Suara langkah kaki seseorang menggema sepanjang koridor rumah sakit. Bunyi tap tap dengan tempo yang cepat itu terdengar begitu nyaring. Waktu sudah menunjukkan pukul 10, dan ini sudah bukan di luar jam besuk, jadi wajar saja tempat dengan warna putih yang mendominasi itu sangat sepi.
Setelah cukup lama berlari, akhirnya Akabane Karma menemukan sosok pemuda berambut hitam legam yang ia cari. Ia terengah-engah, dan napasnya semakin tidak beraturan ketika melihat Isogai Yuuma dengan wajah yang menyiratkan rasa kejut yang luar biasa.
"Isogai-kun, apa yang terjadi?" Karma mengguncang tubuh Isogai, namun adik kelasnya itu tetap diam tak bergeming. "Isogai-kun!"
"Maafkan aku..." lirihnya.
Karma menatap Isogai bingung. "Kenapa? Apa yang—"
Setetes cairan bening menetes dari pelupuk mata Isogai. Semakin lama semakin deras, bahkan Isogai menutup matanya pun, air mata tersebut tetap saja mengalir. Sesekali ia terisak, getaran tubuhnya semakin jelas terlihat.
Hal itu membuat si surai merah bingung. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
"Isogai-kun,"
"Maafkan aku..."
Lagi, Isogai berkata lirih untuk yang kedua kali. Karma masih saja gagal paham. Lama-lama ia kesal sendiri, sampai-sampai tangannya terangkat ke udara tanpa ia sadari.
.
.
.
Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei
Memory © shichigatsudesu
Chapter 9 : Isogai!
.
.
.
PLAK!
Satu tamparan mendarat dengan mulus di pipi kiri Isogai. Perlahan warna merah timbul, kemudian ia merasakan sedikit rasa panas. Manik madunya melebar. Siapa yang tidak terkejut jika mendapat serangan mendadak seperti itu?
Sedangkan Karma— si penampar, hanya menatap adik kelasnya itu dengan ekspresi datar, namun menyiratkan rasa kesal di sana. Dari situ, Isogai mulai menebak-nebak apa kesalahannya.
"Karma-senpai, mengapa—"
PLAK!
Sekarang pipi kanannya yang menjadi korban. Dengan segera kedua tangannya memegangi kulit pipi kemerahannya. Masih dengan rasa kejutnya, juga perasaan takut yang baru muncul, ia mencoba menatap mata tembaga milik Karma.
"Ano..."
"Jangan menangis, Isogai-kun!" seru Karma tiba-tiba. "Jangan menangis, sebelum kau mengatakan apa yang terjadi."
"Tapi—"
"Kau itu laki-laki, kan? Kau tidak malu jika menangis di hadapanku?" Karma membentak Isogai. Kemudian si merah mencengkeram kemeja putih yang membungkus tubuh adik kelasnya. "Apa yang terjadi pada Rio? Apa yang membuatmu menangis? Mengapa kau meminta maaf? Jelaskan padaku, Isogai-kun!"
Karma mencengkeram kerah baju Isogai semakin kencang, namun anak itu tidak protes atau memberontak. Tangan yang seharusnya digunakan untuk menepis kedua tangan Karma, kini ia gunakan untuk menghapus jejak sungai kecil di wajahnya. Setelah mendapat tamparan tadi, ia menyadari kesalahannya.
"Senpai, aku tak bermaksud begitu." Suaranya sedikit serak, efek dari tangisannya. "Maafkan aku, senpai. Aku bisa jelaskan."
"Baiklah." Karma membuang napas. Perlahan emosinya mulai menguap. "Kalau begitu, jelaskan."
"Tapi," potongnya. "Aku ingin menunggu kedua orang tuanya datang. Kasihan Nakamura-senpai kalau ditinggal sendirian."
Tiba-tiba Karma dan Isogai memusatkan atensi mereka pada pintu UGD yang terbuka. Seseorang berpenampilan rapi dengan warna putih mendominasi keluar dari ruangan tempat Rio berada. Karma melebarkan jarak dengan Isogai, menatap dokter tersebut dengan mata tembaganya. Manik madu Isogai pun terarahkan pada sang dokter.
