Bebas

Megane Uzumaki

NARUTO MASASHI KISHIMOTO

RATE : M (Language)

WARNING : FEMALE NARUTO,BAHASA KASAR, BASED ON TRUE STORY (NOT ALL), NO LEMON, GAJENESS, DE EL EL.

PAIR : SasuFemNaru & GaaFemNaru

NOTE : Anggap Itachi itu bukan kakak dari Sasuke (demi kepentingan cerita) dan Naruko itu adik dari Naruto yang masih berusia sepuluh tahun.

Kau mengurungku, tali yang kau ikatkan di leherku semakin kencang hingga membuatku sulit bernafas, kaki dan tanganku juga telah kau pasung dengan janji kosongmu, hatiku sudah lama kau curi dan tidak pernah kau kembalikan lagi. Ne, kalau kau tidak pernah mencintaiku bisa kau bebaskan aku sekarang, kalau kau memang tidak tertarik dengan perasaanku bisa kau lepaskan aku. Asal kau tahu, aku juga berhak bahagia.

This fict inspired by Young Pal /용 팔 이 (Korean Drama)

Don't like Don't Read

No flame please

.

.

.

.

.

Happy reading !

Chapter 9 : Amerika

Setelah lama tinggal di rumah sakit, sekarang akhirnya Naruto bisa keluar dari rumah sakit. Iruka selaku sekretaris pribadinya tampak melindungi tubuh ringkih Naruto dari ratusan wartawan yang mengerubuninya. Perlu diketahui, Naruto adalah salah satu pebisnis muda yang mampu menarik perhatian para pencari berita, jadi tidak heran jika banyak orang yang penasaran dengan apa yang terjedi pada Naruto sekarang. Untunglah Naruto bisa masuk kedalam mobilnya dengan selamat. Lalu mobil hitamnya melaju kencang meninggalkan rumah sakit. Meninggalkan seorang laki-laki berseragam polisi yang diam-diam melihat kepergian Naruto dari nbalik tembok rumah sakit. Dia tersenyum lega saat melihat Naruto tidak lagi harus tinggal dirumah sakit. Dia tahu, dia tidak lagi memiliki hak untuk bisa membuat Naruto menyukainya lagi, jangankan menyukai, bahkan Naruto sekarang sudah melupakan tentangnya. Ya, gadis pirang itu tidak lagi bisa mengingat tentangnya. Dia adalah seseorang yang telah dilupakan.

"Oi, Sasuke Kita juga harus segera kembali !"

Sasuke menoleh, dilihatnya Shikamaru yang memanggilnya dari dalam mobil. Sasuke tanpa membalas ajakan Shikamaru langsung masuk kedalam mobil dan merekapun pergi meninggalkan rumah sakit.

Dijalan, Naruto tampak sibuk memeriksa jadwal kegiatannya yang sudah disusun jauh-jauh hari oleh Iruka. Kedua safirnya tampak membaca setiap barisan kata yang tersusun rapi di buku agenda yang ada di dalam genggaman tangannya. Pada barisan awal dia hanya mengangguk mengerti, namun saat dia membaca barisan terakhir kerutan di dahinya semakin ketara terlihat.

"Doshita ?"

Tanya Iruka yang tidak sengaja melihat kerutan di dahi Naruto , dia masih sibuk menyetir mobil yang membawa mereka berdua, hanya sesekali dia melihat bagaimana ekspresi wajah Naruto dari lirikan matanya. Naruto langsung menghembuskan nafas beratnya lalu tubuhnya dia hempaskan ke sandaran kursi. Diliriknya sosok Iruka yang masih sibuk dengan jalanan yang ada di depannya, memastikan agar mobil mereka bisa melaju dengan selamat sampai tujuan.

"Kenapa harus Amerika ?"

