Penulis : Ohdeerwillis
Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka
Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, dll
Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members
Chap 9
Luhan membuka kotak kecil berwarna hitam itu lalu mengambil isinya, sebuah gelang. Gelang berwarna silver dengan gantungan yang menyerupai kunci yang sangat kecil. Matanya menatap gelang itu cukup lama, memperhatikan ukiran yng mengitari gelang itu. "Haruskah di akhiri sekarang?" pikirnya lalu berdiri mengambil ponsel di atas nakasnya. Dengan cepat ia mencari nama temannya lalu menelponnya, ia memutuskan untuk bertanya pada Baekhyun. Matanya terus menatap gelang itu selagi nunggu panggilannya tersambung,
"Aku harap dia belum tidur sekarang," Gumannya melirik jam beker.
"Nghh..yeo…ngh..bose…ahh..yo," Telponnya tersambung. Luhan menyerngit, ada apa dengan sahabatnya itu.
"Yeoboseyo Baekki? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Luhan bingung,
"Neehhhh…akhhhh….wae…nghh…nghhh…Lu? ada..akhhh..apa kamu..akhhh…menelponku?" Luhan mendengar suara Baekki terus-terusan mendesah, tak fokus dengan apa yang ditanyakan Baekki.
"Ya! Bagaimana aku mau cerita jika kamu seperti itu," Balas Luhan kesal,
"Berikan ponselnya…nghh..padaku," Luhan mendengar suara lain di sana, Chanyeol?
"Yeoboseyo Lu," itu suara Chanyeol.
"Yeobeseyo Chan, wae?" tanya Luhan ,
"Aku dan Baekki…akhh….sedang sibuk sekarang, nanti dia akan menelponmu kembali, okay?" Luhan menautkan alisnya, berfikir. Tiba-tiba pipinya bersemu setelah menemukan jawabannya.
"Yaaa! Kalian pervert,telpon aku nanti," Balas Luhan lalu mematikan telponnya, bagaimana bisa Baekhyun mengangkat telponnya ketika melakukan hal itu.
..
..
..
Di lain sisi,
Chanyeol langsung membuang ponsel Baekhyun ke sembarang arah ketika Luhan memutuskan sambungannya. Dia kembali konsentrasi dengan apa yang sedang dilakukannya dengan Baekhyun. Chanyeol menatap punggung mulus Baekhyun, lalu merabanya, pinggulnya terus ia gerakkan maju-mundur.
"Akhhhh….Channie….wae kau…akhhhh…memutuskan panggilan Lu?" Tanya Baekhyun menahan desahannya.
"Kau tidak bisa membalasnya juga Baekki, ka- akhhhh…telpon dia nanti,"Jawab Chanyeol lalu memeluk perut Baekhyun.
"Taphi…aughhh…aku merindukannya, ak-akhhhhhhhh," Baekhyun tidak bisa fokus dengan apa yang ia bicarakan, serangan terus menerus di holenya sangat menganggu.
"Akuhhh…juga merindukanmu Baekki…sangat merindukanmu," Balas Chanyeol mempercepat gerakannya untuk terus menumbuk hole Baekhyun.
"Akhhhh…terusssss Channie…akhhhhhh…yaaakhhh….disanaahhh…terusshh," Racau Baekhyun ketika Chanyeol menemukan titik kenikmatannya, Chanyeol tersenyum dan menaikan kecepatannya.
"Apakah kamu tak merindukanku Baekki-ahh?" Tanya Chanyeol masih terus memaju mundurkan pinggulnya.
"Akuhhh…akhhh….akhhhhhh…merindukanmu juga...Channie," Balas Baekhyun memejamkan matanya, menikmati junior Chanyeol yang terus menerus menumbuk titik kenikmatannya.
"Benarkah…akhhh…kamu merindukaku atau…akhhhh juniorku sayang?"Goda Chanyeol lalu tangannya menyentuh tonjolan di dada Baekhyun.
"Akhhhh…jangan disentuh…akhhhh..ituhh sensitive…akhhh," Baekhyun benar-benar hampir gila dengan apa yang dilakukan Chanyeol sekarang.
"Hmmm? Jawab aku sayanghhhhh," Chanyeol menekan tonjolan itu lalu menariknyaa kasar, Baekhyun menggeliat.