"Bagaimana kondisinya, dokter?" tanya Karma cepat.
"Kondisinya baik-baik saja." Jawabnya. "Tapi, dia tidak akan segera sadar."
"Mengapa begitu?" Isogai yang sebelumnya bernegative thinking langsung panik.
"Mungkin Nakamura-san berusaha mengingat kembali ingatannya, sampai staminanya terkuras habis."
Isogai bernapas lega, begitu juga dengan Karma. Syukurlah kalau prasangka mereka tidak terjadi.
"Selain itu, Isogai-kun,"
Isogai mengerjapkan mata saat menatap dokter yang tadi memanggilnya. Rupanya pria itu masih mengingatnya.
"Ada yang ingin aku sampaikan, Isogai-kun." Ucap dokter. "Ikut aku."
Sekilas Isogai menatap Karma, memberikan isyarat bahwa ia akan segera kembali. Si surai merah hanya mengangguk. Dan ketika keduanya sudah menghilang, Karma segera masuk ke dalam ruang UGD.
Baru saja ia memegang kenop pintunya,
"Karma-kun."
Karma menoleh ke samping. Sepasang suami istri yang merupakan kedua orang tua Rio datang menghampirinya. Perasaan khawatir mereka begitu kentara di wajahnya, terutama Nyonya Nakamura.
"Karma-kun, Rio-chan dimana?" tanyanya.
"D-Di dalam, bibi." Karma menjawab sambil menunjuk ke arah pintu.
"Bagaimana kondisinya?" kini sang ayah yang bertanya.
"Kondisinya baik-baik saja, paman. Namun Rio belum sadar. Dokter bilang dia kelelahan."
Pasangan Nakamura itu menghembuskan napas lega. Meskipun begitu, rasa khawatir mereka masih tampak di wajah masing-masing.
"Paman, bibi, kita masuk ya?" ajak Karma. Ia memutar kenop pintu, kemudian melangkah masuk bersama dua orang lain di belakang. Suara langkah mereka halus sekali. Mungkin mereka tidak ingin membangunkan 'tuan putri' mereka.
.
.
.
Hari di musim semi ini begitu cerah. Mungkin Tuhan sengaja tidak memberikan hujan agar anak sekolahan bisa menikmati hari pertama di tahun pertama mereka sekolah dengan penuh kebahagiaan.
Isogai Yuuma ingat betul, udara yang berhembus waktu itu terasa sangat sejuk dan menenangkan hati. Ia menatap gedung SMA Kunugigaoka dengan senyum yang merekah. Bunga sakura yang beterbangan menambah kesan indah pada gedung elit itu, serta hari pertamanya menjadi siswa SMA. Sampai ia melangkah masuk melewati gerbang, senyum manis masih terpasang di wajah ikemennya.
"Sebentar lagi akan ada penampilan dari klub, kan?"
"Ya. Kita harus segera mencari kelas, baru kita pergi ke aula."
"Hei, kau ingin masuk ke klub mana?"
"Kurasa basket— eh, klub theater sepertinya menarik."
Sepanjang perjalanannya, mulai dari loker sepatu sampai kelas barunya, ia mendengar beberapa siswa asyik membicarakan soal acara nanti siang. Pukul 9 nanti, seluruh siswa akan melaksanakan upacara penerimaan di aula, setelahnya ada penampilan dari semua klub yang ada di SMA Kunugigaoka.
Dan saatnya telah tiba. Seluruh siswa diperkenankan untuk duduk dengan santai selama acara berlangsung. Meskipun merasa tidak tertarik, namun Isogai tetap mematuhi perintah. Dalam hati ia berdoa, semoga ia bisa bertahan sampai acara selesai.
Isogai bukanlah anak pemalas. Hal yang membuat ia tidak begitu tertarik dengn kegiatan klub adalah waktu luang yang tidak tersedia untuknya. Dengan jam pulang sekolah yang kelewat sore, serta kerja paruh waktu yang dilakoninya, jelas-jelas tak ada waktu luang untuknya melakukan aktivitas klub.
