THIRTY SOMETHING (Remake)
Chapter 9
Cast :
Chanyeol, Baekhyun, Kris, EXO (pairing CHANBAEK dan KRISBAEK)
Genre :
Romance, Hurt, Sad, Family
Rate :
T/ Gender Switch (GS)
FF ini merupakan hasil remake kedua dari novel karya Mira W.
Happy reading!
.
.
.
.
"Kenapa baru datang sekarang?"
Pedas sekali sambutan dokter Yoo begitu Baekhyun melangkah masuk ke ruang prakteknya. Lebih-lebih setelah meemriksa benjolan di ketiak kirinya itu.
"Tumor di payudara kirimu sudah satu setengah kali lebih besar. Sudah ada penjalaran ke kelenjar getah bening ketiak. Kemungkinan tumormu sudah masuk stadium dua. Padahal dua tahun yang lalu masih stadium satu. Kalau dioperasi saat itu, prognosis-mu jauh lebih baik."
"Berapa lama lagi, dok?" tanya Baekhyun lirih.
"Jangan tanya berapa tahun lagi!" bentak dokter Yoo marah. "Tanya dirimu sendiri, kau ingin sembuh atau tidak!"
"Sekarang saya menyerah, dok."
"Harus diperiksa dulu apakah sudah ada metastasis jauh atau belum. Sampai sebegitu jauh, saya belum menemukan anak sebar pada kelenjar limfe di leher maupun di payudara kananmu. Tetapi kalau pada pemeriksaan ditemukan metastasis jauh di organ lain, itu berarti tumormu sudah masuk stadium empat. Operasi pun percuma saja."
Dokter Yoo menulis beberapa surat permintaan pemeriksaan.
"Bawa ini ke bagian radiologi. Ini permintaan foto rontgen dan scanning. Tumormu akan aku biopsi lebih dulu. Baru nanti kita tentukan apakah tumormu masih dapat dioperasi atau tidak. Minggu depan kau harus menemuiku lagi untuk mengetahui hasilnya."
"Secepat itu, dok?" gumam Baekhyun gugup.
"Mau tunggu sampai kapan lagi? Sampai kanker itu menyebar ke seluruh tubuhmu dan dokter-dokter tidak sanggup lagi membedahmu karena sudah tidak ada harapan?"
"Saya harus berunding dulu dengan anak-anak."
"Sudah dua tahun kau punya waktu untuk berunding! Sekarang sudah tidak ada waktu lagi! Kita sedang berlomba dengan maut!"
.
.
.
Mula-mula Baekhyun tidak tahu dari mana harus mulai memberitahu anak-anaknya. Tetapi malam itu sepulangnya dari dokter Yoo, Jina-lah yang membuka jalan.
Dengan tidak disangka-sangka, anaknya yang baru berumur tujuh tahun itu bertanya. "Bu, apa artinya kanker?"
"Itu nama penyakit, Jina-ya," sahut Baekhyun setelah berhasil menenangkan dirinya.
"Penyakit?" belalak Jina terkejut. "Penyakit yang ada di tubuh ibu?"
"Jina, kau tahu dari mana?" tanya Baekhyun hati-hati.
"Dari buku ibu," sahut Jina polos.
"Siapa lagi yang tahu? Mina eonni?"
"Tidak ada. Hanya Jina. Kalau ibu sakit, kenapa tidak pergi ke dokter? Ibu takut jarum suntik ya?"
"Ibu tidak takut jarum suntik, sayang." Baekhyun tersenyum pahit. "Ibu hanya takut jika dokter tidak bisa menyembuhkan penyakit ibu."
"Dokter tidak bisa?" Jina ternganga heran. Mulutnya terbuka lebar. "Tuhan juga tidak bisa, bu?"
"Tuhan bisa, sayang," bisik Baekhyun lirih. "Asal Dia mau."
"Tuhan pasti mau!" teriak Jina lega. Gembira. "Kata seonsaengnim, Tuhan itu baik, bu!"
Baekhyun menggigit bibir. Menahan air matanya agar tidak menitik ke luar.
"Seonsaengnim bilang, asal kita berdoa, Tuhan pasti mengabulkan permintaan kita, bu!"
