Main Cast : ChanBaek
Other Cast : HunHan, WonChul, V (Taehyung BTS), Mark (GOT7)
Disclaimer: Cerita ini Pure milik Gloomy Rosemay
Previous Chapter
DEG
"M-Mark?" Gagap Luhan
"TIDAK! SIAPA YANG AKAN MEMBIARKANMU MEMBAWA BAEKHYUN?! BIG NOOOOOO!" Jerit Taehyung, berjalan menghentak untuk mendorong Mark keluar dari kamar Baekhyun
"Aku bisa menjaga Baekhyun..."
Taehyung berkacak pinggang. "YA! BAEKHYUN BERSAMA KAMI! BAEKHYUN TAK AKAN—
"B—Bawa aku bersamamu Hyung" Lirih Baekhyun tiba-tiba,
Membuat Taehyung terbelalak, bahkan terlalu shock mendengarnya
"Baekhyun! Kau gila?!"
"Bawa aku bersamamu... Mark Hyung" Pinta Baekhyun lagi
.
.
.
.
.
.
.
.
ChanBaek
YAOI
Fanfiction
(Gloomy Rosemary)
Chapter 9
.
Take Care Of My Boyfriend
...
.
.
Terlalu kesal, Ia rasa itu kalimat paling memuakkan yang pernah Ia dengar. Taehyung mengepalkan tangan erat ... kala berjalan menghentak menghampiri Baekhyun.
"DIA ORANG ASING! KAU TAU ITU?"
"..." Baekhyun hanya diam, sambil menunudukkan kepala... membiarkan sebagian anak rambut itu saling menjuntai. Menutupi raut takutnya.
Baekhyun tau.. keputusannya kelak akan membuat Luhan dan Taehyung kecewa..
Tapi Ia terlalu takut... untuk kembali ke rumah yang sebenarnya terlalu nyaman dan menyenangkan untuk Ia tinggali bersama keluarga kecil itu.
"Apa aku jahat padamu? Okay! Maaf jika aku selalu berteriak atau bahkan membentakmu... maafkan aku. Aku tak akan melakukannya lagi.. kumohon kembalilah bersama kami. Bukankah kau menyukai Choco? Hyung membelinya hanya untukm—
Taehyung terdiam, begitu luhan mendekat dan meremas pelan pundaknya.
"Sssh..." Desis Luhan, mencoba membujuknya untuk tenang.
Sedikit melirik ke belakang, tepat pada Mark yang masih tersenyum di ambang pintu. Tapi Luhan merasa ada yang salah di sini... entahlah itu dari Baekhyun ataukah dari tatapan pemuda bernama Mark itu.
"Baekhyun..." Panggilnya seraya mendekati bocah yang masih tertunduk di ranjang
"Katakan padaku... apa sesuatu mengganggumu? Kau selalu bertanya kapan kembali ke rumah itu bukan? kau selalu menunggu untuk pulang, tapi mengapa—
"H-Hyung" Baekhyun mencoba meraba-raba ke depan, mencari tangan Luhan... dan begitu Luhan meraihnya, bocah itu lekas menggenggamnya erat.
"Aku takut.." Lirihnya, membuat Luhan mengikis jarak lebih dekat dengannya.
"B-Bagaimana jika Dia ke sana? Bagaimana jika semua orang itu memaksaku? Aku takut ... Hyung" racau anak itu sambil menggelengkan kepala
Luhan menghela nafas berat, tak perlu dilugaskan pun Ia sebenarnya tau... ingatan akan Siwon yang memaksa membawanya untuk tinggal bersama Chanyeol, hingga berakhir dengan suatu yang mengerikan untuk Baekhyun.
Tentu masih menghantui benak anak itu ...
"Tidak Baekhyun... Aku tak akan membiarkan itu terjadi lagi, kumohon percayalah"
"Bagaimana kau memaksanya untuk percaya padamu Luhan—ssi? Tidakkah kau tau akan hal ini? Chanyeol yang menyamar sebagai perawat? Jika Dia bisa melakukannya di sini... tentu Dia bisa melakukan hal lebih gila di rumah kalian. Jangan biarkan Baekhyun merasa lebih terancam... " sergah Mark, mengambil hati Baekhyun dan menyudutkan Luhan dalam waktu yang bersamaan.
"Tapi aku benar-benar tak tau, jika Chanyeol berpura-pura sebagai perawat di sini!"
"Justru karena itu, secara tersirat kau telah mengakuinya... tak bisa menjaga Baekhyun. Pikirkan Luhan—ssi, kau menghabiskan sebagian besar waktumu di rumah sakit ini, tapi kau sama sekali tak tau apa yang telah terjadi pada Baekhyun di sini. Lalu... bagaimana jika Baekhyun tinggal di rumah kalian? Kau akan selalu meninggalkannya ... dan kau tak tau bahaya macam apa yang kelak terjadi pada Baekhyun di rumah itu" Mark, semakin berjalan mendekat dengan senyum tersimpul.
"Tidakkah kau berpikir... Chanyeol bisa melakukan hal lain ... selain menyamar?" Pungkasnya, senyuman itupun berangsur menjadi seringaian tajam.
Dan luhan tampak terdiam, seakan mengiyakan semua situasi itu...
"Baekhyun! Kau akan kembali ke rumah bukan? kau akan tetap bersama kami... Dia hanya membual! Kau harus percaya padaku!" Tehyung bersikeras menahan Baekhyun
Tapi yang terlihat... Baekhyun tetap bersikeras dengan pendiriannya, menggeleng pelan,,, karena memang Ia benar-benar merasa tak bisa percaya pada siapapun, meski Ia tau... setiap orang di dekatnya selalu berusaha menjaga dan membuatnya tetap aman. Tapi ... pada akhirnya, Ia harus kembali merasakan takut ..
Dan tak seorangpun tau...
Ia telah berharap pada seseorang... namun berangsur remuk, begitu tau... Dia satu-satunya Pria yang tak ingin Baekhyun temui lagi.
.
.
.
"Baek!" Seru Taehyung
"..." Baekhyun kembali menunduk, sambil menggeleng pelan
"Ini semua milik Baekhyun?" Tiba-tiba Mark menyela, sambil mengambil beberapa paper bag dan koper di sisi ranjang Baekhyun
"Jangan sentuh apapun miliknya!" Jerit Taehyung, berusaha merebut kembali. "Baekhyun akan tetap bersamaku!"
"Sayangnya, Baekhyun lebih memilihku... adik kecil" tapi Pria itu hanya terkekeh, tak memberinya sekat untuk mengambil alih bahkan terlihat ringan, membawa beberapa benda itu keluar
Menyisakan, raut kecewa dari seorang Dokter dan bocah bernama Taehyung itu.
.
.
.
.
"H—Hyung, maafkan aku" gumam Baekhyun, tak berharap ini melukai perasaan Luhan
"Aku tak bisa memaksa... jika ini benar-benar keinginanmu" Lirih Luhan, mencoba mengerti perasaan anak itu
"ARGH!" Tiba-tiba Taehyung berteriak, memutar tubuh untuk menendang kursi yang ada... lalu—
BRAKKK
Pintu itu benar-benar dibanting olehnya
Membuat Baekhyun berjengit terkejut, dan tertunduk dalam... Ia tau, keputusannya benar-benar membuat kedua saudara itu kecewa padanya.
.
.
"H—Hyung" Gumam Baekhyun lagi, mencoba mencari tangan Luhan.
"Jangan pikirkan sikapnya... anak itu akan kembali setelah tenang" Luhan mencoba tersenyum,
"Hyung tidak marah? M-maafkan aku Hyung..."
"ini pilihanmu Baekhyun, aku tak mungkin marah... jika ini baik untukmu, mengapa tidak? Kurasa Mark... memberi perhatian lebih untukmu, Dia selalu menemanimu bukan?"
"..." Baekhyun mengangguk pelan
"Aku akan menyiapkan yang lain, selagi Mark membawa benda-benda milikmu" Bisik Luhan, sembari merapikan tempat tidur baekhyun
.
.
.
Hingga tak berselang lama setelahnya, Baekhyun seperti mendengar derap langkah yang lain...
Dan itu benar-benar Sooyoung dan Sehun yang datang,
Baekhyun tau, Sooyoung menarik lengan Luhan untuk menjauhinya
.
.
"T-Tidak Dok, jangan biarkan Baekhyun bersama Dokter Mark"
Samar Ia mendengar, Sooyoung mencoba menentang... meski seperti bisikan, tapi itu terlalu jelas untuknya.
"Bukankah kau yang bersikeras ingin Baekhyun tinggal bersama kita?" Sehun turut menimpali.
"Ini keinginan Baekhyun... Aku tak ingin memaksanya dan berakhir melukai perasaan anak itu. Baekhyun telah melalui banyak hal sulit selama ini, jika Mark satu-satunya pilihan... aku akan mendukungnya" Tukas Luhan, merasa tak ada yang salah dengan keputusan bocah manis itu. Setidaknya, Ia tau... Baekhyun sepertinya mampu melihat jika Mark baik untuknya.
"T—Tapi Dok, Pria itu sepertinya memiliki niat buruk pada Baek—
"Jaga bicaramu Sooyoung-ssi. Kau seharusnya melihat dirimu di sini. Menjaga Baekhyun dan melindungi anak itu... tapi rupanya kau menipu anak itu"
Sooyoung terbelalak. "S—Saya tidak menipu—
"Tidak?" Sergah Luhan. Sedikit tertawa hambar melihat suster itu berulang kali melirik Sehun lalu tertunduk.
"Membiarkan Chanyeol berlaku sesuka hati bahkan membiarkannya mengambil kesempatan dengan menyamar sebagai perawat. Sementara kau tau... Pria itu trauma terbesar untuk Baekhyun! Kau masih berkilah tidak menipunya?"
Sehun menghela nafas berat, mencoba mendekat untuk menahan Luhan. "Sayang dengar—
"DIAM KAU!" Bentak Luhan sambil menepis tangan Pria tinggi itu. "Apa kau ingin membela wanita ini?"
"Bukannya aku membela siapapun... Tapi Semua ini atas izinku, bukankah semua ini sudah kukatakan padamu? Trauma Baekhyun bisa disembuhkan jika anak itu menghadapi rasa takutnya..." yakin Sehun, berusaha meluruhkan pria cantik itu.
"Tapi kau salah! Caramu ini akan kembali menghancurkan anak itu!"
"O—Oww... sepertinya aku datang di saat yang tak tepat" Mark tiba-tiba hadir di antara ketiganya.
Membuat Sooyoung mengalihkan pandangan, sementara Sehun kembali berdecak masih tak habis pikir Luhan dan dirinya berdebat karena hal ini.
.
.
.
.
.
