Main Cast : ChanBaek

Other Cast : HunHan, KaiSoo, Jaejong

Disclaimer: Cerita ini Milik Gloomy Rosemary

.

.

.

.

Previous Chapter

"Ah!" Bocah itu berjengit, mendudukkan diri... menatap tanpa kedip, sesuatu yang melingkar di antara jari manisnya.

"T—Tuan ini—

Baekhyun menggigit bibir bawahnya, bahkan hingga Pria itu meraih jemarinya untuk dikecup lama, Ia masih terdiam dengan bibir digigit olehnya sendiri

"Menikahlah..." Chanyeol mencium pelan bibir tipis itu, hingga gigitannya terlepas. "Denganku..." Lanjutnya lagi, seraya menyingkirkan beberapa helai rambut yang menjuntai di pipi Baekhyun.

.

.

Chapter 9


Silent Regrets

YAOI

Rate M

Gloomy Rosemary

.


.

.

"Tuan—

"Tsk.."

Baekhyun tergagap, saat tubuhnya didorong hingga kembali terhempas ke ranjang. Tak sempat untuk mengusaikan ucapannya, begitu Pria itu menjilat bahkan benar-benar menggigit ceruk lehernya .. membuatnya memekik ngilu.

"Akh!"

"Berapa kali kukatakan.." Chanyeol meniup pelan telinga Baekhyun. "Berhenti memanggilku seperti itu" Lanjutnya lagi, kali ini dengan menggoda lubang telinga namja kecil itu dengan lidah basahnya.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya sendiri, sesekali menggigil begitu rasakan lidah itu mulai turun meruam ceruk lehernya. "Ngghh.."

"Kau mendengarku?" Bisiknya... kembali menggigiti pangkal lehernya.

"Akhh!" Tak pelak membuat namja mungil itu kembali terlonjak. Sentuhan itu membuatnya tak bisa berpikir apapun, bahkan mendengarpun... rasanya Ia tak sanggup. Selain meremas kuat bantalnya sendiri, lampiaskan betapa payah tubuhnya menerima cumbuan basah itu.

"Kau tak ingin menjawabnya?" Seakan tak jemu menggodanya, Pria itu.. kini beralih menyusupkan sebelah tangannya ke dalam celana dalam Baekhyun.

"Nn—ah! ahh"

Tak peduli bocah itu menggeleng, dengan kaki terkatup .. menjepit tangan Chanyeol di bawah sana.

"Aku tak akan berhenti sebelum kau menjawabnya" Chanyeol menyeringai, sadari tatapan bocah itu semakin sayu di bawahnya.

Sial! berkalipun Ia mencoba menahannya... raut Baekhyun semakin membuatnya menggila,bahkan aroma tubuh yang menguar dari ceruk lehernya. Membuatnya enggan berhenti mencumbu tubuh anak itu hingga benar-benar basah karena salivanya.

"Ugh—"

Jemari kecilnya mulai terangkat, meremas kuat surai hitam Chanyeol. semakin Ia mencoba bangkit semakin liar Pria itu mencumbu dirinya, bahkan kini beralih melumat bibir bawahnya.

"Mpfhh... Mmnn"

Hingga membuatnya pasrah mengalungkan kedua tangannya di leher Chanyeol, membiarkan Pria itu menikmati bibirnya... meski saliva keduanya mulai meleleh turun dari sela bibir Baekhyun.

.

.

Baekhyun terengah... terpejam lemas, walau genitalnya masih diremas pelan di bawah sana.

"C-Chan—

"Hn?" Pria itu kembali menyeringai, semakin tajam melihat namja kecilnya terengah payah... menahan sadarnya sendiri. Satu yang disukainya sendiri, bocah itu tak lagi memanggilnya seformal sebelumnya.

"Chan—yeol.. ahh" Panggil Baekhyun lagi seraya menengadah, dan terakhir Ia hanya sadari pandangannya memutih seiring semakin hangat dan lengket sela pahanya sendiri.

"NGHH!"

Pria itu terkekeh... sembari mencium pelipis Baekhyun.

Perlahan, Ia menarik tangannya keluar... menatap lekat pada jemari basah itu, sebelum akhirnya menjilatnya sensual di depan Baekhyun.

Bocah itu memilih menyusupkan kepalanya di dada Chanyeol, tersenyum kecil dan sesekali memainkan jemari kecilnya sendiri.

Mengamati kilau dari benda yang kini melingkar di jari manisnya.

"Kau menyukainya?" Tanya Chanyeol begitu menyadari namja kecil itu mulai antusias melihat cincin ruby nya.

"..." Baekhyun mengangguk cepat, sejenak mengangkat kepala... lalu—

'Chupp'

Satu kecupan kecil itu,benar-benar menyentuh bibir tebalnya.

tanpa tau, sikap manis yang malu-malu itu... terlalu menggemaskan untuk Chanyeol. Hingga membuat Pria kekar itu kembali menghempasnya ke ranjang... dan melucuti semua kain yang membungkus tubuh mungil itu.

.

.

"T—Tunggu!" Baekhyun terbelalak panik, begitu kemeja putihnya di buka paksa... bahkan hingga membuat beberapa kancingnya terpental.

"Haha!" Pria itu tak mendengar...

Terlihat rakus mengecupi dada Baekhyun yang mulai terekspose, bahkan memaksa membuka kedua kaki Baekhyun dan menahannya dengan lututnya sendiri.

"Aghh!"

"Sexy.." Desahnya di sela cumbuan basah itu, menyesap ujung nipple yang mulai kemerahan.

Sebelah tangannya menarik sebuah bantal dan menyusupkannya di bawah perut Baekhyun. Seakan mengerti ada gumpalan darahnya di dalam perut yang memang sedikit buncit itu.

.

"K—Kau ingin m-melakukannya lagi?" Ucap Baekhyun terbata, seraya menahan kepala Chanyeol untuk berhenti menjilati pusarnya.

"Hn?" Pria itu menatapnya lekat. Mengamati paras cantik yang kini tampak memerah karna gugup.

"Aku ingin memakanmu.." Lanjut Chanyeol lagi, menggoda... bahkan kini beralih beringsut ke bawah. memposisikan kepala di antara dua kaki Baekhyun yang terbuka.

Kembali mengabaikan, bocah itu menahan malu dengan menutup wajah dengan kesepuluh jarinya.

"T—tapi semalam, kita—

"Aku menginginkannya lagi" Sergah Chanyeol, sambil sesekali meniup rektum yang berkedut.

Baekhyun berjengit... dengan perut menengang. Kembali mencoba bangkit dengan bertumpu pada kedua sikunya, tapi—

'Slurp'

Ia kembali di buat memekik, begitu bibir tebal itu memberi kecupan bahkan menghisap kuat rektum kecilnya.

"A—AHH!" Ia menggeleng panik, berusaha menarik-narik surai hitam Chanyeol untuk berhenti. Semalam keduanya melakukannya, Ia merasa masih ada sperma Chanyeol di dalamnya, tentu tak mungkin membiarkan Pria itu menyedot rektumnya seperti itu. Tapi semakin Ia meronta, semakin kuat Pria itu menghisap rektumnya di bawah sana.

"J—Jangan! Aghh! D-Di dalam masih —

Tak sanggup mengusaikan kalimatnya, Baekhyun kembali melemas dengan mata terbelalak lebar... sadari sperma Chanyeol yang semalam tertahan. Sepertinya perlahan tersedot keluar dari rektumnya.

Dadanya mulai kembang kempis, terpejam dengan bibir tergigit kuat... menahan tubuh yang mulai menggigil di bawah kuasa Pria itu.

Chanyeol terkekeh, tanpa menghentikan hisapan bibirnya ia mulai melirik ke atas. Menatap takjub, dengan bagaimana namja kecilnya menahan nikmat dengan sentuhan seperti ini. Ia beralih menggenggam kedua tangan Baekhyun, membuatnya saling bertaut erat, hingga Baekhyun bisa berpegang padanya.

.

.

.

"hhh...Hhh"

Baekhyun tersengal payah, namun tetap berusaha membuka mata sayunya... melihat Pria itu menyeka bibir basahnya sendiri.

