Ia akan tetap bangun dan berdiri. Tak peduli seberapa pun sakitnya.

.

.

.

Kamus Besar Bahasa Shinobi―

bangun /ba•ngun/ verb. 1 bangkit; berdiri (dari duduk, tidur, dsb); 2 jaga (dari tidur) 3 belum (tidak) tidur; jaga; 4 siuman dari pingsan; 5 mulai sadar;

.

.

.

Psikologi Manusia; Sepuluh Masalah Utama Kesehatan; Mengenali Emosi Diri; Pengobatan Khusus Shinobi; Tujuh Tanda Seseorang Jatuh Cinta; Cara Mengatasi Sakit Wajah; Faktor Penyebab Kelelahan Fisik; Bahaya Demam Berkelanjutan; Atasi Panas dengan Pendinginan Chakra; Titik-titik Rawan di Wajah; Macam-macam Warna Kulit Manusia; Struktur Kulit dan Cara Merawatnya.

Ialah daftar judul-judul buku yang kini tergeletak di salah satu meja di ruang baca Perpustakaan Pusat Konoha. Tampak di sana seorang pemuda berkulit pucat yang tengah serius membaca buku dengan sampul bergambar elemen-elemen dasar pembentuk chakra.

Usai dari Toko Bunga Yamanaka, Sai memang memilih ke perpustakaan dan membaca lebih banyak buku. Ia benar-benar dibuat penasaran akan satu hal yang mengganggu pikirannya seharian ini dan berniat untuk mencari tahu jawabannya.

Hingga saat ini, ia sudah menghabiskan setumpuk buku dari beragam tinjauan, namun belum juga merasa puas dengan penjelasan buku-buku tersebut. Menurut buku yang dibacanya, rona merah bisa terjadi karena faktor fisik atau emosional kompleks.

Menurut contoh di buku pula, secara fisik rona merah akan muncul jika tubuh menjadi terlalu panas karena lingkungan. Sepertinya bukan ini jawaban yang dicarinya, sebab pemuda pucat itu yakin, Ino tidak sedang demam atau habis melakukan olahraga berat yang membuatnya kepanasan saat itu. Berarti bukan karena faktor fisik.

Sedangkan untuk faktor emosional seperti kecemasan, takut, atau malu, Sai juga yakin kunoichi setangguh Ino tidak mungkin merasa takut hingga membuat wajahnya memerah seperti itu. Dan ia tidak berpikir Ino memerah karena malu.

Lantas, apakah gadis itu tengah mencemaskan sesuatu? Jika benar demikian, adakah hal yang bisa dilakukannya untuk membantu?

.

.

.

.

.

BREEZE (Angin sepoi-sepoi)

Naruto milik Masashi Kishimoto
Arti kata dari KBBI

OOC, TYPO, EYD, RUSH
HURT FOR THIS CHAP?

tolong jangan bunuh Lala T.T
sumpah mati, Lala cinta ayang Sai T.T
cinta juga sama semua chara Naruto T.T

ditulis hanya untuk hiburan
bukan keuntungan material apa pun

.

.

.

.

.

.

.

Pemuda pucat itu meluruskan punggungnya sejenak sebelum menolehkan kepalanya ke arah jendela. Matahari sudah terlihat mulai bergeser ke arah barat. Ia menarik napas satu kali sebelum bergerak membereskan tumpukan buku di mejanya untuk dikembalikan ke rak semula.

Ya, ia bermaksud menyudahi acara membacanya. Mungkin bisa dilanjutkannya nanti. Sebab sore ini, ia harus mengunjungi markasnya.

Tadinya ia memang berniat langsung ke markas tetapi pemandangan sore hari membuatnya teringat akan sesuatu, ia tidak ingin melewatkan senja tanpa melukisnya. Namun ia teringat pula buku sketsa lamanya yang sudah diberikan pada seseorang, sementara buku sketsanya yang lain sudah habis untuk menggambar macam-macam motif bunga.

Langkah kakinya kemudian sedikit bergegas saat keluar dari perpustakaan. Masih ada cukup waktu untuk mampir sebentar ke toko buku. Hanya membeli buku sketsa, tentu tak akan butuh waktu lama dan ia tetap akan tiba di markasnya tepat waktu.

Sai, pemuda pucat itu, berbelok ke toko buku yang letaknya tak jauh dari perpustakaan, dan langsung menuju ke bagian alat-alat tulis dan lukis. Ia tersenyum sendiri saat melihat deretan buku sketsa yang dipajang di salah satu rak.

Buku sketsa yang dijual sekarang sudah jauh lebih beragam dibanding beberapa tahun lalu. Terkadang, ia sampai kebingungan walau hanya memilih satu. Mulai dari meneliti tebal dan jenis kertas, membandingkan ukuran, cover, hingga kualitas buku yang akan dibelinya.

Tapi sekali lagi, ia masih punya banyak waktu.

"Tetap tidak bisa, ya?"

Sebuah suara tiba-tiba mampir di telinganya dan membuat alis hitamnya sedikit berkerut. Ia mengenal suara bernada kecewa tersebut. Milik seorang shinobi yang dikenal sebagai pecinta anjing.

Cukup mengherankan.

Sekian tahun mengenal shinobi Inuzuka, rasanya baru kali ini Sai menemukan Kiba berkeliaran di toko buku tanpa suara gonggongan Akamaru.

Tapi sepertinya ia tidak perlu heran. Sai dapat merasakan chakra lain di dekat pemuda Inuzuka itu. Tampaknya Kiba sedang mengantar seseorang ke toko buku dan mereka berdua kini bercakap-cakap di lorong seberang.

