Title : Destiny Chapter 9

Genre : Friendship

Rating : Fiction T

Cast : Kyuhyun dan Changmin

Disclaimer : All them belong to themselves and GOD.I own only the plot.

Warning : Typos, Geje , If read don't bash please. Kalau saran dan masukan saya terima.

Summary : Mianhe, belum ada

.

.

"Kyuhyun-ah, gwenchana? " Yunho menghampiri Kyuhyun yang kini terduduk di lantai sambil memegangi kedua telinganya.

Wajah Kyuhyun mengernyit menahan sakit. Suara berdengung di telinganya lebih keras dari yang ia alami belakangan ini. Hal itu membuat kepalanya seakan dicengkeram dengan kuat, hingga tubuhnya menjadi kehilangan tenaga.

.

Destiny

命運線

歌詞

(Side story of Falling Star & Rising Star)

Chapter 9

.

.

23 Mei 2010

Sebelas namja duduk mengelilingi meja besar berisi berbagai macam hidangan yang tertata dengan apik. Semua dipilih sesuai kesukaan masing-masing, namun wajah mereka sama sekali tidak tampak gembira. Kangin yang berada di bagian tengah, memandang satu persatu hyung dan dongsaeng-nya, merasa bersalah karena dialah penyebab suasana murung ini.

"Album keempat kita berhasil dengan baik; Kita juga menang di Mubank… Apakah kalian tidak senang?" Kangin mencoba mencairkan suasana.

"Tentu saja senang. Bahkan Teuki hyung sampai menangis di atas panggung," cetus Donghae dengan gembira.

"Karena malu, Teuki hyung berjongkok membelakangi panggung. Bukankah itu malah terlihat jelas?" Eunhyuk ikut terpancing. Ia bercerita penuh semangat.

"Ya! Saat itu masih banyak yang berdiri menghadap penonton. Dengan berjongkok aku harap mereka tidak melihatku dengan jelas," protes Leeteuk.

"Bukan hanya album kita yang berhasil dengan baik. Popularitas Kyuhyunie juga naik dengan cepat. Ia kini dikenal sebagai DancingKyu," celetuk Siwon dengan bangga.

"Ah, DancingKyu." Kangin tersenyum.

"Bukan DancingKyu ala hyungdeul," gumam Kyuhyun yang duduk bersebelahan dengan Sungmin.

Suara tawa pecah dengan keras di ruangan itu, mengusir suasana muram yang terjadi sejak fanmeeting selesai. Tadi Kangin muncul di atas panggung dan berpamitan kepada ELF untuk menjalani wamil selama masa skors akibat insiden yang ia lakukan.

"Kyu si balok kayu telah berubah menjadi DancingKyu yang sesungguhnya." Leeteuk tersenyum. Selama ini mereka menggoda Kyuhyun dengan panggilan DancingKyu karena magnae-nya itu sama sekali tidak bisa melakukan dance. Tetapi sekarang panggilan itu menjadi sebuah kenyataan.

"Bagaimana rasanya memenangkan World Champion, Kyuhyunie?" Kangin kembali bertanya, membuat wajah Kyuhyun memerah. World Champion adalah kuis yang dilakukan beberapa hari lalu di ShimShimTapa, di mana orang yang menang dapat menelepon artis yang tercantik menurutnya. Moon Geun Young menjadi artis yang dipilih Kyuhyun karena Yesung memintanya. Eunhyuk sebelumnya juga memilih yang sama. Mereka berdua tahu Yesung sangat menyukai artis itu.

"Hyungdeul memaksaku berbicara di sana." Kyuhyun mengadu kepada Kangin.

"Kau tidak boleh diam tanpa suara di siaran radio seperti itu," sahut Shindong. Ia menepuk bahu Kangin yang duduk di sebelahnya. "Hyung, kau tahu alasannya? Kyuhyunie bilang saat itu sudah jam 12.37 malam dan kami terlalu berisik. Karena itu dia diam saja."

"Jam 12.47," ralat Kyuhyun yang langsung dibalas tatapan Shindong.

"Kita tidak membahas perhitungan akurat matematika, Kyuhyunie."

"Bagi uri magnae, angka itu sangat penting." Kangin tersenyum. "Lalu Hyukkie bilang, 'Kyuhyunie, jangan mencemaskan hal itu karena pendengar SUKIRA tinggal mengecilkan volume suara radio mereka jika merasa suara terlalu berisik.' Hyung mendengarkan siaran kalian."

Lagi-lagi suara tawa memenuhi ruangan itu, membuat wajah Kyuhyun semakin memerah.

"Kalian sepakat mengerjaiku," rajuknya. "Hyungdeul, bolehkah kita makan sekarang? Aku sangat lapar."

"Dia sedang masa pertumbuhan. Dia selalu lapar." Ryeowook terkikik ketika Kyuhyun mendelik ke arahnya. "Di radio dia juga makan sambil berjongkok. Sia-sia, tetap saja dia terlihat, bukan?"

"Sepertinya uri leader dan uri magnae berpikir, mereka bisa tidak terlihat bila berjongkok." Kata-kata Yesung membuat suara tawa kembali memenuhi ruangan itu, kecuali Leeteuk dan Kyuhyun yang hanya bisa meringis.

"Kalian semua senang jika aku terpojok eoh?" protes Leeteuk.

"Bukan aku yang memojokkan Teuki hyung." Sungmin tersenyum sangat manis.

"Ryeowookie, kau tidak boleh memojokkan Teuki hyung." Heechul pura-pura menegur. "Buat apa kau cerita soal Kyuhyunie mabuk dan menangis di kamarmu, bilang kalau Teuki hyung membencinya?"

"Aku bermaksud membuat Kyuhyunie kalah," sahut Ryeowook. "Dan itu satu-satunya yang bisa membuat Kyuhyunie malu; Karena menangis."

"Tetap saja Kyuhyunie yang menang." Yesung berbicara dengan wajah datar namun membuat semua mentertawakan Ryeowook yang tersipu malu.

Kyuhyun menoleh ke arah Leeteuk. "Aku sudah menjelaskan kemarin, bahwa Teuki hyung hanya membenci orang yang baru masuk; Jadi aku harus berhati-hati terhadap pandangan hyung terhadapku. Tetapi seiring waktu, Teukie hyung memperlakukanku dengan baik."

"Kyuhyunie, Teukie hyung tidak membenciku ketika aku masuk," kata Ryeowook dengan nada menggoda.

"Ani, aniyo," tolak Kyuhyun sambil mengibaskan tangannya. "Kau bilang waktu itu, kau bilang dia juga me..."

"Jangan khawatir, Kyuhyunie, aku juga tidak menyukai Ryeowookie waktu awal masuk." Heechul memotong kata-kata Kyuhyun, mencoba melerai pertengkaran kedua dongsaeng terkecilnya yang mulai memanas.

"Ah, Heechul hyung," rajuk Ryeowook yang langsung dibalas belaian lembut di rambutnya. Ryeowook akhirnya mengerti Heechul tengah memintanya menjauhi topik yang sensitif bagi Kyuhyun itu; Apalagi dulu Ryeowook menghibur Kyuhyun dengan mengatakan bahwa ia juga mengalami penolakan yang Kyuhyun alami, dan meminta Kyuhyun bertahan selama bulan-bulan pertama.

"Aku juga bilang kalau Teukie hyung sekarang menjaga Kyuhyunie dengan baik." Ryeowook mengucapkan kata-kata itu, mencoba memberi tersenyum termanisnya kepada Leeteuk dan Kyuhyun.

