When the Love Falls
Chapter 8
"Mereka bilang aku dan kau seharusnya tidak tinggal di London, dan kita lebih baik ada di Rusia. Di sana pemandangannya indah, mereka juga bahkan sudah mempersiapkan apa pun yang kita butuhkan. Tapi kau tahu 'kan aku tidak bisa berbahasa Rusia, dan kau juga pastinya tidak bisa. Lagipula aku merasa betah tinggal di mana pun asalkan aku bisa bersamamu—Jongin," ia berhenti sejenak, baru menyadari bahwa orang yang sedang diajaknya bicara sedang melamun. "Kau mendengarkanku?"
Dan Jongin hanya akan selalu menjawab dengan "Tentu saja." lalu tersenyum untuk menanggapi ucapan Luhan. Pikirannya masih terganggu oleh sosok sepasang kekasih yang ia temui di sungai Thames beberapa hari yang lalu. Tampilan pria yang duduk di kursi roda pada waktu itu memiliki wajah yang terlalu serupa dengan Sehun. Bayangan itu selalu mengganggu fokusnya akhir-akhir ini. Apa mungkin Sehun masih hidup? Dia masih berada di dunia yang sama dengan Jongin?
Mustahil.
Sehun telah tiada.
Tapi jika memang itu Sehun, lantas siapa pria yang sedang mendampinginya saat itu? kekasih baru Sehun? Atau Sehun telah terikat tali pernikahan baru dengan orang lain?
Jongin berharap jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah bukan. Dan—lagipula untuk apa ia menyimpan harapannya tinggi-tinggi? Sehun tidak pantas untuk dikenang. Sehun itu sudah tidak ada, Kim Jongin!
"Jongin,"
"Hm?"
"Apa yang sedang kaupikirkan?"
Jongin menelan seluruh makanan yang ada dalam mulutnya lalu berdehem, ia menghentikan kegiatan makannya. "Maksudmu?"
"Kau tahu? kau sering melamun." Begitukah?
"Hm? Entahlah." Katanya singkat. Berusaha mengakhiri topik pembicaraan tersebut. Jongin tahu betul apa yang membuatnya sering berkutat pada dunia yang ada di pikirannya, namun ia tidak mau memberitahukan hal itu pada siapa pun. Ini merupakan rahasia pertama yang ia simpan dari Luhan.
Untungnya respon singkat Jongin membuat percakapan di antara mereka berakhir. Luhan tidak bertanya lebih lanjut mengenai sikap tak acuh Jongin, ia lebih memilih untuk ikut diam dan menyelesaikan makan malamnya. Luhan hanya berpikir positif serta meyakinkan dirinya bahwa mungkin suasana hati buruk Jongin dibawa dari kondisi perusahaannya yang sedang krisis.
Beberapa saat kemudian terdengar decit kayu yang bergesek dengan lantai. Jongin bangkit dari kursi yang diduduki lalu berhenti sejenak ketika hendak meninggalkan ruang makan karena teringatkan sesuatu; di ruangan ini, pada hari itu. Pada hari di mana Jongin dan Sehun menghabiskan makan malam terakhir mereka.
Their last dinner; the saddest one.
"Ada apa?" tanya Luhan yang membuyarkan angan Jongin. Ia menatap heran pria yang sedang berdiri kaku di hadapannya.
Jongin memejamkan matanya sesaat sebelum kemudian menghembuskan nafas panjang, tersenyum sekilas, dan menjawab, "Bukan apa-apa."
"Kau baru ingat yang kaulupakan?"
"A-apa?" Luhan tahu?
Luhan terkekeh geli melihat Jongin yang tiba-tiba gelagapan. "Kau 'kan pelupa. Ada sesuatu yang kaulupakan di kantor?"
Oh. "Oh, ya. Aku teringat sesuatu yang kulupakan."
"Lain kali tulis di buku catatanmu." Ucapnya lalu ikut bangkit dari kursi yang diduduki. Kegiatan makan malam mereka berdua berakhir. Ia membawa seluruh piring kotor yang ada di atas meja ke tempat pencucian untuk dibersihkan. Punggungnya menghadap Jongin, tapi ia tetap menyambungkan percakapan. "Itukah yang membuatmu sering melamun, hm?"
