Terinspirasi dari Voyeur by Nelliel-Ni dan Liberated by Shante Diamond.

(Both were KibaIno stories XD)

.

Disclaimer : I only own the story

.

Love and Hatred

.

Warning! : Mainstream Idea

.

.

.

Chapter 9

Osaka

Rumah Sakit Osaka Shakai

Hamparan biru langit mendominasi pandangan matanya. Terasa begitu luas, begitu tak terbatas dengan ornamen-ornamen berwarna putih menggumpal yang menggantung. Meski cahayanya tidak begitu kuat, tetapi sang surya masih mampu mengagih kehangatannya. Memproduksi panas yang dipancarkan melalui proses radiatif kemudian menyentuh lembut jaringan kulit manusia. Memicu kelenjar ekrin dan apokrin untuk meningkatkan produksi cairan asin bernama keringat.

"Hoaaamhhhhh..."

Sudah kesembilan kalinya pria berrambut kuning itu menguap. Kedua tangannya terentang ke atas. Perlahan menyalurkan oksigen ke seluruh bagian otot. Melakukan peningkatan oksigenisasi yang mengawali proses pertukaran udara di dalam setiap sel tubuhnya sekaligus menimbulkan efek rangsangan pada sistem kerja getah bening.

Raut wajah pria itu terlihat enggan, tidak jauh dari kata malas. Tubuhnya yang sudah cukup membaik terbaring begitu saja di atas sofa.

Jika boleh dikatakan, sebenarnya tidak alasan medis yang mendukung keberadaan pria itu di sini. Karena seluruh data hasil pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan laboratorium menjabarkan tentang tidak adanya permasalahan fatal pada tubuhnya. Wajar saja, meskipun dia lemah saat peristiwa pemukulan itu terjadi tetapi sistem defensi tubuhnya mampu membuatnya pulih dalam waktu singkat.

Lantas persoalan apa yang membuatnya bertahan di tempat ini? Bukan sebab dirinya tengah mencari tumpangan dan tampungan di rumah sakit ini. Satu ihwal yang menggubah keinginannya untuk lebih lama berada di tempat ini.

.

"Sepertinya aku punya sedikit clue tentang wanita itu."

Ibarat tengah membacakan baris demi baris buku dongeng masa kecil kepada Naruto, Karin mengungkapkan apa yang menjadi pangkal permasalahan dirinya mendadak bersikap layaknya detektif. Melakukan interogasi bak anggota inteligensi internasional dan mengorek keterangan dari seorang tersangka sekaligus informan.

Dan bagaikan seorang anak yang tengah mendengarkan cerita tentang Jack Frost melawan Boogey-man, ekspresi yang dihadirkan oleh wajah bergores itu berubah-ubah. Terkesiap, bahagia dan masygul menjadi koleksi kata yang mampu merepresentasikan emosi terdalam seorang Namikaze Naruto.

Pulsa demi pulsa denyutan nadinya merayap naik dan beriringan. Dada, pergelangan tangan dan pangkal leher yang bersatu padu menempa detakan kencang. Asing baginya. Menyakitkan namun begitu hangat dan terasa menyenangkan. Sama sekali berselisih jauh dengan apa yang timbul saat pertemuannya dengan Sakura dulu.

Kealpaan akan sesuatu yang dulu mencuat saat ini kembali mengembun. Mencipta senyar-senyar menyenangkan yang merambat bagai sulur tanaman. Hulu akalnya dengan sukarela menyajikan memori masa lampau. Yang pada beberapa waktu lalu enggan dirinya hiraukan.

Satu yang menjadi dekrit bagi jaringan otaknya saat ini. Bahwa Namikaze Naruto akan menemukan sang kekasih hati tidak peduli apa yang terjadi.

.

Dan kini rasa kantuk nan pasai membanjiri emosinya.

"Cih! Aku benar-benar tidak bisa berpikir jika terus seperti ini. Hm, Karin masih belum akan datang kemari. Mungkin lebih baik jika aku memanfaatkan waktu untuk mencari informasi."