"Jadi mulai sekarang jangan tambahkan siapapun lagi, kalau tidak Teukie hyung akan membencinya." Eunhyuk menyimpulkan.

Kali ini Leeteuk yang meringis ketika suara tawa memenuhi seisi ruangan. Ia melemparkan kacang ke arah Eunhyuk yang tertawa lebar di tempatnya.

"Selamanya kita akan tetap bertiga belas kan?"

Pertanyaan Kangin membuat ruangan mendadak sunyi. "Seperti yang aku katakan tadi di fanmeet, diawali dengan Teukie hyung, diakhiri dengan Kyuhyunie, termasuk Hankyung-ah dan Kibumie yang tidak ada bersama kita di sini… Selamanya kita tetap bertiga belas."

"Tentu, selamanya kita akan menjaga Super Junior bersama-sama." Yesung berbicara dengan tegas. "Kangin-ah, kapan kau masuk militer? Kami semua akan berusaha mengantarmu."

"Ada baiknya kita pastikan dulu seseorang bisa ikut mengantar Kangin-ah nanti."

"Apa maksud Heechul, hyung? Apa ada yang akan hiatus lagi?" Wajah Donghae langsung pucat pasi.

Bukan menjawab, Heechul justru menatap lurus ke arah Kyuhyun yang menghindarinya belakangan ini, sehingga member yang lain ikut menatap ke arah si magnae yang langsung gugup di tempatnya.

"Sungminie menempel terus denganmu sejak promo berjalan. Sakitmu semakin parah?"

"Sakit? Kyuhyunie, apa karena itu kau tidak melakukan sliding di Mucore?" Eunhyuk memasang mimik bersalah. "Kalau kau bilang, aku akan…."

"Aku tidak ada masalah dengan sliding, aku hanya lupa. Besoknya aku melakukan sliding lagi kan?" Kyuhyun menatap hyungdeul dengan pipi menggembung. "Kalian jangan terlalu khawatir. Aku sudah ke dokter dan rutin meminum obat sejak.…"

"Sejak Yunho-ah melapor kepada kami bahwa kau kesakitan di dorm-nya." Leeteuk memasang wajah protes.

"Kalau tidak ada kejadian itu sepertinya dia akan tetap bungkam." Ryeowook meringis.

"Apa itu sebabnya dia pucat waktu kita di SUKIRA?" Yesung mengerutkan kening. "Aku kira dia hanya sakit tenggorokan karena KRY melakukan rekaman setiap hari."

Kyuhyun menunjuk ke arah Yesung dengan perasaan lega. "Nah, aku memang sakit tenggorokan, hyung. Kalian semua tahu soal itu. Siwon hyung juga mengalaminya."

"Jangan bawa-bawa aku." Siwon tersenyum nakal. "Kau memang bilang soal itu di SUKIRA, tetapi…."

"Ayolah, promo itu berat; Kita semua lelah; Pergi pagi pulang juga pagi; Tidur hanya 2-3 jam. Bisakah kita makan siang saja?" Kyuhyun hendak menjumput lauk dengan paksa, namun Sungmin menahan tangannya.

"Obat yang diminum Kyuhyunie beberapa minggu ini tidak berhasil meredakan sakitnya."

"Hyung!" Kyuhyun menatap Sungmin tak percaya, sementara yang lain langsung menyimak dengan serius, sama seperti Sungmin yang menghilangkan senyum dari wajahnya.

"Mianhe, Kyuhyunie, kau harus secepatnya mencari cara pengobatan lain." Sungmin bergeming.

"Dia bukan hanya flu dan sakit tenggorokan?"

"Ne, Heechul hyung. Kyuhyunie bermasalah dengan telinganya," jawab Sungmin.

"Bukankah itu sudah sejak lama?"

"SMP, Shindongie. Setahuku sejak SMP." Kangin mencoba mengingat.

"Kalian berbicara seakan-akan aku tidak ada di sini."

"Diamlah!" hardik Heechul. Kyuhyun langsung terdiam. "Sungminie, apakah penyakitnya berbahaya?"

"Kyuhyunie akan merasa telinganya berdengung keras jika dia melakukan gerakan berpindah yang cepat, apalagi berputar."

"MWO?!" Semua terkejut mendengar penjelasan Sungmin. Mereka tidak bisa membayangkan seperti apa perasaan sakit yang dirasakan Kyuhyun selama melakukan latihan dan tampil di atas panggung.

"Kyuhyunie, kenapa kau tidak bilang soal itu?"

"Aish!" Kyuhyun lebih baik menghadapi teriakan hyungdeul-nya daripada menghadapi tatapan sedih Donghae saat ini. Hyung yang duduk di sisinya itu merangkul pundaknya dengan perasaan khawatir.

"Jika berdengung, telinganya akan terasa sakit, begitu juga kepalanya. Dan itu bisa berdampak lebih serius jika dibiarkan. Kata uisa…."

"Hyung, jangan….!"

Sungmin mencoba mengabaikan pandangan protes Kyuhyun. "Kata uisa, pendengaran Kyuhyunie sudah setingkat halabeoji."

"MWO? Kyuhyunie, jadi selama ini…? Aish! Kenapa kami tak menyadarinya?" Kangin menggeleng keras. "Seharusnya sejak kau bercerita di radio, aku memaksamu berobat."

"Lain kali aku akan bilang ke Yesung hyung saja. Kalian ancam pun dia tidak akan bicara," sungut Kyuhyun.

"Aku memang tidak akan bicara tetapi aku sendiri yang akan mencekikmu jika tidak mau berobat," desis Yesung. "Sungminie terlalu memanjakanmu."

"Ternyata bukan hanya aku yang ingin mencekiknya kadang-kadang." Kangin tergelak. "Aku sempat curiga di awal, dia selalu tidak bisa mendengar ketika dipanggil. Tapi setelah dia jelaskan di radio, aku kira hanya hal sepele.…"

"Bagaimana kau bisa mendengarkan kami selama ini?" Ryeowook merasa penasaran.

"Tidak perlu telinga normal untuk mendengarkan kalian dengan jelas. Hyungdeul sangat berisik."

"Aish! Magnae satu ini!" Heechul menjadi gemas bukan kepalang. "Ayo semua makan dengan cepat! Setelah ini aku akan menariknya ke dokter untuk diperiksa!"

Meski Kyuhyun bergumam protes, tak ada yang mendengarkannya. Semua mulai menyantap hidangan yang tersedia. Kyuhyun awalnya kehilangan selera makan. Namun melihat semua tampak menikmati masakan itu, belum lagi perutnya yang berteriak minta diisi, akhirnya Kyuhyun mulai makan dengan lahap.

.

Hari masih cukup terang ketika mereka selesai makan. Selain Kangin, semua satu per satu naik ke atas van. Ada sedikit waktu untuk beristirahat sebelum mereka tampil di Inkigayo nanti malam.

"Kyuhyunie." Kangin menahan tangan Kyuhyun yang berusaha menyusul hyungdeul ke dalam van.

Belum sempat Kyuhyun bertanya, Kangin memeluknya dengan erat. Kangin hanya tersenyum ketika Kyuhyun sedikit ragu membalas pelukannya. Sama seperti di fanmeet tadi, Kyuhyun hanya diam tidak mendekat saat Kangin memeluk member lain satu per satu sampai Kangin harus menghampiri dan memeluknya. Ia tahu Kyuhyun selalu menahan perasaannnya kuat-kuat di depan kamera. Magnae-nya itu hampir tidak pernah menangis saat berada di atas panggung.

