Disclaimer, Title, Story, Warning bisa dilihat sendiri di chapter 1 dan chapter 2.

terima kasih atas review yang sudah diberikan! mulai dari chapter ini ke selanjutnya, balasannya bisa dilihat di inbox pm masing-masing. :)

spesial terima kasih kepada Aya Kohaku, Hana Arny, Yuuki Arakawa, Kie2Kie, dan kepada semua silent reader yang sudah berkenan membaca cerita ini.

saya benar-benar bersyukur dan berharap reviewnya terus datang dan cerita ini masih selalu terus dibaca. jangan tinggalkan saya di tengah cerita yaa~

saya bersyukur karena saya bisa mengubah imej Leon di awal cerita yang terkesan bodoh menjadi begitu kerennya. agak sulit memang, tapi yah, saya akan berusaha keras. karena biar bagaimana pun juga, dia termasuk orang penting yang ikut menambahkan bumbu-bumbu cerita.

sesuai janji, saya update bulan Juni. terus, kepada semua yang ikut SNMPTN, hari ini dan kemarin, saya doakan semoga semuanya bisa masuk ke pilihan pertamanya. ^^

oke. saya kebanyakan mengetik kata-kata tidak penting?

langsung saja.


Shiroi Yuki No Purinsesu wa.


Prima mengerjapkan matanya perlahan. Dia berusaha membuat matanya terbiasa dalam gelap supaya dia bisa siap pada saatnya sehingga dia bisa membawa Megurine Luka keluar dari gedung ini.

Awalnya, Prima sama sekali tidak mengerti kenapa Tonio, salah satu seniornya di sekolah pengawal bisa ada disana saat kejadian itu terjadi. Sekarang, Prima mengerti, Tonio telah diperintahkan oleh atasannya untuk membawa Megurine Luka.

Seiingat Prima, orang yang menjadi atasan dari Tonio adalah pemilik saham terbesar di perusahaan teknologi Ronec yang sekarang lebih memusatkan perhatiannya pada industri mainan. Prima tidak bisa menebak motifnya. Karena, setelah tiba di Ronec, Prima dan nona besarnya diperintahkan untuk berganti baju dan bermain bersama anak kecil.

Ya, anak kecil itulah pemilik saham terbesar Ronec.

"Ton-chan!" seru anak kecil itu dengan suaranya yang nyaring. "Kenapa lampunya mati?"

Setelah itu, Prima bisa mendengar suara pintu yang didobrak dengan sangat keras. Lalu, tangannya mendadak ditarik oleh seseorang.

Anak kecil tadi berteriak panik. "Ton! Ton-chan!"

Genggaman di tangan Prima makin keras. Itu genggaman laki-laki, dia menyadari. Bukan Meiko.

Mata Prima sudah terbiasa dalam gelap dan dia bisa melihat Tonio yang berjalan mendekatinya. Dengan sekali tendengan dari orang yang menarik tangan Prima, Tonio langsung terjengkang ke belakang.

"Ton-chan! Luka-chan tidak ada disini!"

Prima merasakan tarikan yang sangat kuat saat laki-laki itu memaksanya berlari keluar dari ruangan itu. Entah bagaimana caranya, orang tadi berhasil menuntunnya menuju ke lift.

Tepat saat mereka berada di depan lift, listrik menyala.

Pandangan Prima mengabur. Semuanya menjadi putih. Dia belum bisa melihat normal, tapi dia bisa mendengar suara pintu lift yang membuka. Laki-laki tadi mendorongnya masuk.

Suara tembakkan terdengar saat pintu lift mulai tertutup lalu semuanya hening. Mata hitam Prima bisa melihat noda darah di lantai lift. Laki-laki tadi terduduk di depannya sambil memegangi perutnya yang terluka.

"Kau baik-baik saja?" seru Prima khawatir.

"Kurasa aku memang sebaiknya mengenakan jaket anti peluru."

Prima tersenyum melihat sosok di depannya. Laki-laki berambut pirang dengan mata hijau terang yang indah sedang balas tersenyum di depannya.

"Dimana Ojou-sama?"

"Di perjalanan menuju lantai atas lewat lift yang lain..." bisik Leon. "Dia bersama sahabatku. Kurasa mereka akan baik-baik saja."

"Sebenarnya ini bukan penculikkan..."

"Apa?" Leon menengadahkan kepalanya dan dia langsung menahan tawa.

