Mischievous Kiss

.

MinYoon's FanFiction

Story © Jimsnoona, 2017

MinYoon and others Are belongs to God, Themselves.

Rated: T

Length: Chaptered

Warning:

Boyslove, OOC, typo(S)

Summary:

Min Yoongi bukan termasuk siswa pintar, ia jatuh cinta dengan sosok tampan dan jenius bernama Park Jimin. Namun sayang, cintanya tak terbalas karena Park Jimin tidak menyukai orang bodoh sepertinya.

.


"Jika aku pergi, apa kau akan merindukanku?" –Yoongi.

"Akhirnya, hidupku kembali seperti sebelumnya." –Jimin.


.

Di rumah keluarga Park, Heechul sudah membelikan seluruh keperluan basket untuk Yoongi. Semuanya bernuansa merah, termasuk baju basket beserta bolanya. Yoongi terharu, merasa sangat senang atas perhatian yang Heechul berikan.

"Jiminie, coba lihat! Yoongi terlihat manis, 'kan? Bagaimana menurutmu?" Tanya Heechul dengan sangat antusias.

Jimin menelisik Yoongi dari atas hingga bawah, keningnya berkerut saat menilai sosok di hadapannya. "Biasa saja, tidak ada spesialnya sama sekali." Ucapnya jutek sambil berlalu. Yoongi termangu mendengar jawaban Jimin barusan.

"Ah, jangan dengarkan dia, Yoongi sayang. Ini bagus! Suatu kemajuan kau bisa mengikuti klub yang sama dengan si manusia es itu. Bibi yakin kalian akan jatuh cinta." Heechul tersenyum licik begitu membayangkan hasil kedepannya

"Bibi, t-tidak semudah itu. Jimin sangat terkenal. Mungkin saja ia menyukai sosok yang cantik dan cerdas, tidak sepertiku."

"Tidak, Yoongi. Aku ibunya, yang secara naluriah memiliki ikatan batin dengan anakku sendiri. Bibi sangat yakin, secantik apapun sosok yang mendekatinya itu, hanya kau yang terbaik untuk Jimin. Aku tahu karena aku selalu melihatmu saat tinggal bersama."

"Tapi, Bi…"

"Tidak ada kata tapi. Mulai sekarang, pergilah ke fakultas teknik sesering mungkin dan hampiri dia. Kau harus memulai pendekatanmu dengan Jimin. Oke? Bibi akan mendukungmu!" kata Heechul menyemangati Yoongi.

Sementara di ruangan sebelah nampak Kangin yang tengah memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Wajahnya lesu dan sedih melihat Yoongi yang seringkali mengalami penolakan dari Jimin. Malam itu ia habiskan untuk berpikir mengenai masa depan anaknya agar tidak tersakiti lebih jauh.

"Yoongi-ya, bagaimana jika kita pindah dan lupakan Jimin?" bisik Kangin dengan miris.

.

Mischievous Kiss

.

Sabtu pagi di Lapangan basket, untuk mengetahui kemampuan para anggota baru maka diadakan tes sebelum memulai berlatih. Yoongi panik begitu mendengarnya, karena ia sama sekali tidak bisa bermain basket. Dalam tes tersebut para anggota baru akan latihan melawan Kim Myungsoo. Untuk sekilas, Yoongi sempat meremehkan sosok Myungsoo, akan tetapi dari sebelahnya Jimin menyahut kalau saja Yoongi tidak tahu apa-apa tentang Myungsoo.

Ternyata benar, saat Myungsoo mulai memegang bola basket maka dia berubah, seperti ada aura kekuatan yang begitu pekat. Pesonanya terlihat jelas dengan kedua matanya yang menyala. Myungsoo berubah menjadi sosok yang garang. Satu per satu para anggota baru yang dipanggil Myungsoo sama sekali tidak bisa mengalahkannya. Yoongi menatap takjub cara bermain Myungsoo yang amat beringas seperti orang kesetanan.

"Dia disebut setan gila jika sudah memegang bola basket. Sikapnya akan berubah total, biasanya dia lembut dan memang sudah seperti itu saat ia masih sekolah dulu." Terang Jimin membuat Yoongi semakin takut.

Sekarang giliran Sungyeol, dia mampu mengimbangi permainan Myungsoo. Sungyeol berhasil merebut bola basket dari Myungsoo kemudian mendribblenya dengan lincah dan membawanya menuju ring basket. Hal tersebut membuat Yoongi terkagum begitu melihatnya.

"Sungyeol berhasil meraih lima besar bagian tunggal putra saat dia masih SMA. Dan dia cukup cerdas untuk masuk ke universitas manapun yang dia inginkan." Kata Jimin yang sengaja menceritakannya kepada Yoongi.

"Bagaimana kau tahu?" Tanya Yoongi penasaran.