"Mark... kau yakin ingin membawa Baekhyun bersamamu?" Sehun menyerahkan secangkir kopi hitam, untuk pria muda itu. Setelah Keduanya memutuskan untuk menyambung pembicaraan di luar rumah sakit, tak ingin menyulut emosi Luhan atau bahkan hingga menyinggung perasaan Baekhyun
Mark tersenyum "Kuharap ini bukan suatu yang menjadi beban untukmu. Aku menaruh perhatian lebih untuk anak itu. Selagi masa pemulihannya... kurasa aku tau treatment terbaik untuk Baekhyun. Kau tau latar belakangku bukan?" Mark sedikit bercanda sambil menepuk pelan bahu Sehun
"Ya.. tapi—
"Apa kau sedang mempertiimbangkan Dokter Park? Sebagai sahabatmu?" Sergah Mark, membuat Sehun tercekat, seakan ucapan itu memang benar adanya.
"Aku hanya berusaha memperbaiki situasi yang ada" Gumam Sehun pelan.
Membuat Mark terkekeh pelan, sembari menyesap kopi hitamnya. "Kurasa ini saatnya kau berhenti terlibat dalam situasi pelik yang dibuat Dokter Park"
Sehun mendelik. "Apa maksudmu?"
"Tidakkah karena Pria itu, kau dan kekasihmu bertengkar?"
"..." Sehun terdiam, lebih memilih menegak setengah dari kopinya. Kembali mengingat... bagaimana Luhan berteriak dan bersikap keras padanya, Ia tak pernah melihat Luhan seperti itu sebelumnya. Dan semua karena alasan berpihak pada Chanyeol
"Semua ini tak harus terjadi bukan?" Mark sedikit menyungging seringai
"Pikirkan Sehun-ssi, kalian akan menikah dalam waktu dekat... jangan biarkan hal semacam ini mengacaukan apa yang harus terjadi. Tak hanya membantu kalian... tapi aku pun menyukai anak itu"
Sehun terbelalak. "Kau menyukainya?"
Lekas membuat Mark tersenyum penuh arti. "Tentu bukan hanya sekedar suka. Aku menyadarinya... anak itu telah mengambil hatiku" Pungkasnya, meyakinkan.
"..."
Tak ada jawaban berarti dari Dokter spesialis jantung itu. Ia rasa... ini akan berjalan sesuai rencana. Merebut kepercayaan orang terdekat Baekhyun, lalu benar-benar mengklaim anak itu untuknya.
'Aku harus memiliki bocah itu'
.
.
.
.
.
Senja nyaris menjelang...
Terlihat burung gereja saling berterbangan dan sebagian hinggap di dahan pohon sakura. Menjatuhkan beberapa dedaunan kering...
Hingga mengenai puncak kepala seorang namja kecil
"Ugh!" Pekik bocah itu, sambil menyentuh kepalanya
"Ada apa?" Mark merunduk
"Sesuatu terjatuh di kepalaku" Ucap Baekhyun masih memegangi kepalanya
Mark terkekeh pelan, merasa takjub bocah itu masih saja bertahan dengan penutup mata miliknya.
"Hanya daun kering" Bisik Mark, sambil membelai pipi Baekhyun
"Masuklah ke dalam mobil" Bisik Pria itu lagi, seraya membimbing Baekhyun memasuki mobil merah maroon.
.
.
"Ini yang terakhir.." Lalu Luhan datang menghampiri bersama Sehun tentunya,
menyerahkan sebuah paper bag berisikan syal merah yang sebelumnya milik Baixian
"Terima kasih Luhan—ssi" Ujar Mark, begitu meraih Paper bag itu. "Kapanpun ... berkunjunglah ke rumahku jika kalian merindukan Baekhyun"
"Tentu... Mark"Luhan tersenyum manis...
Mengiring pergerakan mobil merah itu, melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit.
.
.
.
Sementara itu di tempat yang lain...
Terlihat seorang Pria tertunduk... tepat di hadapan sebuah makam, lalu mengganti bunga sebelumnya dengan mawar putih darinya
Ia datang... bukan untuk mengucap kata rindu seperti yang kerap Ia lakukan sebelumnya
Tapi Ia datang untuk kata yang lain...
"Mungkinkah ini hukuman untukku... karena aku datang untuk mengatakan menyukai anak itu?" Chanyeol menatap makam Bai Xian.
"Tapi Aku benar-benar menginginkannya..." Bisiknya lirih, mengingat lekat... bagaimana sosok Baekhyun kecil itu tersenyum dan tertawa di depannya.
"Aku mencintainya..."
Semilir angin... perlahan berhembus...
Semakin menguat, hingga membuat beberapa petal mawar putih di atas makam itu terlepas... dan terbang terbawa angin senja.
Tak ada yang Pria itu lakukan selain memandang lekat guratan huruf dan angka di atas batu nisan itu. Dua tanggal... yang mengukur berapa lama sosok Bai Xian berada di dunia ini.
Lalu tiba-tiba saja, Pria itu tampak tercekat...
Tubuh dan rupa yang sama...
Mungkinkah mereka juga lahir di hari yang sama?
Chanyeol beralih meraih ponselnya...
Mencari-cari kontak nomor milik seseorang, sebelum akhirnya mencoba menghubunginya...
.
.
.
("Chanyeol?")
Ia tersenyum... begitu nada sambung itu berubah menjadi sapaan seorang wanita.
...
.
.
.
"ini apartemen milikku..." Ujar Mark, begitu membimbing Baekhyun memasuki pintu apartmen miliknya
"..." Baekhyun terlihat ragu meraba-raba dinding di sekitarnya.
"Terasa asing bukan?" Kekeh Mark, kala melihat raut bocah mungil itu. "Kau akan terbiasa nantinya..." Lanjut Pria itu lagi
.
.
"K-Kau hanya sendiri Hyung?" Gumam Baekhyun, begitu memasuki sebuah ruangan... penuh dengan aroma Mark di dalamnya.
"Tidak..." Mark berjalan mendekatinya. "Setelah kau hadir di sini..." Bisiknya tepat di telinga Baekhyun.
Membuat Baekhyun tertunduk sambil tersenyum, berusaha menjauhkan diri... dan sesekali berusaha membaca hati Mark.
Tapi sejauh ini... Mark sama sekali tak memiliki niatan yang lain.
Membuatnya yakin, Pria itu benar-benar tulus padanya.
"Kau ingin mandi?"
"..." Baekhyun terkesiap.
"Aku bisa membantumu untuk—
"T—Tidak Hyung, a-aku bisa sendiri" Sergah Baekhyun secepatnya
"Haha... mengapa wajahmu tegang sekali?" Kekeh Mark, seraya menyentuh dagu Baekhyun.
"Tenanglah... aku tak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin membuatmu nyaman di sini..."
"..." Baekhyun hanya tersenyum, sambil menggigit bibir bawahnya.
"Mungkin ada baiknya, kau merebahkan dirimu untuk istirahat... sementara aku akan menyiapkan makan malam" Mark beralih memutar tubuh, ingin beranjak keluar
"Hyung.."
Tapi panggilan Baekhyun, menghentikan langkahnya.
"Hmm?"
"A—Aku tidur d—
"Tentu saja bersamaku, aku hanya memiliki satu ranjang. Tapi cukup besar untuk kita berdua" Sergah Pria itu, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan kamar itu. Tak peduli... Baekhyun masih tertegun dengan raut bingungnya.
.
.
.
Lalu.. Malam itu benar-benar beranjak larut..
Di sanalah Baekhyun terduduk di tepian ranjang, membelakangi seorang Pria yang sedari tadi merebahkan diri di sisinya.
"Baekhyun?" Pria itu, memilih melepas kaca mata minus... menutup buku, demi mendekati Baekhyun yang masih terjaga dengan posisi .. yang Ia tau, anak itu tengah gugup.
"Belum mengantuk hm?" Mark, mencoba meraih bahu Baekhyun.
"..." Tampak.. anak itu menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau ingin kubuatkan minuman hangat?"
"..." Baekhyun kembali menggeleng pelan
"Ada apa? Bicaralah padaku jika sesuatu mengusik pikiranmu"
"..." Baekhyun terlihat meremas kedua tangan di depan perutnya sendiri
"Hmm?" Mark kembali membujuknya.
"H—Hyung.."
"Katakan saja..."
"Adakah sofa d-di kamar ini?"
Mark mengernyit heran. "Sofa?"
"A-Aku ingin tidur di sofa saja"
"Untuk apa? Di sini ada ranjang... mengapa kau memilih sofa? Itu tak akan nyaman"
Baekhyun meneguk ludah. "T-Tak apa Hyung, b-biarkan aku di sofa saja . A-Aku tak ingin mengganggu tidur Mark Hyung"
"Mengganggu?" Mark terkekeh pelan. "Mengganggu atau kau yang memang merasa tak nyaman tidur denganku?"
"..." Baekhyun terdiam, semakin gugup
Lalu kekehan Mark kembali memenuhi kamar besar itu. "Kau hanya belum terbiasa Baekhyun~ah. Tidurlah.. aku tak akan melakukan apapun, sungguh"
"..." Bocah itu masih terdiam
"Atau jika kau tak yakin, kau bisa membuka penutup matamu" Mark beralih mendekat, ingin meraih penutup mata anak itu
Tapi Baekhyun mengelak dan menggeleng cepat. "A—aku percaya Mark Hyung"
Mark menghela nafas pelan, sebelum akhirnya membelai kepala anak itu.
"Sebenarnya ada satu kamar yang lain di apartmen ini. Tapi aku belum membersihkannya... Esok aku akan membersihkannya lalu kau bisa tidur di dalamnya. Untuk malam ini... tidurlah di sini, mengerti?"
"..." Baekhyun mengangguk pelan. Lalu beringsut menaikkan kedua kakinya ke ranjang
Sesekali pula terlihat sungkan, begitu Mark membuatnya berbaring dan menarik sebuah selimut hangat untuknya.
"Tidurlah..." Bisik Pria itu, sebelum akhirnya mematikan lampu kamar.
.
.
.
.
Esoknya...
Secangkir teh mengawali senyum anggun dari seorang wanita cantik, sesekali Ia melihat keluar... menikmati lantunan musik klasik khas jepang. Sementara pandangannya tersita pada tanaman rosemary... di sisi kafe
"Menungguku lama?"
Lalu sapaan seorang Pria muda membuatnya tersentak.
"Ah! Yeollie..." Ia lekas bangkit, demi memberi pelukan hangat untuk Pria tinggi itu.
.
.
.
"Kau pasti lelah... setelah penerbanganmu dari korea"
Chanyeol tersenyum. "Tidak... sama sekali tidak" Ujar Chanyeol sembari mengambilkan beberapa hidangan untuk wanita itu.
Wanita itu – Hani, lekas tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Khris tau akan kedatanganmu kemari... tapi Dia baru bisa menemuimu siang nanti. Dia benar-benar mencintai uangnya"
"ini terdengar seperti... kau sedang mengeluh padaku" Chanyeol melirik Hani
"Apa salahnya mengadu pada menantu—
DEG
Wanita itu tampak terkesiap dengan ucapannya sendiri. Lalu meneguk tehnya dengan tergesa.
