Starring : Oikawa ft guru-guru
Warning : kalau kalian pikir ini mustahil... Percayalah, ini berdasarkan pengalaman pribadi.
~o~o~
Sang Penakluk
~o~o~
"Namaku Tetsurou Kuroo. Tahun kemarin aku ditumbalkan menjadi ketua setelah ketua yang sebenarnya ambisius belajar dan tidak mau repot jadi kacung. Tahun ini ditumbalkan lagi jadi ketua di Mubes MPK. Salam kenal."
"Inilah bro-ku, sang Penakluk Guru!"
"Muah. Muah. Minta tanda tangannya nanti saja, ya!"
Saat rapat pertama organisasi dan mendengar kata-kata Koutarou, Tooru menganggapnya sebagai angin lalu. Dua orang itu memang sering bertingkah aneh dan respon Tetsurou terlihat jelas bermain-main. Mungkin yang dimaksud Koutarou adalah Pak Washijou atau guru matematika.
Ketika naik kelas tiga dan mendapati dirinya sekelas dengan Tetsurou, Tooru mulai mengakui kalau Koutarou itu tidak sebodoh dan seaneh yang ia duga. Kata-katanya saat perkenalan waktu itu bukan hanya ice-breaker suasa canggung sekretariat, namun sebuah kebenaran.
Tetsurou Kuroo itu, penakluk guru.
Pak Takeda, Guru Bahasa Indonesia, merupakan guru baik yang disukai semua murid. Pembawaannya selalu tenang, materi pelajaran selalu disajikan dengan menarik. Akan tetapi, beliau juga terkenal dengan kedisiplinannya. Kalau ketahuan tidak memerhatikan, habis sudah. Tegasnya pasti keluar.
Sejak pertama masuk, Tetsurou jarang memerhatikan. Sering Tooru melihatnya baca buku tebal. Mending kalau bersesuaian dengan materi hari itu. Eh, buku-buku yang dibacanya rata-rata novel! Kalaupun non-fiksi, biasanya tak ada kaitannya dengan pelajaran sekolah!
"Tetsu, berhenti baca buku random, bisa?" tanya Tooru di penghujung semester 1.
"Lho? Memang kenapa? Pak Takeda ngebolehin, kok. Iya, kan, Pak?" Tetsurou bertanya pada angin, nyengir minta ditampol. "Tuh, katanya boleh!"
Tooru putuskan untuk menemui Pak Takeda dan melapor, kalau selama ini Tetsurou lebih sering tidak memerhatikannya. Jawaban yang didapat cukup untuk membuat Tooru hanging selama dua menit.
"Itu bukunya saya yang pinjamkan, kok."
Watdepak?
Pak Nekomata, Guru Matematika. Kalau yang ini, Tooru agak bisa memaklumi. Dari kelas sepuluh, Tetsurou mengikuti bimbingan olimpiade; yang artinya dia kenal dengan semua guru matematika. Termasuk Pak Nekomata juga.
Namun, sejauh apa Pak Nekomata memberi hak spesial pada Tetsurou, Tooru sama sekali tidak menyangkanya.
"Pak, aku gak ngerjain PR."
"Lho, kenapa?"
"Males."
"Ya udah sini bantu bapak periksa punya temen-temenmu sebagai gantinya."
"Okidoki!"
Asem, kan?
"Pak, sambil makan keripik singkong, ya?"
"Mau sambil makan nasi juga gapapa. Tadi sudah makan siang belum? Mau bapak bawakan dari ruang guru?"
"Nanti aja pulangnya Pak. Sekalian anter kerja, ya?"
"Waduh, bapak gak bisa. Nanti bapak ongkosin aja, ya?"
"Dibonusin jajan, gak?"
"Gampang itu mah."
Percakapan guru-murid macam apa ini?
Yang paling coeg itu ketika suatu waktu setelah istirahat makan siang. Beberapa teman sekelas mereka terlalu betah di kantin dan terlambat masuk. Ketiganya diminta berdiri di depan kelas. Kemudian beberapa saat kemudian, Tetsurou datang ke kelas sambil menguap lebar. Dia duduk begitu saja di mejanya, tanpa meminta izin dari Pak Nekomata.