Kangin melepas pelukannya dan merangkum wajah Kyuhyun yang tirus dengan kedua tangannya. "Pergilah ke dokter supaya kau diberi obat yang lain dan menjadi sembuh. Hyung ingin kau ikut mengantarku saat wamil nanti. Kau tega membuatku merasa cemas selama pelatihan militer?"

"Kenapa hyungdeul selalu berbicara seperti itu? Kalian terlalu baik…."

"Kau tidak sepenuhnya benar, uri magnae."

"Maksud hyung?"

Kangin tidak menjawab. Ia hanya menepuk pipi Kyuhyun dengan lembut. Masih lekat diingatannya hari di mana Kangin merasa sangat membenci dirinya sendiri. Jangankan member lain dan fans yang kecewa dengan perbuatannya; Ia sendiri merasa sangat bodoh dan kesal; Namun ia tidak bisa menjauhi dirinya sendiri.

Karena itu Kangin pergi bersembunyi.

Ia hampir tak percaya ketika Kyuhyun berdiri di hadapannya dengan penampilan berantakan. Jelas terlihat kalau magnae-nya itu telah mencarinya ke berbagai tempat.

Kangin siap untuk dicerca.

Ia tahu Leetuk sangat kecewa kepadanya, karena lagi-lagi ia berbuat kesalahan; Padahal selama ini Leeteuk bersedia ditelepon dan menjemputnya; Bahkan mengantarkan dompetnya yang tertinggal. Kangin siap untuk kemarahan seperti apapun, karena ia berada dalam tahap membenci dirinya sendiri. Mungkin kebenciannya terhadap dirinya jauh lebih besar dari siapapun.

Namun Kyuhyun hanya tersenyum. Perasaan lega yang terpancar jelas di wajah magnae-nya itu, membuat sesuatu yang hangat mengalir di hatinya. Kangin merasa masih dianggap berharga oleh Kyuhyun meski dongsaeng terkecilnya itu tidak mengatakan apa-apa. Ia merasa usaha Kyuhyun mencarinya sampai bertemu, jauh lebih berharga dari kata-kata yang manis.

Kyuhyun duduk di sebelah Kangin tanpa berbicara, hanya duduk di sana sampai hari beranjak malam. Setiap kali Kangin berpikir dirinya begitu tidak berharga, kehadiran Kyuhyun di sebelahnya membuat Kangin mengabaikan pikiran buruk itu. Masih ada seseorang yang berada di sisinya, seburuk apapun dirinya saat ini.

"Kangin hyung, ayo kita makan. Aku yang akan membayarnya." Kyuhyun menarik tangan Kangin ketika suara perut mereka berdua terdengar di keheningan malam. Mereka mencari tempat makan yang sangat biasa, lepas dari pengamatan orang-orang yang mengenal mereka, dan melewati malam itu dengan makan, minum, juga obrolan ringan.

Salah satu hari terburuk namun juga terbaik bagi Kangin. Salah satu hari yang tidak akan ia lupakan.

"Kyuhyunie! Kau mengulur waktu untuk berobat eoh? Kajja! Kita masih harus tampil nanti malam!"

Teriakan Heechul menyadarkan Kangin dari lamunannya. Ia nyaris tertawa melihat Kyuhyun masih berdiri di depannya dengan wajah menunggu dan bingung. Magnae-nya terlihat benar-benar menggemaskan sehingga Kangin kembali memeluk lalu mencium pipinya sekilas.

"Kami seperti ini, karena kau, Kyuhyunie. Kau sudah menjadi keajaiban kecil bagi kami semua." Kangin merapatkan jaket yang Kyuhyun kenakan. "Berobatlah, dan antar hyung dengan tubuh yang sehat, arrachi?"

"Sampai nanti, Kangin hyung." Kyuhyun mengangguk, lalu berbalik ke arah mobil sebelum Heechul kembali berteriak.

.

.

Semua mata memandang heran ke arah Heechul yang menimang Heebum dengan cara tidak biasa. Ia membalikkan tubuh kucingnya itu ke berbagai arah sampai Heebum membuat suara protes.

Namja cantik sekaligus tampan itu teringat kejadian saat mengunjungi uisa…

"Peradangan telinga yang dialami Kyuhyun sshi sudah parah. Jalan satu-satunya adalah operasi," jelas sang uisa setelah memeriksa kondisi Kyuhyun.

"Operasi?" Heechul memucat.

"Aku menolak!"

Belum pernah dalam hidup Heechul ia merasa ingin mencium seseorang sampai orang itu berteriak minta ampun. Hanya dongsaeng terkecilnya ini yang selalu membuatnya geram bukan kepalang. Kyuhyun tetap menolak dan mereka pulang tanpa penyelesaian apapun.

Heechul berusaha menahan kemarahannya selama Inkigayo, menunggu sampai semua berkumpul di dorm. Ia meminta Siwon untuk tidak kembali ke rumahnya malam ini. Ia memerlukan semua member untuk membujuk magnae-nya yang memiliki kepala lebih keras dari baja.

"Sungie," panggilnya sambil terus menatap Heebum.

"Ne, hyung." Yesung memberi Heechul perhatian penuh.

"Kau tahu bagaimana cara memindahkan nyawa Heebum ke magnae keras kepala itu?"

Serempak 8 kepala menoleh ke arah Kyuhyun yang tengah memajukan bibirnya semenjak tadi.

"Heechul-ah, jangan berlebihan!"

"Apa kau bilang? Setan kecil, panggil aku hyung!" Heechul nyaris melempar Heebum kalau saja Donghae tidak bergegas menangkap kucing malang itu. Eunhyuk menahan Heechul yang hendak merangsek ke arah Kyuhyun.

"Hyungdeul, sudahlah!" Kyuhyun bangkit berdiri. "Aku sudah berjanji untuk berobat. Tapi kalau hasilnya aku harus melakukan operasi, kita tunda saja sampai masa promo berakhir."

"Setelah ini kita langsung melakukan promo No Other!" teriak Heechul. "Apa sampai promo selesai kamu akan menahan semua itu? Melakukan dance dengan telinga berdengung? Aku yang melihatnya menjadi ikut sakit!"

Semua terdiam. Hanya Eunhyuk dan Siwon yang berusaha menenangkan Heechul.

"Sudah aku bilang, magnae, kalau kau berani main-main dengan nyawamu yang cuma 1 itu, aku tak akan segan-segan menggantinya dengan nyawa Heebum!"

Kyuhyun membesarkan matanya.

"Mwo? Apa hyung tidak khawatir? Heebum sangat serupa dengan Heechul hyung, dan kini dia akan memiliki otakku dan suaraku. Apakah itu tidak mengerikan?"

"Aish, anak ini!"

"Sudah….sudah…." Leeteuk akhirnya berdiri untuk melerai, sementara dongsaeng-nya yang lain terlihat berusaha menahan tawa mendengar jawaban Kyuhyun. Tak ada satupun yang berani mentertawakan Heechul jika namja yang cantik itu sedang marah.

"Kyuhyunie, buatlah janji dengan uisa besok," tegas Leeteuk. Ia memberi isyarat agar Kyuhyun tidak membantahnya. "Tentukan kapan kau menjalani operasi. Lebih cepat lebih baik. Bagaimana kalau sesudah pemilu?"