Jadi sekarang ia hanya menikmati penampilan yang digunakan para kakak kelasnya dengan antusias.
Seluruh penampilan tersebut terlihat begitu menakjubkan, namun tak ada satu pun klun yang mampu menarik atensi seorang Isogai Yuuma untuk bergabung. Tidak ada, sampai klub bela diri karate menampilkan aksinya.
Yang menjadi pusat perhatian manik madunya kali ini adalah entitas bersurai pirang sepunggung yang menampilkan keindahan jurus karate di atas panggung, sendirian. Wajah seriusnya, jurus yang ditampilkan dengan full power, suara napas yang terdengar, sukses memikat hati Isogai. Sedetik kemudian ia merasakan atensinya meningkat drastis.
Isogai ingin masuk klub bela diri karate. Ia terpikat dengan teknik bela diri itu. Ia terpikat dengan keindahan jurus itu. Ia terpikat dengan gadis itu.
Satu minggu pertama di masa SMA-nya berlalu, dan sekarang Isogai resmi menjadi anggota klub karate. Sebelum latihan di mulai, ia selalu memperhatikan kakak kelas surai pirang yang sedang asyik bergurau dengan senpai surai merah, biru muda dan hijau. Entah apa yang mereka bicarakan, namun sepertinya mengasyikkan.
"Senpai, boleh aku bertanya?"
Rio, Karma, Nagisa dan Kayano menoleh ke arah Isogai, orang yang barusan berbicara.
"Ada apa?"
"Setelah gerakan ini, selanjutnya gerakan apa?" Isogai memperagakan sebuah gerakan kata yang Rio tampilkan saat upacara penerimaan siswa baru pekan lalu. Meskipun sedikit, tapi ia masih mengingat gerakan tersebut.
Mendengar pertanyaan Isogai, Rio segera memasang kuda-kuda. Berhubung yang mengetahui gerakan itu hanya si pirang, sedangkan tiga yang lainya bukan merupakan 'anak kata'. Wajar saja mereka tidak tahu.
"Setelah itu pukulan, kemudian tangkis seperti ini. Ingat, kuda-kudanya harus seperti ini." Rio menepuk kedua pahanya, menarik manik madu Isogai untuk memperhatikan kakinya.
"Oh, begitu." Isogai membulatkan mulutnya, sepertinya mengerti.
"Rio, ajari aku kuda-kuda seperti itu."
"Eh? Masa kuda-kuda seperti ini saja kau tidak tahu, Karma-kun?"
Karma mengangkat bahunya. "Yaa, aku kan bukan anak kata, jadi aku tidak tahu kuda-kuda itu." Kemudian ia menoleh ke arah Nagisa dan Kayano, meminta persetujuan. "Ya, kan?"
"Hng." Keduanya mengangguk.
"Ya ampun..." Rio geleng-geleng kepala. Tak lama ia menoleh kembali ke arah Isogai. "Jadi begitu, Isogai-kun. Ada gerakan lain yang membingungkan tidak?"
"Tidak, senpai." Isogai menggeleng. "Terima kasih banyak."
Rio tersenyum ramah pada Isogai. Si gadis pirang kembali menimbrung bersama Karma, Nagisa dan Kayano setelah si surai berpucuk pergi meninggalkannya.
Setelah beberapa langkah, Isogai kembali menolehkan kepalanya, melihat kebersamaan empat kepala surai pelangi itu. Perlahan sebuah kurva terbentuk di wajahnya, apalagi saat Rio tertawa bersama mereka dengan lucunya.
Ada perasaan ingin mendekati Rio yang timbul di hati Isogai. Ia ingin mendekatinya, agar bisa menjalin hubungan sedekat Karma, Nagisa dan Kayano. Dan saat si ikemen mengetahui fakta soal Rio dan Karma berpacaran, hatinya begitu tertohok. Ia berniat membuang perasaannya, namun sialnya tidak bisa. Meski sebagian, tetapi hal itu masih membekas di hatinya.