"Ya … begitulah." Jawab Jongin separuh berbohong. Separuh pikirannya memang dipenuhi oleh masalah yang sedang terjadi dengan perusahaannya, tapi angan mengenai Sehun juga selalu muncul untuk mengganggu bagian lain di pikirannya.
Ia kemudian berjalan ke arah ruang televisi dan berbaring di atas salah satu sofa putih terbesar di sana lalu memejam mata sambil mendengarkan dentingan piring-piring dan aliran air yang berasal dari dapur.
Rumah Jongin sangat luas. Bahkan terlalu luas sehingga seolah hanya sebuah bisikan pun dapat terdengar ke seluruh penjuru bangunan rumah itu. Setiap kegiatan yang terjadi pasti menggemakan bisingnya. Seperti terkadang Luhan yang sedang menonton televisi dengan volume suara kecil dapat terdengar oleh Jongin dari dalam kamar di lantai dua, atau nyanyian Luhan di kamar mandi, obrolan Luhan dengan rekannya di telepon, dan lain-lain. Rumahnya tetap terdengar ramai meskipun hanya terdapat dua orang yang meninggali isinya.
Lalu mengapa Jongin selalu merasa hidup dalam kesunyian di rumah ini?
"Hey, Jongin." Ia terhenyak seketika saat namanya disebut. Jongin baru sadar bahwa ia tertidur selama beberapa menit di atas sofa dengan alam bawah sadar yang terus bertanya-tanya pada mengapa dirinya merasa kesepian. "Bagaimana kalau kau dan aku mengosongkan jadwal hanya untuk esok hari? Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama, ini juga saatnya untuk berbelanja bulanan."
.
.
.
Anugerah? Entahlah. Bisa juga disebut dengan imbalan dari Tuhan. Imbalan atas kesabarannya dalam menunggu serta merawat Sehun selama beberapa bulan ini dengan begitu baik. Chanyeol seperti mendapatkan keinginan yang selama ini selalu ia sertakan dalam doanya. Menghabiskan waktu bersama Sehun, itulah yang diidamkannya.
London, 11 Agustus. Hari ini. Salah satu dari sekian hari indahnya.
Dua bulan lebih sudah sejak Sehun memunculkan dirinya di ambang pintu rumah Chanyeol tanpa berbekalkan barang berharga apa pun selain sebuah telepon genggam yang selalu ada dalam kantung pakaiannya.
Meski saat itu Chanyeol dipertemukan kembali dengan Sehun dalam kondisi memalukan yang membuatnya jadi salah tingkah, tapi ia tetap bersyukur karena ternyata dirinya masih dapat melihat sosok Sehun di dunia ini. Bahkan dalam jarak yang lebih dekat.
"Kau mau pakai yang mana hari ini? biru atau hitam?" tanya Sehun keras-keras dari halaman belakang rumah Chanyeol yang sederhana. Siang itu cuacanya sangat cerah, Sehun memutuskan untuk mencuci seluruh pakaian kotor milik Chanyeol juga pakaian-pakaian miliknya (yang diberikan oleh Chanyeol). Lagipula ini adalah hari Minggu. Hari yang cocok digunakan untuk apa pun.
"Biru? uhm … ah—ya, biru. Biru sepertinya akan terlihat cocok untukku."
"Tapi kau lebih pantas memakai pakaian berwarna kuning, tuan Spongebob-Squarepants-boxer-shorts!"
"H-hey!" potong Chanyeol cepat, ia berseru terbata. Dapat terdengar tawa merdu Sehun yang jahil dari kejauhan. Chanyeol berusaha untuk menutupi rasa malunya dengan berdehem lalu berkata, "Ingat kesepakatan kita untuk tidak membahas itu lagi? jangan mengumbar aibku!"
"Hadiah dari Kyungsoo adalah sebuah aib, akan kuadukan padanya!" suaranya semakin dekat ke pendengaran Chanyeol. Sehun masuk ke dalam rumah dengan langkah yang terseok, ia membawa sebuah ember besar berisi pakaian-pakaian yang sudah selesai dijemurnya.
