"Jimin"

"Jimin"

"Jimin!!"

Jimin mengerang dalam tidurnya. Efek alkohol yang ia minum semalam begitu dasyat, hingga saat ini ia benar benar belum bisa menghilangkan pening di kepalanya.

Hangover kali ini benar benar menyiksa.

"Park Jimin!!"

Namun suara itu makin kencang terdengar, membuat sakit kepalanya semakin berdenyut denyut.

Itu suara ibunya, Jimin tau itu. Tapi arah suaranya ada di luar jendela, Jimin jadi heran.

Hingga akhirnya, remaja yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu memaksakan matanya untuk terbuka.

Dengan sedikit sempoyongan, Jimin melangkah menuju balkon. Ia mendesah kasar setelah berada di luar.

"Jimin!!!"

"Ada apa Eomma, berisik sekali. Dan kenapa kau tidak masuk saja? Udara dingin hari ini." sahutnya sambil memeluk tubuhnya sendiri, Jimin baru sadar kalau ia hanya menggunakan piyama tipis yang entah kenapa begitu asing di tubuhnya.

Nyonya Park hanya menatap jengkel anaknya sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Kau pikir, kau sedang berada di rumah siapa?" tanyanya kemudian.

Jimin tercenung, memang bukan bukan rumahnya ya, pikir remaja tersebut. Ia lantas berbalik, mendapati tembok rumahnya yang berwarna coklat tua kini berubah menjadi putih gading yang bersih.

Mata Jimin melotot full. Ia berlari cepat ke arah dalam, mengabaikan ibunya yang berolling eyes di bawah sana.

Ranjang king size, cat biru tua, rak buku tunggi, frem foto berisi gambar...

"Aaaah yatuhan." ujarnya sabil meremat rambutnya kasar.

Tindakan absurdnya akhirnya bisa ia akhiri ketika matanya menatap sepasang kaki telanjang yang bergerak menuju kearahnya.

"Jimin, kau sudah bangun." suara itu.

Jimin mendongak, mendapati dada bidang licin yang mengkilap. Pandangannya naik, naik, naik hingga mendapati sebuah wajah yang ia hafal di luar kepala.

Wajahnya terlihat segar, rabutnya terlihat basah bahkan masih meneteskan titik titik air di ujungnya.

Siapa yang membakar Jimin saat ini. Karena demi jempol kaki Kim Namjoon, pria di hadapannya ini panas sekali.

Dan Jimin baru saja tidur di ranjangnya.

Tidur di ranjangnya.

Tidur

Di

Ranjang

Tidur

"Kyaaaaaaaa "

Hangover

Yoonmin

Yoongi x Jimin

21 y.o Yoongi

18 y.o Jimin

By ugii

Awas typo

Enjoy

Tak ada yang Jimin ingat. Otaknya seolah memutus semua memory malam itu. Malam dimana iya entah bagaimana bisa nyasar kekamar Min Yoongi.

Tetangga hoteu nya

Yang ada di kepala Jimin hanya parayaan ulang tahun Jungkook, minuman dengan kadar alkohol rendah, lantai dansa lalu...hilang.

Dia tak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.

Dan itulah yang membuatnya menjadi seperti seseorang yang tengah dililit hutang. Gelisah, tak enak hati juga ah entah apa lagi, Jimin bingung.

Jimin tak henti hentinya mengacak surai hitamnya dengan gusar selama pelajaran berlangsung. Bahkan gurunya sempat menegur Jimin akan hal itu. Hanya saja Jimin tak ambil pusing, yang lebih penting saat ini adalah jawaban akan pertanyaan 'kenapa ia bisa tidur di rumah Min Yoongi.'

Oke salahnya sendiri tak bertanya langsung tadi pagi. Bukannya berteriak kencang lalu berlari tunggang langgang ke rumahnya, melupakan ibunya yang masih berdiri di bawah balkon pemuda Min tersebut.

"Tenanglah, kalau seperti ini terus kau tak akan mungkin mengingatnya." ucap Jungkook seraya menepuk nepuk pelan bahu Jimin.

"Bagaimana aku bisa tenang, aku sudah tidur di rumah orang asing semalam. Dan dalam keadaan mabuk, ingat itu. Mabuk."

"Lalu, kau menyalahkan kami untuk itu?" kali ini sahabatnya yang lain yang bertanya. Taehyung.

"Tentu saja, memang siapa yang memaksaku masuk ke club dan meninggakkan ku lantai dansa?" pekik Jimin.