"Uhuk!"
"Sshh... berhati-hatilah" tenang Chanyeol, sedikit mengusap lengan Hani
"M—Maafkan aku Yeollie" Lirih Hani, sambil menundukkan kepala... berusaha menyembunyikan raut sedih miliknya.
Bahkan sebenarnya, hanya dengn melihat Chanyeol saja... luka itu kembali berdenyut.
Karena mengingatkannya pada sosok putra semata wayangnya. Bian Bai Xian
.
.
.
"Berapa lama? Aku bahkan terlalu takut menghitung hari setelah kepergiannya" Hani, tersenyum hambar.
Sementara detak jam dan lantunan musik itu tetap berirama... mendampingi keduanya
"Aku dan Khris sebenarnya baru minggu lalu datang ke korea"
"Jadi bunga di makam Bai Xian itu milikmu?" Sergah Chanyeol. "Mengapa kalian tak menghubungiku jika berada di sana?"
Hani kembali tersenyum. "Ku dengar... kau sedang mengobati hatimu. Tentu saja kami tak ingin kedatangan kami, kembali mengingatkanmu pada Bai Xian. Walau ternyata... kau yang datang kemari untuk menemuiku"
"Semua telah terjadi... aku hanya harus merelakannya. Lalu Bai Xian tenang di sana"
"Kau benar... Yeollie, akupun harusnya begitu" Lirih Hani, terdengar getir.
.
.
.
.
"Kau datang kemari, untuk sesuatu bukan? aku bisa membacanya dari rautmu... kau mungkin ingin menanyakan sesuatu padaku"
Chanyeol menatap Hani, lekat. "Kau benar... Selain merindukanmu akupun ingin bertanya beberapa hal padamu"
"Apa itu berkaitan dengan, mengapa kami membuat makam Bai Xian di korea dan bukan di jepang?"
Chanyeol mengernyit. "Salah satunya memang itu"
Hani menghela nafas pelan. "Kami mencoba menghormatinya, Bai Xian lahir di korea... karena itu, kami membuat makamnya di sana"
Pria itu kembali mengernyit. Ucapan Hani... terdengar terlalu formal, untuk putranya sendiri.
"Tapi tidakkah itu membuat kalian jauh jika ingin mengunjunginya?"
Ya... karna Khris dan Hani memang menetap di Jepang, jikapun bertandang ke korea ... itu karena beberapa property bisnis yang mereka jalankan di sana, dengan membawa Bai Xian.
Lalu waktu yang mempertemukan Putranya dengan dokter muda itu.
.
.
"Aku sebenarnya tak ingin membicarakan hal ini, bahkan ketika Ayahmu datang untuk bertanya... aku benar-benar tak ingin mengatakannya. Tapi... kurasa kau harus tau, karena Bai Xian pernah ada dalam hidupmu" Hani... mencoba menahan perasaanya, ini terlalu sakit untuknya.
Tapi naluri itu... berbisik Ia benar-benar harus mengatakan yang sebenarnya.
.
.
"Bai Xian, sebenarnya bukan Putra kandung kami"
DEG
Chanyeol terbelalak lebar, tak berkedip... hingga kalimat yang lain kembali mengalun dari bibir wanita itu.
"Bahkan hal inipun kami sembunyikan dari Bai Xian, aku dan Khris sangat mencintainya... menganggap anak itu benar-benar lahir dari rahimku sendiri. Aku sangat mencintainya Yeollie" Hani mulai terisak.
"Apa yang akan kulakukan, jika Bai Xian tau aku bukan Ibu kandungnya? Aku tentu tak bisa membiarkan itu terjadi" Wanita itu semakin tergugu mengingat semua itu dan mengingat Bai Xian telah pergi untuk selamanya.
Lekas membuat Chanyeol beralih posisi, merengkuh Hani... berusaha membuatnya tenang.
"T—Tapi... Tapi hanya sebentar. Tuhan hanya memberiku waktu sebentar... untuk memilikinya"
Semakin sesak untuknya,
Isakkan Hani... menjadi tangis...
Chanyeol tak bisa membalas apapun, selalin memeluknya erat...
.
.
"Ini mungkin mengejutkanmu..."
Lalu tiba-tiba saja, suara seorang Pria membuat Chanyeol berjengit terkejut.
"Selama ini kami telah menyembunyikan jati diri Bai Xian darimu" Pria itu – Khris- berjalan mendekat, berusaha menenangkan istrinya.
"Seperti yang kau dengar dari Istriku... karena kami mencintai anak itu"
.
.
.
"kecelakaan terjadi... di malam itu, kami berada tak jauh darinya...truk oleng dan menghantam sebuah mobil. Suami istri itu meninggal di tempat... saat kami mencoba memastikan, kami mendengar tangisan balita" Ujar Khris... mencoba menggambarkan kejadian belasan tahun silam.
"Seorang anak berada dalam dekapan Ibunya, dan seorang anak lagi berada dalam dekapan Ayahnya. Dua anak kembar... berusia kurang lebih 2 tahun. Tapi anak yang berada dalam dekapan Ayahnya, rupanya mendapat luka paling parah ... hingga kami ketahui setelahnya, anak itu mengalami buta akibat kecelakaan" Khris masih bercerita, sementara sebelah tangannya... menyeka air mata Hani.
"Selama satu minggu lebih, kami berada di rumah sakit mendampingi kedua anak itu. Perasaan kami... mungkin tak bisa dilugaskan. Iba dan menyayangkan kedua anak itu kehilangan orang tua, tapi satu sisi kami sangat bahagia... mendapati kemungkinan, hak asuh bisa saja kami dapatkan atas dua anak itu, karena Hani divonis tak bisa memiliki keturunan, tentu saja kami sangat bahagia bertemu dengan mereka"
Chanyeol tak bisa berkata apapun, selain jantung berdebar... mendapatkan satu fakta, Bai Xian memiliki saudara kembar. Dan semua visual dalam benaknya, tentu saja mengarah pada Baekhyun
.
.
"Hari di mana kami bersiap membawa Bai Xian dan saudara kembarnya ke jepang, seorang Pria tiba-tiba datang ... membawa bukti jika dirinya Kakak dari Ayah sikembar. Semula Dia menuduh kami menculik... lalu merebut dua anak itu dari kami. Tapi Hani terlalu menaruh hati... tak merelakan Pria itu membawa pergi Bai Xian beserta saudara kembarnya. Kami menahannya berusaha bicara ... bahkan dengan bertekuk lutut. Hingga pria itu menawarkan harga tinggi untuk salah seorang anak" Khris menghela nafas berat.
"Kami tak bisa berbuat apapun, selain membayar harga sesuai keinginan Pria itu. Karena kami terlanjur menyayanginya. Tapi kami harus merelakan membawa satu anak saja, Bai Xian. Sementara Pria itu membawa saudara kembarnya yang pada saat itu, mendapat buta permanen. Entahlah Pria itu tau atau tidak"
"Tapi apa paman tau, saudara kembar Bai Xian masih—
"Aku tau.." Sergah Khris.
"Kau telah bertemu dengannya, dan Bai Xian telah bertemu dengannya sebelum dirimu"
Chanyeol kembali terbelalak lebar.
"Alasan kami tidak mencarinya setelah Bai Xian besar di jepang. Karena kami yang bertekad membesarkan Bai Xian selayaknya putra kandung kami sendiri, karena itu kami tak pernah mengatakan apapun mengenai saudara kembar Bai Xian" Ucap Khris lebih lirih, tak berharap Hani yang lemas karena menangis itu, mendengar dan kembali terguncang.
Khris memberi isyarat pada Chanyeol untuk mendekat. Lalu berbisik lirih. "Perlu kau ketahui, operasi mata setelah Bai Xian tiada, itu memang aku yang memberi izin pada Ayahmu. Dia saudara kembar Bai Xian, kurasa anak itu berhak menerimanya... meski Ayahmu masih tak tau, jika Bai Xian bukan anak kandung kami"
Chanyeol kembali terduduk, merasa ini terlalu luar biasa untuknya... meski dengan menelan getir. Karena Ia baru tau setelah Bai Xian tiada... dan setelah Baekhyun membencinya.
.
.
"Aku belum ingin membawa Hani untuk bertemu dengan anak itu, karena kau tau kondisinya... Hani benar-benar terguncang setelah kepergian Bai Xian"
"Aku mengerti Paman.."
"Jika ini mungkin untukmu... bisakah kau bercerita tentang kami, pada anak itu? Aku pun ingin bertemu dengannya suatu saat nanti" Ujar Khris, mengingat-ingat kembali rupa saudara kembar Bai Xian.
Chanyeol terlihat menghela nafas berat. Tentu saja semua itu ingin Ia lakukan saat bertemu dengan Baekhyun, tapi ini terasa mustahil... karena Baekhyun terlanjur membencinya.
.
.
.
"Kau akan menginap di rumah kami bukan?" Khris kembali menuangkan minuman untuk Chanyeol, sementara Hani masih terlelap karena lelah.
"Aku benar-benar menginginkannya, tapi malam ini jadwal operasi menungguku Paman"
"Ah... kau benar-benar mengesankan"
.
.
.
"Mampirlah sebentar sebelum kau bertolak ke Korea"
Chanyeol tersenyum, lalu mengangguk pelan... sambil menyesap teh nya.
.
.
.
Hari silih berganti.. hingga 5 hari berselang
Baekhyun merasa... Ia mulai terbiasa dengan suasana apartmen milik Mark, terlebih Mark benar-benar menjaganya dengan sangat baik, meski Ia tetap bertahan dengan penutup mata... dan Pria itu tak keberatan membimbingnya melakukan apapun.
Tapi hari ini sepertinya berbeda...
"Hyung..." Aku tak menemukan air putih di dalam kulkas
.
.
"Bisakah kau mencarinya sendiri Baek? Aku sedang memeriksa rekap medik pasien untuk operasi esok hari"
"A—ah... Baik Hyung, maaf" Lirih Baekhyun, sambil meraba-raba sekitar.
Setidaknya hari ini, Ia harus belajar... menghafal letak benda apapun di tempat ini.
.
.
Siang itu... Baekhyun mencoba mengingat letak meja pantry... barang kali Ia bisa belajar membuat sesuatu yang bisa berguna untuk Mark
Hingga
TAP
Ia mendengar langkah seseorang berhenti di ambang pintu.
"Hyung?" Baekhyun lekas menoleh ke belakang, bersamaan dengannya langkah itu kembali mendekat.
"Hei.." Bisik Pria itu, terasa sangat dekat hingga membuat Baekhyun memalingkan wajah
"Tsk... mengapa kau menghindariku hn?" Mark terkekeh, kembali memalingkan wajah Baekhyun menghadapnya.