"Lelah eum?" Chanyeol beralih merunduk, sedikit mengangkat tubuh Baekhyun hingga bersandar di kepala ranjang. "Bahkan aku belum memasukimu pagi ini" Kekehnya, sambil menyeka keringat di kening Baekhyun.

Bukannya menjawab, namja kecil itu lebih memilih merunduk dan membuka kedua kakinya... mengamati rektum nya sendiri. Terlihat, sperma masih merembas dari dalamnya.

Dan Ia kembali tersipu malu...

"M—Mengapa kau melakukannya" Ia mulai mempoutkan bibir kesal.

"Kenapa hn?"

Bocah itu mendelik, dan menatap Chanyeol tajam. "Setidaknya biarkan aku membersihkan tubuhku, sebelum kau mencium bagian itu!" Protesnya, sambil menarik beberapa helai tisu... lalu menyeka lubang analnya sendiri.

"Semalam kau keluar sangat banyak di dalam! Seharusnya kau biarkan aku mandi untuk membersihkannya" Gerutu namja kecil itu,sedikit mengernyit tiap kali tisu itu menyentuh lapisan rektumnya.

"untuk apa membersihkan diri, jika tubuhmu... menggoda seperti ini" Kekeh Chanyeol, beralih mengangkat pinggul Baekhyun, bahkan terlalu cepat memposisikan penisnya di bibir rektum itu.

"Jangan memasukkannya!" Pekik Baekhyun, tak siap.

"Sssh... kembali berbaringlah" Bisik Chanyeol, kembali merebahkan tubuh mungil itu... sesekali pula Ia memberi kecupan ringan di wajanya demi menenangkannya

"Tapi di dalam masih ada—

"Aku yang akan membersihkannya nanti" Sergah Chanyeol lagi, kali ini dengan mendorong perlahan penis besarnya.

.

.

"Uh—Nnn! P—Pelan" Rintih Baekhyun sedikit meremas lengan Chanyeol.

"Hn... rileks" Bisik Pria itu, sambil mengusap tengkuk Baekhyun.

"Ssh! AH! P—Pelan! S-sakit!" Rengek Baekhyun, semakin tak tenang mencengkeram kedua lengan Chanyeol. Sesekali Ia menggeleng resah... berusaha menarik nafas dalam, begitu rasakan kepala penis itu benar-benar membelah rektum sempitnya.

"Sedikit lagi.." tenangnya, seraya mencium kening Baekhyun.

Tak ingin mengulur waktu lebih, sementara Ia tau... setelah ini, Baekhyun akan memekik nikmat.

Hingga Ia putuskan untuk menghentak sisa penisya, lalu memagut bibir kecil itu ... sebelum Baekhyun menjerit kesakitan

"MH! MMMHH!"

Semua seakan tersambut untuknya, bagaimana Ia mulai menggerakkan pinggulnya... bahkan mengganti kecupan lembut itu dengan sapuan lidah basahnya.

Hingga keduanya benar-benar tak bersekat selain tautan tubuh bercumbu sebasah itu.

Setiap lengking dan desah Baekhyun yang terdengar, semakin berarti untuknya... sadari bocah itu benar-benar membuatnya jatuh terpana.

Mungkin benar...

Ia terlalu mencintainya.

"NN~AH! ACKHH!"

.

.

.

.

.

.


.

"Tck! mengapa rasanya sangat merindukan Baekhyun" Gumam seorang Pria mengetuk-ngetuk jemari panjangnya pada kemudi mobil hitam miliknya. mengamati jalanan, tak jauh dari kediaman Chanyeol.

"Seharusnya aku berkunjung. Bibi Jae juga di sana bukan?"Gumamnya lagi, sambil memandangi potret muda dirinya bersama seorang bocah mungil. "Baekhyu—

"Hohohohoho!"

Bola matanya nyaris melompat keluar kala itu, begitu seorang anak tiba-tiba saja melongokkan kepala ke dalam jendela mobilnya. "BOCAH TENGIK!" Teriaknya gusar, tak habis pikir bagaimana bocah itu menemukannya. Dan hanya ditanggapi kikikkan geli dari sosok mungil itu.

"Ahjjussi! Aku terlanjur berjalan kemari... tak satupun kukenal di jalan ini. Hyung-ku pulang malam... uang sakuku habis dan aku hanya sendiri. Banyak ahjjussi jahat yang sepertinya ingin menculik dan—

"Masuk!" Sergah Kai, benar-benar mengerti maksud celoteh namja kecil itu.

"Jinjjayo?" Kerjap Kyungsoo, tersenyum sangat lebar.

Tanpa menunggu Pria itu menjawab atau sekedar mempersilakannya untuk masuk, Kyungsoo lebih memilih membuka pintu mobil lalu dan duduk di dalamnya semanis mungkin.

"Ahjjussi... sebenarnya tak perlu mengantarku. Tapi kau benar-benar baik hati" Kikik Kyungsoo begitu mobil hitam itu mulai melaju.

"Tck! setan kecil" Dengus Kai, sambil melirik bocah yang terlihat antusias memandangi dirinya.

.

.

"Kita makan malam terlebih dahulu? sepertinya di ujung Apgeudong itu ada—

"Langsung pulang" Sergah polisi muda itu, tak ingin berbasa basi.

Kyungsoo mendelik, kembali mencari-cari alasan lain agar bisa berlama lama dengan pria itu

"Ah! Sepertinya ada film terbaru di—

"Langsung pulang" Ujar Kai lagi, tak goyah

"..." Kyungsoo memukul mukul pahanya sendiri, sejenak melirik Kai yang masih fokus pada kemudinya. Lalu membuang muka... menatap jalanan dari jendela mobil. Mengapa Pria bodoh itu terlalu sulit untuk dibujuk.

"Ahjjussi... bagaimana jika—

"Pulang! Kau harus pulang! dan belajar di rumah!"

"Aisshhh! Polisi gila!" Decak Kyungsoo sambil bersidekap, tak peduli Pria di sisinya menatapnya tajam.

"Yack! bicara apa kau tadi?"

"Aku tak mendengarmu!" Ketus Kyungsoo sambil mengeluarkan ponsel dan headset miliknya, menyumpal telinga dengan benda itu, tak peduli Polisi itu berulang kali mendumal jengkel.

.

.

.

"Terserah! lakukan sesukamu" Gerutu Kai, melirik sinis pada bocah yang kini fokus dengan gadget putih itu.

Kyungsoo mencibir, lalu beralih dengan merangkak ke jok paling belakang dan mengubah posisi menjadi menungging, demi meyembunyikan ponsel di balik lingkaran lengannya.

"Yya! Mau kemana kau?!" Heran Kai tak mengerti. Dan hanya diabaikan oleh Kyungsoo yang mulai sibuk dengan ponselnya sendiri

.

.

"Ommo!" Lirih Kyungsoo dengan mata membulat lebar, begitu melihat sosok dalam layar, lebih tepatnya Hyungnya sendiri... tengah mencumbu panas kekasihnya.

Tak percuma, semalam Ia meletakkan camera tersembunyi di kamar Sehun. Beruntung sekali pagi ini ia masih memiliki kesempatan memindahkan rekaman tersebut ke dalam ponselnya

"Ahnn~ Hun—nieh!"

"Sshh se—dikit lagi...ma—suk sayangh"

Mata bulatnya mengerjap polos dengan keringat merembas deras, kala video itu semakin memperlihatkan detik Vulgarnya. Kyungsoo nyaris menjerit kala itu...melihat Hyungnya berusaha memeperkosa namja cantik di bawahnya. Nyatakah itu? benda besar Sehun benar-benar menusuk masuk tubuh namja berkulit putih itu. Bahkan membuat Kyungsoo berulang kali menyeka keringat di dahinya dengan kaki menjejak liar jendela mobil Kai.

.

.

.

"kita hampir sampai" Gumam Kai

"..." Tapi anak itu tak menjawab.

"Kyungsoo" Panggilnya, seraya melirik Kyungsoo dari kaca mobilnya.

"Persiapkan dirimu, karena kita akan sampai" Decak Kai

Hingga mobil itu benar-benar menepi tepat di depan gerbang rumah Sehun, tapi bocah itu tetap terdiam mengamati layar ponsel itu dengan mata membulat lebar

Keningnya makin berkerut tak mengeti, menyadari sesuatu yang ganjal. Bukankah mobil ini ber-AC, tapi bagaimana mungkin Kyungsoo berkeringat sebanyak itu.

