, tapi kayaknya nggak usah diklarifikasi ding. Bener. Lo cukup panik aja. Karena biarpun di klarifikasi sampe ke mana, kayaknya orang nggak akan percaya."

Kedua rahang Kai mengatup keras. Susah payah ditahannya dadanya yang bergolak marah. Kemudian dia berdiri dan menjulangkan tubuhnya di atas Yeri. Ditatapnya yeoja itu dengan sepasang mata membara.

"Lo dengar ya. Sekali lagi gue tegasin. Itu anak bukan anak gue!"

Masih menahan marah, Kai meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya terasa gamang. Meskipun dia yakin bayi itu bukan anaknya, kenyataan salah satu mantannya meninggalkan bangku kuliah dan menikah muda serta telah menjadi seorang ibu benar-benar mengacaukan emosinya.

Yeri mengikuti kepergian cowok itu dengan kedua matanya. Bayi itu memang bukan anak Kai. Yang terjadi adalah, Luna ternyata sangat mencintai cowok gondrong bangsat sialan itu sehingga ketika akhirnya ditinggalkan Kai, Luna langsung goncang. Kuliahnya kacau, dan dia memutuskan untuk menerima lamaran pertama yang datang.

*

Butuh waktu cukup lama bagi Kai untuk menormalkan kembali hati dan emosinya. Ketika ia kembali menelusuri masa lalunya, orang pertama yang dia temui langsung kalap begitu melihatnya.

"Ngapain lo dateng ke sini? Pergi sana! Pergi!"

Tubuhnya disentak keras-keras ke belakang. Kai sampai harus meraih ambang pintu agar tidak jatuh.

"Krys, gue cuma mau minta maaf."

"Sekarang!? Baru sekarang lo mau minta maaf!? Lo tau, gue hampir aja diperkosa gara-gara elo!"

"Apa!?" Kai terperangah. "Apa lo bilang!?"

Gadis di depannya berdiri dengan mata merebak. Ketika kemudian dia kembali bicara, intonasi suaranya menurun drastis dan diwarnai tangis.

"Gue hampir diperkosa, tau! Alasannya karena gue mantan lo. Karena cewek yang pernah jalan sama lo pasti udah nggak bener. Pasti udah rusak. Pasti udah diapa-apain. Dan dia macarin gue karena alasan itu. Karena gue sampah orang, jadi nggak perlu dijaga!" Krystal terisak. "Gue trauma sama cowok!"

Kai terenyak.

"Siapa dia!?" desisnya.

"Percuma lo tanya sekarang. Udah lama. Basi!"

"Kenapa lo nggak cari gue?" tanya Kai dengan suara tercekat.

"Buat apa? Biar gue keliatan kayak cewek putus asa, gitu? Biar orang sekampus tau kekalutan gue? Ngejar-ngejar elo sampe frustrasi, sementara elo duduk dengan sombongnya di Jeep gede lo itu? Bangga. Ada yeoja yang jadi segitu gilanya gara-gara lo tinggal!? Juga biar yeoja lo yang baru itu bisa menghina gue!?"

Kai bahkan sudah lupa siapa ceweknya setelah Krystal!

Tuhan, desisnya dalam hati. Namun hanya sampai di situ. Terhenti. Dia tidak tahu apakah pantas memohon untuk diampuni.

"Kalo kita jalan lagi, lo mau?" tanyanya pelan, namun permintaan itu sungguh-sungguh. Krystal terperangah.

"Pergi lo dari sini! Pergi!" bentaknya.

"Krys, gue serius..."

"PERGI!!!" Krystal menjerit histeris. Pintu di depan Kai kemudian dibanting keras-keras.

*

Apa yang sudah dilakukannya?

Bagi Kai, hidup tetap berjalan seperti keinginannya. Harapan, mimpi, dan cita-cita masih ada di depan sana. Utuh, dan akan jadi miliknya suatu saat nanti.

Sementara dirinya telah memenggal hidup orang lain. Banyak hidup orang lain. Dia telah memaksa mereka berganti arah. Menjauh dari mimpi, melupakan angan, dan melepas cita-cita.

Mereka menerima dan menjalaninya dengan diam. Diam! Sakit namun ikhlas. Luka tapi akhirnya pasrah. Beberapa di antaranya memaafkannya. Memaafkannya dan menganggap apa yang sudah terjadi adalah bagian dari kebodohan. Bagian dari kesalahan mereka sendiri.

Kai melarikan Jeep-nya dengan kecepatan tinggi, menembus kegelapan jalan tol, namun kemudian berhenti mendadak di bahu jalan. Cowok itu turun dengan langkah terhuyung. Sesaat dia hanya berdiri diam, kemudian berteriak sekeras-kerasnya. Sejadi-jadinya. Melengking tajam. Panjang. Sakit. Sesak. Namun tetap tidak mampu melegakan. Tetap terasa meremukkan.

Ada saatnya kita tidak bisa menahan air mata. Karenanya, biarkan saja dia mengalir. Tidak perlu diredam. Tidak usah disangkal.