Kalau yang ini ia masih ingat. Sebenarnya Jimin sangat menentang ide Taehyung soal perayaan ulang tahun di club itu, karena bagaimana pun mereka kan masih dibawah umur, masih menjadi siswa menengah atas.

Tapi apa daya ia di hadapan mulut penuh bisa milik Kim Taehyung.

Belum habis di sana. Otak Jimin juga merekam dengan jelas bagaimana teganya Taehyung menunggalkannya diatas lantai dansa hanya karena seseorang berbahu lebar dengan seenak jidatnya membawa Taehyung pergi dari sana.

Nah, dari situlah ingatan Jimin terputus. Ia tak tau apa yang terjadi selanjutnya, Jimin tak tau kemana Jungkook dan tak tau juga apa yang terjadi pada dirinya setelah itu.

"Baiklah, baik. Aku minta maaf atas hal itu. Tapi mau bagaimana lagi, aku juga tak ingat apa apa lagi setelah ku meninggalkanmu"

"Maksudmu kau juga seperti Jimin? Bangun di tempat lain?" tanya Jungkook panik.

"Ya tidak, setelah meninggalkan Jimin aku langsung diantar pulang oleh Seokjin Hyung karena ketahuan masih SMA."

"Siapa itu Seokjin Hyung?" tanya Jimin.

"Aaaa..." Taehyung diam dengan mulut menganga lebar. Matanya menatap silih berganti pada Jimin dan Jungkook.

"Aa... Jimin tadi kau tidur dirumah siapa?"

"Aaiisshh kalian tidak membantu." Jimin dongkol, diatara teman temannya memang hanya dia yang paling waras.

Jungkook dengan muka sok polos, dan Taehyung yang mau maunya diantar oleh orang tak dikenal.

Oke, Jimin. Lebih parah mana di antar pulang, atau di bawa pulang.

"Aarrghhh aku harus pulang."

Jimin melangkah tergesa gesa menuruni anak tangga. Tak peduli dengan dua temannya yang akan ia tinggal pulang, biar saja mereka pulang sendiri sendiri.

Tapi niat untuk pulang harus Jimin telan bulat bulat saat sebuah dukati berwarna hitam terparkir di luar gerbang sekolahnya.

Jimin berbalik cepat cepat,kaki Jimin bergerak menjauh dari gerbang.

"Yak Jimin-ah, tega sekali meninggalkan kami berdua."

Sial sial sial, Taehyung sialan.

"Jimin."

"Whaaaa."

Jimin berteriak kencang ketika seseorang menepuk bahunya. Itu Yoongi, si pengendara dukati.

"Y Yoongi Hyung?"

Jungkook dan Taehyung saling berpandangan. Mereka tak tau kalau yang namanya Yoongi itu sepanas ini.

"Kenapa Hyung kesini?"

"Menjemputmu, tentu saja."

"Eomma menyuruhmu?"

"Tidak, bukankah kemarin kau yang memintaku menjemputmu?"

"Eoh?" hanya sebatas itu yang bisa Jimin ucapkan.

Memang kapan ia menyuruh Yoongi untuk menjemputnya.

O ow.

Jimin mabuk kemarin.

Kalau boleh, Jimin ingin sekali menjambaki rambutnya hingga lepas sekarang. Tapi tak bisa, karena kepalanya sekarang sudah terlindungi sebuah helm warna hitam yang sedikit lebih kecil dari yang tadi Yoongi kenakan.

"Ayo pulang."

"Yoongi Hyung, rumah ku ada di sebrang."

"Iya aku tau."

Yoongi memarkirkan motornya di depan pelataran rumahnya. Ia turun sebelum Jimin beranjak dari jok belakangnya. Dengan santai ia mengulurkan tangannya meminta Jimin untuk segera menyambut.

Namun Jimin hanya melongo untuk kemudian turun tanpa menyentuh sedikit pun kulit tetangganya itu.

"Ini Hyung, terimakasih sudah menjemputku." ujar Jimin sambil memberikan helmnya pada Yoongi.

Jimin sudah hampir meninggalkan pemuda itu, hanya saja tangannya di tahan oleh Yoongi dari belakang.

"Kau mau kemana?" tanyanya pada Jimin.

"Ya pulang."

"Kau sudah ada di rumah Jimin."

"Mwo?"

Tak mengindahkan pertanyaan Jimin, Yoongi menarik tangan berjari mungil itu untuk masuk kedalam rumahnya.

Jimin sama sekali tak bisa berpikir sekarang. Maka dari itu ia hanya mengikuti langkah Yoongi, berusaha bertindak senormal mungkin. Bernapas dan berkedip, tak akan ia lupakan.