"Ah, bagus! Berarti aku bisa mengikuti Dream Team."

"JANGAN BERGURAU!"

Kyuhyun tersentak mundur mendengar teriakan serempak itu. Hyungdeul memandangnya dengan pandangan –apa-kau-bosan-hidup.

"Kau pikir kami akan mengijinkanmu melakukan kegiatan fisik seberat itu eoh?" Siwon mengurut keningnya yang mendadak terasa sakit.

"Putuskan saja tanggal 3." Sungmin memberi usul. "Lakukan itu, jadi kau bisa kembali mengikuti jadwal sebelum promo Bonamana berakhir."

"Aku akan kembali secepatnya." Kyuhyun tersenyum mantap.

"Uisa bilang, sesudah operasi, ia harus beristirahat 3 hari di rumah sakit dan 3 minggu untuk pemulihan, Teuki hyung."

"Kau dengar kata Chulie, Kyuhyunie? Tiga minggu!" tegas Leeteuk. "Kau baru boleh kembali ke panggung setelah 3 minggu!"

"MWO?!"

.

.

.

Kyuhyun menggembungkan pipinya, teringat berapa kalipun ia membujuk Leeteuk, hyung tertuanya itu bergeming. Kali ini semua member mendukung keputusan Leeteuk. Ia tidak berkutik sama sekali.

Senyum Kyuhyun mengembang saat Yunho membuka pintu dorm yang baru saja ia bunyikan belnya.

Wajah Yunho begitu suram namun namja itu tetap mencoba tersenyum.

"Kyuhyunie? Syukurlah kau datang. Changminie ada di dalam. Seperti biasa."

Senyum tipis itu memberitahu Kyuhyun bahwa sahabatnya masih terpuruk oleh keluarnya ketiga personil yang lain. Setiap ada waktu, Kyuhyun berusaha menjenguk Changmin untuk menghibur dan memberinya semangat, namun belum ada perubahan yang berarti. Ia berharap hari ini Changmin akan berubah.

"Aku membawakan beberapa kue buatan eomma. Changmin-ah sangat menyukainya." Kyuhyun meletakan beberapa kotak kue di atas meja makan. "Aku baru saja melakukan voting Pemilu. Bagaimana dengan kalian, hyung?"

"Kami sudah melakukannya tadi. Wah, sepertinya enak." Yunho mengambil sekeping kue. "Kue ini sangat enak. Pantas Changmin-ah menyukainya."

Kyuhyun hendak beranjak dari sana ketika Yunho menahannya. "Kyuhyunie, kau kelihatan lelah. Apa kau sakit?"

"Mungkin karena aku mengunjungi hyungdeul di Dream Team tadi. Mereka sedang melakukan syuting."

Kening Yunho berkerut. "Kau tidak ikut?"

"Ah, penjelasannya panjang.…"

.

.

Changmin duduk memeluk lutut sambil memandang kosong ke arah jendela. Sejak aktivitas grup mereka dihentikan untuk sementara waktu, Changmin menghabiskan hari-harinya di dalam kamar. Ia hanya keluar untuk makan. Hanya itu kegiatan yang masih suka ia lakukan. Tetapi hal lainnya tidak mampu membuatnya bersemangat. Bahkan saat tadi pagi ia pergi melakukan voting bersama Yunho, semua itu hanya menekan dirinya semakin dalam.

Suara ketukan di pintu terdengar. Tanpa melihatnya, Changmin tahu siapa yang datang. Namun ia bergeming, menolehpun tidak meski suara yang selalu memukaunya itu berceloteh di sekitarnya seperti biasa. Kyuhyun selalu bercerita tentang cuaca, makanan baru yang ia coba, permainan baru yang ia mainkan, dan sesekali mengajak Changmin keluar untuk melakukan semuanya itu bersama. Namun Changmin hanya menggelengkan kepala.

"CHANGMIN-AH!"

Tiba-tiba tubuh Changmin terangkat. Ia begitu terkejut melihat kedua tangan yang kurus itu mampu menarik tubuhnya sehingga tidak melawan sedikitpun.

"Bangun, Changmin-ah! Sampai kapan kau terpuruk seperti ini?!" Kyuhyun menghardik begitu keras, membuat Changmin mau tak mau memandang mata sahabatnya itu. "Aku juga mengalami hal yang sama denganmu. Kangin hyung terkena kasus dua kali berturut-turut sehingga diskors, Hankyung hyung pergi, Kibum hyung hiatus…. Tapi kita tidak bisa begini terus menerus. Kita harus bangkit! Apa kau mendengarkanku?"

"Tidak ada gunanya…. Semua tidak ada gunanya…." Air mata mengalir membasahi pipi Changmin yang sedikit tirus. "Kyuhyun-ah, mereka… Aku sangat kehilangan mereka… Aku tidak sanggup…"

"Kau harus sanggup!" seru Kyuhyun. "Shim Changmin orang yang kuat. Changmin si Superman, kau akan bangkit dan bernyanyi di atas panggung seperti dulu. Kau akan…"

"Jangan menghiburku!" Changmin mendorong Kyuhyun dengan keras, membuat tubuh sahabatnya itu membentur jendela. Melihat Kyuhyun meringis kesakitan, Changmin hendak menghampiri, namun perasaan terluka membuatnya mengeraskan hati. Ia memilih berdiri diam, menunggu hingga Kyuhyun kembali berdiri. "Pulanglah, Kyuhyun-ah. Biarkan aku sendiri. Kau tidak perlu datang kemari untuk membujukku. Kami sudah hancur…."

Kyuhyun tersenyum lembut sambil menggelengkan kepalanya. "Kalian tidak hancur… hanya terpisah jarak. Kata Donghae hyung, meskipun tubuh kami terpisah jauh, kami tahu kami selalu bersama. Meskipun kami tidak bisa lagi mengatakan 'Aku mencintaimu', kami tahu bahwa kami saling mencintai. Meskipun kami tidak bisa mengatakan bahwa kami satu, kami tahu bahwa kami satu. 13. Aku percaya kalian juga begitu."

Changmin membuang wajah ke arah jendela, tidak berani memandang Kyuhyun. Ia mati-matian berusaha mengabaikan kehadiran sahabatnya itu.

"Changmin-ah, kalau tak ada alasan apapun yang kau miliki untuk bangkit, bisakah aku menjadi alasanmu?"

Kyuhyun tersenyum getir ketika Changmin tidak menanggapi ucapannya. Bahkan menolehpun tidak.

"Kau pernah bilang, aku harus semakin kuat sehingga bisa berduet denganmu di atas panggung. Kau juga mengajakku untuk melakukan battle dance. Aku saat ini sudah diberi kepercayaan oleh Eunhyuk hyung masuk ke dalam dance line. Aku juga sudah semakin kuat. Bolehkah aku menagih janjimu? Changmin-ah?"

Changmin mengedarkan pandangannya ke luar dorm, satu-satunya pemandangan yang ia lihat belakangan ini.

"Aku tidak tahu." Changmin menjawab dengan suara tercekat. "Aku tidak tahu, Kyuhyun-ah… Mianhe."

Kyuhyun menunggu, namun Changmin tidak juga menoleh ke arahnya.

"Aku akan mengambil minuman untukmu. Setelah itu kita mengobrol lagi, arrachi?"

Changmin tidak menyahut. Ia baru menoleh setelah suara pintu kamar terdengar, pertanda Kyuhyun sudah keluar.