"H-Hyung mengejutkanku.." Gumam Baekhyun mencari alasan.
"Di sini hanya ada kau dan aku saja... mengapa tak melepas penutup mata ini?"
"..." Baekhyun menggeleng pelan.
"Kau akan lebih mudah melakukan apapun, jika membukanya"
"T—Tidak Hyung"
"Baiklah... aku tak akan memaksamu" bisik Mark seraya mendekat, lalu—
'Chupp'
Ia mengecup pelan pipi kanan Baekhyun
Semestinya Ia tersipiu, seperti yang pernah Baekhyun rasakan dulu saat Mark memberinya perlakukan lembut.
Tapi... kali ini terasa berbeda, tak ada debaran di dadanya... dibandingkan suka, ia malah lebih merasa takut.
"Kau tak ingin melihat wajahku?"
"..." Baekhyun sedikit berjengit, begitu merasakan tangan Mark membelai wajahnya
'Anak ini memiliki wajah yang sangat manis... jika kulihat sedekat ini'
Hingga suara hati Mark mulai Ia dengar, berharap.. tak terbesit niat yang lain dari Pria itu.
"Jangan membuang wajahmu..." Mark kembali terkekeh pelan, menyadari Baekhyun selalu menghindarinya.
"H—Hyung" Panik Baekhyun, begitu... dagunya di tahan.. bahkan terasa ditarik ke depan
"Biarkan aku menciummu..." Bisik Pria itu
Baekhyun terperanjat, bisa Ia rasakan hembusan nafas Mark di sekitar pipi dan bibirnya.
Ini menakutkan untuknya...
Hingga reflek tangan itu menahan dada-dada Mark, mendorongnya untuk menjauh.
"J—Jangan Hyung" Gagap Baekhyun sambil menunduk. Tak membiarkan Pria itu, meraih bibirnya
.
.
"Haha..." Lalu, Ia berjengit mendengar Mark tertawa
"Kau menolakku?"
"..." Baekhyun semakin tertunduk
"Why?"
"..." Tak ada jawaban, selain bibir menggumam kata maaf
"Mengapa sikapmu berubah padaku hm? Bukankah kau selalu terbuka saat bersamaku?"
"A-Aku ingin kembali ke kamar saja H-Hyu—
"Ataukah... karena Dokter Park? Kau menyukainya?" sergah Mark, sambil menarik pergelangan tangan Baekhyun
DEG
Baekhyun tersentak, tanda... ia benar-benar terkejut dengan ucapan Dokter muda itu.
"Tidak Hyung! Mengapa Mark Hyung bicara seperti itu?" Seru Baekhyun, dengan tangan terkepal.
Dan Mark Hanya tersenyum...
Lama Bekhyun menunggu kata yang lain dari Pria itu, tapi rasanya... Mark hanya berakhir dengan memandanginya saja
Membuatnya memilih memutar tubuh, meraba-raba dinding untuk mencapai kamar secepatnya..
.
.
.
"Chanyeol masih menang dariku rupanya... Tsk! ini benar-benar membuang waktuku.." Desis Pria itu
.
.
.
DRRRTTTT...DRRRTTTT
Mark dikejutkan dengan panggilan seseorang, dan berdecak keras begitu membaca nama kontak itu
"Ah... Ne Luhan—ssi"
("Kau sepertinya sangat sibuk... berulang kali aku mencoba menghubungimu namun tak ada jawaban")
"Haha.. kau benar, jadwal operasi benar-benar menyita waktuku"
("Bagaimana dengan Baekhyun? Dia baik-baik saja?")
"Kurasa Baekhyun tak pernah sebaik ini sebelumnya... Luhan-ssi"
("Aku ingin bertemu dengannya, bisakah sore ini aku datang berkunjung?")
"Ahh... Sorry, sore ini aku berencana membawa Baekhyun ke rumah orang tuaku, aku akan memulai treatment therapi untuknya"
("Rumah orang tuamu?")
"Ya... suasana pedesaan yang tenang, akan membuatnya rileks" Ujar Mark, berusaha meyakinkan sosok penelfon
("Baiklah... beri tau aku, saat kalian kembali")
"Tentu saja Luhan-ssi"
("Tapi... bisakah aku bicara dengannya sekarang?") Luhan masih mencoba ingin menghubungi Baekhyun.
"Ah... bukannya aku tak mengizinkannya, tapi Baekhyun masih tertidur"
("Baiklah... aku akan menelfon lagi nanti")
PIP
Ia memutus sambungan itu, sambil menyeringai...
"Mudah sekali..." Gumamnya, sambil berjalan... beranjak dari ruangan dapur itu.
.
.
.
Semua berjalan seperti biasa, Ia yang menghabiskan waktunya di apartmen itu sembari menunggu sang pemilik apartmen pulang. Terus berulang tiap harinya...
Hingga suatu yang mengejutkan untuk Baekhyun benar-benar terjadi.
"Kau benar-benar tak ingin melepas kain itu?"
Nada bicara Mark, sedikit berbeda...
Baekhyun tersenyum. "Tidak Hyung, ini bukan mataku"
"..."
Tak ada jawaban, selain derap langkah menjauh.
'bodoh'
Hingga suara hati Pria itu, membuat Baekhyun tercekat.
Baekhyun meremas jemarinya gugup, mungkinkah Ia telah salah mendengar? Tapi mengapa itu terdengar sangat nyata?
Tapi tak mungkin, Mark bersikap seperti itu padanya... Ia bahkan selama ini tak pernah mendengar suara hati Mark yang bicara buruk padanya
.
.
Ini mungkin sudah lebih dari sepekan, Ia tinggal di Apartmen itu
Baekhyun terbangun cukup siang kala itu, tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan seseorang.
"YA! AKU HANYA INGIN BERTEMU DENGAN BAEKHYUN!"
Baekhyun lekas terduduk begitu mendengarnya. "Vi?" Gumamnya. Seraya beranjak turun dari ranjang.
Meraba-raba dinding, menuju pintu utama... dimana keributan itu berasal.
"ini rumahku, lalu jika aku tak mengizinkamu... sebaiknya kau kembali saja adik kecil"
"PERSETAN DENGAN APARTMEN! BIARKAN AKU BERTEMU DENGAN BAEKHYUN!"
"Ti—dak" Kekeh Mark, sambil menutup pintu... tapi kembali ditahan oleh anak itu.
"BAEKHYUN!" Teriak Taehyung kemudian
"Yack!"
"BAEKHYUUUUUNNNNN!" Taehyung berteriak lebih keras
"Tutup mulutmu!"
"BAEKHYUN! AKU INGIN BERTEMU DENGANMU! KELUAR LA—
PLAKKKKKK
"Argt~"
Taehyung jatuh tersungkur, begitu mendapat tamparan keras dari Mark
.
.
.
"V—Vi?" Baekhyun yang mendengar rintihan itu pun, terlihat panik... untuk berjalan mendekat.
"V—Vi kau baik-baik saja?" cemas Baekhyun , sambil meraba pintu dan nyaris menyentuh Mark.
"Hyung... aku mendengar Vi merintih"
"DIA MENAMPARKU.. BAEKHYUN!" Pekik Taehyung, sekeras mungkin.
Membuat Baekhyun berjengit. "Menampar? H-Hyung menampar—
"Masuk Baekhyun!" Tiba-tiba, Mark menariknya ke dalam... lalu menutup pintu itu rapat-rapat. Tak peduli, Taehyung masih berteriak-teriak di luar... sambil menendang pintunya.
.
.
"H-Hyung! Apa yang kudengar benar? Mengapa Hyung menampar—
"BENAR! Aku memang menamparnya... karena dia bocah bermulut besar!"
Baekhyun terperanjat, ia tak pernah mendengar Mark marah dan berteriak seperti ini padanya
.
.
"ARGH! INI BENAR-BENAR TAK BERGUNA!"
JDUAGHHH!
Sebuah meja ditendang kasar
"H-Hyung.." Membuat Baekhyun mundur ke belakang karena takut.
'DRRTTT-DRRRTTT'
Lalu terdengar suara getaran ponsel milik Mark
"SHIT! MENGAPA BEDEBAH INI SELALU MENELFONKU?!" Geram Mark, begitu tau Luhan yang menelfon. Ia membanting keras ponselnya hingga remuk.
Tapi Ia tak menyadarinya, Baekhyun yang ketakutan itu... terlihat tergesa meraba-raba dinding untuk mencapai kamarnya
.
.
BLAMM
Dan menutup rapat-rapat kamarnya
Berharap... Mark hanya marah sesaat, lalu akan kembali seperti semula
.
.
.
.
Ia masih terlelap, bahkan terlihat pulas di ranjangnya
Tidak...
Sebelum sebuah pergerakan membuatnya mengernyit, karena terusik
Hingga
Suara dan gerakan seseorang yang memanjat naik ke atas ranjang, membuat anak itu terbangun dari tidurnya.
"Hei.." Panggil Pria itu, membuat Baekhyun terbelalak lebar... menyadari wajah seorang Pria berada di atas wajahnya. Diakah Mark itu?
"Akhirnya... kau melihat wajahku" Kekeh Pria itu, masih tak beranjak dari atas tubuh Baekhyun... tak menindihnya hanya sekedar memenjarakannya di antara kedua lengannya
Baekhyun lekas memejamkan mata, "D-Dimana penutup mataku Hyung?" Panik Baekhyun
"Untuk apa?"
"Aku tak ingin menggunakan mata ini"
"Tsk! Apa kau selalu sebodoh ini?"
Baekhyun berjengit. Nyaris tak percaya Mark bicara demikan padanya.
"Dengar Baek, aku benar-benar lelah dengan semua ini. Kau yang tak bisa melihat benar-benar menyebalkan untukku... berhentilah bersikap naif, dan gunakan mata itu seperti—
"A-Aku tidak mau Hyung" Ucap Baekhyun terbata
"Apa kau sadar, dengan siapa kau tinggal saat ini?"
"..." Baekhyun terdiam, karena takut.
"Menangis lagi... menangis lagi!" Seru Mark tiba-tiba, semakin membuat Baekhyun memejamkan mata erat.
"Kemarilah!" Mark tiba-tiba menarik pergelangan tangan Baekhyun, untuk bangkit dari ranjangnya
"A—AHH!"
Tak peduli, namja kecil yang ketakutan itu memekik karena sakit
.
.
.
'Aku benar-benar muak dengan semua ini'
Kembali Ia dengar suara hati Mark, kala Pria itu masih memaksa menariknya keluar dari kamarnya.
"H—Hyung! Hentikan Hyung!" mohon Baekhyun, berusha menahan langkahnya... dan Ia terpaksa melihat tanpa penutup matanya.
'Dia pikir aku malaikat untuknya? Tch! Bodoh! Kau harus berguna untukku... lalu kau akan pantas menerima sikap baikku'
"A-Apa maksudnya itu? B-Berguna untuk Hyung? Apa maksud Mark Hyung?" Racau Baekhyun, yang masih diseret paksa
.