Kai memilih menoleh ke belakang "Yya! .. .kita sudah sampai, apa kau tak mendengarku?" Ujar Kai kembali mencoba peruntungan menyadarkan bocah itu, namun yang terlihat namja manis itu masih tetap tersenyum senyum seorang diri.

Merasa percuma, Kai bergerak sigap mencondongkan tubuh kebelakang demi menarik paksa headset Kyungsoo. "YACKK! OH KYUNGSOO!" Bentaknya keras.

Sontak saja Kyungsoo terlonjak terkejut karenanya, membuat tangannya tanpa sengaja menyentak headset tersebut hingga terlepas dari ponselnya.

"Ahnnn~ Deeperh... Hunniehh akkh! ouch! soo biighh Ahh!"

"Hmm! Tubuhmu nik—math dear... ssh"

Kai mematung, mendengar ponsel itu mendadak mendesah erotis. dan begitu melihat layarnya... Ia hanya dibuat menganga, melihat seorang Pria menyetubuhi Pria yang lain dengan posisi berdiri terhimpit di dinding.

"YACK! Apa yang kau lihat dalam ponselmu hah?" Seru Kai semakin mencondongkan tubuh hendak merampas gadget yang masih mendesah tak karuan itu.

Kyungsoo kebas, ia benar-benar tertangkap basah kali ini. "APA? APA? LIHAT APA HUH?!" Racaunya panik. Seraya mendekap erat-erat ponselnya tanpa peduli video itu masih terus berputar di dalamnya.

"Kamarikan benda itu" Ujar Kai tegas

"Ti—tidak!" Kyungsoo menggeleng kasar... tentu saja itu bunuh diri jika menyerahkan ponselnya pada Polisi hitam itu.

"Kemarikan benda itu! cepat!"

"Tidak!"

"Kemarikan! Kau masih di bawah umur tak seharusnya menyimpan video semacam itu!"

"Ini Hyung-KU!"

"Mwoo?!" Pekik Kai terkejut

"entah Ayahmu atau Hyung mu! Tetap saja kau tak bisa—

"Tidak! jika kau tak menerimaku!"

Kai mengerjap... sementara video itu masih terus berputar

"Aku menyukai Ahjjussi!"

"..." Kai terdiam, menatap lekat pada mata bulat Kyungsoo. Mengabaikan desahan dan erangan dari sosok dalam ponsel Kyungsoo.

"Mungkinkah Ahjjussi masih menyukai Baekhyun?"

Kai tersentak, "B—Bagaimana mungkin kau tau jika—

"Kau selalu membawa foto Baekhyun kemanapun kau pergi, ah! Bahkan foto mendiang Ayahnya pun selalu kau ajak bicara. Dan.. kau selalu tersenyum seperti manusia idiot saat bertemu Baekhyun" Cerca Kyungsoo dengan tatapan dingin yang menusuk.

"I-itu karena—

"Baekhyun akan menikah... lagi pula Dia juga sedang hamil...kesempatanmu sudah hangus!" Sergah Kyungsoo seraya meniup tangan terkepalnya.

Sesaat...Kai mengerjap. Hingga tiba-tiba saja mata elangnya membulat sempurna begitu menangkap maksud kata 'menikah dan hamil ' itu.

"M—menikah? Hamil? MWORRAGOOOOO?!"

"Uhm... Sehun Hyung yang mengatakannya padaku, kau bisa memborgol tangannku jika ucapanku tak terbukti. Ku tekankan sekali lagi Ahjusshi... Presdir Park akan menikahi Baekhyun" Ucapnya tanpa beban seraya menggerak-gerakkan kedua alisnya.

"T—tidak mungkin...D—dia menikahinya"

"Hahaha! Bahkan undangannya pun akan di sebar!" Tawa Kyungsoo meremehkan

"..."

Lalu semua kembali hening, membuat Kyungsoo berhenti menyeringai sinis.

"Kau sedih?" Tanyanya kemudian.

"Baekhyun sudah bersama Presdir Park, lupakan Dia" Gumam Kyungsoo, memberanikan diri merangkak ke atas pangkuan Kai yang masih termenung.

"Aku tak hanya menyukaimu. Tapi sepertinya—

Kyungsoo kembali menunjukkan video dalam ponselnya. "Aku ingin melakukan hal semacam ini denganmu"

Tak pelak membuat Kai terbelalak lebar. "Hah?"

Semakin pelik untuknya, begitu melihat bocah itu benar-benar membuka kemeja seragamnya... hingga polos di hadapannya.

"Kau tak ingin melakukannya?"

"..." Kai hanya mengerjap dengan bibir terbuka, sadari betapa halus tubuh anak itu.

"Ataukah... kau ingin aku membuka celanaku ju— Mpfthh"

Kyungsoo mendadak berjengit, begitu Pria itu merubah posisi... dan mencium kasar bibir sintalnya.

"Mnh~ mmphh" Semula Ia sedikit tergagap mengimbangi bagaimana Pria itu melumat bibirnya, tapi dalam diam Ia mulai menyeringai... melihat Kai terhanyut dalam cumbuannya.

"Mnh~...Mm Ahjusimphh" lenguhnya nikmat, sambil memiringkan kepala... membiarkan Polisi itu mengklaim penuh bibirnya.

.

.

Tok! Tok! Tok!

Hingga terdengar seseorang mengetuk keras jendela mobilnya.

Tak pelak membuat keduanya berjengit, dan melepas paksa cumbuan keduanya

"Siapa itu?" Gumam Kai, melirik samar pada sosok di luar mobilnya.

"H—Hyung" Gagap Kyungsoo.

"Ha?"

"H-Hyungku di luar!"

"WHAT?!"

.

.

.

.

.

.

.


"AAAAA!" Seorang bocah mungil terlihat melompat-lompat di atas ranjang besar itu, membuat Baekhyun yang masih terlelap ... terusik karena nya

"Nghh~" Baekhyun mengernyit tak suka. Memilih berguling ke sisi lain, lalu menutup kedua telinganya dengan bantal.

"Belmain! cha! Belmain!" Rengek Taehyung kini mulai menarik-narilk lengan Baekhyun.

"Biarkan aku ti—duur!" Gumam Baekhyun, sambil menjejak ranjang. Tubuhnya terlalu lelah... semalam dan pagi ini, Ia benar-benar di buat payah melayani nafsu Chanyeol.

"BELMAINNN!" Tapi Taehyung tak ingin mengalah, bahkan mulai bersiap diri melompat ingin menerjang Baekhyun.

'HUP'

"Taehyung sayang, jangan menganggu kakakmu"

Namun beruntung, jaejong datang menangkap cepat Taehyung sebelum menimpa perut Baekhyun.

"Baeki belmain!" Rengek Taehyung meronta dalam dekapan Ibunya

"Sshh... Eomma membelikan Taehyung Ice Cream"

"celim?"

Jaejong mengangguk mengiyakan "Uhum"

Tak menunggu kata yang lain, bocah kecil itu beringsut-ingsut turun lalu berlari cepat. Seolah memang tau di mana Jaejong menyimpan Ice Cream miliknya.

.

.

Wanita itu menghela nafas pelan, lalu beralih mendekati Baekhyun yang masih bergelung di dalam selimutnya.

"Baekhyun.." Bisiknya, sambil menyentuh kepala namja mungil itu.

"Bangunlah sebentar... Eomma membawakanmu sarapan" Ujarnya lagi, sedikit cemas melihat Baekhyun tidur terlalu lama.

Hingga bocah itu menggeliat, lalu tak berselang lama setelahnya Ia mencoba untuk bangun.

.

.

Sesekali Baekhyun menguap kecil, membuat wanita itu kembali berdecak gemas, sambil menyingkirkan beberapa anak rambut yang menjuntai di wajah Baekhyun.

"Apa kau sedang tak enak badan?"

Baekhyun mengerjap, lalu menggeleng pelan.

.

.

"Perlu Eomma bantu untuk pergi ke kamar mandi?" Tawar wanita itu begitu melihat Baekhyun merangkak ingin menuruni ranjangnya. Sempat Ia berjengit melihat beberapa tanda merah di sekitar leher putranya, tapi setelahnya Ia hanya berdehem... sadari bekas apa itu sebenarnya.

