Annyeong! Yuya kembali. Terimakasih atas REVIEWS luar biasa dari kalian. Yuya sangat bersemangat ngetik, walau terganjal ide yang sempat buntu. Sekarang Yuya mau balas review satu2 ya!
Mitcloud: ini udh lanjut. Btw, boleh minta review yg lbh byk,,, hhe~ Biar tmbh smgt, tp makasih ya
Kyumin13: wah kok untung NCnya diSKIP? Hhe~ NC-ku gatot kok. Btw, makasi udh rela2in begadang semalaman Cuma untuk baca. :)
JewelsStar: mantranya dari bahasa Itali. Makasi pujiannya dan reviewnya. Keep reading ya!
Diavolos: sepertinya memang harus begitu. HaeHyuk? Blm kepikiran. Mungkin~
CHyeRaa: Wah, bacanya sekaligus ya? Jadi bisa lgsg nebak gtu… makasi udh review
Iam E.L.F and JOYer: yah~ salah terus ya chingu? Ga ap2… Tetap baca aja! Gomawoyo udh review di semua chap!
May AngelBunny: sepertinya begitu deh… hehe :) makasih for review!
Han: anak siapa ya? Hhe… Keep reading and gomawo :)
Cho Kyuri Mappanyukki: main guling2an donk berdua? Hahaha~ makasih ya~
Brigitta Bukan Brigittiw: Kibum kapan datangnya? Belum kepikiran… Ada idekah? Haduuuh~ btw, gomawo udh komen terus apalagi pernah mampir di WP. Makasih byk!
Hukiie: udah lanjuuuuut~ Tambah lagi reviewnya biar ga Cuma lanjuuut ya,,, Hehehe~ makasih
Liaa: iiih~ Lia sok tempe deh #cubit pipinya# Twitter aku: _YLS_ (with Double underscore) ada di Profile kok~ hhe…
Sekian balasan reviews dari Yuya. Maaf jika ada nama yg salah penulisan dan jika ada yang terlewat. Yuya melihat dari email, karena beberapa REVIEW tidak masuk ke kolom review di FFn. Trmksh atas partisipasinya~ SELAMAT MEMBACA!
Seorang namja manis masuk ke dalam kelas dengan terburu-buru. Sejak tadi pagi namja bermarga Cho itu selalu mengikutinya. Ia merasa kesal, terlebih lagi ia sulit berjalan dengan baik. "YA! LEE SUNGMIN! TUNGGU!", teriak namja tampan itu sebelum Sungmin—namja manis—masuk ke dalam kelasnya.
Sungmin membanting tas ranselnya ke atas meja. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Saat ini ia tidak ingin bertatap muka dengan Cho Kyuhyun, apalagi berbincang dengannya. Kyuhyun tidak menyerah, justru ia semakin penasaran kenapa Sungmin mengacuhkannya sejak ia menjemput namja itu di depan kamarnya. Kyuhyun duduk di kursi depan meja Sungmin.
"Minnie-ah, kamu kenapa?", tanya Kyuhyun sambil menarik tangan Sungmin, meminta perhatian namja manis itu. Sungmin tidak menjawab. Ia menarik tangannya ke sisinya.
"Hei, katakan apa salahku?".
Sungmin menarik napas panjang. Ia ingin sekali memukul kepala Kyuhyun dengan pasak bumi untuk bangunan yang beratnya berton-ton itu. Biar saja namja itu rata oleh tanah. Sungmin tidak peduli. 'Kyuhyun itu bego atau benar-benar bego?', batin Sungmin mencibir. Ia tidak habis pikir bagaimana namja itu menanyakan hal sebodoh itu.
SREEEET! Pintu kelas terbuka, menampilkan sosok seonsaengnim di kelas pagi itu. Seonsaengnim itu tidak sendiri, tapi ia bersama dengan seorang namja—berpakaian casual—yang terlihat seperti siswa baru. Namja itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas yang akan menjadi tempat belajar barunya. Sudut matanya berhenti saat ia melihat KyuMin sedang berbincang. Lengkungan senyum terpatri di wajah itu.
"EHEM! Cho Kyuhyun! Bisakah kamu kembali ke tempatmu?", tanya seonsaengnim dengan nada menyindir.
Kyuhyun cemberut. Ia melangkah gontai ke mejanya, sedikit tidak rela meninggalkan permasalahannya dengan Sungmin yang belum terselesaikan. Sungmin tersenyum senang. Kali ini ia selamat oleh kedatangan seonsaengnim-nya.