"Akuhh…akhhhhhhhhh…..merindukannhhh…keduanyaahhh…terussss sayanghhh," Jawab Baekhyun membuat Chanyeol menarik tonjolan itu lebih keras.
"Akhhh…jangan ditarikhhh…ngiluhhhhh…akhhh.."Baekhyun mendapatkan kenikmatan bertubi-tubi pada tubuhnya. Chanyeol mengerang ketika Baekhyun menyempitkan lubangnya. Dengan cepat ia membalik tubuh Baekhyun hingga terlentang tanpa melepas juniornya. Matanya menatap wajah Baekhyun yang memerah, dengan cepat bibirnya mengigit bibir Baekhyun
"Nghhh…."Baekhyun memejamkan matanya ketika merasakan bibir Chanyeol mengigit bibirnya. Baekhyun meremas rambut Chanyeol, mengeluarkan apa yang ia rasakan sekarang. Namun tiba-tiba matanya membulat ketika merasakan bibir Chanyeol telah berada di nipplenya.
"Jang-anhhhh…jangan dis-ahhnahhhhh.."Jerit Baekhyun, dia tidak tahan karena nipplenya akan sangat sensitive jika sedang bercinta dan Chanyeol tahu itu. Chanyeol menutup pendengarannya, tidak peduli dengan larangan Baekhyun. Dia sangat menyukai tonjolan itu, sangat. Lidahnya mulai bergerak pelan di sekitar nipple Baekhyun dan Baekhyun mati-matian menahan nafasnya, ini sangat menyiksanya. Lidah Chanyeol menyentuh tonjolan Baekhyun dan mendapat erangan dari sang pemilik. Bibirnya mulai mengulum tonjolan itu lalu secara pelan giginya mulai mengigit nipple Baekhyun.
"Akhhhhh…ani..jang-aahh…jangan digig-iihhthhh.."Baekhyun semakin kuat meremas rambut Chanyeol dan mulai menjambaknya. Chanyeol tidak berhenti, ia sangat menyukai teriakan dan desahan Baekhyun. Tangan kirinya menuju nipple kiri Baekhyun dan memelintir tonjolan itu dengan gemas, Chanyeol bisa merasakan rambutnya semakin di tarik kasar oleh Baekhyun. Pinggulnya terus bergerak dengan kasar, ia sangat menyukai kegiatan ini. Chanyeol terus mengigit tonjolan itu dengan gemas bahkan menariknya ke atas.
"Akhhh….aniiiiyahhh…sedikit lagihhhh…"Baekhyun memejamkan matanya, sebentar lagi dia akan orgasme. Chanyeol yang mengetahui itu semakin keras dengan gerakannya memaju mundur kan pinggulnya, tangan kanannya merambat turun menyentuh junior Baekhyun lalu mengocoknya kasar. Baekhyun sudah diambang orgamse, dirinya benar-benar seperti mengigil sekarang, serangan di dadanya, di juniornya dan di holenya membuat dia seperti terbang.
"Channieee…akhhh…terusshhhh…dikitthhh lagihhhh.." Baekhyun memejamkan matanya menunggu orgasmenya sebentar lagi. Sedangkan Chanyeol yang belum memiliki tanda-tanda akan orgasme terus menggerakan pinggulnya, juniornya menumbuk hole Baekhyun dengan keras.
"Akhhhh…akuhh sampaiiiiiiiiiiii…."Jerit Baekhyun memejamkan matanya dan menjambak rambut Chanyeol. Chanyeol menatap wajah Baekhyun yang sangat merah, ia tersenyum melihat Baekhyun orgasme. Cairan Baekhyun mengotori tangan Chanyeol yang terus mengocok junior Baekhyun.
"Akhhh..sudah Channie jangan dikocok terusshh.."Baekhyun membuka matanya dan menatap wajah Chanyeol yang penuh keringat. Reflek tangannya mengelap keringat Chanyeol lalu tersenyum.
"Tidakhhh bisakahhh kau memberikan ku waktu….akhhhh…beristirahat?" Tanya Baekhyun mulai mendesah lagi, dan Chanyeol menggeleng.
"Tidakkhh…sampai aku juga orgasme…nghhhh.." Baekhyun menahan tawanya melihat Chanyeol masih berusaha agar cepat orgasme, wajah Chanyeol sudah mulai memerah.