.
"Ini maksudku!"
"Agh!" Pekik Baekhyun begitu Mark menariknya lebih cepat... hingga terhuyung tepat di depan sebuah potret besar.
Ia terpaksa melihat...
Dan terbelalak lebar, bahkan terperanjat hebat begitu melihat sosok Chanyeol... di dalam frame foto itu
"Kau pasti mengenalnya... hahahahaha" gelak Mark, sambil menyentuh kedua pundak Baekhyun. Sedikit meremasnya hingga Baekhyun beringsut ciut karena takut
"A-apa yang Hyung inginkan sebenarnya.." Baekhyun tertunduk, sambil meremas kuat jemarinya..
"Tenang sayang... ini semua, bukan tentangmu. Aku sama sekali tak akan menyakitimu jika kau mendengarku" Desis Pria itu, semakin menunjukkan perangainya
"Aku tau kau membencinya... begitu pula denganku. Kita membenci satu orang yang sama... dan aku ingin kau dan aku menghancurkannya" Kekeh Mark... terlihat bukan seperti Mark yang dikenalnya
Baekhyun terbelalak nanar...
Belum usai, ia merasa terpukul dipaksa untuk menggunakan mata itu... kini Ia kembali dibuat terperanjat dengan sikap Mark
Baekhyun benar-benar tak tau, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya selama ini Mark rencanakan.
Tapi mengapa Ia harus terlibat di sini?
.
.
"Kali ini... aku tak akan memintamu melakukan tugasmu. Kau cukup membiasakan diri dengan kedua mata itu" Bisik Mark sambil menepuk-nepuk kepala Baekhyun
"Kau tau? Kemampuanmu membaca pikirian... sangat menarik untukku"
'DEG'
Baekhyun kembali terbelalak nanar. "H-Hyung ..."
"Haha jangan menatapku seperti itu. Kau yang bodoh di sini... di dunia ini, tak ada seorang yanng bersikap terlalu baik... tanpa menginginkan sesuatu, seharusnya kau menyadarinya"
Gelak Mark... sambil berjalan keluar, meninggalkan bocah itu... bersama potret besar bersamanya
.
.
.
.
.
Sementara itu di tempat yang lain...
Di sebuah kafe... penuh dengan temaram cahaya yang menenangkan.
Tampak seorang Pria duduk seorang diri, hanya bertemankan dengan secangkir kopi dan lantunan musik jazz.
Ia cukup menikmati malamnya kala itu...
Meski sebenarnya, kedatangannya kemari... untuk menawar rindu, dan keinginannya untuk bertemu dengan namja kecil, bernama Baekhyun
Ya... Ia bisa sedikit membujuk hatinya dengan cara seperti ini...
Lalu suasana mendadak menjadi kacau untuknya, begitu—
"Ahjjussi!"
Seorang anak datang, dan berkacak pinggang di depannya...
"Mobil itu rupanya milikmu, tak salah aku mengejarmu sampai di sini"
Semula Ia terbelalak... merasa melihat Baekhyun, karena garis wajah yang sedikit sama. Tapi rupanya.. itu hanyalah seorang bocah ingusan, yang Ia tau sangat mengganggu.
"Taehyung.." Gumam Chanyeol, menoleh ke kanan dan ke kiri.. tak ada siapapun bersama anak itu. Membuatnya tak habis pikir, adik Luhan bisa berada di tempat ini.
"Panggil aku V!" Koreksi Taehyung
Anak itu berdengus, lalu duduk di depannya tanpa dipersilakan...
"Pesankan aku... Milk Shake! Atau Strawberry juice saja" Titah anak itu, membuat Chanyeol mengernyit... tapi pada akhirnya tetap memanggil seorang pelayan, demi pesanannya beserta tagihannya.
.
.
.
"Kau lihat ini?"
Taehyung menunjukkan luka memar di sudut bibirnya
Chanyeol hanya berdecak, merasa anak itu sepertinya ingin bermain-main dengannya
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku?"
"Aku memang tak bercerita pada Hyung-ku, karena mereka memihak orang itu, sudah pasti mereka tak akan percaya padaku jika aku dianiaya"
"Yyaa... jangan bermain-main, kau hanya ingin mengadu padaku tentang masalahmu?"
Taehyung menatap tajam...
"Kau tau pelaku yang menganiaya diriku... Ahjussi?"
Chanyeol menghela nafas berat... anak ini rupanya lebih aneh dari yang terpikir olehnya.
"Lalu jika aku tau... kau pikir aku akan membalasnya untukmu? Dan—
"Mark! Dia membuat wajah tampanku menjadi seperti ini" Masih saja Taehyung menunjukkan, bekas memar di sudut bibirnya.
"..." lekas membuat Chanyeol terdiam. Lalu seketika itu pula, wajah Baekhyun memenuhi benaknya.
"M—Mark?" Ulang Chanyeol, di sini Ia memang menyadari... Baekhyun tinggal bersama Pria itu
"Bisa kau bayangkan? Dia membuatku seperti ini... bukan tidak mungkin jika Dia juga menyakiti Baekhyun" Ujar Taehyung mencoba meyakinkan Dokter muda itu
"Kemarin aku juga mendengar... Baekhyun berteriak di dalam, aku tak bisa berbuat apapun karena pintunya di kunc—
BRAKK
Taehyung tersentak begitu melihat Chanyeol tiba-tiba bangkit dari duduknya
"Ahjjussi... kau ingin kemana?"
"Tunjukkan aku tempatnya..." Gumam Chanyeol seraya menarik tangan anak itu.
"Y—YAA! Minumanku baru datang!" Taehyun meronta tak terima.
.
.
.
.
Di sinilah keduanya berada..
Tepat di depan pintu sebuah Apartmen milik seorang Dokter.
'BRAKKK! BRAKKKK!'
"Baekhyun! Kau di dalam?" Teriak Taehyung untuk kesekian kalinya
Tapi, meskipun Ia berulang kali mencoba... tetap tak ada jawaban dari dalamnya lebih-lebih pergerakan pintu yang dibuka
"Ahjjussi... bisakah kau mendobrak pintunya?" Tanya Taehyung, tanpa pikir panjang.
.
.
"Tuan yang di sana.."
Hingga keduanya dikejutkan dengan sorang wanita, dari pintu seberangnya
Membuat Chanyeol memutar tubuh, membungkuk memberi salam... dan memaksa Taehyung melakukan hal yang sama.
"Malam sudah sangat larut, apa yang anda lakukan... bisa mengganggu penghuni lainnya" Ujar wanita itu, sembari berjalan mendekati keduanya.
"Maaf... atas sikap kami" Chanyeol kembali menundukkan kepala, bersikap lebih sopan. "Kami sedang mencari seseorang"
Wanita itu mengangguk mengerti. "Penghuni 108?" Tanya wanita itu, seraya menatap pintu di belakang pemuda itu.
"Benar Bibi cantik... kami ingin bertemu dengan orang di dalam pintu ini" Taehyung mengetuk-ngetuk pintu itu
Lekas membuat wanita itu tersipu, karena cara bicara Taehyung. "Ah... Siang ini, aku melihat Dokter Mark pergi keluar bersama seorang namja kecil" Tukas wanita yang memang mengenal penghuni apartmen itu. "Mereka mungkin belum kembali.." Pungkasnya kemudian
"Ah... baik, terima kasih banyak atas informasinya" Chanyeol kembali membungkuk
"Uhum... kembalilah lagi esok hari"
.
.
.
"Kemana perginya mereka?" Gumam Taehyung, sembil melipat kedua tangan di depan dada
Sementara Chanyeol di belakangnya,hanya berdecak melihatnya
"Mengapa kau datang padaku? Bukankah kau membenciku sebelumnya?"
Taehyung sedikit menoleh ke belakang. "Aku lebih membenci Mark di bandingkan dirimu"
"Tck!"
"Kau bisa menjadi sekutuku..." Lanjut anak itu, mendapat tendangan pelan di bokongnya
"Yack! Jangan menendangku!" Pekiknya lagi
Chanyeol terkekeh, meski dalam hati... ia mulai memikirkan banyak cara
Dari eosk hari Ia harus secepatnya menemui Mark di rumah sakit... kembali ke apartmen Mark... melacak keberadaan Pria itu... hingga haruskah melapor pada polisi
Tapi ia harus memastikan sesuatu di sini, sebelum bertindak gegabah
.
.
.
.
Esoknya...
"Kau melihat Mark?" Chanyeol berjalan tergesa... dan menanyakan hal yang sama pada setiap orang yang ditemuinya
"Tidak..."
.
.
.
"Kau melihat Mark?"
"Sampai detik ini aku belum melihatnya.."
.
.
.
"Kurasa Dia tidak masuk" ujar Seorang rekan Mark
"Ya, kudengar Mark sedang menyiapkan project minggu depan" Timpal yang lain
Namun alasan itu, tak lekas membuatnya tenang
Ini lebih terasa membuatnya berdebar tak tentu, karena masih tak bisa memastikan kondisi Baekhyun
Lalu Chanyeol putuskan, bertolak menemui seseorang yang lain.
.
.
"Apa kau tau tentangnya, ataukah mungkin kau mendengar kekasihmu menghubungi Mark?"
Terlihat... Sehun menghela nafas berat. "Yeol... bisakah tak bicarakan hal ini di sini? Ini akan kacau jika Luhan tau kau masih mencari Baekhyun"
" Aku benar-benar mencarinya! Karena Aku merasakan firasat buruk untuk anak itu!"
"Tapi—
"Kau masih tak pernah berhenti mengusik hidupnya.."
Tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan Luhan
"Berhenti menyiksanya... Baekhyun sudah lebih baik tanpa melihatmu!"
Chanyeol beralih cepat mendekati Pria cantik itu. "Mark memukul Taehyung, apa kau tak melihat luka di sudut bibir adikmu?! Itu yang membuatku mencemaskan Baekhyun!"
Luhan tertawa hambar. "Kau percaya ucapan anak sekecil Taehyung? Adikku sangat membenci Mark, karena keputusan Baekhyun yang lebih memilih Mark. Taehyung bisa membujuk dengan cara apapun untuk membalas kesalnya,dan luka itu... Dia hanya berkelahi dengan temannya"
Chanyeol menatap tak percaya...
"Kau benar-benar mengabaikan kondisi Adikmu sendiri?"
"Jaga bicaramu! Aku lebih tau bagaimana cara menjaga adikku sebenarnya!" Sahut Luhan, terlihat geram
"Dan mengenai Baekhyun, berhenti mencarinya! Karena Dia aman bersama Mark!"