Sai tidak bermaksud menyalahkan suara Kiba yang terlalu keras. Namun tanpa bermaksud menguping, pembicaraan mereka terdengar juga di telinganya.

Sepertinya Kiba berniat mengajak Rei, lawan bicaranya, untuk melihat anjing barunya esok pagi, namun Rei menolak dan menawarkan sore hari saja.

Sang pemuda pucat kemudian berniat mempercepat urusannya agar tidak perlu menguping pembicaraan mereka lebih jauh. Rasanya tidak nyaman mendengar percakapan orang lain apalagi yang bersifat pribadi seperti ini. Bukan hal baik, begitu yang dikatakan buku.

"Kenapa tidak bisa pagi?"

Suara kecewa Kiba kembali terdengar dan membuat Sai semakin ingin lekas pergi.

"Maafkan aku. Pagi harinya aku menjaga Toko Bunga Yamanaka."

Seketika itu juga Sai mengurungkan niat.

Benar bahwa ia bukan tipe yang senang menguping pembicaraan orang selain dalam misi. Ia juga bukan tipe yang suka bergosip. Tapi sesuatu tak kasat mata telah menahan sepasang kakinya agar tak beranjak dari tempatnya.

"Heh? Kenapa?"

"Ino-chan akan pergi misi dalam waktu lama. Dia menitipkan bunga-bunganya padaku."

Jeda beberapa detik hingga terdengar suara Inuzuka Kiba, "Ooooh."

Hening.

Sai masih berdiri tegak di tempatnya sementara telinganya masih terpasang awas. Netra hitamnya kemudian menyapu deretan buku sketsa di depannya. Karena masih jua tak terdengar suara, tangan pucatnya kemudian bergerak ke arah buku sketsa dengan sampul berwarna kebiruan yang tiba-tiba menarik perhatiannya. Ia meraih buku itu dan membuka-bukanya dengan sedikit heran. Baru kali ini rasanya ia tertarik dengan warna cerah seperti ini, mengingat nyaris semua benda-benda miliknya berwarna gelap.

"Ino itu kuat ya."

Kini gerakan tangannya terhenti.

"Apa yang kau katakan? Dia memang kunoichi hebat, Kiba-kun."

"Aaaa, aku tahu, dia memang hebat. Tapi yang kumaksud tadi adalah hatinya."

"H-hatinya?"

Pertanyaan yang sama muncul di dada Sai.

Terdengar helaan napas. "Kau tidak melihatnya langsung, Rei-chan. Aku melihat sendiri saat dia menangis di hadapan kami. Siapa pun yang melihatnya saat itu, pasti mengerti bagaimana perasaannya dulu pada si Uchiha. Lalu jika melihat dia yang sekarang, aku jadi merasa dia itu sangat kuat."

Ada jeda cukup lama di sana.

"A-aku ... aku tidak tahu cerita itu ..."

"Memang bukan cerita yang menyenangkan."

"Tapi ... yang kutahu sekarang, Ino-chan sedang dekat dengan shinobi yang pandai melukis."

"Maksudmu Sai? Aku tidak begitu tahu soal itu sih. Mungkin saja benar. Si Pucat itu sangat mirip Sasuke, tahu. Dia sudah seperti Sasuke yang berganti kulit saja."

"Benarkah? Kalau begitu, aku berharap dia bisa jadi pengganti yang baik untuk Ino-chan."

"Semoga saja. Jadi, apakah besok pagi kau tetap tidak bisa datang?"

"Sudah kubilang tidak bisa, Kiba-kun."

Suara-suara itu terdengar semakin samar seiring kaki-kaki mereka yang menjauh pergi. Meninggalkan tanda tanya di dada Sai yang masih berdiri diam di tempatnya.

Apa yang telah didengarnya barusan?

Sai menatap buku sketsa di tangannya beberapa lama.

Rasanya ... ia mengerti satu hal.

Sekian hari yang lalu, ia memberikan buku sketsa favoritnya pada Ino sementara buku sketsa lainnya juga sudah habis terpakai. Selama beberapa saat, ia tidak bisa melakukan hal yang sangat disukainya yaitu menggambar sebab bukunya tidak ada. Karena itulah, ia membeli lagi buku sketsa serupa sebagai ganti.

Buku sketsa serupa sebagai ganti.

Pengganti?

Yang serupa?

Alis hitamnya nyaris menyatu, menandakan kerasnya ia berpikir. Ia bahkan tidak mengerti mengapa otaknya menyusun kesimpulan seperti ini dan menyisakan sebuah tanda tanya di hatinya.

Bukankah―bukankah hampir sama dengan dirinya?

Sai tidak punya emosi untuk merasakannya. Sai juga bukan tipe yang senang bergosip. Jadi, seharusnya dia tidak apa-apa saat mendengar semua itu. Mendengar bahwa dirinya hanyalah seorang pengganti. Begitulah hal tersirat yang dapat ditangkapnya dari pembicaraan tadi.

Sejak semula, keberadaannya di Tim 7 hanyalah sebagai pengganti Sasuke, menggantikan sementara selama pemuda Uchiha itu tidak ada. Dan sekarang, setelah mendengar bahwa Ino dulunya menyukai pemuda Uchiha itu, lalu dikait-kaitkan dengan dirinya, mendadak membuat dirinya merasa tak nyaman.

Apakah ia memang ditakdirkan hanya sebagai pengganti? Hanya karena mirip? Begitukah yang dipikirkan mereka?