"Akhhhh…jangannn terlalu kerashhhh…"Baekhyun melingkarkan kakinya di pinggang Chanyeol dan menjepit junior Chanyeol di holenya.
"Akhhhhh….jangahnnnn dijepithhhhhh….akhhh,"Chanyeol meringis menahan ngilu di juniornya, Baekhyun menyempitkan holenya. Dia masih berusaha keras dengan orgasmenya.
"Sedikitthhhhh lagihhhh…"Chanyeol semakin keras memaju mundurkan pinggulnya dan,
"Akhhhhhhhh sampaiiiiiiiiii…akhhhh,"Chanyeol meremas bahu Baekhyun dan menumpahkan cairannya di dalam hole Baekhyun , setelahnya ia jatuh menimpa Baekhyun.
"Yaaa..Channie, jangan menimpaku, kau berat," Ucap Baekhyun lalu memukul pelan bahu Chanyeol. Namja berambut merah itu hanya mengangguk di ceruk leher Baekhyun tanpa niat bergerak sedikit pun.
"Jangan hanya mengganguk saja Yeolie, bergeraklah,"Lanjut Baekhyun mendorong pacarnya menjauh, Chanyeol menggeleng.
"Sebentar lagi Baekki," Jawabnya lalu memeluk Baekhyun.
"Aku janji untuk menelpon Lu sayang, pasti ada sesuatu yang penting," Baekhyun mengingatkan Chanyeol tentang janjinya untuk menelpon balik Luhan. Chanyeol mengangkat kepalanya, ia hampir melupakan hal itu.
"Arraseo," Chanyeol berguling ke samping Baekhyun tanpa melepas juniornya. Baekhyun mencari ponselnya lalu mengambilnya.
"Lepaskan dulu ini, aku tidak bisa bergerak," Ucap Baekhyun menunjuk junior Chanyeol yang masih di dalam holenya.
"Tidak bisakah begini saja?"Tanya Chanyeol lalu menggembungkan pipinya, Baekhyun menggeleng.
"Aku harus menelponnya di luar sayang," Balas Baekhyun lalu mencubit gemas hidung Chanyeol.
"Arraseo, tapi beri tahu aku apa yang terjadi dengan Lu, okay?" Baekhyun mengangguk setuju. Setelah mendapat anggukan dari Baekhyun, Chanyeol bergerak mundur untuk melepas juniornya dari hole Baekhyun,
"Sshhhh…ahhh.."Baekhyun mendesis pelan lalu melirik Chanyeol yang terkikik.
Namja imut itu mengambil asal kaos tanpa lengan Chanyeol yang terjatuh, memakainya lalu pergi keluar kamar, diikuti mata Chanyeol yang terus memandang paha Baekhyun.
Baekhyun melangkah menuju sofa dan menekan angka 2, panggilan cepat untuk Luhan tentunya, setelah Chanyeol di angka 1.
"Yeoboseyo?" Terdengar suara Luhan di ujung telpon
"Hallo Lu, mian aku harus memutus panggilanmu tadi, Chanyeol baru pulang setelah 3 minggu di Jepang. Jadi y-"
"Arraseo, tidak perlu dijelaskan lebih lanjut Baekki," Balas Luhan menahan tawanya.
"Hehehe…ada apa kamu menelponku Lu? Pasti sesuatu yang penting," Luhan terkekeh
"Yaa! Apakah aku harus memiliki urusan penting dulu jika ingin menelpon sahabatku?" Baekhyun tersenyum mendengar jawaban Luhan.
"Ani, hanya saja ini tiba-tiba, wae?" Tanya Baekhyun, ia memiliki firasat jika Luhan ingin membicarakan hal yang penting dengannya.
"Kamu memang pintar menebak Baekki," Baekhyun tersenyum lagi, firasatnya selalu benar.
"Mmm, aku ingin membicarakan, ani, menceritakan sesuatu. Hanya saja aku bingung harus dari mana mulainya." Lanjut Luhan lagi.
"Ambil waktumu Lu, aku siap mendengarkan," Balas Baekhyun lalu berjalan menuju kulkas dan mengambil sebotol air dingin dan kembali menuju sofa.