"Tidak Eomma" Gumam baekhyun, sambil menyimpul senyum

Ia mulai merambati dinding di sekitarnya, mencari pegangan untuk berjalan... Tapi—

"Ughh.." Baekhyun terhuyung, bahkan nyaris terjatuh jika saja Ibunya tak menahan lengannya.

"Eomma bilang juga apa"

.

.

"Duduklah sebentar di sini" Ujar Jaejong, seraya mendudukkan Baekhyun di ranjangnya.

"Kau mungkin merasa pusing setelah bangun tidur" Jelas wanita itu kali ini dengan mengambil segelas susu hangat yang memang sebelumnya Ia letakkan di meja nakas.

"itu biasa terjadi pada seorang yang hamil, seperti Eomma dulu saat mengandung dirimu dan Taehyung" Jaejong tersenyum, menatap teduh pada Baekhyun yang mengerjap padanya.

"Eomma tak pernah menduga, kaupun akan merasakan hal ini" lanjut jaejong sambil membelai kepala Baekhyun.

tapi, Baekhyun mendadak tertunduk... bahkan mulai meremas jemari kecilnya sendiri. merasa bersalah. Mungkinkah Ibunya menyesali kondisi tubuhnya saat ini?

"M—Mianhae... Eomma"

Jaejong mengernyit, lalu setelahnya membawa kepala Baekhyun agar bersandar di dadanya. "Tidak... Eomma tidak bermaksud membuatmu merasa seperti ini. Tentu Eomma sangat menerimanya Baekhyun" Bisiknya menenangkan.

"Eomma pikir, semua ini akan suram untukmu bahkan kau terlalu kecil untuk menghadapi hal ini. Tapi Pria itu... benar-benar meyakinkanku .. Baekhyun. Pria itu tak membuatku takut melihat masa depanmu kelak, dan Eomma senang melihatmu dengannya"

Semula namja kecil itu mengerjap, tapi menyadari bagaimana Ibunya mencium sayang keningnya... bahkan mengusap cincin yang melingkar di jari manisnya, membuatnya tau... tak ada yang dipaksakan dari kalimat wanita itu.

"Selamat untuk hari pernikahanmu sayang"

Baekhyun mendadak mengangkat kepala. "Eomma mengetahuinya?"

"Tentu saja... Eomma lebih tau, dibandingkan dirimu" Candanya, sambil melirik perut Baekhyun yang mulai tampak.

Baekhyun masih terdiam, mengerjap tak tentu dengan sikap Ibunya kali ini. Ini terlalu membuatnya sungkan... Haruskah Ia diperlakukan seperti ini, sementara Ia seorang namja. Tapi Ibunya terlalu menyanjungnya, bak dirinya seorang gadis.

"Minumlah..."

Baekhyun mengangguk patuh, dan mengambil segelas susu dari tangan Ibunya.

Tapi—

"Ughmp!" ia mendadak berhenti meminumnya dan memandang Ibunya curiga.

"Ada apa?" Tanya Jaejong heran.

Namja kecil itu terlihat payah menelan susunya, lalu setelahnya Ia menjulurkan lidahnya tak suka.

"Susu apa ini?" Protesnya, memandang aneh pada gelas yang masih terisi susu.

"Hm? Chanyeol yang membelikannya kemarin" Gumam Jaejong sembari mengambil kembali susu itu, lalu mengendusnya. "Susu Ibu hamil, bagus untukmu" Ujarnya setengah terkekeh.

"Tidak! itu sangat aneh!" Pekik Baekhyun sambil menutup bibirnya.

"Apanya yang aneh? habiskan Baekhyun"

"Tidak mau!"

"Yyaa~ Chanyeol yang membeli ini untukmu"

Baekhyun memilih bangkit menghindar "Itu untuk Ibu hamil! jauhkan itu dari Baekhyun!"

"Aissh! kau pikir dirimu tak sedang hamil hmm? kemarilah dan habiskan ini"

"Tidak Eomma!"

"Hahaha! kau lucu sekali"

.

.

.

.


Nyaris pukul tujuh terlewat,

Ia yang memang sedari tadi hanya menghela nafas berat sambil memandangi TV di depannya, kini mulai terlonjak begitu mendengar suara mobil yang ditunggunya.

Cepat-cepat Baekhyun beranjak ingin berlari cepat, menuju pintu utama...

.

"Baekhyun! Jangan berlari seperti itu!" Terdengar teriakkan Ibunya dari lantai atas. Tapi Baekhyun tak peduli, tetap membawa langkah kecilnya ingin menemui sosok Pria itu.

.

.

Tapi rupanya Ia kalah cepat, begitu seorang bocah kecil terlihat menggelayut erat di balik punggung Chanyeol.

"Yack! Turun dari sana!" Pekik Baekhyun, tak terima Taehyung lebih dulu mengklaim Presdir Park miliknya.

Tak ada sahutan dari Taehyung, selain kepala menyembul dari balik pundak Chanyeol lalu menjulurkan lidah padanya.

"Menyebalkan! Turun—

'Chupp'

Chanyeol merunduk dan memberinya kecupan kecil di bibir, hingga membuatnya urung menyentak marah pada bocah di balik punggung Pria kekar itu.

"Berhentilah marah-marah seperti ini"

"Tapi Dia menyebalkan!"

Chanyeol melirik sambil mengulum senyum. "Kau ingin digendong seperti ini juga?"

"..." Baekhyun berdengus sambil membuang muka.

"Baiklah" Pria itu beralih menurunkan Taehyung, memberinya beberapa Coklat dan sebuah mobil kecil. Lalu Baby kecil itu berlari antusias ke dalam... sambil memainkan mobil mininya di dinding.

"Semua sesuai permintaanmu..." Pria itu benar-benar mendekatinya, tak terlihat ingin memberinya punggungnya. tapi mengangkat tubuhnya secara bridal

"Ahh!"

"Princess Hn?"

Baekhyun tersipu, bahkan semakin merona begitu Pria itu melangkah ke dalam sambil membawa tubuhnya dengan cara demikian.

.

.

"Ah, kau sudah pulang rupanya" Terdengar Jaejong mulai menyapa Pria itu, membuat Baekhyun reflek menutup wajah dengan kesepuluh jarinya

"T—Turunkan" Lirihnya malu-malu

"Bukankah kau yang memintanya.." kekeh Chanyeol,semakin merengkuh Baekhyun hingga membuat bocah itu meringkuk pasrah dalam gendongannya.

"Turunkan aku.." Bisiknya lagi, semakin malu dipandangi Ibunya.

Chanyeol hanya berdecak, semakin melihatnya... semakin Ia ingin menerkam. Hingga Pria itu lebih memilih berjalan cepat, membawa Baekhyun ke dalam kamarnya.

.

.

.

.

'Chupp'

Baekhyun terkikik kecil, melihat Pria itu sama sekali tak melepas perutnya... dan terus menerus mengecupi Perut yang mulai berisi itu.

"Lepas dasimu... terlebih dahulu" Bisik Baekhyun, sambil membelai surai hitam Pria muda itu,

"Lepaskan" Gumam Chanyeol, lalu kembali menciumi perut Baekhyun.

Baekhyun sedikit mengerucutkan bibir, tapi setelahnya tetap melepasnya dengan antusias.

"Kemejaku juga.." Ucap Chanyeol tiba-tiba

"Ne?"

Pria itu memilih berguling, dan telentang di ranjang. Mempersilakan Baekhyun lekas membuka kancing kemejanya.

"Kau akan menjadi istriku..." Gumam Chanyeol begitu sadari jemari lentik itu mulai menyentuh kancing kemejanya.

"Tentu akan terbiasa dengan hal semacam ini" Lanjut Pria itu lagi, sambil menggenggam tangan Baekhyun dan menatap lekat matanya.

Hingga membuat Namja manis itu berhenti dengan wajah bersemu merah.

Terlalu manis... terlalu menggemaskan , membuatnya reflek menarik tangan Baekhyun. Hingga Baekhyun terjerembab, lalu dengan mudahnya Ia melumat bibir mungil itu.

.

.

.

.

"Mengapa tak dihabiskan?"

Baekhyun memutar tubuh, mencari alasan untuk menghindari pertanyaan itu.

segelas susu yang menurutnya berbau aneh itu pun masih setia bertahan di tangan Chanyeol.

