Chapter 9

Naruko VS Hinata

Setiap hari pembangunan di Konoha terus dilanjutkan. Konoha mengalami kerusakan yang amat parah, jadi pekerjaan pembangunan ini tak bisa sepenuhnya diserahkan kepada Kapten Yamato. Beberapa tukang kayu didatangkan dari luar Konoha untuk mempercepat pembangunan. Salah satunya adalah Inari dan kakeknya.

Di hari ke-5 pasca invasi Pain, bangunan apartemen Naruto selesai dibangun oleh Kapten Yamato. Relatif cepat karena pembangunan bangunan pemukiman menjadi prioritas selanjutnya setelah pembangunan fasilitas umum.

Naruto dan Naruko sudah penasaran dengan apartemen baru mereka. Mereka tak sabar melihat isinya. Mudah-mudahan saja isinya jadi lebih lengkap dari sebelumnya. Tapi kelihatannya mereka harus kecewa. Isi apartemen mereka tak seperti yang mereka harapkan.

Dari desain, tata ruang, hingga perabotan yang ada sama persis dengan apartemen yang lama.

"Kamar tidurnya tetap satu," keluh Naruto.

"Kamar mandinya juga tetap satu," tambah Naruko.

"Aku hanya membangun sesuai denah yang lama," kata Yamato sambil berlalu.

"Ayolah. Paling tidak, tolong buatkan 2 tempat tidur," mohon Naruto.

"Buat saja sendiri, di luar sana banyak kayu," balas Yamato cuek. "Masih banyak rumah penduduk yang harus kubangun. Lebih baik aku menghemat chakra-ku."

Menjadi satu-satunya shinobi yang mengusai elemen kayu membuat Yamato harus bekerja keras dalam memperbaiki desa Konoha.

Naruto hanya bisa pasrah melihat keadaan apartemennya. Meski tidak sesuai dengan yang diharapkannya, paling tidak sekarang apartemennya baru. Kayu-kayunya tidak lagi lapuk. Lebih layak ditinggali dibanding apartemen lamanya.

Saat menoleh ke arah Naruko, Naruto sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan teman seapartemennya itu.

"Kalau kau mau, kau boleh tidur di tempat tidur mulai saat ini," kata Naruko sambil tersenyum manis ke arah Naruto.

Naruto tercengang, ternyata tebakannya salah besar.

Mata Naruto menyipit, memandang Naruko heran. "Kupikir kau akan memohon agar membiarkanmu tidur di tempat tidur dengan Puppy Eyes No Jutsu-mu."

Naruko terkikik. "Kali ini kau boleh tidur di tempat tidur, asalkan kau tak macam-macam padaku," ujarnya sambil berlalu, melihat dapur baru mereka.

Naruto melongo di tempatnya. "Jadi maksudmu kita benar-benar tidur sekasur?" Naruto berjalan cepat mengimbangi Naruko.

"Iya. Memangnya kau tega membiarkan aku yang tidur di bawah? Enak saja!" cibir Naruko.

"Oh, baiklah," kata Naruto sambil tersenyum. Ia bersyukur, kali ini ia tidak akan tidur di bawah lagi.


Hari itu Naruto dan Naruko sibuk beres-beres di apartemen baru mereka. Selain tempat tidur, Kapten Yamato sudah berbaik hati membuatkan mereka beberapa furniture seperti kursi, meja dan lemari. Mereka hanya tinggal mengatur posisinya saja. Kemudian mereka juga memasukkan barang-barang yang masih layak pakai, yang berhasil mereka kumpulkan sebelumnya. Ada juga barang yang baru saja mereka beli. Saat siang menjelang, keduanya beristirahat. Kebetulan acara beres-beres mereka sudah selesai.

Saat sedang istirahat di meja makan, Naruto memainkan jus jeruknya yang hampir habis. Diam-diam ia memandang Naruko yang sedang duduk di seberangnya. Semenjak invasi pain berakhir, Naruto merasa ada yang berbeda dengan Naruko. Bukan hanya penampilan, tapi juga sikap Naruko padanya.

"Naruko?" tanya Naruto.

"Hmm?" gumam Naruko yang masih menyeruput jus jeruk miliknya.

"Ada apa denganmu akhir-akhir ini?" tanya Naruto penasaran.

"Ada apa apanya?" Kali ini Naruko menggeser gelasnya dan melipat kedua tangannya di atas meja.