"Dia pernah meminta saranku saat ia memilih kampus, aku bertemu dengannya pada saat turnamen nasional di tahun pertama SMA."

'Jimin tidak mengenalku di kelas satu SMA. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Sedangkan dengan Sungyeol, itu artinya hubungan antara Jimin dan Sungyeol sudah lebih lama dariku. Sepertinya aku akan kalah.'

Tak lama dari itu, Myungsoo memanggil Jimin. Sudah sangat lama ia menantikan momen ini terjadi. Tapi ternyata setelah beberapa kali permainan berlangsung Jimin mampu mengalahkan sosok Myungsoo. Hal tersebut jelas saja membuat Yoongi menatapnya penuh kagum oleh kehebatan Jimin.

Setelah dirasa cukup, Myungsoo meminta Jimin untuk keluar dari lapangan. Tetapi sepertinya Myungsoo tidak mau menerima kekalahannya, kemudian ia meminta untuk bermain sekali lagi. Nampak wajah Myungsoo yang begitu kesal, para anggota baru itu menatap ngeri, mereka merasa kasihan pada orang berikutnya yang akan dipanggil.

"Min Yoongi! kemari!" teriak Myungsoo dengan nada galak.

Kedua mata Yoongi membeliak nyaris keluar. Hatinya miris begitu membayangkan nasib jeleknya nanti. Berbekal keberanian yang kemampuan yang sangat diragukan, Yoongi memulai langkahnya memasuki lapangan basket. Dalam hati ia menjerit pilu, meminta bantuan kepada Jimin seakan percuma.

"Jangan berjalan seperti kura-kura dan siput! Cepat!" teriak Myungsoo lagi melampiaskan amarahnya akibat kekalahannya dengan Jimin barusan.

Yoongi segera berlari ke lapangan. Bibirnya bergetar saat menjelaskan perihal dirinya yang sama sekali tidak bisa bermain basket. Tetapi Myungsoo tidak mau mendengar alasan apapun, sehingga Yoongi tidak bisa lari kemana-mana. Myungsoo mulai menggiring bola basket tersebut, menghampiri Yoongi agar merebut bola darinya. Tetapi sikap Yoongi yang pasif justru membuat Myungsoo bertambah geram.

'Duagh!'

Hantaman itu jelas berbunyi. Sosok Yoongi tumbang di lapangan detik itu juga. Semua mata yang melihat kejadian barusan mendadak ricuh. Bola basket yang sempat menghantam kepala Yoongi telah menggelinding kian jauh dari lapangan.

"Eh? Min Yoongi! Astaga, kau bisa mendengarku?" Myungsoo mulai tersadar dan kembali seperti semula. Menghampiri sosok Yoongi yang terkapar lalu menepuk pelan kedua pipi gembilnya.

"S-sakit…" selepas mengatakan itu sosok Yoongi pingsan, kesadarannya hilang dan beberapa orang membawanya ke Unit kesehatan.

"Hahahaha!" Jimin dan Sungyeol tak sanggup menahan tawanya masing-masing. Mereka sangat menikmati kejadian penting barusan.

"Ya ampun beraninya dia memasuki klub yang salah. Hahaha." Sungyeol melepas tawanya dengan riang, membuat wajah cantiknya terlihat sangat bersinar.

Jimin terkikik geli. Yoongi selalu mampu membuatnya tertawa dalam dosis berlebih. "Astaga perutku sakit. Hahaha."

Sungyeol terdiam, menikmati momen dimana seorang Park Jimin melepaskan tawanya penuh dengan senyuman. Wajah tampannya sangat memukau bagi Sungyeol, membuat siapapun terlena.

.

Mischievous Kiss

.

Sesampainya di rumah, Heechul terkejut bukan main dengan penampilan Yoongi yang cukup mengenaskan. Terdapat memar dengan warna biru keunguan yang nampak di dahinya. Heechul memandang prihatin atas kejadian yang menimpa Yoongi.

"Yoongi-ya, sebaiknya kau tidak usah ikut latihan."

"Tidak apa-apa, Bi. Anggota baru tidak boleh melewatkan latihan klub." Ucap Yoongi sembari meyakinkan Heechul jika ia tidak apa-apa dan mungkin akan terbiasa.

Kangin yang duduk tak jauh dari sana juga sama khawatirnya. Kembali sosok paruh baya itu terlihat berpikir melihat apa yang dialami Yoongi barusan.

Sempat sebelum ke rumah keluarga Park, Kangin menghampiri Namjoon, memastikan jika anak buahnya itu bekerja di kampus Yoongi. Dengan perasaan cemas ia menanyakan perihal Yoongi kepada Namjoon. Mulai dari bagaimana Yoongi di kampus, apakah Yoongi sudah memiliki kekasih, sampai pada akhirnya Kangin menanyakan bagaimana hubungan Yoongi dan Jimin. Namja paruh baya itu kini menyadari kalau anak kesayangannya tengah mengalami cinta bertepuk sebelah tangan.