"Itu bukan susu biasanya"

"Tentu saja, ini susu khusus untukmu"

"..." Baekhyun menunduk, meremas remas jemarinya sendiri.

"I—ini memalukan untukku" Lirih Baekhyun, masih terdengar oleh Pria itu.

"Hn?" Membuat Chanyeol beralih mendekatinya. "Apanya yang memalukan?"

"A-aku seorang namja... b-bagaimana bisa kau memintaku untuk meminum—

"Kau mengandung anakku" Sergah Chanyeol memeluk Baekhyun dari belakang, lalu menumpukan dagu di pundak sempit itu.

"Kau dan Dia, tentunya harus baik-baik saja... Hingga Bayi ini terlahir"

Baekhyun mengerjap, berdebar menyadari bagaimana tangan besar itu membelai perutnya.

"Minumlah... kumohon" Bisik Pria itu lagi, seraya mencium pipi Baekhyun.

terlihat ragu, tapi namja kecil itu benar-benar meraih minuman itu. Menyesap meski nyatanya Ia terlihat payah untuk menelannya.

"I love you .. "

Baekhyun terbelalak. "Uhuk!" lalu tersedak begitu saja

"Pelan-pelan saja jika meminumnya" Decak Chanyeol sembari menyeka dagu dan leher Baekhyun.

"Ukh!" sedak Baekhyun sambil memukul-mukul lengan Chanyeol.

"Haha... mengapa memukulku?"

.

.

.


Esoknya..

"Sebaiknya saya mengantar anda ke dala—

"Tidak perlu" Sergah Baekhyun sambil tersenyum manis, merapikan syal tebal miliknya lalu membuka pintu mobil itu dengan riang. Tak peduli Pria paruh baya itu terlihat kebingungan, was-was jika Chanyeol akan marah besar padanya.

"Tapi Presdir—

"Aku sudah mendapat izin, Paman pulang saja" Ujar anak itu lagi, semakin memaksa begitu melambaikan tangan, berharap dirinya lekas kembali melajukan mobilnya.

"B-Baiklah, jaga diri anda Tuan muda"

Baekhyun berdecak lirih, begitu sopir pribadi itu benar-benar pergi dari hadapannya.

pagi ini, Ia memang tak ingin sendiri...

Ibunya terlalu pagi, pergi bersama Taehyung untuk menemui guru baru bocah itu. Tentu akan lebih menyenangkan jika Ia mengikuti Chanyeol kemari.

.

.

.

Lalu tiba-tiba..

"Tunjukkan ID Card anda" Seorang Pria berpostur tinggi, tiba-tiba menghadang, lengkap dengan sebuah tongkat yang berbunyi 'Peep'

"Anda tak memilikinya?"

Baekhyun mendelik tak suka.

"Jika anda tak memilikinya, anda tak bisa memasuki gedung ini... hanya karyawan yang bisa masuk"

Baekhyun menatapnya tajam. "Aku ingin bertemu dengan suamiku!" Pekiknya sambil mendorong Pria besar itu.

"Suami?" Pria itu mulai melihat Baekhyun dari ujung kepala sampai ujung kakinya, jika mendengar suaranya... bocah itu seperti seorang anak laki-laki. tapi melihat wajah cantiknya, sepertiya Dia benar perempuan, terlebih perutnya itu—

"Apa kau lihat-lihat?" Ketus Baekhyun, tak ramah. Pada Pria ber name tag 'ChangMin' yang tersemat di pakaian serba hitam itu.

"Ah, baiklah ... sebaiknya melapor pada customer service. Kami akan membantu memanggil—

"Prsedir Park! Dia suamiku! jadi biarkan aku masuk" Sergah anak itu sambil bersidekap, hingga membuat perutnya yang buncit semakin terlihat.

Tak pelak membuat petugas security itu membulatkan mata lebar, tak percaya.

"Anda tak bisa bercanda di sini, lebih baik pergi—

"Aku benar istrinya!" Baekhyun meronta, bahkan memukul-mukul tangan Pria yang memaksanya untuk pergi itu.

"Bos kami, belum menikah jadi anda tak bisa membohongi kami"

Baekhyun menghentak kaki kesal, tapi tetap saja... tubuh mungilnya tertarik keluar. Ah! seharusnya Ia membiarkan Sopir Pribadi itu mengantarnya sampai ke dalam.

Tiba-tiba saja, Baekhyun menyeringai... melirik sekilas, sebelum akhirnya menggigit tangan Petugas itu.

"ARGH!"

Tak menyiakan kesempatan, namja manis itu berlari menerjang pintu otomatis... hingga katupnya rusak. Demi mencapai Lift.

Menekan Asal tombol di luar lift, dan semakin panik melihat Petugas itu mengejarnya.

"Tutup! Palli! Palli!" Gusar Baekhyun menekan kuat tombol di dalam agar lift itu lekas menutup.

Pintu nyaris tertutup, tapi sialnya petugas keamanan itu berhasil menerobos masuk ke dalam, dan membiarkan Lift yang terlanjur naik ke atas itu membawa tubuh keduanya.

"Aishh! Nona... apa yang kau lakukan ini sangat berbahaya, terlebih kau sedang hamil bukan?" Sengal petugas menyerupai bodyguard itu, sambil memegangi dinding lift.

"Aku namja!" Bentak Baekhyun

"N—Ne?"

"Ugh! Menyebalkan!" gerutu Baekhyun sambil bersidekap,

"Ah! Apapun kau ini... tetap saja tidak diperbolehkan merangsak seperti—

"Kutekankan sekali lagi! Aku adalah istri Bosmu!" Bocah itu mulai menelisik sakunya, lalu meraih ponselnya sendiri.

"Lihat ini.." Ujar Baekhyun lagi, sambil memperlihatkan potret dirinya bersama Chanyeol.

Pria itupun mengerjap dengan bibir terbuka.

"Dia Bos-mu bukan? jadi apa kau percaya padaku?" Bocah itu mulai tersenyum manis sambil menarik ponselnya dari hadapan Petugas itu.

Pria itu terlihat diam, membuatnya yakin... Dirinya akan diantar untuk menemui Chanyeol.

Tapi, Pria itu menekan-nekan tombol Lift... Baekhyun tau, itu untuk membawa keduanya kembali turun.

"YACKK! Apa yang kau lakukan?!" Teriak Baekhyun kesal.

"Kami akan melakukan konfirmasi, jika Bos kami benar mengenalmu. Lagipula bisa saja... kau kebetulan mengambil foto dengannya"

"Apa?!" Baekhyun beralih mencengkeram seragammnya. "Biarkan aku bertemu dengannya! Aku sedang mengandung anaknya! apa kau tak melihat perutku ini?!"

"Maka dari itu, demi keamananmu dan Bos kami tentunya... kami akan lakukan konfirmas—

PIIIP PIIIP PIIIP

Tiba-tiba ponselnya mendadak berbunyi, Ia beralih mengambilnya dan mengernyit heran melihat nomor tak dikenal, tapi sungguh digit nomor yang bagus.

"Hallo... Changmin di sini"

("Kudengar kau menahan seseorang di bawah") Mulai terdengar suara berat dari sambungan telfon itu, dari nada bicaranya Pria bernama Changmin itu tau benar siapa yang bicara

"B—Bos Chanyeol?Ah! Presdir maksud saya"

("Bawa Dia padaku! Karena Dia ISTRIKU!" )

Changmin terdiam kaku. Melirik Baekhyun dengan keringat dingin merembas di keningnya.

("KAU MENDENGARKKU?!)

"B—Baik Presdir, sa-saya akan mengantar I—Istri anda" gagapnya, dan berjengit mendengar sambungan telfon itu terputus begitu saja.

.

.

"Chanyeol yang menelfon?" baekhyun mulai menarik-narik lengan Changmin.

"N-nee" Gumam Pria itu sambil menunduk.

"Kau percaya sekarang?" Riang Bocah itu sambil berjinjit, mengamati raut Changmin.

"Nee"

Terdengar kikikkan kecil dari Baekhyun, tapi membuat Changmin semakin kebas... tentu setelah ini dirinya akan habis ditangan Presdir itu.