Naruto melakukan hal yang sama, melipat kedua tangannya di atas meja. "Jangan pura-pura tidak tahu. Sikapmu padaku akhir-akhir ini berbeda. Barusan kau membuatkanku jus, tadi kau mengusap keringatku, tadi juga kau bilang tak keberatan berbagi tempat tidur denganku. Yang paling parah, kemarin waktu aku tak sengaja melihatmu ganti baju kau tidak marah. Ah, pokoknya masih banyak sikapmu yang berubah. Aku merasa kau lebih baik dan perhatian padaku."

Naruko tersenyum, Naruto sudah menyadari perhatian yang ia berikan. Ini adalah rencananya untuk menaklukan hati Naruto. Perangnya dengan Hinata sudah dimulai, Naruko ingin membuat Naruto senyaman mungkin berada di sisinya.

Naruko meminum jusnya, kemudian menatap Naruto lagi.

"Lalu kenapa? Apa itu salah? Kalau kau tak mau kubuatkan jus juga tak masalah. Kalau kau memang lebih senang tidur di lantai silahkan saja, aku tak akan memaksa," ujar Naruko, sok cuek.

"Bu-bukan begitu, sejujurya aku merasa senang," jawab Naruto gelagapan. Ia tak mau tidur di bawah dan kedinginan lagi. "Tapi ini bukan karena kau sedang ingin kubelikan sesuatu 'kan?"

Melihat Naruto yang memandangnya curiga, kening Naruko berkerut. Bisa-bisanya Naruto berpikir begitu. Naruko tak mampu menahan tawanya melihat tingkah Naruto yang kelewat curiga itu. Ia tertawa geli.

"Hihi, baka! Tentu saja tidak!"

TOK! TOK! TOK!

Percakapan Naruto dan Naruko terhenti saat terdengar suara pintu apartemen yang diketuk. Melihat Naruto yang kecapekan, Naruko berinisiatif untuk membukakan pintu. Betapa kagetnya saat ia membuka pintu dan mendapati Hinata ada di sana.

"Kau!"

Hinata tak kalah kagetnya melihat Naruko yang membukakan pintu. "Se-selamat siang," salamnya .

"Mau apa kau kemari?" tanya Naruko dingin, ia tak suka Hinata mengganggu momen-momen kebersamaannya dengan Naruto.

Pertanyaan Naruko itu terjawab saat Naruto menggeser pelan badan Naruko, membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Hinata masuk. "Aku yang mengundangnya untuk makan siang bersama di sini. Hinata menawarkan diri untuk memasak, karena masakan Hinata enak jadi aku setuju saja."

Naruko tak bisa protes apa-apa lagi setelah Naruto yang angkat bicara.

Naruto mempersilahkan Hinata duduk bersamanya di meja makan. Kemudian Hinata membuka bento yang dibawanya. Dilihat dari porsi yang dibawanya, sebenarnya itu porsi yang cukup untuk dimakan oleh bertiga. Tapi Naruko berpikir dua kali untuk bergabung makan bersama mereka sebelum Hinata atau Naruto sendiri yang mengajaknya makan. Jujur saja, saat ini Naruko merasa diserang di daerah kekuasaannya sendiri oleh Hinata. Ia tak menyangka Hinata berani datang ke apartemennya (maksudnya apartemennya dan Naruto).

Naruto dan Hinata duduk bersebelahan di meja makan. Melihat pipi Hinata yang merona merah ketika makan bersama Naruto, Naruko merasa sangat sangat cemburu. Tapi ia hanya bisa berdiri di dekat pintu ruang makan, tak bisa berbuat apa-apa. Ia bingung harus apa.

"Naruko, kau mau?" tawar Naruto.

Ada sedikit rasa senang saat tahu Naruto masih mempedulikannya. Tapi Naruko juga bisa melihat raut wajah tidak senang di wajah Hinata.

Naruko tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Jika bergabung bersama mereka, setidaknya Hinata tidak akan terlalu leluasa. Orang bilang jika ada sepasang laki-laki dan perempuan berduaan, maka orang ketiganya adalah setan. Naruko tak peduli jika ia harus jadi setan. Ia tidak akan menyerahkan Naruto kepada Hinata dengan mudah.

Naruko akhirnya duduk di seberang Naruto. Ia mengambil sumpit dan ikut mencicipi makanan Hinata yang pada kenyataannya memang enak.

"Makananmu memang enak Hinata," kata Naruto sambil menikmati makanannya dengan lahap.

Otot rahang Naruko menegang. Lagi-lagi Naruto memuji Hinata. Naruko tak suka ini.