Pemandangan tersebut membuat Chanyeol terbelalak. Ia segera menghampiri Sehun dan merebut ember besar itu dari tangan pria yang dikaguminya tersebut. Sehun sedikit merengek ketika Chanyeol lagi-lagi mengganggu pekerjaan yang harus dilakukannya.
"Jangan." Chanyeol menegaskan. Ia kemudian berjalan ke arah rak buku di dekatnya, dan berjinjit untuk menyimpan ember itu di atas rak buku yang pasti tidak akan dapat dijangkau oleh siapa pun selain dirinya. "Tidak membawa barang berat, itu yang dikatakan dokter."
Sehun mencebik kesal; ia memajukan bibir merahnya sedikit, terlihat cemberut, sekaligus menggemaskan. Ugh. Chanyeol berusaha untuk tidak berfantasi mengenai tekstur bibir Sehun yang sepertinya akan terasa lembut di bibirnya.
"Park Chanyeol, pakaian-pakaian itu tidak berat! Lagipula bagaimana aku akan membalas jasamu kalau kau selalu melarangku untuk mengerjakan pekerjaan di rumah ini?" ucap Sehun sambil membawa kedua tangan pada perut besarnya untuk dipeluk; kebiasaan yang selalu dilakukannya akhir-akhir ini. Hal itu dilakukan untuk Sehun meyakinkan bayi yang dikandungnya bahwa perdebatannya dengan Chanyeol tidaklah pernah diambil ke dalam hati. Hal-hal yang membuat Sehun merasa sedih biasanya dapat menghadirkan tendangan keras dari sang bayi yang cukup menyakitkan; seperti ketika ia sedang memikirkan Jongin.
"Aku melakukan semua ini dengan tulus. Kau tidak perlu melakukan apa pun untukku, dan itu yang dilakukan oleh teman. Kau tidak ingin kehilangan bayimu, 'kan?"
Sebagai jawaban, Sehun menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku hanya … tidak ingin kau tersakiti, okay?"
"Okay," gumam Sehun yang menundukkan kepalanya, ia merasa agak bersalah telah mengeluh pada seseorang yang ternyata mencoba peduli padanya. "Maafkan aku."
Chanyeol mendesah panjang. Ia mendekati Sehun, berdiri di hadapannya, dan mengacak letak rambutnya sambil tertawa singkat untuk mencairkan suasana yang dirasa mulai terlalu serius di hari ini.
"Tidak apa-apa, aku tadi hanya khawatir." Sahut Chanyeol yang diakhiri dengan sebuah senyuman.
Sehun pernah benar-benar nyaris kehilangan bayinya ketika ia suatu hari sedang membersihkan lantai dan hampir saja terjatuh dengan posisi berbahaya karena terpeleset dari lantai yang licin. Untunglah saat itu Chanyeol berada di dekat Sehun dan dengan sigap melindunginya. Kejadian yang mengejutkan mereka berdua tersebut pun membuat Chanyeol jadi sedikit lebih protektif dan tegas pada Sehun. Karena terkadang, Sehun berbuat sesuatu yang berisiko—membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa khawatir. Maka dari itu, sebisa mungkin Chanyeol memastikan Sehun tetap aman selama sang pujaan hati masih berada di sisinya.
Karena siapa tahu Tuhan memiliki sebuah rencana yang dapat memisahkan kebersamaan Sehun dan Chanyeol.
"Chanyeol, persediaan telur untuk minggu ini habis." Sehun tiba-tiba berucap sambil menyisir rapi kembali rambutnya yang terlihat sedikit berantakan. Dari nada bicaranya dapat terdengar bahwa usaha Chanyeol untuk mencairkan suasana yang sebelumnya terlalu serius di antara mereka itu berhasil. Sehun tak merasa tersinggung pada apa pun yang Chanyeol katakan.
"Shopping?" usul Chanyeol antusias.
Mendengar ajakan dari pria di hadapannya, Sehun pun tersenyum berseri dan berseru tak kalah antusias. "Shopping, shopping, shopping!"