Sebelumnya Sai tidak pernah begitu memikirkan pendapat dan perkataan orang lain tentang dirinya. Asalkan yang dilakukannya tidak bertentangan dengan misi, baginya bukan masalah.

Lagi pula ia tidak mengenal emosi. Jadi tak apa-apa.

Seharusnya.

Ia mengangkat tangan pucatnya dan memandangi tangan kokoh yang telah banyak bertempur dan memakai jutsu. Kemudian menggerakkan dan meletakkannya di depan dada. Mencengkeram sedikit kemejanya.

Lalu, rasa sakit ini apa?

Mendadak, semua buku yang dibacanya tadi menjadi tak ada artinya.

.

.

.

.

Markas Utama Tokushu Butai bukan tempat menarik untuk dikunjungi, terutama di sore hari menjelang malam begini. Selain suasananya yang suram dan serba gelap, arsitektur gedungnya pun rumit dan penuh misteri. Hanya ninja dengan pertanda khusus yang bisa masuk ke sana, dan tentunya para shinobi yang tergabung dalam pasukan khusus tersebut.

Seorang pemuda berambut hitam tengah melangkahkan kaki tegapnya melewati pintu logam dengan deteksi chakra. Wajah pucatnya masih tanpa ekspresi seperti biasa. Hanya saja, wajahnya kali ini tampak berkali lipat lebih rumit dari biasanya. Dan sepertinya akan semakin bertambah rumit ketika iris hitamnya menangkap sesuatu yang tersaji di layar saat memasuki ruang utama.

Di sebelah barat, tampak layar raksasa yang menampilkan berita terkini seputar keamanan di dalam wilayah Konoha. Sementara di sebelah timur, layar raksasa serupa menampilkan berita terbaru untuk area di sekeliling perbatasan Konoha. Yang ditampilkan di sana memang hanya gambaran informasi secara umum, dimaksudkan jika terjadi sesuatu, para shinobi khusus dapat segera bergerak sewaktu-waktu.

Dari tempatnya berdiri, pemuda itu dapat melihat salah satu berita di sana yang menampilkan bahwa seorang utusan Suna telah datang menemui Rokudaime Hokage sehingga penjagaan gedung Hokage menjadi sedikit lebih diperketat. Tak heran jika beberapa shinobi di ruangan itu terlihat sedang bergegas.

"Kudengar, tujuan Putri Suna kemari adalah untuk mengajukan permohonan bantuan jutsu pikiran dari Klan Yamanaka. Apa itu benar?"

"Ya, maka dari itu kita berdua dikirim untuk menambah penjagaan di Gedung Hokage."

Sai sadar ada yang salah dengan dirinya. Ini bukan dalam misi dan ia sudah beberapa kali menguping pembicaraan orang. Sekilas, ia tampak sedang menunggu jadwal patroli rutin miliknya di depan loket bawah layar. Namun telinganya tetap tajam menyimak pembicaraan dua shinobi rekannya beberapa meter di belakang yang tak sengaja tertangkap oleh pendengarannya.

"Jadi, apa kita perlu mengawasi kepergian mereka juga ke Suna?"

"Kau bercanda? Seorang Putri Suna, Yamanaka, Nara, dan masih ditambah Uchiha. Hanya orang bosan hidup yang berani cari mati dengan mereka."

Dua detik kemudian, suara mereka lenyap bersama asap putih.

Sai masih berdiri tegak di tempatnya. Jadwal patrolinya sudah keluar dan ia belum juga menggerakkan tangan untuk mengambilnya.

Jadi, ini misi Ino.

Pergi ke Suna.

Bersama Putri Suna, Nara, dan masih ditambah ... Uchiha?

Tangan pucatnya kemudian bergerak meraih jadwalnya namun hanya dipandanginya sekilas. Minat membacanya tiba-tiba menguap entah kemana. Ia menggulung kembali jadwalnya, menaruhnya di saku, kemudian secepatnya berlalu.

.

.

.

.

Suatu hal—semakin tak ingin dipikir justru akan semakin terpikir.

Sai masih ingat penggal kalimat dari salah satu buku yang pernah dibacanya. Saat itu ia hanya sekedar membaca dan tidak begitu memikirkan maksudnya. Namun kali ini sepertinya ia mengerti.

Sepulang dari Markas, Sai sudah berniat untuk melukis senja. Melukis biasanya ampuh mengembalikan fokusnya pada misi. Ia telah terbiasa melakukan sesuatu dengan teratur dan penuh konsentrasi selama sekian tahun ini. Setiap kali fokusnya terganggu, melukis selalu menjadi jawaban kegundahannya.

Namun yang terjadi kini justru sebaliknya.

Benar bahwa ia menyelesaikan lukisannya dengan amat baik sebagaimana biasa. Namun yang dilukisnya sama sekali bukan pemandangan senja yang terlihat dari celah jendela apartemennya. Tetapi salah seorang penghuni Konoha. Lebih tepatnya seorang kunoichi wanita. Dan lebih tepatnya lagi, bernama Yamanaka Ino.

Sai masih terdiam menatap karyanya hingga beberapa saat. Ia tidak jua menemukan jawaban atas tindakannya barusan dan ini benar-benar membuatnya heran. Rasanya segala hal yang ingin dilakukannya malahan jadi bertentangan.

Berusaha tidak memikirkannya, namun ia justru semakin kepikiran. Berusaha mengembalikan fokus, namun konsentrasinya malah semakin baur.

Tak dipungkiri ia kini tengah memikirkan misi yang akan dijalankan seseorang. Ia mengenal perasaan cemas dan khawatir yang sedang dirasakannya. Namun ia tak mengetahui alasannya.