Namun seolah semua ingatannya tentang cara kerja tubuh terhenti sejenak ketika matanya menatap tumpukan barang barangnya di salah satu ruang tidur rumah Yoongi.

Sejenak Jimin dapat berpikir, apa ini salah satu efek mabuknya semalam. Apa Jimin telah berbuat sesuatu hingga Yoongi menyuruhnya tinggal di rumahnya. Apa Jimin merusak sesuatu di sini saat ia mabuk semalam, hingga Yoongi menyuruhnya tinggal di sini untuk di jadikan budak.

Atau...

Sudah Jimin tak mau menduga duga lagi. Itu membuatnya semakin sakit kepala.

"Em Yoongi Hyung, kenapa barang barangku ada disini."

"Karena kau kan akan tinggal di sini."

"Hah, tapi kenapa harus."

"Karena kau kekasihku."

Jimin melongo mendengarnya.

Kekasih, pantatmu.

Oke oke, Jimin memang sedikit menyimpan rasa pada lelaki ini. Semenjak kedatangannya di kawasan perumahan dua tahun lalu.

Pria ini memang tak ramah, malah terkesan cuek dan tak pandai bersosialisasi. Buktinya selama beberapa hari menempati rumah yang berada tepat di depan rumah Jimin, ia tak pernah datang berkunjung walau hanya sekedar bertegur sapa sebagai tetangga baru.

Maka akhirnya ibu Jimin lah yang berinisiatif menyapa terlebih dahulu dengan mengorbankan anaknya.

Kala itu Jimin membawa pay apel yang masih hangat. Mengetuk dengan ragu ragu kayu maghoni tersebut. Selepas hal tersebut, datanglah si tuan rumah. Rambutnya masih acak acakkan dan juga bajunya terlihat lusuh.

Ia menerima pemberian Jimin dengan ekspresi di luar ekspetasi Jimin.

Pemuda itu tersenyum lembut sambil membaui aroma yang menguar dari masakan itu Jimin tersebut.

"Sepertinya lezat. Mau menemaniku memakannya?"

Dan dari sanalah Jimin tau kalau selama Yoongi tak keluar, ia masih membenahi rumahnya yang demi tuhan sangat berantakan.

Ya itu hanya sedikit alasan mengapa Jimin menyukai Yoongi. Ia tertawan oleh senyum pertamanya.

Tapi menjadi kekasih hell, yang benar saja. Ini diluar dugaannya.

Ia merasa memendam rasa saja sudah lebih cukup. Karena dengan begitu ia bisa leluasa dekat dengan Yoongi hingga detik ini.

Eh tidak.

Untuk sekarang Jimin ingin segera enyah dari hadapan pria ini.

"Tu-tunggu dulu Hyung, kekasih? Aku tak mengerti sungguh." ucap Jimin. Ia makin penasaran dengan apa yangbia lakukan tadi malam hingga Yoongi benar benar bersikap seperti ini.

Tak menjawab pertanyaan Jimin, Yoongi malah melangkahkan kakinya kearah Jimin. Semakin dekat dan semakin dekat. Sedangkan Jimin hanya mematung melihatnya.

Ingin sekali ia berlari jauh jauh dari hadapan Yoongi. Hanya saja entah kenapa sorot mata juga senyum itu begitu menawan hingga untuk sekedar mngakihkan penglihatannya saja Jimin tak bisa.

Tanpa aba aba, kepala Jimin di tarik kearah pelukan Yoongi. Tangan kekarnya juga kini mulai mengelus sayang rambut Jimin dengan lembut.

"tak peduli kau ingat atau tidak, yang penting sejarang aku sudag bisa melihatnya. aku juga menyukaimu ternyat. Jadi apapun yang membuatmu bingung, biar saja seperti itu. Yang jalas kau sekarang kekasihku. Tak bisa di ganggu. Itu mutlak."

Kalau ada predikat orang paling bodoh di dunia, pastilah Jimin orangnya.

'Semoga saja dia tak menciumku.'

cup

"kau juga memintaku menciummukan?"

Oh yatuhan, apa sebenarnta yang terjadi saat Jimin mabuk kemarin?!

End

Waaaah yoonmin wanshut.

Ada yang kangen sama cerita wanshut yoonmin ku??

Btw utang ff nyusul nanti yaaa.

Dan akhir akhir ini aku lebih sering maen di wattpad, jadi yang mau mampir silahkan

Akunnya @hinatoyou hokeee

Bonus nih.