"Perhatian, anak-anak. Ini adalah murid pindahan dari Hexe Middle High School di luar kota, jadi tolong bantuan kalian untuk ia beradaptasi.", kata Seonsaengnim singkat.
"Annyeong, Junsu imnida. Bangapseumnida.", ujar namja pindahan itu ramah.
"Kenapa kamu pindah di akhir semester seperti ini? Bukannya kamu hanya tinggal menyelesaikan ujian akhir?", tanya beberapa siswa bingung.
Saat Sungmin pindah ke sekolah itu, masih bisa diterima karena ia datang di awal tahun ajaran akhir. Kali ini terkesan aneh. Namja itu datang di semester akhir, terlebih lagi dari luar kota. Ada apa sebenarnya? Sepanjang sejarah, IHSOL tidak pernah menerima murid di akhir-akhir tahun seperti ini. Para siswa kelas itu adalah siswa pintar. Mereka mencium hal aneh di sini. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh petinggi sekolah.
Junsu tersenyum simpul. "Karena sekolahku rusak tersapu badai. Aku mencoba ujian masuk di sekolah ini. Syukurnya aku lulus dan nilai-nilai di sekolahku sebelumnya sesuai dengan standard sekolah ini. Aku hanya menumpang sampai ujian akhir. Mudah-mudahan aku juga bisa masuk ke Universitas Of Lunar.", jawab Junsu tenang.
"Oooooh~!", koor para siswa. Alasan yang masuk akal, apalagi Leeteuk seonsaengnim terkenal dengan kebaikannya. Pantas saja namja itu bisa masuk ke sekolah ini.
"Junsu, silakan duduk di meja kosong di depan Sungmin. Sungmin tunjuk tanganmu!", pinta seonsaengnim sambil menunjuk kursi yang sebelumnya diduduki Kyuhyun. Sungmin mengangkat tangannya agar Junsu tahu dimana ia harus duduk.
Junsu melangkah pelan ke tempat duduk barunya. Bokong montoknya tak elak menjadi bahan perhatian baru para SEME di kelas itu, termasuk Kyuhyun. Mereka memandang Junsu dengan lapar. Ck! Dasar SEME! Junsu sampai di depan Sungmin. Ia menjulurkan tangannya, memperkenalkan diri. Sudut mata Sungmin melihat Kyuhyun yang masih memandang Junsu tanpa kedip. Setelah Junsu duduk di kursinya, Sungmin menatap tajam ke arah Kyuhyun.
"Cho Kyuhyun, lihat saja nanti!", bisik Sungmin yang masih bisa dibaca bahasa bibirnya oleh Kyuhyun. Namja tampan itu menelan ludah kecut, terutama ketika Sungmin mengarahkan tangannya seperti akan memenggal lehernya sendiri.
"Mati aku!", lirih Kyuhyun ketakutan. Ia memalingkan wajahnya ke arah papan tulis, berusaha menghindari tatapan murka dari Sungmin.
.
Yuya Matsumoto
_Proudly Present_
Sungmin's Mystery Of Life
[ SMOL ]
Chapter 8: Regret
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
"Siwon-ah, kamu kenapa?", tanya Heechul khawatir.
Namja cantik itu melihat Siwon berjalan dengan napas berat ke arah ruang kerjanya. Siwon merambat di sisi dinding, seakan mencari penompang untuk dia berjalan. Ini bukan pertama kali Heechul melihat keadaan Siwon melemah seperti itu. Namja cantik itu sedikit khawatir dengan keadaan suaminya. Ia merangkul tubuh Siwon. Suhu tubuhnya meningkat, pantas saja ada jejak keringat di pelipisnya.
"Gwenchana, yeobo. Jangan khawatir.", kata Siwon menepis uluran tangan Heechul yang ingin memapahnya.
Heechul bersikeras. Ia merengkuh tubuh Siwon, memeluknya dari samping. "Ayo kita kembali ke kamar. Urusan kerajaan biar aku yang urus dulu. Jangan membantah! Ini perintah!", ucap Heechul tegas sebalum Siwon mengeluarkan satu patah kata pun.
Heechul membantu Siwon untuk berbaring di atas ranjang. Namja cantik itu khawatir melihat keadaan Siwon yang terus melemah setiap harinya. Terkadang Siwon akan terlihat sangat kuat, namun itu hanya sandiwara sang pangeran. Sejak belasan tahun lalu tubuh Siwon digregoti 'sesuatu' yang selama ini ditakutkan Heechul. Boomerang untuk kerajaan Monster di masa depan.