Entah berapa lama Changmin meneruskan lamunannya. Suara dering telepon milik Kyuhyun membuatnya terganggu. Pertama Changmin hanya mengabaikannya, namun dering itu hanya berhenti sebentar, untuk kemudian kembali berbunyi. Terus-menerus seperti itu. Dengan kesal, Changmin mengangkat telepon yang berada di tas Kyuhyun.

"Yeoboseyo," sapa Changmin tanpa semangat.

"Yak! Magnae, kau pergi kemana lagi eoh? Apa kau mau tubuh kurusmu itu tumbang?! Kau harus banyak beristirahat sebelum besok!"

"Heechul hyung?"

Suara di seberang sana terdiam, seakan baru menyadari bukan magnae grup-nya yang menyahut.

"Changmin-ah? Ah, jadi Kyuhyunie ke tempatmu?"

"Ne, dia sedang keluar mengambil minum."

"Syukurlah. Suruh dia segera pulang. Ck, belakangan ini dia selalu pergi setiap ada waktu senggang. Apakah kalian keluar bersama? Katakan dia harus istirahat. Tubuhnya sedang tidak sehat, aku tidak mau dia tumbang."

Sakit? Kyuhyun-ah sedang sakit? Kecemasan merayapi hati Changmin.

Tiba-tiba terdengar keributan di luar. Suara Yunho memanggil namanya membuat Changmin tersentak.

"Heechul hyung, mianhe, aku harus menutup telepon."

Tanpa mempedulikan suara Heechul yang masih berusaha berbicara di seberang sana, Changmin bergegas berlari keluar. Baru kali ini, setelah kasus yang menimpa mereka, Changmin melakukan sesuatu dengan sekuat tenaga. Ia berusaha secepat mungkin melihat apa yang membuat Yunho berteriak.

Kaki Changmin berhenti saat pemandangan di depannya membuat jantungnya berdetak sangat cepat. Tubuh Kyuhyun yang kurus terbaring di lantai dengan Yunho memangku kepalanya. Wajah Kyuhyun tampak begitu pucat.

"Dia tiba-tiba terjatuh saat membawakan minuman untukmu." Yunho menggeser posisinya agar Changmin bisa menggantikannya memeluk Kyuhyun. "Tubuhnya dingin. Jaga dia agar hangat sementara aku memanggil uisa."

"Kyuhyun-ah…." Changmin berlutut di dekat Kyuhyun dan menepuk pipi sahabatnya itu.

"Changmin-ah, kalau tak ada alasan apapun yang kau miliki untuk bangkit, bisakah aku menjadi alasanmu? Bolehkah aku menagih janjimu? Changmin-ah?"

Changmin mulai panik saat Kyuhyun bergeming, sama sekali tidak membuka matanya. Dengan hati-hati diangkatnya tubuh Kyuhyun dan membawanya ke kamar. Ia membaringkan Kyuhyun dan menyelimutinya dengan rapat.

"Ireona, Kyuhyun-ah…. Jebal… Ireona," bisik Changmin sambil menggosok kedua telapak tangan Kyuhyun bergantian. "Mianhe, aku begitu sedih sehingga tidak menyadari kau sering datang menemuiku. Sama sekali tidak terpikir bahwa kau sudah begitu lelah dengan semua aktifitasmu, bahkan aku mendorongmu begitu keras tadi. Mianhe, Kyuhyun-ah. Kumohon…kau harus bangun, arrachi?"

Melihat Kyuhyun tetap terpejam dengan wajah yang terlihat semakin pucat di mata Changmin, namja itupun menangis.

"Kyuhyun-ah, kau membuatku takut…. Jebal, kau tidak boleh meninggalkanku, arrachi? Kau harus bangun. Setelah itu, aku berjanji akan menuruti apapun kata-katamu. Aku tidak akan membantahmu lagi," bisik Changmin sedih.

"Changmin pabo-ya, kau tertipu! Aku hanya berpura-pura."

Harapan Changmin bahwa Kyuhyun membuka mata dan mengolok-olok dirinya yang menangis, hanya sebuah harapan kosong. Kyuhyun tetap saja terbaring diam.

Changmin memandang jam dinding yang terasa bergerak begitu lambat. Ia berharap uisa dan Yunho muncul dengan cepat. Namun berulang kali ia memandang ke arah pintu, tak seorangpun muncul.

"Kyuhyun-ah, kenapa kau selalu membuatku cemas?"

Changmin tidak melepaskan genggamannya dari tangan Kyuhyun, namun baru kali ini ia mengamati bahwa salah satu telapak tangan sahabatnya itu terluka, seperti tergesek berulang kali. Changmin mengamati dengan seksama dengan khawatir. "Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?"

"Changmin-ah, aku menjadi dance line Super Junior sekarang!" Seruan bahagia itu terngiang di telinga Changmin, membuatnya tersentak seakan ia baru saja mendengarnya. "Kau bisa bayangkan bagaimana rasanya melakukan dance bersama Eunhyuk hyung, Shindong hyung, dan Donghae hyung? Hanya kami berempat? Aku tidak pernah menyangka hari seperti ini akan datang. Changmin-ah, aku sudah menepati janjiku untuk belajar dance dengan baik sehingga kita bisa bertanding suatu saat nanti. Kau dengar kan? Changmin-ah?"

Changmin merasa dadanya tiba-tiba sakit.

"Aku melakukan sliding. Kau bisa bayangkan? Sliding!" Suara tawa Kyuhyun saat bercerita begitu hangat dan bahagia, membuat air mata Changmin merebak. "Aku melukai kakiku sendiri saat berlatih sehingga Eunhyuk hyung ingin mengganti gerakannya, tetapi aku menolak. Bukankah menjadi SlidingKyu perkenalan yang bagus sebagai dance line SJ? Kau sependapat bukan? Aku terus berlatih sampai akhirnya kakiku sulit digunakan untuk berjalan. Tapi aku senang karena Heechul hyung memapahku saat menaiki tangga gedung SM. Itu bonus besar untuk usahaku. Yah, tapi kau tahu kan….selama memapahku ia terus saja memberikan ceramah."

"Aigoo…Kyuhyun-ah, apakah kau juga kemari dengan kaki seperti itu? Dan aku tidak mempedulikanmu? Bahkan ketika kau bercerita tentang itu, aku sama sekali tidak mengindahkannya apalagi menanyakan keadaanmu?"

Changmin menggenggam tangan Kyuhyun lebih erat sambil terisak.

"Mianhe, Kyuhyun-ah…. Jeongmal mianhe. Aku tidak menyangka diriku tenggelam sedalam ini. Aku tidak bisa melihat apapun, bahkan tidak bisa melihat sahabatku sendiri…"

Changmin menjatuhkan kepalanya ke atas tempat tidur dan menangis hingga bahunya berguncang. Ia berharap Kyuhyun akan terbangun seperti beberapa drama yang pernah ia tonton, mengelus rambutnya, dan tersenyum ketika ia menoleh. Tetapi tangan Kyuhyun yang berada di dalam genggamannya tidak bergerak sedikitpun meski terasa lebih hangat.

"Kyuhyun-ah, kau tahu apa yang kupikirkan saat ini? Aku sendiri ingin mentertawakan diriku yang mengharapkan adegan-adegan drama. Aku tidak bisa berpikir lagi… Aku hanya ingin kau bangun dan menyapaku, mengatakan bahwa semua baik-baik saja dan kita bisa memulainya kembali…."