Kangin teringat perkataan Namjoon padanya tadi siang, "Jangan khawatir, Boss. Aku akan melindungi Yoongi dari si brengsek itu. Jarak mereka lebih jauh dari saat mereka di SMA karena kelas mereka berada di gedung yang berbeda." Ucap Namjoon senang.

.

Mischievous Kiss

.

Paginya, Hoseok dan Woozi menatap prihatin lebam yang ada pada kening Yoongi. Tetapi melihat sikap Yoongi yang masih saja antusias membuat mereka justru merasa miris.

"Kudengar klub basket Bangtan University sangat kuat. Karena sulit, maka banyak anggota baru yang keluar. Setiap tahunnya hanya sedikit yang bertahan." Ungkap Hoseok memulai perbincangan.

"Kau yakin akan bertahan, Yoongi-ya?"

"Aku bisa. Aku akan melakukannya untuk mendekati Jimin." jawab Yoongi penuh semangat.

"Berhenti saja." Potong Namjoon yang muncul secara tiba-tiba.

"Kalian tenang saja, aku bisa melakukan ini semua."

"Yoongi-ya, kau ditunggu ayahmu di Restorannya. Aku hanya menyampaikan pesan yang ayahmu titipkan."

"Arraseo. Gomawo, Namjoon-ah. Sepertinya sebentar lagi latihan akan segera dimulai, sampai jumpa nanti teman-teman."

Yoongi melesat pergi meninggalkan teman-temannya. Tujuan utamanya kali ini adalah lapangan basket tentu saja. Kakinya melangkah lincah, senyum di bibirnya mengembang saat pikirannya melayang membayangkan indahnya hari-hari di klub basketnya bersama Jimin.

Tak lama dari itu, Yoongi ikut bergabung bersama para anggota baru lainnya. Dia mengikuti latihan fisik yang cukup melelahkan. Myungsoo bilang, untuk bisa bermain basket mereka harus melakukan pemanasan terlebih dahulu.

'Kemana Jimin? Sudah setengah jam lebih kenapa dia belum datang juga?' Yoongi membatin dalam hati sembari mencari sosok Jimin di sekeliling lapangan basket.

Tiba-tiba saja ada sebuah bola basket yang memantul dan berjalan ke arah Yoongi. Ternyata Sungyeol yang tak sengaja melakukan dribblenya, dia meminta maaf dan menyuruh Yoongi untuk melemparkan bolanya kembali.

"Eh? Kenapa kau tidak mengikuti latihan otot, kau juga anggota baru 'kan?" Tanya Yoongi baik-baik.

"Oh, kau tidak tahu ya? Prestasi itu jauh lebih penting bagi klub basket Bangtan University. Kalau kau lulus dalam tes kemarin, meskipun kau adalah anggota baru, kau diizinkan untuk bermain basket tanpa perlu melakukan latihan fisik tidak jelas seperti yang kau lakukan itu." Terang Sungyeol panjang lebar.

"Benarkah? Itu berarti Jimin…"

"Pengecualian untuk Jimin. Dia bergabung di klub basket dalam dua kondisi, dia bisa main kalau dia ingin dan saat di pertandingan resmi."

"APA?!" Yoongi melotot horror. Jadi percuma saja dirinya ikut bergabung dalam klub basket jika intensitas pertemuannya dengan Jimin saja sangat diragukan.

"Kudengar, kau tinggal di rumah Jimin. Tapi kau bahkan tidak tahu apa-apa soal dia. Itu berarti hubunganmu dengannya hanya sebatas itu ya. Hahaha, baguslah." Kata Sungyeol sambil berlalu.

Yoongi bersungut dalam hati. Sepertinya ia harus berpikir dua kali untuk bergabung lebih jauh dengan klub basket yang kini justru menjadi jebakan untuknya.

.

Mischievous Kiss

.

Yoongi tiba di Restoran ayahnya. Kangin mulai berbasa-basi menanyakan kondisi Yoongi yang terlihat aneh ketika berjalan. Yoongi menjawab kalau ia merasa tubuhnya sedang pegal-pegal dan menceritakan kepada ayahnya seputar kegiatan di kampusnya, berharap agar ayahnya tidak mencemaskan dirinya.

"Kau bahkan tidak pandai olahraga basket, Appa tahu kau sama sekali tidak tertarik main basket. Kau melakukannya untuk Jimin?"

"Kenapa tiba-tiba Appa bertanya seperti itu?"