Menangis bukanlah cengeng. Menangis meredakan sakit, meskipun tidak mengubah keadaan. Meskipun sama sekali tidak menebus kesalahan.

Dan... Kai menangis!

Terisak. Air matanya turun. Tubuhnya terhuyung mundur membentur Jeep. Perlahan, dia jatuh terduduk. Masih terisak, dia lalu tertunduk. Meringkuk. Mengecil. Kerdil.

Apa air mata bisa membayar? Sama sekali tidak! Begitu juga penyesalan. Bahkan hidup dan jiwanya sekalipun! Semua yang sudah dilakukannya di masa lalu... tidak akan terbayar! Dan tak satu pun yang mampu menegakkan kembali ke-aku-annya. Tidak jam terbangnya sebagai pendaki gunung, atau Jeep kebanggaannya, bahkan fisiknya yang di atas rata-rata. Tidak ada satu pun alasan yang bisa dijadikannya penyangga untuk mengangkat kembali wajah dan dadanya. Karena dia sudah melihat, dari jarak yang sangat dekat, warna kepasrahan dan bentuk keikhlasan.

*

Sudah menjelang fajar. Langit gelap di timur mulai menjingga, saat Kai akhirnya mampu sedikit berdamai dengan dirinya. Saat akhirnya di dengarnya hatinya berbisik. Memintanya untuk berdiri. Tidak apa-apa sambil menangis.

Perlahan dia berdiri. Diraihnya ponsel di dasbor, diaktifkannya kembali, lalu ditekannya nama Chanyeol di daftar kontak.

Satu lagu yang sudah akrab di telinga menyertainya menunggu. Begitu Chanyeol mengangkat telepon, Kai langsung bicara bahkan sebelum Chanyeol sempat membuka mulut.

"Lepasin dia..."

Chanyeol tercengang. Sesaat dia sampai tidak bisa bicara.

"Bisa... diulang?" ucap Chanyeol kemudian dengan sangat hati-hati.

Kai menggertakan gerahamnya kuat-kuat. Perlahan kedua matanya menutup. Dia sepenuhnya sadar, dirinya benar-benar sedang menuju kekosongan.

"Lepasin. Biarin dia pergi," ucapnya kemudian. Berat dan susah payah. Di seberang, Chanyeol tertegun. Beberapa detik kesenyapan mendominasi. Chanyeol masih menunggu, tapi Kai sudah tidak ingin bicara lagi. Akhirnya Chanyeol menghela napas. Berat dan panjang.

"Oke," ucapnya pelan.

*

"Gitu dong! Rambut gondrong, badan gede, anak gunung. Kalo punya tato kan tambah keren."

"Nggak bayar, kan?"

"Boleeeh. Tapi pake tinta printer. Mau lo?"

Kai tertawa. Dilepasnya kancing-kancing kemejanya lalu dilemparnya kemeja itu begitu saja ke meja di sudut ruangan. Kemudian dia berjalan menuju kursi di sudut yang lain dan menjatuhkan diri di sana.

"Di mana?"

"Dada kiri."

"Objeknya?"

"Abstrak aja. Terserah elo."

Teman Kai, yang membuka jasa pembuatan tato, mengerutkan kening mendengar kalimat itu.

"Kalo ditanya orang gambar apa?"

"Biar mereka bikin definisi sendiri. Udahlah, cepet. Gue bikin tato bukan untuk diliat orang. Tolong bikin gambar yang paling rumit."

Kai memejamkan mata saat jarum mulai menusuk-nusuk dada kirinya. Sakit. Namun sejujurnya, kalau bisa dia ingin merasakan yang jauh lebih sakit dari ini. Jauh lebih sakit! Agar bisa mengurangi rasa bersalahnya sedikit saja.

Chanyeol dan Sehun tidak banyak berkomentar saat mereka mengetahui dada kiri Kai bertato. Juga ketika Kai mulai merokok. Keduanya membiarkan. Setidaknya itu bentuk pelarian yang risikonya cukup minimalis dan hanya menimpa yang bersangkutan. Tidak orang lain.

Kemudian Kai juga menjelma menjadi gentleman sejati. Sopan. Sekarang bersamanya benar-benar aman dan nyaman. Tangannya tidak lagi aktif, dan matanya berhenti melakukan pelecehan. Hasilnya...

Sekarang cowok itu nyaris tidak pernah sendirian. Banyak nama, banyak wajah, datang dan pergi bergantian. Jeep kanvasnya kini sepadat bus-bus angkutan.

Hanya Chanyeol yang bisa memahami. Untuk satu ruang kosong yang kini tak lagi terisi, mereka yang datang dan pergi itu bisa sesaat menutupi. Karenanya Chanyeol membiarkan Kai seperti itu. Untuk sementara biar dia begitu. Karena begitu sendirian, Kai akan kesepian.

-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

Yeaaayyy akhirnya update, maaf ya lama updatenya haha

~Happy reading~