"Mian aku menggangu waktumu dengan Chanyeol,"Suara Luhan berubah, Baekhyun menggeleng
"Kwaenchana Lu, Chanyeol mengerti, santai saja," Baekhyun memperbaiki posisi duduknya, siap mendengarkan temannya.
"Jadi apa yang akan kamu ceritakan Lu?" Lanjut Baekhyun lalu meneguk airnya, terdengar suara deheman pelan dari Luhan disusul hembusan nafas pelan. Baekhyun masih menunggunya dengan tenang.
"Mmmm…entahlah, aku bingung akan mulai cerita dari mana, jadi aku akan mulai dari yang termudah dulu,"
"Arraseo Lu,"
"Beberapa hari ini, ani beberapa minggu terakhir ini aku mulai tertarik dengan seseorang," Baekhyun menautkan alisnya bingung, seseorang? Ia menahan untuk bertanya dan membiarkan Luhan melanjutkan ceritanya.
"Well, awalnya aku juga gak tahu akan seperti ini. Dia benar-benar laki-laki dengan sifat yang buruk. Sangat dingin dan suka menyindir, tidak pernah terpikir sedikitpun di kepalaku, aku akan tertarik dengannya. Jujur, aku memang mengaguminya, hanya menganguminya dan tidak lebih. Karena aku menganggap dia laki-laki dengan aura yang sangat kuat," Baekhyun masih mendengarkan Luhan bercerita dengan diam.
"Namun itu mulai berubah, aku kurang tau pasti sejak kapan, tapi aku jadi lebih dekat dengannya, bahkan dia jarang menunjukan sifat menyebalkannya di depanku lagi. Jarang menyindirku, bahkan sering mengajakku berbicara."
"Lalu?" Baekhyun menunggu kelanjutan cerita Luhan.
"Lalu? Aku merasa ini sangat berbeda Baekki, dan dia seperti benar-benar berubah di depanku tapi tidak dengan yang lain dan.." Luhan menggantung ucapannya, Baekhyun menautkan alis, penasaran.
"Dan?" Terdengar suara desahan pelan di ujung telpon.
"Dan aku menyukainya Baekki," Bisik Luhan tertahan membuat Baekhyun membulatkan matanya.
"A-apa? Menyukainya?" Baekhyun reflek menegakkan tubuhnya mendengar pengakuan Luhan.
"Ngg…yaahh seperti itulah, aku mulai menyukainya Baekki. Itu seperti tanpa sadar," Jawab Luhan pelan.
"Tunggu… sejak kapan dia berubah?" Baekhyun menunggu jawaban Luhan yang seperti sedang berpikir.
"Semenjak kita makan siang bersama? Ani semenjak mengetahui ternyata kita satu apartemen? Ani..mungkin semenjak aku bertemu dengannya di rooftop?" Jawab Luhan ragu-ragu dengan jawabannya.
"Heh? Makan siang bersama? Satu apartemen? Bertemu di rooftop? Yaa.. kamu benar-benar melakukan banyak hal ya Lu," Balas Baekhyun tersenyum
"Ani..aku benar-benar tidak tahu, ternyata kita sangat dekat." Elak Luhan.
"Jadi sejak kapan uri Lu menyukai dia?" Tanya Baekhyun
"Entahlah, aku sudah bilang aku benar-benar tidak tahu kapan awalnya, tapi kita jadi jauh lebih dekat dari sebelumnya,"
"Dan apa saja yang sudah kalian lakukan?" Luhan mengerang
"Yaaa! Memangnya apa yang akan kita lakukan Baekki?" Baekhyun tertawa mendengar jawaban Luhan.
"Maksudku setelah kalian seperti ini, apakah melakukan banyak hal? Seperti makan bersama atau nonton film? Sejenis itu Lu, memangnya apa yang kau pikirkan?" Goda Baekhyun menahan tawanya.
"Ohhh.. ani.. aku tidak berpikir apapun," Luhan mengelak.
"Jadi?"
"Mmmm.. kita memang jadi sering makan bersama atau minum kopi, sejenis itu, tapi tidak pernah nonton Baekki, kita bukan pasangan," Jawab Luhan. Baekhyun mengangguk tanda mengerti, temannya sedang jatuh cinta.