"Aku tahu... aku tahu... Tampak bodoh dengan pakaian seperti ini bukan?"

Prima menangkat tangannya seakan berusaha memamerkan pakaian yang dia kenakan, gaun panjang berenda berwarna putih dengan rok panjang dan sepatu kaca. Si anak kecil tadi yang memaksanya mengenakan gaun itu.

"Cosplay Cinderella."

"Jangan bercan..." Leon tahu dia tidak boleh tertawa. Rasa sakitnya makin terasa sekarang.

"Kami memang dibawa secara paksa, tapi mereka tidak bermaksud buruk."

Lift tiba-tiba berhenti. Leon menoleh ke penunjuk lantai dengan cepat. Mereka belum sampai di lantai teratas. Kode pengaman buatannya sudah dipecahkan dengan paksa.

Sesuai tebakannya, pintu lift terbuka.

Tonio berdiri di depan mereka berdua dengan napas tersenggal-senggal bersama beberapa orang lainnya di belakangnya.

Leon langsung melompat keluar dan mengalungkan leher Tonio dengan tangan kanannya. Tangan kirinya menempelkan pistol Meiko ke pelipis Tonio. Tentu saja beberapa orang lainnya juga balas menodongkan pistol ke arahnya.

"Coba tebak..." sahut Tonio pelan dan tenang. "Bagaimana caranya aku bisa mengejar lift kalian?"

Prima memutar bola matanya. "Siapa peduli! Salahmu karena tidak membiarkanku memberitahu Meiko."

Leon mengerenyitkan dahinya, merasa aneh atas percakapan antara laki-laki penculik itu dengan Prima. Mereka berdua seakan-akan sudah saling kenal. Atau jangan-jangan Prima juga bekerja sama dalam penculikan ini? Tidak! Itu tidak mungkin!

"Dia salah satu anggotamu?" Tonio melirik Leon di belakangnya. "Aku tidak mengenalnya dari data."

"Ya... anggota bayangan."

Tonio tersenyum. "Hei, Man, kurasa lebih baik kau melepaskan tanganmu sekarang sebelum aku benar-benar membantingmu!"

Leon justru malah membalas senyumannya. "Coba saja bodoh!"

Dan benar saja. Detik berikutnya, Tonio menarik tangan Leon dan membanting tubuhnya ke lantai gedung. Leon langsung mengerenyitkan dahinya menahan rasa sakit atas bantingan dan juga karena tembakan tadi.

"Dimana Megurine Luka-sama?" tanya Tonio datar. Dia tahu si pengawal bayangan itu pasti sudah terbiasa dengan bantingan seperti tadi. Orang itu adalah pengawal bayangan seorang Megurine Luka bukan?

"Suatu tempat di gedung ini..." bisik Leon pelan sambil menahan rasa sakitnya.

"Jangan bercanda denganku!" Tonio menarik kerah baju Leon. Orang yang ditarik justru nyengir semakin lebar.

"Sakit... bodoh!"

Tonio melepaskan Leon dan menujuk wajahnya dengan telunjuk kanannya. "Beritahu komplotanmu bahwa kami sama sekali tidak ingin membahayakan Megurine Luka-sama."

Prima menepuk pundak Leon. "Dia di pihak kita. Aku akan menjelaskan semuanya setelah ini. Lukamu harus diobati lebih dulu."

Meskipun Leon tidak mengerti sama sekali, dia mengangguk pelan. Setidaknya dia tahu, hal pertama yang harus dia lakukan adalah menghentikan pendarahannya.

白い雪のプリンセスは


白い雪のプリンセスは

Megurine Luka menatap Shion Kaito dengan ekspresi muka datar dan sorot mata yang tajam. Dia sedang mencoba membaca pikiran laki-laki yang berdiri menyandar pada dinding lift di depannya.

Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Salah satu yang terpenting adalah apa yang sedang dilakukan laki-laki tampan dengan iris mata yang sewarna dengan laut dalam? Apa yang mau dilakukannya? Apa tujuannya?

Jadi, pertanyaan itu langsung saja keluar dari bibir Luka yang merah. Meskipun bisa dibilang tidak lengkap seperti ucapan yang selalu keluar dari mulutnya. "Mau apa?"

