Perempuan itu hanya merasakan semuanya gelap setelah kepalanya dihantam oleh sebuah kayu, sampai ia merasa badannya diangkat dan diletakkan di suatu tempat. Di awal ia bangun ia sempat tidak sadar berada dimana sekarang, tetapi karena mendengar suara-suara berat dari luar membuatnya sadar, bahwa dia sekarang tengah berada di toilet laki-laki.

Dia memegang kepala belakangnya yang berdarah. Seakan-akan mencoba tidak mempedulikan rasa sakitnya, dia mencoba mendobrak pintu kamar mandi itu tapi tidak ada tanggapan. Bagaimana ia bisa dikunci dari luar? Dan siapa pelakunya? Apa jangan-jangan ini ulah Seokmin? Ah, anak itu benar-benar gila. Dia takut apabila Seokmin melakukan hal-hal ang aneh kepada pacarnya. Tidak masalah jika dirinya yang disakiti, yang terutama pacarnya itu selamat ditangannya.

Hannah ingin sekali berteriak untuk siapapun yang mau menolongnya tapi dia sadar, ini di toilet pria. Kalaupun ia bersuara, pasti para murid laki-laki itu akan berpikir yang macam-macam. Dia mencoba menaiki pintu kamar mandi dengan melompat tapi saat tangannya berhasil memegang bagian atas pintu, tangannya terpeleset dan dia jatuh terduduk. Merasakan sakit yang luar biasa di bokongnya setelah menghantam cukup keras lantai kamar mandi. Untung saja kepalanya tidak terkena toilet, bisa-bisa kepalanya pecah disini. Suaranya terisak saat meminta tolong, sangat pelan dan kemungkinan kecil ada yang mendengar. Ia merasa gagal menjadi pacarnya Joshua. Ia tidak bisa melindungi dirinya sendiri sebelum melindungi laki-laki yang ia cintai.

Suara knop pintu yang sedang coba dibuka menghentikan isakannya. Dia takut yang membuka pintu itu salah satu teman Seokmin dan dia akan dihabisi setelah ini. Jadi ia tidak mau berharap banyak. Setelah pintu terbuka, tampaklah seorang murid dengan nafas yang berderu dan sedikit luka di dahinya. Karena takut, dia mencoba memanggil namanya perlahan.

"Jeonghan?"

"ASTAGA, KAU TIDAK APA-APA?" tanya Jeonghan panik melihat kondisi Hannah yang memprihatinkan, ia hanya mengangguk sambil memegang kepalanya, "Where's Jisoo? Is he on 6th floor?"

Sebelum Hannah mengangguk lagi, Jeonghan menarik tangan Hannah dan berlari cepat menuju lantai 6. "Bukan Seokmin tadi yang memukulmu, tapi salah satu murid yang pernah menembak pacarmu juga. Mingyu namanya. Dan aku sudah berantem dengannya dan dia pingsan setelah aku meninju kepalanya." Hannah yang bingung apa yang Jeonghan bicarakan membuat Jeonghan berdecak kesal, "Aku lupa, kau tidak terlalu jago bahasa Korea. Mari selamatkan Jisoo dari para bajingan itu."

Sesampainya, mereka disuguhkan dengan pemandangan yang membuat mereka kaget. Jisoo dengan baju seragam yang sudah terbuka dengan celana yang sedikit diturunkan, dan kedua murid yang sedang memperkosa— uh, ini sudah sangat keterlaluan. Hannah langsung keluar dari tempat persembunyiannya mengambil kayu yang berada disana dan berjalan pelan menuju mereka, mengabaikan Jeonghan yang khawatir di belakang dan rintihan kesakitan dari Jisoo membuat hatinya sakit.

"DON'T YOU FUCKING DARE!" Hannah memukul mereka satu persatu dan langsung memeluk Jisoo. Hannah menangis melihat keadaan Jisoo sekarang. Pipi yang memerah (ia yakin mereka pasti menampar Jisoo sebeumnya), bibir yang bengkak dan berdarah, warna ungu yang mendominasi leher, dada dan perutnya.

"Please," suara lembut Jisoo membuat Hannah semakin mengeratkan pelukannya, "Don't cry. I can't fight them. I'm s-"

"SHUT THE FUCK UP!" Bentakkan Hannah membuat Jisoo kaget. Perempuan Los Angeles itu melepaskan pelukannya. Tangan lentiknya beralih memegang pipi Jisoo dan laki-laki itu merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya.