Setidaknya Isogai mengalami itu sampai pertengahan maret di mana ia naik kelas.
Isogai mendapat kabar kalau kakak kelas pujaan hatinya dengan senpai surai merah itu putus. Di satu sisi ia merasa lega, namun setelah ia melihat Rio yang tampak lebih murung dari biasanya, Isogai merasa tidak senang. Karena itu, ia mulai mendekati Rio, berharap ia dapat mengembalikan keceriaan kakak kelas pirangnya ketika masih bersama teman-temannya di klub.
Perasaan yang dulu sempat hilang sebagian, kini kembali singgah di hatinya, bahkan dua kali lebih besar dari sebelumnya. Meskipun begitu, Isogai tetap merasa resah. Akankah Rio membalas perasaannya yang meletup-letup itu?
.
.
.
Karma menundukkan kepalanya, menatap lantai seputih susu dengan sendu. Ia membuang napas dengan berat, seolah dadanya tengah ditekan oleh sesuatu. Rasanya sesak, padahal ia hanya mendengarkan sebuah cerita berdurasi 15 menit.
"Kau sudah memiliki perasaan pada Rio sejak dulu, ya?" gumamnya lirih. Senyum miris mengembang kecil di wajahnya. "Lama sekali ternyata..."
Isogai tertawa pelan— kedengarannya begitu lirih. Tak sampai lima detik, Isogai kembali memasang wajah kusutnya.
"Karma-senpai," panggil Isogai. "Sampai kapan kau akan berada di sini?"
"Sepertinya aku menunggu Rio siuman dulu." Jawabnya. "Memangnya kenapa?"
"Begini. Barusan dokter bilang kalau kemungkinan Nakamura-senpai tidak akan sadar sampai besok."
Karma membelalak horor. "Kenapa?!"
"Seperti yang dokter bilang tadi. Nakamura-senpai terlalu memaksakan diri saat mencoba mengingat kembali ingatannya, sehingga staminanya terkuras habis. Makanya dia terlihat nyenyak sekali."
"Oh, begitu." Karma bernapas lega. Si surai merah pun bangkit dari duduknya. "Isogai-kun,"
"Ya, senpai?"
"Aku akan berpamitan dulu dengan orang tua Rio." Ucapnya. "Sepertinya aku pulang sekarang saja."
"Sebelum itu, senpai—"
Langkah Karma berhenti setelah melewati lima petak ubin. Kepala merahnya kembali menoleh ke arah si surai berpucuk.
"Ini hanya hipotesis dari dokter, karena dulu beliau pernah mendapatkan pasien dengan kondisi seperti Nakamura-senpai."
Atensi Karma mulai tertarik. "Apa itu?"
"Dokter memberitahuku soal kondisi Nakamura-senpai. Dia bilang setelah sadar nanti..." jeda sejenak. "—ada kemungkinan ingatannya akan kembali."
"Sungguh?!"
Isogai menundukkan kepalanya. "Mungkin," jawabnya. "Itu kan baru hipotesis."
"Tapi, kalau sampai ingatannya benar-benar kembali," Karma menggantungkan kalimatnya sejenak. "—apa yang akan kau lakukan?"
Isogai menaikkan alisnya. "Aku? Maksudmu?"
"Rio dan aku itu dekat. Kalau ingatan Rio sudah kembali, dia pasti akan mendekatiku seperti dulu, karena aku sahabatnya." Jelasnya. "Apa kau... akan merasa cemburu?"
Isogai terkejut mendengar kalimat terakhir Karma. Cemburu? Mengapa harus? Apa karena ia menyukai Rio? Tidak, ia baik-baik saja.
—Eh, tapi apa benar tidak apa-apa?
Isogai tertawa kecil secara tiba-tiba, sedangkan Karma menatap bingung adik kelasnya itu.
"Karma-senpai, dulu Nakamura-senpai bilang kalau dia masih mencintaimu. Meskipun kau bersikap 'buruk' padanya, dia akan tetap mencintaimu." Jelasnya.