Tubuhnya tertarik secara mendadak. Berefek sedikit pening di sekujur ruang kepala pun dia enyahkan. Tungkainya bergerak mengarungi senti demi senti lantai kamar rawat. Membebat tubuhnya dengan kaus abu-abu yang terlihat sesak namun seksi bagi netra kaum hawa, dan membungkusnya kembali dengan jaket jingga favoritnya.

Berniat menutupi identitasnya dari khalayak, Naruto menaikkan hoodie jaket hingga mengcover sempurna bagian atas tubuhnya. Mencetak jejak demi jejak langkah kedua kakinya. Selintas melirikkan iris safirnya menjelajah sepanjang koridor. Bibirnya yang kering sebab kurangnya pasokan cairan bergerak-gerak, mengalunkan melodi popsong kesukaannya.

Netra seindah hamparan lautan itu melebar tatkala menjumpai objek penglihatan yang memikat hatinya. Tidak terlalu jauh, berjarak sekitar enam meter di hadapannya, seorang anak mengenakan baju bermodel kodok yang kelihatannya dijahit dari material garmen yang cukup berkualitas dan nyaman untuk tubuh kecilnya. Terlalu hanyut dalam keriuhan bocah-bocah lain yang sebaya dengannya serta tumpukan beragam takara tomi yang digelar di atas tatami.

Rasa penasaran menguar begitu deras dan terpenetrasi merata ke sekujur tubuhnya. Degap dan degup jantung ibarat tabuhan drum yang bertemu dengan sticknya. Mungkin hanya sebuah kausalitas yang mana relung otaknya saat ini sedang dibanjiri oleh ucap dan kalimat sepupunya, Karin. Tetapi di sisi sebaliknya manik azure itu seakan mampu melihat dan menelusur untaian benang merah yang menyatukan dirinya dengan bocah itu.

"Hai..."

Kepala kecil itu mendongak. Menatap lurus dan penuh tanya pada sosok pria dewasa di hadapannya. Dua pasang iris dengan warna yang sama meski memiliki gradasi sedikit berbeda, saling menyelam, tenggelam dalam birunya samudera dan cerahnya langit musim panas.

Katakan Naruto orang yang bodoh, tapi yang jelas saat ini nalarnya tengah bekerja. Merangkai setiap matriks dan kode lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dimengerti oleh perasaannya. Mungkin insting atau naluri yang bergiat menimbulkan dinamika pada kedua tangannya yang kini tengah mengusap pelan goresan di pipi si bocah. Rasanya terlalu familiar, terlalu lasak untuk dikatakan sebagai sebuah kebetulan.

Namikaze Naruto merasa dirinya sedang menghadapi bayangan dirinya yang tercipta oleh sebuah cermin pengecil.

"Siapa namamu?"

Petuah dan wejangan yang pernah di berikan oleh sang Ibu seakan menguap begitu saja. Akal kecilnya sedang mengakumulasi percikan-percikan kecil yang berserakan dalam relung pikirnya.

Hyuuga Boruto merasa tidak ada keanehan pun keganjilan yang dipancarkan aura pria dewasa di depannya. Senyum lima jari kini mematri memunculkan eksistensi tonjolan di balik pipinya serta kelopak mata menyipit yang nyaris menutup keseluruhan rongga mata.

"Hyuuga Boruto."

'Aa... Jadi ini yang dikatakan oleh Karin kemarin?. Jadi ini anakku?'

"Paman siapa?"

"Nama paman adalah Naruto. Lihat, nama kita begitu mirip bukan?"

Bocah itu mengangguk antusias. Sorot mata kecilnya dipenuhi kebahagiaan yang begitu tersurat.

"Boruto sedang melakukan apa di sini?"

"Bermain."

Naruto memutar sendi lehernya, menelisik sekeliling ruang dengan penginderaannya.