Hannah menciumnya.

Hanya bersentuhan bibir yang mereka lakukan. Hannah tidak mau bermacam-macam karena kondisi bibir berbentuk kucing itu yang memprihatinkan. Ditengah ciuman mereka terdengar gumaman 'Maaf.' berkali-kali. Ia tidak tahu sudah banyak air mata yang ia keluarkan di hari pertamanya bersekolah disini.

Salah satu dari mereka, Seokmin, mencoba bangkit dan memegang punggungnya yang kesakitan, "Wah, si jalang dan yang katanya pacarnya sedang berciuman? Ck, berani sekali melakukan itu di depan kita." Mereka menghentikan ciumannya dan beralih ke adik kelas mereka.

"STOP CALLING HIM A SLUT! YOU DON'T DESERVE HIM!" Hannah siap-siap memukul bocah kurang ajar itu tapi lehernya sudah dicekik oleh pria berhidung bangir itu dan dirinya didorong secara kasar ke tembok. Tatapan benci saling ditunjukan satu sama lain. Seokmin tersenyum licik melihat Hannah yang hampir kehabisan nafas karena cekikannya yang mengeras.

"Kau tahu. Aku sudah mencintai Jisoo sejak awal. Dan kau sudah mengambil apa yang harusnya menjadi milikku."

"He d-doesn't deserve a jerk like you."

"Ck, kamulah yang tidak pantas untuknya. Why? He wants someone that care of him, communicate a lot. Not you who only chat with him every 2 weeks? That's why once he said that he tired of this long distance fucking relationship."

"HE NEVER-" Hannah terbatuk-batuk, merasa jalur pernafasannya semakin menyempit karena cengkraman Seokmin di lehernya yang semakin kencang, "H-He never says bullshit- uh, about us."

"You better-"

TAK

Perlahan cengkraman Seokmin melemah. Lelaki itu pingsan di depannya dengan darah yang mengucur di kepalanya. Dilihatnya oleh Hannah siapa yang baru saja memukul adik kelasnya ini.

"Aku benci kalian. Saking bencinya, aku tidak mengerti sama sekali apa yang kalian bicarakan. Jadi aku putuskan untuk memukulnya saja untuk mengakhirinya," itu suara Jeonghan, dengan kayu pemukul kasti di tangannya.

Seseorang lainnya mencoba bertumpu kepada kedua kakinya dan menahan rasa sakit di kepalanya.

"Seharusnya aku juga memukul kaki mereka!" Jeonghan jeda sebentar sambil menatap Hannah, memastikan bahwa ia tidak salah bicara, "Hannah, you better save Jisoo now and bring him to student health unit. Uh Hannah, Inggrisku benar 'kan?"

Hannah tertawa perlahan dan mengangguk, "You're right. But how about you?"

"Oops girl, don't worry about me. Your man is very important." kata Jeonghan sambil berkedip.

Raut muka khawatir Hannah berubah menjadi senyuman, "Thanks Jeonghan, Joshua is so glad to have you."

"And you too."

Hannah berjalan cepat ke tempat yang sama dimana Jisoo terkulai lemas. Ia dengan perlahan mengancing baju seragamnya. Tapi apa ia harus mengurusi celana Jisoo juga? Tangannya dengan ragu memegang resleting celana tetapi ditahan oleh pemiliknya.

"Let me do it by myself," ujar Jisoo pelan, mencoba menaiki celananya sambil menahan rasa sakit. Jisoo mencoba mengurangi rasa khawatir Hannah dengan senyuman khasnya tapi sepertinya itu tidak mampu.

Selesai meresleting celananya, ia melihat tangan Hannah yang terulur. Oh, bidadari itu benar-benar ada ternyata, pikir Jisoo sambil tersenyum

Kecewa karena uluran tangannya tidak dibalas, Hannah berkata, "Hurry up, bro. Or I will let you walk by yourself."

"Haha, okay!"

Seokmin yang sebenarnya sudah tersadar daritadi perlahan berjalan menuju kedua pasangan itu. Ia mengambil sesuatu yang tajam dari kantongnya dan menyeringai.

Tapi-

"EH, KAMU MAU KEMANA?"

Leher Seokmin tiba-tiba ditarik oleh Jeonghan, sedangkan tangan satunya sedang menjambak rambut Seungcheol.