"A—Ahh! Perutku!" Tiba-tiba saja, namja manis itu memekik. Membuatnya menoleh ke belakang, betapa terkejutnya Ia melihat istri presdir itu memegangi perut sedikit besarnya.

Tak ada siapapun di lift ini selain dirinya. "W—Wae?"

"AH! CHAN—YEOL!" Ia bahkan mulai meremas lengannya . Dan merunduk memeluk perutnya sendiri.

"B-bertahanlan, sebentar lagi kita sampai di tempat Bos!" Panik Changmin, membantu Baekhyun bertopang pada tubuhnya.

"Sakit! Ah! Sa—kit sekali!" Rintih anak itu semakin pucat.

"Sakit?! Ahh! Jangan Sakit ku mohon!" Cepat-cepat Changmin mengambil ponselnya, mencaro-cari nomor yang sebelumnya menelfon dirinya.

"BOS!" Pekiknya panik , begitu berhasil tersambung dalam panggilan itu. Sementara Baekhyun masih mencengkeram lengannya.

"BOS! Aku! ah! Saya harus bagaimana?"

("Apa?")

"i—istrimu-

("Baekhyun?!") Terdengar Pria itu terkejut dalam sambungan telfon itu.

("YACK! BERANI KAU MENYENTUHNYA?!") Lalu kembali terdengar derap langkah, dan pria itu menggila dalam telfonnya.

Membuatnya reflek melepas pegangan tangan Baekhyun, hingga membuat bocah itu terduduk kesakitan.

"Ahh! Aku harus bagaimana?" Paniknya, ragu ingin menyentuh Baekhyun, namja itu terus menerus merintih tapi Chanyeol tak pernah berhenti berteriak dalam sambungan telfonnya.

"Sa—kith" Namja manis itu kembali mengangkat sebelah tangan, berusaha meraih dirinya.

"Bertahanlah ku mohon" Tapi Ia hanya bisa menyudutkan diri di sudut lift, tanpa bernyali menyentuh Baekhyun. Dan berharap lift itu lekas membawanya ke lantai Chanyeol.

"Ahh hks!"

Ia terbelalak melihat bocah itu melemas, bahkan terbaring di lantai... membuatnya tak sampai hati merengkuhnya dan membiarkan Baekhyun merangkul erat lehernya, mencari lampiasan.

DING

Tapi lift mendadak terbuka, dan begitu Ia menoleh ke belakang.

Chanyeol telah berdiri tegap di ambang pintu, menahan lift itu agar tetap terbuka

tapi bukan itu yang membuatnya berdegup kencang, melainkan pada tatapan Pria itu melihat dirinya memeluk istri Pria itu.

Ia beralih cepat melepas rangkulan Baekhyun. "B—Bos! Ah! Presdir... S-saya bisa jelaskan—

"Menyingkir!"

Tubuh tingginya terdorong hingga tersungkur di lantai lift, meski demikian Ia tetap bangkit berdiri demi menekan tombol lift itu agar tetap terbuka, dan membiarkan Chanyeol mengangkat tubuh istrinya.

"Sa—kith!" terdengar namja manis itu masih merintih, sambil mencengkeram jas Chanyeol

Dan Ia hanya bisa tertunduk, hingga pintu lift itu kembali tertutup rapat... membawa tubuhnya kembali turun ke bawah.

"Aish! ini hari sialku?" Gumamnya membentur-bentur jidat di dinding

.

.

.


"Sshh..." Bisik Chanyeol, sambil membaringkan Baekhyun di sofa panjangnya.

"Sakith se—kali" Rintih Baekhyun, memegangi perut sambil berguling ke kanan dan ke kiri.

"Aku akan memanggil dokter kemari, bertahanlah" tenang Chanyeol mengusap kepala Baekhyun, sejenak mengamatinya lalu Ia beralih menyusupkan tangan ke dalam kemeja Baekhyun dan membelai perutnya.

"Apa kau makan sesuatu yang salah di rumah?" Tanya Chanyeol, sedikit berdecak melihat keringat dingin merembas di leher dan kening Namja kecil itu.

Baekhyun menggeleng cepat, masih mendesis kesakitan... bahkan sesekali menggeliat tak nyaman.

Pria itu mulai menerka yang salah di sini, tak berharap kandungan Baekhyun bermasalah akan hal ini. Jika saja Ia tau Baekhyun kemari, tentu Ia akan meminta semua karyawan di bawah menjaganya.

Lalu tiba-tiba pintu terbuka, dan seorang berpakaian Putih datang mendekat. "Tuan Park.. maaf membuat anda menunggu" Sapa Dokter Paruh baya itu.

Pria itu mengulas senyum tipis, meski nyatanya Ia terlihat tak tenang. "Pastikan Baekhyun tak merintih seperti ini"

"Baik Tuan.."

.

.

.

.

"Terjadi kontraksi kecil pada perutnya. Baekhyun terlau banyak melakukan hal yang membuat guncangan lebih pada janinnya" Ujar Dokter itu

Membuat seorang wanita yang masih terengah akibat berlari demi melihat kondisi Putranya itu, beralih mendekati sang Dokter. "A-apa itu sangat buruk? Bagaimana kondisi Baekhyun kami dan janinnya Dok?"

Pria itu tersenyum ramah. "Kandungannya lemah, tapi beruntung kontraksi itu tak berpengaruh banyak pada kondisi janinnya. Hanya kontraksi ini bisa saja datang kapan saja... jika Baekhyun kembali melakukan hal yang membuat tubuhnya terlalu lelah. Dampaknya mungkin akan lebih buruk" Lugas sang Dokter

Membuat Baekhyun yang meringkuk di sofa sambil memeluk perut Chanyeol itu, semakin menenggelamkan kepalanya.

"Jangan biarkan Baekhyun melakukan banyak gerakan yang berlebih, seperti berlari atau mengangkat beban yang berat" Jelas Dokter itu sambil mengambil beberapa obat untuk Baekhyun.

"Kau dengar itu?" Gumam Chanyeol, sambil menyentuh dagu Baekhyun hingga membuat bocah itu menatap padanya. "Kudengar kau berlari dan melawan petugas keamanan" Lanjutnya lagi,

Membuat Baekhyun yang bersadar di atas paha Chanyeol itu, kembali memeluk erat perut Chanyeol demi menyembunyikan wajahnya.

"Mianhae... " Lirihnya, terdengar menyesal.

"Aku hanya ingin bertemu denganmu" Cicit bocah itu lagi.

.

.

Pria itu hanya menghela nafas pelan, perlahan Ia membelai kepala Baekhyun, hingga bocah yang mulai mengantuk akibat obat dari dokter itu... benar-benar terlelap nyaman.

.

.

"Aku akan mengambil cuti setelah ini"

.

.

.


Lebih dari dua hari berselang, paska dirinya mendapat kontraksi pada perutnya. Tapi lebih dari dua hari itu pula, Chanyeol selalu bersamanya , memberi waktu dan perhatian yang lebih untuknya.

Tak hanya itu, bahkan presdir muda itu mengatur ulang setiap ruang rumahnya hingga dirasa benar-benar nyaman untuk Baekhyun.

Tapi sepertinya, malam ini... Ia merasa ada yang berbeda dari bocah itu.

mendadak pendiam, meski sebenarnya Baekhyun menginginkan sesuatu.

"Ada apa?" Chanyeol beringsut mendekat, mengamati wajah Baekhyun yang terlihat gelisah... bahkan berulang kali meremas jemari kecilnya sendiri.

"Kau menginginkan sesuatu?" Tanya Chanyeol, kini bangkit terduduk untuk menyalakan lampu kamar.

kembali minim bicara, anak itu hanya mengangguk dengan mata pias menahan tangis.

"Jika kau menginginkan sesuatu, katakanlah... aku tak pernah melarangmu" Ujarnya sambil menatap teduh Baekhyun.

Perlahan, namja kecil itu mulai mendekati telinga Chanyeol... sedikit ragu, tapi Ia tetap mencoba untuk berbisik.

"Pantai?" Ulang Chanyeol, mencoba memastikan.

"..." Baekhyun kembali mengangguk pelan. lalu tertunduk... yakin, Chanyeol mungkin akan menolaknya.