Keluhan itu keluar begitu saja dari bibir Naruto, Iruka terkekeh mendengar keluhan Naruto yang dianggapnya terlalu kekanakan. Tapi di dalam hati dia juga merasa kasihan dengan Naruto yang baru saja keluar dari rumah sakit harus langsung melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Belum lagi sepertinya dia tidak bisa menemani kepergian Naruto, karena baru saja dia menerima kabar dari keluarganya bahwa jii-sannya sedang sakit keras dan memintanya untuk segera pulang. Sayang Iruka belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahu Naruto tentang masalah ini.

"Naruto. Sebenarnya ada yang harus aku bicarakan."

Naruto menoleh, di bacanya ekspresi wajah Iruka yang tampaknya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja, seperti mengatakan bahwa apa yang akan dia ucapkan nanti bukanlah sesuatu yang baik untuk Naruto atau mungkin mereka berdua. Naruto hanya tersenyum maklum lalu menepuk pundak Iruka dengan lembut, memberikan gesture bahwa dia tidak akan membenci Iruka apapun yang akan dia bicarakan nanti, oke katakan itu berlebihan, tapi memang itulah pemikiran Naruto sekarang.

"Sebenarnya aku tidak bisa menemanimu ke Amerika, jii-san sakit keras dan beliau memintaku untuk kembali ke kediaman utama keluarga kami."

Bibir merah Naruto mebmbentuk huruf O, dia mengangguk mengerti. Dia pikir Iruka akan mengatakan apa, ternyata hanya masalah sepele seperti ini. Ayolah, dia bukan lagi anak berusia lima tahun yang harus di temani kemanapun dia pergi. Sepertinya si pirang ini lupa bahwa kenyataannya nyawanya selalu berada di dalam daftar yang ada di bawa oleh Shikagami, namun entah bagaimana caranya namanya selalu saja menghilang diujung waktu saat shikagami akan mengambil nyawanya.

"Ayolah Iruka jangan memasang wajah menyedihkan seperti itu. Aku baik-baik saja kok kalau harus berangkat sendiri."

Iruka langsung menggeleng keras, dia langsung menepikan mobil yang mereka kendarai. Di tatapnya Naruto dengan pandangan yang berkabut emosi. Dicengkramnya kedua bahu Naruto lalu mata merekapun bertemu.

"Aku sudah menganggapmu adikku sendiri. Dan aku TIDAK AKAN PERNAH membiarkanmu berpergian seorang diri. Mengerti ?"

Ucap Iruka sambil menekan kalimat 'tidak akan pernah'. Naruto hanya mengangguk dengan susah payah. Dia memang tahu bahwa Iruka itu sangat menyayanginya, tapi dia sempat lupa bahwa Iruka juga sangat overprotektif terhadapnya, dia akan menjadi singa yang sangat buas saat mengetahui bahwa nyawa Naruto sedang dalam bahaya. Bahkan mungkin Iruka lebih mencintai nyawa Naruto dibandingkan dengan nyawanya sendiri. Kesamaan masa lalu diantara mereka membuat ikatan diantara mereka semakin kuat terjalin, mengalahkan ikatan darah yang terkadang dapat terputus karena perbedaan ideologi. Klise bukan.

"Aku akan meminta Shikamaru untuk menemanimu. Pastikan untuk mengabariku saat kau sudah sampai disana. Jangan makan junk food, jangan lupa untuk tidur tujuh jam dala sehari, jangan makan makanan yang mengandung lemak, jangan terlalu banyak memakan coklat, bawa obatmu kemanapun kau pergi, jangan berbicara dengan orang asing, pastikan kamar hotelmu terkunci jangan lupa –"

Naruto memutar bola safirnya, begitulah Iruka. Dia sangat cerewet kalau sudah berurusan dengan hal seperti ini, bahkan mungkin kecerewetannya lebih parah dibandingkan dengan kaa-san dari Naruto sendiri.

"Yah, kenapa kau tidak sekalian membuat satu buku untuk semua nasihatmu itu Iruka-san ?"