Karma menatap iba Isogai. Saat ini si surai hitam itu memang terlihat cerah, namun ia tahu kalau dibalik wajahnya yang cerah ada hatinya yang diselimuti awan hitam. Bahkan dalam kalimat barusan pun, ia merasa keberatan saat mengucapkannya. Menurut pendengaran Karma sih begitu.
"Kalau benar begitu, kau tidak apa-apa, Isogai-kun?"
Isogai memberi jeda beberapa detik. Pertanyaan itu membuat dirinya merasa bingung.
"Ano, senpai," panggil Isogai. "Se-sebaiknya aku pulang sekarang, ini sudah larut malam, kasihan ibu dan adikku di rumah."
Ah, Isogai tidak tahu harus mengelak bagaimana. Untungnya, Karma tidak mempermasalahkan itu.
"Baiklah, ayo kita pulang."
.
.
.
Sudah kesekian kalinya Kayano Kaede melirik arlojinya, Shiota Nagisa menatap jam di pinggir jalan, Sugino Tomohito mengecek layar handphone-nya untuk melihat angka penunjuk waktu. Namun seseorang yang ditunggu belum datang juga, dan ini sudah molor 10 menit dari waktu janjian.
"Omatase..."
Karma mendengus kesal. Perlahan ia menolehkan kepala, kemudian menusuk mata seseorang dengan manik tembaganya.
"Dari mana saja kau, Asano-kun?" karma berkacak pinggang seraya menegur seorang Asano Gakushuu.
"Aku ketinggalan kereta."
Tiba-tiba Sugino tertawa. "Tidak biasanya kau seperti itu, Asano." Ucapnya. "Lagipula, mengapa kau meninggalkan semua fasilitas mewah yang diberikan ayahmu?"
Asano melirik tajam ke arah Sugino. "Mana mungkin aku membawa semua hartaku, bodoh. Aku tinggal di apartemen kecil sekarang."
"Salah sendiri, mengapa kau pakai acara ngambek segala setelah ujian waktu itu, Asano-kun?" kini giliran Kayano yang meyudutkan. "Kalau dulu kau tidak seperti itu, pasti kau akan sekolah di Kunugigaoka, dan kau bisa menggunakan fasilitas mewahmu itu."
"Kau tahu, aku tak ingin berurusan lagi dengan ayahku saat berada di sekolah. Aku ingin bebas, tidak dikekang dan ditekan seperti kemarin."
"Oh, jadi itu alasan kau sekolah di Kanagawa, senpai?"
Asano menoleh ke belakang. Ia terkejut saat melihat Isogai Yuuma dan Maehara Hiroto berada di baliknya tanpa ia sadari. Tak lama, si surai hitam tertawa.
"Anak kecil tidak usah ikut campur!" pandangan Asano berpaling. Ia merasakan wajahnya sedikit memanas karena malu.
"Kami sudah menyiapkan semuanya, senpai." Ucap Maehara. "Ayo kita masuk ke dalam."
.
Ketujuh remaja ini, dengan Kayano sebagai satu-satunya gadis di antara mereka, memulai perjalanan mereka menuju ruang inap Rio. Mereka tidak membiarkan suasana sunyi senyap mengiringi sepanjang lorong rumah sakit. Berbagai macam topik mereka bahas, mulai dari cerita humor yang mengocok perut, sampai cerita yang dapat menarik urat nadi.
Asano misalnya, yang berubah kesal karena Karma menceritakan soal dirinya yang menjadi boneka kepala sekolah SMP Kunugigaoka kepada dua kouhainya. Kemudian Asano merasa lelah, sampai akhirnya si pirang stroberi memilih melanjutkan sekolah di luar kekuasaan ayahnya, kawasan Kunugigaoka. Isogai da Maehara hanya tertawa— tentu saja dengan frekuensi rendah. Mereka tidak ingin mengganggu pasien-pasien di sepanjang ruangan ICU yang mereka lewati.