Tanpa sadar Chanyeol ikut merekahkan sebuah senyum bahagia melihat orang yang dikasihinya itu tampak gembira. Dan, Tuhan, dapatkah Chanyeol menikmati pemandangan indah seperti ini selamanya? karena membuat Sehun—sang terkasih—merasa nyaman selama berada di sisinya saja dapat memberikannya sensasi seperti orang yang paling beruntung di dunia ini. Bagaimana rasanya jika ia dapat memiliki Sehun?
Chanyeol pantas mendapatkan kebahagiaan yang diinginkan untuk dirinya, seutuhnya, selamanya.
.
.
.
But nothing lasts forever.
.
.
.
Kaki Jongin sudah pegal dan meminta untuk diistirahatkan. Ia telah berada di dalam gedung itu selama lebih dari tiga jam hanya untuk berkeliling di daerah yang sama. Kemunculannya di publik yang tiba-tiba, mengundang banyak perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Mungkin memang tidak semua golongan orang mengenal Jongin, tapi biasanya orang-orang dewasa yang mencintai dunia kewirausahaan, kalangan glamour, juga para sosialita pasti tahu siapa itu Kim Jongin, bagaimana rupanya, apa pesonanya, dan lain-lain.
Yang mengherankan di sini adalah; apa yang dilakukan seorang Kim Jongin di tengah-tengah sebuah mall tak berkelas dan ramai oleh pengunjung berekonomi rendah?
Jongin memang populer, tetapi ia bukan seorang artis yang akan dikerubuni apabila terlihat di muka umum. Maka sebagai gantinya, ia pun dihujani tatapan penuh tanda tanya oleh orang-orang di sana.
"Mereka memperhatikan kita."
"Lalu?"
Luhan berdecak, ia mengeratkan gandengan tangannya pada Jongin. "Bukankah itu bagus? Kau akan lebih mudah untuk memperkenalkanku sebagai pasangan barumu. Lagipula kau tidak mungkin bisa menghindari pertanyaan masyarakat mengenai keberadaan dia—selamanya, 'kan? Aku juga tidak ingin disembunyikan."
Tidak langsung menjawab. Jongin tertegun cukup lama, membayangkan apa yang media massa dan masyarakat akan respon mengenai kebenaran yang masih belum terungkap itu. Akankah mereka kecewa pada kematian Sehun yang terkesan tiba-tiba dan misterius? Bagaimana cara Jongin menjelaskannya?
"Jongin!" panggil Luhan ketika pria di sampingnya itu terlihat seperti tak menyimak apa yang baru saja dikatakan. "Kau melamun lagi. Apa yang kau pikirkan?"
"Aku tidak suka ada di sini."
"Hm? Kau bilang kau baik-baik saja dengan segala jenis pusat perbelanjaan." Tutur Luhan lalu menghentikan langkahnya, membuat Jongin pun ikut diam di tempat. "Lagipula di mall yang sering kaukunjungi itu barangnya terlalu mahal, padahal semuanya sama." Ia menambahkan.
Jongin tersenyum mendengar Luhan berceloteh banyak. Hal lainnya yang ia sukai dari Luhan adalah kerendahan hatinya. Meskipun Luhan telah memiliki segalanya dalam artian perekonomiannya baik, tetapi ia tetap berusaha untuk hidup dengan gaya sederhana seperti apa yang selalu ibunya dahulu ajarkan padanya.
"Lebih baik kita pulang sekarang juga, orang-orang tidak berhenti menatapku." Jongin tiba-tiba jadi merasa tidak nyaman diberi tatapan oleh orang-orang di sekitarnya setelah menyadari bahwa ia sedang berjalan bersama Luhan dengan mesra.
"Oh, Jongin," ucapnya yang diselingi tawa geli, "katakan saja kalau kau malu. Kalau begitu biar aku saja yang berbelanja."
Jongin tersenyum sumringah seraya menghembuskan nafas lega. "Thank God! akhirnya kau mengerti juga." Dengan itu pun ia mengucapkan banyak terima kasih pada Luhan yang sudah mengerti bahwa ia sudah tak ingin menghabiskan dua jam berikutnya hanya untuk berjalan ke sana ke mari melengkapi barang belanjaan yang dibutuhkan.