"Kalau hanya masakan seperti ini aku juga bisa," kata Naruko tak mau kalah.

"Oh ya? Tapi aku yakin tidak akan seenak ini," kata Naruto sambil tertawa, mungkin maksudnya bercanda.

Tapi candaan Naruto ini terasa menohok hati Naruko.

Pegangan jari-jari Naruko menguat di sumpitnya karena kesal, untung saja sumpitnya tidak patah.

Dasar baka! Naruko tahu tadi dia hanya membual. Masakannya akan sulit mengalahkan masakan Hinata. Tapi tak seharusnya Naruto berkata seperti itu. Naruto tidak tahu betapa menyakitkannya kalimat itu untuk Naruko. Hinata sudah dilahirkan ke dunia ini selama 16 tahun, sementara Naruko baru diciptakan 4 tahun. Bahkan Naruko baru 2 bulan lebih bisa terbebas dari tubuh Naruto. Hinata tentu punya waktu lebih banyak untuk belajar memasak. Ini jelas tidak adil. Seharusnya Naruto menyadari itu!

"Saat kau berlatih di Myoubokuzan, aku banyak menghabiskan waktuku untuk belajar masak, Naruto-kun. Aku yakin kau akan suka masakanku," lirih Naruko. Ia berusaha tersenyum meski hatinya terasa sakit.

"Aku tak sabar mencicipi makananmu Naruko-chan, aku ingin tahu apa benar bisa lebih enak dari ini," ujar Hinata tanpa terbata-bata sedikitpun.

Naruko tak percaya Hinata bisa mengatakan kalimat itu. Kalimat itu memang terdengar ramah, bahkan Hinata mengatakannya sambil tersenyum. Tapi sebaliknya, Naruko merasa ada aura melecehkan dalam kalimat Hinata itu. Gadis pemalu ini telah terang-terangan menyerang Naruko di daerah kekuasaannya. Kelihatannya Naruko terlalu menganggap remeh Hinata. Karena sifat Hinata yang pemalu, Naruko pikir Hinata adalah lawan yang mudah. Tapi ternyata tidak seperti itu. Hinata adalah lawan yang patut diperhitungkan.

Naruko menyimpan sumpitnya, ia sudah kehilangan nafsu makannya. Sudah cukup ia bermain-main dalam meladeni Hinata. Saatnya ia serius. Naruko menatap Hinata tajam.

"Aku tahu akan sulit mengalahkan masakanmu, Hinata-chan. Aku baru hidup di dunia ini dan bisa bebas menggunakan tubuh ini selama beberapa bulan, sedangkan kau sudah lama. Bukankah itu tidak adil? Ada banyak hal yang tak mampu kulakukan tapi dengan mudah bisa kau lakukan. Tapi setidaknya ada satu hal yang bisa kulakukan tapi tak akan mampu kau lakukan," kata Naruko panjang lebar.

Setelah itu Naruko dengan tiba-tiba menarik kerah jaket Naruto yang berada di seberangnya. Tanpa banyak omong lagi Naruko memiringkan wajahnya, lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Naruto.

Naruko mencium Naruto.

Di bibir.

Naruto tak mampu bereaksi apa-apa saking kagetnya. Wajahnya memanas karena malu. Naruto bisa merasakan sentuhan bibir Naruko yang begitu lembut di bibirnya. Tapi sedetik kemudian ia sadar kalau ini salah. Naruto mendorong badan Naruko, membuat ciuman mereka berakhir.

Hinata yang menyaksikan pemandangan ini hanya bisa menutup mulutnya. Ia merasa kaget, malu, dan juga marah. Orang yang disayanginya dicium di depan matanya sendiri. Naruto-kun-nya telah dicium oleh rivalnya, Naruko!

"Naruko, kau..." Naruto tak mampu melanjutkan kalimatnya, masih panik atas apa yang baru saja terjadi.

Sebenarnya Naruko malu mencium Naruto secara tiba-tiba seperti ini. Bohong jika jantungnya tak berdetak hebat, bohong jika wajahnya tidak merona merah. Apalagi harus disaksikan oleh orang lain, yaitu Hinata. Tapi ini demi membuktikan kepada Naruto kalau dirinya juga menyayangi Naruto. Juga untuk membuktikan kepada Hinata kalau ada hal yang bisa Naruko lakukan, tapi tidak akan mampu Hinata lakukan.

Naruko beralih manatap Hinata dengan wajah penuh kemenangan. "Apa kau mampu melakukannya Hinata-chan?"