"Boruto tidak bersama Kaa-chan?"

Sok tahu, seakan-akan Naruto mengerti segala tentang bocah itu. Mencoba peruntungan dengan belagak mengenal sang Ibu.

Naruto hanya mendapatkan gelengan kepala sebagai jawaban. Berikutnya bocah itu kembali asyik dengan kegiatannya bermain takara tomi. Naruto memutar akal dan mencipta muslihat demi bisa mengalihkan perhatian Boruto.

"Boruto, paman mau beli es krim. Boruto mau ikut?"

Boruto mendongakkan kepalanya, memendarkan binar penuh harap pada iris sewarna dengannya. Dan gerakan naik turun kepala dengan model rambut ahoge itu begitu laju mengurai ketegangan otot di sekitar bibir Naruto. Tersenyum lebar.

Keduanya terhanyut dalam konversasi ringan yang membuahkan kedekatan. Entah itu secara fisik ataupun batin. Bahkan Namikaze muda itu telah melupakan kapan terakhir kali dirinya terlibat dalam sebuah interaksi yang jauh dari kata membosankan. Bagai hembusan angin yang sayup-sayup membelai jaringan kulit berporinya. Cengkerama keduanya mengalir begitu saja.

"Boruto!"

Seruan sopran seorang wanita berhasil mengalihkan perhatiannya. Tubuhnya berbalik 180 derajat demi bisa melihat pemilik suara tersebut.

Prosesnya berjalan begitu cepat, hanya membutuhkan waktu sepersekian detik bagi kornea mata sang pria untuk menangkap cahaya. Lensa matanya seketika berhenti berakomodasi dan cahaya kini terfokus pada retina. Informasi yang kemudian disampaikan oleh saraf optik bintik kuning kepada otaknya.

'Bukankah dia?'

Ya. Naruto tidak melupakan sosok mungil yang kini tengah memeluk erat bocah kecil yang baru saja dibawanya. Wanita dengan postur tubuh yang nyaris sempurna dan kecantikan luar biasa sehingga julukan Yamato Nadeshiko begitu saja Naruto sematkan kepadanya-

-saat pertama kali Naruto melihatnya.

Ya. Malam itu ketika dirinya beritikad menemui Sakura. Meski hanya sekilas namun cukup terlihat bahwa Naruto sempat menyuarakan decakan kagum. Situasi yang dengan mudahnya dia abaikan hanya sebab sebuah obsesi tak berdasar.

"Aaa jadi kau ibu Boruto?"

Kerenyutan dan gelenyar tak mengenakkan mengaliri setiap partikel kecil dalam tubuh kekarnya. Temperatur yang mendadak naik dan turun dalam kurun waktu bersamaan. Merambat bagai aliran listrik tanpa henti. Degup dengan kekuatan tekan dan kecepatan di atas normal memunculkan efek menyakitkan. Seakan organ vital bernama jantung menggedor-gedor urat dadanya menuntut untuk dibebaskan.

Mata itu. Pucat dan kelam dalam sangkala yang sama. Memandang tajam pada mata birunya, yang saat ini justru terjatuh dalam pesona zat yang serupa.

Heck!

Saat bertemu Sakura pun dirinya tak pernah sekalipun merasa seperti ini. Tatapan yang dilayangkan sang wanita terasa menusuk menembus bola matanya. Terasa menguliti jaringan epidermis seluruh tubuhnya. Begitu panas dan menyakitkan.

"Hn."

Huh?

Kosakata macam apa itu? Apakah ada terma baru yang dikeluarkan pemerintah Jepang tanpa dirinya ketahui?

"Aaa jadi aku baru saja mengajak Boruto membeli es krim. Apa kau menginginkannya juga?"

Bisu.

Itu satu kata yang sempat terjejal dalam pikirannya. Melupakan fakta bahwa wanita dihadapannya baru saja membuatnya berasumsi tentang kosakata baru.

"Boruto, ayo pulang!"