Heechul melepaskan pakaian Siwon yang mungkin menyulitkannya bernapas dan menyingkirkan sepatunya agar pangeran itu bisa tidur dengan nyaman. Namja cantik itu benar-benar bersikap layaknya seorang pendamping yang baik. Setelah Heechul menyelimuti tubuh Siwon, ia membersihkan kening Siwon yang berkeringat. "Jangan sok kuat. Aku tahu kamu melemah. Istirahatlah. Kerajaan ini memerlukanmu. Hanya kamu satu-satunya pangeran sejak dia dibuang olehmu.", ucap Heechul sedikit tercekat pada kalimat terakhir. Kenangan buruk dan kesedihan menyelimutinya.
Siwon menahan kepergian Heechul, menarik tangan namja cantik itu. "Jangan menyebutkan perihal dia di dekatku.", pinta Siwon dengan suara yang serak.
Heechul menatap wajah Siwon dengan mata kucingnya yang berubah merah. "Wae? Dia itu adik kandungmu. Jika dia masih hidup, kamu tidak akan menderita seperti ini. Seharusnya dia yang memimpin kerajaan ini.", tanya Heechul, merasa sudah lelah menahan rasa sakitnya selama berbelas tahun ini.
Siwon mendudukkan dirinya perlahan, bersandar pada sisi ranjang. "Seandainya kamu mau menuruti kemauanku. Aku tidak akan seperti ini. Ayolah, Chullie. Kita coba saja.", usul Siwon, terlihat sedikit putus asa.
Heechul menepis tangan Siwon lembut. "Tidak. Kamu tahu kita tidak mungkin mencobanya sekarang. Semua sudah terlambat.", tolak Heechul atas permintaan Siwon sebelumnya. Ia melangkah pergi dari dekat ranjang itu.
Heechul berhenti di depan pintu kamar mereka. Ia menoleh ke arah Siwon yang sedaritadi tidak pernah melepaskan perhatiannya dari Heechul. "Kenapa kau tidak mencobanya dengan Kepala Pelayan itu? Aku rasa dia mau menuruti semua permintaanmu seperti yang selama ini kalian lakukan.".
BLAM! Pintu kamar tertutup. Siwon memandang sedih bayangan Heechul yang telah menghilang di balik pintu. Penyesalan merayap ke dalam hati Siwon. Selama ini Heechul sudah menjaganya dan kerajaan Monster dengan sangat baik. Ia tidak pernah melihat Heechul mengeluh, walau terkadang Siwon seperti melihat sosok robot di dalam diri Heechul. Namja cantik itu selalu bekerja siang malam di ruang kerjanya atau pun di perpustakaan. Sejak kepergian Minho, adik kandungnya, Heechul jarang sekali menunjukkan senyum di wajahnya.
.
.
(O.O!) FLASHBACK
[Dimensi Monster,
18 YEARS AGO]
.
.
"Dimana Minho?", tanya Heechul yang terlihat panik saat Siwon kembali seorang diri.
Siwon mendelik ke arah 'istri'nya itu. Emosinya masih meluap-luap. Ia tidak ingin menjawab apapun perihal pengkhianat berstatus adiknya itu. Siwon melangkah lebar-lebar dengan sosok monsternya. Daratan Monster sedikit bergetar saat Prinz Monster itu melangkah pergi ke arah istananya. "Ya! Siwon-ah! Katakan padaku!", teriak Heechul, berlari ke arah Siwon yang sudah nampak jauh itu. Heechul melihat sosok Siwon perlahan mengecil ke ukurannya semula.
Namja tampan melangkah gontai ke dalam ruangan pribadinya. Ia ingin menenangkan dirinya. Sebenarnya ia menyesal telah memberikan hukuman seberat itu kepada adik satu-satunya, penerus kerajaan Monster. Siwon menelengkupkan wajahnya di kedua tangannya. Sebuah sentuhan meraba punggung lebar Siwon, mencoba menyalurkan ketenangan padanya. Siwon masih pada posisinya, meresapi aroma tubuh yang terkuar dari orang itu.