"Dengarkan aku, Yoongi-ya. Hampir setahun semenjak kita pindah ke keluarga Park. Dan aku sudah memikirkannya matang-matang. Seharusnya kita tidak boleh bergantung terus-menerus pada kemurahan hati mereka." Kangin mengambil napasnya dalam sebelum melanjutkan ucapannya,

"Aku tahu Paman Hankyung dan Bibi Heechul memperlakukanmu dengan baik. Sejujurnya, aku berharap kau dan Jimin akan bersama ke depannya…"

"Appa-"

"Tapi melihat kalian sejauh ini, Jimin sepertinya sama sekali tidak tertarik denganmu. Bagaimana… bagaimana jika kita kembali ke kehidupan kita sendiri. Hanya kita berdua, Appa dan kau, Yoongi-ya. Tentu saja aku menghargai perasaanmu, tetapi Appa juga ingin kau mempertimbangkan perasaanku juga. Aku… aku tidak suka kau terluka, Yoongi."

Keduanya terdiam sejenak. Hanyut dalam pikiran masing-masing. Yoongi menatap ayahnya yang tengah menampilkan raut wajah terluka. Merasa sesak mengingat sosok ayahnya yang begitu menyayanginya.

"Appa…"

"Kau harus memberikan keputusanmu, Yoongi."

"B-baiklah… akan kupikirkan terlebih dahulu."

Yoongi berjalan gontai. Wajahnya lesu begitu mengingat pembicaraan ayahnya barusan. Dalam perjalanan pulang Yoongi tampak berpikir menimbang-nimbang keputusan apa yang akan ia ambil nantinya.

'Tapi kalau aku pindah dari rumah Jimin, maka tidak akan ada lagi penghubung antara Jimin dan aku.' pikirnya merasa gundah.

Yoongi melanjutkan perjalanannya. Begitu ia menatap langit, tepat saat itu juga ia melihat sebuah bintang jatuh, dengan segera Yoongi membuat permohonan di dalam hatinya.

"Kau menatap apa?"

"Jimin?! Kau darimana saja?" Tanya Yoongi setelah dirinya tersadar dengan sosok rupawan yang tengah menatapnya intens.

"Aku tidak perlu memberitahu kemana aku pergi. Kau sendiri darimana? Ini sudah larut malam." Jimin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Udara dingin di luar membuatnya sedikit menggigil.

"Aku baru saja ke Restoran ayahku."

"Kau kesana untuk melihat orang itu?"

"Orang itu, maksudmu?"

"Lupakan." Jimin memutuskan kontak matanya begitu saja melihat sosok Yoongi yang kebingungan.

Jimin mengutuk dalam hati. Untung saja Yoongi tidak mengerti apa yang dimaksudnya.

"Appa bilang jika ia menemukan tempat yang bagus untuk tempat tinggal kami berdua."

Jimin menghentikan langkahnya, "Apa?" tanyanya kaget.

"Rumah baru kami. Appa akan menandatangani sewanya…"

"Jadi kau mau pindah?" sahut Jimin, matanya menerawang namun sedikit terlihat kesedihan yang terpancar.

"Jika aku pergi, apa kau akan merindukanku?" Yoongi menatap Jimin penuh harap.

Mungkin saja… Mungkin saja jika sosok Jimin yang menahannya ia akan lebih mempertimbangkan keputusannya untuk tetap tinggal di rumah keluarga Park.

Keduanya sama-sama terdiam. Bertatapan satu sama lain menyelami dan memahami sorot mata yang terpancar masing-masing. Beberapa detik berikutnya Jimin menghela napasnya dalam, memutuskan kontak mata diantara mereka,

"Akhirnya, hidupku kembali seperti sebelumnya." Ucapnya dingin sembari berlalu meninggalkan Yoongi.

Yoongi termangu. Merasakan sesak di dalam dadanya semakin meningkat, tangannya secara spontan meremas bagian dadanya yang sakit. Kedua matanya terlihat lebih sayu melihat kepergian Jimin yang semakin menjauh. Napasnya memburu, membaur bersama udara malam yang kian dingin.

"Park Jimin… Kau ingin aku benar-benar melupakanmu, ya?" Tanya Yoongi seorang diri diikuti tangisan pilu.

.

.

Tobecontinue.

.

a/n: HAI SEMUANYA! Apa kabar? Sehat-sehat aja kan yah? Ya ampun maapkeun Jims yang molor terlalu lama dan menelantarkan FF ini. Maaaaaap beribu maap. Lagi pundung sama proposal skripsweet. Semoga semuanya sehat-sehat terus ya. Terima kasih yang udah mau baca sampai di sini. Maap buat author amatiran seperti Jims ini yang masih banyak kekurangan. Makasih yang selama ini masih mau kasih reviewnya, maap kalo updatenya lama buangeeet. Salam cincaaa. Hehehew.

Jimsnoona.