Suara itu melantun dari bibir mungil sang wanita. Terlalu dingin untuk lebih dari sekedar tidak bersahabat.

Naruto memang bodoh. Tapi tidak seidiot itu untuk mengejawantahkan sebuah konteks yang penuh dengan keganjilan.

'Mungkinkah...'

Sebelum terlambat dan menambah kuantitas rasa penyesalan dalam relung hatinya, Naruto mengejar pasangan Ibu dan anak itu. Entah mengapa segala daya yang dia miliki seolah berdegradasi, menuai tenaga yang tidak begitu berarti. Tapi kembali dia mengabaikan perkara macam ini, kedua kaki kekarnya dikerahkan sebagai tumpuan bagi tubuhnya untuk berlari.

"Hei..."

Ditariknya lengan sang wanita dengan penuh kehati-hatian. Ibarat tubuh itu adalah sebuah manekin emas yang harus dijaga dengan sempurna.

"Boleh aku mengenalmu?"

Wanita itu mengeluarkan segenap usahanya untuk melepaskan diri dari tarikan Naruto. Seolah memahami maksud wanita itu, Naruto melemahkan tekanannya pada lengan yang terbuka itu meski enggan untuk melepaskannya.

"Lepaskan saya, Tuan."

Gelinjang tangan sang wanita tidak serta merta membuat Naruto melepaskan genggamannya. Sayatan demi sayatan dari sembilu seolah memberikan peran signifikan dalam mengoyak hatinya. Nuraninya memang bersimpati, tetapi lain dengan akalnya. Yang justru melemparkan tawa mengejek hingga merasuk ke seluruh indera pendengarannya.

"Kau Hyuuga Hinata?"

"Sepertinya Anda salah orang, Tuan."

Hinata terpaksa berbohong meski di depan anaknya sendiri. Berpura-pura terjebak dalam suatu keadaan yang bernama lupa sehingga dengan mudah melanggar pengetahuan tentang parenting yang selama ini diperolehnya dari kegiatan seminar.

"Tapi aku tidak merasa begitu."

Oh hell! Bisakah Kami-sama memerintahkan shinigami untuk mencabut nyawanya sekarang juga? Karena Hinata tidak akan mampu bertahan lama dalam jeda sedemikian sempit dengan pria ini.

"Hahhh... Terserah kau saja Tuan, tapi maaf aku tidak punya cukup waktu untuk meladeni igauanmu."

Mungkin jika saat ini Naruto sedang makan, dia akan merasakan lidahnya panas meski tidak menambahkan bubuk cabe di dalamnya. Awalnya seperti perasaan sakit dan perih mendera hatinya. Mengucurkan darah segar dalam imaginasinya.

Seuntai kalimat menjadi kesimpulan penutup dari data-data yang telah dia dapatkan. Bahwa wanita yang saat ini sedang berdiri dalam jarak pandang yang begitu dekat, adalah wanita yang selama ini berhasil mengobrak abrik emosi dan rasa seorang Namikaze Naruto. Wanita yang entah sejak kapan berhasil memenjarakan nalarnya dan menaja efek kekanakan bagi dirinya.

"Kau boleh mengataiku semaumu, Hinata. Tapi kumohon berikan aku kesempatan untuk mengenalmu."

Wanita itu berjalan dengan tergesa-gesa dan sedikit pincang. Tangannya menyeret Boruto yang masih kebingungan dihadapkan pada situasi semacam ini. Tentu saja, keadaan ini terlalu kompleks untuk otak suci seorang bocah berumur lima tahun.

Terbersit keinginan untuk menolak mengekori sang Ibu dan memilih tetap tinggal bersama paman yang baru saja dikenalnya. Tapi setiap inci dari wajah sang Ibu yang menghembuskan aura kemarahan membuatnya nyalinya menciut. Sungguh tidak pernah sekalipun bocah itu menemui Ibunya dalam kondisi seperti ini.