Perlahan, Siwon menyentuh tangan orang itu yang kini berada di bahunya. Mata Siwon terpejam, tapi ia bisa merasakan kenyamanan di sisi orang itu. Merasa mendapat persetujuan dari sang pangeran, orang itu menumpu wajahnya di bahu Siwon. Ia memeluk Siwon dari belakang, sesekali mengelus kedua bahu Siwon dengan sayang.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik, chagi. Kemurnian darah kerajaan ini adalah yang terpenting. Jangan pernah merasa bersalah, karena kamu telah melakukan kewajibanmu.", bisik orang itu.
Siwon tersenyum miris. Dua hal bertentangan yang harus ia dahulukan, antara keharmonisan kerajaan Monster atau penerus kerajaan ini. Ia harus memilih, walaupun ia harus mengorbankan adiknya sendiri. Hidup itu memang kejam.
"Gomawo, Jae-ah! Kamu selalu ada di setiap masa tersulitku.", ucap Siwon, membalas belaian Jaejoong pada tubuhnya. Siwon menarik Jaejoong ke atas pangkuannya. Ia mengecup bibir Jaejoong singkat. "Aku menginginkanmu.", bisik Siwon seduktif.
Jaejoong tersenyum tipis. "Tapi… Bagaimana jika Heechul mengetahui hubungan kita?", tanya Jaejoong sedikit ketakutan.
Siwon menyesap leher jenjang Jaejoong. "Tenang saja. Aku sudah meminta penjaga untuk tidak membiarkan ia menggangguku. Lagipula selama ini Heechul terlalu sibuk dengan semua urusannya tentang Minho dan kerajaan ini.", jelas Siwon sambil tangannya menjamah tubuh molek Jaejoong. Namja—berwajah tak kalah cantik dari permaisuri itu—tersenyum kemenangan saat kekasih gelapnya mulai menikmati tubuhnya.
.
.
(!ToT)
.
.
BUUUK! BUUUUK! BUUUUK! Pintu digedor dengan keras. Suara gaduh mengusik tidur dua namja polos di dalam ruangan itu. Jaejoong terbangun lebih dulu, merapikan penampilannya. Ia membangunkan Siwon yang enggan untuk meninggalkan alam mimpinya.
"YAAAA! CHOI SIWON! Våkn opp! Jeg vil snakke! VIKTIG!", teriak Heechul dengan bahasa bangsawan Monster yang hanya dimengerti oleh segelintir Monster di dimensi itu. Sepertinya Heechul ingin menunjukkan siapa dia sebenarnya kepada siapa pun yang berada di dalam ruangan itu bersama suaminya.
Siwon terduduk kaget di atas ranjang. Tiba-tiba ia merasa dirinya tidak mengantuk lagi. Ketakutan lebih mendominasinya. Bagaimana jika Heechul tahu ia berselingkuh? Apa kata para bangsawan lainnya? Bisa-bisa ia dilengserkan dari jabatannya saat ini! Pikiran buruk menghantui Siwon. "Jae-ah, cepat keluar lewat pintu rahasia. CUP! Lakukanlah seperti biasanya.", pinta Siwon sambil mencium bibir Jaejoong kilat, sebelum ia berpakaian seadanya.
"Baiklah. Jaga dirimu. Saranghae!", balas Jaejoong, masuk ke dalam sebuah pintu yang tiba-tiba terbuka setelah Siwon menekan tombol di meja samping ranjangnya.
Siwon bergegas ke depan pintu, membukakan jalan untuk Heechul. Namja tampan itu mendapati sosok Monster Heechul. Permaisuri anggun berubah menjadi kucing liar. Siwon meningkatkan aura pelindung pada jiwa Monsternya. Ia tidak ingin menyakiti namja yang paling dicintainya itu.
"Hvorfor sålenge?", tanya Heechul masih dengan bahasa Monsternya. Ia masuk ke dalam ruangan pribadi Siwon, duduk di salah satu sofa.
"Aku baru bangun tidur. Kenapa sih?", tanya Siwon kesal. Ia merasa 'istri'nya itu sedikit berlebihan malam ini.
"Tidur katamu? Bisa-bisanya kamu tidur di siang bolong setelah apa yang kamu lakukan kepada Minho. Morder!", bentak Heechul tepat di wajah Siwon.
Namja kekar itu tidak menyukai bahasa bangsawan Monster, terlebih lagi jika digunakan untuk memakinya. Tangan Siwon hampir melayang ke pipi kiri Heechul, jika saja tidak ditahannya. Ia sangat tidak ingin menyakiti Heechul.
Heechul menarik pergelangan tangan Siwon. "Kenapa kamu tidak memukulku? Pukul aku! Bunuh aku! Lakukan seperti apa yang kamu lakukan kepada Minho!", amarah Heechul tanpa rasa takut sama sekali.