"Kita main-main dulu yuk," ucap Jeonghan sambil merangkul keduanya. Sedang mereka hanya menatap Jeonghan takut. Pria itu langsung mengambil pisau lipat dari tangan Seokmin dan membuangnya ke sembarang arah. "Eh, kalian pergi sana. Aku mau memberi ajaran ke mereka bahwa tidak baik menjadi orang ke tiga diantara dua orang yang sedang menjalin hubungan asmara. Aih, apa aku harus mencari kalian jodoh seperti Jisoo juga?"

"Jeonghan!" / "Jeonghan hyung!"

"Hannah-" Jisoo mencoba mendudukan dirinya tapi rasa perih dimana-mana membuatnya kembail terjatuh di tempat tidur. "Aw. Sweety, won't you help me to sit?"

Hannah hanya memandang Jisoo dengan tatapan kosong, seakan-akan mengabaikan suara pacarnya yang daritadi memanggil namanya, "Hannah? Hannah Middleton? Hey!"

Tepukan pelan di bahunya membuat Hannah tersentak kaget. Jisoo tertawa melihat tingkah lucu Hannah, "Oh my God, are you thinking of me right now?"

"Yes."

Jisoo menghentikan tawanya. Jawaban yang dikeluarkan dari mulut Hannah dengan serius membuatnya bingung. Memangnya apa yang ia pikirkan tentang dirinya sekarang?

"Uhm, am I a perfect girlfriend for you?"

Jisoo menyerengit heran. Ada apa sih dengan Hannah hari ini?

"I think not. Woah, I'm failed."

"Ha-"

"I'm sorry I couldn't protect you."

"I'm sorry I couldn't make you feel safe."

"I'm sorry I couldn't make you happy with me. Seokmin was right. You need someone who always by yourself, not in long distance relationship that we held right now."

"…Stop."

"And I think it's a good time to say it."

"What-"

"Joshua, let's break-"

Ucapan Hannah terhenti setelah Jisoo langsung memeluknya dengan kencang. Dia melihat Jisoo menggeleng sambil berkata tidak berkali-kali. Ah, apa ia merasa bersalah sekarang? Memutuskan Jisoo disaat dia sedang menderita begini. "Why you make me suffer more? DO YOU KNOW THAT I LOVE YOU SO MUCH WITH ALL OF MY HEART AND ALSO YOU ARE! WHY HANNAH? WHAT HAPPENED TO YOU?"

"Listen. Don't make yourself feel guilty for me."

"Don't make yourself feel wrong to love me."

"And don't make yourself feel 'I'm not a good girlfriend for Joshua.' IT'S SO WRONG!"

"Remember you also told me about in our 1st anniversary. People told that we are like water and oil. Can't interflow. They don't know about us."

"Joshua—"

"Please! Can you not easily give up for 'us'? Let's show them that we are perfect in our way. Not in the other way."

"I'm sorry. I'm such a fool," ucap Hannah sambil memegang lembut pipi Jisoo, "I love you, Hong Jisoo."

"Aww, it's your first time being sweet like t- OKAY DON'T PULL MY HAIR!" seru Jisoo yang tengah kesakitan karena rambutnya dijambak oleh Hannah.

"Susah sekali sih diajak romantis dikit," Hannah mendumel lalu berhenti menjambak rambut Jisoo, kasihan juga melihat pacarnya kesakitan setelah habis 'dihajar' seperti tadi.

"Wah, bahasa Korea mu meningkat! Hehe, I sarang you juga Hannah Middleton!" Jisoo mengacak-acak rambut Hannah dengan gemas, sementara yang diacak-acak rambutnya hanya melirik Jisoo sebal. Untung ganteng, masih sayang deh, pikir Hannah.

Jadi tampaknya ffn ama aku lagi ga bersahabat. soalnya kau bikin garis panjang kyk biasa malah gabisa/

ohiya, aku ijin tidak aktif untuk sementara waktu ya! pdhl baru masuk minggu lalu masa tugasnya udah seabrek begini. Dd tidak setuju pokoknya! /pundung

Mau review ah~

parkcheonsafujoshi: tenang mba tenang, kalo kau ikut juga silahkan/?

shfly9 - Kim: lho kamu malah semangat di bagian itunya

7D: aku tidak mau membencinya tapi aku kudu otokeh?!:'( -hjs

levieren225: Eh ada author seoksoo favoritku disini heheX"D Makasih atas supportnya!

p.s. kalo castnya Hannah diganti aku pada setuju kan? /kabur bawa Jisoo

p.s.s. ini udah mau kelar kok, maaf kalo ceritanya malah jd panjang begini:(

Regards,

username-ssi