"Dan kalo boleh tahu, siapa laki-laki beruntung itu Lu?" Tanya Baekhyun lalu meminum airnya.
"Beruntung?" tanya Luhan bingung.
"Yapp beruntung, bukannya laki-laki itu harus merasa beruntung disukai orang sepertimu Lu?" Terdengar suara tawa Luhan.
"Dia tidak akan merasa seperti itu Baekki," Baekhyun menggeleng tidak setuju, Luhan tidak mengerti.
"Kamu hanya belum tahu Lu, jadi siapa dia?"
"Mmm..dia? ngg… dia bosku, Willis," Jawab Luhan pelan.
"Bosmu? Orang yang selalu kau keluhkan itu?" Tanya Baekhyun bingung, bagaimana bisa temannya menyukai orang yang sering kali ia keluhkan.
"Yaahh..memang begitu kenyataannya, dia mulai berubah Baekki," Baekhyun mengangguk
"Arraseo, terus kapan kalian akan menseriuskan hubungan ini?"
"Baekki, bahkan aku tidak tahu apakah ia menyukaiku juga, aku tidak terlalu berharap dengan ini semua," Balas Luhan pelan.
"Ya! Sudah pasti dia menyukaimu Lu, bagaimana mungkin dia tidak menyukaimu setelah ia banyak berubah di depanmu?" Balas Baekhyun dengan kemungkinannya.
"Entahlah, aku harap seperti itu,"
"Sudah pasti seperti itu Lu, pasti" Yakin Baekhyun lalu tersenyum.
"Arraseo Baekki," Ucap Luhan
"Dan apalagi yang akan kamu ceritakan lagi Lu?" Tanya Baekhyun lalu menyenderkan kepalanya di sofa.
"Hah? Bagaimana kamu tahu aku akan bercerita lagi?" Tanya Luhan bingung.
"Entahlah , firasatku mengatakan kau akan bercerita tentang hal lain," Luhan terkekeh, dia kagum dengan firasat Baekhyun yang selalu tepat.
"Mmm.."Luhan terdengar berpikir sebelum melanjutkan ucapannya,
"Aku merasa harus mulai melepaskannya Baekki," Perkataan Luhan membuat Baekhyun lagi-lagi menautkan alisnya, tidak mengerti.
"Melepaskan? Melepaskan apa maksudnya Lu?"
"Melepaskan dia Baekki," Baekhyun menegakkan tubuhnya kembali, mencoba memikirkan perkataan Luhan.
"Dia? Nugu?" Baekhyun dapat mendengar suara hembusan nafas Luhan.
"Dia, Sehun, Oh Sehun, aku harus mengakhirinya." Ucap Luhan pelan, sangat pelan dan tertahan.
"Sehun?" Sekilas mata Baekhyun tertuju pada sebuah foto lama di atas lemari hias.
"Hmm..Sehun," Jawab Luhan lagi.
"Kau yakin? Wae?" Tanya Baekhyun pelan. Dia akan merasa sedikit sensitive jika membahas Sehun.
"Hanya saja aku merasa bersalah jika tetap bertahan sedangkan aku mulai menyukai orang lain," Jelas Luhan sendu. Baekhyun mengangguk mengerti,
"Jadi kau akan benar-benar melepaskannya kali ini?" Tanya Baekhyun memastikan.
"Yaahh..aku akan melepaskannya kali ini, mengakhiri perasaanku dengannya." Baekhyun menarik nafasnya pelan,
"Benar-benar melepaskannya?"
"Yahh, benar-benar melepaskannya, kamu akan ada di sampingku kan Baekki?" Tanya Luhan penuh harap.
"Yaahh, aku akan selalu ada di sampingmu Lu, apapun pilihanmu, aku akan selalu di sampingmu," Jawab Baekhyun tulus.
"Jinjja?" Baekhyun mengangguk,
"Iyaa, asalkan kamu bahagia Lu, memang seharusnya kau melakukan ini," Balas Baekhyun lalu memandang foto lama itu.
"Gomawo Baekki, aku benar-benar lega sekarang," Baekhyun tersenyum.
"Aku senang jika kau lega Lu, tetaplah kuat Lu,"
"Arraseo, aku akan kuat asalkan ada kau di sampingku," Baekhyun mengangguk.