Pria itu beralih melirik jam dinding. waktu menunjukkan pukul 1 dini hari... sebenarnya tak masalah membawa Baekhyun ke pantai, tapi menyantap es krim semalam ini di pantai?

Tentu saja itu mustahil... membiarkannya kedinginan di sana karena permintaannya itu.

Ia beralih menangkup wajah Baekhyun lalu mencium pelan keningnya. "Bukankah lebih baik jika ke pantai siang hari saja? kau bisa memakan apapun yang kau mau di sana?"

Baekhyun mengerjap, menatapnya kecewa. Tapi tetap memaksa menganggukkan kepala menyetujuinya. Lalu beralih beringsut membaringkan tubuh membelakangi Pria itu.

Membuat Chanyeol menghela nafas berat, tak sampai hati melihatnya demikian. Lalu Ia putuskan untuk beranjak bangkit dari ranjangnya, keluar kamar untuk menghubungi seseorang.

Baekhyun yang menyadarinya pergi, semakin meringkuk... mengusap kasar rembasan bening di sudut matanya, sambil sesekali mengusap perutnya.

.

.

.

.

"Siapkan tenda yang hangat di sana" Titah Chanyeol pada sosok dalam sambungan telfonnya.

("Baik Bos")

"Dan bawa es krim terbaik, yang Mall kita miliki"

("Es Krim?")

"TCK! Mengapa aku harus mengulanya hah?"

("B—Baik Bos")

.

.

Pria itu berdecak lirih, usai memutus sambungan telfonnya. Ia beralih ke dalam mendekati Baekhyun, setelah sebelumnya mengambil mantel hangat untuk namja mungilnya.

"Uhk!"

Namun terdengar isakkan lirih, dan sadari tubuh anak itu bergetar.

"Baekhyun?" Panggilnya seraya menyentuh bahu namja kecil itu, dan benar saja... Baekhyun terlihat panik menyeka air matanya sendiri.

"Kau menangis?"

Namja manis itu menggeleng cepat. "T-Tidak.." Sangkalnya, masih berusaha menyeka matanya yang sembab.

"Mengapa menangis hn?" Bisiknya sambil menaikkan dagu Baekhyun.

"Maaf... tapi aku ingin mengajakmu kepantai malam ini" ujarnya kemudian, membuat bocah yang semula tertunduk itu, kini benar-benar mengangkat wajah demi menatapnya.

"Benarkah?" Tanyanya antusias, dengan mata membulat lebar.

"Hn.." Gumamnya sambil menepuk kepala Baekhyun.

terdengar pekikkan kecil dari Baekhyun, bahkan bocah itupun mulai merangkul lehernya ingin melonjak.

"Tck... jangan melompat"

"Neh!" Sahut Baekhyun antusias, mengambil mantel dari tangan Chanyeol untuk dikenakannya. Lalu berjalan tergesa ingin menuju mobil Chanyeol.

.

.

"Tetaplah bersamaku, jangan berjalan secapat itu" Chanyeol menangkap cepat tangan Baekhyun, menggenggamnya erat. Hingga dipastikan Baekhyun tak ceroboh dengan langkahnya sendiri.

.

.

.

Semua memang seperti inginnya, dirinya yang memandang hamparan laut luas di malam hari sambil menjilati gelato di tangannya.

Alih-alih menggigil, Baekhyun terlihat antusias melihat kelip bintang yang memantul di air laut... tak jemu melahap makanan dingin yang kini di santapnya. Karena memang, Chanyeo benar-benar merengkuhnya... seakan menyembunyikan tubuh mungilnya di balik selimut hangat.

"Kau senang?" Bisik Chanyeol dari belakang, sambil menarik tubuh Baekhyun... agar tetap bersandar di dadanya.

Keduanya tak berteman apapun selain pasir putih di bawah... dan semerbak aroma khas dari air laut.

"Uhm.." Gumam Baekhyun, sedikit mengecup lengan kekar yang melingkar di sekitar dadanya, lalu kembali melahap gelato manis miliknya.

"Tsk! bibirmu dingin sekali" Bisik Chanyeol, sambil memiringkan kepala Baekhyun agar menoleh padanya. "Setidaknya, beri aku sedikit apa yang kau makan itu" Ia beralih merunduk, menjilat krim yang menempel di bibir Baekhyun, sebelum akhirnya menyesap pelan bibir Bawah Baekhyun

Menggerakkannya terlalu perlahan, hingga Baekhyun benar-benar sadari... betapa lembut Pria itu mencium dirinya.

Desir angin, dan deru ombak yang terdengar... semakin nyata membuat pagutan itu hanyut dalam sentuhan keduanya.

Hingga gelato, yang semula di lahap antusias itu. Terlepas dari tangan bocah yang kini terlena bahkan menikmati kecupan demi kecupan yang terasa manis bahkan hangat untuknya.

"Nn~ Mhh... Chamnn"

Chanyeol tersenyum tipis di sela pagutannya, kini beralih membaringkan tubuh mungil Baekhyun di atas pasir... lalu kembali mencumbu bibir basah karna saliva itu.

"Cantik..." Bisik Chanyeol seraya menjauhkan bibirnya, mengamati dengan takjub bagaiman sinar rembulan itu... menerpa garis wajah Baekhyun.

Namja kecil itu hanya tersenyum sambil memandangnya sayu, bahkan mulai memejamkan kedua mata... begitu Pria itu kembali memiringkan kepala, dan menyatukan bibir keduanya.

"Nn.."

"Saranghae..."

.

.

.

.

.


Hampir sepekan, Chanyeol mengambil cuti dari pekerjaannya. Tapi siang ini... Baekhyun menemui harinya tanpa Chanyeol di sisinya.

Tak bisa menolak dengan kenyataan Pria itu kembali disibukkan dengan rutinitas sebagai seorang Presdir, dan pulang jika malam telah menjelang.

"Mengapa masih siang hari saja" gerutunya sambil menegak segelas air mineral di tangannya. Tak sabar matahari lekas tergelincir menjadi malam.

.

.

,

Senja sepertinya memang menjelang, tapi terlihat samar begitu awan tebal di atas sana menjadi bayang.

Namja mungil itu menghela nafas pelan, bahkan sesekali mempoutkan bibir kecilnya begitu memandangi langit dari teralis jendela besar itu.

"Ada apa? mengapa semurung itu hm?" Sapa Jaejong, begitu tanpa sengaja melihat Putra kecilnya termenung memandangi jendela.

"Mengapa Chanyeol lama sekali" Gumam Bocah itu, sambil memainkan jendela yang mulai berembun.

Membuat wanita itu lekas menyingsingkan lengan bajunya untuk menatap arlojinya. "Ini masih pukul 4 sore" Ujarnya, sambil menyiram tumbuhan kecil di sisi Baekhyun.

"Ah! Chanyeol tadi pagi berpesan, Dia akan pulang malam... hari ini" Lanjutnya lagi, kembali menyiram tanaman yang lain. Lalu tersenyum melihat betapa segar tanaman-tanaman hias itu.

"Dia tidak mengatakannya pada Baek—

"Kau masih tidur, saat Chanyeol berangkat kerja" Sergah Jaejong, membuat Baekhyun kembali berdengus dan menyangga kepala dengan tangannya.

"Temani Tehyung melihat TV, sembari menunggu Chanyeol... itu tak akan membuatmu jenuh"

"..." Baekhyun berdecak,dan lebih memilih mengambil alih gunting kecil yang Ibunya gunakan untuk memangkas tunas tanaman hias itu.

"Ini lebih menyenangkan dibandingkan bersama monster kecil itu" Gerutunya, sambil membelai tanaman hias di depannya.

Jaejong hanya menggeleng pelan. "Jangan terlalu lama berdiri... mengerti?" Ujarnya lagi sebelum akhirnya melangkah pergi.

Sejenak Baekhyun memandangi tanamannya, tapi setelahnya Ia berdecak dan membuang asal gunting kecilnya.

Terlalu membosankan untuknya, akan lebih baik jika Ia bersama Chanyeol... lalu Ia bisa melihat-lihat taman hiburan di dalam Mall. Ah! Baekhyun tau benar... Pria itu memiliki beberapa Mall besar di Seoul.

.

.

"Eomma semua Ahjjussi itu tak akan mengizinkanku jika pergi menemuinya" Gumam Baekhyun, sambil memandangi beberapa bodyguard dari jendelanya.