Changmin mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun yang masih saja terbaring dengan mata terpejam. Ia mengamati tulang pipi Kyuhyun yang tampak tirus dengan rambut pendeknya yang baru. Ia meringis saat colar bones sahabatnya terlihat dari balik kemeja.

"Kau kurus sekali… Apa kau makan dengan baik? Kapan kau memotong rambutmu? Waktu kita berulang tahun, aku rasa rambutmu masih panjang…." Changmin terdiam. Ia menautkan keningnya. "Aku tidak ingat….apakah kita merayakan ulang tahunmu? Aku hanya ingat kau datang membawakan kue tart untukku. Tapi aku…. Aigoo…."

Changmin mengusap wajahnya dengan salah satu tangan, sementara tangan yang lain tidak dilepaskannya dari sahabatnya. "Aku tidak ingat apa aku meniup lilinnya… Kyuhyun-ah, seharusnya kau lempar saja kue itu ke wajahku dengan lilin menyala. Shim Changmin, kau sudah keterlaluan! Bagaimana bisa kau menganggap dirimu yang paling sedih dan susah? Aigoo…"

Changmin mulai tidak sabar dan mengguncang bahu Kyuhyun. "Yak! Kyuhyun-ah! Kau jangan membuatku cemas! Cepat bangun! Kyuhyun-ah!"

Kecemasan Changmin semakin memuncak karena Kyuhyun tetap bergeming. Karena itu, saat telinganya menangkap suara pintu dorm dibuka, Changmin melesat ke luar untuk melihat siapa yang datang.

"Changmin-ie, hyung bawakan makanan untukmu. Ayo, kita makan! Ajak Kyuhyun-ah juga." Yunho mengangkat kantung yang dibawanya sambil tersenyum lebar. Ia tidak menyadari Changmin berdiri membeku saat Yunho mengeluarkan beberapa kotak makanan dari dalam kantung. "Tolong kau ambilkan minuman di kulkas, arra? Hyung akan…"

"Hyung! Uisa!" Changmin mendekat dan menatap Yunho dengan wajah tak percaya. "Yunho hyung seharusnya membawa uisa, bukan semua makanan ini!"

"Uisa?" Yunho menaikkan salah satu alisnya.

"Ne, hyung, uisa! Kyuhyun-ah jatuh pingsan dan hyung pergi memanggil uisa bukan?"

"Ah…." Yunho mengangguk dengan sedikit bingung. "Kau mau bilang kalau Kyuhyun-ah masih pingsan semenjak tadi?"

"Tentu saja!" Changmin meremas rambutnya dengan geram. "Kyuhyun-ah pingsan sedari tadi, dan hyung….hyung…."

"Kyuhyun-ah hanya pura-pura pingsan, dia memintaku untuk…"

"DIA TIDAK PURA-PURA!" Changmin benar-benar frustasi sekarang. Dengan kemarahan yang memuncak, dibukanya pintu kamarnya lebar-lebar. "Yunho hyung bisa lihat sendiri, dia masih saja seperti itu semenjak tadi! Kenapa hyung tidak memanggil uisa? Kenapa hyung malah mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal?"

"Itu tidak mungkin!" Yunho dengan kesal masuk ke dalam kamar. Langkahnya terhenti di sisi Changmin. Ia memandang Kyuhyun yang masih terbaring dengan wajah kebingungan. "Aku tidak membohongimu, Changminie. Tadi Kyuhyun-ah memang nyaris jatuh tetapi aku sempat menolongnya. Lalu ia memintaku membantunya berpura-pura pingsan. Jadi, bagaimana mungkin…."

"APA YANG TIDAK MUNGKIN?!" Changmin mendekati Kyuhyun dan menggenggam salah satu tangan sahabatnya. "Tangannya tadi begitu dingin, bagaimana dia tidak apa-apa?!"

"Tapi…."

"Kalau hyung tidak bersedia memanggil uisa, seharusnya hyung berterus terang! BIAR AKU YANG MENJEMPUT UISA SENDIRI!"

"CHANGMIN! JAGA KATA-KATAMU!"

Keduanya nyaris bertengkar hebat kalau saja tidak terdengar suara dari ranjang di mana Kyuhyun terbaring.

"….Kenapa kalian begitu berisik?"

Ketika keduanya menoleh. Kyuhyun tampak mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar.

"….Ada apa? ….Kalian bertengkar?" Kyuhyun mencoba membuka matanya namun mata itu tampak begitu berat.

"Kyuhyun-ah, bagaimana keadaanmu?" Changmin menggenggam erat tangan Kyuhyun. "Bertahanlah, kita ke rumah sakit, arra?"

"M….wo?!" Kata 'rumah sakit' langsung membuat mata Kyuhyun terbuka lebar. Ia mengerjap dua kali sebelum benar-benar melihat Changmin dengan pipi menggembung. "Aku tidak sakit!"

"Tapi tadi kau pingsan!"

"Pingsan?" Kyuhyun memiringkan kepalanya sejenak sambil berpikir. Ketika matanya menangkap sosok Yunho, ingatannya segera pulih. "Ah, aku hanya pura-pura."

"APA?"

Changmin melepaskan tangan Kyuhyun dan menegakkan tubuhnya dengan tegang.

"Aku memang terjatuh tetapi Yunho hyung menolongku. Lalu aku memintanya untuk mengikuti permainanku." Kyuhyun menjelaskan dengan kepala sesekali terangguk karena kantuk. "Kau lalu membawaku ke tempat tidur…. Sangat nyaman…. Aku lelah sekali hari ini, jadi tahu-tahu aku tertidur."

"TERTIDUR?"

Yunho nyaris tertawa melihat wajah Changmin saat memandang Kyuhyun. Tetapi ia langsung memasang wajah marah saat Changmin menoleh ke arahnya dengan perasaan bersalah. Namun sepertinya pikiran Changmin penuh dengan Kyuhyun. Bukannya meminta maaf, magnaenya itu justru kembali memandang sahabatnya.

"Kyuhyun-ah…. Kenapa kau selalu membodohiku?" rengek Changmin dengan wajah memelas yang dibalas Kyuhyun dengan pandangan menegur.

"Siapa yang membodohimu? Aku sangat kesal denganmu, kau tahu?!" Kyuhyun mengerucutkan mulutnya. "Super Junior comeback dan aku menulis thanks note untukmu, tapi kau tidak mengatakan apapun! Aku menjadi dance line di Bonamana, berdiri berjajar bersama Eunhyuk hyung, Donghae hyung dan Shindong hyung, tapi kau tidak menontonnya! Aku melakukan sliding dan semua orang memujiku, tapi kau diam saja! Kau bahkan tidak tahu aku ke sini dengan terpincang-pincang dan tangan terluka akibat sliding! Kau juga tidak tahu bagaimana sedihnya saat Kibum hyung resmi hiatus dan Kangin hyung memutuskan untuk menjalani ke pelatihan militer!"

"Kenapa kau tidak bilang…."

"SIAPA YANG TIDAK BILANG?! Aku selalu ke sini dan menceritakan semuanya, tetapi kau hanya sibuk meratapi nasibmu!"

"Jadi kau marah karena aku tidak memperhatikan semua itu?"