Hinata hanya mematung di tempatnya, wajahnya sudah sangat merah.

"Seperti dugaanku. Kau tak akan mampu mencium Naruto-kun," lanjut Naruko.

Hinata menoleh ke arah Naruto sejenak. Saat mata lavender-nya bertemu dengan mata shapire Naruto, Hinata kembali menunduk. Naruko sudah tahu kelemahannya. Tidak mungkin dirinya mampu mencium Naruto, apalagi jika harus disaksikan Naruko.

"Kenapa? Bukannya kau menyayangi Naruto-kun? Seharusnya mencium Naruto-kun bukanlah hal sulit jika kau benar-benar menyayanginya," kata Naruko lagi, semakin memojokkan Hinata.

Dipojokkan seperti ini, Hinata merasa kalau dirinya akan kalah. Ia tak ingin menyerahkan Naruto kepada Naruko. Perlahan-lahan Hinata kembali berusaha menatap Naruto. Tapi setiap ia bertemu pandang dengan Naruto, Hinata merasa badannya langsung lemas. Jangankan untuk mencium Naruto jika untuk menatap matanya saja Hinata tak mampu.

"Cukup Naruko!" bentak Naruto.

Naruto menarik tangan Naruko dengan kasar dan membawanya ke kamar, menjauh dari Hinata.

"Hei, lepaskan. Sakit," protes Naruko.

Naruto tak mempedulikan ringisan Naruko dan mendorongnya ke dinding, lalu menahannya di sana.

"Apa maksud tindakanmu tadi?!" bentak Naruto. Ia berusaha menjaga volume suaranya agar tidak terdengar Hinata yang masih ada di luar.

"Apa selama ini kau tidak menyadari sikapku padamu? Aku melakukannya karena aku menyayangimu. Aku tidak suka kau bersama Hinata," jawab Naruko. Sudah cukup ia menyembunyikan perasaannya kepada Naruto.

Naruto terkejut mendengar ini. Naruto sadar kalau selama ini Naruko adalah perempuan yang paling dekat dengannya. Ia juga sadar kalau Naruko banyak memberikan perhatian kepadanya. Tapi ia tak menyangka kalau Naruko menyayanginya.

Naruto melepas pegangannya di pundak Naruko. "Tapi bukankah kau dulu yang menyarankanku mengajak Hinata makan siang bersama?"

"Waktu itu kau bertanya baik-baik padaku, jadi aku putuskan untuk menjawabnya dengan baik-baik juga! Aku tak mungkin tega berbohong padamu! Tapi aku tidak menyuruhmu untuk mengajaknya ke apartemen kita!" jawab Naruko agak keras, ia tak peduli jika Hinata mendengar ucapannya.

"Arghhh..." Naruto mengacak rambutnya frustasi. Lalu ia keluar dari kamar.

"Naruto-kun, tunggu!" cegah Naruko. Tapi terlambat, Naruto sudah memegang tangan Hinata dan sudah bersiap pergi.

"Kurasa mengajak Hinata makan siang di sini memang merupakan kesalahan besar. Tahu begini lebih baik aku makan siang berdua di luar saja dengan Hinata," kata Naruto dingin. Lalu ia menutup pintu apartemen, membiarkan Naruko yang terduduk lemas, sedih karena Naruto lebih memihak Hinata.


Setelah makan siang bersama Hinata, Naruto tak langsung pulang karena ia bingung bagaimana ia harus bersikap saat bertemu Naruko nanti. Akhirnya ia putuskan untuk menunggu hingga malam tiba dengan harapan Naruko sudah tertidur sehingga ia tak harus berhadapan dengan Naruko.

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Naruto berpikir kalau Naruko sudah tidur.

Tapi ternyata salah, Naruto melihat Naruko masih terjaga. Gadis itu sedang duduk di sofa ruang tengah, melamun. Sebenarnya Naruto inginnya langsung tidur dan mengacuhkan Naruko. Tapi saat melihat mata Naruko yang sembab, Naruto jadi merasa bersalah. Pasti Naruko menangis karena kejadian siang tadi.

Naruto mengurungkan niatnya. Ia akhirnya ikut duduk di samping Naruko. Tapi ada yang membuatnya risih. Naruko hanya memakai tanktop dan celana dalam saja. Jelas itu membuat Naruto tak nyaman duduk di samping Naruko.

"Pakai bajumu Naruko," kata Naruto, berusaha bersikap seperti biasa.

"Aku sudah memakai baju, kau tidak lihat?" tanya Naruko ketus.