"Kau duduk saja di bangku sana, atau terserah kau mau ke mana. Kita bertemu lagi di sini jam—hm, sembilan … ah—jangan. Jam delapan saja, deal?"
"Deal."
.
.
.
Chanyeol membenarkan letak kantung-kantung belanjaan berisi bahan masakan yang sedang digenggam oleh kedua tangannya. Ia seharusnya tidak melakukan weekly shopping-nya terlebih dahulu kalau ternyata pada akhirnya harus menemani Sehun berbelanja di tempat lain. Bukannya apa-apa, tapi bahan masakan yang berjumlah banyak itu tak ringan. Chanyeol juga tidak mungkin menyerahkan pekerjaan ini pada Sehun, jadi ia mau tak mau harus menanggung beban yang ada untuk sementara.
"Bagaimana menurutmu, hijau atau baby blue?" Sehun mengacungkan dua jenis pakaian bayi berukuran kecil yang memiliki motif sama namun berbeda warna pada Chanyeol setelah memutar kursi roda yang didudukinya. Namun karena Chanyeol tak kunjung menjawab, Sehun pun kembali menyibukkan diri dengan pilihan pakaian yang ada di tangannya—memutuskan untuk tak mengacuhkan Chanyeol.
Mengenai kursi roda. Sehun harus membiasakan diri memakai kursi roda ketika ia melakukan kegiatan yang mengandalkan kedua kakinya secara lama. Seperti saat ini; berbelanja. Atau saat-saat apa pun yang berlokasi selain di dalam rumah Chanyeol. Hal tersebut diakibatkan luka di kaki Sehun yang tak kunjung pulih seiring dengan pertambahan beban yang harus ditanggung oleh tubuhnya karena perut yang kian membesar.
"Hey, Sehun,"
"Hm?" gumamnya tak berpaling dari sebuah rak di mana terdapat pakaian bayi yang berukuran agak besar. Chanyeol tidak cukup menarik perhatian Sehun.
"Apa kau tidak takut kalau kematian palsumu terbongkar oleh orang-orang? Ini pertama kalinya lagi kau ada di tempat umum." Chanyeol berucap tanpa basa-basi namun hati-hati, kali ini ia berhasil menarik perhatian Sehun penuh. Mungkin memang topik pembicaraan yang memiliki keterkaitan dengan masa lalunya selalu dapat menarik perhatiannya.
Sehun tersenyum, setengah hati, ia kemudian menjawab, "Orang-orang selain dari perusahaan Kim tidak tahu soal kematianku, mereka hanya tahu bahwa aku tidak muncul di publik dengan Jongin—" bayinya menendang, "lagipula mereka tidak akan mengenali wajahku. Aku bahkan tidak pernah masuk televisi lebih dari sepuluh detik." Lalu Sehun tertawa renyah sambil mengelus perutnya yang sedang menerima banyak tendangan dari sang bayi setelah nama ayahnya disebutkan.
Tidak ada yang memulai percakapan di antara mereka. Chanyeol dan Sehun memutuskan untuk berbelanja secara terpisah. Atmosfer menjadi canggung setelah membahas obrolan yang cukup sensitif bagi Sehun. Pada bagian pakaian, Chanyeol-lah yang akan memilihnya. Sedangkan bagian mainan mungkin akan lebih mudah bagi Sehun untuk memilih. Kesannya memang sungguh merepotkan Chanyeol, tapi Chanyeol sendirilah yang meminta Sehun agar ia dapat membantu.
Kaki Chanyeol dilangkahkan menuju daerah di mana Sehun meninggalkan pilihan pakaian yang sempat ditanyakan padanya. Kedua pakaian tersebut memang terlihat lucu, sulit untuk menentukan yang mana yang harus dipilih.
Mungkin baby blue akan lebih cocok untuk putra Sehun nanti?