Bukan Naruto namanya jika dia dengan mudah melepaskan apa yang yang menjadi impiannya. Bahkan jika harus menukarnya dengan barang berharga, pria itu akan penuh suka cita menyanggupi. Kecuali nyawa tentunya.

Egois?

Tentu tidak. Dia hanya menjalankan logika dengan ketelitian yang teramat tinggi. Jika dia mati, lalu apa manfaat dari pencapaian impiannya? Bukankah itu semua akan menjadi sia-sia?

Naruto kembali mengerahkan upaya demi mendapatkan perhatian sang wanita. Ditariknya wanita itu dengan paksa dan ditenggelamkannya ke dalam dekapan. Menuai timbal balik berupa rontaan yang cukup kuat. Oh sepertinya Namikaze muda tidak mengetahui bahwa pada detik dia berani menciptakan masalah dengan Klan Hyuuga, detik itu juga dia harus bersiap menghidangkan nyawa.

Bugh!

Laksana de javu saat tubuh kekar itu terhempas untuk kesekian kalinya. Semenjak hari dimana dirinya mulai mengejar kembali obsesi yang disalah artikan sebagai impian. Namun sepertinya hari ini menjadi lebih parah karena kondisi tubuhnya yang baru saja pulih.

Tetesan darah yang cukup familiar bagi netranya menetes, membentuk genangan kecil cairan berwarna merah segar. Kepalanya seolah baru saja menerima hantaman berkali-kali dengan benda tumpul. Renyut menyakitkan yang mencengkeram setiap sisi dan meremas dengan kekuatan berkali lipat. Akumulasi dari lara yang menderanya selama beberapa hari terakhir.

Ugh sial!

"Jangan pernah menyentuh Hinata!"

Gelombang suara dengan frekuensi rendah dan nyaris tidak memiliki intonasi menyambangi telinganya. Naruto mendecih kasar. Mengekskresikan darah sekaligus ludah. Kemudian bangkit dan berbalik menghadap sang penantang.

Manik amethyst yang pertama kali berhasil mencumbu penglihatannya. Nyaris membuai dan menenggelamkannya dalam pesona. Karena mata itulah yang berhasil memendarkan sihir cinta pada menit yang lalu. Kemudian semua euforia itu luluh lantak tanpa sedikitpun meninggalkan residu, saat pupilnya mulai bekerja dan memetakan keseluruhan bentuk dari lawan bicaranya.

"Siapa kau?" pertanyaan yang seharusnya ditujukan kepadanya terlontar begitu saja dari bibirnya yang berdarah.

"Hyuuga Neji. Dan aku tidak punya urusan apapun denganmu, kecuali jika kau lancang menyentuh Hinata atau Boruto. Meskipun hanya ujung jarimu yang melakukannya."

"Kheh! Kau kira aku takut dengan gertakan sambal yang baru saja kau ucapkan?"

Neji yang sudah berbalik untuk pergi, menghentikan langkahnya.

Bugh! Bugh!

Pukulan demi pukulan dilayangkan oleh pria berrambut cokelat itu. Tanpa berusaha memberikan perlawanan sedikitpun, Naruto kembali bangkit saat tubuhnya menghantam lantai.

Bukan perihal dirinya yang tidak mampu menghalau serangan Neji, karena sejak kecil Naruto telah diberikan pelatihan bela diri oleh sang Ayah. Tetapi semua ini tentang sebuah jawaban atas soalan yang teramat menyesak di rongga otak. Naruto melihat melalui ekor matanya, Hinata yang tengah menutup mulut dengan kedua tangan. Kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling dimana eksistensi populasi manusia meningkat dan sedang menjadikan mereka bahan pertunjukan. Tanpa sedikitpun berusaha untuk menghentikan keributan yang terjadi. Sepertinya Naruto cukup mafhum dengan keadaan ini. Pikirannya dengan cepat memetik kesimpulan bahwa Hyuuga Neji adalah tipikal pria yang tidak patut diajak bermain-main.

Bugh!