Lalu mendadak Ia menyeringai, dan membawa langkahnya untuk mengikuti kehendaknya sendiri.

.

.

.

"Baekhyun.." Panggil Jaejong seraya mengusap tubuh mungil Taehyung dengan handuk keringnya, dan mendudukkannya di sebuah sofa.

"Baekhyun, apa kau sudah selesai dengan mandimu Sayang?" Panggil Jaejong lagi, tapi tak ada sahtutan apapun yang terdengar dari Putra kecilnya.

Jaejong mulai merasa cemas, dan memilih beranjak mencari Baekhyun di kamarnya... mungkin saja anak itu tertidur di dalamnya.

.

.

Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti tepat di ruang makan, saat tanpa sengaja matanya melihat secarik kertas terselip di antara buah apel. Sejak kapan kertas itu berada di sana.

Bahkan semakin membuatnya tak tenang, begitu sadari ada pesan singkat yang sepertinya tertera dalam kertas itu.

'Eomma... Baekhyun pergi sebentar menemui Chanyeol'

"Astaga Baekhyun!"

Pekiknya panik, lalu berlari tergopoh sambil menggendong Taehyung demi mencari-cari ponselnya.

.

.

.

.


.

.

"Gritti Palace... aku hanya ingin hotel itu, ku harap kau mempersiapkan segalanya dengan sempurna"

"Ah Baik, keberangkatan anda akan dipersiapkan 1 minggu kedepan Tuan"

"Hn, kerja bagus"

Kedua mata itu perlahan terbuka, memperlihatkan sorot tegas namun menjerat milik manik hitam kelamnya. tersenyum puas kala semua persiapan pernikahan itu akan berjalan sesuai renacan, dan memilih Venice sebagai puncak kejutannya.

"Mungkin kau akan menyukainya?" Gumamnya, sambil terkekeh mengingat betapa polos kerjapan mata Baekhyun.

DRRT.. DRRT

Hingga tiba-tiba saja, Ia mengernyit heran begitu ponselnya kembali bergetar.

Tak biasanya, Jaejong menghubunginya seperti ini.

...

"Yeobbse—

"Chanyeol~ah, Baekhyun pergi tanpa seizinku ingin menemuimu, apa anak itu sudah sampai di kantor?"

"…" Chanyeol terhenyak sadari Baekhyun pergi dari rumah tanpa sepengetahuan Ibunya, bahkan Ia mulai berjalan tegesa keluar dari ruangannya. Berharap dugaan wanita itu benar adanya

"Chanyeol... apa kau mendengarku? Baekhyun bersamamu bukan? Ponselnya tertinggal di rumah, jangan membuatku takut... katakan anak itu memang bersamamu"

"Apa Pak Han yang mengantarnya?" Sahut Chanyeol kemudian

"Ah jjeosseonghamnida...saya benar-benar tak melihat Tuan muda Baekhyun meninggalkan rumah Sajangnim. Maafkan kelalaian saya"

Terdengar suara lain yang menyahut sambungannya, dan itu memang Pak Han... supir pribadi yang ia persiapkan semenjak keluarga Byun tinggal di kediamannya.

Chanyeol semakin berdebar tak tenang, ia memang tau Baekhyun terlalu keras kepala. Tapi jika pergi tanpa izin seperti ini, tentu saja membuatnya panik bukan kepalang.

Lebih lagi, anak itu tengah mengandung dan berjalan seorang diri di luar sana? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya dan kandungannya?

Dengan gusar ia mematikan sepihak sambungan telfon itu, untuk menyambar kunci mobil dan berlari kalut menuju lift.

"Presdir meeting hari ini akan—

"Batalkan!" Sahut Chanyeol, sambil menekan tombl lift... mengabaikan beberapa karyawan yang terlihat bingung dengan dokumen di tangannya.

.

.

"Apa yang kau lakukan Baekhyun" Gumamnya dengan nafas memburu.

.

.

.


Sementara itu ...

"Terima kasih paman" Riang Baekhyun kala menyerahkan bebarapa lembar uang untuk sopir taxi itu. Ia bahkan mulai tak sabaran ingin lekas berlari, begitu melihat bangunan besar yang menjulang di depannya

Tak percuma Ia dengan sengaja pergi mengendap-endap meninggalkan Rumah. Menggunakan pintu belakang untuk mengelabui Bodyguard Chanyeol, dan Ibunya tentunya

Namja berparas cantik itu terlihat melangkah antusias, sebuah paper bag bercorak kecoklatan tampak bertengger manis di tangannya. Bahkan sesekali terkikik kecil saat melirik isi dalam paper bag itu, tak sabar melihat ekspresi i Chanyeol saat mengetahu dirinya membawa cake untuk Presdir tampan itu.

Tapi rasanya tak akan lengkap jika hanya membawa makanan seperti ini. Satu cup kopi hitam sepertinya akan membuat Chanyeol lebih rileks hari ini.

.

.

.

"Aishh...aku lupa membawa ponsel" Gerutunya seraya berjalan keluar dari sebuah Cafe. Satu cup Americano panas pun, memang telah dibelinya namun tak cukup membuatnya puas untuk melanjutkan langkahnya. Entahlah... Baekhyun merasa selalu ada yang kurang kali ini

,

,

"Ah!" Tiba-tiba saja angin bertiup kencang, Baekhyun berhenti sejenak untuk melindungi wajahnya dari tiupan angin dingin itu. Dan mengerjap polos begitu menyadari angin itu perlahan mereda.

Bocah itu menggerutu kesal, melihat tatanan syalnya rusak akibat hembusan angin. Terpaksa ia meletakkan paper bagnya demi membenarkan letak syal merah marun itu.

Namun tanpa di sadarinya...

Sebuah mobil hitam melaju kencang dari sisi kanannya. Baekhyun memang berdiri di tepian jalan, tapi mobil itu seperti tak terkendali dan melaju oelng, merangsak apapun yang dilaluinya, bahkan pembatas jalanpun tak luput dari hantamannya.

Baekhyun masih tak tersadar dan begitu tetap antusias menyimpul rajutan hangat itu di lehernya...

Hingga—

TIIIIIIINNNNNN...TIIIIIIINNNNN...TIIIIIIIIIINNNNN

.

"BAEKHYUN!"

"A—AAAAAAAAAHHH!"

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Yoooo

SR kelar juga hahahahahahahahahahahah

Lanjut or delete or tak dilanjutkan or gantung aja authornya?

kalo lanjut... kasi repiew okaayyy

Gua Siap Nulis FF untuk You you

IG: gloomy_rosemary

untuk:

neniFanadicky, chanbaek92, buny puppy, byunnami, Marshsamallow614 , khakikira , ctbisreal, RurohFujoCbHs, hulas99, fintowikson, Lussia Archery , kimkad , YaharS , Aisyah1, LyWoo, Byun soo byung, Yana Sehunn, baekkachu09 , Poppy20 , baekxylem , selepy , byunnami , Lusianabaconcy0461, bbhunyue, chanbaekis , mawar biru, love Elan , thevEXO, WinterJun09, tkxcxmrhmh , mii-chan07 , vryeol , Dodio347, baekby aeri04 , ChanBaekGAY , EyiLy , metroxylon, Fiyaa04, baby baek , Deliscius, Wahidah Putri Utami , chalienBee04, xiluhan74 , cbforever00, Yeolliebee , PinkuBlue614 , rimaa , kimi2266, YaharS , baekchann18, Avisyell756 , AuliyaRchy , byunlovely, ruukochan137, veraparkhyun , park chan2 , baeeki6104, chanbaek1597, byunlovely , bbhunyue, kkaiii, Hyo luv ChanBaek, Siapa Hayo, myliveyou, LightPhoenix614, Chanbaeknaena, Asandra735 , tyas 614, AnggunBBH06, AmyGAHF, Merina, dwi yuliantipcy , Shengmin137, kitukie, shereen park, yiamff , jempolnya pcy , Hyera832, Riinnchan, Ricon65 , BambiLuhan , Byunexo, SMLming , babyyh , chayeonlee , Sitachaan, Ziiwandha, hananachan, bbyLyi , hosh10 , hunhanshin, Loey761,dan all Guest (Sorry tdk semua)

Thankyou :)

Review again and again... and love me