"Hah?" Lagi-lagi Kaito dibuat bingung oleh tingkah si tuan putri. Setelah mereka berdua memasuki lift yang berjalan menuju lantai 60 gedung Ronec, tidak ada satupun suara yang terdengar kecuali deru mesin lift yang membawa mereka dengan kecepatan lima kilometer per jam melawan gaya gravitasi Bumi. Sekarang, ketika Luka akhirnya membuka mulutnya, pertanyaan yang tidak masuk akallah yang terdengar.

"Aku tanya sebenarnya kau mau apa?"

"Mau apa?" ulang Kaito. Dia sama sekali tidak mengerti akan ke arah mana pertanyaan Luka dan bagaimana caranya dia memberikan jawaban agar si tuan putri tsundere itu bisa mengerti. "Menolongmu... mungkin."

"Menolongku?" Alis Luka terangkat. "Dari apa?"

Kaito mencoba mencerna setiap patah kata yang diucapkan Luka. Berusaha mencari hubungan yang jelas serta mencoba melihat dari setiap sisi agar dia bisa mengerti apa maksud Luka yang sebenarnya. Akan tetapi, dia tetap tidak menemukan jawaban yang pas.

Lagipula, sebelum sampai ke tahap menjawab pertanyaan Luka, ada seharusnya yang ingin Kaito tanyakan, walaupun sebenarnya itu adalah pertanyaan yang tidak penting.

Jadi, tanpa mempedulikan pertanyaan Luka yang belum dijawabnya, Kaito bertanya pelan pada Luka. "Apa maksud dari pakaianmu itu?"

Luka menunduk ke bawah dan memperhatikan pakaiannya. Gaun berwarna merah muda dengan beberapa helaian pita merah di pinggang dan pundaknya dengan bagian bawah gaun yang mekar sepanjang lututnya serta sepasang sepatu berhak tinggi yang sewarna dengan gaunnya. Sebuah bandana berwarna merah yang sangat muda bertengger manis di atas helaian rambutnya. Sesungguhnya dia benar-benar terlihat bagaikan seorang putri dari kerajaan dongeng.

Tanpa senyuman manis di wajahnya yang cantik jelita tentu saja.

"Cosplay."

"Hah?"

"Coba tebak... aku jadi siapa?" tanya Luka dengan intonasi datar.

Kaito melirik display di lift. Mereka baru sampai di lantai 40. "Entahlah. Monster jahat dari kawah beracun mungkin?"

"Kau bodoh ya? Begini saja tidak mengerti!" Luka menaikkan dagunya. "Putri salju tahu!"

"Putri salju yang tertidur dengan tenang sambil menunggu pangerannya?" Berani taruhan kalau tidak akan ada satu pangeran pun di dunia ini yang bersedia menyelamatkan seorang tuan putri yang bahkan tidak pernah tersenyum untuk orang lain. Kaito merasa geli, tapi dia tahu Luka pasti akan marah kalau dia menunjukkan senyumnya.

"Apa yang lucu?"

Benar kan! Bahkan walaupun Kaito tidak tersenyum pun, Luka sudah menatapnya tajam duluan.

"Hei..." sahut Luka pelan. Matanya bertemu dengan mata Kaito. "Kau belum menjawab pertanyaanku..."

"Aa..."

Tepat di lantai 56, lift mereka mendadak berhenti. Kaito mulai merasakan firasat buruk. Pintu lift tiba-tiba berbunyi dan perlahan membuka. Kode Leon telah dipecahkan.

Tangan Kaito segera menarik tubuh Luka dan membawanya ke belakang dirinya. Apapun yang terjadi, Kaito harus melindungi Luka!

Gadis berambut pirang yang ditemuinya di Sudoh-Bucks berdiri tepat di hadapannya. Sendirian. Dia mengenakan jaket biru dan jeans ketat panjang serta sepatu bot hitam. Kaito sadar ada yang berbeda dari gadis itu. Matanya bukan ungu, tapi biru.

"Hai, Shion Kaito... benar tidak?" sahutnya pelan. Senyum manis terukir di wajahnya.

Kaito merasa kalau dia melawan gadis itu dia akan menang. Biar selemah apapun Kaito, dia masih laki-laki dan laki-laki pasti akan menang kalau melawan perempuan. Itu pasti bukan?

Tapi kakinya tidak mau bergerak. Dia masih menatap senyuman gadis itu yang perlahan berubah menjadi senyuman jahat. Ataukah ini semua hanya pandangan Kaito saja?