"Baiklah, ini sudah sangat malam Baekki. Chanyeol akan kesal jika aku meminjamu terlalu lama, hahaha…" Baekhyun ikut tertawa.
"Neee.. sampai jumpa Lu,"
"Selamat beristirahat Baekki, sampaikan salamku pada Chanyeol,"
"Arraseo, selamat beristirahat juga Lu," Sambungan telpon terputus. Baekhyun menghembuskan nafasnya pelan, ia berdiri dan berjalan menuju lemari hias. Matanya menatap foto lama yang ia pajang disana lalu mengambil foto itu. Foto yang menunjukan 4 orang anak kecil sedang tertawa bahagia, jarinya mengusap salah satu wajah di foto itu.
"Sehun-ah," Gumannya masih mengusap wajah anak laki-laki itu.
"Ternyata sudah waktunya, tolong biarkan Lu melepaskanmu ya," Ucap Baekhyun pelan.
"Biarkan dia mencari kebahagiannya, Sehun-ah," Mata Baekhyun mulai berkaca-kaca.
"Kamu akan tetap ada di hati kami, hanya biarkan Lu untuk mendapatkan kebahagiannya Sehun-ah" Baekhyun memejamkan matanya menahan air matanya.
"Aku memang menyurunya untuk melepaskanmu, bukan berarti kami melupakanmu, hanya saja aku benar-benar ingin Lu bahagia dengan hidupnya,"
"Jadi aku mohon, kuatkan kami," Baekhyun menghapus air matanya cepat, ia tidak ingin menangis sekarang.
"Sehun-ah, kami sangat merindukanmu," Ucap Baekhyun pelan lalu mengusap foto itu. Tiba-tiba tangan besar melingkar di pinggangnya, Baekhyun bisa merasakan dagu seseorang di bahunya.
"Wae? Kenapa menangis? Uljima Baekki," Ucap suara itu, dia Chanyeol.
"Ani, kwaenchana, hanya tiba-tiba aku merindukan banyak hal." Jawab Baekhyun masih menatap foto itu.
"Sehun akan baik-baik saja disana Baekki, dan Lu akan mendapatkan kebahagiannya segera," Ucap Chanyeol lalu menyeka air mata Baekhyun yang hampir menetes. Baekhyun mengangguk lalu meletakkan foto itu kembali.
"Aku akan di sampingmu dan Lu juga Baekki, tenang saja," Chanyeol menguatkan Baekhyun, dan Baekhyun tersenyum.
"Gomawo Channie," Chanyeol mengangguk di bahu Baekhyun.
"Jadi ayo kita beristirahat Baekki," Ucap Chanyeol lalu menarik tangan Baekhyun menuju kamar tidur, meninggalkan foto lama itu. Foto masa kecil Baekhyun dengan ketiga teman kecilnya, Luhan, Sehun, dan Suho. Foto pertama dan terakhir Baekhyun dengan Sehun, foto itu bahkan mulai menguning.
..
..
..
..
"Sehun?" Luhan dapat mendengarkan suara Baekhyun yang sedikit terkejut
"Hmm..Sehun," Luhan menjawab dengan pelan.
"Kau yakin? Wae?" Luhan menatap gelang di tangannya dengan sendu
"Hanya saja aku merasa bersalah jika tetap bertahan sedangkan aku mulai menyukai orang lain,"
"Jadi kau akan benar-benar melepaskannya kali ini?" Luhan memejamkan matanya mencari keyakinan hatinya
"Yaahh..aku akan melepaskannya kali ini, mengakhiri perasaanku dengannya." Luhan bisa mendengar Baekhyun menarik nafas di ujung telpon,
"Benar-benar melepaskannya?" Luhan menguatkan genggamannya, apa kau yakin Luhan?
"Yahh, benar-benar melepaskannya, kamu akan ada di sampingku kan Baekki?" Luhan benar-benar berharap pada Baekhyun.
"Yaahh, aku akan selalu ada di sampingmu Lu, apapun pilihanmu, aku akan selalu di sampingmu," Luhan membuka matanya setelah mendengar jawaban Baekhyun
"Jinjja?" Luhan menatap gelang itu lagi.
"Iyaa, asalkan kamu bahagia Lu, memang seharusnya kau melakukan ini," apakah Luhan akan bahagia?