Menurut perhitungan ninjanya, jelas tak ada yang perlu dikhawatirkan ataupun dipikirkan. Sebagaimana yang dikatakan temannya tadi, rekan seperjalanan gadis itu adalah shinobi-shinobi hebat dan jenius. Jangan lupakan pula Putri Suna yang tangguh dan Ino sendiri yang juga kunoichi hebat. Seharusnya tak ada alasan untuk cemas dan semacamnya.

Tetapi.

Rona semu. Bola mata. Buku sketsa. Dan Suna.

Keempat hal itu terus menerus berputar dalam benaknya. Sesuatu dalam dirinya pun seolah terus menerus mendesaknya.

Sekian detik berdiam, pemuda itu tiba-tiba bangkit berdiri. Ia tahu, kali ini tak akan ia temukan jawabannya di buku. Satu-satunya cara adalah dengan bertemu.

.

.

.

.

Malam telah sempurna menyelimuti Konoha sejak beberapa saat lalu. Di salah satu sudut depan sebuah rumah, tampak seorang pemuda berambut hitam tengah berdiri bersandar dinding. Ia terlihat sedang menunggu sesuatu―atau seseorang.

Namun sepertinya sosok yang dinantinya belum jua datang.

Netra gelap pemuda itu menyapu jalanan di depannya sekilas sebelum kemudian berputar satu kali dengan gerakan lambat. Biasanya ia tidak pernah keberatan menunggu dalam diam.

Sejak dulu, ia sudah sangat terlatih memburu sesuatu. Dalam perburuan, seringkali pula ia harus menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari demi mengintai mangsanya.

Tapi kali ini dirinya sedang tidak berada dalam perburuan. Wajarkah jika tiba-tiba ia ingin segera menyudahinya selekas mungkin? Wajarkah jika tiba-tiba ia menjadi tidak sabar? Seharusnya tidak.

Tapi kenapa sampai saat ini Ino belum juga kembali?

Instingnya sebagai ninja mulai berprasangka.

Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Ino? tanya sudut hatinya.

Sudut hati lainnya menjawab, bukankah Konoha wilayah yang aman?

Sai menyandarkan punggungnya lagi ke dinding. Ia melipat tangan sementara kepalanya menggeleng satu kali.

Kenapa ia jadi khawatir begini? Entah sudut hatinya yang sebelah mana lagi yang bergumam. Seingatnya, ia tidak pernah berdebat dengan dirinya sendiri seperti ini.

Iris hitam itu kemudian segera memejam mengenyahkan bermacam-macam prasangka yang menggelayuti kepalanya. Tidak biasanya pula ia kehilangan fokus seperti ini.

Tapi gadis itu saudara yang harus dikhawatirkannya kan?

Sai kembali membuka mata, mencoba tetap konsentrasi dan mempertahankan sikap tenangnya. Kepala hitamnya kemudian mendongak ke atas menatap langit. Iris gelapnya mengamati bulan di sana yang tampak bersinar cerah.

Seketika ia tersentak.

Siapa yang menjamin Konoha aman? Bukankah sebelumnya pernah terjadi peristiwa penculikan salah seorang putri keluarga Hyuuga? Bagaimana bisa ia melupakan hal itu?

Sai menegakkan punggungnya. Ia benar-benar tidak tenang sekarang. Namun sebelum benar-benar mengambil sikap, ia bisa merasakan napasnya berhenti.

.

.

.

.

Helaian pirang pucat itu masih tampak samar sekian meter di depan sana, dan semakin tersamarkan oleh gelapnya malam. Tapi ia sangat mengenal pemiliknya. Pun hawa keberadaan yang khas dan entah sejak kapan telah diingatnya.

Jarak keduanya semakin tipis saat helaian pirang itu terlihat semakin jelas hingga menampilkan sosok pemiliknya. Ya, dia sudah datang.

Yamanaka Ino.

Gadis itu tampak terkejut saat kemudian melihatnya. Langkahnya bahkan sempat terhenti di tempatnya.

Sai sendiri tahu, dirinya tidak terkejut. Sebelumnya, ia bahkan sudah menunggu dengan gelisah sekian lama. Namun seluruh tubuhnya kini justru tak bergerak. Entah apa yang terjadi, tak ada satu pun dari mereka yang bergerak.

Tidak.

Ia terlalu terpaku pada bola mata yang kini terlihat asing.

Seolah tersirat di sana, gadis itu tidak mengharapkan kehadirannya sekarang. Semua tanda tanya yang sebelumnya bercokol di benaknya, mendadak segera digantikan oleh tanda tanya lain.

Baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu dan sekarang sudah seperti asing. Kenapa? Apa dia sudah berbuat kesalahan?

"Sai?"

Suara Ino terdengar di telinganya. Setiap kali hening menyelimuti mereka, memang selalu gadis itu yang memecahnya.

"Kau di sini?"

Sai tak melihat ekspresi di wajah gadis Yamanaka itu, meski bibirnya tersenyum―senyum yang berkali lipat lebih palsu dari biasanya.

"Ada apa?"

Sai masih tidak menjawab. Bukankah seharusnya ia yang bertanya? Apa yang terjadi pada Ino?

Ia ingin bersuara. Tapi netra hitamnya terlalu terpaku pada bola mata aquamarine yang memantulkan sinar bulan. Ada kabut tersembunyi di balik bola mata itu.

"Ada keperluan apa kemari?"

Suara itu terdengar lagi dan kabut itu semakin nyata.