"TIDAK!" Kyuhyun melemparkan sebuah bantal ke arah Changmin. "Aku marah karena merasa gagal membujukmu! Aku marah karena semua yang aku lakukan dan raih tidak bisa membuatmu bergerak dari kamar ini! Jadi aku terpaksa berpura-pura pingsan untuk memancingmu keluar!"

"Jangan berbuat begitu lagi!" Changmin berdiri dengan kesal.

Melihat mereka berdua sibuk dalam dunia mereka, Yunho diam-diam meninggalkan kamar.

"Kau tidak tahu betapa cemasnya aku tadi! Aku bahkan berjanji akan menuruti apapun kata-katamu; Tidak akan membantahmu lagi asalkan kau bangun!"

"Aku sudah bangun, ….tapi dari tidur." Kyuhyun tak mampu menahan smirknya. Ia sangat senang mendengar hal itu. "Apa kau akan menepati kata-katamu?"

"Kau tidak sakit, jadi…."

"Jadi itu tidak berlaku?" potong Kyuhyun dengan pandangan yang membuat kemarahan Changmin menguap. Changmin merasa sebilah pisau tengah ditempelkan ke lehernya saat melihat sorot mata itu. "Aku memintamu keluar dari kamar dan berlatih bersama Yunho hyung agar kau siap jika sewaktu-waktu kalian berdua kembali ke atas panggung. Kau mau melakukannya atau tidak?"

"Aku…." Changmin memandang Kyuhyun sejenak dan terpaksa menelan ludah ketika tekanan yang ia terima dari sorot mata sahabatnya begitu kuat. "Aku akan melakukannya."

"Lakukan sekarang juga," tandas Kyuhyun.

"Aku akan melakukannya sekarang," jawab Changmin dengan suara pelan.

"Bagus, kalau begitu aku akan tidur sebentar lagi. Aku sangat mengantuk." Kyuhyun kembali berbaring setelah mengambil bantal yang dilemparkannya tadi. "Cepat berlatih!"

"Tapi, Kyuhyun-ah…."

Kyuhyun mengibaskan tangannya memberi kode agar Changmin keluar menemui Yunho. Changmin bergerak dengan enggan ke arah pintu, namun ia tidak berani membantah Kyuhyun. Di ruang tengah, Yunho menyambutnya dengan senyum lebar. Changmin merasa malu, menyadari selama ini ia melupakan orang-orang di sekitarnya. Lupa bahwa Yunho juga mengalami kesedihan yang sama dengannya apalagi dengan posisi Yunho sebagai seorang leader.

Ketika jarak mereka begitu dekat, Changmin justru kembali menangis. Tangisnya semakin keras ketika Yunho merangkul kepalanya. Biasanya hyungdeul yang lain yang akan melakukan hal itu saat ia menangis. Tetapi kali ini Yunho melakukan untuknya. Changmin bertekad akan melakukan hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk hyungnya itu.

.

.

3 Juni 2010

Pagi ini, tidak seperti hari-hari kemarin, Changmin bangun sejak pagi. Ia sudah berolahraga, mandi, dan sekarang menyiapkan sarapan. Sesekali namja itu bersenandung mengikuti lagu yang sedang diputarnya. Latihan kemarin membuat sel-sel tubuhnya yang selama ini tidak berlatih, mendapat apa yang mereka inginkan. Ia pun merasa lebih bugar dan bersemangat.

neoneun damjang neomeolo ppeod-eun namu gajiui puleun yeolmaecheoleom

(*Kau seperti buah-buahan segar pada cabang pohon dengan pagar yang mengitarinya)

hananim-ui gwihan chugbog-i salm-e gadeughi neomchyeonalgeoya

(*Berkat Allah yang berharga akan mengisi hidupmu hingga melimpah)

neoneun eotteonsilyeon-i wado neunghi igyeonael ganghan pal-i iss-eo

(*Tangan Allah yang kuat ada untukmu, cukup untuk mengatasi semua kesulitan)

jeonneunghasin hananimkkeseo neowa eonjena hamkke hasini

(*Allah Yang Maha Kuasa bersamamu, selalu bersamamu)

neoneun hananim-ui salam aleumdaun hananim-ui salam

(*Kau adalah umat Allah, orang yang berharga bagi Allah)

naneun neol wihae gidohamyeo ne gil-eul chugboghalgeoya

(*Aku akan berdoa untukmu dan aku akan memberkati hidupmu)

neoneun hananim-ui seonmul salangseuleon hananim-ui yeolmae

(*Kau adalah anugerah Allah, dan buah kesukaan Allah)

juui pum-e kkochpiun namuga doeeojwo

(*Jadilah pohon berkat yang berkembang sempurna dalam tangan Allah)

Yunho tertegun mendengar lagu itu, lagu yang diputar cukup keras hingga terdengar dari luar pintu kamarnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat Changmin membalik telur sambil menyenandungkan lagu itu.

"Changmin-ah, ini lagu yagob-ui chugbog bukan?"

"Ne," jawab Changmin tanpa menoleh. Ia kini memasukan sosis ke dalam wajan.

Yunho mendengarkan lagu itu dengan seksama.

"Ini….suara Kyuhyun? Kenapa rekamannya ramai sekali?"

Changmin tidak menjawab. Ia sibuk meletakkan sosis yang sudah matang ke dalam piring dan menatanya sedikit sebelum membawa dua piring besar itu ke meja makan.

"Dia menyanyikannya di gereja. Aku merekamnya." Changmin duduk sambil memberi kode kepada Yunho untuk menemaninya makan. "CD ini berisi nyanyian-nyanyian pertamanya sesudah sembuh dari kecelakaan. Sebelum ia naik ke panggung manapun. Rekaman yang sangat berharga untukku. Mendengarkannya hari ini, aku seperti mendapat kekuatan."

Changmin tersenyum. Ingatannya melayang pada pertengahan agustus 2007, saat ia mengunjungi Kyuhyun ke rumahnya di Nowon di sela-sela kesibukan DBSK. Ia masih ingat betapa terkejutnya ia mendapati kesibukan yang ada di rumah sahabatnya.

"Ooooh, Changmin sshiiiiiii."

Sapaan ramah khas Kim Hanna menerpa telinganya, disusul dengan pelukan hangat wanita itu. Sebelum Changmin sempat menyahut, ia sudah digandeng ke dalam. Cho Younghwan keluar dari salah satu pintu dengan pakaian jas lengkap.

"Kyuhyun-ah ada di dalam." Cho Younghwan mempersilahkan setelah membalas sapaan hormat dari Changmin.

Changmin kembali menundukkan tubuhnya sedikit sebelum beranjak ke kamar Kyuhyun. Di dalam, sahabatnya itu juga sudah berpakaian rapi, mengenakan jas dengan kaus bergaris hitam putih di bagian dalam. Changmin meringis melihat celana panjang yang dikenakan Kyuhyun tampak kebesaran akibat berat tubuhnya yang turun begitu banyak.

"Kalian hendak ke mana?"

"Ke gereja." Kyuhyun tersenyum ke arahnya sebelum mengambil Alkitab yang diletakkan di atas nakas. "Hyungdeul memberi tanda-tanda baik. Aku rasa bisa kembali ke dorm minggu depan untuk rekaman album kedua. Jadi…."

"Mwo? Apa orangtuamu sudah tahu?"

"Aku menunggu kabar pasti dari hyungdeul. Jika sudah ada, aku akan membujuk appa dan eomma."

"Tapi Kyuhyun-ah, kau belum pulih. Lagipula, kau masih…masih..."