"Seonsaengnim bilang begitu?" gumam Baekhyun asal saja. Cepat-cepat dipalingkannya wajahnya agar Jina tidak melihat air matanya.
"Nanti Jina berdoa untuk ibu ya? Supaya ibu lekas sembuh! Tuhan pasti mendengar doa Jina ya, bu? Tuhan kan sayang pada anak-anak!"
"Ya, Jina-ya." Baekhyun menyusut air mata yang telah mengalir di pipinya.
Ketika Jina melihat ibunya menangis, dia meletakkan pensilnya. Dan merayap naik ke pangkuan ibunya.
"Jangan menangis, bu," katanya sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi ibunya dengan jari-jarinya yang mungil. "Ibu pasti sembuh. Kalau Tuhan tidak mau menyembuhkan ibu, Jina tidak mau lagi jadi anak Tuhan."
"Tuhan tidak bisa dipaksa, Jina-ya," sahut Baekhyun sambil tersenyum pahit. "Dia lebih tahu mana yang lebih baik untuk kita. Kita serahkan saja semuanya pada Tuhan ya?"
Jina menyentuh dahi ibunya dengan serius. Begitu yang sering dilihatnya dilakukan ibunya kalau Yuna sakit.
"Aneh," desahnya bingung. Dahinya berkerut seperti sedang berpikir keras. "Ibu tidak demam! Sepertinya ibu sudah sembuh! Doa Jina sudah dikabulkan Tuhan!"
Tak tahan lagi Baekhyun memeluk anaknya sambil menangis. Sena yang tiba-tiba muncul di ruang tengah langsung menegur dengan agak kesal.
"Jina naka lagi, bu? Dia tidak mau mengerjakan PR lagi?"
"Huuuu! PR-ku sudah selesai!" kata Jina sambil menunjukkan bukunya pada Sena.
"Kenapa ibu menangis?"
"Ibu sakit!" sahut Jina cepat-cepat.
"Sakit?" Sena tercengang menatap ibunya. "Ibu sakit apa? Sakit apa, bu?"
"Kanker," jawab Jina lagi.
Sena memandang ibunya dengan sedih.
"Apa sangat sakit, bu?" tanyanya hampir menangis. "Di mana yang terasa sakit? Sena usap-usap ya bu?"
"Tidak, sayang," Baekhyun membelai pipi Sena dengan lembut. "Tidak terasa apa-apa."
"Sena belikan obat ya bu? Obat apa?"
Cepat-cepat Jina menyebutkan nama obat yang sering dilihatnya di televisi.
"Bodoh!" potong Sena jengkel. "Bukan obat seperti itu yang dibutuhkan ibu!"
"Eonni yang bodoh!" balas Jina sebal.
"Sudahlah, jangan bertengkar," bujuk Baekhyun lunak. "Kalau Sena dan Jina sayang pada ibu, kalian tidak boleh bertengkar lagi ya?" kata Baekhyun. "Suatu hari nanti, kalau tugas ibu di dunia ini sudah selesai, ibu harus pergi meninggalkan kalian. Kalau kalian selalu bertengkar, kepada siapa harus minta tolong kalau ada kesulitan?"
"Ibu mau pergi ke mana, bu?" belalak Jina heran.
"Ke tempat yang sangat jauh, Jina."
"Jina boleh ikut? Naik pesawat terbang?"
Baekhyun terpaksa tersenyum. Jina memang lucu. Kata-katanya selalu membuat orang lain gemas. Dicubitnya pipi Jina yang montok itu dengan lembut.
"Tidak, Jina. Tidak naik pesawat terbang. Dan Jina tidak boleh ikut. Jina masih kecil."
"Kalau begitu tunggu sampai Jina besar! Jina ingin ikut ibu!"
Diam-diam Baekhyun menyembunyikan tangisnya. Ya, seandainya dia boleh menunggu sampai anak-anaknya besar! Tetapi, Tuhan...dapatkah Kau menunggu?
.
.
.
Baekhyun merasa hatinya berdebar tidak karuan. Perasaan tidak enak menyelinap ke benaknya.