Atau Sugino misalnya, yang meminta rekomendasi puding dari Kayano. Tetapi gadis surai hijau itu malah memberikan penjelasan ngalor ngidulnya, yang sebenarnya Sugino sama sekali tidak memperdulikannya.
Akibatnya waktu berlalu semakin cepat, bahkan beberapa dari mereka tidak percaya kalau ruangan ICU tempat Rio dirawat sudah di depan mata.
Kenop pintu dibuka perlahan oleh Karma. Setelah mengucap salam, ia beserta enam lainnya yang mengekor di belakang melangkah memasuki ruangan bernuansa serba putih. Tak ada kesan khawatir pada raut wajah mereka, apalagi saat melihat Nakamura Rio sedang menikmati bubur berperisa miso dengan khidmat.
"Teman-teman..." Rio setengah terkejut saat melihat teman-temannya mulai mengerubunginya.
"Bagaimana keadaanmu, Rio?" tanya Karma.
"Sudah lebih baik. Semalaman aku tidur nyenyak sekali."
Rio meletakkan mangkuk berisi bubur yang sedari tadi ia pegang. Tak lama si surai pirang tersenyum, menandakan bahwa ia baik-baik saja.
"Mou, kau selalu saja membuat kami khawatir." Ucap Kayano sambil memeluk erat gadis di hadapannya. Hal itu membuat Rio merasa sesak. "Kami tidak ingin kau kenapa-napa, Rio-chan."
"Ka-Ka-Kaede-chan—" Rio berusaha memanggil si surai hijau. Suaranya yang tersendat tak dapat keluar dari tenggorokannya.
"Lepaskan dia, Kayano." Nagisa menarik Kayano, menjauhkannya dari pasien. Kayano Kaede memang selalu kelewat batas jika mengkhawatirkan seseorang, sehingga Nagisa yang peka harus segera bertindak jika rasa gregetnya yang over sudah kumat. Sedangkan yang ditarik malah mengomel tidak jelas.
"Oh ya, teman-teman," panggil Rio. "Aku ingin memberitahu sesuatu."
"Apa itu, Nakamura-san?" tanya Nagisa yang mewakili rasa penasaran remaja-remaja itu.
Rio menghembuskan napas pelan sebelum menjawab.
"Aku... sudah mengingat semuanya."
Karma, Isogai, Asano, Maehara, Nagisa, Kayano serta Sugino membelalakkan mata mereka serempak.
"Tidak mungkin..." Gumam Asano. "Bagaimana bisa?"
"Bukankah kau dan Karma-kun sudah menceritakannya waktu itu?" Rio bertanya balik. "Apa kau lupa?"
"Bukan— maksudku, kau benar-benar mengingatnya?"
"Ya, apa aku perlu membuktikannya?"
"Ahh, ano—"
"Syukurlah kalau kau memang sudah bisa mengingat ingatanmu." Ucapnya yang diakhiri dengan seulas senyum. Tak lama, ia melepas senyum itu. "Maafkan aku, senpai. Kau harus masuk rumah sakit karena aku. Seharusnya aku tidak mengatakan hal bodoh seperti itu."
...
"Kau mau memaafkanku kan, senpai?"
Rio mengerjapkan matanya dua kali seraya menatap si surai hitam.
"Senpai?"
Isogai menghela napas. Kepala yang semula menunduk ia angkat perlahan, manik madunya menatap wajah Rio. Ekspresinya... mengapa kakak kelas pirangnya itu menatap dirinya dengan wajah seperti itu? Rasanya seperti—
—ia tidak mengenalnya.
"Nakamura-senpai?"
Rio masih memasang ekspresi yang sama. Menyadari itu, semuanya ikut terkejut, terutama Karma yang merasakan suatu firasat buruk.
"K-K-Kau... siapa? Aku... tidak mengenalmu."
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N : Rencana saya namatin fic ini di akhir bulan pupus sudah. Jadwal TO dipercepat, mapelnya belum diumumin pula. Saya harap kalian gak kecewa. Maafkan akuuuu... *curhat* :''''''(((((
Next Chapter 10 : Flashback!