"Masih mengenakan kantung ini?" Kyuhyun menepuk pinggang bagian kanannya sambil tersenyum. Ia berbicara begitu ringan padahal Changmin sendiri tidak tega mengatakannya. "Kata uisa tidak masalah. Asal aku berhati-hati, aku bisa melakukan dance. Hyungdeul sudah mengatur semuanya."

"Kyuhyun-ah…." Changmin benar-benar tak habis pikir dengan semangat Kyuhyun. Ia hanya bisa memandang dengan pandangan pasrah karena apapun yang ia katakan tidak akan bisa mencegah sahabatnya.

"Sudah, jangan pasang wajah seperti itu. Kau mau ikut atau kembali pulang?"

Kyuhyun mendorong Changmin keluar kamar dan mengunci pintu dari luar.

"Kau selalu mengunci pintu kamarmu?" tanya Changmin keheranan.

"Aku selalu melakukannya sejak bersama Yesung hyung di dorm." Kyuhyun tertawa namun matanya tampak sedikit redup. "Kadang aku berharap ada di dorm dan Yesung hyung menyusup ke dalam kamar tidurku…. Aigoo, aku sangat merindukan hyungdeul…"

"Sebentar lagi kau akan bertemu mereka bukan?" Changmin merutuki mulutnya sendiri yang dengan begitu saja menghibur sahabatnya, padahal ia sama sekali tidak setuju Kyuhyun kembali dengan cepat ke panggung.

"Karena itu, aku ingin memberikan beberapa lagu pujian di gereja."

Changmin menautkan keningnya karena tidak mengerti. Kyuhyun tertawa dan menepuk bahu Changmin sambil mengajaknya ke ruang duduk.

"Aku baru saja diberi kesempatan hidup yang kedua. Dan aku benar-benar bersyukur karena suaraku masih bisa aku pergunakan." Kyuhyun terdiam, mencoba menekan perasaan haru yang meluap dari dalam dirinya. "Karena itu, aku ingin berterima kasih kepada Allah yang mendengarkan permohonanku saat sekarat. Aku ingin mempersembahkan suaraku pertama kali untukNya, sebelum aku bernyanyi di atas panggung untuk yang lain."

Tanpa berpikir panjang, Changmin memilih mengikuti Kyuhyun. Saat sahabatnya itu menyanyikan beberapa pujian, ia langsung merekamnya, meski ia tahu rekaman itu akan ditimpali banyak suara-suara lain yang ikut bernyanyi bersama Kyuhyun.

ju hananim jieusin modeun segye nae ma-eumsog-e geulieobolttae

haneul-ui byeol ullyeopeojineun noeseong junim-ui gwonneung ujue chassne

(*Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,

ya Allahku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.)

junim-ui nopgo widaehasim-eul naeyeonghon-i chanhyanghane

junim-ui nopgo widaehasim-eul naeyeonghon-i chanhyanghane

(*Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!

Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!")

Changmin tertegun ketika Kyuhyun melakukan tarikan suara yang tinggi dan begitu panjang. Serentak semua yang tadi ikut bernyanyi mulai menangis. Namun saat Changmin melihat wajah-wajah itu, ia sadar bahwa itu bukanlah tangisan kesedihan melainkan tangisan kebahagiaan atas keajaiban yang dialami oleh Kyuhyun.

"Yunho hyung, saat dia melakukan high tone di akhir lagu, jantungku nyaris berhenti," jelas Changmin saat lagu How Great Thou Art berkumandang di sekelilingnya. "Aku benar-benar takjub apalagi sekelilingku mulai menangis."

Yunho menantikan penghujung lagu, dan semua yang diceritakan Changmin bisa tergambar dengan jelas di benaknya karena suara-suara yang terdengar dari rekaman, juga suara Kyuhyun yang melakukannya dengan sempurna.

"Dia memang selalu mengagumkan seperti yang kau bilang." Yunho tersenyum dan duduk di meja makan. "Magnaeku tak kalah mengagumkan. Kau harus semakin kuat seperti dia, arrachi?"

Changmin mengangguk sambil tersenyum lebar. Untuk beberapa saat mereka terdiam menikmati sarapan sambil mendengarkan suara Kyuhyun menyanyikan beberapa lagu.

"Aku tadi membuka hadiah ulang tahun dari Kyuhyun. Isinya 23 musik instrumental lagu-lagu miliknya."

"Oh ya?"

"Ne, setiap satu lagu untuk satu tahun umurnya. Karena tahun ini kami berumur 23 tahun (*umur Korea) maka dia memberikan aku dan hyungdeulnya 23 lagu itu. Dikirim ke HP kami semua. Hyung tahu apa bagian yang menjengkelkan?"

"Selalu ada bagian yang menjengkelkan jika berkaitan dengan Kyuhyun-ah," ucap Yunho sambil tersenyum. "Apa itu?"

"Dia mengirimkan semua itu agar bisa bernyanyi dengan diiringi musik-musik yang ada di HP kami. Tanpa menggunakan HP-nya sendiri."

"Kau tahu dari mana? Bukankah kau baru membukanya?"

"Aku dapat bocoran dari member Super Junior yang lain." Mata Changmin berbinar senang. "Aku tidak sabar menunggunya bernyanyi dengan lagu yang ada di HP-ku."

"Kau sangat menyukai suaranya." Yunho tergelak. Ia kadang tidak habis pikir, Changmin yang terkenal cuek kepada orang lain, sangat berbeda jika menyangkut Kyuhyun.

"Bukan hanya suaranya. Dia satu-satunya orang yang mengenalku, benar-benar mengenalku, dan berani menantangku jika aku melakukan kesalahan."

"Lebih mengenalmu daripada kami eoh?"

Changmin meringis. "Mianhe, hyung, kata Kyuhyun-ah, hyungdeul dan sahabat memiliki tempatnya masing-masing. Bahkan aku tidak boleh cemburu kepada hyungdeul-nya."

Yunho tergelak lebih keras dari sebelumnya. Ia meraih sepotong roti lagi. Melihat Changmin begitu bersemangat membuat nafsu makannya ikut membaik. Selama ini ia sangat mengkhawatirkan magnae-nya itu.

"Hyung, kita latihan pagi saja sehabis sarapan. Aku akan mengajak Kyuhyun-ah makan nanti malam. Sudah lama aku tidak berjalan-jalan ke luar dorm," kata Changmin dengan antusias. "Aku ingin mengajaknya ke game center juga."

Mendengar itu Yunho menghentikan suapannya. Ia menatap Changmin hingga sang magnae merasa jengah.

"Waeyo, hyung? Kau tidak senang aku ijin keluar?"

"Changmin-ah, apa Kyuhyun-ah tidak mengatakan kepadamu hal penting?"

"Tentang?" Changmin berpikir sejenak lalu menepuk kepalanya dengan kesal. "Ah, aku lupa kalau Super Junior baru saja comeback. Apa dia sibuk dengan jadwal promo?"

Yunho terdiam sejenak, menimbang apa yang harus ia katakan.

"Changmin-ah, Kyuhyun-ah sedang menjalani operasi telinga saat ini. Di rumah sakit Gangnam."

"MWO?!"

.

TBC

.

.

Tadaaaaaaa akhirnya selesai juga chapter ini,

Selamat membaca

Terima kasih sudah mengikuti ff ini sampai sekarang

Terima kasih juga untuk yang sudah bersusah payah mereview.

Review kalian menjadi semangat tersendiri

Kamsahamnisa