"Luka-sama..." bisik gadis itu. "Hime-sama sudah menunggu Anda."

Luka tidak bergerak. Dia justru semakin bersembunyi di balik tubuh Kaito. Kaito tahu dia tidak punya pilihan lain.

Tangan Kaito bergerak menarik tangan Luka dan dia langsung menerobos keluar, mendorong gadis tadi hingga jatuh.

Dia tidak perlu berpikir. Dia hanya perlu berlari.

Kaito berlari. Berlari sekuat yang dia bisa untuk menghindari gadis tadi. Dia menemukan tangga darurat dan langsung menarik Luka naik kesana. Mereka berlari di deretan tangga menuju lantai atas. Hanya tinggal empat lantai lagi dan mereka bisa kabur dari sana.

Luka bisa merasakan genggaman tangan yang mengenggam tangannya terasa dingin dan gemetar. Dia tahu dibalik sifat nekatnya, Kaito merasakan rasa takut yang luar biasa besarnya. Entah kenapa, Luka tiba-tiba bisa merasakan perasaan hangat dan lembut di hatinya.

Orang ini... kenapa dia begitu bersikeras untuk menyelamatkanku?

Suara derap langkah kaki masih mengiringi mereka berdua di tangga. Gadis tadi juga mengejar mereka dari tangga lalu kemudian Kaito tidak mendengar apa-apa lagi. Semuanya sunyi.

"Dimana... gadis... itu?"

Mata Luka menangkap butiran keringat di dahi Kaito. Dia bisa melihat dada Kaito yang naik turun mencoba mengambil napas sebanyak-banyaknya.

Mulut Luka membuka, tapi dia tidak sanggup mengatakan apapun. Kaito menatap wajahnya dengan bingung. "Kau... tidak... apa-apa?"

"Luka-sama!"

Suara itu langsung membuyarkan perhatian Kaito. Tanpa perlu melihat orang yang barusan mengeluarkan suara, Kaito langsung menarik tangan Luka dengan paksa. Si tuan putri tidak siap disuruh berlari lagi. Dia terjatuh ke lantai dengan tangan kanannya masih dipegang oleh Kaito.

Kaito menghela napas panjang. Dia tahu Luka belum siap berlari lagi. Walaupun kemampuannya di atas rata-rata, dengan pakaian menyusahkan seperti itu, wajar saja kalau Luka kesulitan.

Tangan Kaito menarik Luka berdiri dan menggendongnya di depan. Dia bisa merasakan tepukan pelan dari tangan Luka yang memprotes tindakannya, tapi Kaito tahu dia tidak punya pilihan lain.

"Aku akan menyelamatkanmu!" bisik Kaito. "Itu pasti!"

Lalu, berusaha untuk berlari setenang dan secepat mungkin, Kaito melaju menuju lantai 60, lantai teratas Ronec. Dia tahu kakinya sangat lelah. Tubuhnya tidak sanggup untuk dipaksa bekerja lagi. Dia tahu semua itu. Tapi dia tahu dia tidak bisa meninggalkan Luka! Dia tahu apapun yang terjadi dia harus menyelamatkan Luka!

Pintu menuju atap balkon gedung Ronec sudah di depan mata. Kaito langsung mendorongnya dan merasakan udara dinginnya malam.

Napasnya masih tersenggal-senggal. Keringat bercucuran di sekitar wajahnya. Matanya mencoba mencari sesuatu di kegelapan malam dan dia menemukannya. Sebuah helikopter terbang sekitar lima puluh meter di atas mereka. Lampunya yang berwarna kuning membuat pandangan Kaito mengabur.

Kaito menurunkan Luka dan berbisik pelan padanya, "Saat helikopter itu menurunkan talinya, kau harus segera naik kesana!"

Luka diam dan hanya menatap wajah Kaito. "Kenapa kau berusaha begitu keras untuk menyelamatkanku?"

"Kenapa kau harus menanyakan hal seperti itu di saat seperti ini sih?" Kaito menoleh ke belakang mereka. Kawanan penculik itu mungkin sebentar lagi sampai disini.

"Kau tidak perlu menyelamatkan aku!" seru Luka tiba-tiba.

"Apa maksudmu?"

"Aku akan baik-baik saja! Kau yang akan terluka kalau kau masih mencoba menyelamatkanku!"

Kaito benar-benar tidak punya ide kenapa Luka barusan berkata seperti itu. Apa maunya si putri ini sebenarnya?