Sindir Naruto sambil membuang muka, kadang memang dia sedikit terganggu dengan sifat over yang ditunjukkan oleh Iruka. Yang menurutnya pribadi itu terlalu berlebihan, hey walau bagaimanapun dia sudah bukan lagi anak kecil yang harus selalu diingatkan pada hal-hal sepele seperti itu bukan. Dia sudah terlalu tua untuk semua ceramah Iruka tersebut.

"Terserah kau mau menganggapnya apa, tapi aku benar-benar khawatir Naruto."

Naruto menoleh, kadang dia selalu meruntuki kebodohannya yang selalu saja lemah dengan nada Iruka yang seperti ini. Nada seperti seekor lumba-lumba yang ingin dipungut oleh seorang nelayan. Dia tidak bisa memungkiri bahwa memang selama ini dia juga selalu menuruti semua ceramah Iruka, walaupun dia juga mengakui bahwa semua ceramahnya terkesan kekanakan, tapi dia tidak akan mau melihat wajah kecewa Iruka saat dia mengabaikan semua ceramahnya. Hubungan yang terkesan rumit.

"Baiklah-baiklah, aku akan meminta Gaara untuk menemaniku."

Iruka tersenyum puas, di acaknya pucuk surai pirang Naruto dengan gemas, sebelum dia kembali melajukan mobil mereka.

Sepertinya dewi fortuna tidak sedang berpihak pada Naruto, dia pikir akan baik-baik saja jika iruka tidak ada karena dia memiliki Gaara, tapi sepertinya dia tidak bisa berharap pada Gaara, baru saja dia mendapat kabar bahwa Gaara tidak bisa menemaninya karna harus mengawasi ujian masuk untuk siswa baru. Terpaksa Naruto harus menurut pada Iruka, jadilah disini dia sekarang menunggu Shikamaru yang kabarnya akan menemaninya terbang ke Amerika. Lama Naruto menunggu tapi batang hidung laki-laki nanas itu tidak muncul juga. Hampir saja Naruto akan check-in jika saja tidak ada yang menahan pergelangan tangannya.

"K-kimi ? nande ?"

Tanya naruto saat safirnya memandang keberadaan Sasuke yang tidak dia duga sebelumnya. Lalu dimana kepala kepolisian berambut nanas itu sekarang.

"Shikamaru tidak bisa mengantarmu, istrinya melahirkan."

Naruto mengangguk paham.

"Tunggu."

Naruto yang sudah akan check-in kembali ditahan oleh tangan Sasuke. Naruto memandang malas kearah Sasuke. Apa lagi sekarang.

"Shikamaru menyuruhku untuk menggantikannya."

Naruto membuang nafas lelah, dia tidak menjawab ucapan Sasuke. Benar-benar terlihat tidak peduli. Entahlah dia masih merasa kesal dengan laki-laki pantat ayam itu. Sasuke yang merasaa diacuhkan hanya bisa memandang sedih kearah punggung Naruto yang berjalan menjauhinya. Apa memang kau tidak mau lagi mengingatku, batin Sasuke miris.

Setibanya di Amerika mereka langsung check-in di hotel terdekat. Kamar mereka bersebelahan, memudahkan Sasuke mengawasi Naruto. Sekarang mereka sedang sibuk dengan isi koper mereka masing-masing, jika tidak berubah jadwal maka mereka akan menginap selama satu bulan. Menurut rencana awal, mereka hanya akan tinggal dua hari di hotel sebelum pindah ke apartemen yang sudah dipesan oleh kolega bisnis Naruto di New York.

Tok tok

"Ya ?"

Sasuke memandang Naruto yang sekarang berdiri di depan pintu kamarnya.

"Makan."

Sasuke melipat keningnya. Sedangkan Naruto masih mempertahankan wajah datarnya.

"Cepat atau aku tinggal."

Sasuke segera mengangguk mengerti, dia langsung mengganti baju dan berjalan mengekori Naruto yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkannya. Tapi saat akan masuk kedalam lift, Naruto spontan menghentikan langkah kakinya, padahal pintu lift sedang terbuka.

"Kenapa tidak masuk ?"