"Kenapa kau ada di si—"

"Ino-chan," Sai akhirnya bersuara meski suaranya sendiri terdengar aneh dan berat di telinganya sendiri. Jeda tiga detik hingga dua patah kata kembali meluncur dari bibirnya, "Kau menangis."

Pemuda itu bisa melihat gadis di depannya terkejut. Tapi ia yakin, dirinya tidak salah. Meski menurut kamus, menangis itu mengeluarkan air mata dan terkadang mengeluarkan suara, tapi melihat Ino seperti ini, ia yakin gadis itu pasti sedang menangis.

Rasanya seperti de javu.

Berkelebat dalam ingatannya.

Malam saat di lapangan Tim 7. Lalu malam di tengah jalan sepulang dari misi. Kemudian sekarang. Meskipun berbeda-beda, namun ekspresi Ino yang seperti ini mengingatkannya pada ekspresi salah seorang rekan timnya.

"Kau bilang apa barusan? Haha. Aku tidak menangis."

Benar, sama persis. Puzzle-puzzle yang sama. Dengan alasan yang juga sama? Mungkinkah? Bukankah mereka akan berada dalam misi yang sama?

Rahang pemuda itu mendadak mengeras. Ia tidak pernah seemosional ini sebelumnya. Segala hal yang sejak tadi berada dalam pikirannya kini muncul kembali berdesakan memenuhi dadanya.

"Sama sekali tidak menangis," gadis itu mengangkat tangannya hendak menyentuh ujung kelopak matanya yang kering.

Namun Sai tiba-tiba menangkap tangannya. "Kau menangis," katanya lagi.

Gadis itu terkejut lagi kemudian segera mencoba melepaskan diri. Tapi Sai sudah terlanjur mencengkeramnya terlalu kuat.

"Apa yang kau lakukan?" suara Ino kini semakin terdengar asing di telinga Sai. "Lepas―"

"Kau menangis."

Tiga kali. Sai telah mengatakan kalimat yang sama tiga kali. Seharusnya gadis di depannya mengerti. Orang bodoh mana pun tahu jika dirinya betul-betul menangis.

"Ino-chan. Kau menangis. Lagi."

Dan sekarang menjadi empat kali. Apa Ino belum juga mengerti? Lihat, kaca bening itu benar-benar pecah sekarang.

Kini Sai merasa ada yang sangat sakit di dadanya, dan semakin sakit ketika ia mengucapkan tanya, "Apa orang itu membuatmu menangis?"

Kali ini ia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak bertanya.

"Waktu itu dan malam kemarin kau menangis, apa semua juga karena orang itu?"

Sudah terlalu sakit, tapi masih belum cukup. Masih ada yang ingin ditanyakannya pada gadis itu. Karena itu, ia kembali bersuara, "Ino-chan."

Kalimat berikut adalah puncaknya.

"Apa kau selalu menangis untuk orang itu? Sama seperti Sakura?"

Senyap. Pertanyaan barusan hanya dijawab oleh hembusan angin. Terbang dan lalu begitu saja.

Tak ada jawaban yang terdengar, tapi ia memang tidak butuh jawaban. Karena ia sudah pernah mengetahuinya sebelumnya. Dan kali ini, ia tak ingin mendengar lagi hal yang sama.

Pemuda itu merasa napasnya kian sesak, namun cengkeramannya perlahan melunak.

"Jangan menangis lagi."

Dan kini tangannya benar-benar lepas.

"Aku tidak tahu. Tapi setiap kali melihat ini—"

Iris biru gadis di depannya melebar kala tangan pucatnya bergerak menyentuh pipi yang basah dan mengusap aliran bening itu dengan sangat lambat.

"―rasanya ada yang sangat sakit disini."

Sai memindahkan tangannya. Ke depan dadanya.

"Aku tidak bisa ..."

Ia menggeleng satu kali dan mencengkeram erat pakaiannya.

"Melihatmu seperti ini."

Kini gadis Yamanaka di depannya sempurna terisak, "Maaf ..."

Sekali lagi hanya angin yang menjawabnya dengan embusan. Membiarkannya terbang dan lalu begitu saja.

Ino.

Lidah Sai terasa kelu. Seluruh tubuhnya yang biasanya mampu bergerak cepat dalam setiap misi, kini seolah kaku. Ia ingin melakukan sesuatu agar isak gadis di depannya berhenti, namun otot tangannya tak segera bergerak sesuai keinginan otaknya.

Saat tangannya akhirnya terangkat, isak gadis itu tiba-tiba berhenti. Seketika itu juga Sai menurunkan tangannya kembali.

Iris hitamnya bisa melihat bola mata biru yang kini menyorotnya. Sorot mata itu sedikit berubah. Belum sepenuhnya―tapi nyaris.

Menyeka air matanya hingga menyisakan bekas basah, gadis itu lalu tersenyum—kali ini bukan senyum palsu, "Maaf membuatmu khawatir." Ia mengusap matanya lagi satu kali. Tiba-tiba ia tertawa kecil.

A―apa?

Obsidian Sai melebar. Apa ia tidak salah lihat―atau dengar―jika gadis di depannya ini tertawa?

Ino menghentikan tawanya. Masih dengan senyum, gadis itu berkata, "Tapi kau salah. Haha, kenapa aku harus mengikuti Sakura? Memangnya Sakura menangis karena siapa?"

Tunggu, ada yang salah di sini.

Sai sudah akan bersuara namun sekali lagi Ino mendahuluinya, "Aku hanya sedang sedih karena teringat ayah dan guruku. Besok aku akan pergi meninggalkan mereka, mungkin dalam waktu lama. Jadi yah, aku menangis seperti ini."