"Aku akan baik-baik saja kali ini..." bisik Luka. Dia menatap tangannya yang masih digenggam oleh Kaito. "Ini bukan penculikkan... ini hanya..."

"Serahkan Luka-sama!"

Gerombolan si penculik serta si gadis bermata biru itu sudah ada disana. Semuanya terlihat mengerikan, Kaito menyadari. Mendadak dia merasa takut. Orang-orang itu punya senjata dan mereka bisa membunuhnya kapan saja untuk mendapatkan seorang Megurine Luka. Sekarang, Kaito mulai menyesali kenapa dia mau ikut Leon untuk menyelamatkan Luka.

"Dengar ya, kami bisa saja menembakmu sekarang! Jadi, lebih baik kau menyerah saja!"

"Yang benar saja!" Kaito menggeram pelan. Dia memegang tangan Luka erat-erat. "Aku pasti akan melindunginya! Aku tidak akan membiarkan penjahat seperti kalian melakukan hal buruk terhadapnya!"

"Hah?" Gadis berambut pirang itu menatap Kaito dengan ekspresi penuh keheranan. "Apa maksudmu dengan melakukan hal yang buruk? Bukankah justru kau yang akan melakukan tindakan buruk kepada Luka-sama?"

Akan tetapi, Kaito sama sekali tidak bisa mendengarnya saat deru baling-baling helikopter terdengar semakin keras. Lalu, tangga tali diturunkan dari atas.

"Naiklah duluan," bisik Kaito pelan sambil menatap kedua mata Luka. "Kau harus berada di tempat yang aman."

Luka mengerjapkan kedua matanya. "Kenapa... kau menolongku?"

"Apakah aku harus menjawabnya sekarang?" teriak Kaito frustasi. "Berhentilah bertanya dan naiklah ke atas!"

Gadis pirang tadi mengeluarkan pistolnya. "Jangan bergerak atau kau akan kutembak! Semua bersiap di posisi! Kita harus melindungi Luka-sama!"

Luka sudah memegang tangga tali di tangannya. Dia bisa melihat orang-orang yang berdiri di belakang Kaito tengah membidik laki-laki tampan itu. "Kau bodoh ya..."

Kaito hanya tersenyum.

Aah... Miku... aku ingin bertemu denganmu, Miku... Sebelum semuanya berakhir... setidaknya aku ingin... agar kau tahu... betapa aku...

Mata Kaito seketika melebar saat tiba-tiba sekelebat bayangan hadir di atas helikopter dengan menodongkan riffle ke kepala Luka. Otak Kaito mendadak berhenti berpikir.

"Luka!" teriak Kaito sekuat tenaga dan tangannya refleks menarik tangan gadis itu sehingga pegangangannya terlepas dari tali dan Kaito langsung memeluk Luka.

Mereka berdua bisa mendengar suara tembakan lalu segalanya menjadi putih.

Apa ini memang akhir dari segalanya?

白い雪のプリンセスは


Cerita ReiyKa setelah chapter ini selesai:

akhirnya sampai juga ditahap ini. aduh... akhirnya... akhirnya... akhirnya saya bisa membuat chapter yang panjang lagi.

setelah beberapa kali dibaca lagi, diketik ulang lagi, dicermati lagi, dibayangkan lagi setiap adegannya, setiap kata-katanya, setiap ekspresinya, akhirnya saya memutuskan begini saja lanjutan cerita penyelamatan Luka. sejujurnya, ini adalah chapter tersulit sepanjang cerita ini dibuat. saya banyak blank. makanya, ini adalah chapter yang paling banyak penggunaan tombol del di laptop saya.

agak terkesan cepat kah? yah, mungkin juga karena saya bingung total. saya sudah berusaha nyari referensi dari fic fandom lainnya, tapi tetap jadi begini. jadi, saya minta maaf yang sebesar-besarnya mengenai chapter ini.

pertanyaannya sekarang adalah apa yang akan terjadi pada dua tokoh utama kita? jawabannya ada di chapter 10 Shiroi Yuki No Purinsesu wa. ^^

oke. review diterima! sangat diterima! terima kasih kepada yang sudah membaca cerita ini dan memberikan review. jangan pernah bosan! jangan pernah bosan untuk selalu membaca cerita ini!

oke. sampai jumpa di chapter selanjutnya.