"Umm... maksudku, pakailah yang lebih pantas," kata Naruto takut-takut.

"Ini di dalam rumah, tidak akan ada yang melihatku." Naruko masih saja cuek.

Naruto menghela napas pelan. Dari sikapnya, jelas sekali kalau Naruko masih marah.

"Tapi aku bisa melihatmu," kata Naruto.

Kali ini Naruko menoleh, memperlihatkan wajahnya yang kusut.

"Kau melihatku sebagai apa?" tanya Naruko. "Kau juga belum merespon pernyataanku tadi siang. Apa kau menyayangiku?"

Naruko semakin memajukan wajahnya ke wajah Naruto. Sebaliknya, Naruto justru mundur hingga punggungnya berada di ujung sofa. Naruto sebenarnya tak mau membahas masalah ini lagi. Tapi karena Naruko yang memaksa, akhirnya ia putuskan untuk jujur.

Naruto menahan kedua pundak Naruko agar gadis itu tak semakin mendekatkan wajahnya. "Dengar Naruko," kata Naruto. "Aku menyayangimu, sangat menyayangimu. Tapi bukan rasa sayang seperti yang kau bayangkan."

Naruko menunduk, semakin sakit hati mendengar jawaban Naruto. Ia menepis tangan Naruto kemudian duduk di pangkuan Naruto. Kedua tangannya ia simpan di sofa, di samping kiri dan kanan kepala Naruto, membuat Naruto tak bisa kemana-mana.

"Lalu selama ini kau anggap aku apa?" tanya Naruko, suaranya terdengar begitu lirih.

Naruto menegakkan badannya, tak lupa ia memegang tubuh Naruko agar tidak jatuh. Setelah itu ia melepas jaketnya kemudian memakaikannya kepada Naruko. "Aku menganggapmu sebagai adik, yang selalu ingin kulindungi," kata Naruto sambil tersenyum.

"Adik? Tidak lebih?" tanya Naruko, ia kembali menunduk, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

"Tidak lebih, aku sudah sering bilang padamu kalau aku senang saat kau tinggal bersamaku. Aku jadi punya teman di apartemen ini. Kau sudah seperti adikku," jelas Naruto.

"Adikmu huh?" Naruko berdiri, membiarkan jaket Naruto jatuh, lalu berjalan meninggalkan Naruto tanpa bicara apa-apa lagi.

Naruto memungut jaketnya. Naruto juga merasa tubuhnya sudah minta diistirahatkan. Naruto berbaring di kasur, di samping Naruko. Tapi baru saja ia meluruskan badannya, Naruko menendangnya hingga jatuh.

"Hei!"

"Aku berubah pikiran! Kau tidur di bawah!" bentak Naruko sambil melemparkan sebuah bantal.

"Tapi-"

Melihat keadaan Naruko yang semakin marah, Naruto mengurungkan niatnya untuk membela diri.

Naruko tidur membelakangi Naruto, kemudian menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Naruko bukannya plin-plan dan tega membiarkan Naruto tidur di bawah. Ia hanya tidak ingin Naruto mendengar isaknya tangisnya. Ia tak ingin Naruto melihat air mata yang kini mengalir dari kedua matanya.

Atas apa yang selama ini ia perbuat, Naruko tak menyangka kalau Naruto hanya menganggapnya sebagai adik. Ini membuatnya sakit hati.

Hingga menjelang tengah malam, Naruko tak bisa memejamkan matanya. Berbeda dengan Naruto yang sudah dari tadi tertidur lelap.

Pikiran Naruko begitu kacau. Bahkan ia tak menyadari saat kedua kakinya telah membawanya ke luar apartemen, melompati atap demi atap. Hingga ia sampai di depan Hyuuga Mansion. Ia menyelipkan kunai di tangan kanannya dan menyelinap masuk ke salah satu mansion terbesar di Konoha itu.


Hinata merasa tak tenang. Ia tak bisa tidur. Acara makan siangnya tadi dilanjutkan di luar apartemen Naruto dan berjalan lancar. Ia dan Naruto telah menghabiskan waktu bersama, mereka telah membicarakan banyak hal. Hinata juga jadi mengetahui hal-hal lain yang selama ini ia tak ketahui dari Naruto. Tapi Hinata masih ingat betul bagaimana tatapan mata Naruko kepadanya sebelum ia meninggalkan apartemen Naruto. Hinata yakin Naruko tak akan menyerah begitu saja.