Dan pria kuning itu kembali terhempas oleh kenyataan bernama kepalan tangan.

"Nii-san, hentikan!" meski terdengar lemah namun cukup kuat frekuensi suara yang diteriakkan Hinata, melantarkan senyuman penuh makna di bibir Naruto.

"Tinggalkan kami berdua menyelesaikan masalah secara jantan, Hinata."

"Bukan begitu cara untuk menyelesaikan masalah."

"Pergilah, ini urusanku dengannya. Kau tidak perlu ikut campur."

"Ini urusanku, Nii-san. Dan bukankah di sini justru kau yang ikut campur?"

Telak. Ibarat ujung tombak yang melesat jauh ke dalam sasarannya. Menggiring Neji pada suatu keputusan tepat, untuk meninggalkan Hinata bersama lelaki itu di sini. Tidak lupa tangan kekarnya mengangkat tubuh kecil Boruto dan membawanya pergi.

Permata safir Naruto mengekori gerak bayangan Neji yang perlahan menghilang, lenyap oleh jarak yang semakin memanjang. Pria itu berusaha untuk duduk walau harus tertatih-tatih.

Dan laju detak jantungnya kembali melejit, saat sentuhan halus permukaan kulit menyapa kulitnya yang kasar. Kembali gelombang kejut menjalar seiring getaran panas yang merambat hingga memalfungsikan jaringan terrumit dalam tubuh manusia.

Hinata membantunya bangun dan duduk bersandar pada tiang koridor. Sesimpel itu aktualita yang terpampang. Tapi imbasnya begitu meraja lela.

"Maafkan Nii-san. Terkadang dia memang bisa menjadi seperti itu."

Hinata menolak memenuhi hasrat mata Naruto untuk sekedar saling menatap. Iris opalnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengamati sekitarnya.

"Tidak apa-apa, Hinata. Demi ka-"

"Kita tidak ada urusan apapun Tuan. Dan aku membantumu saat ini hanya karena tidak tega melihatmu babak belur sementara kumpulan manusia di sana entah mengapa mendadak buta. Baiklah, kurasa aku bisa membantumu memanggil perawat untuk memberikan tindakan medis."

Hinata beranjak pergi, namun sebelum itu jemarinya tertahan jemari lain yang lebih besar. Helaan nafas berat meluncur tanpa aral dari mulutnya.

"Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu, Hinata."

Rentetan kata yang bermakna dalam bagi pria itu saat ini, tanpa menyadari bahwa suatu saat nanti untaian ucap itu akan menjadi bumerang untuknya.

"Bermimpilah sepuasmu, Tuan."

Indera penglihatannya menyusuri kemana sang wanita melangkah. Munafik jika Naruto mengatakan dia sama sekali tidak merasakan apapun. Faktanya hati yang sejak awal telah terkoyak kini seakan menjadi alas bagi taburan garam. Perih. Nyeri.

Bibirnya mengurva mencipta senyuman nyalang, setidaknya satu jawaban telah dia dapatkan. Bahwa Hinata masih memiliki kepedulian kepadanya.

Karena bagi Namikaze Naruto, itu saja cukup sebagai modal awal langkah perjuangannya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Apakah minna-san menyadari ada perubahan gaya pada tulisan Nai? Bagaimana pendapat Minna-san? Lebih baik yang sekarang atau yang biasanya Nai gunakan?

Di chapter ini kosakata Nai perluas, sedikit banyak menambah perbendaraan kata. Cukup jauh dari style Nai yang biasanya lugas. Dan yeah... Nai cukup memaksakan diri di sini XD

But it's OK, karena untuk mengubah dari tidak bisa menjadi bisa, atau dari bisa menjadi mahir, terkadang memang kita harus memaksakan diri. Jika hasil yang didapatkan lebih baik, itu tidak menjadi masalah bukan?

Silakan tuangkan opininya di kolom review atau PM ^^

Flame accepted within logic reasons.

Terimakasih ^^