Bukan, bukan ini yang sebenarnya dimaksud Ino.

"Maafkan aku ya. Aku memang cengeng sekali."

Kenapa jadi begini?

"Lalu, kau sendiri ada keperluan apa kemari?"

Sai benar-benar tidak bisa mengerti, di mana semua teori di bukunya salah. Gadis di depannya tidak jujur dengan apa yang dirasakannya sendiri. Namun jika Sai memaksanya jujur seperti tadi, apa gadis ini akan menangis lagi?

Pemuda itu tidak tahu mana yang lebih sakit. Mendengar kebohongan yang terus diucapkan Ino atau melihatnya menangis.

"Ah, apa aku belum cerita? Aku akan berangkat misi ke Suna besok malam. Dan belum tahu kapan akan kembali, tergantung selesainya misi," gadis itu masih berkata-kata.

Sementara Sai masih tegak di tempatnya. Ino sudah mengatakannya siang tadi. Tapi kali ini rasanya berbeda. Sepertinya, ini bukan ide yang baik. Tapi melihat raut wajah Ino yang berusaha keras seperti itu, rasanya ia tidak tega memaksanya untuk berhenti memasang senyum palsu.

Lantas apa ia harus turut larut dalam skenario gadis itu? Apa berbohong membuatnya lebih nyaman?

Ino itu kuat ya. Yang kumaksud adalah hatinya.

Ia teringat kembali kalimat yang sempat didengarnya tadi. Mungkin ia memang harus berpura-pura tidak tahu dan bersikap seperti biasa. Ia tidak tega menghancurkan pertahanan yang sudah dibangun gadis itu dalam sesaat.

Karena itu yang dilakukannya adalah merespons dengan bertanya, "Apa misimu kali ini begitu berat?"

Gadis itu balas menanggapi dengan tertawa, "Haha. Tidak ada yang berat untuk Klan Yamanaka."

Tidak ada lagi yang bicara.

Angin kali ini bertiup lebih kencang. Helai pirang pucat gadis di depannya bahkan sampai beterbangan. Tapi dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya.

Gadis itu justru mengangkat alis saat melihatnya. Lalu berkata dengan nada ringan, "Kalau begini kau jadi terlihat mirip Sasuke."

Hn?

Kalimat ini.

Rambut Sai memang sudah sedikit memanjang. Tak heran jika angin kencang membuat poni dan rambutnya sedikit terbang.

Tapi perkataan barusan seketika membangkitkan lagi hal yang sudah ingin dilupakannya. Tanpa sadar rahangnya kembali mengeras.

"Boleh aku bertanya satu hal?"

"Hm? Tanyakan saja."

Sai menatap Ino dengan sepasang obsidiannya yang menyorot langsung pada aquamarine itu.

"Apa menurutmu aku mirip Sasuke?"

"Eh?" gadis itu mengerjap, tampak bingung dan sedikit kaget dengan pertanyaan barusan.

"Apa kau berteman denganku karena aku mirip dengannya?"

Kali ini ekspresi gadis itu berubah. Ia hanya menatap Sai dengan tatapan asing. Pemuda itu menyadarinya tapi sesak di rongga dadanya tak bisa membuatnya berhenti bertanya.

Berikut adalah yang terakhir.

"Seandainya aku tidak mirip Sasuke, apa kau tetap akan mengajakku berteman?"

Lama.

Ino masih menatapnya. Ada jeda di mana mereka hanya berdiri tegak di tempat masing-masing seolah mencoba bicara lewat tatapan mata.

Sang pemuda pucat kemudian dapat menangkap ekspresi sedih yang sekilas nampak di bola mata biru itu sebelum pemiliknya segera menutupnya dengan senyum tipis, "Semua itu tidak benar. Kau adalah kau. Dirimu adalah milikmu seutuhnya."

Gadis di depannya berkata jujur. Tapi Sai tidak mengerti. Lalu kenapa Ino terlihat sedih saat mengatakannya?

Pemuda itu masih ingin memastikan, "Kau tidak keberatan berteman denganku?"

"Bicara apa kau. Tentu saja tidak," jawab gadis itu cepat. Ia mengalihkan pandangannya mengarah pada langit malam di atas sana. Lalu berkata dengan nada rendah, "Entah sejak kapan, kau orang pertama yang selalu ada saat aku menangis. Tidak, aku tidak pernah keberatan. Kau adalah temanku―bukan, kau adalah saudaraku."

Tidak, aku tidak pernah keberatan.

Ino mengatakan bagian itu dengan jujur.

Mendengarnya tiba-tiba membuat semua kepepatan yang sedari tadi membebani dada Sai seolah menguap begitu saja. Napasnya menjadi lebih ringan dan tidak lagi sesak seperti semula. Pertama kalinya pula dalam hidupnya, ia merasa ... lega?

Dan dalam sekejap berganti dengan emosi lain yang belum dikenalnya. Perasaan yang membuatnya ketagihan. Berdebar aneh, tapi bukan hal yang buruk. Justru ia terus menginginkan perasaan itu bertahan lebih lama di dadanya.

Aneh, tapi ia menikmatinya.

Semakin aneh kala ia sadar, ia tak ingin berhenti menatap Ino. Tatapannya enggan beralih dari gadis Yamanaka itu.

Angin malam biasanya membuatnya merasa dingin. Tapi kali ini berbeda.

"Kau sendiri kenapa mau berteman denganku? Kau tidak merasa keberatan?" Ino tiba-tiba balik bertanya. Gadis itu kini ganti menatapnya.

Pertanyaan itu terulang di dada Sai.

Kenapa?