Bukannya memukul, Siwon memeluk Heechul. "Mianhae. Mianhamnida. Jangan seperti ini, chagi!", bisiknya lirih, merasa bersalah. Ia tahu benar arti Minho bagi Heechul.
SREEEET! Heechul terjatuh ke atas lantai, masih dalam pelukan Siwon. Ia menangis, meraung-raung. Rasa sakit dalam hatinya membakar akal sehatnya. "Kenapa? Dia… Dia… Kamu tahu dia itu minkjære bror. Kembalikan Minho! Kembalikan dia!".
Siwon merasakan tubuh Heechul yang melemah dalam pelukannya. Heechul pingsan dengan tangisan yang membasahi dadanya. "Jeg beklager!", lirih Siwon menyesal.
.
.
(O.O!) FLASHBACK END
.
.
"Agassi, gwenchana?", tanya Yunho khawatir saat Taemin mengerang kesakitan dalam tidurnya. Tubuh yeoja itu basah kuyup. Tubuhnya bergerak gelisah. Yunho bingung harus berbuat apa.
"LEETEUK-ssi!", jerit Yunho memanggil Leeteuk dan Kangin yang berada di lantai bawah, perpustakaan kastil itu.
Dalam hitungan detik kedua namja itu sudah berada di ruang atas kastil, dimana Taemin berbaring. "Ada apa?", tanya Leeteuk panik. Ia tahu pasti jika Yunho berteriak, berarti ada yang tidak beres dengan agassi mereka.
"Aku tidak tahu. Tadi dia bilang ingin tidur, tapi lihat! Dia terlihat kesakitan. Aku berusaha membangunkannya, tapi nihil. Sebenarnya ada apa dengannya? Agassi tidak pernah seperti ini. Aku tidak memiliki ramuan penyembuh apapun. Apa yang harus aku mmmphh… mppph…".
Kangin membekap mulut Yunho yang tidak berhenti bicara saat panik seperti ini. "Berisik!", omel Kangin yang sebenarnya bingung harus berbuat apa—sama seperti Leeteuk yang hanya memandang hampa ke arah yeoja di depannya.
Leeteuk mengelus surai Taemin lembut. Ia menghapus jejak air di pelipis yeoja manis itu. "Bawakan 'itu', Kangin-ah! Ada di bawah.", pinta Leeteuk.
Kangin segera mengambil apa yang diminta Leeteuk. Tak berapa lama ia sudah datang dengan segenggam rempah-rempah halus di tangannya. Leeteuk menaburkan rempah-rempah itu ke pelipis, tenggorokan, dua lengan, perut dan kaki Taemin. Bibir Leeteuk komat-kamit, mengucapkan mantra yang ia anggap benar.
Lambat laun Taemin menjadi tenang. Kelopak matanya bergerak. Kesadarannya kembali. Ia menatap tiga namja yang sedang memandangnya cemas. "Ada apa?", tanya Taemin seperti orang yang tidak mengalami hal-hal aneh sebelumnya.
GREEEP! Yunho memeluk Taemin protektif. "Syukurlah Anda baik-baik saja, agassi.".
"Eh? Memangnya ada apa? Aku hanya tertidur tadi.", tanya Taemin kepada Kangin dan Leeteuk yang ada dalam jangkau pandangnya. Yunho masih memeluk Taemin, takut-takut yeoja itu menjerit kesakitan lagi.
Kangin dan Leeteuk hanya mengangkat bahu mereka, tidak ingin menjawab apapun. 'Ada yang terjadi di sekolah.', batin Leeteuk bertelepati kepada dua namja lainnya. 'Kita harus cepat kembali kesana. Sepertinya ada yang menerobos masuk ke sekolah.', balas Kangin sambil memandang Taemin seperti tidak ada pembicaraan penting di antara ketiganya. 'Kembalilah setelah agassi sedikit tenang. Selanjutnya biar aku saja yang mengurus dia di sini.', ujar Yunho dalam telepatinya. Ia masih memeluk Taemin, menghindari tatapan dari yeoja itu.
.
.
\(^w^)/…::YuyaLoveSungmin::…\(^0^)9
.
.
"Yoochun-ah! Ada apa dengan Sungmin?", tanya Kyuhyun kepada Yoochun di saat mereka sedang makan siang di cafetaria.