"Gomawo Baekki, aku benar-benar lega sekarang,"
"Aku senang jika kau lega Lu, tetaplah kuat Lu," Luhan tersenyum mendengar perkataan Baekhyun
"Arraseo, aku akan kuat asalkan ada kau di sampingku,"
"Baiklah, ini sudah sangat malam Baekki. Chanyeol akan kesal jika aku meminjamu terlalu lama, hahaha…" Tawa Luhan.
"Neee.. sampai jumpa Lu," Luhan megangguk
"Selamat beristirahat Baekki, sampaikan salamku pada Chanyeol," Ucap Luhan.
"Arraseo, selamat beristirahat juga Lu," Sambungan telpon terputus. Luhan menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengembuskan secara perlahan. Matanya mulai terpejam memikirkan banyak hal setelah ia berbicara dengan Baekhyun. Dia benar-benar akan melepaskannya kan? Dia harus mengakhirinya kan? Apakah akan sangat sulit? Luhan mulai ragu dengan keputuskannya, lalu menggeleng dengan cepat. "Ia tidak boleh ragu, dia harus melakukannya," Pikir Luhan lalu memandang gelang silver itu lagi.
"Sehunnie, aku harap kau mengerti tentang ini," Ucap Luhan sendu.
"Kau akan baik-baik saja disana Sehunnie, kuatkan aku," Luhan tersenyum mencoba melepas semua pikiran masa lalunya.
"Aku harap pilihanku benar Sehunnie," Luhan menggengam kuat gelang silver itu. Menatap lama gelang di tangannya lalu menghembuskan nafasnya pelan.
"Sampai jumpa lagi Sehunnie," Katanya lalu tersenyum. Luhan menatap keluar jendela kamarnya beberapa menit lalu menunduk. Dia sudah memutuskan, dan teman-temannya akan di sampingnya, sudah lebih dari cukup. Dia mengenggam gelang itu sekali lagi, meyakinkan hatinya lalu berjalan ke arah box putih. Ia meletakkan gelang itu ke dalam kotak hitam dan mengembalikannya ke dalam box putih. Matanya menatap isi box sebelum menutup rapat box putihnya. Ia mengangkat box putih itu lalu menaruhnyanya kembali di atas lemari.
Luhan mengembuskan nafas kelegaan dari tubuhnya,
"Bukankah aku harus melakukannya? Jadi biarkan aku melakukannya sekarang," Pikir Luhan lalu berbaring di atas kasurnya.
"Semoga kau juga akan selalu bahagia disana Sehunnie," Pikir Luhan lalu menutup matanya.
. .
.
.
.
R
C
L
terimakasih buat yang baca, semoga suka ff pertama dari aku TT review sangat membantu dalam menentukan chap berikutnyaaaaa
Maafkan juga ceritanya belum sempurna :") aku bekerja semaksimal mungkin chingu ^^
Makasih yang udah review, silahkan terus review chingu ^^ akan dibalas reviewnya
NB : Ahhhh…akhirnya aku mengeluarkan NC di chap ini :3, jujur ini hal yang cukup sulit, aku cukup lama menyelesaikan bagian NC baekyeol itu. Aku tahu itu masih jauh dari kata sempurna, tapi semoga kalian menyukainya ya ^^ aku akan berusaha membuat yg lebih baik lagi hahaha.. ajarkan aku membuat bagian NC yang lebih hot (?) karena ini bagian NC pertama ku :") sejujurnya aku ingin membuat ff ini lebih panjang, hanya saja menurutku akan susah disambungin -_- menurut kalian gmn?
Dan sekali lagi terimakasih sudah me review di chap sebelumnya, ^^ aku harap kalian akan mereview chap ini.
Menurut kalian Luhan akan berhasil dengan rencananya gak? :3 menurut kalian bagian hunhan kecil di munculin lagi gak di chap selanjutnya? Ada yg ingin bagian Baekhyun kecil? Hahaha
Dan karena aku tidak memiliki jadwal update yang pasti (sering banget tengah malem) aku harap kalian mengerti dan menunggu ^^
Silahkan kasih saran yang banyak ya di review ^^ gomawo
silahkan kirim email untuk berteman di ohdeerhunhan
Sarangahaeee chinguu