Begitu banyak orang berkerumun di depan rumahnya. Dan mereka semua mengenakan pakaian berwarna gelap. Ada apa?
Cepat-cepat Baekhyun menguakkan kerumunan itu. Mencari jalan untuk menyelinap masuk ke rumahnya. Di dalam lebih banyak orang lagi. Dan mereka semua sedang menyanyi.
Samar-samar Baekhyun mendengar nyanyian mereka. Lagu gereja. Lagu apa? Di mana dia pernah mendengar lagu itu? Kapan? Waktu ayahnya meninggal?
Meninggal. Berdiri bulu romanya. Meninggal! Siapa yang meninggal?
Hampir memekik Baekhyun melihat peti mati yang sedang ditangisi orang di tengah ruangan itu...dilihatnya anak-anaknya di sana...tapi tidak semua!
Siapa...siapa yang tidak ada? Satu, dua, tiga...empat!
"Yuna!" teriak Baekhyun histeris. "Yuna!"
"Bu! Ibu!" Hana mengguncang-guncang bahunya. "Bangun, bu! Bangun! Ibu mimpi apa?"
Baekhyun membuka matanya. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya. Dilihatnya Hana membungkuk di atas tubuhnya. Mukanya begitu dekat. Matanya menatap penuh tanda tanya.
"Yuna..." desah Baekhyun lirih. "Di mana dia?"
"Di samping ibu," sahut Hana sambil menguap.
"Oh," Baekhyun menghela napas lega ketika melihat Yuna masih terbujur pulas di sisinya. Dia masih tidur nyenyak. Matanya terpejam rapat.
Terima kasih, Tuhan, bisik Baekhyun sambil duduk menyeka peluhnya. Syukurlah semuanya hanya mimpi.
"Tidurlah, Hana. Ibu bermimpi. Mimpi Yuna...sakit."
Tanpa berkata apa-apa lagi Hana kembali ke tempat tidurnya. Jina masih terbaring lelap di sana. Sama sekali tidak terusik oleh pekikan ibunya.
"Sena tidur di kamar sebelah?"
"Bersama Mina."
Baekhyun kembali membaringkan tubuhnya. Tetapi dia tidak dapat terlelap. Jantungnya berdebar lebih cepat dan lebih keras dari biasanya.
Ada apa? Firasatkah namanya? Firasat buruk?
Perlahan-lahan Baekhyun turun dari tempat tidur. Ditatapnya Yuna sekali lagi. Lalu dia menoleh pada Hana. Wajahnya menghadap ke dinding sehingga Baekhyun tidak dapat melihat matanya. Tetapi napasnya naik turun dengan teratur. Dia pasti sudah tidur.
Hati-hati Baekhyun membuka pintu kamarnya. Mengendap-endap keluar. Dan membuka pintu kamar sebelah, mengintai ke dalam.
Seberkas sinar lemah menyoroti kamar gelap. Samar-samar dia melihat Sena dan Mina tidur bersisian. Tidak ada yang terjaga. Semua tidur lelap. Hati-hati Baekhyun menutup pintu kembali dan turun ke bawah.
Dia mengambil segelas air di dapur. Lalu meneguknya sampai habis. Badannya terasa lebih segar. Tetapi jantungnya masih tidak mau diajak kompromi.
Ketika Baekhyun kembali ke depan, sesosok tubuh telah menunggunya di sofa.
"Sedang apa?"
"Minum," Baekhyun balas berbisik. "Belum tidur?"
"Tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Memikirkanmu."
"Ah," Baekhyun memalingkan mukanya. "Apa yang mesti dipikirkan lagi? Aku sudah pasrah."
"Baek."
Chanyeol mengulurkan tangannya, menggenggam tangan wanita itu. Baekhyun merunduk. Menatap Chanyeol yang sedang menengadah ke arahnya.
Sekilas mereka saling tatap tanpa berkata apa-apa. Dan Baekhyun tidak berusaha menarik tangannya dari genggaman Chanyeol.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu? Tapi jika kau tidak mau menjawab, tidak usah."
"Tanyalah."
"Itukah lelaki yang kaupilih sebagai suamimu yang berikutnya?"