Sama dengan Ino. Tentu ia sama sekali tidak keberatan berteman dengan gadis pirang itu. Ia bahkan sangat menikmati pertemanan mereka. Ia juga tidak keberatan menjadi saudaranya—setidaknya begitu yang dirasakannya hingga beberapa detik lalu.

Tapi barusan sepertinya ... berteman saja tidak cukup. Bersaudara pun belum cukup. Bagaimana mengatakannya?

"Haha tidak usah dijawab," gadis itu sudah menyahut lebih dulu. Lalu menunduk dan bergumam perlahan, "Semakin malam aku memang semakin melantur."

Tidak, bukan begitu.

Menggambar. Kaligrafi. Momen tofu. Langit pagi. Senja.

Sai ingat daftar hal yang disukainya. Namun yang barusan ini telah melebihi itu semua. Rasanya ia bahkan tidak keberatan untuk menempatkan Yamanaka Ino pada urutan pertama hal yang disukainya.

Tapi―tunggu sebentar.

Sudah berapa kali dalam seharian ini ia menggunakan pertimbangan sisi emosional dan perasaannya? Apa emosinya memang sudah benar-benar kembali seluruhnya?

Dan kali ini perasaannya telah menyuruhnya untuk mengatakan semuanya.

"Ino—"

"Sudah malam, Sai." Gadis itu masih menunduk. Kemudian mengangkat wajahnya dan berkata tanpa melihat ke arahnya, "Selamat malam."

Itu kalimat terakhir Ino yang didengar Sai malam itu.

.

.

.

.

Keesokan harinya di jam yang sama.

Sai mendapati sepasang aquamarine itu terkejut saat melihatnya berdiri di depan pintu rumahnya. Sebelum gadis itu sempat merespons apa pun, Sai sudah lebih dulu bertanya, "Kau benar-benar akan pergi malam ini?"

Iris biru itu mengerjap—menampakkan sisa keterkejutan di sana.

"Kau benar-benar akan pergi malam ini, Ino-chan?"

Setelah Sai mengulang kalimatnya yang kedua, barulah Ino bereaksi. Gadis itu kemudian menunduk, membetulkan tas bawaannya lalu menjawab pendek, "Ya."

Menilik perlengkapan yang dibawa Ino, Sai sudah tahu jika gadis di depannya akan benar-benar meninggalkan Konoha malam ini. Katanya dengan hati-hati, "Ino-chan."

Berikut adalah poinnya.

"Apa aku boleh meminjam waktumu sebentar?"

Gerakan Ino terhenti sesaat, namun gadis itu segera melanjutkan kembali aktivitasnya dan tak menoleh saat balik bertanya, "Maksudmu?"

Hening sebentar. Aura pembicaraan malam ini tiba-tiba terasa berkali lipat lebih suram dibanding pembicaraan-pembicaraan mereka sebelumnya.

Sai akhirnya menggerakkan bibirnya untuk bersuara, "Ada yang mau kukatakan."

"Maaf, Sai. Tapi aku terburu-buru." Gadis itu bahkan tak menyisakan sedikit pun jeda di sana.

"Kupikir tidak akan butuh waktu lama."

"Lain kali saja. Aku harus konsentrasi dengan misiku."

Obsidian Sai memaku sosok pirang yang masih sibuk dengan tasnya.

"Sama sekali tidak bisa sekarang?"

"Tenang saja. Lain kali pasti bisa," gadis itu terlihat ingin menyudahi pembicaraan. Ia bahkan mendongak dan menatap Sai dengan bola mata birunya. "Setelah misiku selesai, aku janji tidak akan ke mana-mana," lanjutnya dan ditutup dengan senyum sepintas.

Namun apa yang sekarang dilihat Sai telah membuatnya mengesampingkan sejenak tujuannya semula. Terutama setelah menyaksikan senyum dan ekspresi Ino barusan.

Obsidian pemuda itu menyorot semakin dalam.

"Kau tidak terlihat baik-baik saja."

Gadis itu justru mengibaskan tangan dan tersenyum―setengah palsu padanya, "Kau tahu bagaimana aku."

Benar.

Hanya sekian hari bersama dan Sai tahu bagaimana Yamanaka Ino. Terlebih benteng pertahanan yang sejak semula dibangun gadis itu dan tak dapat ia tembus dengan mudah. Sorot khawatir yang selalu tersembunyi di balik binar aquamarine adalah salah satu perwujudannya.

Gadis itu tidak suka terlihat lemah―meski alasan utamanya karena ia benci merepotkan orang lain. Sai tahu itu. Butuh waktu untuk membuat pintunya lunak dan terbuka. Dan ia juga tahu, sekarang Ino sedang menutup rapat gerbangnya dan tidak mengizinkannya masuk, juga bahwa saat ini mereka memang tidak punya cukup waktu.

Kurang lebih itu yang sedang disampaikan gadis ini padanya.

"Kau mau mengantar kepergianku?"

Sai tidak terkejut mendengarnya. Kali ini pun ia mengerti. Ino mengatakan itu karena dirinya masih saja berdiri tegak di sana sementara jam keberangkatan misinya sudah semakin dekat.

Seharusnya Sai segera pergi jika menurut pada isyarat barusan. Namun yang dilakukan pemuda itu justru menunduk, meraih tas bawaan Ino dan langsung menaruhnya di pundak. "Kubawakan bawaanmu."

Tanpa menunggu jawaban, Sai sudah lebih dulu berbalik dan melangkahkan kaki.