Yoongi mengetuk ngetukkan kaki berbalut sepatu kets hitamnya sesuai dengan irama yang dilantunkan diskjokie di atas singgasananya.

Seharusnya ia ada disini dengan Seokjin, Namjoon, dan Hoseok. Tapi nyatanya tidak, Hoseok sudah di bawa Namjoon kesalah salah satu kamar yang berada di belakang club.

Maka dari itu ia memutuskan mengikuti Seokjin menuju lantai dansa tanpa ingat kemampuan dancenya yang di bawah rata rata. Peduli setan, ia butuh hiburan.

Deathline tugas di kampusnya sukses membuat Yoongi yang hampir setiap hari mempunyai mood tak baik itu makin menjadi kesalnya.

Jadi, minum minum dan sedikit cuci mata di club tak ada salahnya kan? Walau sekarang ia harus sendirian karena Seokjin sudah ada di tengah medan perang dengan menghimpit seorang penuda manis yang nampak sedikit teler.

Cih, casanova yang menemukan anak anjing tersesat. Seokjin memang sialan.

Kepala Yoongi memang sedikit pusing. Tapi pandangannya tak pernah salah.

Ia mendapati seseorang yang sangat ia hapal tengah menari bersama sekumpulan laki laki bertato di pojok lantai dansa.

"Aish, apa yang di lakukan anak itu disini?" desis Yoongi.

Ia menggeram kesal kala netranya menangkap salah satu lelaki itu mulai mengecupi pipi si pemuda yang menjadi fokus utamanya.

Langkah Yoongi terkesan sangat cepat saat berjalan menuju titik dimana pemuda itu menjadi korban peleceha, menurut Yoongi sih.

"Jimin, sedang apa kau disini?" ucap Yoongi dalam

Nyatanya, suara Yoongi mampu menghentikan tindakan asusila om om kurang ajar tersebut. Membuat mereka sedikit menyingkir untuk memberi jalan Yoongi pada sosok yang mereka goda habis habisan.

"Ayo pulang, sudah larut." Yoongi mulai meraih tangan Jimin yang terangkat keatas, bergerak random seolah tak mendengarkan suara musik yang mulai melantunkan nada lembut.

"Aaah. Aku masih mau disini."

Jimin merengek layaknya anak kecil. Yoongi yakin kalau anak ini sudah dalam keadaan mabuk sekarang.

Yoongi tentu tak membiarkan tetangga manisnya ini berlama lama di tempat berbahaya macam club begini. Lagi pula apa sih yang merasuki Jimin hingga anak semanis dia bisa nyasar di tengah tengah kerumunan orang orang dengan bau asap tembakau seperti ini.

Hingga akhirnya Yoongi dengan segala kekuatan yang ia punya, mengangkat Jimin bak karung beras menuju kearah pintu masuk.

Yoongi sama sekali tidak mempermasalahkam pukulan tak main main Jimin pada punggungnya. Juga tak memperdulikan teriakan tak terima dari sebagian besar om om yang kehilangan mangsanya itu.

Yoongi menghempaskan Jimin di jok belakangnya. Ia tak mau mengambil resiko jimin akan kembali berulah jika duduk di sampingnya.

"Yak kau ini sebenarnya siapa sih?!" benar bukan, Jimin berusaha menggapai gapai Yoongi yang ada di belakang kemudi.

"Aku Yoongi, kau ingat bocah? Sejak kapan kau pergi pergi keclub macam ini eoh?"

"Bukan. Kau buka Yoongi Hyung, Yoongi hyung tampan, kau? Kau urakan. Jangan mengaku ngaku dasar ahjushi."

Yoongi melirik kaca yang ada di atas kemudi. Sialan, stres akibat urusan kampusnya membuat muka Yoongi berminyak, ia perlu menghubungi Hoseok setelah ini.

"Aah sudah diamlah Jimin."

Nyatanya Jimin malah makin menjadi bahkan sampai mereka sampai di depan rumah keduanya.

Yoongi menarik Jimin untuk keluar. Tapi lagi lagi anak itu menolak dengan berpegangan pada sandaran jok depan.

"Aku tidak mau. Huwaaaaa kau mau memperkosaku yaaa. Tidak mau tidak mau."

"Kau mabuk Jimin, kau bisa dimarahi ibumu."

Yoongi kembali berusaha meraih tangan Jimin, tapi hasilnya ia malah ikut tertarik ke dama mobil dan malah menindih tubuh Jimin.

"Eoh kenapa kau mirip sekali dengan Yoongi Hyung sekarang?"

"Aku memang Yoongi, Jimin."