Tanya Sasuke bingung. Tapi dia kemudian memilih diam saat melihat ekspresi ketakutan dari mimic wajah Naruto. Wajahnya terlihat pucat dan pandangannya kosong, Sasuke hanya diam sambil sesekali melirik kearah Naruto.

"Kita turun dengan tangga."

Ucap Naruto dengan suara parau. Sasuke hanya mengikuti kemana Naruto pergi. Walaupun dia masih tidak tahu apa alasan naruto memasang ekspresi ketakutan seperti tadi.

Di restoran bergaya Jepang klasik itulah sekarang mereka berada. Sasuke memakan sushi yang di pesannya dengan perlahan, sedangkan naruto memakan ramen yang dipesannya dengan lahap, seperti tidak makan selama satu minggu.

"Bisa kau makan dengan lebih sopan dobe?"

Naruto tersedak, dia memukul dadanya yang terasa susah menerima pasokan oksigen. Iris safirnya memandang marah kearah sasuke.

"Siapa yang kau panggil dobe?"

Sahut naruto tidak terima di panggil dobe oleh sasuke. Tapi tunggu, sepertinya dia pernah mengalami hal ini, tapi kapan.

"Dobe."

"Siapa yang kau panggil dobe, dasar teme !"

"Teme ?"

Beo naruto tanpa sadar.

"Ya ?"

Naruto mendongak. Apa dia barusan memanggil Sasuke, sepertinya tidak.

"Aku tidak memanggilmu."

Sasuke mengerutkan keningnya. Tiba-tiba dia merasa ditampar oleh kenyataan yang sama sekali tidak berpihak kepadanya. Dia lupa kalau sekarang Naruto bukanlah Naruto yang dia kenal dulu, Naruto saat ini sama sekali tidak mengingatnya.

"Kau benar-benar tidak mengenalku ?"

Pertanyaan sasuke membuat naruto merasa bosan, sudah berapa kali dia bilang –

"Aku sama sekali tidak mengenalmu, Uchiha-san. Apa ucapanku belum jelas juga."

Sasuke menggeleng lemah. Memang sudah seharusnya dia menyerah.

"Maaf."

Naruto memutar bola matanya.

"Cih,mudah sekali kau bilang maaf Uchiha-san."

Naruto terdiam, apa yang di ucapkan barusan. Sepertinya Sasuke juga sama terkejutnya dengan Naruto. Kenapa kalimat itu terkesan penuh kebencian, Naruto tahu dia kesal dengan Sasuke tapi tidak sampai membencinya. Dia sendiri bingung dari mana kalimat itu muncul dan kemudian tanpa sengaja dia lontarkan tanpa pikir panjang. Entahlah, dari alam bawah sadar mungkin.

"Kumohon terimalah coklat ini."

"Kau ingin meracuniku dengan coklat ? tidak terimakasih, aku masih ingin hidup."

"Tidak ada racun kok."

"Minggir. Kau mengganggu jalanku."

"Maaf."

"Cih, mudah sekaali kau bilang maaf. Dobe."

Dahi naruto berkerut, suara-suara aneh itu berputar di otaknya seperti kaset rusak. Suara siapa itu sebenarnya.

"Kau tidak apa? Wajahmu pucat."

Tanya sasuke cemas saat melihat naruto memegangi kepalanya. Bahkan sekarang naruto mulai menjambaki surai pirangnya.

"Jangan sentuh aku!"

Bentak naruto saat sasuke mencoba memeluknya, bermaksud menenangkan. Atau mungkin sekaligus mencari kesempatan, siapa yang tahu.

"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu. Dobe."

"Tidak! hentikan, kumohon."

Jerit naruto dengan suara parau. Terus begitu hingga akhirnya naruto jatuh pinsan.

"Naruto !"

TBC

Author note : Gomen minna-san, Author tahu cerita ini makin gak mutu,aneh, keluar dari jalur tehee habis Author baperan sih. #plak Makasih buat yang udah review cerita aneh ini.