Beberapa waktu lalu, ia juga pernah pergi misi. Tapi kali ini segala sesuatunya terasa begitu berbeda. Seharusnya ia merasa hangat dan lega seperti kemarin, tapi yang terjadi justru semakin sesak. Hingga mungkin sulit untuk sekedar bernapas.

Langkah-langkah kecil mulai terdengar menyusul. Juga suara familier di belakang punggungnya. "Tidak perlu repot-repot."

Tapi pemuda itu tidak menolehkan kepala sama sekali dan hanya menjawab dengan sepatah kata, "Hn."

Jika saja gadis itu tahu apa yang dilakukannya seharian ini hingga memutuskan untuk menemuinya. Ya, ia yang selalu berhati-hati dan memikirkan matang-matang tindakannya, kini telah merasa terdorong untuk itu.

Baginya, selalu ada alasan dalam setiap perbuatan. Kali ini apa? Dan ia memilih melakukan semua yang diinginkan hatinya sambil mencari tahu maksud keinginannya yang sebenarnya.

Namun sepertinya Ino sedang tidak ingin membahas apa pun―dan pemuda itu tidak mungkin memaksa. Apalagi setelah mendengar kata misi. Pertimbangan rasionalnya membuatnya mengedepankan misi di atas segala-galanya.

Keadaan justru berkembang semakin jauh dan pembicaraan mereka tak berujung lancar. Sepertinya malam ini benar-benar menjadi malam yang suram.

Mungkin memang harus lain kali.

Bukan malam ini.

Mungkin memang harus nanti.

Sai menghentikan langkahnya.

Gerbang desa mulai terlihat. Dari kejauhan, tampak pula dari bayangan sosok-sosok lain yang tengah menuju direksi yang sama.

"Terima kasih sudah mengantarku sampai sini," Ino mengatakan itu ketika Sai menyerahkan bawaaannya.

Tak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk memakainya di punggung. Tak butuh waktu lama pula bagi kunoichi itu untuk berbalik memunggunginya.

"Ino-chan."

Tepat sebelum jarak di antara mereka semakin melebar.

"Berjanjilah untuk segera kembali."

Hanya jeda sebentar sebelum punggung itu menjauh disertai jawaban pendek, "Ya."

Tak ada kalimat apa pun lagi setelahnya dan mereka benar-benar berpisah.

Sai tidak ingin memikirkan mengapa Ino menjawab setengahnya dengan berbohong dan setengahnya lagi dengan jujur. Ia sedang tidak ingin menganalisis mana yang benar seperti biasa. Ia juga sedang tidak ingin bertanya-tanya mengapa suara Ino terdengar bergetar di telinganya.

Pemuda itu hanya tegak di tempatnya. Menahan kakinya agar tetap berdiri di sana. Ia adalah shinobi dan sudah sangat terbiasa dengan berbagai macam penyiksaan, penderitaan dan kondisi menyakitkan. Ia terlahir dengan itu.

Ini adalah misi.

Betapa pun ia menginginkannya.

Tapi tidak.

Ia tidak mau emosinya yang telah bangkit, kembali tertidur. Ia tidak akan rela melupakan segala emosi yang sudah dirasakannya sekian hari ini. Karena itu, ia akan tetap bangun dan berdiri. Tak peduli seberapa pun sakitnya.

Meski rasanya semakin tak terdefinisi saat helai keemasan itu benar-benar pupus dan menghilang dari jangkauan matanya.

Tak lagi tersentuh oleh sapuan netra hitamnya.

.

.

.

TBC

.

.

.


A.N:

Err masih suram dan membosankan? Atau jangan-jangan malah kelewat melodrama?! (tampar Lala bolak-balik). Hiks setelah Shikamaru Hiden, lagi-lagi aku diserang badai depresi berkat Sakura Hiden. Oh God toloong, nasib Sakura di fiksiku ini masih lebih mulus dibanding imajinasinya om Tomohito Osaki T.T kebalikan dengan nasib Ino (dan entah kenapa malah lebih suka SaiIno versi Breeze #plak)

Ta-tapi karena masing-masing penulis berhak berimajinasi, maka tak apa ya jika imajinasiku terbatas seperti ini :) Chapter depan, aku janji bakal jauh lebih cerah dengan menu inti ketiga mostly dari sudut pandang Ino :3

Jadi, apa aku boleh memeluk kalian? Terima kasih banyaak masih berkenan nemenin bertualang dalam dunia imajinatif Breeze (peluk erat sampe gabisa napas). Aku beneran terharu :*

de-chan: hehe iya nih maaf yah apdetnya makin lama (nangis di dada Sai). Oke siaap kakak! Makasih banyak udah nyempetin mampir lagi dan ninggalin jejak (peluk) :*

Indri: hihi ngga cuma Ino kayaknya, ayang Sai juga galau. Aku ikut dukung mereka supaya cepet jadi pasangan! XD Makasih juga kakak, udah mampir :*

Chapter ini rasanya pengen rombak penulisannya berkali-kali. Nulis POV Sai-nya itu hiks susyah banget (Lala frustasi). Banyak kejanggalannya kah?

Kalau menemukan yang aneh, lebay, kurang feel, atau tak dimengerti, sampaikan saja yah. Jika memungkinkan, akan segera ku-revisi :)

O yah, semangat UN bagi kakak-kakak yang menempuhnya! Semoga hasilnya terbaik dan maksimal :3

Emm. Sekali lagi, boleh aku memeluk kalian? Kalau tidak, hiks tendang aku melalui kolom review yah (ditendang beneran)


Special thanks to:
Kamu yang berkenan membaca ini ;)

Suka SaiIno? Ayo tulis kisah mereka :D