"Bagaimana jika Mark menyekapnya?!" Chanyeol terlihat emosi
Membuat Luhan tertawa keras. "Apa kau sedang membicarakan dirimu sebelumnya? Mark tidak sekeji dirimu! Dia bahkan membawa Baekhyun untuk menjalankan therapi psikisnya... berhenti bicara buruk tentang Mark!"
"..."
Tak ada ucapan lain, selain tangan terkepal di kedua sisi tubuhnya.
Kali ini... Ia benar-benar harus memastikannya seorang diri.
.
.
.
Sementara itu...
Dipenghujung malam, yang sebenarnya nyaris dini hari
Terlihat seorang Pria berjalan perlahan, keluar dari lift... menuju pintu apartmennya
Ia tak sendiri, melainkan bersama seseorang dalam rengkuhan bridalnya.
Ya... seorang anak yang terlihat terpejam di bawah mantel tebal miliknya, sepertinya anak itu memang tertidur
Tapi tak seorangpun tau... di balik mantel tebal itu,
Kedua tangan dan kaki bocah itu, terikat kuat...
.
.
"Tsk... ini merepotkan, sejak keparat itu kemari untuk mencarimu" Gumam Mark, sambil menekan beberapa password pintunya. Merutuk bahkan mengumpat akan sosok Chanyeol, Ia yang harus bersusah payah membawa pergi Baekhyun di pagi hari.. lalu kembali saat dini hari, demi menghindari Chanyeol.
Bahkan Iapun harus memutar otak, mencari cara untuk menghindari saksi dan juga sisi tv yang ada.
"..." Tak ada jawaban dari sosok mungil itu,
Karena memang... Baekhyun tengah tak sadarkan diri.
.
.
.
Ia mendudukkan Baekhyun di sebuah sofa...
Masih tak merasa iba dengan tangan dan kaki yang terikat, mark biarkan begitu saja...
Perlahan mendekat, membelai wajah terpejamnya... sementara, Ia mengenakan sebuah topeng... hanya bibirnya yang terlihat
Lalu melumat bibir tipis, dengan beberapa luka memar di sudut bibirnya
'ck...tck"
Terdengar kecipak bibir, dari pagutan kala mengklaim penuh isi bibir mungil itu
Meski demikian... Baekhyun tak juga terbangun, masih terpejam... dengan nafas tersendat lemah
"Kau lihat..." Ia mulai melirik ke arah kamera, lalu kembali memainkan bibir Baekhyun. "Kau tak bisa menyentuhnya seperti ini... sementara aku bisa menguasainya" Mark membawa wajah Baekhyun mendekati kamera, lalu menjilat pipinya.
"Lalu... bagaimana jika aku mencicipi tubuhnya?" Pria itu kembali bermonolog dalam rekamannya, seolah kamera itu Chanyeol
"Melakukannya lebih dari yang kau lakukan saat kau memperkosa anak ini hm?" Perlahan Ia membuka satu per satu kancing kemeja Baekhyun...
Begitu mencapai perutnya... Ia mematikan kamera itu, sekedar untuk menggoda
"Haha... ini akan menarik jika bedebah itu melihatnya" Kekehnya, kala menyimpan rekaman itu. Suatu saat akan Ia gunakan, jika waktunya tepat.
Sejenak Ia membuka topengnya, lalu membuangnya asal ke belakang.
.
.
.
"Bangun!" Tak berselang lama setelahnya, Mark mulai menepuk-nepuk pipi Baekhyun.
"Kau tak mendengarku?!" Ia menekan pipi Baekhyun kasar, dengan sebelah tangannya
"Aku membawa tugas untukmu! Bangunlah!" Teriaknya keras
DRRRTTT...DRRRTTTTTT
Mark mengumpat lirih begitu ponselnya bergetar, Ia tau pasti itu Luhan yang menelfon untuk menanyakan kondisi Baekhyun.
Tapi ini tak biasa... mengapa selarut ini?
Tatapannya sedikit menyipit, mendapati nomor tak dikenal.
Mungkinkah panggilan darurat dari rumah sakit?
Ia putuskan untuk mengangkat panggilan tersebut
"Hello—
("Di mana Baekhyun?")
Terdengar suara bass dari dalamnya...
Ini tak akan sulit diterka... karna Ia tau pemilik suara itu.
"Ah! Sunbae-nim? Aku bisa mengenali suaramu" Mark berpura bersikap ramah
("Aku ingin mendengar suaranya... di mana Baekhyun")
Mark menyeringai. "Maaf tapi, Baekhyun sedang tidur.."
"nnh! L-Lepaskan aku!"
Tapi tiba-tiba saja, Baekhyun meronta... dan mencoba berteriak, Sial! Ia tak menduga... Baekhyun akan terbangun di saat yang tak tepat seperti ini.
("B—Baekhyun?")
Dan benar saja, Chanyeol mendengarnya...
("Apa yang kau lakukan padanya Brengsek?!" )Chanyeol mulai emosi
"Ah... tenang Sunbae-nim, Baekhyun selalu mendapat mimpi buruk di setiap malamnya" Ujar Mark, seraya membekap bibir Baekhyun dengan sebelah tangannya
"Mpfth! Mhhhh!"
("Aku tau Dia tidak tidur! Biarkan aku bicara padanya!")
Mark mulai memicingkan mata, satu sikap penuh penekanan... kembali mengingatkannya pada masa lalu, dimana Chanyeol yang selalu dominan.
"Untuk apa?" Cara bicara itu mulai berubah. "Baekhyun membencimu... sangat-sangat membencimu" Kekehnya sambil melirik Baekhyun yang masih dibekapnya.
("Apa?")
"Kau tau? Aku tak akan membiarkanmu menang untuk hal semacam ini..."
("Apa maksudmu?!")
"Aku bukan lagi... seorang yang bisa kau permalukan seperti sebelumnya"
("Berhenti dengan omong kosongmu! Biarkan aku bicara dengan Baekhyun!")
"Kau tak mengingatku? Setelah ini... akan ada kejutan untukmu... Sunbae-nim"
("MARK!")
"HAHAHHAA!"
PIP
Sambungan telfon itu Ia matikan begitu saja.
"Ada baiknya jika aku membuang nomor ini.." Desisnya seraya melirik Baekhyun, yang masih meronta di bawahnya.
.
.
.
"Bangun!" Teriak Mark, seraya membuka kasar ikatan di kaki Baekhyun
"Agh!" Baekhyun terlonjak, begitu tangannya yang terikat di tarik paksa.
Tapi Ia tak bisa berbuat apapun selain mengikuti langkah Mark..
'BRUGH'
Lalu... dirinya dipaksa duduk di kursi, dengan sebuah laptop di depannya
.
.
.
"Buka matamu!" Seru Mark, memaksa Baekhyun membuka matanya
Tapi anak itu mengelak, tetap terpejam... masih berusaha membatasi diri pada pendiriannya.
BRAAKK!
Meja di gebrak keras, tepat di depannya
"BUKA MATAMU! ATAU KAU INGIN AKU PUKUL?"
Membuat Baekhyun menggigil ketakutan, tak memiliki pilihan lain selain membuka matanya.. meski pandangannya kabur karena air mata.
"Bagus.." mark membelai kepala Baekhyun. "Seperti ini... aku menyukaimu yang patuh" Bisiknya sambil, mengarahkkan kepala Baekhyun agar menatap ke arah laptop
.
.
.
"Dia akan memulai project bulan depan..." Mark, menunjukkan rekaman beberapa sosok berjas Dokter di sebuah ruangan, dengan layar besar menjadi pusat perhatian mereka. Salah satu di antaranya... Ia melihat Chanyeol
"Kau lihat beberapa opsi di layar itu?" Mark kembali menunjuk layar...
"..." Baekhyun mengangguk pelan, kedua tangannya pun tak pernah berhenti saling meremas di bawah meja. Tanda—
Anak itu benar-benar ketakutan di sini.
"Cermati rekaman ini, aku ingin kau membaca pikiran Chanyeol... opsi apa yang dipilihnya. Sejak ini sebuah project... ini bersifat rahasia, jadi aku tak tau konsepnya" Ujar Mark, sambil mengeraskan volume video itu.
"Jika aku tau... project yang dipilihnya, aku memiliki beberapa cara untuk menggagalkan—
Mark lekas terdiam begitu menyadari, Baekhyun memandangnya
"Ada apa?"
Dengan takut-takut, Baekhyun mencoba berbicara padanya. "A—Aku tidak bisa membaca pikiran m-melalui v-video H-Hyung"
Dan Mark, terbelalak geram. "Bicara apa kau?! Bahkan kau belum mencobanya! Perhatikan rekaman ini! Dan jangan banyak mengeluh!" Mark kembali memaksa Baekhyun melihat videonya.
.
.
.
Hingga video itu habis diputar...
Baekhyun sama sekali tak merespon apapun.
"Jadi... apa yang dipikirkan olehnya?" Mark menunujuk wajah Chanyeol. Semakin tak sabar dengan ambisinya... untuk menghancurkan project Pria itu.
"..." Baekhyun hanya tertunduk. Apa yang harus Ia lakukan sekarang? Ia bahkan tak mengerti apa yang semua Dokter itu katakan di dalam rekaman.
"Mengapa kau diam saja?" Mark menghardiknya. Membuat Baekhyuns semakin ciut, sungguh... Ia benar-benar tak mendengar apapun
Merasa kesal, Mark beralih menaikkan dagu Baekhyun
"Katakan cepat!"
"Hks!" Ia menengadah, hanya bisa menggeleng sambil menangis... begitu Pria itu menarik kasar rambutnya.
"Bukankah kau bisa membaca pikiran?! MENGAPA KAU HANYA DIAM SAJA HAH?!"
"..."
Baekhyun semakin menggigil ketakutan, Ia telah mengatakannya... mustahil untuknya mendengar suara hati dan membaca pikiran seseorang dalam rekaman video. Ia tak bisa melakukannya
"SHIT! Bagaimana aku bisa menghancurkan Chanyeol, jika kau bisu seperti ini?!"
Mark menendang kasar mejanya, berteriak keras sebelum akhirnya berjalan menghentak menuju ruangan yang lain.
.
.
Sementara Baekhyun terlihat panik, ingin melepas jerat tali di tangannya.
.
.
"Mau apa kau?!"
Baekhyun terlonjak, mendengar hardikkan Mark di belakangnya.
"Kau ingin melarikan diri dariku?!" Pria itu berjalan geram ke arahnya, membuat Baekhyun menggeleng kasar
"T—Tidak... Hks, jangan memukul... kumohon"
Mark tertawa pelan, sambil meletakkan kotak metalik di hadapannya
"Seharusnya aku memukulmu, karena kau membuatku kesal... kau pantas dihukum!"
Tubuhnya sebenarnya terlalu letih, Baekhyun mengantuk... tapi terlalu takut untuk sekedar menyandarkan kepala. Lebih lagi... setiap ancaman yang terdengar, tentu tak bisa memberinya sekat untuk menghela nafas dengan tenang.