Omong-omong soal putra,
"Chanyeol, aku akan memiliki seorang putra!" kalimat gembira itu masih terngiang di kepala Chanyeol. Ia ingat pada saat itu dirinya dan Sehun pergi memeriksakan kondisi Sehun untuk yang pertama kalinya lagi setelah sekian lama. Dan untuk yang pertama kalinya lagi setelah sekian lama, Chanyeol melihat pria yang dikaguminya itu memberikan sebuah bahagia kepadanya.
Oh, tentu saja Chanyeol akan selalu mengingatnya, bagaimana mungkin ia akan lupa momen membahagiakan tersebut? Sehun yang bahagia membuatnya juga merasa bahagia.
"Uhm, permisi," terdengar seseorang dari balik punggungnya berucap, orang itu menepuk pundak Chanyeol. Tubuhnya merespon permintaan tersebut. Chanyeol melangkah ke samping untuk memberi jalan, dan berbalik. Ia dipertemukan dengan sosok pria yang wajahnya terlihat akrab, namun dibutuhkan beberapa detik untuk menyadari siapa yang sedang dihadapi.
Benar-benar terkejut, ia pun membeku di tempat.
Beruntung, hanyalah Chanyeol yang dipertemukan dengan pria di hadapannya. Ia memang tidak mengantisipasi pertemuan mereka, namun ini lebih baik daripada Sehun yang harus mengalaminya. Chanyeol sebaiknya cepat-cepat membawa Sehun pergi dari tempat ini tanpa menarik perhatian siapa pun. Sehun dan pria itu tak boleh dipertemukan.
"Chanyeol?" Jangan! "Ada apa? Kenapa belanjaannya jatuh?" karena terlalu terkejut, Chanyeol tanpa sadar telah menjatuhkan kantung-kantung belanjaan dari genggamannya. Ugh, jadi ia ternyata memang telah menarik perhatian orang-orang; tak terkecuali perhatian Sehun. Banyak barang yang berserakan di lantai, tapi tak satu pun diindahkannya.
Entah apa yang salah dengan refleksnya saat ini, tapi Chanyeol jadi sangat terlambat untuk merespon hal-hal di sekitarnya. Seperti ketika pria di hadapannya itu melenguh terkejut dan terbelalak melihat Sehun berada di samping Chanyeol lengkap dengan kursi roda yang sedang didudukinya.
Karena merasa diperhatikan, Sehun pun mengalihkan perhatiannya pada pria di hadapan Chanyeol. Raut wajah Sehun tak jauh beda dengan Chanyeol; terkejut. Sangat terkejut. Juga takut.
"S-sehun …." Bisik pria itu hampir tak bersuara. Ia berusaha mencerna pemandangan mencengangkan yang tergambar jelas oleh pengelihatannya.
Sehun.
Sehun yang dikabarkan telah meninggal dunia kini berdiri di hadapannya.
Yang sedang dipandangi, Sehun, secara otomatis membawa dirinya untuk bersembunyi di balik Chanyeol. Ia meremas kain kemeja Chanyeol erat-erat karena ketakutan. Jantung Sehun berdebar kencang, ia secara otomatis membawa satu tangan lainnya untuk memeluk perut besarnya ketika dirasa sang bayi menendang, benar-benar keras, sehingga membuatnya harus menggigiti bibir untuk meredam erangannya.
Menyebut nama atau mengingat hal mengenai Jongin membuat Sehun harus menanggung rasa sakit yang diterima, bayi yang ada dalam kandungannya pasti akan menendang ketika ia merasa tertekan apabila teringat pada masa lalu kelamnya.
Dia memang bagian dari masa lalunya.
Tapi dia bukan Jongin.
Dia adalah,
.
.
.
Now the nightmares begin.
.
.
.
.
.
.
tbc
a/c: saya lagi banyak ujian, semoga kalian ngerti kenapa saya kalau update lama ;-; yang ini juga dibuat buru-buru tanpa banyak diedit. alurnya kayaknya kecepetan atau gimana? ada yang rancu atau apa pun boleh dikasih tau atau ditanyakan, nanti dijelaskan di chapter depan kalau saya bisa. terima kasih yang sudah memberi review! saya baca satu-satu, dan semoga kebaikannya dibalas :D