"Lelaki yang mana?"
"Lelaki yang sering datang kemari. Yang pernah kaubawa masuk ke kamarmu."
Baekhyun menghela napas getir. Dilepaskannya tangannya dari genggaman Chanyeol. Dijatuhkannya tubuhnya ke kursi.
"Kami sudah putus."
"Kau sudah sering tidur bersamanya?"
Baekhyun menggeleng. "Tidak pernah."
"Lantas bagaimana kau tahu dia cocok untuk dijadikan ayah anak-anakmu?"
"Seorang ayah tidak dinilai di atas tempat tidur!"
"Sudah lama kau mengenalnya?"
Sekali lagi Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Mula-mula dia hanya produserku."
"Kau yakin dia lebih baik dari pada mantan-mantan suamimu?"
"Aku belum pernah menemukan seorang lelaki yang demikian memperhatikan diriku. Dan demikian mendambakan anak."
"Suamimu yang dulu tidak?"
"Jongin belum pernah menjadi suamiku. Dia menghilang setelah menitipkan Hana di rahimku. Dalam kepanikan aku menemukan Sehun. Aku menikah hanya supaya Hana tidak disebut anak haram."
"Ibumu setuju?"
"Apa lagi yang dapat dilakukannya? Aku sudah hamil. Tetapi ternyata aku keliru. Lebih baik Hana jadi anak haram daripada punya ayah tiri seperti Sehun."
"Dia sadis?"
"Setiap malam dia pulang dalam keadaan mabuk. Dan Hana-lah yang harus menerima pukulannya."
"Sekarang aku tahu kenapa Hana giat belajar taekwondo."
"Dia juga sering menyiksaku. Tetapi selama dia tidak menyakiti anak-anakku, aku masih dapat bertahan. Aku baru menuntut perceraian setelah dia sering memukuli Hana. Waktu itu, aku sudah punya Jina."
"Suamimu yang lain?"
"Ketika bertemu, Jongdae mengaku masih bujangan. Tapi suatu hari, ketika Yuna berumur setahun, datang seorang perempuan yang mengaku sebagai istrinya. Dia mendampratku habis-habisan di depan tetangga."
"Pantas jelek sekali reputasimu di mata tetangga-tetanggamu. Pasti kau dicap sebagai wanita perebut suami orang."
"Ketika kepanikan sedang melanda diriku, aku bertemu Daehyun. Aku baru saja menemukan benjolan di payudaraku. Saat itu, aku takut sekali mati. Takut meninggalkan anak-anakku. Aku ingin mencari ayah bagi mereka. Tapi untungnya, segera kusadari bahwa Daehyun bukan figur ayah yang cocok."
"Dia tidak suka anak-anak?"
"Justru suka sekali. Tetapi aku tidak bisa mati dengan mata terpejam kalau harus meninggalkan anak-anak perempuanku dengan seorang lelaki pedofil seperti dia!"
"Persis," komentar Chanyeol sambil menghela napas.
"Apanya?"
"Kisah hidupmu persis seperti drama-drama di tv."
"Kris adalah pilihanku yang terakhi. Dia sangat mendambakan anak. Istrinya mandul."
"Sayang sekali anak-anakmu sudah tidak mau punya ayah lagi."
"Mereka sudah jera."
"Sayang sekali aku tidak datang lebih cepat."
"Kau?" Baekhyun menatap tidak percaya. "Kau juga mau menjadi ayah anak-anakku?"
"Bukan hanya menjadi ayah anak-anakmu." Chanyeol tersenyum penuh arti. "Sekaligus suamimu."
"Aku sudah kotor. Carilah seorang gadis yang masih suci. Kau masih muda."
"Aku juga tidak bersih, Baek."
"Kau sering main perempuan?"
"Aku seorang pembunuh."
Tertegun Baekhyun menatap pemuda itu. Hampir tidak percaya pada pendengarannya sendiri.
"Jangan khawatir," hibur Chanyeol pahit. "Aku baru sekali membunuh orang. Itupun tidak disengaja."
Tapi apa bedanya membunuh satu orang atau seratus orang sekalipun? Pembunuh tetap pembunuh! Dan selama hampir sepuluh hari, pembunuh itu telah tidur di rumahnya, tinggal bersama anak-anaknya.