Jika saja Ia tau... Mark akan merubah perangai,dan menyiksanya seperti ini... tentu Ia tak akan memilih sejak di awal.
Jika saja, ia mendengar Taehyung dan Sooyoung, tentu dirinya tak akan berakhir seperti ini.
Haruskah melakukan hal yang sama untuk mengakhiri hidupnya, seperti yang pernah Ia lakukan sebelumnya?
Baekhyun rasa... selama hidupnya, Ia tak akan pernah merasakan apa itu 'bahagia'
Semua akan tetap sama, dan terus berulang... meski berulang kali seorang datang dengan kebaikan darinya.
Tapi... rupanya ada niat di baliknya.
.
.
"Kau lihat ini?"
Baekhyun tersentak dari lamunannya, begitu Mark mengambil sebuah benda dari dalam kotak metalik itu.
"Aku akan menghukummu dengan ini..."
Baekhyun menggeleng kasar, melihat sebuah suntikkan di tangan Mark
"Jangan takut... sebenarnya ini hanya untuk membantumu tidur. Aku tau... kau sulit tidur akhir-akhir ini"
"T—Tidak! Kumohon jangan lakukan ini!" Baekhyun mengatupkan kedua tangan di hadapan Mark, mencoba memohon.
Tapi yang terlihat Pria itu tetap mendekat, dengan seringai bak seorang psychopat.
"Ssshhh... Esok kau harus membantuku lagi, jadi malam ini tidurlah lebih cepat" Bisik Mark, sedikit menekan suntikan itu... hingga menciprat cairan dari jarumnya
Baekhyun menangis histeris... tapi Ia tak bisa bergerak kemanapun dengan kepala yang ditekan di atas meja.
Lalu jarum itu mendekati tangannya... Baekhyun bisa melihatnya, bagaimana ujung jarum itu ditusukkan ke dalam lengannya.
"A—AAHHH! Hks... S-Sakit! AHHT!"
Tak hanya satu kali...
Mark menyuntikkan cairan bius itu, di beberaap titik yang berbeda..
Tak peduli Baekhyun menjerit kesakitan, dan meronta karena takut.,
"Menangislah! Menangislah sekeras mungkin, hingga Chanyeol mendengarnya! HAHAHAHAHA!"
"..."
Lalu tak terdengar isak apapun...
Baekhyun kembali pingsan, dengan banyak bekas luka tusukkan jarum di sekitar lipatan lengannya
.
.
.
Pagi itu, terlihat Dokter Park berjalan tergesa di antara lalu lalang rumah sakit.
Jadwalnya mungkin sangat padat... tapi disela waktu yang ada, Ia menyempatkan diri menuju sebuah tempat...
.
"Dokter Mark mengambil cuti... tapi kami tak bisa menginformasikan keberadaanya, itu privasi setiap karyawan" Lugas wanita itu.
Membuat Chanyeol mengumpat geram, hingga membuat petugas personalia itu berjengit ketakutan.
Percuma Ia datang kemari...
Ia tak memiliki petunjuk apapun, kemana Pria itu membawa Baekhyun pergi?
Semua semakin membuatnya frustasi, terlebih setelah mendengar isakkan Baekhyun dari sambungan telfonnya.
Bukan tidak mungkin sesuatu yang buruk terjadi pada anak itu.
Berulang kali datang ke apartmen itu, tapi... Ia selalu mendapat jawaban yang sama. Mark tidak berada di apartmen miliknya
Nomor Pria itu pun, tak lagi bisa dihubungi...
Mungkin benar seperti yang dikatakan Luhan, Mark membawa Baekhyun ke sebuah desa... tempat orang tuanya berada. Tapi tak seorangpun tau di mana tempat itu.
.
.
Hingga hari kembali berselang menjadi esok hari
Chanyeol memutuskan kembali menemui bagian personalia...
"Bisakah aku tau... berapa lama Dia mengambil cuti?"
Petugas itupun terlihat, aktif membuka data dari layar komputer miiliknya. "Dokter Mark mengambil cuti besar, selama dua pekan"
"Jadi kapan dia masuk?"
"Satu pekan lagi Dok.."
Hanya sedikit petunjuk yang di dapatkannya...
Bahkan rasanya itu tak membantu apapun.
.
.
.
Lalu petang benar-benar menjelang, Ia terlihat menghela nafas berat kemudian merebahkan kepala di atas kemudinya.
Ia yang memang sedang menepikan mobilnya di sisi jalan, hanya diam mengamati lalu lalang di sisi jalan itu.
"Kemana aku harus mencarimu..." Gumamnya
Sebelum akhirnya mata itu benar-benar terasa berat untuk dikedipkan, dan Ia jatuh terlelap begitu saja.
.
.
"Yeollie.."
Sebuah suara mulai memanggilnya,
Chanyeol mengernyit, berusaha membiasakan diri dengan sinar yang terang itu... namun terlihat siluet dari baliknya.
"Yeollie.." Suara familiar itu kembali memanggilnya,
Lalu perlahan... sinarnya berangsur redup, dan Ia bisa melihat dengan jelas sosoknya
"Baekhyun.." Ia reflek menggumam lirih, dan menatap sosok itu tanpa berkedip.
Tapi sosok itu hanya tersenyum. "ini aku... kau tak mengenaliku?" Dia mulai mendekat, menyeka peluh di kening dan keringat Chanyeol, dengan tangan kecil yang terasa dingin.
"..." Chanyeol tak bisa berkata, selain mata tak berkedip karena tertegun.
"Mengapa kau biarkan dirimu berkeringat sebanyak ini? Kau bisa sakit" Sosok Bai Xian kembali tersenyum di depannya
Bahkan perlahan tangan mungil itu membelai wajahnya, membuat Chanyeol memejamkan mata... merasa nyaman dengan belaian halus itu.
"Kau mencarinya?"
Chanyeol masih memejamkan mata, meski Ia mersepon dengan menganggukkan kepala
"kembalilah... Dia di sana"
Chanyeol mengernyit...
"Dia menangis, tapi tak seorangpun mendengar"
Chanyeol membuka mata, lalu menatap Bai Xian bingung... apa yang sebenarnya anak itu bicarakan.
"Banyak orang di sekitarnya, hanya bersekat pintu dan dinding. Tapi ruangan yang kedap... membuat mereka tak menyadarinya. Dan kau pernah ke tempat itu sebelumnya... kembalilah, Dia membutuhkanmu"
Chanyeol masih menatapnya, berusaha mencerna tutur kata itu..
"Baekhyun... "Bai Xian kembali tersenyum manis, kala menyentuh sebelah pipinya
"Selamatkan Dia.." Lalu mendadak lenyap, seiring dengan lenyapnya cahaya menyilaukan itu.
.
.
"Hahh! Haahh!Hhhh!" Chanyeol terbangun, lalu terengah-engah ..
Kedua matanya seakan terkunci ke depan, kembali mengingat potongan mimpi sebelumnya.
Bahkan baru Ia sadari, tubuhnya yang berkeringat sementara Ia menyalakan Ac mobilnya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Itu hanya mimpi... tapi terasa begitu nyata, kala tangan mungil itu menyentuh wajahnya
'Banyak orang di sekitarnya, hanya bersekat pintu dan dinding. Tapi ruangan yang kedap... membuat mereka tak menyadarinya. Dan kau pernah ke tempat itu sebelumnya... kembalilah, Dia membutuhkanmu'
Lalu... ucapan Bai Xian kembali terngiang.
Banyak orang di sekitar, hanya bersekat pintu dan dinding.. namun kedap suara? Terlebih ia pernah memijakkan kaki di tempat itu.
Mungkinkah sebuah apartmen?
Chanyeol terbelalak... Lekas membuatnya, menghidupkan mobil... lalu melajukan mobil itu menuju sebuah tempat.
Percaya atau tidak...
Ia hanya ingin mendengar dan meyakini suara Bai Xian, meski Jam menunjukkan pukul 2 pagi.
.
.
.
.
.
.
"KAU MASIH TAK BISA MEMBACANYA?!"
Gertakkan itu, membuatnya reflek... melindungi kepala dengan kedua tangannya.
"Dengar! Aku tak akan berhenti sebelum kau membaca apa isi kepalanya!"
"Nghh!" Baekhyun menggigit kuat bibir bawahnya, begitu Mark memaksa menarik tengkuknya untuk menengadah
"A—Aku tak bi—saa" Lirih Baekhyun terbata. Pening berbaur dengan nyeri di sekujur tubuhnya, Baekhyun tak tau sebabnya... ia hanya merasa setiap persendian tubuhnya menjadi lunglai.
"ingin ku tampar hah?!"
Anak itu tak lagi bisa menangis... hanya memejamkan mata, dan pasrah jika Mark ingin menyakitinya lagi.
"Sial! Ini membuatku haus! Kau benar-benar tak berguna!" Rutuk Mark, sambil berjalan keluar dari kamar itu. Berniat mengambil air mineral.
Baekhyun melihat kesempatan yang ada...
Meski letih, Ia mencoba meraba-raba dinding... lalu tersungkur karena kakinya yang lemas.
"U—Uh!" Tapi Ia tak berhenti begitu saja, Baekhyun merangkak... tak peduli lututnya mungkin lecet. Baekhyun hanga ingin mencapai pintu.
.
.
'Cklek...Cklek'
"Hks!" Berulang kali Ia menoleh ke belakang, takut jika Mark melihatnya.
Sebenarnya Ia hanya cukup menarik pintu itu, tapi—
Pandangannya semakin berkunang, dan pintu itu telalu susah untuk dibuka olehnya
"BAEKHYUN!"
Terdengar, Mark berteriak di kamarnya. Pria itu menyadarinya Ia tak di sana.
"Nnn... Hh" Baekhyun menggeleng kasar, masih berusaha membuka pintu itu
Kakinya pun terasa semakin lemas karena ketakutan.
"KEMBALI ATAU KUPUKUL KAU?!" Suara Mark semakin terdengar mendekat.
.
.
.
'Cklek... Cklek'
Tapi masih saja, pintu itu sulit untuk dibukanya.
"Aaaaa..." Anak itu mulai menangis, dengan tubuh menggigil.
.
.
"YACK! BERANI KAU LARI DARIKU?!" Teriakan itu terdengar menggema
Baekhyun nyaris pingsan detik itu, karena takut dan terkejut
Namun..
'Kriek'
Ia berhasil membuka pintunya, dan berjalan terhuyung-hyung keluar dari apartmen itu..
"BRENGSEK! KEMBALI KAU!"
.
.
.
"A-Ahh... hh" Langkahnya mungkin tak sempurna, Baekhyun tak tau mungkinkah ini akan berhasil... sementara Ia tau, Mark mengejar di belakang, bahkan ini terlalu dekat.