Hinata berjalan menuju dapur, berharap segelas air dingin bisa menenangkannya. Saat menyalakan lampu dapur, Hinata kaget setengah mati saat melihat Naruko sudah ada di hadapannya.

Hinata sudah akan berteriak sebelum Naruko membekap mulutnya.

"Kita perlu bicara. Sekarang." kata Naruko. Hinata mengangguk, Naruko melepas bekapannya.

Mereka berdua berjalan menuju taman belakang.

"Ada apa Naruko-chan?" tanya Hinata.

Tiba-tiba Naruko mendorong Hinata hingga ia terpojok ke dinding kayu. Kunai hanya berjarak beberapa cm saja dari leher Hinata. "Aku menyesal telah menyelamatkanmu tempo hari! Tahu begini aku biarkan saja kau mati di area pertempuran!" bentak Naruko dengan memberikan penekanan pada kata 'mati'.

Mata lavender Hinata melebar.

Sakura memang sempat menyinggung-nyinggung seseorang yang menyelamatkan Hinata. Sakura juga bercerita kepada Hinata kalau saja seseorang itu terlambat menyelamatkannya, Hinata tak akan selamat. Tapi Hinata tak menduga jika orang itu adalah Naruko.

"Jadi... kau yang menyelamatkanku?" tanya Hinata memastikan.

"Kau pikir siapa hah? Kalau aku tak menolongmu mungkin Naruto akan membunuhmu!" bentak Naruko lagi. Pegangannya di tubuh Hinata semakin kuat. Bahkan kunai yang dipegangnya sudah menyentuh leher Hinata.

Hinata menelan ludahnya, sedikit saja bergerak nyawanya bisa melayang.

"Na-Naruko-chan, sadarlah..." bujuk Hinata. Ia tak pernah melihat Naruko yang penuh kebencian seperti sekarang.

Saking kuatnya dorongan Naruko, yukata tidur Hinata terbuka dan memperlihatkan bekas luka di perutnya. Setahu Naruko, dengan ninjutsu medis, luka yang diobati jarang meninggalkan bekas. Kalau ninjutsu medis Sakura saja tidak bisa menghilangkan bekas luka Hinata sepenuhnya, berarti luka itu memang besar dan parah. Naruko merasa pengorbanan Hinata lebih besar darinya untuk menolong Naruto.

Spontan Naruko mundur. "Kurasa membunuhmu juga tidak akan merubah apa-apa. Lagipula bukan ini tujuanku kemari."

Naruko memasukan kunai-nya ke dalam kantong. Sebenarnya sejak awal, Naruko tidak berniat untuk menyerang dan membentak Hinata. Ia membawa kunai hanya untuk jaga-jaga. Tapi setelah melihat Hinata, entah kenapa rasa sakit hatinya kembali terasa dan malah menggunakan kunai yang dibawanya untuk menyerang Hinata.

Naruko berjalan lalu bersandar di samping Hinata.

"Asal kau tahu, tadi Naruto bilang dia hanya menganggapku adiknya. Menyedihkan bukan?" tanya Naruko sambil tertawa kecut. Hinata terdiam, tak tahu harus merespon apa.

"Aku sudah tidak punya peluang untuk mendapatkan Naruto-kun. Karena itu lebih baik aku mengalah darimu, aku mundur," lanjut Naruko. Itulah hal yang ingin dikatakan Naruko, itulah tujuannya menemui Hinata.

Hinata kaget. Tak disangka Naruko akan mundur secepat ini. Tapi setelah Hinata pikir lagi, posisi Naruko memang sulit. Jika Naruto terlanjur menganggap gadis itu sebagai 'adik' tentu saja sulit mengubahnya. Hinata berpikir mungkin Naruto menganggap Naruko adik karena wajah keduanya mirip. Bisa dikatakan Naruko adalah versi perempuan dari Naruto jika dilihat dari fisik. Atau mungkin juga Naruto menganggap Naruko adik karena mereka tinggal bersama. Naruto merasa punya teman di apartemen, padahal sebelumnya ia selalu sendiri di sana.

Hinata menghentikan pemikirannya tentang kemungkinan alasan Naruto hanya menganggap Naruko adik saat gadis itu beranjak pergi. Hinata tak tahu harus bersikap atau bicara apa. Perasaan Hinata campur aduk, antara senang bercampur iba kepada Naruko.

"Jaga Naruto-kun baik-baik. Selamat tinggal," kata Naruko.