"Aku menabrak seorang pengendara motor ugal-ugalan yang melintas di depan mobilku. Ketika aku turun dari mobil untuk menolongnya, teman-temannya datang mengeroyokku. Aku hari kabur kalau tidak mau mati konyol!"
"Tapi kau harus lari ke kantor polisi terdekat!" desis Baekhyun nanar.
"Memang. Tapi malam itu, aku keburuk menabrak mobilmu."
"Kalau kau berterus terang, aku bisa mengantarmu ke kantor polisi."
"Tapi aku tidak bersalah, Baek. Motor itu tiba-tiba saja memotong di depanku. Aku tidak keburu menginjak rem."
"Kalau kau tidak bersalah, hukumanmu pasti lebih ringan. Tetapi sekarang. Kau dianggap pelaku tabrak lari."
"Kita sama-sama pengecut, bukan?" Chanyeol menyeringai pahit. "Kau takut pada meja operasi, sedangkan aku takut pada penjara. Kau mencoba lari dari kankermu. Aku pun melarikan diri dari korbanku. Lucu sekali ya? Tiba-tiba saja aku merasa senasib denganmu."
"Tetapi sekarang aku tidak takut lagi," sahut Baekhyun lirih. "Kau telah menyadarkanku, lari dari meja operasi bukan jalan yang terbaik."
"Ketika membaca catatan harianmu, begitu saja timbul keinginanu untuk menyerahkan diri. Jika hukum menganggapku bersalah, aku rela masuk penjara. Asal bisa kembali secepatnya ke sisimu."
Sekonyong-konyong Baekhyun merasa matanya panas. Dan sebelum dia sempat memalingkan wajahnya, air mata sudah mengalir di pipinya.
"Aku ingin menolongmu." Dengan lembut Chanyeol menarik wanita itu ke pangkuannya.
Dipeluknya bahu Baekhyun dengan lengan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang dagu wanita itu. Dan menghadapkannya perlahan-lahan ke wajahnya.
Sejenak mereka saling tatap. Dan dalam sejenak itu, Baekhyun telah dapat menangkan getaran-getaran perasaan yang disalurkan melalui mata Chanyeol.
"Aku ingin berbuat apa saja untuk menyelamatkanmu. Aku ingin melindungi anaka-anakmu. Menjadi ayah mereka."
Baekhyun ingin menangis. Sekaligus ingin tersenyum. Akhirnya dia tidak tahu harus menangis atau tersenyum. Atau kedua-duanya.
Dia merasa bahagia. Sekaligus terharu. Akhirnya dia menemukan laki-laki ini. Laki-laki yang telah lama dicarinya. Lelaki yang mencintainya. Mengerti dirinya. Mengetahui kelemahan-kelemahannya.
Lelaki yang menyayangi anak-anaknya mengerti mereka. Dan diterima pula oleh anak-anaknya.
"Terima kasih," bisik Baekhyun getir. "Aku tidak punya kata yang lebih baik dari itu."
"Ada kata yang lebih baik." Dengan lembut Chanyeol mencium bibir Baekhyun. "Aku mencintaimu."
Baekhyun memejamkan matanya ketika bibir Chanyeol menyentuh bibirnya. Mula-mula lembut. Hati-hati. Kemudian lebih berani. Lebih bergairah. Lebih hangat. Dan Baekhyun pun membalasnya.
.
.
.
TBC
Short update yeorobunnnnn!
Semoga tidak mengecewakan ya...
Dan ada chanbaek moment yang sudah dinanti-nantikan. Hahaha...
Chapter ini meskipun pendek tapi mampu mengobati seluruh rasa penasaran kalian. Benar kan? Dari mulai anak-anak yang sebagian udah tahu penyakit Baek... suami-suami Baek terdahulu... terus identitas Yeol... ah apa lagi? Ke depannya mungkin akan ada banyak konflik lagi, jadi...siapkan hati kalian!
*wink*
Jangan lupa REVIEW, FAV, FOLLOW!
See you next chapter!
Bye-bye!