Yoochun menghentikan acara memakan serealnya. Ia mengerutkan dahinya. "Seharusnya aku bertanya kepadamu. Sejak kemarin ia terlihat murung dan sering melamun. Sekarang dia justru dekat sekali dengan anak baru itu. Kamu melakukan apa padanya?", ujar Yoochun justru balik bertanya pada namja jenius itu.
Kyuhyun meletakkan botol minuman sodanya dengan kasar ke atas meja. "Aku tidak tahu. Siapa sih namja itu? Dia mudah sekali mendekati Sungmin.". Kyuhyun kesal dengan sikap Sungmin yang mendiamkannya dan beralih pada namja yang belum sehari dikenalnya.
Yoochun tertawa lepas, menyemburkan sisa sereal di dalam mulutnya. "Ah, mianhae. Mian!", katanya meminta maaf, karena semburannya mengenai Kyuhyun. "Sungmin itu easy going. Ia mudah bergaul. Selama ini kamu terlalu overprotektif padanya. Sungmin jadi tidak bisa memiliki banyak teman. See! Aku dulu sebal padanya, tapi sekarang kamu seperti teman sekamar yang baik kok.".
"Ya! Kenapa menyalahkanku?". Kyuhyun tidak terima dikatakan seperti itu oleh Yoochun. "Darpada berlama-lama bicara denganmu, lebih baik aku bertanya langsung pada Sungmin.", kata Kyuhyun sebelum meninggalkan Yoochun sendirian di meja itu.
"Terserah!", jawab Yoochun singkat. Dia tidak terlalu ingin ikut campur dalam urusan orang lain. Tidak ada manfaat baginya.
Kyuhyun melangkah kaku ke meja dimana Sungmin, Junsu dan beberapa teman mereka sedang berbincang sambil menyantap makan siang mereka. Sungmin melirik ke arah Kyuhyun sepintas, lalu kembali memakan bulgogi-nya. Kyuhyun tahu Sungmin melihatnya. Hatinya sakit, karena dianggap tidak ada oleh namja manis itu. Sebenarnya dia salah apa?
"Mianhae, boleh aku bicara dengan Sungmin?", tanya Kyuhyun meminta persetujuan kepada temannya yang lain.
"Silakan."
"Terserah."
"Bawa saja dia pergi seperti biasanya."
Jawaban beberapa temannya itu terkesan dingin kepada Kyuhyun. Mungkin benar ucapan Yoochun barusan, ia terlalu memonopoli Sungmin selama ini. Sungmin hanya diam, masih asyik dengan dunianya sendiri.
"Sungmin-ah!", panggil Kyuhyun, berharap namja itu mau menuruti permintaannya. Tidak ada jawaban. "Min!", panggilnya lagi dengan lembut.
Junsu memandang Kyuhyun. "Maaf ya. Sepertinya Sungmin tidak ingin berbicara denganmu sekarang. Tunggu dia selesai makan siang.", usul Junsu, mencoba bersikap netral.
Kyuhyun merasa kesal, apalagi ia dinasihati oleh orang yang sudah dianggapnya sebagai perebut Sungmin. "Aku ingin bicara dengannya sekarang. Kami harus menyelesaikan semuanya detik ini juga.".
PRAAANG! Sungmin membanting sendoknya hingga mengenai piringnya dengan kasar. Mata kelinci itu mendelik ke arah Kyuhyun. "Tidak ada yang perlu dibicarakan, karena kita tidak memiliki hubungan apapun!".
JEDUAAAAR! Seperti disambar petir, Kyuhyun shock mendengar pernyataan Sungmin yang dingin itu. Wah, Mr. Cho! Sepertinya Anda membangunkan harimau tidur. Selamat bersenang-senang dengan kesendirianmu, ! Berusahalah lebih giat untuk mendapatkan kucing manis-mu itu.
.
.
(O.O!)…::TBC::…(^O^)
.
.
Finished on 08 January 2013, 10:29 am, Jakarta, Indonesia
Våkn opp! Jeg vil snakke! VIKTIG! = Bangun! Aku ingin bicara! Penting!
Hvorfor sålenge = Kenapa lama sekali
Morder = Pembunuh
minkjære bror = Adik kesayanganku
Jeg beklager = Maafkan aku
Terimakasih sudah membaca FF Yuya
Mianhae kalo Chapter ini agak membosankan... Insya Allah Next chap campur2... lebih ke arah sedih sih! Siap2 tissue ya!
Minta Reviewnya ya~
Annyeong ^^