"Hahaha! Kau pikir kau bisa lari jauh?!" Mark tertawa keras... tak peduli jika kamera sisi TV mungkin melihatnya, atau mungkin penghuni yang lain mendengarnya. Ini terlalu larut... tak ada seorangpun yang terjaga. Pikirnya
Pria itu memperlambat langkahnya, begitu melihat Baekhyun tersungkur... dan mencoba beringsut menjauhinya dengan bersusah payah.
"Kau tau ini akan percuma sayang. Diamlah di sana... dan biarkan aku menangkapmu" Kelakarnya, semakin geli melihat Baekhyun tetap berusaha melarikan diri. Tak sia-sia, Ia menyuntikkan bius untuk anak itu... mengantisipasi anak itu melarikan diri, sepertu saat ini.
lihat, Ia bisa melumpuhkannya tanpa harus bersusah payah.
.
.
"Menyerahlah... kau hanya melukai kakimu sendiri" Kekeh Mark lagi.
Baekhyun mencoba bangkit, menjadikan dinding itu sebagai tumpuannya.. lalu kembali melangkah sekuat yang Ia bisa.
"Hahaha! Larilah jika kau bisa melakukannya" Mark kembali tertawa akan dirinya, melihat Baekhyun tak mungkin lagi melarikan diri darinya
.
.
"Nnn~...Hhh" Bocah itu menggeleng tak kuat, kala berjalan merambati dinding ke arah lorong yang lain.
Ini benar-benar menyakitkan untuknya, tapi Ia tak b isa berdiam diri lalu Mark kembali menyeretnya ke dalam.
"Baekhyun..."
Hingga panggilan seseorang membuatnya tersentak, Baekhyun mengangkat kepala... tepat di ujung lorong itu Ia melihat Chanyeol berdiri dengan nafas terengah
"Nn—" Anak itu mencoba mengulurkan tangannya ke depan, berharap sosok itu lekas meraih tubuhnya.
"Hks!" Ia semakin berjalan payah ke depan... berharap cepat sampai di tempat Chanyeol, meski Ia tau Chanyeol pun berlari ke arahnya.
.
.
GREBBB
Hingga Pria itu benar-benar menangkapnya, dan memeluknya dengan perlindungan penuh.
Baekhyunpun menangis keras... apapun itu, Ia hanya ingin Chanyeol membawanya pergi dari tempat mengerikan itu.
"Tenanglah... pejamkan matamu" Bisik Chanyeol, mencoba menutup mata Baekhyun dengan sebelah tangannya
.
.
.
"Dengar! Kemanapun kau pergi aku tetap—
Mark, lantas membisu... begitu melangkah untuk berbelok, tapi... Ia dikejutkan dengan Chanyeol yang telah berdiri tegap, dengan tatapan menghunus tajam. Seorang bocah yang sedari tadi dikejarnya itu pun terlihat terisak dalam gendongannya.
Mark mendadak gemetar, Ia tak siap dengan situasi semacam ini, bagaimana mungkin Chanyeol bisa di sini?... hingga Ia putuskan untuk berlari, dari Chanyeol.
Seharusnya Ia mengejarnya, tapi kondisi Baekhyun tak memungkinkan untuknya melakukan semua itu.
Dokter muda itu lebih memilih, berjalan tergesa membawa Baekhyun keluar dari gedung itu. Setidaknya anak itu harus merasa aman... dan tenang.
.
.
.
.
Nyaris setengah jam terlewat...
Baekhyun merasa... ia telah berada di tempat yang lain, dengan aroma tubuh yang lain.
Ia masih memejamkan mata erat, sementara Baekhyun tau... tubuhnya masih berada dalam gendongan bridal Pria itu.
'Kau di rumahku'
Terdengar suara hati Chanyeol, Baekhyun tau... Ia di sana
.
.
Lalu perlahan, Ia merasa... dibaringkan di sebuah tempat yang nyaman. Membuatnya reflek membuka mata... dan tercekat, melihat wajah Chanyeol berada cukup dekat dengannya.
Kontak mata itupun terjadi... membuat keduanya seakan terkunci...
Hingga kerjapan mata Baekhyun, membuat Chanyeol tersadar...
"Maaf... aku hanya ingin merebahkan tubuhmu" Ujar Chanyeol secepat mungkin, sebelum Baekhyun bepikir buruk tentangnya.
"..." Anak itu hanya diam, bahkan hingga Chanyeol beranjak dari ranjang untuk meninggalkannya... Baekhyun tetap diam.
Apa yang sebenarnya terjadi? Semua ini terlalu cepat... Ia mungkin takut melihat Chanyeol, tapi... Ia lebih takut terjebak di apartmen itu.
.
.
.
Hingga tak berselang lama setelahnya, Chanyeol kembali masuk ke dalam... dengan sebuah nampan berisikan air dan handuk kecil.
Lama Pria itu memandangnya, tak berniat duduk mendekatinya... dan hanya berdiri di sisinya.
"Pejamkan matamu, jika kau tak ingin melihatku" Ujar Pria itu, membuat Baekhyun menggigit bibir. Kembali Ia dengar suara Perawat Park, yang selalu disukainya itu.
"Aku hanya ingin membersihkan tubuhmu, lalu kau bisa tidur dengan nyaman" Pungkas Chanyeol seraya meletakkan nampan itu, di meja nakas.
Baekhyun tak memejamkan mata seperti dugaannya...
Anak itu hanya diam, sambil meremas-remas jemari di atas perutnya
"..."
Sikap diam itu, Chanyeol artikan... jika anak itu mengizinkannya untuk mendekat.
Perlahan, Chanyeol mencoba mengangkat tubuh Baekhyun, hingga bersandar di kepala ranjang.
Terasa getir untuknya, melihat Baekhyun menundukkan kepala, dan membiarkan sebagian poni itu menutupi matanya.
Tapi setidaknya... Ia bisa melihat, Baekhyun baik-baik saja bersamanya. Meski dengan luka di tubuhnya.
.
.
.
"Nnh!" pekik Baekhyun, begitu kain hangat itu menyentuh sudut bibirnya
"Apa ini sakit?" Chanyeol menjauhkan tangannya, memastikan perubahan raut Baekhyun.
"..." Baekhyun hanya mengangguk pelan.
Membuat Chanyeol tersenyum. "Bertahanlah sedikit lagi, aku akan berhati-hati" Bisiknya
.
.
.
"Tak apa... kau bisa memejamkan matamu, jika tak ingin melihatnya" Chanyeol berusaha menenangkan Baekhyun, begitu Ia mencoba melepas kemeja anak itu.
Tapi Baekhyun terlihat kekeuh, mengepalkan tangannya sendiri... Ingin menyembunyikan wajahnya yang merah, tapi kemeja yang perlaha merosot turun dari tubuhnya itu, membuat jantungnya berdegup cepat.
Baekhyun tau... Pria itu tengah menatapnya.
Sementara... Chanyeol tampak terdiam, menatap nanar pada tubuh polos di depannya.
Merasa terpukul... melihat bekas suntikan jarum di sekujur tubuh anak itu, apa yang sebenarnya Mark lakukan padanya?
"Uh!" Pekik Baekhyun, sambil memeluk kemejanya sendiri.
"Maaf jika kau tak menyukainya, tapi luka ini harus diobati" Bisik Chanyeol sepelan mungkin, sambil membuka obat khusus di tangannya.
.
.
Perlahan Ia membawa jarinya mengoleskan obat itu di punggung Baekhyun
Tapi..
Ia mendadadak stagnan, begitu merasakan debaran jantung Baekhyun... terasa hingga ujung jemarinya.
Chanyeol hanya mengulum senyum. Ia hanya cukup berpura-pura tak tau... lalu kembali melanjutkan mengobati luka Baekhyun
"U—Uh!"
Tiba-tiba Baekhyun melenguh, dengan tubuh condong ke depan.
"ini tak nyaman?" Tanya Chanyeol
"..." Baekhyun menggeleng, sambil menyembunyikan wajah di balik kemejanya
Membuat pria itu menghela nafas pelan, lalu kembali melanjutkan gerakan tangannya.
"Nn~ Ahh!""
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
NEXT CHAP
"Aku tau... kau masih tak bisa menerimaku. Tapi bertahanlah, meski kau tak menyukainya"
Anak itu tetap berbaring membelakangi tubuhnya
Tapi Chanyeol tetap, melangkah mendekat... membenarkan letak tangan Baekhyun yang diinfus itu, tak tertindih karena tidurnya
.
.
.
.
"Baekhyun bersamaku.. Dia akan tinggal bersamaku"
.
.
.
"T-Tidak mau!"
"ini sudah lebih dari dua hari. jika dibiarkan itu tentu tak baik untukmu" Chanyeol kembali mendekat, dengan membawa suppository
ini memalukan untuknya, meski Ia tau Pria itu seorang Dokter...
.
.
"aku bisa melakukannya sendiri..."!
.
.
"AHHH!"
"Ada apa?" Chanyeol berlari tergesa ke dalam toliet
"Bagaimana mengeluarkannya?" Baekhyun hampir menangis ketakutan, begitu menyadari pipa alat itu turut masuk ke dalam anusnya
"Aaaaaaaa!"
"Y-Ya... tenanglah"
Yohooooooo TCOMB update
sesuai permintaan kan? panjang lebar kali tinggi
.
.
Yesss itu Hani EXID kekekekekekkek~
Kalau review banyak, gua langsung update...
.
Jangan lupa Follow IG ; Gloomy_rosemary
Jangan lupa review, g review g update
.
.
Yana Sehunn, ambar istrinya suho, byunlovely, chanchannie, veraparkhyun c, Flowerinyou, yollie wife, neniFanadicky , realoey614, rimadwis , restikadena90 , AuliyaRchy , winter park chanchan, Loey761 , bbhyn92, Chel VL , VlnChuu, xiaobao, Chanbaekaddict, YaharS, LightPhoenix614, Nara614 , LyWoo, ismaaa45 , kim, Kitukie , Cynta533 , soufi park , Xiaoh04, Hyera832, Alivia625, kinkinkin1204, sehunluhan0905 , chanbaek1597, mutianafsulm, Nam Yeongie, astia631, chanbaekssi , Chogiwagurl , BaekheeChanlove, Minachanbaek, hunhanshin, Baekby, realoey614 , caesarpoo, Byun Na Ra, meliarisky7, bbysmurf , Bbasjtr , Hasil enaena ChanBaek , nisahyun , dewihutasoit61 , byunlovely , Dodio347 , SMLming, kinkinkin1204, Asandra735 , CY PARK , Byun Jaehyunee , Park Shiina, Byun Jaehyunee, kkaiii , berrybyun, zahrazhafira335 , inspirit7starlight, baekkachu09, lilykurniati77, chanhyun , chanbaekshipper, yulis443, selepy, rima, ChanBaekGAY, park chan2 , Chanbaekaddict, realbaek21, annisapuji , byankai , byunbee04, Parkbaexh614, Dan All Guest
Bye
Love u All