Tentu saja tiga anak yang sedang dihukum memprotes.
"Pak, kok Tetsurou telat masuk gak ditanyain dulu?"
"Oke, saya tanya. Tetsurou, dari mana kamu?"
"Perpus, Pak. Numpang ngadem. Diusir tadi, disuruh balik ke kelas. Masih ngantuk. Boleh lanjut tidur di sini gak, Pak?"
"Iya boleh."
"Pak! Kok gak adil gitu sih?!"
"Kalian mau kaya Tetsurou? Coba mana lihat PR-nya sudah? Yang di papan tulis sudah? Cek buku dia. Soal satu buku paket sudah dia selesaikan. Sampai bab terakhir."
"Tapi kan beda, Pak! Dia pintar!"
"Apakah dengan pintar, soal itu selesai dengan satu kedipan mata? Tidak, kan? Bukan kepintaran yang membuat porsi belajarnya lebih banyak. Tapi porsi belajar lebih banyak yang membuatnya lebih pintar dari kalian. Pahami baik-baik."
Pak Keishin, Guru Fisika. Guru yang satu ini memberi kesempatan bagi kelas mereka untuk tidur selama 15 menit, bergantian, jika ada yang mengantuk—mengingat kelas mereka kebagian belajar Fisika dimulai pukul 3 sore.
Hanya beberapa anak yang berani menerima tawaran itu. Hanya sekali, itu pun, jika mereka sudah terlalu mengantuk. Banyaknya hanya minta izin beli kopi atau mencuci muka ke toilet.
Ada satu anak yang setiap pelajaran Fisika tidak pernah tidak tidur, sih.
Iya, Tetsurou.
Parahnya, paling sebentar itu setengah jam. Tak jarang ditabrak saja tidur hingga bel pulang. Tapi, anehnya, setiap Pak Keishin memberi soal untuk dikerjakan di papan tulis sebagai ajang mencari nilai tambahan; Tetsurou selalu siap bangun dan menjadi orang pertama yang selesai mengerjakan dengan benar.
Gara-gara hal itu, sempat dirumorkan kalau Tetsurou bisa belajar sambil tidur. Respon terdakwa yang cuma dab sambil bilang kalau dia memang keren, memperkuat rumor tersebut.
Suatu waktu di awal semester 2, Tooru memberanikan diri untuk bertanya pada Pak Keishin. Terbongkarlah, kalau dari pertama masuk, Tetsurou sudah ambil start duluan. Ketika di kelas baru mempelajari bab 1, dia sudah minta dikoreksi bab 5 dan 6.
Hal yang sama terjadi pada satu-satunya guru killer yang paling ditakuti seantero sekolah dan sialnya mengajar di kelas mereka—Guru Kimia. Beliau tidak seramah guru lain pada Tetsurou, tapi sama-sama tidak berkutik dan membiarkan Tetsurou melakukan apa yang dia mau di kelas.
Untuk guru yang satu ini, kebetulan Tooru tidak sudi bertanya, maka pertanyaan ia alihkan pada walikelas tercinta.
"Waktu kelas sepuluh, beliau mengajar di kelas Tetsurou juga. Tidak seperti guru lain yang sudah sekali kena gertak langsung membiarkan; beliau terus berusaha 'menaklukan' Tetsurou. Anak itu membangkang. Sering bolos kelasnya, tidak peduli apapun katanya. Tapi nilai ulangan dia seratus, saat teman-temannya dapat kurang bagus. Guru yang lain memberi saran untuk membiarkan, kalau memang beliau ingin Tetsurou menurut padanya, meski hanya sedikit." Begitulah penjelasan dari Pak Wakatoshi.
Tak perlu mengobservasi pelajaran lain. Dari penjelasan itu saja Tooru sudah yakin.
Ya, Tetsurou Kuroo itu penakluk guru.
ooo
Jikalau di masa depan Tetsurou sudah jadi orang dan banyak yang bilang "Ketebak sih. Wajar. Dia kan pintar.", Tooru bersumpah ia akan menonjok orang itu dan mengatainya bego. Demi keberadaan alien yang akan ia buktikan jika diterima jurusan astronomi nanti, ia akan menghajar siapapun yang menganggap enteng perjuangan kawannya.