Saat tatapan mereka bertemu, Naruko menatap Hinata dengan tatapan datar namun Hinata bisa melihat kesedihan di sana. Sebenarnya Hinata ingin mencegah Naruko dan sekedar menenangkannya. Tapi Hinata terlalu bingung harus memulainya bagaimana. Akhirnya ia hanya mengangguk pelan.

Saat Naruko sudah mencapai gerbang Mansion, Ko yang merupakan bodyguard Hinata datang.

"Hinata-sama! Anda tidak apa-apa?" tanya Ko. Hinata mengangguk. Lalu Ko melihat Naruko dan bermaksud mengejarnya.

"Berhenti Ko!" cegah Hinata. Hinata memandang punggung Naruko yang semakin menjauh di kegelapan malam. "Dia... temanku."


Mitarashi Anko merapatkan jaket berwarna krem-nya, menahan hawa dingin yang menusuk tulang. Ia baru saja selesai menjalankan misi melakukan pengintaian di sekitar perbatasan Konoha. Beberapa hari yang lalu ada segerombolan orang yang mencurigakan berkeliaran di sekitar perbatasan Konoha. Meskipun akhirnya mereka terbukti bukan musuh, Anko sebagai ketua Unit Pengintaian harus tetap waspada. Tsunade masih belum sadarkan diri, Hokage pengganti juga belum ditentukan. Konoha menjadi rawan dari ancaman dari luar saat ini.

Saat sampai di apartemen miliknya, ia melihat seorang gadis duduk di depan pintu masuk apartemennya. Ia mengenalinya, gadis itu Naruko.

Melihat Anko sudah datang, Naruko segera berdiri. "Umm, guru Anko," sapa Naruko.

Anko mengerutkan keningnya ketika dipanggil 'guru'. Aneh sekali saat mendengar dirinya dipanggil guru. Tapi Anko tak membahas itu, ia lebih ingin tahu kenapa Naruko ada di depan apartemennya tengah malam begini.

"Kau Naruko 'kan?" tanyanya. Naruko mengangguk. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Tiba-tiba Naruko membungkukkan badannya di depan Anko, membuat Anko semakin heran.

"Tolong angkat aku jadi muridmu. Aku ingin jadi seorang kunoichi," kata Naruko bersungguh-sungguh.

Anko tertawa, lalu melipat tangannya di dada. "Yang benar saja. Aku Jounin Spesial di Unit Pengintaian. Aku bukan jounin pembimbing."

Di Konoha, seorang jounin biasanya akan ditugaskan untuk membimbing tiga orang genin. Inilah yang Anko sebut jounin pembimbing. Ada pula jounin yang memiliki kemampuan khusus di suatu bidang. Salah satu contohnya adalah Anko yang ahli di bidang pengintaian. Ada pula yang disebut Komandan Jounin, yang saat ini dijabat Shikaku Nara. Jounin jenis ini posisinya lebih tinggi dibanding jounin lain karena merupakan anggota dewan yang memiliki wewenang untuk ikut menentukan keputusan-keputusan penting di desa seperti pemilihan Hokage.

Sejauh ini, belum pernah ada Jounin Spesial yang bisa sekaligus membimbing seorang murid.

"Aku tahu," balas Naruko. "Tapi aku ingin jadi muridmu."

"Kenapa?" tanya Anko.

"Karena kupikir kau jounin yang paling hebat. Kau tegas, punya ambisi yang kuat, dan juga hebat. Aku yakin kau guru yang cocok untukku," kata Naruko, tatapannya begitu tajam dan memperlihatkan keseriusan.

Mendengar pujian Naruko, Anko merasa tertantang. Anko juga ingin tahu seberapa kuat tekad Naruko untuk menjadi muridnya. Ia ingin membuktikan keseriusan Naruko.

"Aku akan mencoba membicarakannya dengan Shikaku," kata Anko sambil membuka pintu apartemennya. "Karena seperti kubilang tadi, sebelumnya belum pernah ada Jounin Spesial yang diizinkan mengangkat seorang murid."

"Terima kasih banyak," kata Naruko, ia kembali membungkuk di hadapan Anko.

Ketika Anko akan menutup pintu apartemennya, ia heran melihat Naruko masih saja diam di depan apartemennya.

Naruko menyadari raut wajah heran Anko, lalu ia langsung bertanya, "Boleh aku menginap di sini?"

Anko kembali mengerutkan keningnya.

"Malam ini saja. Aku tak keberatan jika di apartemenmu aku harus tidur di bawah," tambah Naruko.

"Bukankah kau tinggal bersama Naruto?" tanya Anko.

Begitu Anko menanyakan itu, Anko bisa melihat kesedihan di wajah Naruko.