"Aah jangan berbohong, kau berkata seperti itu supaya aku mau di ajak tidur denganmu kan? Jangan mimpi, hatiku sudah penuh dengan Yoongi Hyung. Dan aku ini orang yang setia."

Yoongi menatap Jimin bingung. Memang apa yang ada di pikiran anak itu.

oh tentu dia kan sedang mabuk. Dan ada dua tipe manusia paling membuat Yoongi sebal. Satu, anak SMA. Mereka suka pamer dan sok. yang kedua, adalah orang mabuk. kerena tak bisa mengontrol tubuhnya sendiri.

Dan di hadapannya ada Jimin. Si siswa SMA yang sedang mabuk. maka tolong ukur seberapa sebal Yoongi sekarang.

"Aah sudah ah, aku ingin pulang."

"Eoh?" dengan segera Yoongi menyingkir dari atas tubuh Jimin.

Ia hanya memeperhatikan saat anak itu berjalan sempoyongan kearah rumah nya.

Tunggu

Rumahnya?

"Yak Jimin,rumah mu ada di sebrang."

Jimin berbalik dengan wajah penuh selidik kearah Yoongi.

"Bohong, ini rumah ku tau." ucap Jimin.

"Bukan itu rumahku."

"Iih berhenti mempermaikanku. Ini rumahku tauuu." lagi lagi Jimin merengek.

"Jimin pulang lah kerumah yang benar."

"Sudah benar, ini rumah ku, ini rumahku." kata bocah tersebut sambil menghentak hentakkan kakinya kesal.

Yoongi hanya bisa menghela nafas melihatnya. Yasudahlah biarkan saja, mau bagaimana lagi. Ia juga tak bisa membiarkan Jimin pulang dengan keadaan seperti itu. Bisa di tuduh macam macam nanti.

Yoongi masuk kedalam rumahnya. Mendapati anak itu sudah telentang pasrah di atas sofa ruang tamunya.

Yoongi tersenyun kecil melihat posisi tidur Jimin. Belum lagi wajahnya yang nampak begitu tenang setelah tadi sempat berontak kasar dalam perjalanan.

Yoongi akhirnya duduk di bawah beralaskan karpet abu abu didepan sofa.

Ia memerhatikan kembali raut wajah Jimin dari dekat. Masih sangat manis. Belum lagi warna merah yang sepetinya enggan pudar. Yoongi heran, memang berapa banyak yang anak ini minum sampai ia mabuk begini parah.

Tak mau ambil pusing dengan itu, Yoongi memilih untuk membawa Jimin kekamar tamu. Menggantikannya piyama_dengan sangat susah payah_ dan bersiap untuk tidur di kamarnya

Jika saja tangan Jimin tak kurang ajar dengan menariknya hingga terduduk di samping tempat ia tertidur.

"Ugh, Yoongi hyung jangan tinggalkan aku."

Dan seenaknya memeluk tangannya.

"Yoongi Hyung tetaplah disini."

"Cih, sekarang kau ingat aku ini Yoongi Hyung-mu?"

Tak ada jawaban, dilihatnya Jimin seolah kian larut dalam tidurnya. Yoongi pun kembali mencoba melepas pelukan Jimin pada tangannya.

Tapi lagi lagi Jimin merengek.

"Kenapa kau selalu seperti ini. Jagan begitu, aku tak suka."

"Kau mulai meracau Jimin."

"Aku ini menyukai Yoongi Hyung tau. Kenapa kau tak bisa merasakannya sih. Aku ini mau jadi kekasih Yoongi Hyung, mau dijemput Yoongi Hyung, mau di pakaikan helm oleh Yoongi Hyung, aku juga mau tinggal bersama Yoongi Hyung aku juga mau di cium yoongi hyung hihihi."

Yoongi terpekur mendengarnya, apa ia tetangga manisnya ini begitu menyukainya.

"Tapi Yoongi Hyung selalu saja menganggapku anak kecil. Selalu menganggapku adik. Aku sebal sekali."

Entah kenapa perasaan hangat tiba tiba menyeruak di dalam tubuh Yoongi. Ia merasa sesuatu yang menyenangkan tengah terjadi didalam tubuhnya.

"Aaah Yoongi Hyung, AKU MENCINTAIMU. AKU MAU YOONGI HYUNG, JADILAH KEKASIHKU YOONGI HYUNG... Zzzzzzzz"

Oh biarkan saja Yoongi tertawa saat ini. Ia senang.

Ternyata menghabiskan waktu dengan anak SMA yang sedang mabuk itu menyenangkan.