"Aku tidak akan pulang ke apartemen Naruto lagi," gumam Naruko pelan, tapi cukup bisa didengar Anko.

Naruko sudah memikirkan baik-baik keputusannya ini. Ia sudah tak punya peluang untuk mendapatkan Naruto. Kalaupun ia tetap tinggal di apartemen Naruto, itu hanya akan membuatnya sakit hati. Ia juga tak akan mampu jika harus melihat orang yang disayanginya berduaan dengan Hinata. Dengan pergi dari apartemen Naruto dan menyibukan diri sebagai kunoichi, Naruko berharap ia bisa cepat melupakan Naruto.

Sebenarnya Anko ingin menanyakan alasan kenapa Naruko tak ingin kembali ke apartemen Naruto. Tapi dari perubahan emosi yang drastis yang diperlihatkan Naruko, Anko merasa Naruko tidak akan mau menceritakannya sekarang. Jounin tomboy yang terkenal sadis itupun akhirnya membuka pintu apartemennya lebar-lebar, lalu memberikan isyarat kepada Naruto untuk masuk.

Naruko senang bukan main.

Karena sudah larut malam, Anko menyuruh Naruko untuk segera tidur. Ia menyuruh Naruko untuk tidur di kasur bersamanya. Lagipula mereka sama-sama perempuan dan kasur yang dimiliki Anko ukurannya besar.

Tak membutuhkan waktu lama sampai Naruko tertidur. Kelihatannya ia sangat kelelahan dengan apa yang terjadi hari ini.

Anko belum mau tidur. Ia sedang duduk di jendela sambil sesekali meminum air putih di gelas yang di pegangnya. Pandangannya lurus ke arah Naruko yang sedang tertidur. Anko tidak melewatkan lingkaran hitam di bawah mata Naruko yang sembab.

Ini aneh, pikir Anko. Sebelum ini, Naruto dan Naruko selalu terlihat berdua di setiap kesempatan. Mereka bagai tak terpisahkan. Tapi sekarang Naruko malah tak mau pulang ke apartemen Naruto.

'Apa yang kau lakukan padanya Naruto?' pikir Anko.


Sebuah cup ramen instan mengepul, mengeluarkan aroma yang menggugah selera di pagi hari yang cerah. Dari aroma yang dikeluarkannya, ramen itu sudah matang dan siap di makan. Tapi orang yang menyeduhnya, Uzumaki Naruto, sama sekali tak terlihat tertarik. Ini pertama kali dalam hidupnya Naruto membiarkan begitu saja ramen yang sudah matang. Padahal biasanya ia paling tidak sabar menunggu satu cup ramen untuk matang. Ia tak sabar menunggu meski hanya 3 menit.

Tapi lihat sekarang. Naruto hanya terdiam. Membiarkan ramen yang diseduhnya mulai dingin.

Beberapa menit lalu Naruto memang begitu bersemangat saat menuangkan air panas ke dalam cup ramen-nya. Ia pun dengan tak sabarnya menyimpan cup tersebut di meja makan, lalu ia sendiri duduk sambil bersiul-siul tak jelas. Tak ada yang lebih membahagiakan Naruto selain sarapan ramen di pagi hari yang cerah.

Saat sedang menunggu ramennya matang, mata shapire Naruto menangkap kehadiran selembar kertas di bawah vas bunga, di tengah meja makan. Ada tulisan dalam selembar kertas tersebut. Saat ia membaca tulisan di sana, semangatnya pagi itu langsung lenyap, begitu juga nafsu makan ramen-nya yang juga ikut lenyap. Kini yang ia rasakan adalah kesedihan dan kekecewaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Untuk Naruto-kun,

Aku pergi. Terima kasih untuk hari-hari yang menyenangkan yang telah kita lewati. Maaf, aku tak bisa tinggal bersamamu lagi.

-Naruko-

To Be Continue…


A/N: Bagaimana chapter 9? Saya harap kalian ga bosen dan terus ngikutin fic ini. Seperti yang pernah ditanyain salah satu reviewer di awal, Naruko saya jadiin kunoichi. Karena ia asalnya dari bunshin Naruto, chakra yang dimilikinya lumayan banyak untuk ukuran perempuan. Ia juga lebih pintar dari Naruto, jadi kemampuan Naruko dalam mempelajari jurus relatif cepat. Jadi jangan heran kalo chapter depan Naruko akan makin hebat.

Jangan lupa review ok!

Arigatou

-rifuki-